
"Kak Lexa? Akhirnya kau datang juga." Ujar Angel menghampiri kakak iparnya itu. Angel memeluk Lexa dan mereka saling mengecupi pipi mereka.
"Rasanya kau hanya merindukan kakak ipar mu, tidak merindukan kakak kandungmu!" Dengus Leon bergurau pada adiknya.
"Hem, kerjamu hanya marah marah saja, bagaimana aku merindukanmu?" Decak Angel pada kakaknya namun juga menghampiri dan memeluk Leon. Leon juga memeluk adiknya.
"Bagaimana kabar mom, dad dan Juan, Angel?" Tanya Leon menarik diri dari pelukan adiknya.
"Nanti sore mereka tiba kak. Aku mengatakan pada mereka kalau kalian datang. Aku juga sudah bilang kak Lexa hamil jadi sepertinya tidak bisa jauh lagi pergi ke desa." Jawab Angel memberitahukan kabar yang pasti membuat Lexa senang.
"Benarkah? Mommy Jane akan kemari?" Lexa memastikan.
"Iya Lexa. Mom, dad dan Juan akan kemari." Jawab Jerry menepuk pelan bahu Lexa.
"Hay Tuan, apa kabar?" Tanya Lexa mendongakan kepalanya. Dia lalu beranjak juga memeluk saudara angkat sekaligus saudara iparnya itu.
"Baik Lexa dan memang benar, sepertinya Angel hamil." Jawab Jerry juga menerka kondisi istrinya.
"Wah, jadi berapa cucu yang akan kudapat?" Selidik Alexis kemudian ikut berbicara.
"Haha, berapa pun kau ingin kan dad, aku dan Tuan Jerry akan senang memberikannya. Karna kami suka membuatnya, hahaha!" Decak Leon bergurau dan semua di sana tertawa.
Mereka pun saling bercakap cakap. Apa saja yang mereka bicarakan sangat sesuai dan mereka tampak bergembira. Alexis terus memegang tangan anaknya dan terus memandangi Lexa. Lexa pun senang karna Alexis juga nafsu makan setelah kata Angel, ayah mertuanya itu tidak pernah makan selahap ini.
Dan, sampailah sang dokter memeriksakan kondisi terbaru Alexis. Mereka semua tampak cemas mendengarkan perkataan dokter ketika selesai memeriksa. Angel, Leon dan Jerry menunggu di luar sementara Lexa ingin tetap di dalam. Juga karna permintaan ayahnya agar Lexa tetap bersamanya.
"Saya ikut senang Nyonya, sepertinya kondisi Tuan Besar Atkinson mengalami kemajuan yang sangat pesat. Tapi, memang tekanan darahnya masih rendah. Tidak masalah, dengan makan yang banyak dan emosinya terjaga, dia pasti masih bisa melakukan kegiatan seperti biasanya." Kata sang dokter pada Lexa yang hari ini ingin selalu dengan ayahnya.
"Oh iya dokter. Selama beberapa hari ini mungkin aku akan selalu merawatnya agar kondisinya terjaga." Kata Lexa tersenyum sumringah.
"Baik Nyonya, saya permisi dulu." Ijin sang dokter.
Sang dokter lalu keluar ruangan menemui Jerry, Leon dan Angel di luar. Sebenarnya ada yang perlu sang dokter katakan serius pada Jerry. Dia tidak berani mengatakan di depan dua orang itu karna sebelumnya Leon dan Jerry pun sudah me wanti wantinya.
"Bagaimana dok?" Tanya Jerry.
"Kondisinya lumayan baik tuan, tapi sewaktu waktu keadaannya bisa drop lagi. Aku hanya bisa berpesan, jangan membuatnya berpikir dan jaga emosinya. Tetap perhatikan istirahatnya dan makanannya." Jawab sang dokter dengan tenang.
"Oohh iya dok, kami semua akan menjaga emosinya. Bagaimana tekanan darahnya Dok?" Tanya Jerry lagi memastikan.
"Masih rendah Tuan, jika tidak mendapatkan darah, karna mengingat kondisi anaknya sedang hamil, usahakan tingkatkan makannya dan vitaminnya jangan lupa diminum. Itu saja Tuan. Kalau ada masalah lain segera hubungi saya." Kata sang dokter dan ijin undur diri.
