
Leon menepuk pundak Lexa dan meraih ponsel yang dibuat jatuh istrinya. Dia mengerti apa yang kini istrinya rasakan.
"Halo Tuan Jerry, bagaimana?" Tanya Leon menempelkan ponselnya di telinganya.
"Keadaannya sedang genting Leon. Di dalam Dad sedang dalam tindakan. Jantungnya berpacu cepat dan suhu tubuhnya demam!" Jawab Jerry di sebrang sana dengan cepat karna perasaan cemas dan takut bercampur menjadi satu.
"Bagaimana bisa terjadi Tuan?" Selidik Leon mengerutkan dahi nya.
"Entahlah, ini semua tiba tiba. Dia sempat tersadar namun tak berapa lama dada nya sesak. Sebenarnya masih ada satu kantung darah dan sudah disalurkan namun nampak nya ada keluhan lain Leon. Aku masih menunggu di luar. Dokter masih melakukan tindakan di dalam. Adikmu sudah menangis terus. Katakan pada Lexa agar tetap tenang. Ingat akan anak kalian yang ada dalam kandungan. Aku juga mohon bantu dalam doa Leon." Kata Jerry lagi menjelaskan dan berusaha menenangkan Leon yang ia yakini juga panik mengingat kehamilan saudara angkat nya.
"Pasti Tuan. Baiklah aku tutup dulu ponselnya. Aku harus menenang kan Lexa juga. Tetap kabari kami apa pun yang terjadi Tuan!" Saut Leon melemah dan banyaklah pemikiran yang harus ia perbuat pada istri nya.
"Iya Leon, tenang saja!" Balas Jerry sambil mengelus lembut rambut kepala Angel.
Jerry mematikan panggilan di sebrang sana dan duduk di samping istrinya, Angel. Dia harus menenangkan istri nya yang begitu mengasihi ayah angkat nya itu. Sedangkan Leon juga duduk berhadapan di depan istrinya, Lexa. Leon memegang tangan Lexa yang bertaut. Lexa sudah menitikan air mata nya namun tidak tersedu. Leon mencari cari keberadaan wajah istri nya.
"Kau menangis sayang?" Selidik Leon menegang dagu Lexa lembut.
Lexa menggeleng. Dia lalu menghapus air matanya dan mendongakan kepalanya. Dia menatap Leon tersenyum. Leon tak kuasa. Karna janjinya dan karna wanita ini memikirkan juga anaknya Lexa seperti ini. Lexa berusaha kuat sehingga tidak membuat dirinya khawatir. Leon lalu memeluk kepala Lexa.
"Ayo kita ke kapel dulu, kita berdoa untuk dad. Segala sesuatu kita serahkan pada yang di atas. Semua akan baik baik saja. Meskipun kita di sini, tapi setiap pikiran dan kata kata doa kita pasti tersampaikan di hati dad. Setelah kita baru kita ke Big Plaza. Katanya kau mau makan di sana? Kita makan steak ter enak dan ter mahal. Ajak juga Ben, Abby dan Solane? Aku yang traktir, ya?" Kata Leon dalam pelukannya. Lexa kembali meneteskan air matanya namun rasanya percuma ia menangis pun. Dia harus memikirkan semuanya khususnya anak yang di dalam kandungannya. Benar kata Leon, ayahnya pasti mendengar doa doanya. Dirinya pasti memiliki kontak batin.
Lexa lalu menarik diri. Dia mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih Leon." Ucap Lexa tersenyum haru dan menatap lirih betapa tampan suaminya yang sangat menenangkan nya.
"Aku adalah orang yang menanamkan saham di perutmu, haha! Ayo kita kembangkan saham itu, maka kita akan menjadi keluarga terkaya. Hem, dan sepertinya aku mau mendahului Tuan Dion. Setelah anak kita lahir, kita buat lagi, bagaimana?" Leon bergurau karna ingin membuat Lexa kembali ceria.
"Kau ini! Tuan dan asisten benar benar mesum seperti kata Nyonya Viena, percis!!" Decak Lexa menanggapi gurauan suaminya.
"Jangan sama sama kan aku dengan Tuan Dion dong, aku lebih bisa menahan diri, hihi! Sudahlah, jangan membicarakan Tuan Dion, sudah cukup di kantor saja. Dia sedang puber kedua! Ayo ke kapel!" Ajak Leon beranjakan dari jongkokannya setelah mengecup punggung tangan istri nya.
