
yuhuu gaes 😍😍
masih inget kan visual Tuan Jerry Atkinson?
inilah ya cast nya Lee Dong Wook 😁😁
...
...
...
Pria itu telah sampai di depan Bandara Springfield sekitar siang hari. Dia masih sempat mengantar ayahnya menuju hotel dan mendaftarkan pemerikasaan rumah sakit sebelum dirinya hendak menuju ke rumah seorang gadis yang harus ia temui di kota berpulau ini.
Dia membuka kaca mata hitamnya dan menoleh ke belakang tampak Jim, kepala asisten rumah tangganya mendorong kursi roda ayahnya.
"Jerry, sebaiknya kau langsung saja ke Desa Serena, Jim bisa bersamaku." Kata sang ayah menghampiri Jerry yang sedang mencari cari sesuatu.
"No dad! Aku sudah berjanji pada Lexa dan Leon agar mengantarmu dulu. Setelah itu aku akan ke rumah Angel." Jawab Jerry setengah menoleh ke ayahnya.
"Nanti akan sangat malam, kau tidak apa mengemudi sendiri?" Alexis memastikan.
"Tidak apa, lagi pula mobil yang kupesan ada di hotel dan aku tidak mau bersama supir."
"Ya, baiklah. Jadi, dimana mobil kita?" Alexis menyerah. Semua anak anak nya tampak sangat keras kepala karna sangat memperhatikan dirinya.
Tak berapa lama datanglah sebuah limusin hitam yang Jerry pesan khusus untuk ayahnya dan Jim besok ke rumah sakit atau berpergian di sekitar kota ini. Jerry mengantar ayahnya dan Jim ke salah satu hotel bintang lima. Dia belum membangun hotel nya di sini. Hem, mungkin dia akan membangunnya jika dia berhasil mendekati dan menikahi Angel, adik Leon.
Sudah hampir satu minggu ini sejak Lexa bertunangan dengan Leon dan sejak kepulangan Angel dari Legacy, Jerry selalu berkirim pesan dengan Angel. Namun, karna signal yang tak mendukung di daerah rumah Angel, mengharuskan mereka menunggu agak lama. Hal ini malah membuat Jerry semakin penasaran dengan Angel dan Angel pun rasa rasanya merindukan Jerry. Mereka juga sering saling melakukan panggilan namun hanya beberapa kali saja.
Sampai sangat kebetulan, dokter pribadi Alexis spesialis darah sedang bertugas di rumah sakit pusat kota Springfield. Alexis harus mendatangi dokter ini karna merupakan kesempatan langka diobservasi oleh sang dokter. Ada harapan Jerry dan Lexa menemui sang dokter untuk menyembuhkan ayahnya meskipun harapannya kecil. Jerry sangat antusias karna selama menunggu observasi, dia bisa mengunjungi Angel.
Sebenarnya bisa saja dia datang tanpa alasan apapun, namun dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya dan Alexis. Lexa juga tetap harus bekerja dan sedang mempersiapkan pernikahannya nanti. Jerry tidak mau menyusahkan. Jadi sangat kebetulan hal ini terjadi pikirnya.
Jerry telah mengantar ayahnya dan Jim ke sebuah kamar hotel yang terlihat seperti kamar apartemen. Jerry tidak mau ayahnya merasa sesak dan harus nyaman.
"Ok Jim, sekarang aku akan ke rumah sakit dengan mobil sewaan ku. Nanti akan ku kirim pesan jadwal jam praktek Dokter Hong dan segera kau antar dad! Aku akan ada di Desa Serena sekitar tiga hari dan akan kembali ke sini. Kabari aku jika terjadi sesuatu pada dad, oke?" Kata Jerry sebelum meninggalkan ayah dan asistennya. Jim mengangguk mengerti. Ini bukan kali pertama dirinya sering ikut bersama Jerry dan Alexis dalam pemeriksaan.
Jerry lalu menghampiri ayahnya.
