
Begitulah sebuah emas yang berkilauan semakin lama akan memancarkan keindahan dan harga jual itu sendiri. Jika dia hanya sebuah batangan menjadi aset dan memang semakin menunjukan kemegahannya sementara jika diolah dia akan berguna. Menjadi gelang, cincin atau kalung dan lebih memancarkan kehebatannya. Begitu juga seorang anak yang dididik dengan semua kemudahan maka akan hanya tahu hal yang ada bukan hal yang harus dicari. Anak tersebut akan memegahkan dirinya sendiri karena sejak lahir sudah bergelimangan ditambah otak yang cerdas. Menjadi anak tersebut sudah merasa besar tetapi tidak dengan akhlaknya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Carolyn dan apakah Xelino akan kembali bertemu bahkan berurusan dengan Carolyn? Apakah akan mempengaruhi tekadnya?
...
Leon menghubungi ayahnya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Xelino melarang keras kakeknya untuk memberi tahu. Biar dia saja yang menyelesaikannya. Akhirnya Larry tidak mengatakan apapun pada Leon. Larry hanya meminta Leon membantunya mengurus beberapa lahan tanah yang diinginkan Xelino. Permasalahannya, beberapa tanah yang sudah Larry gadaikan sudah dimiliki Delins Group secara resmi dijual dan tidak bisa dikembalikan apapun caranya. Leon hanya menjanjikan tanah di sekitar rumah ayah dan ibunya saja.
"Seberapa jauh luas tanah yang dimiliki Delins Group, pap?" Tanya Xelino memastikan.
"Lahan tanah di daerah sekitar alun alun dan lahan dekat perbatasan desa Serena dan desa Misty. Lahan itu memang pilihan kakekmu dan sangat subur sehingga Delins Group sudah membelinya dengan harga tinggi nak. Kalau kau mau, aku bisa berbicara pada Tuan Gilbert. Kami cukup dekat," kata Leon menawarkan.
"Jangan, pap! Biar aku saja yang mengurusnya. Sementara aku akan mempertahankan sisa lahan Grandpa saja," saut Xelino menolak secara halus.
"Kau yakin?"
"Yakin. Baiklah sudah dulu pap, aku harus kembali ke kota," kata Xelino hendak mengakhiri pembicaraan.
"Mengapa kau ke desa?" Selidik Leon dengan sedikit keanehan.
"Ada seseorang yang hendak membeli sisa lahan Grandpa, aku hanya menjadi penengah agar grandpa tidak salah melangkah. Grandpa sudah tidak bisa lagi mengawasi lahan, pap, jadi harus aku yang mengambil alih," tutur Xelino menjelaskan.
"Kau memang anakku yang luar biasa, kau menggantikan tugasku dengan sangat teliti dan cekatan," balas Leon bangga.
"Kau tenang saja, pap, aku yang akan membayar semua hutang hidupku pada grandpa dan grandma ku. Sementara harapan kita hanya lahan sekitar rumah dan rumah kaca bibi. Ladang di samping rumah kaca bibi sudah dikukuhkan oleh Uncle Jerry, jadi untuk sementara aku tenang," kata Xelino lagi.
"Ya nak, tetap hubungi aku jika terjadi sesuatu,"
"Oke pap, oiya pap tolong bantu aku untuk tidak mengatakan siapa anakmu yang sebenarnya, kau tahu maksudku kan pap?" Pinta Xelino.
"Tahu CIA!" Goda Leon. Anaknya benar benar seperti badan intelijen yang sedang mengamati sesuatu.
"Papi!!" Pekik Xelino sesaat. Leon terkekeh.
"Oke sampai jumpa, salam cium peluk dari mamimu and God bless you," ucap Leon akhirnya.
"Salam kembali pap dan untuk Zhavia," balasnya terkekeh dan Leon berdecih.