"Baik dokter, terimakasih." Ucap Jerry. Dan mereka bertiga tampak lega.
Tak berapa lama Lexa keluar dari ruang perawatan. Tepat sekali jam makan siang.
"Ada apa Lexa? Mengapa kau keluar? Kami baru saja ingin masuk." Kata Leon meraih tangan istrinya keluar ruang rawat.
"Em Leon, Tuan Jerry, Angel, papi ingin makan buah apel. Di mana kita bisa mendapatkan apel?" Ujar Lexa sambil menutup pintu kamar.
"Kebetulan sekali kami membawanya." Tiba tiba sebuah suara menjawab pertanyaan Lexa. Di sana Jane, Larry dan Juan ternyata sudah datang.
"Mommy!!" Pekik Lexa yang juga sudah merindukan ibu mertuannya itu. Dia langsung berhambur memeluk Jane. Jane juga sangat merindukannya.
"Lexa, hati hati, kalau kau terjatuh bagaimana janinmu!" Tutur Leon mengingatkan posesif.
"Uuuu, begitu posesif nya kakakku ini .." Angel menggoda Leon. Leon hanya mencibir Angel dan dia juga memeluk ayah dan ibunya juga menggendong Juan, adiknya yang ketiga.
"Yasudah, ayo semua masuk ke dalam, kasihan dad sendirian." Ajak Jerry ramah.
"Oh iya dia menginginkan apel. Kau benar membawanya mom?" Tanya Lexa merangkul Jane menuju ke kamar rawat.
"Ya, aku sudah lama tidak memberikan apel pada Leon. Suamimu itu sangat menyukai apel." Gumam Jane menjawab Lexa.
"Oh iya bagus sekali mom!"
__ADS_1
Dan mereka semua memasuki ruang rawat Alexis lagi. Alexis semakin gembira karna seluruh sanak keluarganya berkumpul untuk kesembuhannya. Alexis sudah dibuat duduk bersandar oleh Jerry. Mereka pun menikmati kebersamaan ini. Karna jam makan siang, mereka pun bercakap cakap sambil menikmati santap siang. Tampak Angel muram dan menopang dagunya dengan tangannya karna hanya dirinya yang tidak berselera makan. Suadh beberapa kali Jerry membujuknya hanya ada beberapa yang masuk.
"Kau ingin makan apa Angel?" Tanya Jerry berusaha membuat istrinya untuk makan.
"Aku ingin makan di restoran roti panggang dengan daging ayam cincang Tuan Jerry! Sepertinya enak dengan salada dan saus sambal." Ujar Angel masih menopang dagunya di tangan.
"Biar kupesankan ya?" Kata Jerry hendak meraih ponselnya di saku celananya.
"Tidak aku mau makan di tempatnya. Yang dekat dengan mall Springfield, sayang!" Dengus Angel.
"Tapi kan disini kita semua sedang berkumpul, sayang!!" Bisik Jerry masih sangat lembut.
"Jerry .." tiba tiba ayahnya memanggilnya dengan maksud turuti saja permintaan Angel. Jerry sudah tahu kalau nada ayahnya seperti itu adalah harus menuruti orang yang meminta padanya.
"Tapi Dad .."
"Dulu ketika maminya Alexa mengidam juga seperti itu. Dia ingin kerang dan harus makan di pinggir pantai." Kata Alexis mengingat beberapa tahun silam kehamilan Lexa.
"Wah, percis sekali seperti anakmu dad! Suka sekali pantai! Tapi di pantai makannya steak, haha!" Celetuk Leon menggoda istrinya.
"Tidak nyambung kau Leon!" Decak Lexa yang sibuk mengupasi apel.
Semua tertawa kecil.
"Sudahlah Jerry, sana ajak Angel makan di restoran yang ia mau, biar kami yang menjaga ayahmu, lagi pula kalian sudah terus menjaga nya sepanjang hari. Tidak ada waktu kalian untuk berpacaran." Kata Jane akhirnya pada menantunya agar tidak usah mengkhawatirkan apapun.
"Nah, kau benar mom! Sudah sana Tuan, ajak Angel dan jangan lupa beli saja testpack dulu Angel agar meyakinkan kau hamil." Tambah Lexa. Jerry lalu menoleh ke arah ayahnya dan ayahnya mengangguk tersenyum.