Lexa mengangguk dan berdiri mengikuti suaminya. Rasanya dia selalu bersyukur bisa berdampingan dengan Leon. Leon pria ter luar biasa dalam hatinya. Dapat menjadi apapun yang dibutuhkan Lexa.
...
Mereka memasuki pekarangan kapel kecil yang terdapat percis di samping rumah sakit yang mereka kunjungi tadi. Leon memang sempat melihat sebuah kapel ketika melajukan mobilnya ke rumah sakit.
"Kapel ini sangat indah Leon. Ada taman kecilnya dan lihat ada sebuah kolam air terjun elektrik. Cantik sekali." Decak kagum Lexa sebelum memasuki kapel.
"Ya benar, sangat nyaman dan damai!" Saut Leon menyetujui pendapat istrinya.
"Ya, seperti di surga, heemmm .. hawa nya juga kenapa menjadi sangat sejuk .. aku merasa ketenangan Leon!" Kata Lexa lagi memejamkan mata nya merasakan angin semilir menyapu nyapukan tubuhnya.
"Memang kau pernah ke surga?" Leon agak mendelik. Entah mengapa dia jadi mengingat mertua nya.
"Pernah!" Jawab Lexa membuka matanya.
"Heh? Kapan?" Kini Leon mengernyitkan dahinya.
"Sewaktu aku menolong Angel. Ketika aku belum tahu papi ku masih hidup. Aku seperti bertemu dengan papiku dan dia mengajak ku ke tempat indah seperti ini, semua serba bercahaya sangat terang! Ku rasa itu surga!" Jawah Lexa tersenyum.
"Ah iya kau mati suri tapi ternyata seekor musang malah datang dan menggigit pahamu kan?!" Decak Leon benar benar tak suka dengan kejadian waktu itu. Dia sempat ikut mati mencari Lexa yang ternyata ada di dekat kakinya.
"Heemm! Leon! Kau merusak mood ku!" Decak Lexa kembali merenggutkan wajah nya.
"Biar saja! Untuk apa membicarakan dad in law ku mengenai surga?!" Tanya Leon dengan nada tinggi yang sontak membuat Lexa memikirkan ayahnya dan benar kata Leon? Mengapa dirinya mengaitkan orang tuanya dengan surga? Namun, dia tetap kembali bersedih. Apa sudah saatnya ayahnya pergi ke alam damai dan tentram sana? Sanggupkah dirinya menerimanya?
"Lexa? Mengapa menunduk? Sedih lagi kan? Kalau kita terus bersedih sedihan terus, anak kita juga akan ikut sedih. Kau tidak kasihan dengan bentuknya yang masih sangat kecil seperti butiran beras, haha!" Kata Leon kemudian seraya mendorong tubuh Lexa dengan merangkulnya memasuki kapel tersebut. Lexa menggeleng dan memandang senyum suaminya.
"Nah tersenyum seperti ini lebih baik. Iihh, kenapa kau jadi semakin menggemaskan sih sayang?!" Kata Leon mencubit pipi Lexa yang semakin menggembul.
"Kau gombal terus!" Lexa memalingkan wajah Leon dan Leon kembali merangkul Lexa memasuki Kapel.
Mereka pun memasuki kapel. Leon mengambil dua lilin pada tempat yang sudah di sediakan dan menukarnya dengan beberapa lembar sepuluh ribu pada kotak persembahan. Leon pun menyalakan lilin tersebut dan ditancapkan pada tempat lilin sebagai persembahan cahaya untuk kepercayaannya. Sementara Leon menyuruh Lexa untuk menunggu di kursi doa saja.
Leon lalu kembali mendekati Lexa. Lexa sudah tampak menautkan tangannya dan memejamkan mata. Leon ikut melakukab hal yang sama di samping Lexa. Namun, Leon malah memegang tangan Lexa agar mereka berdua saling bergandengan tangan dan berdoa. Lexa pulang pun mulai berdoa. Walau dengan deraian air mata, ia menyampaikan pada yang kuasa mengenai penyakit ayahnya.