"Dad, aku akan mendaftarkanm dan aku akan mencari cintaku. Kau percaya kan?" Kata Jerry berjongkok di depan ayahnya.
"Ya dapatkanlah, aku harap kau membawanya kemari ketika kau sudah mendapatkan hatinya. Apa tiga hari cukup?" Ayahnya memastikan.
"Ya, setidaknya aku mencuri hatinya dulu untuk mencintaiku setelah itu akan kupikirkan langkah selanjutnya." Saut Jerry tersenyum.
"Bagus! Kau memang selalu seperti ini! Penuh perencanaan tanpa gegabah." Alexis menepuk kecil bahu Jerry.
"Kau yang mengajarkan Dad!" Jerry tersenyum memegang punggung tangan ayahnya yang bersandar di sisi kursi roda.
"Pergilah! Kurasa Angel gadis yang baik, merkipun 7 tahun di bawahmu, aku yakin dia gadis yang luar biasa seperti kakaknya." Kata Alexis menepuk nepuk punggung tangan anaknya juga.
Alexis merasa, sejak merelakan Lexa bersama Leon dan mengenal Angel, Jerry tampak lebih segar. Pancaran wajahnya lebih bersinar ketika pulang bekerja ataupun melakukan kegiatan apapun. Seperti sebuah energi yang diberikan gadis bermata lancip di sela sela mereka berdua berkomunikasi. Alexis ikut senang ternyata Jerry memang pria yang luar biasa. Dia bisa keluar dari zona nyamannya dan mencoba berteman dengan lainnya. Bahkan dia bisa menyesuaikan diri dengan gadis yang jauh lebih muda darinya.
"Kurasa begitu dad! Ada aura tersendiri ketika dia berbicara dan melakukan sesuatu!" Puji Jerry menaik turunkan dagunya.
"Hehem! Kau hati hati mengemudi, jaga dirimu dan salamkan diriku pada Angel dan salam hormat untuk kedua orang tua Leon dan Angel." Pesan Alexis yang tidak dapat ikut karna perjalanan yang akan menguras tenaganya.
"Baiklah Dad! Kau juga, makan yang teratur dan tetap minum obat dan vitaminmu!" Jerry juga mengingatkan pada ayahnya.
Jerry pun melangkahkan kakinya keluar hotel dan menuju ke rumah sakit terlebih dahulu.
Sesampainya di rumah sakit, ketika Jerry menuju ke ruang informasi, sebuah bola sedang bergulis di samping sepatunya. Seorang anak laki laki dengan sweater dan jaket parka berlari ke arahnya dan hendak mengambil bola tersebut. Jerry menolah dan mengambil bola tersebut hendak memberikannya pada anak laki laki tersebut. Jerry berjongkok dan menunggu anak tersebut menghampirinya.
"Ini bolamu?" Jerry mengulurkan tangannya memberikan bola itu.
"Iya kakak! Terimakasih!" Kata anak laki laki itu menerima bolanya. Sesaat Jerry memperhatikan wajahnya. Dia seperti pernah melihat dimana dan mirip dengan siapa.
"Lain kali hati hati ya? Em, kau bersama siapa? Mengapa anak kecil sepertiku berlarian di rumah sakit seperti ini?" Tanya Jerry kemudian.
"Aku bersama mommy ku. Aku sedang memeriksakan diriku kak!" Jawab sang anak.
"Oh, kau sakit?" Jerry memastikan.
"Hehem!" Anak kecil itu mengangguk.
Tak berapa lama
"Juan! Kenapa kau berlari sampai sini hah? Jangan bermain bola di koridor!"
Tiba tiba ibunya datang dan memanggilnya. Jerry pun berdiri karna sang anak sudah mendatangi ibunya. Lagi lagi Jerry merasa pernah mendengar nama Juan. Entah Leon atau Angel yang pernah mengatakannya, juga Lexa. Dia menyipitkan matanya juga melihat wajah ibu dari anak yang dipanggil Juan itu sepertu mirip sekali dengan Angel jika sudah tua nanti.