"Baiklah, ayo Angel kita makan ke sana." Kata Jerry beranjak dari duduknya dan mengajak istrinya.
"Aku ikut!" Pinta Juan yang sepertinya bosan hanya di kamar dan tidak berbuat apapun selain bermain dengan truk truk an besar nya.
"Kau yakin bisa bersama kak Angel?" Tanya Larry pada anak terakhirnya.
"Bisa daddy! Aku sudah mau 6 tahun, masa aku belum bisa pisah dari mommy!" Dengus Juan sebal dengan ayahnya yang selalu menganggapnya masih anak kecil.
"Hem, aku sangat senang dengan suasana seperti ini. Tuan dan Nyonya Janson, terimakasih telah menyempatkan waktu menjengukku. Dan Alexa, Leon, kalian juga sungguh membuat ku terharu karna mau meninggalkan pekerjaan kalian yang penting hanya untuk melihat pria tua ini." Kata Alexis kemudian mengembangkan senyumnya.
"Tuan Alexis, jangan sungkan! Kita ini semua berkeluarga. Kau harus kembali sehat Tuan agar bisa mengerjakan kegiatanmu." Saut Larry ikut senang dengan kesehatan ayahnya.
"Benar dad! Kau ayahku, apalagi Lexa, sudah seharusnya kami juga merawatmu, benar begitu Lexa?" Tambah Leon ikut tersenyum.
"Benar sekali papi! Ini apelnya papi sudah ku potong potong." Ujar Lexa juga memberikan satu potongan apel dengan garpu.
Alexis tersenyum menerima potongan apel dari Lexa. Dia memakannya dengan senang hati. Dia merasa dia sudah puas dengan semua ini. Dia sudah merasakan semuanya. Meskipun tanpa Rose istrinya, dia akhirnya bisa menjalani kehidupan ini. Dia bertemu dengan Jerry di tempat pemukiman kumuh dan mendapatkan kehidupan layak. Dia juga bisa bertemu dengan anak kandungnya yang mana dia sudah menyerah mencarinya.
Sekarang Alexis bersama anak kandung dan anak angkatnya. Mereka berdua sangat akur tidak ada selisih paham. Bukan hanya itu, bahkan dia bisa menyaksikan kedua anaknya sudah menikah dan kini sedang mengandung cucunya. Rasa rasanya, tugas nya di dunia ini sudah selesai. Kalau bisa dia ingin terus beristirahat dengan semua kebahagiaan ini.
"Papi! Mengapa kau terus tersenyum? Ini apel terakhirnya, kau makan lahap sekali! Sama seperti Leon." Gumam Lexa tersenyum ke arah ayahnya.
"Haha, sepertinya kesamaan ku dan Leon sama. Hem, kau beruntung mendapatkan Leon nak. Kau juga harus menjaganya ya? Jangan sakiti dia dan juga jaga anak dalam kandunganmu. Aku tidak sabar bisa bermain main bersamanya." Saut Alexis.
"Tentu Tuan Alexis, aku dan dirimu akan bermain dengan cucu kita." Kata Larry pada besan nya.
"Haha, kau benar sekali Tuan Janson." Balas Alexis tersenyum.
"Oke pap! Makan siang mu sudah habis, apelmy juga sudah habis, sekarang kau harus meminum obatmu ya?" Kata Lexa hendak beranjak menyiapkan obatnya namun Alexis menahannya.
"Ya Lexa, terimakasih telah merawatku satu harian ini." Ucap Alexis lagi dan terus tersenyum tanpa henti. Dia benar benar bahagia. Dia memegang tangan Lexa dan menepuk nepuk punggung tangannya.
"Baru setengah hari pap!" Saut Lexa juga mengelus punggung tangan ayahnya.
"Aku sangat mencintaimu Alexa. Kau harus menjaga dirimu baik baik. Selalu dengarkan Leon dan Jerry. Jaga juga mereka untukku ya?" Kata Alexis menarik tubuh Lexa masuk ke dalam pelukannya. Lexa juga memeluknya dan Alexis benar benar sangat lega dengan semua ini.
"Iya papi, kau ini seperti ingin kemana saja!" Decak Lexa terheran dan merasa ayahnya ingin pergi ke tempat yang jauuhhh sekali.