"Terus saja kau bermimpi,"
"Haha, sampai jumpa pap,"
"Ya, bye,"
Begitulah ayah dan anak seperti kakak dan adik. Leon memang selalu menuruti apa yang menjadi keinginan Xelino. Apalagi jika Lexa yang tambah berkata. Leon hanya ingin membuat kebahagiaan yang dulu tertunda terlalu lama. Selama masih dalam jalur yang tepat, Leon selalu mendukung Xelino. Untung saja dulu Xelino tinggal bersama kakek, nenek dan Angel yang keras, jadi meskipun Leon dan Lexa memanjakannya, Xelino tetap dalam kadar yang normal dan tidak mau tergantung pada ayah dan ibunya.
Lalu, bagaimana dengan seorang Carolyn? Apakah, gadis itu masih bersih keras mendapatkan lahan tanah Larry dan Jane?
Carolyn memasuki mansion besar itu dengan wajah yang geram dan tidak menyangka seorang pria bisa melarangnya. Pria yang menurutnya sama sekali tidak takut dengannya. Carolyn begitu kesal karena bukan hanya ayahnya yang menolaknya tetapi orang orang yang ia anggap rendahan itu.
Dia menuju ke meja makan dan di sana ibunya sedang menyiapkan makan malam. Jennifer melihat anaknya dengan sedikit senyuman.
"Ada apa lagi?" Tanya ibunya.
"Argh, mengapa aku harus terus meminta bantuan pada Daddy, mommy?" Keluh Carolyn mengacak rambutnya.
"Karena kau selalu meminta tolong padanya," jawab Jennifer mengatur beberapa piring di meja makan.
"Mommy! Aku tidak peduli, aku mau membangun villa di lahan itu!" Decak Carolyn bersih keras.
"Lahan? Lahan apa?" Jennifer sedikit mengernyit.
"Ada sebuah lahan di dekat halte Desa Serena. Lahan tersebut sangat strategis juga sangat subur. Ada sebuah rumah di atas lahan itu. Di samping rumah tersebut ditanami sayur sayuran yang cukup rimbun. Bukan hanya itu, ketika kita bisa berada di lantai atas villa yang akan kubangun, aku bisa melihat sebuah rumah kaca serta ladang bunga yang begitu indah. Hal ini akan mendukung imajinasi ku untuk merancang, mom! Kau mengerti maksudku kan?" kata Carolyn tampak sangat antusias.
"Tapi ada rumah di atas lahan tersebut?" tanya Jennifer lagi memastikan.
"Ya, ditinggali oleh seorang kakek dan nenek serta cucunya yang menyebalkan! Mereka tidak mau menjual lahan itu padaku! Semua cara sudah dilakukan Lucas untuk mendapatkan lahan itu tetapi cucunya datang dan bersi keras tidak mau menjual lahan itu, jadi haruskah aku memohon pada Daddy? Sementara Daddy malah menyuruhku bekerja pada Bibi Rietha, shit damn mom!” Carolyn terus menggerutu.
"Benar kata Daddy mu," ujar Jennifer menaikan alisnya.
"Arghhhh, sekarang kau juga sudah terkontaminasi pada pemikiran daddy! Kalau begini aku pergi ke tempat kakak saja agar kalian kesepian tanpa ku!" decak Carolyn mengancam.
"Hem Aneeta ..." panggil ibunya sesaat.
"Hemm?!!!" Carolyn menatap ibunya malas.
"Seluruh lahan di Desa Serena memiliki tanah yang sangat subur dan baik, oleh sebab itu banyak yang bercocok tanam di sana karena sangat cocok. Asal kau tahu saja, hampir sebagian lahan di Serena dimiliki oleh Delins Group dan seperempatnya dimiliki Keluarga Janson. Mungkin kalau kau bisa mendekati anak laki laki tertua dari Keluarga Janson, kau bisa memiliki lahan yang kau inginkan atau ya kau memohon pada Daddy," kata Jennifer menaikan alisnya lagi. Pada kenyataannya Jennifer tidak bisa mengabaikan apa yang diinginkan anak keduanya itu.
Carolyn sejenak berpikir. Anak laki laki tertua keluarga Janson. Hal ini bagus juga. Carolyn berpikir pasti pria itu sangat tampan dan berkelas secara ayah dan ibunya orang penting di Legacy dan paman nya pemilik Hotel Atkinson. Carolyn tersenyum lebar. Mungkin dia bisa bertanya pada Daddy nya.
