
"Alexa, mengapa kau terus menangis seperti ini? Seharusnya kau merelakan aku. Aku sudah tua. Waktuku sudah habis. Tuhan sudah memberikan semuanya padaku. Tuhan juga sudah mempertemukanku denganmu dan sebagai hadiah, aku bisa menyaksikanmu menikah. Kau menikah dengan pria terbaik. Jangan buat dia cemas, jangan buat dia khwatir! Bangunlah dan jangan terus mengejarku!" Kata Alexis sedikit memarahi Lexa yang tersungkur pada rumput rumput itu. Dia berlutut di hadapan ayahnya dan terus menangis.
"Tidak papi, aku ingin bersamamu. Aku akan kembali menjadi anak yatim piatu jika kau pergi lagi? Tidak bisakah menunggu ku juga sama sama dipanggil Tuhan?" Kata Lexa seperti anak kecil menangis sambil memegang tangan ayahnya.
"Kalau kau mengasihi ku dan papimu, relakan kami sayang!" Sela seorang wanita tiba tiba berada di samping Alexis.
"Mami?" Lexa menatap rindu wanita itu.
"Sayang, bangunlah!! Tengok belakangmu! Ada suami dan anakmu! Mereka membutuhkanmu, jadi apa mereka jika kau tidak ada? Kau sudah melihat teman barumu Manuel kan? Jadi apa ayah dan anak itu tanpa ibunya? Ayo, kembalilah pada suami dan anakmu! Biar kan kami bahagia di alam yang berbeda. Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi. Ini hanya masalah waktu!" Kata wanita itu yang merupakan Rose. Ibu dari Lexa.
"Benar mami! Biar kan kami pergi!" Tiba tiba seorang anak laki laki pun muncul melepaskan pegangan tangan Lexa pada papinya.
"Kau? Li, Lionel? Mengapa kau juga ikut?" Tanya Lexa sangat terheran. Dia bahkan belum melahirkan anak pertamanya.
"Yes mam! Karna aku ingin bermain bersama grandma dan grandpa. Kau jangan khawatir, adikku akan membuat mu selalu bahagia dan tersenyum. Dia yang terhebat. Dia akan menjadi pria hebat, bertanggung jawab, dan selalu menyangimu. Ayo mam! Sekarang bangunlah, papi dan adikku menunggumu!!" Kata anak tertuanya, Lionel membantu ibunya berdiri.
"Sudah jangan menangis anakku! Sekarang bangunlah, aku yakin kau pasti bisa! Benar kata mami mu, ini hanya masalah waktu. Lambat laun, suami dan anakmu akan membuat mu melupakan hal sedih ini. Ayo, bangunlah, bangunlah Lexa.." Alexis, Rose dan Lionel berseru bersamaan dan dia kembali ke alam sadarnya.
"Lexa? Lexa? Bangun sayang .." terdengar seorang pria terus memanggil nama Lexa dengan nada khawatir dan cemas.
Lexa mencoba membuka matanya dan menggerakan tangannya. Ini sangat berat, sangat berat meski Leon sudah merasa ada pergerakan kecil yang menggetarkan tangannya.
"Suster, tolong diperiksa! Lihat, tangannya bergerak, tolong suster!!" Kata Leon dengan cepat.
Satu jam yang lalu ..
Awalnya Leon tidak begitu panik ketika Lexa tak sadarkan diri. Dia pasti hanya terkejut saja. Namun, ketika akhirnya tin medis membawa ke ruang gawat darurat dan memeriksa kondisi Lexa, suhu tubuhnya meningkatnya. Tekanan darahnya turun sangat rendah. Nadi Lexa tak beraturan. Kondisinya menjadi sangat buruk. Karna Lexa sedang hamil, dokter langsung memasukan obat anti kontraksi di daerah keintiman nya.
Mereka pun memeriksa kondisi janin yang mana baru akan berkembang dan sedikit sekali detak jantung yang terasa. Sementara Lexa sudah dipasang selang oksigen. Selang selang infus pun sudah melintas di sekitar tangannya. Mereka melakukan dengan cepat karna hal ini sangat jarang. Alat pendeteksi detak jantung sudah terpasang dan hasilnya memang sangat lemah. Lexa segera dipindahkan ke ruang ICU karna dia membutuhkan sesuatu yang steril mengingat ia sedang berbadan dua.