"Bibi, salam kenal! Tadi aku yang mengambil bola anak bibi. Dia tidak berlarian. Mungkin bolanya jatuh dari pegangannya jadi bergulir sampai sini. Kau tidak perlu memarahinya, dia juga sedang sakit." Kata Jerry kemudian membela anak tersebut karna wajahnya memucat.
"Oh iya Tuan! Terimakasih. Pantas saja aku mencarinya kemana mana tidak ketemu. Saatnya dirinya di periksa." Ibunya Juan memegang bahu Juan.
"Perkanalkan bi, nama saya Jerry. Em, anak bibi kenapa?" Jerry menundukan kepalanya.
"Sudah tiga hari demam, kakaknya menyuruhku membawanya ke rumah sakit kota agar diperiksa lebih lanjut padahal rumah kami sangat jauh, tapi kakaknya sudah memarahi ku agar mengobati adiknya ini. Kakaknya sayang sekali dengannya. Kami memiliki perkebunan jadi suamiku tidak bisa mengantar." Sedikit penjelasan sang ibu.
"Oh, ya memang harus segera diperiksakan jika sudah 3 hari demam bibi. Baiklah, segera periksakan bi." Kata Jerry menganjurkan.
"Ya benar, aku juga harus segera pulang karna perjalanan sangat jauh. Permisi Tuan, sekali lagi terimakasih. Juan! Katakan terimakasih!"
"Sudah!" Saut Juan polos. Dan mereka membungkukan badannya di depan Jerry memberi hormat begitu juga dengan Jerry.
"Kau Juan, hanya ucapkan kata terimakasih saja sulit sekali!" Decak ibunya sambil menjauh.
"Kata Kak Angel tidak perlu berulang ulang mommy!!"
Mereka saling bergumam namun Jerry tidak mendengar. Jerry tetap memperhatikan dan sedikit mengkhawatirkan mereka. Jerry berpikir pasti ibu dan anak itu dari desa. Jerry jadi sedikit penasaran, mungkin saja desa tempat tinggal mereka sama dengan desa tempat tinggal Angel. Jerry pun memutuskan menunggu mereka di lobby rumah sakit setelah mengurus pendaftaran pemeriksaan ayahnya.
Sudah hampir pukul 3 sore tapi Jerry masih menunggu di lobby. Kalau sebentar lagi tidak datang, sepertinya Jerry memang harus mencari sendiri desa rumah Angel. Dia sudah mendapat alamat lengkap dan jalur tercepat dari Leon pagi ini. Selang sekita lima belas kemudian akhirnya Jerry hendak pergi saja, namun lagi lagi dia merasakan sebuah bola mengenainya. Jerry menoleh dan benar saja Juan berlari ke arahnya.
"Kakak?! Kita bertemu lagi! Maafkan, lagi lagi bolaku jatuh!" Ucap Juan mengambil bolanya.
"Juan! Sudah kukatakan tadi pagi ketika berangkat tidak perlu membawa mainan seperti ini." Ibunya marah dan menghampiri mereka berdua.
"Tidak apa apa bibi, dia masih kecil dan masih ingin bermain." Kata Jerry tersenyum mengusap puncak kepala Juan.
"Memang sih. Yasudah ayo Juan kita harus segera menuju ke terminal karna hari sudah sore. Aku takut dad dan kakakmu khawatir menunggu kita." Ajak ibunya menggandeng tangan Juan.
"Yes mom! Dadah kakak tampan!" Juan mekambaikan tangan pada Jerry.
"Mari Tuan Jerry!" Pamit mereka
"Tunggu Bibi!" Jerry menahan dengan panggilannya sehingga sang bibi berhenti dan menoleh lagi.
"Ada apa Tuan?"
"Panggil saja Jerry, bibi."
