
POV LEXA
Rasa rasanya aku melupakan sesuatu yang mana aku sudah mengingatnya beberapa hari ini. Mengapa pria itu jadi terus berkeliaran dipikiranku? Aku jadi mencari tahu semua latar belakangnya di Legacy. Ya, dia memang asisten seorang bos besar pemilik hotel bintang lima itu. Selain itu banyak teman berandalannya juga di sini, pantas saja sisi lainnya juga terlihat berandal. Cih, dasar musang!
Tapi aku menjadi senang dekatnya. Ya inilah yang namanya cinta. Cinta itu benar benar memusingkan. Baru kali ini aku merasakannya. Sungguh rumit. Terkadang membuat gelisah, sedih tapi juga mabuk kepayang. Awas saja musang itu kalau kalau kutemukan bermesraan dengan musang betina lainnya. Akan ku buat melebihi musang liar yang di cari cari orang melainkan akan ku panggang hidup di oven rumahku, haha ..
POV AUTHOR
"Gila, kau benar benar sudah gila karna musang liar itu!" Celetuk Lucy menyenggol bahu Lexa yang sedang menggunakan komputer Abby di pusat meja kerja karyawan.
"Hey, berani kau menyebut nama kesayanganku? Akan ku panggang juga kau ke oven bersamanya, mau?" Lexa menjulurkan pulpen yang sedari tadi dia pegang.
"Benar sudah tidak waras!! Ini kartu ucapan yang kau minta pesankan padaku, tunanganku sudah membuatnya, cantik sekali Lexa, kau yakin Leon menyukainya?" Lucy memberikan kartu ucapan dimensi yang dipesan melalui perusahaan percetakan 3D tunangannya.
"Ah benar, Lucy aku benar benar bersalah padanya, aku melupakannya. Untung saja kau mengingatnya! Kemarikan!" Lexa membenarkan posisi duduknya dan meraih kartu ucapan untuk Leon.
"Kau lupa? Ah, aku jadi kasihan pada Leon mempunyai calon kekasih pelupa sepertimu!" Dengus Lucy.
"Diam kau! Daritadi aku sudah mengingatnya, baiklah sebaiknya aku pulang sekarang," Lexa beranjak dari kursi Abby yang ia pinjam.
"Ya bersiaplah, kenakan dress agar terlihat cantik dan siap diterkam oleh musang, roaar!!" Goda Lucy. Lexa menoleh sedikit dan tersenyum nakal.
...
Lexa mulai bersiap, dia memilih mini dress hitam seperti yang dikatakan Lucy dipadankan dengan blazer kotak abu abu dan ankle boot heels andalannya. Lexa akan pergi ke apartemen Leon. Leon sudah memberitahunya kalau hari ini dia hendak bermalas malasan di apartemennya. Leon pun menyuruhnya datang ke apartemennya tapi Lexa berdalih tidak sudi.
Lexa tersenyum membayangkan wajah Leon yang menyeringai ketika Lexa selalu menolak ajakannya.
Lexa dan Leon masih berkirim pesan. Lexa menolak untuk ditelpon karna dia sedang merias dirinya.
-LEON-
Sebaiknya kau langsung pulang kerumah! Jangan kemana mana!
-LEXA-
Kau siapa berani menyuruh nyuruhku! Aku akan pergi ada acara ulang tahun, kau diam saja dirumah!
__ADS_1
-LEON-
Baiklah aku mengalah tapi nanti malam kau harus sudah ada di flat mu, aku akan kesana kita makan malam!
-LEXA-
Siap tuan musang pemaksa!
Lexa memasukan ponselnya ke dalam tas. Dia tersenyum, Leon benar benar tidak tahu kalau Lexa sudah melacak semua kehidupannya. Leon tinggal di Apartemen Sky Way nomor 514. Wanita itu berniat memberi kejutan pada Leon. Dan mungkin saja akan menyatakan perasaannya juga. Lexa kembali sumringah membayangkannya.
...