__ADS_1
"Pada akhirnya ya Tuhan, semua kuserahkan kepadamu. Apapun yang Kau perbuat untuk papiku kiranya terjadi seturut dengan rencana terindah yang sudah Engkau rangkai. Jika memang ini membuatnya sembuh dan tidak akan membuatnya sakit lagi aku akan menerimanya. Kuatkan diriku bersama anak yang saat ini sedang kukandung Tuhan agar berkatmu selalu melingkupi kami. Amin." Tutur Lexa dan ia membuka matanya. Matanya sudah memerah dengan lelehan air mata yang kian terjatuh layaknya aliran air. Leon menoleh kepadanya dan tersenyum.
"Kau hebat Lexa! Kau memang wanitaku! Kau akan terus berdiri kuat bagai batu karang karna keteguhan hati mu yang luar biasa. Tenang saja, semua akan terjadi dan indah pada waktunya." Leon memuji istrinya sambil menghapus air mata Lexa. Lexa mengangguk dan masuk ke dalam pelukan suaminya.
Sebenarnya di dalam hatinya dia sepertinya hanya akan membutuhkan Leon. Apa jadinya jika dia tidak memiliki Leon yang mana Leon yang mengajarkan semua nilai nilai kehidupan kepadanya.
Setelah itu, mereka pun menuju ke Big Plaza. Lex tampak melamun diperjalanan menuju ke mall besar itu. Namun, lagi lagi lamunan Lexa buyar ketika Leon menyentuh tangannya. Leon seakan akan tidak membiarkan dirinya larut dalam kesedihan.
"Kalau kau terus bersedih, aku akan terus memberhentikan mobilnya!" Ancam Leon yang sudah sekitar tiga kali memberhentikan mobilnya.
"Kekanak kanakan!" Umpat Lexa melipat lipat bibirnya sebal. Dia merasa Leon menjadi seratus kali lipat posesif meski hanya lamunan. Memang dia tidak boleh sedikit memikirkan sesuatu.
"Kau harus ingat pesan dokter Lexa!" Decak Leon yang tak bosan mengingatkan pantangan utama Lexa.
"Ya aku ingat! Jalanlah! Aku akan bernyanyi saja kalau begitu!" Saut Lexa mengulurkan tangan nya menyalakan mp3 pada layar tape mobil nya. Di dalam alat pemutar musik itu sudah terdapat kaset dvd lagu kesukaan Leon, Big bang, sampai sampai Lexa sudah hafal semua lagu nya.
"Itu lebih baik!" Saut Leon kembali menjalankan mobilnya namun tak lama dia kembali terkejut karna lagu yang Lexa pilih.
"Bang bang bang!" Lexa mulai menyanyikan reff lagu tersebut walaupun dengan pelan.
"Lexa! Mengapa setel lagu itu?!" Tanya Leon dengan nada kesal dan tak habis pikir apa yang menjadi pemikiran kacau Lexa ini.
"Ini lagu gembira Leon, bukannya kau menyukainya?" Decak Lexa yang kini hendak menggoda suaminya.
"Tapi tidak baik untuk kandunganmu. Lebih baik ini saja! Mengapa kau tiba tiba menjadi liar sih?" Kata Leon lagi mengganti lagu tersebut menjadi lagu yang lebih mellow.
"Masih ada keliaranku Tuan musang?" Saut Lexa mendekatkan sedikit tubuhnya ke Leon dan menaik turunkan alis nya.
"Jangan menggoda Lexa! Aku tidak mampu, kita juga belum boleh melakukannya!" Leon memperingati.
"Hem! Mengapa dokter Reanne itu tidak asik sih?" Lexa mulai menjauhkan dirinya dan mendengus menyandar ke sisi pintu mobil.
"Hey Lexa?! Kau harus menurutinya, kau lupa ini yang sudah kita minta. Kehamilan dan seorang anak!" Leon mengingatkan.
"Ya, ya aku mengerti." Gumam Lexa mengalah dan bersenandung mengikuti alunan lagu yang sudah diganti oleh Leon.
Sebuah lagu berjudul Blue dari big bang yang mengalun dengan beat yang ballad membuat mereka yang mendengarnya akan terbius terbawa suasana.
...
Sesampainya di Big Plaza, Leon tidak melepas rangkulan pada pinggang isrtinya. Mereka memasuki gedung pusat perbelanjaan terbesar di Legacy ini dengan saling merangkul. Tak ayal, banyak orang yang melihati mereka dengan senyum senyum karna tampak serasi.