__ADS_1
"Aku terlalu senang, Alexa." Balas Alexis menarik diri. Lexa lalu beranjak menyiapkan obat ayahnya.
"Yaya aku tahu, aku juga sangat senang bisa melihatmu. Baiklah, ini obatmu, minumlah!" Kata Lexa menyerahkan obat ayahnya. Alexis meminumnya masih dalam senyumnya.
"Sudah Alexa! Sekarang aku mengantuk." Guman Alexis mulai menutup matanya.
"Baru saja diminum sudah mengantuk pap." Decak Lexa bergurau tersenyum menggoda.
"Ya, papimu masih butuh istirahat, Lexa." Saut Jane.
"Ah iya kau benar mom! Baiklah, istrihatlah pap." Kata Lexa.
Alexis tidak menjawab, dia sudah memejamkan matanya sambil tersenyum tipis. Lexa menoleh ke arahnya dan ikut tersenyum. Dia merasa ayahnya pasti sangat mengantuk karna juga belum beristirahat sejak dirinya datang. Lexa pun menghampirinya dan menyelimutinya dan kini bergabung duduk bersama Leon dan dua mertuanya.
Lexa, Leon, Jane dan Larry saling berbincang dengan pelan. Leon juga mencurahkan kerinduannya pada ibunya yang mana dia terus merangkul Jane sampai Jane merasa Leon ini masih seumuran Juan. Larry dan Lexa sampai tertawa kecil melihat mereka.
Sampai beberapa suster dan dokter datang untuk jadwal pemeriksaan sore hari. Mereka ber empat berdiri dan hendak meninggalkan ruangan namun dokter yang sudah memeriksa kondisi Alexis menghentikan langkah mereka.
"Maaf Tuan, Nyonya. Sudah berapa lama kondisi Tuan Alexis seperti ini?!" Tanya sang dokter penuh ketegangan dan nada tinggi.
"Hah? Memang papiku kenapa? Dia baik baik saja setelah meminum obatnya dan ia tertidur." Jawab Lexa menghampiri sang dokter diikuti Leon.
"Dokter?" Tiba tiba seorang perawat memanggilnya dan menggeleng gelengkan kepalanya sambil menunduk.
"Saya sangat minta maaf harus mengatakan ini.." kata sang dokter kemudian.
"Ada apa dok? Kenapa dengan papiku?" Tanya Lexa dan dia segera mendekati ayahnya.
"Papi? Papi bangun, ada dokter yang mau memeriksamu!" Kata Lexa memegang dahi ayahnya dan satu tangannya lagi memegang lengan Alexis. Dia menghentak hentakan lengan ayahnya. Namun, dia memang merasa perubahan suhu tubuh ayahnya tidak hangat lagi seperti ketika ia menyelimuti ayahnya tadi.
"Dok?" Panggil Leon.
"Mohon maaf Tuan, Tuan Alexis sudah tiada. Saya turut berduka cita." Ujar sang dokter menundukan kepalanya.
"Tiidaaakk!!! Dia tadi sangat sehat, mengapa dia langsung meninggalkanku?!! Papi bangunnn .. pappiiii!!!" Lexa masih terus menghentak hentakan lengan ayahnya sampai dia lunglai tak sadarkan diri. Leon menahannya dan ikut meneteskan air matanya.
Larry sudah merangkul Jane yang ikut menangis merasakan duka mendalam menantunya. Semua yang di sana sudah menundukan kepalanya ketika salah satu suster menutup seluruh bagian tubuh Alexis. Sampai jumpa di kehidupan berikutnya Tuan Alexis Luxurio yang sangat baik hati dan bijaksana.
...
...
...
...
...
Turut berduka cita Lexa 😩😩
Aku ga tau lagi harus bilang apa selain kata relakan dan sabar Lexa 😭😭
.
Next part 28
Bagaimana respon Angel dan Jerry ketika pulang nanti?
Apakah Angel hamil?
Dàn apakah Lexa menerima semuanya ketika sadar?
.
Pada akhirnya vii meminta dukungan dari kalian melalui LIKE dan KOMEN nya, lalu bisa juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel yaa vii tunggu semua dukungan kalian 😍😍
__ADS_1
.
Thanks for read and i love youuuuu 💕💕