__ADS_1
"Ya ya Jerry. Aku seperti pernah mendengar namamu." Selidik sang bibi sesaat.
"Haha nama Jerry sepertinya pasaran. Em, kalian ingin pulang kemana? Kebetulan aku juga hendak ke Desa Serena, apakah bibi mengetahuinya?" Tanya Jerry kemudian.
"Itu rumahku kakak! Kau mau ke rumahku?" Sela Juan yang sudah tahu lokasi rumahnya karna umurnya menginjak 5 tahun.
"Benarkah? Wah kebetulan sekali ya?" Saut Jerry senang.
"Iya nak! Desa Serena adalah desa rumah kami. Kau mau kesana? Apa ada kerabatmu di sana?" Tanya ibunya Juan.
"Ya bibi, aku hendak menemui wanitaku, ya wanitaku!" Jerry meyakinkan dirinya bahwa akan mendapatkan Angel.
"Uuuwww romantis sekali. Haha, baiklah karna kau sudah bersikap baik pada anakku yang ceroboh ini, aku akan mengantar mu ke rumah wanitamu itu. Tapi, kita harus ke terminal dulu. Ayo?" Ajak ibunya Juan yang tidak mengetahui kalau Jerry membawa mobil.
"Eng, bibi, naik mobilku saja. Aku menyewa sebuah mobil untuk kesana, namun aku tidak tahu jalan ke desa itu." Sela Jerry.
"Asik kita naik mobil bagus!" Juan bersorak senang.
"Juan! Jaga sikapmu!"
"Jadi bibi, ayo kita ke basement parkir? Tidak apa apa tidak usah sungkan!" Ajak Jerry ke arah belakang rumah sakit.
"Ya baiklah! Maaf merepotkan sebelumnya." Saut wanita paruh baya itu.
"Aku yang merepotkan bibi karna meminta bantuanmu."
Mereka bertiga akhirnya menuju ke basement parkir. Sang ibu nampaknya tidak curiga karna keramahan dan sopan santun Jerry. Lagipula penampilan Jerry yang sangat rapi, jauh dari kata seorang yang jahat.
Juan sangat terkagum melihat mobil hitam mengkilat yang Jerry pesan.
"Mommy, mobilnya bagus seperti punya Tuan Dion!" Bisik Juan sebelum menaiki mobil dan lagi lagi Jerry tidak mendengarnya karna memasukan salah satu tas besar milik sang bibi.
"Baiklah, Juan, bibi kita berangkat ya?" Kata Jerry bersiap menjalankan mobil.
"Berangkat kak Jerry!!" Saut Juan bersemangat. Dia sangat senang menaiki mobil pribadi seperti ini.
"Juan sepertinya senang sekali menaiki mobil ya bi?" Tanya Jerry di tengah perjalanan.
"Iya, dia sangat menyukainya. Bulan lalu kakaknya pulang bekerja namun tidak membawa mobil pribadi jadi dia agak merindukannya." Jawab sang bibi menjelaskan.
"Oh, maaf bibi, bibi memiliki berapa anak? Apa juan anak terakhir?" Tanya Jerry berbasa basi.
Jane : "Ya Juan anak terakhir, dia memiliki dua orang kakak. Kakak perempuannya bersama kami, kakak tertuanya laki laki bekerja di Legacy."
Jerry : "Benarkah? Wah benar benar kebetulan. Aku juga dari Legacy bibi!"
"Apa kau bekerja bersama kak Leon?" Tiba tiba Juan menceletuki nama kakaknya. Hal ini membuat Jerry benar benar mengingat Leon. Nama Leon sangat jarang di dengar. Jangan jangan. Jerry masih berpikir dan hendak memastikan.
"Leon?"
"Iya, nama kakaknya Leon, Jerry." Kata Jane kemudian. Bibi itu adalah Jane. Ibunya Leon.
