
lanjutan part 44,
Sementara itu, Casey mendatangi rumah kecil Ansel. Di mana ia tinggal berdua saja dengan Erina dan satu lagi asisten rumah tangga. Erina yang membuka kan pintu Casey. Dia memperhatikan Casey dari bawah ke atas.
"Kau tidak usah terpana, di mana tuanmu?" Tanya Casey langsung memasuki rumah tersebut.
"Sebentar kupanggilkan," kata Erina tidak mau berdebat. Dia sudah lelah menghadapi sikap Ansel yang acuh padanya karena adanya Casey.
"Ehem, tunggu sebentar! Mengapa kau tinggal di sini?" selidik Casey yang sudah lama ingin bertanya pada Ansel.
'Karena ini rumahku! Sial kau Ansel! Jangan sampai membuatku tambah kesal terus! Lihat saja apa yang akan kuperbuat pada kalian berdua!' decak Erina dalam hati mencoba sabar.
"Tuan Ansel yang menyuruhnya karena aku benar benar mengurusi semuanya," jawab Erina bermaksud juga membuat Casey sebal.
"Oh begitu? Tapi kau tidak menyukai tuanmu itu kan?" selidik Casey lagi.
Erina hanya menggeleng.
"Cepat panggilkan dia!"
Erina menarik napas dan ke kamar mereka. Erina hanya membisikan nama Casey di telinganya, Ansel langsung bangun dari tidurnya.
"Baru datang atau sejak tadi?" tanya Ansel menormalkan tubuhnya.
"Baru saja!"
"Kau diamlah di sini! Ingat Erina, sebentar lagi kita akan bersama tanpa dia!" kata Ansel yang entah sampai kapan hal ini akan terjadi. Erina malah merasa Ansel pasti akan lebih menyukai Casey ketimbang dirinya.
Erina hanya mengangguk. Ansel pun pergi menemui Casey setelah mengenakan kemejanya.
"Cih, aku sudah tidak berminat padamu! Aku bisa melakukan apapun padamu!" Decak Erina yang sudah geram dan sangat sabar pada Ansel.
Dia lalu meraih ponselnya menghubungi seseorang.
"Aku akan memberikan kode rahasia untuk membuka seluruh berita mengenai Gellarmo dan Heinze asal kau menjamin kehidupanku dan orang tuaku di Japanis, bagaimana? Aku sudah tidak ingin berurusan dengan pria pecundang seperti Ansel!" kata Erina memutuskan sesuatu yang akan benar bagi hidup dan keluarganya.
"Baguslah kalau kau sadar. Baiklah, aku akan memberitahumu di mana kau akan tinggal. Cepat kau berikan kode rahasia nya!" saut seorang gadis di seberang sana.
"oke! Aku akan mengirim sebuah pesan berbentuk kode QR agar hanya kau saja yang mengetahui. Karena Ansel tidak boleh mengetahuinya sebelum aku pergi. Kode rahasia itu hanya aku yang mengetahui. Jadi dia pasti akan mencurigaiku!" kata Erina menjelaskan.
"Baiklah aku paham! Kapan kau berencana pergi?" tanya gadis itu lagi.
"Dua hari setelah pertunangannya dengan Carolyn,"
"Oke, aku menunggu kabarmu!"
"Ya, terimakasih atas kerjasamanya,"
"Sama sama,"
Panggilan dimatikan. Erina tersenyum kecut dan menyiapkan minuman untuk mereka. Tidak lupa dia memberikan obat pencahar di dalamnya. Erina sudah kesal setengah mati. Sementara Casey dan Ansel membicarakan pembagian harta yang akan mereka dapatkan karena langkah pertama sudah berhasil membuta Carolyn setuju bertunangan dengan Ansel.
__ADS_1
...
Hari pertunangan pun berlangsung. Sejak makan malam kemarin, Carolyn tidak lagi bertemu dengan Xelino. Tidak juga menghubunginya. Xelino juga tidak menampakan diri di mansion dan juga tidak menghubunginya. Anehnya Gilbert tidak menyuruh Xelino membantu mengurusi pertunangan Carolyn.