Cuaca sore itu sangat mendukung untuk beberapa orang yang mempunyai hewan peliharaan untuk mengajak jalan jalan. Salah satunya Solane, ya mantan kekasih Leon.
Seperti yang sudah diungkapkan pada Leon kalau Solane sudah berada di Legacy sekitar setengah tahun dan dia sudah menetap. Dia tinggal di sebuah apartemen mewah yang juga terdapat di pusat kota Legacy. Letaknya juga tak beberapa jauh dari apartemen Leon.
Solane memiliki sebuah anjing herder bersertifikat resmi. Solane sangat menyayanginya. Dia sendiri bersama beberapa pawang anjing yang melatih anjing tersebut di Springfield agar menurut pada Solane. Ayahnya sengaja memberikan peliharaan anjing buas itu agar dapat menjauhkan Solane dari penjahat yang hendak menyakitinya. Pasalnya Solane adalah anak satu satunya dan dia seorang wanita.
Ketika Solane masuk dalam taman pusat kota yang terdapat di depan gedung apartemen mewah Leon, senyumnya seketika menyeringai jahat.
"Hem, pucuk dicinta ulam pun tiba dan kebetulan aku sedang bersama Glorio. Glorio, aku mempunyai pencuci mulut yang sangat lezat bagimu. Ikut aku?!" Solane menarik rantai anjing herder yang dia panggil dengan sebutan Glorio itu ke depan pekarangan apartemen sky way. Solane tahu kalau ini apartemen Leon dan dia melihat Lexa hendak menemuinya.
"Permisi Tuan, ini uang untuk mu membeli apa pun yang kau mau tapi tolong tempelkan kain ini secara tidak sengaja pada blazer nona itu, yang mengenakan blazer abu abu dan segera berikan padaku lagi!" Solane menyuruh salah satu pria yang sedang duduk di pekarangan apartemen dna memberikan sejumlah uang yang cukup banyak.
"Glorio, kau tahu apa yang harus kau perbuat? Habisi perempuan ini!" Solane mendekatkan sepotong kain berbau badan Lexa di depan hidung Glorio. Glorio mengendusnya dan segera mengejar Lexa setelah Solane melepas rantai di kepalanya.
Sementara itu Lexa hendak memasuki lobby apartemen sesaat mendengar gonggongan anjing. Dia menoleh dan benar benar terkejut kalau merasa anjing tersebut mengarah padanya.
"Nyonya, awas! Anjing itu ke arah mu! Itu anjing herder nyonya!" Seorang satpam meneriakinya karna tidak dapat menahan anjing tersebut yang menyeruak masuk ke lobby apartemen.
"Sial! Siapa yang memelihara anjing itu! Sepertinya disini tidak ada kantor polisi!" Gumam Lexa sambil dirinya lari sekencang mungkin menuju lift.
Dia sampai di depan lift namun pintu lift tidak terbuka dengan cepat. Anjing itu terus menggonggong ke arahnya. Tanpa pikir panjang Lexa menaiki anak tangga menuju lantai lima.
"Ah dasar anjing sialan!" Umpat Lexa terus menaiki anak tangga sekuat tenaga.
Glorio terus mengejar Lexa. Lexa berlari terus sambil berpikir pasti ada yang menyuruh anjing ini. Lexa sampai pada lantai dua dan dia sudah ngos ngosan. Dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil tempat penyimpanan perlengkapan kebersihan untuk membuka sepatu nya yang berhak tinggi. Lexa sangat tahu kalau anjing itu pasti terus mendengus dan mencarinya.
Lexa keluar diam diam dan mendengar gonggongan anjing lagi di pojokan dekat anak tangga dan Lexa melihatnya. Anjing itu berlari mengarah lagi padanya. Lexa lari pontang panting memutar menuju anak tangga lagi.
__ADS_1
"Dimana semua orang disini?! Siapapun tolong aku ada anjing gila mengejarku!" Teriak Lexa terus berlari menuju lantai tiga lalu lantai empat dan lima. Dia tidak perduli paha mulusnya harus terpampang karna berlari toh kondisi lorong apartemen sangat sepi.
