
Lexa berdiri mendengar penuturan ayahnya. Dia benar benar terheran dengan sikap awal ayahnya.
"Dad, apa maksudmu menantu? Apa sebaiknya kau menjelaskan dulu kau sudah berpisah dengan Lexa?" Pekik Jerry yang juga terheran dengan penuturan ayah angkatnya itu.
"Ya, ini memang terlalu cepat. Baiklah Lexa, aku minta maaf karna selama ini aku menghilang dari kehidupanmu dan ibumu." Kata Alexis memulai pembicaraan.
"Duduklah Lexa. Aku akan menyuruh Jim membuatkan minum, kau ingin minum apa?" Jerry memberikan kursi pada Lexa agar duduk di depan ayahnya.
"Ada apa dengan mu pap? Mengapa kau pergi lama sekali?" Tanya Lexa setelah Jerry keluar dari perpustakaan.
"Aku benar benar tidak berencana melakukannya. Semua jauh di luar kuasa ku. Aku tipu nak. Mungkin Jerry sudah menceritakannya padamu." Alexis menatap lekat lekat anak satu satunya itu. Dan Alexis mulai menceritakan sejak ia pergi dari Honolulu sampai saat ini.
Dia menceritakan kalau Jerry sangat berjasa baginya. Jerry benar benar menganggapnya sebagai seorang ayah. Jerry tidak memiliki orang tua jadi dia mengangkat Alexis menjadi ayahnya. Dia juga menceritakan kalau selama ini Jerry merawatnya dengan penuh kasih sayang. Dia selalu panik jika dirinya kehabisan darah dan tidak menemukannya di mana mana. Rasa rasanya Jerry yang memerlukan semua itu ketimbang untuk orang lain. Jerry menyayangi Alexis seperti dirinya sendiri karna sikap dan prilaku dia seperti ayahnya yang sudah meninggal. Alexis menggunakan nama keluarga Atkinson karna ingin menghormati mendiang ayah Jerry. Suatu kehormatan dirinya yang terbuang dan ditipu diangkat oleh anak orang kaya baik seperti Jerry.
Lexa mendengarkan semua cerita Alexis yang mengarah ke Jerry. Lexa merasa sangat bergutang budi dengan Jerry yang begitu baii merawat ayahnya. Lexa memang merasa tidak pernah membenci ayahnya meskipun pergi tanpa kabar karna ibunya selalu mengatakan kalau ayahnya bekerja. Ibunya selalu memuji muji ayahnya. Betapa baik dan bertanggung jawabnya ayahnya terhadap ibunya. Lexa sungguh senang kalau pada akhirnya dia bisa bertemu dengan ayahnya yang walaupun sakit namun dia masih memiliki kesempatan untuk setidaknya merawatnya.
"Aku sudah mencarimu, nak! Aku sudah kembali ke Honolulu dan menemui rumah kita dulu. Namun, mereka mengatakan kau sudah diasuh oleh seorang suster. Dan, ibumu sudah meninggal. Aku seperti tak bernyawa lagi. Aku ingin mati saja saat itu. Tapi, Jerry lagi lagi menguatkanku. Dia mengatakan kalau aku masih memilikimu sebagai pengganti ibumu. Dia berjanji dia akan membantu diriku untuk menemukanmu dan berjanji akan selalu menemaniku. Jerry benar benar anak yang baik." Sambung Alexis.
"Mengapa kau tidak mencariku?" Lexa menundukan kepalanya bertanya pada ayahnya dan dia sudah menangis mendengar semua perjuangan ayahnya kehilangan ibu dan dirinya.
"Aku sudah mencarimu ke panti asuhan itu tapi suster yang merawatmu selalu pergi ke luar kota untuk penggalangan dana. Ada beberapa orang di sana yang masih mengenalmu tapi mereka hanya mengatakan kau merantau. Hanya itu! Dan, ketika aku bertanya orang yang memberikanku darah, Jerry mengatakan namamu, aku jadi mengingat dan membuka kembali buku harian kecil yang sudah lama ku simpan. Aku tak sanggup menerima kenyataan kalau darah dagingku juga sudah pergi meninggalkanku. Tapi, ternyata Jerry lah yang mempertemukan kita." Alexis sedikit mendekati Lexa dan memegang tangan Lexa.