"Dan kakak perempuan Juan?" Jerry masih memastikan.
ini perdana ya visualnya Angelina Diana Janson cast Yeji Itzy a.k.a Hwang Ye Ji 😁😁
mirip Leon kan? matanya bibirnya tipis, awas buas wakakak 😍😍
...
...
"Angel. Angelina Diana Janson!" Jane memperjelah.
"Kakak kenapa? Kenapa terbatuk? Kakak sakit?" Tanya Juan polos.
"Ah tidak, mungkin karna kurang terbiasa dengan keadaan dingin Springfield. Di Legacy agak panas Juan!" Jerry mencoba menetralkan dirinya.
"Begitu ya? Aku jadi ingin ke Legacy. Mom, mengapa kak Leon tidak pernah jadi mengajakku ke Legacy, sementara Kak Angel sudah pergi kemarin!" Juan merajuk.
"Kau masih kecil. Nanti kalau Kak Leon menikah dengan Kak Lexa mu pasti kau ke Legacy!" Saut ibunya dan Jerry sudah tidak salah lagi. Juan dan bibi ini adalah ibu dan adik dari Angel.
"Yes! Aku mau ke Hotel Prime, pasti gedungnya sangat tinggi. Kak Jerry apa kau tahu hotel Prime?" Tanya Juan pada Jerry yang terus mengemudi.
"Tentu! Kalau Hotel Atkinson kau tau?" Jerry menguji Juan dan terkekeh.
"Tahu! Kak Leon juga pernah bercerita."
"Bagus bagus!!" Jerry tersenyum senyum. Dia tidak mungkin memberitahukan kalau hotel itu miliknya.
"Jadi bibi, apa perjalanan masih jauh?" Jerry hanya memastikan.
"Ya, sekitar dua sampai tiga jam lagi kalau mengendarai mobil pribadi seperti ini. Kalau dengan bus bisa sampai lima jam." Jawab Jane.
"Wah, berarti kalian menghabiskan waktu di jalan sangat lama ya? Mengapa anak perempuanmu tidak menemanimu?" Jerry mulai mengarah membicarakan Angel.
Jane : "Ah iya, tadi juga Angel hendak ikut, namun dia baru saja membuka toko bunganya. Dia mendapat banyak pesanan rangkaian bunga. Sebentar lagi ada festival Thanksgiving Jerry. Kau kebetulan sekali hendak datang ke Desa kami."
Jerry : "Begitu ya? Apa anak perempuan itu sangat hebat merangkai bunga bibi."
"Kau meremehkan kak Angel? Ka Angel sudah membawa ribuan bunga ke Legacy. Kau tak tahu kan? Dia kakak perempuanku yang luar biasa. Tapi kak Jerry, terkadang dia sangat galak dan buas!" Lagi lagi Juan menyela dan mengikuti pembicaraan.
"Juan!" Jane memperingati namun begitulah anak kecil yang bicara sepolos dan apa adanya.
"Buas bagaimana Juan?" Selidik Jerry makin penasaran.
"Buas seperti singa! Nanti akan kukenalkan ya, tapi kau jangan takut meski begitu dia kakak ku yang selalu menjagaku!" Saut Juan.
"Boleh boleh. Dia pasti sangat cantik ya Juan?" Jerry tersenyum menggoda.
Juan : "Matanya lancip sepertiku, seperti ibuku dan seperti kak Leon! Rambutnya lurus!!! Sebenarnya banyak yang menyukainya di desa kami, tapi kak Angel sungguh menyeramkan jika dia tidak suka dengan pria itu Kak Jerry!"
Jerry : "Oh begitu yaa? Emmm, kalau dia melihat ku, apakah dia akan menyukaiku?"
Juan : "Pasti! Pasti kak Angel akan menyukaimu! Dia suka pria pria yang rapi sepertimu seperti kak Nigel."
"Nigel? Siapa lagi bibi?" Jerry agak bertanya tanya, pasalnya Angel tidak pernah menceritakan pernah memiliki kekasih.
