Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LEXA LEON PART 49


__ADS_3

Mempunyai anak bukan saja hanya mengandungnya dan melahirkannya. Tetapi sejak mengetahui garis dua menandai alat pendeteksi kehamilan itu kita sudah harus menjaga dan merawatnya. Bagaimana asupan baik diberikan dan menolak asupan buruk. Untuk menciptakan sosok yang tiada tandingnya tidak juga dari asupan melainkan siapa keturunannya. Siapa ayah nya dan siapa ibu nya. Bagaimana sifat ayah dan ibu nya pasti akan menurun ke anak nya.


Ketika mereka lahir, mereka tidak akan asal bisa makan sendiri, bisa minum sendiri bahkan ketika dia berbicara. Dia meniru apa yang ada di depannya. Pikiran atau otak sang bayi layaknya sebuah kotak perekam yang akan menerima apapun yang dibicarakan atau di ajarkan padanya. Jadi sosok ayah dan ibu sangat berperan bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Jadi mengurus anak tidak semudah membalikan telapak tangan. Ada saat saat nya si anak sakit karna mereka juga seperti kita yaitu manusia biasa. Ketika sebuah kekurangan melingkupinya atau ada sebuah zat yang tidak bisa diterima olehnya maka tubuhnya akan bereaksi. Dan di sinilah semua kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi harus diperhitungkan dan dihadapi dengan bijaksana serta sedikit tenang.


Lexa belum sampai memahami ini. Semua apa yang ia lihat dalam memiliki anak hanya hal yang menyenangkan saja. Seperti Jacklyn yang sudah bisa makan sendiri, anak Renzy yang sangat pintar berbicara dan anak Lucy yang sangat aktif. Tidak ada pikiran Lexa jika Dior memiliki kekurangan karna Viena juga tidak pernah mengatakan apa apa tentang anak nya itu. Lexa kini dalam kepanikan. Dia terus memegang lengan Dior yang kini sudah tertidur di pelukan Leon.


"Tenang lah Lexa, kita akan sampai ke rumah sakit dan mengetahui semuanya. Nyonya Viena atau Tuan Dion belum mengangkat panggilan?" Kata Leon juga memastikan keberadaan ayah dan ibu Dior.


Lexa menggeleng tetapi dia kembali meraih ponselnya untuk kembali menghubungi Nyonya nya.


"Halo! Ada apa Lexa?!" Akhirnya Viena menjawab panggilan dengan napas tersenggal di seberang sana.


"Nyonya! Akhirnya kau mengangkat! Kau di mana?" Tanya Lexa dengan nada suara panik nya menanggapi pertanyaan Viena.


"Di hotel." Jawab Viena.


"Oh God Nyonya! Leher Dior merah merah dan tubuhnya menghangat." Kata Lexa dengan nada suara agak tinggi.


"Apa?! Kenapa bisa terjadi?" Viena agak terkejut dan bangun dari tidurnya. Viena sedang berbaring di tempat tidur hotel.


"Tidak tahu Nyonya, aku baru saja memberikannya jus alpukat dan akan membacakan cerita lalu Dior terus menggaruk sekitar lehernya." Jawab Lexa sangat cemas.


"Kau dimana sekarang?" Tanya Viena akhirnya.


"Sedang di perjalanan menuju rumah sakit pusat kota. Aku panik sakali Nyonya." Jawab Lexa lagi sudah menggigit jari telunjuknya.


"Baiklah aku akan kesana bersama Dion!"


Viena mematikan panggilan. Dia segera beranjak dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya. Dion yang baru saja keluar dari kamar mandi bingung dengan aksi istrinya.


"Kenapa kau berpakaian?" Selidik Dion karna mereka sudah berencana akan bermalam di hotel ini.


"Dior demam Dion!" jawab Viena mengenakan pakaiannya.


"Kenapa? Kenapa bisa tiba tiba begini? untung kita sudah selesai." kata Dion sedikit bingung.


"Sudah cepat gunakan pakaianmu kita ke rumah sakit!" kata Viena melempar kemeja Dion.


Dion pun segera bersiap dan menuju ke rumah sakit pusat kota. Sesampai di sana, mereka sudah berada di ruang unit gawat darurat. Dokter masih memeriksa Dior yang ditemani Leon karna Lexa menunggu tuan dan nyonya nya di depan ruangan.


"Lexa? Di mana Dior?" tanya Viena memegang kedua lengan Lexa.