"Mom, idemu sangat brilian, pantas saja Daddy begitu mencintaimu! Siapa gerangan anak Tuan Danteleon Janson? Bukankah belum pernah terekspos, mom?" selidik Carolyn sumringah.
"Entahlah, tidak pernah tahu, tapi Tuan Dante memiliki satu anak," saut Jennifer sepengetahuannya.
"Baiklah, aku akan mencari tahu! Bye mom!"
"Kau mau kemana? Makan dulu!"
"Tunggu Daddy!"
Carolyn langsung berhambur ke atas ke kamarnya. Dia membuka laptopnya dan mencari cari mengenai profile Leon. Namun, di sana hanya tertulis :
Name : Danteleon Janson
Position : Vice President Director
Wife : Alexa Luxurio
One son.
"What the f?! Tidak peduli aku hanya mendapatkan informasi ini, aku pasti tahu siapa anaknya! Untuk sementara aku harus meminta bantuan pada Daddy, semoga dia menyetujuinya. Aku ingin lahan itu!!!" Sungut Carolyn akhirnya menutup laptopnya dan menghubungi beberapa temannya yang mengetahui tentang Desa Serena.
Carolyn sangat menyukai pemandangan serta suasana desa itu. Dia baru mengetahuinya beberapa bulan belakangan ini ketika seorang temannya mengajaknya menikmati alam air terjun di Desa Serena. Tak berapa lama ponselnya berbunyi, Casey, kakak dari Carolyn menghubunginya.
"Ada apa?" Carolyn mengangkat panggilan.
"Apa kau sudah lulus dari sarjanamu?" tanya Cases di seberang sana.
__ADS_1
"Sudah,"
"Bibi Rietha menanyakan kesanggupanmu untuk bekerja dengannya," kata Cases memastikan.
"Aku tidak mau kak! Aku mau menciptakan kantor ku sendiri! Ini lebih menguntungkan!" saut Carolyn tetap pada keinginannya.
"Itu bisa juga. Apa Daddy mengijinkannya?"
"Tidak!"
"Datang saja padaku, aku memiliki lahan bagus di Nederland," kata Casey lagi menawarkan.
"Kau serius kak?" Carolyn tampak bersemangat.
"Serius! Aku akan mengirimkan foto daerahnya. Kau pasti menyukainya!" saut Cases mendukung.
"Oke kak, aku tunggu!"
"Tapi pastikan kau yang memintanya dari dad, jangan bilang aku yang menyuruh!" ujar Casey.
"Oke!"
"Baiklah, aku akan mengirim fotonya, sampai jumpa!"
Panggilan dimatikan. Casey tersenyum kecut. Mudah sekali dia membodohi adiknya. Dengan Carolyn ada di dekat nya, dia bisa memanfaatkan Carolyn untuk menguasai perusahaan ayahnya sedikit demi sedikit karena Carolyn bisa menjadi tameng dan juga sebagai ancaman. Casey menjadi sedikit gelap mata semenjak dia tahu siapa dirinya. Dia lalu meraih ponselnya menghubungi seseorang.
"Berikan foto lahan yang kuinginkan, sayang!" minta Casey pada seorang pria di seberang sana.
"Kau sudah meyakinkan adikmu?" tanya pria itu.
"Sebentar lagi kita akan mendapatkan Carolyn, kau tenang saja,"
...
Keesokan harinya, Xelino sudah terburu buru menuju tempat kerjanya. Untung saja dia menggunakan mobil bibinya. Dia bisa ke kantor dengan mengendarai mobil pribadi. Sesampainya di kantor, Xelino segera melakukan absen dan ke tempat meja kerjanya. Rekan kerja yang kemarin mengajaknya juga sudah datang.
"Selamat pagi, James!" Sapa Xelino duduk di tempat kerjanya.
"Pagi, Xel! Kau mendapat masalah besar!" bisik James memberitahu.
"Maksudmu!"
"Kemarin, setelah kau pergi, setelah jam makan siang, Tuan Gilbert datang dan menanyakanmu. Dia ingin membahas mengenai pengerjaan produk terbaru kita. Dia agak kecewa karena kau baru saja bekerja tetapi sudah ijin keluar," kata James menundukan kepalanya ikut menyesal.