"Hahaha maaf nak, anak ku yang satu ini memang agak cerewet jika sudah menyukai seseorang. Tidak usah didengarkan. Kalau dia tidak suka, dia diam seribu bahasa! Juan jaga kata kata mu!" Jane menutup mulut Juan kemudian.
"Tidak apa apa bibi, kami hanya berbincang, dia hanya anak kecil yang berkata apa adanya. Aku suka Juan!" Jerry tertawa kecil.
"Lepas mommy! Aku juga menyukaimu kak Jerry! Nanti kau harus main ke rumahku ya?" Kata Juan ramah.
"Oh tentu, pasti sekali aku akan bermain bahkan menetap!" Jerry tersenyum yakin.
"Apa maksudmu, nak? Bukannya kau mau menemui wanitamu. Memang dia siapa? Mungkin aku mengenalnya?" Tanya Jane mendengar gumaman Jerry.
"Sepertinya matamu agak bermasalah Kak, di desaku hanya kak Angel yang paling cantik!" Saut Juan lagi menyela pertanyaan ibunya.
"Juan!!! Diam diam! Lebih baik kau tidur di pangkuanmu! Maaf ya nak Jerry!" Jane benar benar tidak enak dengan kelakuan Juan yang begitulah. Kalau dengan orang yang ia sukai, ia bisa bicara apapun. Sama seperti bertemu dengan Lexa. Sepanjang hari dapat bercerita di depan Lexa. Sampai semua keburukan ayah ibunya diceritakan.
__ADS_1
"Hahahahhaa! Juan kau benar benar lucu ya? Tentu wanitaku paling cantik. Nanti kalian akan tahu." Jerry tertawa terbahak bahak karna Juan mengatakan yang sebenarnya.
Angel juga pernah mengatakan kalau anak perempuan di desanya tidak begitu banyak. Dan mungkin benar juga kata Juan kalau hanya Angel yang paling cantik. Dengan mata lancipnya dan bibir mungilnya yang merona. Jerry benar benar merindukannya. Baru kali ini Jerry memiliki wanita yang ia sukai yang jauh lebih muda darinya. Seperti gadis kecil pemikat hatinya.
Akhirnya tak berapa lama Juan tertidur karna setelah memeriksakan dirinya, ibunya memberikan makan dan obat agar cepat pulih. Jane pun juga tertidur karna kenyamanan mobil Jerry serta lagu yang dipasangnya mengalun lembut. Jane dan Juan duduk di bangku penumpang. Jerry melirik lirik ke arah Juan dan Jane. Sungguh pertemuan yang sepertinya sudah disuratkan oleh Tuhan.
Jerry sudah membayangkan bagaimana wajar terkejutnya Angel melihat dirinya datang bersama calon ibu mertua dan calon adik iparnya. Dan kejadian kebetulan ini harus Jerry ceritakan pada Leon.
Jerry terlebih dulu memberhentikan mobilnya di pinggir jalan di antara padang rumput yang saat malam menjual pernik pernik serta rangkaian sekuntum bunga plastik yang dihias. Karna masih dalam pemulihan, Juan tidak terbangun namun Jane terbangun. Dia melihat Jerry sedang memilih yang akan dibuat oleh oleh. Jane pun ikut turun.
"Kau mau membelikan untuk wanitamu?" Tanya Jane di belakang Jerry.
"Eh bibi, kau sudah bangun? Maafkan aku membuatmu terbangun. Iya, aku tertarik dengan kedai kedai ini." Jerry menoleh ke arah Jane.
"Tidak apa apa. Aku juga hendak melihat kedai ini tapi belum sempat." Kata Jane menepuk punggung Jerry.
"Permisi Tuan selamat malam, selamat malam nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Tiba tiba seorang wanita paruh baya seperti Jane keluar karna mengira Jerry yang sangat rapi dan stylist adalah tourist.