"Di dalam nyonya. Maafkan aku Nyonya, aku tidak tahu apa yang salah denganku. Aku hanya memberikannya jus alpukat dan baru saja aku ingin membacakan cerita untuknya tapi tiba tiba dia terus menggaruk lehernya dan dadanya lalu tubuhnya juga hangat." jawab Lexa lagi menjelaskan hal yang sebelumnya sudah ia jelaskan.


"Iya iya aku mengerti. Kau benar hanya memberikannya alpukat?" tanya Viena memastikan.


"Sedikit dengan bubuk coklat." Kata Lexa dan bersamaan dengan itu sang dokter keluar.


"Siapa ayah dan ibunya? Karna pria yang di dalam bukan ayah kandungnya." kata sang dokter bertanya.


"Aku dan ini istriku dok. Ada apa dengan anakku?" Dion memperkenalkan diri bersama Viena.


"Itu hanya alergi. Aku sudah memberikan obat penawarnya. Untung saja anak Tuan mau meminum obat itu. Sekarang dia kembali tertidur." sang dokter memberi tahu.


"Alergi apa dok?" Tanya Viena memastikan karna sebelumnya Dior tidak pernah seperti ini.


"Makanan terakhir apa yang kalian berikan padanya?" tanya Dokter untuk menjawab kekhawatiran Dion dan Viena.


"Pure alpukat dengan sedikit bubuk coklat dok." Jawab Lexa terbata dan takut.


"Ohh, sepertinya anak nyonya dan tuan mengidap alergi coklat. Jadi untuk sementara jangan dulu di berikan sampai dua Minggu ini." dokter memberi saran.


"Lalu apa akan terus seperti ini dok?" tanya Viena memastikan lagi agar dia mengetahui apa yang menjadi kekurangan anaknya.


"Tidak, ketika dua Minggu, anda bisa memberikannya lagi dan cukup gunakan bedak dingin jika alergi nya keluar lagi. Berikan lagi coklat nya secara bertahap maka anak nyonya akan terbiasa dengan coklat sehingga tidak lagi alergi." jawab sang dokter memberikan tips terbaik untuk Dior.


"Tapi anak ku belum berusia satu tahun dok." Viena terus memastikan dengan antusias.


"Tidak apa. Semakin banyak jenis makanan yang ia coba itu akan membuat stimulasi dan kekebalan tubuhnya meningkat. Jangan khawatir nyonya. Jika terjadi yang sangat parah silahkan menemuiku." jawab sang dokter tersenyum.


"Baiklah kalau begitu terimakasih dok. Apa aku bisa menemuinya?"


"Silahkan. Anak nyonya juga bisa di bawa pulang malam ini juga. Permisi."


Viena dan Dion menundukan kepalanya. Mereka berdua masuk ke dalam sedangkan Lexa terdiam di sana. Dia merasa bersalah dengan semua ini. Kalau saja Lexa tidak memberikan bubuk coklat itu Dior tidak akan tersakiti seperti ini. Lexa menunggui mereka dengan duduk di depan ruang gawat darurat. Tak lama, Leon keluar karna tidak mendapatkan istrinya mengikuti atasan mereka. Leon melihat Lexa duduk di ruang tunggu dengan menundukan kepalanya.


"Lexa, kau kenapa sayang?" Tanya Leon ikut duduk di samping Lexa dan merangkulnya.


"Semua salahku Leon! Kalau saja aku tidak menaruh bubuk coklat itu, Dior tidak akan sampai ke rumah sakit begini. Hem, bagaimana aku bisa menjadi seorang ibu?" keluh Lexa dengan wajah masam.


"Tidak begitu Lexa. Kau juga tidak tahu kalau Dior alergi coklat kan? Mom nya saja tidak tahu. Kau tidak usah merasa bersalah." Leon mencoba menenangkan istrinya.


"Jelas aku yang salah Leon!" Lexa memandang Leon dengan matanya yang mulai berkaca kaca.


"Ya sudah, kau sudah meminta maaf pada Nyonya Viena dan Tuan Dion kan?"


Lexa mengangguk.


"Ya sudah, nanti kau juga minta maaf pada Dior walau dia belum mengerti. Sudah ya?" Leon mengusap usap lengan Lexa.

__ADS_1


Lexa mengangguk lagi dan menyandarkan tubuhnya masuk dalam rangkulan Leon.