Dia masih berlari karna anjing itu benar benar belum menyerah. Dia memutar mencari kamar nomor 514, kamar Leon. Hanya Leon yang dapat menolongnya. Dia berlari terus sampai tidak terpikir untuk langsung menghubungi Leon. Dia pun sempat berpikir tak percuma dia pernah berlatih lari estafet dan jarak jauh sewaktu masa sekolah dulu.
"Hosh! Leon, aku membutuhkanmu, kalaupun aku mati di makan anjing itu setidaknya Leon tahu kalau aku datang mengunjunginya. Aku tidak akan menyerah! Siapapun yang mengirim anjing ini, liat pembalasanku, aku mati atau hidup!!" Gumam Lexa dalam hati.
Akhirnya Lexa melihat dari kejauhan nomor 514. Lexa seperti melihat surga. Lexa semakin mengencangkan larinya mengingat anjing tersebut masih di arah belokan menuju lorong yang kini dia pijak. Lexa hanya mendengarkan gonggongannya saja.
Lexa sampai di depan kamar 514. Dia hendak mengetuknya namun ternyata pintu tidak terkunci ketika Lexa menyandarkan tubuhnya di pintu tersebut. Lexa masuk ke kamar apartemen Leon dengan terjatuh. Dia bergegas kembali menutup pintu kamar Leon dan menguncinya. Pintu kamar terkunci otomatis. Sementara Glorio telah sampai sesaat setelah Lexa menguncinya. Glorio mengais ngais pintu kamar Leon dan terus menggonggong.
"Ya Tuhan, LEON AKU LELAH!!!!" Teriak Lexa tersengal dan merebahkan dirinya di lantai.
Ternyata Leon sedang membersihkan dirinya jadi tidak mendengar keributan yang dibuat oleh Lexa. Kamar Leon tampak kecil jadi hanya ada ruang depan menaruh sandal dan sepatu, ruang tamu yang terdapat satu sofa besar dan tv. Di sebrang ruang tamu kamar tidurnya. Lalu dibelakang ada dapur kecil dan meja makan untuk empat orang dan di sampingnya kamar mandi yang cukup besar.
Tidak ada pintu akses kamar mandi dan kamarnya, jadi Leon ke luar kamar mandi melewati ruang tamu.
"Suara anjing siapa sih bisa sampai kesini?!" Decak Leon keluar dari kamar mandi dan dia melihat sesuatu yang membuatnya lebih terkejut lagi ketimbang suara gonggongan anjing.
"Bidadari dari mana ini? LEXA?! KAU LEXA? LEXA, KAU KEMARI?!" Leon terheran heran melihat pujaan hatinya sedang terkapar kelelahan.
Lexa mendongakan kepalanya ke arah asal suara Leon yang tercengang.
"AAAAAAAHHHHH!! LEON KENAPA KAU HANYA MENGENAKAN HANDUK?!" Lexa lebih tercengang lagi.
"Aku selesai mandi. Harusnya aku bertanya? Bagaimana bisa kau kemari? Tapi, kau kau tampak cantik walaupun kau agak kewalahan, kau kenapa? Dan anjing siapa di luar?!" Leon mengintrogasi yang melihat kondisi Lexa yang sudah berdiri.
"Suruh dulu siapapun mengasingkan anjing itu, dia mengejarku, aku hampir mati Leon!!" Lexa kembali tersungkur ke lantai.
Leon lalu mendekati Lexa, meraihnya dan membimbingnya ke sofa ruang tamunya.
"Jangan takut, kau sudah bersamaku, tunggu dulu disini," Leon mengecup pangkal kepala Lexa padahal Lexa bukan kekasihnya, namun Leon merasa sudah memiliki dan bertanggung jawab untuk menenangkannya. Dan benar saja, kecupan Leon yang sederhana mampu membuang semua rasa lelah Lexa.
bonus senyuman Leon
...
Tbc,
__ADS_1
Next part 21
Ayo like komennya ya hihi thankyou all