"Oh shit! Aku ada masalah, James! Ada seseorang yang mengusik daerah rumah grandpa dan grandma ku. Sementara mereka hanya tinggal berdua," saut Xelino menjelaskan lebih dulu pada temannya.
"Di mana mom and dad mu?" tanya James.
"Mereka bekerja di Indian,"
"Oh, yasudah sebaiknya kau jelaskan nanti ketika Tuan Gilbert datang. Jangan sampai tidak ada kesan baik baginya. Tuan Gilbert cukup perfeksionis," kata James mengingatkan.
"Ya, baiklah. Untuk sekarang, apa yang harus ku kerjakan?" tanya Xelino untuk pekerjaannya.
"Ayo ikut aku ke bagian produksi, kau harus melihat kinerjanya, secara kau adalah manager kan? Besok besok kau harus bisa melihatnya sendiri, aku hanya sebagai pendampingmu, sir!" ajak James memulai pekerjaan mereka.
James mengangguk tersenyum. Mereka lalu ke bagian produksi. Di sana Xelino melihat kinerja para pegawai yang sedang mengemas umbi umbian organik. Tidak ada yang perlu dikomentari oleh Xelino. Dia hanya mengatakan pada James ada baiknya jika mesin yang bisa mengemas umbi umbian ini sehingga dapat meningkatkan kecepatan dalam produksi. Lalu, ketika Xelino melihat lihat, Xelino merasa ada yang tidak biasa dengan beberapa umbi umbian yang ada. Mereka tidak memilih umbi umbian yang seharusnya dipasarkan. Mereka memasukan semua umbi umbian itu sesukanya.
"James, apa tidak ada standar kualitas dari setiap umbi umbian?" selidik Xelino perlahan.
"Ada, dia bersih dan berwarna baik," kata James.
"Apa yang seperti ini kau katakan baik?" Tanya Xelino mengambil salah satu ubi merah yang koyak dan ternyata di bagian pinggirnya agak busuk.
"Wah, ini tidak benar! Aku baru menyadarinya pantas saja ada beberapa pasar swalayan yang mengeluh," tutur James yang merasa Aneh dengan penjualan beberapa Minggu ini.
"Ini harus perhatian yang ekstra, James! Baiklah, mulai sekarang harus lebih teliti. Bisakah aku bertemu dengan pegawai yang mengurusi hasil panen?" tanya Xelino masih sedikit mendalami.
"Bisa Xel, aku akan berbicara padanya," kata James setuju.
Sementara salah satu pegawai yang mendengar menghubungi pegawai yang mengurusi hasil panen tersebut. Mereka berdua berteman.
"Gawat, manager baru yang dikatakan manager James menyadari ubi merah yang gagal panen, Tom!" keluh pegawai tersebut pada temannya seperti ketakutan.
"Kau serius?"
"Serius! Kalau begini, kita tidak bisa mendapat uang lebih!" tambah temannya.
"Kita harus mencari cara untuk tetap mengelabuinya!"
"Ya benar, kau harus pintar pintar bicara!"
"Baiklah!"
Sementara itu Xelino dan James kembali ke meja kerja mereka. Sekertaris Emma memberitahu Xelino bahwa Gilbert mencarinya. Xelino segera ke ruangan Gilbert untuk menjelaskan semuanya. Dan Xelino mengingat apa yang yang harus ia bicarakan mengenai Carolyn Aneeta Delinsky. Xelino pun tidak berharap banyak kalau gadis itu anak dari atasannya.
"Selamat siang, Tuan," sapa Xelino memasuki ruangannya.
"Ada apa denganmu, Xelino? Mengapa kemarin kau tiba tiba pergi? Seharusnya hari pertama bekerja kau bisa lebih disiplin," kata Gilbert menautkan kedua tangannya di atas meja.
"Maafkan aku Tuan, aku terpaksa harus ijin pergi," ucap Xelino sedikit menunduk.
"Ada apa? Kalau kau belum siap bekerja, sebaiknya kau mengundurkan diri dari sekarang," tutur Gilbert penuh ketegasan.