"Hem, sebenarnya seperti ini juga yang harus diperhitungkan Lexa. Kita tidak hanya mempunyai anak dan akan mudah begitu saja. Malah akan banyak tantangan, suka duka yang akan kita hadapi. Sekarang kita siap atau tidak? Kita juga harus merawat anak kita dengan baik. Mereka semua pintar seperti Dior, Jacklyn dan Renata karna mom and dad mereka yang mengajari. Apa kau sudah siap?" Leon pun memastikan pada Lexa dan menjelaskan maksud hatinya waktu itu.


Lexa mendongakan kepalanya menatap suaminya. Mata nya berbinar binar dan tetap menginginkan keturunan.


"Aku mau Leon!"


"Kalau kau sudah mantab, yasudah nanti kita buat! Kau sudah siap dengan serangan ku?" bisik Leon menggoda Lexa.


"Jangan berbual lagi!" dengus Lexa memastikan.


"Sekarang tidak akan! Kita lanjutkan obat herbal yang dari mom ku, oke?" saut Leon mengingatkan obat dari ibunya.


"Siap Tuan! Besok pagi, aku akan membuatkannya lagi."


"Jadi kau akan pulang dengan ku kan?"


Lexa mengangguk angguk malu terhadap Leon. Wajahnya sudah memerah dan ia masuk kembali dalam pelukan suaminya.


...


Keesokannya Lexa yang akhirnya kembali ke apartemennya bersama Leon tengah menyiapkan sarapan. Dan tentu saja, Lexa sudah menyiapkan minuman herbal yang ibunya Leon buatkan untuk mereka. Minuman herbal tersebut sudah di kemas dalam satu satu saset plastik sehingga Lexa dengan mudah membaginya setengah setengah dengan Leon. Tak lama Leon datang dengan jas nya yang lengkap. Kemeja putih dan luarnya setelan jas casual dengan dasi hitam sesuai ciri khasnya.


"Kau semakin tampan saja, sayang." Kata Lexa.


"Tentu! Agar kau tetap ingin denganku." Leon menaik turun kan alisnya.


"Aku selalu ingin! Makanlah, lalu kita berangkat. Apa kesibukanmu hari ini sayang?" tanya Lexa basa basi.


"Tidak ada. Hanya menunggu perintah Tuan Dion saja. Sepertinya dia akan ke perbatasan Legacy dan Summer. Bagaimana denganmu sayang?" tanya Leon kembali.


"Sepertinya aku akan ke kantormu. Aku ingin menyelesaikan transaksi iklan waktu itu dengan Renzy dan direktur keuanganmu." jawab Lexa memberitahu jadwalnya.


"Apa aku perlu menjemputmu lagi dan ke kantor ku?" Leon menawarkan. dia ingin menebus kesalahannya dengan memberikan perhatian perhatian khusus.


"Tidak usah, aku bisa pergi sendiri atau bersama Susan jika dia tidak sibuk." jawab Lexa.


"Baiklah." Leon pun mulai menyantap makanan yang Lexa siapkan. begitu juga Lexa yang ikut makan bersama. Mereka sedikit berbincang bincang dan Lexa pun menyinggung Ben yang setiap hari datang memperhatikan Abby. Lexa mengungkapkan kalau dia sedikit iri tapi tidak lagi jika Leon sudah ada keinginan memiliki momongan.


"Tenang saja sayang. Kau akan hamil. Aku yakin!" kata Leon meyakinkan Lexa dengan cerita yang membuat istrinya itu sedih.


"Iya Leon. Baiklah ini obat herbal mu." Lexa memberikan gelas berisi cairan obat tersebut.


"Oh iya!" Leon meraih gelas yang diberikan Lexa dan langsung meminumnya. Dia agak melupakan sesuatu tetapi yang dipikirannya sekarang hanyalah secepatnya Lexa dapat hamil jadi Leon menuruti arahan istrinya. Lexa juga meminumnya dengan semangat.


Setelah semuanya siap, Leon pun mengantar Lexa ke kantor terlebih dahulu lalu ia menuju ke kantor nya.


...


"Lexa, kau tidak ke hotel Prime?" Tanya Susan melewati ruangan Lexa. Lexa melirik ke arah Susan.


"Oh God! Aku lupa Susan! Apa kau bisa menemaniku?" tanya Lexa.


"Tidak bisa! Aku harus bertemu dengan sahabatmu Solane untuk membicarakan masalah kontrak model iklannya. Apa kau tahu, katanya dia hendak memutuskan kontrak." jawab Susan.


"Benarkah? Aku belum bertemu dengannya lagi. Memang ada apa Susan?" selidik Lexa sambil mematikan komputernya.