"Leon, banyak yang memandangi kita! Aku jadi malu!" Kata Lexa tersipu.
"Biar saja! Kita bahkan sudah menjadi suami istri, bukan sepasang kekasih lagi!" Decak Leon tak peduli dengan pandangan iri pengunjung lain.
"Ah iya kau benar, hihi!" Lexa terkikik menutup mulutnya.
Lexa dan Leon terus menyusuri tempat besar itu dan menuju ke sebuah restoran steak terenak yang sebelumnya Leon pernah mendatanginya bersama Dion dan rekan kerjanya.
Tapi, ketika mereka hendak memasuki restoran itu, Lexa melihat seorang anak kecil menangis di depan kaca sebuah toko boneka. Lexa menaikan alisnya. Dia seperti mengenal anak kecil itu. Anak kecil itu seorang gadis. Lexa lalu menahan tangan Leon untuk jangan dulu memasuki restoran. Dia melepas tangannya dari genggaman tangan Leon dan menghampiri gadis tersebut.
"Hey, kau kenapa?" Tanya Lexa memiringkan gadis tersebut untuk melihat dirinya. Dan, betapa terkejutnya dirinya kalau ternyata setengah wajah anak tersebut seperti ada bekas luka yang besar namun sudah sembuh.
"Tante?" Tanya gadis tersebut dan Lexa bingung mengapa anak ini memanggilnya tante.
"Tante, aku Sherry!" Jawab anak itu. Lexa dan Leon berusaha mengingat nama anak ini dan memang sepertinya Lexa pernah melihatnya.
"Oh Tuhan! Kau gadis kecil yang cerewet waktu itu kan? Yang merebut flower crow ku yang lebih dulu ku pegang, iya kan?" Lexa memastikan dan sepertinya benar adanya.
Sherry mengangguk pelan.
"Kenapa kita selalu bertemu seperti ini? Ada apa dengan wajahmu? Dimana ibumu? Dan sedang apa kau kemari?"
Serentetan pertanyaan dari Lexa ditunjukan pada Sherry yang sangat lambat di cernanya. Ketika Sherry hendak menjawab, Leon dan Lexa malah dikejutkan dengan teriakan bentakan dari dalam toko.
"Jadi, kau tidak bisa menggantikan boneka kaca ini kan? Anakmu itu benar benar keterlaluan! Lagi pula, kau ini bekerja bukannya menjaga anak! Taruh dia di rumah bersama ibunya! Memang ibunya kemana? Ibunya tahu tidak bagaimana menjaga anak? Oohh, apa ibunya malah bepergian bersama laki laki lain? Yaa, ibu ibu muda sekarang melakukannya jika suaminya sudah miskin sepertimu!" Begitulah kata kata tajam yang menusuk indera pendengaran setiap orang yang mendengar apalagi orang yang di tuju
__ADS_1
Buak!! Seorang pria yang sepertinya merupakan objek dari perkataan pemiliki toko boneka ini akhirnya memberi satu pukulan sampai ia terjatuh.
"Kau jangan seenaknya ya?!! Istriku sudah meninggal karna selalu menjaga anak anakku! Kau keterlaluan! Aku akan mengganti boneka kaca itu!! Kau tenang saja! Bahkan aku bisa membayarnya dengan semua toko boneka mu ini!" Kata si pria.
"Daddyy!!" Tiba tiba Sherry meneriaki pria itu sambil menangis dan menghampiri pria itu.
Seketika jantung Lexa dan Leon berdegup kencang. Ada apa dengan semua ini.
"Kau?! Kau berani sekali memukulku ya?!" Decak sang pemilik toko meraih kerah baju si pria ketika dirinya hendak memeluk Sherry.
"Jangan sakiti daddy ku jangan sakiti daddy ku!!" Pinta Sherry memukul mukul paha si pemilik toko.
"Aaahhh, kau! Kau yang menyebabkan semua kekacauan ini! Sana kau!" Bentak si pemilik toko dan mendorong kencang tubuh Sherry sampai tubuhnya mengenai etalase kaca..
Leon membelalakan matanya. Dia tidak bisa melihat hal seperti ini di diamkan sementara para anak buah si pemilik toko juga tampak diam saja.