"Lexa, percayalah padaku, Jerry adalah pria yang baik. Kalau tidak, mana mungkin dia membawaku dan merawatku. Menjadikanku pengganti ayahnya dan merelakan semua waktunya untukku. Sebenarnya, sudah berkali kali dia memiliki teman wanita namun pada akhirnya dia tidak melanjutkannya. Katanya, mereka tidak seperti ibunya. Ibunya yang baik hati, rendah diri dan sangat dermawan. Namun, ketika aku melihat dia menyelematkanmu ketika di Plaza, matanya berbinar binar. Dia agak sedih karna kau bersama pria lain."
Deg! Jantung Lexa meronta ketika ayahnya menyebut Leon dengan sebutan pria lain. Pria lain itu yang mengajaknya ke tebing sehingga dia bisa bertemu dengan ayahnya. Bukannya Jerry! Pikirnya. Namun, Lexa mencoba tenang. Dia sedang menghadapi seorang ayah yang sudah sangat ia dambakan dan nantikan. Ayahnya yang kini sakit karna memikirkan anak dan istrinya.
"Jerry menyukaimu nak. Sebelum aku melihatmu di Plaza, sepulangnya dia ke pernikahan majikanmu, dia bercerita kalau dia habis bertemu dengan seorang wanita yang hatinya seperti ibunya. Dia menceritakanmu Lexa. Dia menggambarkan dirimu sebagai wanita yang cantik sederhana. Wanita yang kuat dan apa adanya. Dia juga menceritakan betapa sensitifnya dirimu jika berdekatan dengannya, namun lagi lagi dia mengatakan kau lebih senang berdekatan dengan temanmu yang lainnya. Aku tidak terlalu menanggapinya karna aku merasa ini hanya sebuah persaingan cinta. Alexa, memang sudah lama aku bersumpah pada diriku, jika aku bertemu dengan anak perempuanku, denganmu, aku akan mendekatkan dirimu dengan Jerry. Kau pasti tak keberatan kan karna Jerry yang juga tampan. Nak, aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Jerry pria baik, dia pasti dapat melindungimu, dapat menjagamu, dan yang sangat kutakutkan. Kurasa, hanya Jerry yang dapat menjadi pengganti hidupku di hatimu. Dia dapat menjadi segalanya untukmu. Kumohon Alexa, terimalah Jerry sebagai pendamping hidupmu." Alexis sudah meneteskan air matanya.
Dalam lubuk hatinya dia pun tidak mau menentukan jodoh anaknya, namun dia sudah melihat semua kebaikan Jerry yang diberikan untuknya. Dia bukan siapa siapa Jerry, dia bukan pamannya, dia bukan pengasuh masa kecil jerry, dia bukan saudara sepupu ayahnya, bahkan dia bukan teman atau kenalan ayahnya, namun Jerry menganggapnya lebih dari itu semua. Jadi, Alexis menyimpulkan pasti Jerry juga dapat menjadi yang terbaik untuk anak semata wayangnya.
Lexa menatap wajah ayahnya yang menangis pilu melihat dirinya. Sudah lama sekali dia tidak merasakan tangis seorang ayah untuknya.
"Alexa, umurku sudah tidak lama lagi. Aku pun tak sanggup meninggalkanmu, aku masih mau berjalan jalan denganmu, menggantikan semua waktu kita bersama yang sudah menghilang. Penyakitku akan terus menyerang ragaku. Aku tidak mau membuat kesalahan di sisa hidupku untukmu. Percayalah, ini bukan sebuah pemaksaan, aku tidak memaksa tapi cobalah pikirkan orang orang yang harus bersamamu yang dapat melindungimu sampai akhir hayat kita. Aku tidak mau kau sendiri lagi. Aku tidak mau. Maafkan aku, nak!!" Alexis menangis.
Lexa sudah tidak kuat lagi melihat kesedihan ayahnya. Dia lalu memeluk ayahnya. Dia menangis bertengger di pundak ayahnya. Dia selalu merindukan perasaan ini. Dia memiliki keluarga. Dia tidak sendirian selain Leon yang sudah mengisi hatinya. Dia tak sanggup berkata kata lagi. Dia merasa harus mencerna terlebih dulu kemauan ayahhnya.
