
Leon dan Lexa sampai ke rumah sakit sekitar sore hari dan Viena masih di ruang gawat darurat. Leon melihat ada Marcel dan Pammy yang juga menunggui Viena. Marcel dan Pammy merupakan pasangan kekasih yang dulunya pernah ingin menghancurkan Viena dan Dion. Leon mengetahui kisahnya karna Leon yang selalu mendampingi Dion sampai masalah apapun yang berhubungan dengan Viena. Leon yang mengurusnya.
Leon juga sempat membenci Marcel karna keluakuannya yang sangat tidak pantas untuk Viena. Sebagai pria, Leon juga sangat kesal jika wanita yang kita cintai diperlakuan tak benar dengan orang lain. Leon dan Marcel sempat terlibat perselisihan kecil namun Lexa dan Pammy melerainya. Leon tidak takut pada Marcel meskipun status Marcel setara dengan Dion dan Revo. Revo adalah sepupu Marcel yang menyukai Viena. (Kisah selanjutnya Revo, Marcel dan Pammy ada di Mantan Terindah ya ;)
Lexa dan Leon akhirnya memutuskan untuk masuk ke ruang emergency sana. Viena tampak lemah dan Dion suaminya tidak melepaskan pegangan tangannya. Lexa agak terharu dengan pemandangan ini. Leon hendak menyapa tuannya namun Lexa menahannya sampai Leon merasa tangan Viena bergerak. Reflek Leon memberitahukan pada tuannya agar ditangani lebih lanjut.
Setelah tampaknya kondisi Viena telah sadar dan membaik, Dion menyuruh Leon dan Lexa untuk kembali ke desa mereka. Dion tidak menyuruh Leon kali ini menyelidiki karna Revo sudah membantunya. Ternyata semua ulah kecelakaan ini karna Isa yang dendam pada Viena. Revo lebih memilih menyukai Viena ketimbang dirinya.
"Piuft, untung saja Tuan Revo sudah lebih dulu selangkah di depanku, haha! Terkadang dia bisa diandalkan!" Celetuk Leon ketika perjalanan kembali pulang ke desa nya.
"Kau ini! Tuan Revo memang sudah sangat menyesal dengan prilakunya terhadap Nyonya Viena." Saut Lexa.
"Ya Lexa, Tuan Revo sangat sangat menyesal. Aku bisa merasakan auranya ketika kemarin kepergok oleh nyonya mu. Nyonya mu bisa membuat seorang Tuan Andez menangis Lexa!!" Tambah Leon menjelaskan tentang permasalahan di antara mereka.
"Hemm.." seketika Lexa berdehem dan berpikir.
"Leon?" Panggil Lexa lirih.
Leon menoleh sesaat sambil terus menjalankan mobilnya.
"Apa aku juga pernah membuatmu menangis? Ya mungkin aku tidak melihatnya." Tanya Lexa serius.
"Mana pernah aku menangis untuk seorang wanita, kau ini!" Jawab Leon berbohong. Dia lalu terkekeh namun tak lama terdiam karna melihat wajah Lexa yang seketika muram.
"Ya, aku tahu, aku bukan wanita yang luar biasa yang patuh ditangisi apalagi ada dipikiran musang yang tidak pernah serius sepertimu, hem.." sungut Lexa dan menghadap ke luar jendela.
Leon malah mendiami Lexa dan tersenyum. Dalam hatinya Leon merasa Lexa benar benar mengharapkannya. Leon semakin bersemangat untuk segera pulang ke Legacy.
"Bagaimana keadaan istri Tuan Dion, Leon?" Tanya Jane ketika mereka berdua telah sampai ke rumah. Lexa tampak murung dan dia hanya menunduk saja.
"Sudah sadar mam tapi masih sangat lelah." Jawab Leon menutup pintu rumah.
"Lexa, kau jangan bersedih, nyonya mu pasti sembuh. Kita pasti akan membuatkannya chicken noodle, oke?" Jane yang merasa Lexa sedih karna majikannya merangkul Lexa, padahal Lexa memikirkan Leon.
"Ya mom, baiklah mom aku akan beristirahat, kepalaku agak pening." Ijin Lexa kemudian.
"Ya benar, kau juga masih dalam pemulihan, Leon temani sana!" Suruh Jane tapi Leon malah menuju ke dapur.