Pertunangan di adakan di mansion Gilbert dan Jennifer sendiri. Mereka hanya mengundang keluarga dan pegawai terdekat. Namun, bagi Carolyn ada yang kurang dari semua ini.
"Kak, apa kemarin atau pagi tadi, Xelino menanyakan ku pada mu?" tanya Carolyn yang masih mempercayai kakaknya itu.
"Xelino? Tidak. Dia tampak diam saja mengerjakan pekerjaannya," jawab Casey hendak membuat Carolyn bersedih.
"Oh,"
"Ada apa?" kini Casey yang bertanya.
"Tidak ada apa apa!"
Casey tersenyum menyeringai sambil terus menata rambut adik angkatnya itu. Setelah selesai, Casey keluar dari kamar Carolyn.
"Carolyn, satu jam lagi, persiapkan dirimu!" Kata Casey mengingatkan.
Carolyn menarik napas panjang. Sepertinya dia harus melakukan sesuatu. Sampai sejauh ini pria itu benar benar tidak melakukan sesuatu. Carolyn tidak boleh begini. Sudah cukup kegagalan cintanya pada Aciel. Dia tidak mau lagi mementingkan dirinya sendiri tapi dia juga harus mencari kebahagiaannya. Dia tidak menyukai Ansel meski ada kemiripan dengan Aciel. Dia harus memberanikan diri berkata pada ayah nya. Sebelumnya Carolyn menghubungi Grizel dan menanyakan tentang Xelino.
Grizel mengatakan kalau Xelino sakit dan tidak bisa menghadiri pertunangan dirinya. Carolyn menjadi sangat yakin kalau pria itu menyukainya. Tanpa banyak berpikir dan Carolyn tidak mau menyesal untuk yang kedua kalinya. Dia harus menemui Xelino . Setidaknya dia bisa membatalkan pertunangan ini. Kalau dia tidak ada, semuanya akan berakhir. Urusan dengan ayahnya bisa nanti, tapi perasaannya hanya dia seorang yang bisa memperjuangkannya.
Carolyn pun keluar dari kamar seperti tidak terjadi apa apa. Tapi ketika melewati ruang tengah, Rietha bertanya pada Carolyn . Carolyn hanya menjawab hendak menemui temannya. Rietha sama sekali tidak curiga. Carolyn menghampiri Cole yang berjaga di depan gerbang.
"Kemarikan kunci mobilnya, aku harus menemui Xelino!" pinta Carolyn pada Cole.
"Tapi nyonya, bagaimana jika mereka mencarimu?" Cole sedikit takut.
"Benar nona!"
"Benar! Dengar, uang sekolah anakmu satu tahun di Greenville akan kulunasi tapi kau jangan beritahu kemana ku pergi, oke?" kata Carolyn menjanjikan sesuatu.
"Oh siap nona! Terimakasih nona!"
"Oke, aku pergi dulu, sampai jumpa!"
Cole membungkukan tubuhnya. Carolyn pun pergi ke apartemen Xelino. Namun, sesampainya di sana Xelino tidak membuka kan pintunya. Carolyn merasa kalau Xelino tidak ada di rumah. Dia bertanya pada resepsionis katanya Xelino pergi beberapa jam yang lalu dan belum kembali. Carolyn mencoba menghubunginya walah agak takut Xelino tidak membalasnya.
CAROLYN : Apa kau tidak datang ke acara pertunangan ku?
XELINO : tidak! Aku sakit!
"Penipu! Di mana dia!" Gumam Carolyn. Tidak butuh waktu banyak Carolyn menerka keberadaan Xelino. Dia langsung melajukan mobilnya menuju ke taman samping gereja.
"Klasik! Ternyata pria juga bisa se melankolis ini!" Decak Carolyn melihat mobil Xelino. Dia pun turun dari mobil dan tidak lupa membeli roti ikan terlebih dahulu.
"Nona, apa kau bertengkar dengan Tuan Xelino?" tanya Mona memastikan.
"Ada apa bi?"
__ADS_1
"Ya, aku hanya melihat dia keluar dari gereja dengan wajah sedih. Waktu itu dia juga bersedih, katanya sedang bertengkar dengan kekasihnya. Kau kekasihnya kan?" tanya Mona lagi dan malah membuat Carolyn tersipu.