Leon lalu menghampiri Sherry karna pria yang dipanggil daddy itu saja juga sudah menerima pukulan kencang dari si pemilik toko.
"Sherry?" Panggil Leon dan anak tersebut tampak sudah tak sadarkan diri lalu keluar aliran darah dari mulutnya.
"Sial!" Decak Leon dan menggendong Sherry. Pria itu juga hendak menghampiri Sherry namun lagi lagi ia menerima pukulan dari si pemilik toko. Leon sudah sangat geram mendengar semua ketidak adilan ini. Dia lalu memberikan Sherry terlebih dulu pada Lexa yang sejatinya masih tertegun.
Leon lalu menghampiri si pemilik toko yang masih ingin memukul pria itu.
"Kau tidak berprikemanusiaan! Dimana hati nurani mu hah?!!" Decak Leon menarik kerah belakang si pemilik toko dan memberi satu pukulan saja pada wajah orang itu. Si pemilik langsung terpelanting jauh mengenai etalase kayu pajangan boneka. Bahunya terkena etalase itu sampai hendak terbelah. Karna pukulan Leon yang sangat kencang juga tubuh si pemilik toko itu yang agak gemuk dan besar.
"Aku bukan sombong! Kau boleh mencari tahu dan tuntut aku, silahkan! Asal jangan kau menuntut pria itu dan anak gadis itu! Dengar baik baik ya! DANTELEON JANSON, ASISTEN PRIBADI UTAMA TUAN DION PRIME, PEMILIK HOTEL PRIME !! Kau katakan namaku di kantor polisi! Kau harus berhasil menuntutku karna kalau kau tidak berhasil menuntutku, maka aku akan menutup toko boneka mu ini di semua cabangmu!! Kau menjual boneka, namun tidak ada sedikitpun kelembutan hatimu pada seorang anak kecil! Cuih! Ini kartu namaku agar kau tidak lupa namaku untuk menuntutku! Ah, dan ini juga kartu nama tuan ku, Dion Prime, mungkin kau tidak percaya atau mau meminta tolong padanya untuk membujukku? PERMISI!! Satu lagi, aku akan membayar boneka kaca yang sepertinya dihancurkan Sherry dan semua gaji pegawaimu karna sepertinya mereka akan kau PHK!!" Kata Leon menunjuk nunjuk si pemilik toko tersebut yang sudah tak dapat berkutik.
Leon lalu membalikan tubuhnya dan menghampiri si pria itu. Leon membantunya berdiri dan memapahnya. Hem, kembali Leon dan Lexa menuju ke rumah sakit karna dua orang ini membutuhkan penanganan khususnya Sherry. Entah mengapa, Lexa merasakan ini adalah sebuah pertanda.
Sementara manager dari toko boneka itu membantu tuannya.
"Tuan, sebaiknya kita meminta maaf pada Manuel agar tidak memperpanjang karna kita sudah tidak dapat berbuat apa. Itu Leon Janson, asisten Tuan Dion. Dia menjadi orang penting di kalangan Legacy dan tidak ada yang berani berurusan dengannya. Karna Dion Prime di belakangnya dan ku dengar Tuan Jerry Atkinson sudah menjadi kakak iparnya. Kalau kau terus bersi keras, usaha kita akan tutup!" Kata manager nya memperingatkan.
"Uhuk uhuk! Aku tidak mau! Aku harus membuat perhitungan padanya! Aku juga mempunyai orang hebat! Kau jangan meremehkanku! Hubungi Frank Leonard dari Kantor pengacara Lawyer. Eg. Aku yakin dia tidak akan mengalahkanku! Asisten busuk tengik" decak si pemilik toko masih dengab batuknya dan memegang dadanya.
...
...
...
...
...
Lah pak! Dirimu tau ga siapa frank leonard? Buahahahaaa aku ga ikut ikutann , nyawamu di tangan Leon bukan diriku 😝😝
.
Next part 24
Ada apa dengan semua ini?
Ada apa dengan Sherry dan Manuel, ayahnya kan? Hehe
Dan bagaimana Leon mencampur adukan semuanya ??
Apa ini semacam bentuk peringatan??
Mohon dukungan untuk Leon hahaha smangat!!! 😍😍
.
Okedeh pada akhirnya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu dimana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintangnya donggss 😍😍
__ADS_1
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