"Dia bisa berjalan sendiri mom, aku lapar, aku mau makan dulu!" Kata Leon menuju ke dapurnya.
Lexa menarik napas dan segera menuju kamar.
"Musang tidak peka! Awas saja memelukku malam malam nanti!" Decak Lexa memasuki kamar.
Namun, nyatanya malam hari tampak dingin dan mereka tetap beringsut dalam pelukan ketika tidur, walaupun setelah Leon makan malam dia tidak lagi berbicara pada Lexa. Lexa pun sudah tertidur.
Paginya Leon dan Lexa telah mendapat kabar kalau Viena semakin membaik, jadi Lexa dan Leon tidak usah jauh jauh datang ke kota lagi. Dion dan Viena sangat memaklumi perjalanan yang membutuhkan berjam jam.
Sejak malam itu juga Lexa dan Leon seperti menjaga jarak. Leon yang memang ingin merasa Lexa untuk terus berdekatan dengannya dengan sedikit menjauhinya. Sementara Lexa yang masih kesal dengan sikap Leon yang tak peka terhadapnya. Meski begitu mereka tetap saja berpelukan ketika malam.
"Kenapa wajahmu selalu tertekuk seperti ini Lexa?" Tanya Leon ketika mereka bersiap tidur.
"Pikir saja sendiri!" Jawab Lexa ketus.
"Angel sudah baik denganmu bahkan kalian terus saja merangkai bunga, seperti tidak ada kerjaan lain saja!" Leon berdecih.
"Aku merangkai buket bunga, siapa tahu segera dilamar orang!" Saut Lexa menyindir.
"Ya, kau tunggu saja!"
"Leon, aku membencimu!" Lexa membalikan tubuhnya ketika mereka hendak tidur.
"Ada apa Lexa sayang.." Leon merengkuh pinggang Lexa yang membelakanginya.
"Argh Leon, kenapa kau selalu seperti ini?" Sungut Lexa sudah tidak kuat harus terus mendiami Leon.
"Tunggu sebentar Lexa, sabar lah dulu, kau pasti akan menyukainya." Jawab Leon.
"Sangat sangat suka?" Lexa malah menimpali dengan sangat ramah.
__ADS_1
"Ya, sangat!"
"Baiklah, kalau kali ini berbohong lagi, aku benar benar akan pergi darimu!" Amcam Lexa terkekeh.
"Tenang saja! Sekarang tidurlah, besok malam setelah Nyonya Viena dan Tuan Dion puas dengan tempat ini kita kembali ke Legacy.." kata Leon memejamkan matanya dan mengendusi leher belakang Lexa.
"Aku merindukan Legacy, Leon.." saut Lexa ikut memejamkan matanya dan mengelus punggung tangan Leon yang melingkar di perutnya.
Tak berapa lama mereka tidur, sebuah pesan hinggap di ponsel Lexa. Lexa agak membuka matanya ingin melihatnya, namun rasanya ia terlalu mengantuk sehingga ia melanjutkan tidurnya.
...
Keesokannya Lexa dikejutkan dengan suara ketukan pintu kamarnya yang memekakan telinganya. Leon masih memeluknya dari belakang namun tangan Leon melingkupi sisi lengannya karna semalam cuacanya sangat dingin.
Pintu terus diketuk oleh seseorang di luar sana. Lexa lebih dulu melihat jam meja di nakas samping tempat tidurnya.
"Sudah jam 7? Iya sebentar!!" Saut Lexa menghempaskan tangan Leon yang semakin berat saja menurutnya. Makan Leon menjadi sangat meningkat ketika berada di rumah ayah dan ibunya ini.
"Mom, Angel, ada apa?" Tanya Lexa akhirnya membuka pintu dan mengucek matanya.
"Lexa!" Panggil orang yang mengetuk pintunya itu. Lexa sangat mengenal suara itu. Dia lalu mendongakan kepalanya karna orang itu memang agak tinggi di atasnya.
"Nyonyaaa..." Panggil Lexa sumringah.
Viena lalu memeluk Lexa.
"I miss you sooo..!!" Kata Viena kemudian.
"Ya ampun Nyonya, kau sudah datang sepagi ini?" Saut Lexa menepuk nepuk kecil punggung nyonyanya.
"Hehem, aku sudah pulih dan kandunganku juga semakin sehat!" Viena menarik dirinya.
