Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 18


__ADS_3

Lexa berdiri di depan meja rias. Memperhatikan tubuhnya yang tidak terlalu berisi tapi juga tidak terlalu kurus. Seimbang, pikirnya. Rambutnya dibuat terkuncir ekor kuda. Dia siap datang ke pesta perayaan suksesnya iklan yang team nya buat. Iklan produk minuman milik Tuan Revo. Nyonya nya tidak bisa menolak permintaan langsung dari si empunya perusahaan.


Pesta dilaksanakan di sebuah restoran yang terdapat di lobby hotel Prime. Lexa berpikir mungkin dia akan bertemu dengan Leon. Sudah beberapa hari ini Leon tidak menjemput Lexa karna banyak meeting saham yang harus dia hadiri bersama tuannya. Leon dan Lexa hanya berkirim pesan dan sesekali Leon meneleponnya.


"Ya, kurasa ini cukup, siapa yang tahu akan bertemu musang itu atau tidak," gumam Lexa. Lexa mengenakan blouse hitam dan celana jeans biru tua. Dia akan memadukan dengan cardigan putih panjang dan lagi lagi wedges boot nya.


Lexa segera memesan mobil online karna menunggu bus akan membuang waktu. Ini adalah kali kedua dia mendatangi Hotel Prime. Ternyata ketika malam menjadi lebih megah dan cantik dengan lampu lampu kamar yang menyala dan lampu taman yang meriah.


Lexa sedikit tersenyum mengingat pertemuannya dengan Leon. Dan, sekarang mereka juga semakin lebih dekat. Belum ada tanda tanda Solane mengganggunya lagi. Namun, Leon menyarankan untuk tetap berjaga jaga karna Solane bukan wanita biasa.


Lexa memasuki lobby dan benar saja. Leon sudah bertandang di tempat resepsionis menggoda para teman temannya. Lexa yang melihatnya sedikit cemburu namun dia tahu itulah sifat lelaki yang sedang mendekatinya itu. Suka bergurau terhadapa wanita, apalagi wanita yang kagum padanya.


"Hem, permainan lama menggoda wanita wanita yang tak tahu jati dirinya, dasar musang!" Decak Lexa melewati Leon yang sedang menunduk menggoda teman resepsionisnya. Leon mendongak dan sedikit tercengang dengan penampilan Lexa yang mengenakan cardigan, karna biasanya Lexa mengenakan coat atau jaket kulit. Wanita itu tampak lebih feminim.


"Elsa, kau lihat gadis tadi? Dia cantik kan?" Leon menyenggol bahu teman resepsionisnya itu.


"Sudah sana! Tadi kau menggodaku, sekarang kau mau sandingkan aku dengan dia asisten pacanya bos, sudah sana! Aku benci padamu!" Decak Elsa yang mengetahui sosok Lexa dari beberapa karyawan.


"Aku akan mentraktirmu minum besok, sayang, byee .." Leon mencolek dagu Elsa dan mengejar Lexa.


"Lexa, akhirnya kau datang juga, aku merindukanmu!!" Leon telah menyusul Lexa dan langsung memeluk Lexa dari samping.


"Lepaskan! Kau tak lihat ini tempat umum!" Lexa menarik diri dari Leon. Leon langsung berdiri dengan tegap dan tersenyum.


"Kau ini kenapa? Senyam senyum, seperti mendapat lotre," decak Lexa di depan restoran.


"Kau cantik sekali, aku tahu karna kau akan bertemu denganku kan?" Ucap Leon menggoda.


"Cih, malam ini akan ada pesta besar, jadi aku harus berpenampilan menarik supaya semua mata pria tertuju padaku," Lexa kembali menggoda.


"Bukannya kau menyukai wanita?" Leon berbalik mengejek.


"Sudah ketahuan, aku tahu kau bersekongkol pada si bodoh Mike kan? Sudahlah, aku masih banyak urusan," Lexa kembali berjalan dan diikuti oleh Leon.


Lexa memasuki restoran yang masih sedikit karyawan Revo dan teman temannya. Semua restoran sudah di pesan oleh Revo. Lexa hanya memastikan semuanya sudah pas untu pesta malam ini, karna Viena yang menyuruhnya menjadi perwakilan atas pesta malam ini. Biar bagaimana pun juga menyangkut nama perusahaannya.


Pesta dimulai dengan kehadiran seluruh undangan. Leon masih saja menemani Lexa sampai Lexa harus menemani tuannya. Leon beranjak pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia harus memberi laporan pada tuannya kalau restoran lobby sedang di sewa dan acara telah berlangsung. Dia juga harus bergegas menyelesaikan pekerjaan agar bisa mengantar Lexa pulang.


...


Leon telah menyelesaikan semua berkas administrasi kegiatan hotel untuk ditanda tangani besok oleh Dion. Dia bergegas kembali ke restoran lobby untuk pulang bersama Lexa.