"Ah bukan bibi, tapi biar aku menghampirinya,"
Ama Mona tersenyum dan Carolyn segera menghampiri Xelino. Dia benar benar ada di sana sedang tertidur di bawah pohon. Carolyn tidak berkata kata dan langsung menghampirinya lalu memegang dahinya. Xelino sontak membuka matanya.
"Carolyn? Kau? Mengapa kau di sini? Dan kau? Cantik sekali, apa aku bermimpi?" kata Xelino semakin melebarkan matanya dan menegakan tubuhnya.
Pak!
Carolyn menampar pipi Xelino.
"Aduh! Kau! Kau siluman harimau!" Xelino malah histeris.
"XELINOOOO!!!! Kau jahat sekali!" pekik Carolyn pada akhirnya.
"Nona? Kenapa kau di sini? Kau seharusnya di bertunangan dengan Ansel keparat itu kan?" selidik Xelino.
"Keparat?"
"Maksudku terhormat!"
Carolyn menarik napas dan duduk di kursi samping pohon rindang itu. Xelino pun mengikutinya. Waktu sudah menunjukan satu jam dan acara pertunangan itu sudah dimulai. Tak lama Gilbert dan James menghubunginya. Xelino hendak mengangkat tapi Carolyn menahannya.
"Mereka pasti mencariku," kata Carolyn memegang pergelangan tangan Xelino.
"Tentu nona! Yasudah, biar aku yang mengantarmu! Kau jangan begini nona!" saut Xelino hendak beranjak.
"Nona nona nona! Kau lupa kau dan aku sekarang siapa?" decak Carolyn tidak suka ada sebuah jarak antara mereka.
"Oh iya sahabat! Oleh sebab itu Carolyn, sebagai sahabat yang baik harus saling mengingatkan. Untuk apa kau di sini menemuiku?" tanya Xelino sedikit frustasi.
"Xelino, aku mau di sini, aku mau bersamamu. Aku, aku tidak menyukai Ansel. Kumohon jangan mengusir atau mengantarku kembali ke Mansion, aku, aku mau bersamamu!" rengek Carolyn mengalungkan tangannya pada lengan Xelino.
"Carolyn, bisa kau mendengarku?"
"Apa?"
"Keluargamu dan keluargaku berbeda. Keluargamu menginginkan yang terbaik bagimu. Ansel dari keluarga terpandang dan terhormat sepertimu sementara aku? Aku hanya anak desa yang tinggal bersama kakek dan nenekku. Mengertilah. Kau dan aku tidak bisa bersama. Kalau pun bisa itu akan membutuhkan waktu yang lama. Aku harus menjadi sama sepertimu!" kata Xelino memberi pengertian.
"Xelino! Apa kau menyukaiku? Mengapa kau mengatakan seperti itu?" tanya Carolyn yang bingung dengan ucapan Xelino.
"Percuma kalau pun aku menyukaimu, kita tidak bisa bersama Carolyn jadi aku terus berusaha mengikis perasaan itu. Maafkan aku," kata Xelino memandang taman bunga di sana.
Carolyn tidak peduli apa yang dikatakan Xelino. Carolyn tidak mau kemana mana dan melangsungkan pertunangan itu. Dia ingin bersama Xelino. Carolyn pun memaksa Xelino menghadapnya dan Carolyn memeluk Xelino. Dia menyandarkan kepalanya pada dada Xelino.
"Aku mau bersamamu! Aku tidak peduli kau mendorongku, menarikku, aku akan tetap bersamamu! Aku mau denganmu! Tolong Xelino, jangan menolak ku! Aku menginginkanmu!" Kata Carolyn sambil menangis. Dia tidak bisa menahan kesedihan atas perkataan Xelino. Xelino tidak menyangka kalau Carolyn lebih dulu memeluknya. Kini Xelino sudah semakin yakin kalau Carolyn memang menyukainya. Dia pun akhirnya memeluk wanita itu dengan sangat erat.
...
baiklah next part 46
__ADS_1
Jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
Thanks for read and i love you 💕