"Aku akan menjelaskannya dan jika kau ragu akan kemampuanku, aku bisa pergi sekarang juga," balas Xelino dengan pasti.
"Ada apa?"
"Seseorang telah mengusik lahan rumah kakek dan nenekku! Mereka mencoba memalsukan surat rumah kakek dan nenekku dan parahnya lagi, mereka hendak menghancurkan rumahku. Aku memang tinggal bersama kakek dan nenekku. Kalau kau di pihakku, apakah kau akan diam membiarkan kedua orang tua yang sudah merawatmu harus melawan orang orang tidak bertanggung jawab itu?" kata Xelino dengan berani.
"Ya Tuhan, maafkan aku mencurigaimu, Xelino. Memang, di mana rumahmu sampai kau harus ijin selama itu?" selidik Gilbert.
"Desa Serena, kau pernah mendengarnya Tuan?"
"Ah, sebagian ladang pertanian ku ada di sana. Bukankah seperempatnya dimiliki oleh Keluarga Janson?"
__ADS_1
"Sepertinya, aku tidak tahu! Yang terpenting aku tidak akan menjual lahan tanah itu," saut Xelino berdalih.
"Memang siapa yang mau membelinya?" tanya Gilbert kemudian. Xelino menarik napas panjang.
"Mungkin kau kenal Tuan, karena gadis itu bilang, dia bernama Carolyn Aneeta Delinsky. Dia menggunakan nama keluargamu tetapi rasanya pantas karena dia terlihat sangat berada," kata Xelino dengan tatapan tajamnya.
"Kau bilang siapa?" tanya Gilbert memastikan.
"Carolyn Aneeta Delinsky," kata Xelino lagi.
"Oh my God, anak itu!!" desis Gilbert menepuk dahinya.
"Aku tidak peduli dia siapa dan ada hubungan apa dia dengan nama keluargamu Tuan, tetapi dia sudah menyalahi aturan. Dia menggunakan banyak cara untuk mendapat lahan rumahku. Aku tidak akan membiarkannya sekalipun aku harus menghabiskan uangku untuk menyewa pengacara dari Kantor Eg. Lawyer," kata Xelino lagi dengan rasa kesalnya. Seketika, kedua mata Gilbert terbuka. Ada seseorang yang sangat berani dengan Carolyn.
"Xelino! Kau berani melakukannya?" tanya Gilbert mendongakan kepalanya.
"Kenapa tidak? Dia sangat tidak sopan terhadap kakek dan nenekku! Dia bilang kami yang menipunya dan dia mengusir kakek dan nenekku. Dia sangat tidak beretika. Kalau aku mempunyai adik seperti dia, aku tidak akan segan segan mengajarinya sesuatu yang bermoral jangan seenaknya mengingini sesuatu yang bukan miliknya. Dia seperti anak manja yang selalu dituruti kemauannya!" decak Xelino sedikit membahas prilaku buruk Carolyn yang tidak ia suka.
"Itu memang benar, nak, aku sangat pusing menghadapinya," gumam Gilbert.
Seketika Xelino sedikit tersentak. Apa maksud dari respon Gilbert padanya. Mengapa Gilbert seperti frustasi?
"Kau kenapa Tuan? Apa ada yang salah dengan perkataanku?" selidik Xelino dengan nada suara pelan.
"Tidak ada, kau memang benar, anak itu butuh sebuah pelajaran hidup. Aku dan istriku sudah salah mendidiknya," keluh Gilbert menundukan kepalanya.
"Maksudmu Tuan? Apa gadis itu ada hubungannya denganmu? Aku hanya merasa mungkin dia kerabat jauhmu saja yang memiliki nama keluarga sama,"
"Delinsky hanya ada di Springfield dan Nederland, Xelino. Dan, Carolyn yang kau maksud adalah anak keduaku,"
"Oh Lordness!" Ucap Xelino mengingat kata kata Allegra ketika terkejut. Dia menutup mulutnya. Entahlah dia menjadi takut ketika dugaannya ternyata benar.