__ADS_1


Leon berjalan dengan sedikit tenang dan terus tersenyum karna sudah beberapa hari tidak bertemu Lexa. Dia berencana akan mengajak Lexa berjalan jalan malam di pinggir pantai pesiar. Dia terus berjalan sampai telinganya harus mendengar hal yang tidak mengenakan hatinya.


"Di club hotel ada wanita yang mabuk parah dan digoda oleh beberapa pria,"


"Yang benar kau!"


"Benar, wanita itu menolak tapi pria pria itu terus menganggunya,"


Leon mendengar beberapa orang yang berceloteh di dekat club. Kebetulan Leon melewati club tersebut. Dia sedikit menoleh melihat kejadian yang sebenarnya. Matanya membelalak karna wanita itu adalah Solane.


Solane tampak mengenakan pakaian yang mempertontonkan belahan buah dadanya dan lagi lagi tanpa lengan. Dia hendak melepaskan diri dari dua orang pria yang menggerayanginya, namun sulit karna dia sedang mabuk. Dia terus merajuk memohon untuk ditinggalkan sendiri namun tampaknya para pria hidung belang itu sudah gelap mata.


Tanpa pikir panjang, Leon menghampiri mereka. Dia menarik tangan Solane dengan sangat kencang sehingga terbebaslah Solane dari pria pria itu.


"Siapa kau? Jangan ikut campur! Kau bisa mencari wanita lain disana, tapi jangan dia!" Hardik salah satu pria. Solane sudah memeluk Leon ketakuta. Dia bersembunyi pada dada Leon yang bidang. Leon pun sudah memeluknya agar Solane sedikit tenang.


"Apa kalian tidak dengar kalau wanita ini tidak mau bersama kalian, biarkan dia pergi!" Leon memapah Solane menjauh namun pria pria itu tidak membiarkan Leon begitu saja.


Salah satu pria merasa geram, meraih bahu Leon dan hendak meninjunya. Leon tidak diam saja, dengan segera Leon meraih tangan yang menyentuh bahunya dan balik meninjunya sampai pria tersebut tersungkur ke lantai. Pria satunya membantu temannya namun mereka sudah terlalu takut karna tatapan Leon yang sangat tajam dan mematikan.


"Tuan Leon, kau baik baik saja?" Seorang kepala pelayan di club tersebut menghampiri ribut ribut dan melihat atasannya disana.


"Hey, kalian jangan membuat perkara dengan tuan ini, dia tuan Leon asisten pemilik hotel ini, kalian sudah gila ya?!" Pelayan tersebut menoleh ke arah pria pria yang telah telak dikalahkan Leon dan memarahinya.


"Urus mereka! Kau tahu kan club ini resmi dan tidak menerima para pecundang seperti mereka! Kalau besok masih kutahu ada yang seperti ini, tanpa persetujuan bos pun, kau? Kupecat!!" Ucap Leon tegas dan sangat tajam. Semua yang melihatnya pun ketakutan melihat ketegasan Leon bak atasannya.


Solane sudah sangat lunglai dan bau alkohol di sekujur tubuhnya. Leon tampak kasihan melihat keadaan Solane saat ini. Mungkin ini karna gertakan dirinya waktu itu juga Solane tampak depresi seperti ini. Leon memutuskan mengantarkan Solane ke kamarnya. Dia bertanya pada Elsa kamar yang sering di pesan Solane, karna sering mendengar Solane suka menginap di hotel tempatnya bekerja.


"Leon, aku memikirkanmu, mengapa kau tidak mau sekedar berteman saja denganku?! Aku minta maaf, Leon .. " Solane meracau pelan ditengah kelinglungannya akibat alkohol.


Leon terus memapah Solane ke lantai atas lewat lift belakang hotel dekat toilet belakang.


"Kau ini!! Aku akan mengantarmu ke kamar setelah itu baru kita bicara..ayo cepat!" Leon memapahnya dengan merangkul Solane layaknya pasangan kekasih karna Solane masih kuat berjalan. Dan, Leon tidak mau menjadi pusat perhatian karna menggendong wanita yang bukan kekasihnya.


"Leon? Sedang apa kau bersama wanita ini?!" Sapa Abby yang keluar dari toilet dan terkejut melihat Leon sedang memapah Solane yang mana Solane pun memeluk Leon agar tidak terjatuh.


"Abby, kau menyapa si - a - pa .. ??" Lexa yang menyusul Abby keluar menyaksikan semuanya. Jantung Lexa berdetak sangat kencang. Hatinya sedikit perih dan rasa cemburu yang mengerubungi dirinya.


"Ah, maaf, kami hendak pulang dan ke toilet sini, ayo Abby!" Lexa salah tingkah melihat Leon bersama Solane yang begitu mesra langsung menarik lengan Abby untuk segera pergi.