"Begini, anak muda ini hendak membeli sesuatu yang unik untuk kekasihnya. Bisakah kau menunjukan sesuatu yang cantik?" Jane membantu Jerry berkata kata.
"Oh ada! Tunggu sebentar!" Wanita itu mengingat sesuatu. Dia berjalan ke belakang kedainya dan mengambil sebuah pot kecil yang terbuat dari kramik dan di dalamnya ada serpihan kaca lalu sekuntum bunga mawar terbuat dari kaca.
"Ini Tuan! Aku yang membuatnya bersama suamiku! Aku dan suamiku memang pengrajin kaca. Aku membuat ini karna terinspirasi dari seorang gadis yang belum lama ini kesini. Katanya betapa indahnya jika ada sebuah bunga mawar yang merupakan lambang cinta terbuat dari kaca kaca kristal dan kelopaknya berwarna semua warna yang dimiliki bunga mawar. Pasti bunga mawar ini akan memiliki lambang cinta yang sangat luar biasa. Bukan hanya cinta yang suci dan romantis melainkan semua rasa cinta. Segala emosi dan kasih cinta tertuang di bunga ini. Dan bunga kaca ini tidak akan layu. Bunga mawar ini akan abadi, namun bisa hancur jika terjatuh. Sama dengan cinta yang akan hancur jika terlampau kecewa." Kata sang bibi pengrajin ini.
"Waaahh, sungguh penjabaran yang luar biasa! Aku sampai ingin menangis, aku jadi mengingat anakku. Dia sangat menyukai bunga Nyonya!" Jane terharu dan mengingat Angel.
Sementara Jerry masih memperhatikan figura kaca bunga mawar ini. Entah mengapa dia seperti melihat wajah Angel yang cemberut dan tersenyum di sekitar kelopak karna pantulan cahaya lampu. Dia semakin merindukan wanita kecil nya itu.
"Aku mau ini bibi dan semua rangkaian bunga pelastik yang kau buat. Aku membelinya dan tolong bantu aku meletakannya di bagasi mobilku." Kata Jerry terus memperhatikan figura bunga mawar ini.
"Jerry! Kau serius membeli rangkaian bunga plastik itu?" Jane agak terkejut.
"Iya Tuan! Kau membeli satu saja aku sudah sangat senang, tidak harus membeli semuanya." Tambah sang pengrajin.
"Begini, aku jadi berpikir, bunga plastik itu juga tidak akan layu, dia akan cantik selalu, jadi aku akan memberikan semua bunga itu untuk wanita kecilku! Dia pasti sangat menyukainya." Jerry pun menyerahkan figura bunga itu kepada sang bibi untuk dikemas dengan baik.
"Wanita kecil?" Selidik Jane agak curiga.
"Benar bibi, dia wanita kecilku! Tubuhnya kecil mungil dan juga usianya namun dia sudah sangat dewasa bagiku! Ayo bibi kita lanjutkan perjalanan. Aku sudah sangat merindukan anakmu." Jerry berjalan ke arah mobilnya.
"Apa?" Jane masih curiga.
"Maksudku wanita kecil haha!!" Jerry berjalan keluar kedai.
"Ayo bibi pengrajin, bantu aku memindahkan semua rangkaian bunga mu ini ke bagasi mobilku!" Jerry menyadarkan sang bibi yang masih tak percaya.
"Ah iya iya Tuan baiklah!" Jawab sang bibi terbata. Dia mengemas figura bunga itu dan memberikan pada Jerry.
Dan Jerry pun membeli semua rangkaian bunga pelastik yang cantik cantik itu. Akhirnya sang bibi pengrajin itu hanya menjumlahkan harga rangkaian bunga plastik dan tidak mengenakan biaya pada ukiran kaca bunganya. Katanya hadiah untuk kekasih Jerry yang begitu baik hati dan sungguh mencintai kekasihnya.