"Kau jangan terkejut seperti itu. Tidak apa apa. Atas nama anakku, aku meminta maaf Xelino! Aku akan memberitahunya. Sampaikan juga permohonan maaf ku pada kakek dan nenekmu. Aku akan menjamin dia tidak akan melakukannya lagi! Dia tidak akan mendapatkan lahan mu!"
"Ya Tuan, aku hanya tidak menyangka dia memiliki orang tua sebaik anda," ujar Xelino sedikit menyesal.
"Aku memang salah karena aku terlalu memanjakannya sejak ia lahir. Sepuluh tahun pernikahanku dengan istriku, kami belum juga dikaruniai seorang anak sampai pada akhirnya kami mengadopsi Casey Adeera Delinsky. Ternyata, satu tahun kami mengadopsi Casey, istriku hamil dan mendapatkan Carolyn. Kami sangat menyayangi Carolyn karena akhirnya kami mendapatkan seorang anak dari darah daging kami berdua. Namun, seiring berjalannya waktu Carolyn menjadi sosok yang membangkang dan setiap keinginannya harus terpenuhi. Bukan hanya itu, karena kepintarannya dalam menggambar dia selalu memenangkan sayembara lomba lomba mengenai design atau seni menggambar. Ya begitulah sedikit banyak mengenai anak kedua ku itu. Jadi, aku minta maaf atas semua prilakunya pada keluargamu. Hem, andai dia memiliki seorang kakak laki laki. Seharusnya aku mengadopsi seorang anak laki laki bukannya seorang anak perempuan yang juga menyayanginya. Tindakan tegasmu sangat luar biasa, sir!" tutur Gilbert menceritakan penyebab Carolyn seperti ini.
"Aku hanya mempertahankan yang menjadi hak ku Tuan, apalagi dia telah mengusik kakek dan nenekku. Mereka yang membesarkanku," kata Xelino.
"Di mana kedua orang tuamu?"
"Di Legacy, eh tidak kedua orang tuaku bekerja di Indian,"
"Oh iya?"
"Ya Tuan, jadi aku juga membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan,"
"Kau sungguh anak yang berbakti. Kau tenang saja, aku akan memberi pelajaran pada anakku itu!" Kata Gilbert berjanji pada Xelino.
Bersamaan dengan itu, pintu ruangannya terbaku dengan kedatangan Carolyn. Sesuatu yang sangat tidak terduga mereka berdua bisa bertemu di ruangan Gilbert.
"Daddy!" Panggil Carolyn.
Deg!
Jantung Xelino bergemuruh tapi dia berusaha tenang. Gilbert melihat tajam ke arah anaknya.
"Daddy! Kau harus membantuku
"Carolyn ..." Panggil Gilbert perlahan agar anaknya tidak berteriak teriak meminta hal yang sudah sering kali ia tolah.
"Dad! Kau harus membantuku! Aku membutuhkan lahan di Desa Serena!" Kata Carolyn lagi mendekati meja kerja ayahnya tanpa mempedulikan Xelino yang sedang duduk di depan ayahnya.
"Carolyn ..."
"Dad, bisakah kau menanyakan anak dari Tuan Danteleon Janson?" Tanya Carolyn menatap ayahnya dengan mata yang berbinar binar. Sementara Xelino malah meneguk salivanya.
'Untuk apa dia mencariku?' Xelino mengernyitkan alisnya dan bertanya tanya dalam hati.
"Untuk apa kau menginginkannya?" tanya Gilbert mengerutkan dahinya.
"Untuk mendapatkan lahan yang kuinginkan!"
Brak!
Xelino menggebrak meja dan berdiri di hadapan Carolyn. Carolny tersentak dan benar benar terkejut dengan siapa yang ada di depan matanya.
...
...
...
...
...
Nah, anak yg lu cari marah tuh Lyn, aku ga ikut ikutan! 😂😂
.
Next part 5
Apakah Xelino akan mengaku?
Lalu, apa yang akan dilakukan Gilbert pada Carolyn?
Akankah Carolyn pergi ke tempat kakaknya yang sepertinya mempunyai niat tidak baik pada keluarga Delinsky?
.
Pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
__ADS_1
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