Sementara di balik pintu perpustakaan. Di luar ruangan itu, Jerry berdiri mendengar semua penuturan Alexis. Dia juga menangis. Alexis sungguh mengharagai pengorbanannya. Namun, dia pun tidak mau memiliki wanita yang bahkan tidak mencintainya. Meskipun dia akui, dia pun sudah menyukai dan mencintai Lexa. Lexa seorang wanita yang berbeda. Meskipun dia asisten, dia menunjukan keloyalitasannya dan hormatnya kepada atasannya tanpa mengurangi rasa percaya dirinya. Dia tetap percaya diri namun juga sangat baik hati. Jerry harus membicarakan semua keputusan ayah angkatnya itu demi kebaikan semua dan terutama demi kebahagiaan Lexa. Dia juga harus memberikan pengertian yang sesungguhnya bagi Lexa agar tidak terjadi kesalah pahaman dengan pria yang sesungguhnya ia cintai.
...
Setelah perbincangan panjang Lexa dengan ayahnya, mereka akhirnya makan bersama. Lexa melihat ponselnya sesekali. Dia mengingat Leon. Namun Leon tidak menghubunginya sama sekali. Dia sangat kesal. Akhirnya Lexa juga ikut sedikit melupakan pria yang sudah merebut hatinya. Lexa benar benar tidak mau menghubungi Leon terlebih dulu.
Jerry tidak lagi kembali ke kantor, dia ingin meluruskan masalah ayah angkatnya dan Lexa. Ketika semua sudah makan bersama, Lexa mengantar Alexis untuk beristirahat karna wajahnya memucat.
"Pap, beristirahatlah, besok aku akan mengantarmu memeriksakan kondisimu!" Kata Lexa duduk di samping tempat tidur Alexis dengan kursi dan menepuk punggung tangan ayahnya.
"Temani dulu aku di sini, nak. Aku masih ingin melihat wajahmu. Kau mirip sekali ibumu dulu ketika aku meninggalkannya." Tutur Lexa juga mengingat wajah ibunya yang sangat cantik.
"Ya Pap, tidurlah. Aku akan di sini!" Balas Lexa tersenyum.
Ayahnya terus memandangi Lexa yang menceritakan kisahnya selama bekerja bersama Viena sampai dia tertidur. Lexa tersenyum melihat wajah ayahnya yang sudah agak keriput namun tetap tenang. Ayahnya sudah lega bertemu dengan anaknya itu. Lexa lalu menyelimuti ayahnya dan beranjak dari kamar itu. Dia keluar dari kamar dan menemukan Jerry di sisi penyangga lantai atas.
"Tuan Jerry, papiku sudah tertidur." Kata Lexa membuat Jerry membalikan tubuhnya. Pria itu tersenyum.
"Terimakasih Lexa sudah menemaninya seharian ini. Eng, bisa kita bicara?" Ajak Jerry.
"Tentu Tuan."
"Mari kita ke taman belakang?" Jerry mempersilahkan dan mereka menuju balkon mansion rumah Jerry.
Jarry dan Lexa duduk di sebuah ayunan di taman belakang rumah itu. Suasana malam dengan bintang di langit menambah kedekatan mereka berdua walaupun hati Lexa masih gundah memikirkan Leon. Leon belum juga menghubunginya. Sebelumnya memang Lexa merasa selalu bertemu dengan Jerry dan mereka sempat bercakap dan bersenda gurau jadi Lexa tidak terlalu canggung dengan pria yang sekarang sedang menatapnya.
"Lexa?" Panggil Jerry.
"Ya Tuan?" Jawab Lexa masih terus memandang langit malam.
"Eng, sebelumnya aku minta maaf karna aku mendengar percakapanmu dan dad siang tadi. Aku hanya khawatir dengan perkataan dad yang mungkin akan menyakitimu dan benar dugaanku. Dia menceritakan diriku dengan begitu berlebihan bagiku." Jerry mulai menjelaskan maksud hatinya. Lexa lalu menoleh. Lexa menemukan guratan kesedihan dalam wajah Jerry.