"Aku ikut senang nyonya.. eng, little bump, baik baik di sana ya jangan menyusahkan ibumu tapi susahkan ibu angkatmu ini nanti kalau kau sudah lahir, oke?" Kata Lexa lalu mengarah pada perut Viena yang bahkan belum membuncit sama sekali.
"Hemm, Lexa kau benar tidur bersama Leon? Nyonya Janson mengijinkan?" Tanya Viena menengok nengok kamar Lexa. Lexa tersipu sesaat.
"Kau pun sudah tahu nyonya, jangan menggodaku, sudah ayo ke luar, aku akan membersihkan diriku dulu dan membangunkan Leon." Kata Lexa menggiring Viena untuk kembali ke ruang tamu. Di sana sudah ada Larry, Jane dan Dion yang sedang berbincang bincang.
"Iya tuan, binatang yang sangat ganas, kau harus berhati hati selalu bersama dengannya!" Decak Lexa dan mereka semua tertawa.
Lexa lalu membersikan dirinya juga membangunkan pria tercintanya itu. Setelah Lexa membersihkan dirinya, Lexa segera bergabung dengan mereka. Jane dan Viena sudah berada di dapur. Mereka sedang membuat chicken noodle. Jane belum membuatnya karna mereka berpikir Viena akan datang siang hari ketika makan siang. Sementara Larry dan Dion berjalan jalan di perkebunan dekat rumah.
"Madam, mengapa kau tiba sangat pagi?" Tanya Lexa masuk ke dalam dapur.
"Malam ini kita harus kembali ke Legacy Lexa. Banyak proyek iklan yang sudah mengantri. Kemarin Lucy memberiku pesan banyak sekali yang mencariku dan juga mencarimu!" Jawab Viena menoleh sedikit sambil mengiris daun bawang.
"Oya? Tumben ada yang mencariku." Lexa menerka nerka.
"Ya seorang pria muda dan pria tua. Lucy belum memberitahukan padaku. Aku sudah harus bertemu dengan dokter kemarin." Tambah Viena hendak menjelaskan.
"Pria muda dan tua?"
"Hehem, tanyakan saja sana pada Lucy. Lucy, Abby dan lainnya sudah masuk Lexa. Hanya kita yang sedang mereka tunggu untuk proses kontrak iklan yang sudah masuk." Kata Viena.
"Oh, baiklah nanti ku hubungi dia. Aku belum melihat ponselku karna sudah senang kau datang. Sini, biar aku saja yang membuat. Ini rumahku, kau tamu, aku akan melayanimu!" Saut Lexa menghampiri majikannya meminta posisinya.
"Jadi sekarang rumah ini sudah hak miliknya dia, Nyonya Janson?" Decak Viena tersenyum pada Jane.
"Dia sudah tidak sabar menjadi istri Leon, nyonya Viena." Saut Jane tersenyum.
"Tidak sabar tapi selalu bertengkar!" Viena berdecih dan masih tersenyum.
"Ya benar, begitulah kedua anakku ini Nyonya." Balas Jane tersenyum senang.
"Tenang saja Nyonya Janson, sesampai di sana, aku akan segera menyuruh Leon mengadakan sebuah pertunangan terbaik sepanjang masa." Viena menolak pinggangnya.
"Jaga mereka untukku nyonya!" Kata Jane lembut dan penuh harap.
"Viena nyonya. Aku ini juga anakmu, kau harus datang ke sana ya?" Balas Viena mengangguk angguk tersenyum.
__ADS_1
"Tentu sayang.."
Mereka lalu membuat chicken noodle sambil bersenda gurau, sementara Lexa malah merasa sedih. Dia takut Leon malah tidak akan melakukannya dengan inisiatifnya sendiri. Dia sampai berpikir sepertinya dia, wanita yang harus melamarnya lebih dulu mungkin. Lexa tidak mau kehilangan pria seperti Leon. Meskipun terkesan cuek dan arogan, tapi Lexa yakin kalau Leon lah yang terbaik untuknya.
Viena dan Dion melakukan banyak aktivitas ringan di sana. Mereka berfoto foto di pekarangan rumah Leon yang berlatar belakang pemandangan indah. Mereka juga berkunjung ke rumah kaca Angel karna Viena sungguh penasaran dengan kebun bungan Angel yang mungil namun sangat indah. Namun Viena dan Dion juga Lexa dan Angel menaiki mobil yang disupir oleh Leon tentu saja. Karna Viena tidak boleh terlalu banyak berjalan terlebih dahulu.