"Entahlah, dia belum memberitahuku dengan rinci. Siang ini aku akan tahu. Singkatnya dia akan pindah ke Honolulu." Susan menaikan bahunya.


"Oh, mungkin saja dia sudah mau menikah dengan Rico." gumam Lexa kini bersiap dengan tas kecilnya.


"Ah, kau benar juga, tetapi banyak perusahaan yang menginginkan dia menjadi model iklan Lexa. Dia sangat menjiwai dan piawai dalam berperan." kata Susan melihat respon Solane menjadi model iklan.


"Em, cobalah kau bicarakan lagi padanya. Siapa tahu dia bisa mempertimbangkannya." Lexa memberi saran karna ini sangat menguntungkan bagi perusahaan nya juga.


"Benar Lexa. Baiklah, kau cepat ke hotel Prime. Nyonya Viena menunggu. Katanya walaupun itu hotel suaminya tetapi urusan keuangan harus jelas." Bisik Susan takut takut.


"Haha, kau tahu kan siapa atasan kita." celetuk Lexa tersenyum.


Susan juga tersenyum sekaligus pergi dari sana. Lexa pun bersiap menuju ke hotel Prime. Tetapi ketika baru saja Lexa menutup pintu ruangannya, Mike datang membawa sebuah kotak kecil seperti kotak kue potong.


"Lexa, ini untukmu." kata Mike masih memperhatikan kotak tersebut.


"Apa ini Mike?" tanya Lexa sedikit terheran.


"Entah, sepertinya kue. Em Japanis Coffee Chesse Cake. Setahuku cake ini dari toko kue di pusat kota yang terkenal itu. Clar Chiffone Cake. Kau tahu kan?" jawab Mike membaca nama toko kue di depan kotak nya.


"Sepertinya pernah dengar. Dari siapa?" tanya Lexa lagi memicingkan matanya.


"Entahlah, tidak ada nama pengirimnya. Tadi seorang kurir makanan yang mengantar. Tapi ada kartu ucapannya. Ini." Kata Mike menyerahkan kotak kecil berisi kue itu. Kue itu memang kesukaan Lexa. Namun, sudah lama sekali Lexa tidak memakannya karna tidak sempat memikirkan semua ini. Lexa pun meraih kotak kue itu dan membukannya. Aromanya sangat menggiurkan.


"Emm, apa dari Leon?" Mike menerka nerka.


"Mungkinkah? Tapi kalau dari Leon pasti dia akan mengatakannya padamu." jawab Lexa memperhatikan kotak kue berwarna merah muda itu. sungguh cantik dan ada pita di atasnya.


"Siapa tahu hendak membuat kejutan Lexa." saut Mike.


"Nanti akan kutanya."

__ADS_1


"Tidak ada seorang yang mengaku jika dia hendak membuat kejutan Lexa!" Celetuk Mike tersenyum lucu dan meninggalkan Lexa. Lexa berpikir dan benar apa yang dikatakan Mike. Kalau ia bertanya dengan Leon pasti Leon juga tidak akan mengatakan apa apa. Tapi kalau Leon mau melakukan ini pasti akan terlihat tanda tanda yang mencurigakan. Leon tampak biasa saja seperti hari hari biasanya.


Lexa lalu membaca kartu ucapan di atas kotak kue tersebut.


Dear Alexa Luxurio


-Rasakan hari hari mu selalu santai, manis dan membuat orang selalu mengingatmu, seperti chessecake ini. Selamat hari Rabu. ♥️-


Someone


Begitulah isi pesannya. Lexa mengerutkan dahinya. Apa apa an ini pikirnya tetapi kue ini tampak enak. Akhirnya Lexa memutuskan untuk membawanya untuk mengganjal makan siang. Dia tidak peduli siapa pengirimnya. Dia merasa ini rejeki saja. Biarlah orang tersebut mengaguminya. Dia pun segera ke basement parkir untuk menaiki mobil Viena. Dia sudah meminjamnya tadi.


Sementara itu Leon di kantor hotel nya sedang mengadakan rapat bulanan. Para direktur dari setiap bagian melaporkan hasil kerja mereka dan keuntungan apa yang di dapat selama satu bulan ini. Dion terpaksa menyerahkannya pada Leon karna dia harus pergi ke Summer bersama Jeremy dan Ben. Hotel mereka sudah jadi lagi dan akan ada sesuatu yang diurus seperti surat hak milik dan lain lain.


Namun entah mengapa, Leon merasa ada yang berbeda dari tubuhnya sejak rapat setengah dimulai. Sekarang pukul setengah dua belas dan rapat dimulai sejak pukul sebelas. Dia terus meneteskan keringatnya padahal ruangan sangat dingin. Leon akhirnya terus megusap pelipisnya.