__ADS_1
"Tidak apa Tuan, kau jangan seperti ini. Tidak ada hatiku yang merasa tersakiti. Malahan aku yang sangat berterimakasih padamu karna sudah menjaga dan merawat papiku seperti ayahmu sendiri. Terimakasih Tuan dan maaf kalau papiku menyusahkanmu. Mulai sekarang aku akan selalu ke sini dan merawatnya." Kata Lexa tersenyum sangat manis. Jerry tersipu melihat wajah Lexa yang begitu lembut.
"Tidak usah sungkan. Aku benar benar sudah menyayanginya. Dia benar benar seperti orang yang melahirkanku. Eng, Lexa? Tentang perjodohan yang beliau katakan.." Jerry tidak melanjutkan menunggu respon wajah Lexa yang langsung tersentak dan menundukan kepalanya.
"Kau tidak usah memikirkannya Lexa. Aku juga keberatan. Aku akan berbicara dengannya. Kau tenang saja ya?" Jerry memberanikan diri memegang punggung Lexa.
"Sangat wajar Tuan." Kata Lexa yang membuat Jerry kini tersentak.
"Papiku hanya ingin yang terbaik bagiku. Dia sudah menua, dia hanya takut dia meninggalkanku dengan diriku yang akan kembali menjadi sebatang kara. Dia tidak sanggup. Dia menemukan seorang pria yang menurutnya baik untuknya dan juga untukku. Aku seharusnya memikirkan maksud positifnya bukan egois dengan perasaan ku yang tidak jelas ini. Perasaan ku yang terkadang mengalah untuk pria yang kucintai itu, namun sampai sekarang belum ada status dan pengharagaan. Terkadang aku sangat sangat membutuhkannya, namun dia tidak ada. Ketika aku sendiri, dia malah datang membawa cinta, perhatian yang membuatku hanyut. Tapi ketika kita bersama, perasaan itu hanya melekat sesaat. Entah dari diriku atau dirinya. Kalau kita menjauh kita seperti maghnet yang harus bersatu, namun ketika kita berdekatan kita seperti maghnet yang diterbalikan. Aku pun menjadi tak mengerti Tuan. Apakah Leon benar mencintaiku atau tidak." Lexa mengucek matanya karna dia hendak menangis.
Jerry merasakan kegundahan Lexa. Dia tahu kalau wanita yang ia sukai ini begitu mencintai Leon. Jerry menarik napas panjang. Dia menarik tangannya dari punggung Lexa lalu menggabungkannya dengan tangan lainnya dan membungkukan sedikit tubuhnya menatap ke depan.
"Lexa, terkadang pria mempunyai caranya masing masing menyatakan cintanya. Tidak harus dengan perkataan, namun dengan perbuatan. Pernahkah kau merasa Leon memberikan semua waktunya untukmu, memberikan semua kecemasannya untukmu dan prilakunya yang seakan akan kau tidak boleh kemana mana?" Tanya Jerry lalu menoleh ke arah Lexa.
"Dia selalu seperti itu! Dia itu tidak jelas Tuan! Sebentar baik dan sebentar menjengkelkan! Dia memberikan waktunya karna tidak ada kerjaan, dia selalu mengangguku!" Dengus Lexa menekuk wajahnya.
"Dia mencintaimu Lexa! Tapi dia tidak tahu cara mengatakannya. Tunggulah dulu beberapa saat, dia akan membuatmu menjadi kekasihnya. Percaya padaku." Jerry memberi tahu dengan tersenyum.
"Tidak bisa diharapkan! Jangan bicarakan dia Tuan, kau juga jangan memujinya, dia akan besar kepala dan menggodaku jika mendengar kata kata bijakmu untuk membelanya!" Lexa kembali berdecih.
"Haha, kau lucu sekali Lexa, pantas saja Leon sangat menjagamu!" Jerry terkekeh.
"Menjaga apa?! Dia selalu mempermainkanku! Sekarang saja dia belum menghubungiku, cinta apa? Kurasa hatinya itu terbuat dari batu karang yang tidak tahu kode kode yang sudah kuberikan. Dia tetap berdiri diatas keegoannya itu. Aku juga bisa mendiaminya, lihat saja!" Decak Lexa mengingat dirinya rindu akan Leon yang belum menghubunginya namun dia teramant kesal.