Setelah banyak kegiatan yang mereka lakukan, mereka memutuskan untuk berangkat ke bandara. Lexa sudah mengemasi barang barang mereka.
"Lexa, kau sudah siap?" Tanya Leon memasuki kamarnya karna Viena dan Dion sudah bersiap untuk berangkat.
"Iya Leon, ini kopermu juga sudah kurapikan. Semua baju kotormu yang belum tercuci kata mommy tinggal saja, jadi aku hanya merapikan baju bajumu yang masih bersih agar koper tidak penuh." Kata Lexa tersenyum dan Leon sedikit tertegun. Dia merasakan sebuah hubungan suami istri yang Lexa lakukan bukan hanya sekedar hubungan intim. Lexa memperhatikan semua barang barangnya layaknya seorang istri yang mengurusi keperluan suaminya.
"Terimakasih Lexa, kau sudah seperti istriku!" Kata Leon menghampiri Lexa dan merengkuh pipinya.
Namun, nampak wajah Lexa muram.
"Kau selalu berkata seperti nya sepertinya, jangan membuatku terus berharap, aku takut kau tidak menepatinya." Tutur Lexa lalu menarik dirinya. Dia menundukan kepalanya dan berjalan ke luar kamar.
"Argh kalau cemberut seperti itu hatiku serasa runtuh tak berdaya. Kelinci itu sangat tidak sabar, mana mungkin aku dengan asiknya, Lexa, kau mau menjadi istriku tidak? Dia pikir seperti membeli alat elektronik, hem sabar Leonnn!!! Besok sudah tiba di Legacy!" Decak Leon sendirian. Akhirnya dia menarik kedua kopernya dan Lexa menuju keluar.
Leon dan Lexa akhirnya berpamitan dengan kedua orang tua Leon, Angel dan Juan. Jane menangis karna dia harus berpisah lagi dengan Leon. Dion menenangkan Jane dengan menyuruh Jane dan Larry beserta semua keluarganya untuk datang ke Lagacy sesekali dan Larry menyanggupinya.
Angel juga menangis di pelukan Lexa karna tidaj akan ada lagi yang menemaninya merangkai bunga. Lexa sudah memberikan surat lahan pada Angel untuk segera dibangun toko bunga Angel sehingga dia bisa merekrut pegawai untuk menemaninya merangkai bunga.
Dan sampailah mereka di mobil yang Dion sewa. Kali ini Dion yang mengemudi karna Viena tidak bisa duduk di belakang. Leon benar benar menghargai alasan tuannya.
Mereka sudah dalam perjalanan. Leon dan Lexa duduk di kursi penumpang. Barulah Lexa meraih ponselnya karna sudah kembali bermunculan pesan pesan singkat.
Satu pesan singkat yang menjadi perhatiannya dan membuatnya berpikir sangat sangat medalam. Jantungnya juga berdegup kencang. Dia merasa firasatnya benar benar terjadi.
💌+5566777***
Selamat malam Lexa, akhirnya aku mendapatkan nomor ponselmu. Kapan kau kembali dari Springfield? Aku ada info mengenai ayahmu 😊 JerryAtkinson
Lexa tersentak yang dirasakan oleh Leon.
"Ada apa?" Tanya Leon sedikit penasaran.
Lexa hanya menggeleng dan kembali menyimpan ponselnya. Dia memandang keluar agar Leon tidak merasakan apa yang ia pikirkan. Dan dia tidak mau Leon mencurigai hal yang macam macam dengan pesan dari Jerry itu.
...
Jeng jeng jeng jeng
Leon, kau harus satu langkah di depan atau selesai sudah perjuanganmu selama ini 😝😝
.
Next part 70
Siapkan hati kalian
Ada apa vii?
Staytune aja 😍😍
.
Jangan lupa jangan lupa jangan lupa
Kasih Episode kali ini LIKE dan KOMEN yang banyak karna komen kalian pembenahan bagi vii, vii akan menerima semua saran dan kritik apapun 🙏🙏
Kasih juga VOTE dan RATE di depan profil novel yaa 😘😘
.
Selamat membaca
Selamat tutup tahun baru 🎉🎉
__ADS_1
Salam hangat
viiyovii 💕