"Leon, kau baik baik saja?" Tanya Manuel yang melihat Leon agak menunduk ketika direktur personalia menjelaskan laporannya. Leon sedikit melirik Manuel dan mengangguk.


Tak lama kemudian tubuh Leon terasa panas sekali dan kepalanya pusing. Sesaat dia memikirkan Lexa dan membayangkan tubuh telanjang istrinya.


'haiz, ada apa ini? Mengapa aku jadi memikirkan Lexa?' tanya Leon dalam hatinya.


Semua direktur terus melanjutkan pembicaraannya namun tidak ada sedikitpun yang tersangkut di pikiran Leon. Untung saja Manuel mengetik semua pembicaraannya. Leon sudah menugaskannya. Namun tetap saja membuat pekerja Bertanya tanya.


"Tuan Janson, apa penjelasan kami sudah jelas?" Tanya seorang direktur. Leon masih terdiam dan menunduk. Dia menopang dahinya karna semakin pening dan parahnya kepunyaan Leon di bawah sana mengeras membuatnya semakin tak menentu.


"Leon, direktur keuangan memastikan!" Manuel menyadarkan dan akhirnya Leon mendongakan kepalanya. Wajahnya tampak memerah seperti sangat tersiksa.


"Ah iya iya sudah jelas. Nanti aku periksa lagi laporan kalian. Rapat selesai, aku aku harus pergi, permisi!" Kata Leon kemudia. Dia berusaha berdiri dan berjalan menuju ruangannya.


"Sial, ada apa denganku?! Untung saja aku sudah menyuruh Manuel mencatat hasil laporan mereka. Sebaiknya aku menghubungi Lexa agar cepat kemari! Kenapa tiba tiba aku menginginkannya sih?! Tidak masuk akal!" Decak Leon dan meraih ponselnya di skau celananya sambil menyusuri koridor kantor.


Tapi ketika Leon memasuki ruangan karyawan, dia sudah melihat Lexa duduk di depan Renzy. Lexa menengok ke belakang karna mendengar pintu yang dibuka Leon dan ada Leon di sana.


"Kau kenapa Leon?" Tanya Lexa melihat Leon yang napasnya agak tersenggal dan wajahnya memerah. Keringat membasahi dahi dan pelipisnya sangat terlihat. Leon lalu mendekati Lexa dan Renzy dengan berjalan cukup cepat dan mata lancipnya menajam memandang Lexa. Lexa agak terheran dan dia berdiri namun ketika Leon sudah dekat, dia langsung menarik tangan Lexa dan masuk ke dalam ruangannya.


"Renzy, aku tidak menerima tamu atau panggilan apapun! Aku ada urusan penting dan mendadak dengan Lexa!!" Kata Leon lalu kembali masuk dan mengunci pintu ruangannya.


...


...


...


...


...


nah lho?!! untung Lexa Dateng, kalo gada Lexa gimana bang? haha .. aku bisa ga ya 😂😂


.


next part 50


uwaa Uda part 50 aja yak hehe


mau diendingin aja dah hehe


kita cari alurnya yg enak dlu ya ? hehe


aduhh bang Leon kenapa ya?


dan siapa pengirim kue enak itu? hehe


secret admirer lagi kah? apa ada kejutan dibalik semuanya


.


jangan lupa kasih LIKE dan KOMEN nya juga RATE dan VOTE nya .. tiap akhir bagian akan diundi lagi siapa pengirim Vote terbanyak yaa hehe


.


so thanks for read and i love you ..♥️


.


baca juga yukkss novel baper lainnya :


💌 Love & Hurt (Kisah cinta dan kehidupan Alvern dan Alice)


💌 Deja Vu : Jasmie & Chest (Kisah cinta dan nasib Jasmie dan Chest)


💌 Tak Dianggap (Kisah anak Broken Home dan ketidak Adilan seorang Agischa)


💌 Tetaplah Bersamaku


💌 Love in Friendship (Pengorbanan cinta dan sahabat antara Stella dan Albert)


💌 Hot Daddy (kehidupan tiga pria tampan)

__ADS_1


💌 Mantan Terindah (Mantan Terindah Seri 1, kisah cinta Viena & Dion, beserta anak anaknya)


💌 Satu-satunya yang Kuinginkan (Mantan Terindah Seri 3, kisah cinta Egnor dan Claudia)


__ADS_2