"Yasudah kita tidak membahas lagi. Pokoknya aku akan mencoba berbicara pada dad tentang perjodohan kita. Kau jangan khawatir. Kita bisa menjadi teman kan?" Kata Jerry kemudian.
"Biarkan saja dulu Tuan. Kau jangan menentang keinginannya. Dia baru saja bertemu denganku. Banyak harapan yang dia inginkan tentangku, anak semata wayangnya. Kau tenang saja, aku tidak terlalu khawatir." Lexa tersenyum.
"Wah, berarti aku punya kesempatan untuk mendekatimu dong?" Jerry terkekeh
"Haha! Kau bisa saja Tuan, aku tidak sebanding denganmu Tuan!" Lexa tertawa tipis.
"Kenapa tidak? Kalau aku benar menyukaimu bagaimana?" Jerry sedikit menggoda dengan menebar senyum termanisnya. Lexa malah memasang wajah bingung nan polosnya.
"Tidak usah dipikirkan, haha!" Jerry menyadari kecanggungan Lexa dan melambaikan tangannya ke wajah Lexa.
"Aku hanya memiliki flat Tuan!" Lexa masih duduk di sana.
"Bisakah kau memanggilku Jerry saja? Sepertinya kemarin kau sudah berjanji!" Jerry mengingatkan dengan sangat lembut.
"Belum terbiasa Tuan!"
"Biasakanlah, coba?" Suruh Jerry tersenyum.
"Baiklah Jerry." Lexa akhirnya mendongakan kepalanya.
"Kau sangat menggemaskan Lexa!" Puji Jerry tersenyum.
Lexa menunduk tersipu.
"Ayo kuantar!
"Eng tapi, besok aku mau menemani papi ke rumah sakit, Jerry." Kata Lexa meminta.
"Ya, besok aku akan menjemputmu jam 7 pagi karna pemeriksaan jam 9, daddy juga pasti senang kau menemaninya. Tapi, apa kau tidak bekerja?" Tanya Jerry memastikan.
"Aku bisa ijin dengan Nyonya Viena."
"Oh, baiklah kalau begitu."
Jerry mengantar Lexa pulang dan besoknya Jerry kembali menjemput Lexa sudah bersama Alexis.
...
Sementara itu, Leon masih dalam perjalanan menjemput Lexa. Dia agak sedikit terlambat karna kemarin seharian dia pergi bersama Ben dan pulang larut. Sesampainya di depan flat Lexa, dia kesal sendiri karna dia merasa Lexa sudah berangkat. Lexa memang sudah pergi bersama Jerry pagi pagi sekali.
"Argh, aku terlambat! Memang ya, kelinci itu cepat sekali!! Apa dia sengaja melakukannya?" Sungut Leon dan meraih ponselnya. Dia menghubungi Lexa namun ponsel Lexa tak aktif.
__ADS_1
"Apa dia sangat marah padaku ya? Aku ke kantornya saja, siapa tahu sudah sampai, aku masih memiliki waktu sampai siang ini mengantar Tuan Jeremy ke Summer." Gumam Leon dan menuju ke mobilnya.
Dia segere ke kantor Lexa. Dion dan Viena belum masuk kerja dan sangat tidak masalah bagi mereka jika tidak ke kantor selamanya karna mereka pemilik. Sesampainya di kantor iklan Lexa dia segera ke atas ruangan.
"Leon, kenapa kau kemari? Mana Lexa?" Tanya Abby yang melihat Leon memasuki kawasan meja meja pegawai. Leon mendelik. Dia ke sini untuk mencari Lexa, mengapa Abby malah menanyainya.
"Aku mencari Lexa, di mana dia?" Balas Leon dengan wajah yang menegang.
"Lexa akan datang terlambat, dia ada urusan penting! Nyonya Viena yang mengatakan padaku. Ada apa denganmu dan dia? Jangan bilang kalian bertengkar lagi!" Lucy yang mengetahui Leon datang langsung menghampirinya.