"Tapi, Lexa itu Leon, kau dan Leon kan, wanita itu siapa?!" Kata Abby yang masih bingung. Lexa terus menarik Abby dengan hatinya yang tiba tiba membeku. Air matanya tak sengaja menetes, apa maksud dari semua perlakuan Leon dan perkataannya yang terakhir.

__ADS_1


Leon yang terkejut melihat Lexa dan menyaksikan mimiknya yang cukup kecewa malah melepas rangkulannya pada Solane membuat Solane tak berdaya dan terjatuh.


"Lexa tunggu! Ahhh, sial!! Kau lagi kau lagi Solaneeee!!!!" Decak Leon kesal. Dia menjadi serba salah. Akhirnya dia memutuskan untuk mengantar Solane terlebih dulu ke kamar lalu mendatangi Lexa.


...


Waktu telah menunjukan pukul 23.30, Lexa dan Abby masih dipinggir putaran kolam air pancur pusat kota Legacy yang ada di tengah kota (kayak bunderan HI lho :)). Lexa masih dalam kekalutan perasaannya dan Lexa selalu mengajak Abby atau Lucy ke putaran kolam ini jika dirinya merindukan ibunya. Atau Lexa akan datang sendiri kemari jika rasa rindu akan orang terkasihnya dan membuatnya sedih. Lexa lagi lagi menghapus air matanya. Dia tidak mau menangis tersedu hanya karna seorang pria yang belum tau statusnya dengan dirinya.


"Jadi, kau sudah menyukainya hah Lexa?" Tanya Abby pelan sambil melempar batu krikil ke kolam.


"Entahlah, aku bingung," jawab Lexa singkat. Abby menoleh ke arah sahabatnya lagi menunggu penjelasan Lexa lagi yang hendak diutarakan ke Abby.


"Terkadang dia mengejekku, aku kesal tapi terkadang aku merindukan semua kekonyolannya. Terkadang dia menggodaku yang membuat hatiku tak karuan. Dan, terkadang dia begitu mesra denganku. Sesekali dia memelukku dan hal tersebut sangat membuatku hangat, Abby. Dan, sebenarnya dia telah menciumku. Aku rasa, ciumannya tulus, tapi aku terus menyaksikan dia bersama Solane begitu cocok. Aku bingung, aku sudah menyukainya atau hanya sekedar membutuhkan perhatian yang berlebihan. Aku - aku hanya merasa dia seperti ibuku dan aku sangat nyaman bersamanya," Lexa akhirnya bercerita isi hatinya pada Abby.


Sesaat Abby senang dan tersenyum, setelah sekian lama dirinya mendengar Lexa mengutarakan perasaan hatinya padanya.


"Sudahlah Lexa, waktu kita masih banyak untuk mencari pria yang serius. Apapun usaha Leon jangan kau masukan ke dalam hati. Jika dia berbuat baik tanggapi, jika dia selalu menyakitimu dan kau menyukainya, sebaiknya kau harus melupakannya, karna semakin kau bersamanya, itu akan menjadi bumerang bagimu," pesan Abby bijak menepuk bahu Lexa.


"Ya aku tahu, aku dan dia sungguh berbeda, Abby. Dia punya keluarga yang lengkap dan pasti keluarganya terpandang. Solane lah yang pantas baginya, bukan aku," Lexa menunduk dan menghapus air matanya yang menetes lagi.


"Lexa, kau jangan terus menangis. Kau tidak mau ibu perimu, Nyonya Viena memarahi Leon kan? Dia akan berurusan lagi dengan Tuan Dion, kau kan tahu sepertinya dia cocok dengan Tuan Revo," Abby hanya ingin membuat Lexa tersenyun dan sebentar melupakan Leon. Abby sangat mengerti perasaan Lexa yang seperti dipermainkan.


"Ya aku tahu, tapi Nyonya kita tidak akan frontal sepertimu yang tadi seperti mau menerkam Solane," Lexa berdecih.


"Ya, kau kan tahu emosiku suka meluap luap kalau aku melihat seseorang menyakiti teman temanku!" Dengus Abby.


"Yasudah, kau bisa mengantarku sekarang, aku sudah baikan, sekarang aku mengantuk. Terserahlah Leon mau seperti apa. Toh, kita hanya berteman, tidak ada yang harus dipikirkan terlalu dalam, ayo!" Lexa berpikir dirinya harus kuat. Dia tidak boleh seperti ini. Dia akan lemah sementara dia selalu sendiri. Dia tidak mau hanya karna pria dirinya menjadi tak berdaya dan merusak kehidupannya.


...



kekalutan Leon dan Lexa 😝


...


Hadeh ..


Apakah kali ini Lexa akan memaafkan Leon?


Next part 19

__ADS_1


Like komennya dong


Thankyou 😘


__ADS_2