Di dalam mobil Jane terdiam. Dia mencoba mengingat nama Jerry. Tapi karna usianya sudah lanjut, dia sangat lupa. Akhirnya dia mengkesampingkan rasa curiganya. Sedangkan Jerry terus bersenandung mengikuti nada nada yang mengalun pada musiknya sambil membayangkan wajah Angel melihat dirinya datang dengan kejutan bunga abadinya.
Sekitar pukul 8 malam mereka tiba di depan pekarangan rumah Leon.
"Baiklah Jerry, kita sudah sampai di Desa Serena dan di sama rumahmu. Kau bisa melanjutkan menuju rumah kekasihmu." Kata Jane mencoba menggendong Juan yang masih tertidur.
"Ah iya Bibi, eng tapi bibi sepertinya besok saja aku mendatanginya karna sudah malam." Jerry mencari alasan agar bisa masuk ke rumah Leon tanpa diketahui dulu.
"Oh iya benar sekali. Kau memang pria yang tahu sopan santun. Kau pasti tidak enak dengan orang tuanya ya?" Jane menerka.
"Benar sekali bibi!"
"Baiklah, jadi kau mau menetap di rumahku? Kau bisa tidur di kamar Leon." Jane menawarkan hal yang diharapkan Jerry.
"Benarkah? Aku bisa tidur di rumahmu?"
"Tentu! Ayo masuk!"
Jerry tersenyum sumringah. Sebentar lagi dia akan membuat orang orang ini terkejut khususnya Angel. Jerry memasukan mobilnya ke depan rumah Leon. Jane lalu turun menggendong Juan setelah mobil berhenti dengan tepat. Jerry pun ikut turun.
"Ketuk saja pintunya, nak, kami tidak memasang bel." Kata Jane.
"Sama saja bibi, hehe!" Jerry tersenyum dan membantu Jane mengetuk pintu.
"Sebentaar!! Pasti mom dan Juan kan? Mengapa kalian lama sakali, hampir saja aku hendak menjemput kalian!" Suara Angel merajuk di dalam sana namun baru berjalan menuju ke pintu.
Jantung Jerry benar benar berdegup. Sebentar lagi dia melihat pujaan hatinya. Jerry terus tersenyum. Jane duduk terlebih dulu di bangku halaman karna agak berat menggendong Juan sehingga hanya Jerry di depan pintu.
"Mom, aku sangat men - ce - mas - kan - mu !!" Kata Angel membuka pintu dan terperangah. Dia tidak melihat ibunya melainkan pria yang juga sudah mengusik hatinya.
"Tuan Jerry? Kau? Ini pasti mimpi! Sebentar ku tutup lagi pintunya!" Angel benar benar terkejut dan malah bertingkah konyol.
Jane mendelikan alisnya. Angel mengenal Jerry. Jangan jangan? Pikiran Jane berkecamuk, dia sekarang ingat. Jerry adalah saudara angkat Lexa yang kemarin Lexa ceritakan di sambungan telepon padanya.
Jerry hanya tersenyum melihat tingkah wanita kecilnya.
Angel membuka lagi pintu nya dan hasilnya sama.
"Angel, aku sudah datang! Aku sudah menepati janjiku untuk berkunjung ke rumahmu!"
...
...
...
...
nebeng 1 visual lagi Tuan Jerry ya lagi ke perkebunan bunga Angel nanti soalnya kalo pake gambar agak lama up nya hehe ..uda ada bayangan lah ya dua sejoli ini 😝😝
.
.
.
Yaakk, kisah cinta padang rumput, perkebunan kembali dimulai 😍😍
.
Next part 2
Pengennya cuma sampe part 3 tapi lihatlah nanti sampai mana imajinasi ini berkelana dengan kisah cinta si Tuan dan wanita kecil nya 😁😁
.
Jangan lupa LIKE dan KOMEN yang banyak 😍😍
Kasih RATE dan VOTE di depan profil novel
Kasih TIP juga boleh 😊😊
__ADS_1
.
Selamat membaca dan sayang kalian semuaaa 💕💕