"Urusan penting apa? Mengapa dia tidak memberitahuku?"
"Memang kau siapa nya? Kau ini sudah menjadi kekasihnya atau belum? Hati hati Leon, sudah beberapa hari ini Tuan Jerry terus mencarinya. Kau tahu Tuan Jerry kan? Pemilik Hotel Atkinson. Ketika kalian ke Springfield, sudah sekitar tiga kali pria tampan itu mencari Lexa, aaahh mungkin saja sekarang Lexa sedang bersamanya.." kata Lucy melipat tangannya di depan dadanya.
"Lucy! Bicara apa kau?! Memang Lexa mengatakan padamu kalau dia bersama Tuan Jerry? Leon, tidak usah mendengarkannya. Sebentar lagi Lexa pasti datang. Mungkin dia terkena traffic jam di jalan. Ayo kau tunggu saja dulu di ruangannya!" Sela Abby yang mengerti tabiat Leon yang sangat pencemburu. Dan lagi pula dia tahu apa yang sedang dikerjakan Leon dan Ben untuk Lexa.
Leon yang mendengar kata kata Lucy sedikit meringis. Dia jadi memikirkannya. Mungkin saja yang dikatakan wanita itu benar. Abby lalu menggiring Leon ke ruangan Lexa.
"Lucy, awas kau berceloteh terus!!!" Decak Abby pelan pada Lucy.
"Biar saja, siapa suruh memainkan perasaan temanku yang polos itu! Playboy!!" Umpat Lucy dan kembali ke meja kerja.
Akhirnya Leon menunggu Lexa sampai pukul 10 tidak ada juga kehadiran Lexa. Leon sangat sangat kesal. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Hotel karna harus menemani Jeremy ke Summer bersama Ben.
"Abby aku pergi saja! Bilang saja aku ingin menemuinya, aku tidak bisa menghubungi ponselnya!" Ijin Leon langsung menuju ke parkir bawah.
"Kelinci sial! Dimmana sih dia? Mana mungkin dia bersama Tuan Jerry?! Awas saja kalau ketemu!!" Decak Leon menyusuri basement parkir.
Dan ketika dia hendak berbelok menuju mobilnya, dia menoleh sesaat karna mengenal sosok yang mungkin akan berpapasan dengannya. Lexa dan Jerry baru saja tiba dari rumah sakit.
Leon tidak jadi berbelok karna mereka pun akhirnya berpapasan. Jerry tersenyum lada Leon yang wajahnya sudah teramat kesal karna menunggu Lexa. Sementara Lexa menatap Leon sedikit sendu namun tersirat kekecewaan.
"Hay Leon, selamat pagi! Maaf, aku bersama Lexa, aku -- " sapa Jerry, namun ..
"Tidak usah dijelaskan Tuan, maksudku Jerry. Tidak usah dijelaskan Jerry, dia pun tidak akan peduli dengan alasan yang akan kau berikan! Terimakasih sudah mengantarku. Nanti setelah pulang kantor, aku langsung saja ke rumahmu. Permisi!" Saut Lexa memotong ucapan Jerry yang hendak menjelaskan ke Leon. Dia lalu melewati Leon dengan menyenggol sisi bahunya membuat Leon menatapnya antara kesal dan sangat terbakar api cemburu karna mendengar Lexa akan ke rumah Jerry.
Sementara Jerry masih di sana merasa tak enak dengan Leon yang kini menatapnya secara pria.
"Ya Leon, sepertinya memang dia yang harus menjelaskan. Temui lah!" Kata Jerry lagi tersenyum hangat pada Leon.
...
...
...
...
Oh may Goodness .. don't be sad Leon, i am with you 😭😭😭😭😭😭😭😭
.
next part 72
apakah Lexa akan menyetujui perjodohan itu?
apa yang sebenarnya dilakukan Leon, Ben dan Abby? apa ini semua untuk Lexa?
buruan Leon kebuuuttt!!! klamaan dipatok uler laen lho 😝😝
.
jangan lupa like like komen komen smakin banyak like dan komen semakin baper akunya jdinya mood nulis haha 😁😁
.
selamat membaca n i lophh youu 💕
__ADS_1