Leon di luar sana merapal doa untuk istrinya.
"Maaf kan saya Tuan, kondisi istri anda sangat sangat lemah. Namun, kami masih mengusahakan semuanya. Istri anda juga masih terus berusaha untuk hidup. Semoga mukjizat membantu kita." Kata Sang dokter memberitahukan keadaan Lexa yang cukup kristis.
"Iya dok, ku serahkan semua padamu dan Tuhan. Tapi aku mohon selamatkanlah mereka. Aku , aku .. " Leon tak sanggup berkata kata lagi. Dia sangat takut akan kehilangan Lexa.
"Sudah sudah Leon, iya dok, kami akan terus menunggu kabar baiknya." Lanjut Larry merangkul pundak Leon. Jane pun hanya bisa duduk. Dia menangis dalam doanya. Sudah dua kali dia merasa seperti ini yang mana hendak kehilangan Lexa.
"Jane? Kau tidak menghungi Jerry dan Angel?" Kata Larry kemudian. Jane melihat suaminya dan mengangguk. Dia segera ke sudut lorong dan menghubungi menantunya.
Larry membuat Leon duduk agar bisa tenang.
"Lexa, aku mohon bertahanlah sayang! Aku membutuhkanmu, kau tahu kan? Aku tidak bisa hidup lagi jika kau tak ada. Jangan begini Lexa! Kau sudah berjanji ingin selalu bersamaku dan anak anak kita, tapi kenapa kau selemah ini! Lexa! Jangan bawa dirimu dengan pikiranmu saja! Pikirkan aku Lexa! Pikirkan! Kalau kau pergi begini saja buat apa kau mencintaiku sejak awal! Sejak awal seharusnya aku tidak mengharapkanmu ya jika pada akhirnya kau pergi seperti ini. Kau egois Lexa! Kau tidak membiarkan papimu bahagia tenang di surga. Dia sudah sembuh, dia sudah harus bersama istrinya dan kau bersamaku!! Lexa, ayolah sayang!! Jangan seperti ini!!!" Tutur Leon pelan. Dia sudah menautkan tangannya dan menundukan kepalanya. Larry hanya mengelus punggung anaknya itu. Dia sangat mengerti kalau anak tertuanya ini begitu mencintai istrinya. Apalagi menantunya sekarang sedang hamil.
Jane sudah kembali dan Jerry benar benar shock. Dia harus mencari cara mengatakan pada istrinya dulu. Jane juga sudah di samping Leon. Dia memegang tautan tangan anaknya.
"Kita berdoa nak! Tuhan, hidup kami ada di dalam tanganMu, hidup kami ada di dalam rencanaMu, jadikan semuanya baik pada waktunya. Dan, jika Egkau sudah menyiapkan rencana indah bagi kami yang penuh harapan ini, jadikan Tuhan! Beri kekuatan bagi Lexa Tuhan agar dia mengerti, dia masih memiliki harapan dan keluarga yang menunggunya. Tuhan, semoga rencana mu yang indah tetap melingkup di tengah tengah kami. Semua akan baik jika Engkau yang berbuat, Tuhan! Dan Kau juga sudah memanggil Tuan Alexis, kiranya ia tenang dan kami yakin hidupnya sudah sangat berarti di tengah tengah kami. Buatlah kesadaran bagi anaknya agar dapat menerima semua keputusanMu ini. Tuhan Engkau yang terbaik, amin!" Jane menyudahi doanya dan memeluk kepala anaknya. Leon kembali menangis di dada ibunya untuk Lexa. Leon benar benar mencinta wanita itu. Hanya dia yang benar benar bisa membuatnya tak berdaya seperti ini.
"Terus panggil namanya nak! Dia pasti mendengar kita!" Kata Jane terus memberi harapan pada anak tertuanya itu.
Sampai tak berapa lama kemudian, seorang suster keluar memberitahukan sesuatu.
__ADS_1
"Tuan Janson, detak jantung Nyonya Lexa dan janin nya mulai stabil. Bisakah anda menemaninya? Kata dokter mungkin saja jika terus mendapat rangsangan, Nyonya akan sadar. Silahkan Tuan! Hanya satu orang karna ruangan steril." Kata suster dengan sangat rinci.
"Ya ya bisa, anakku saja, bisa dia! Ayo Leon semangat nak!" Pekik Jane bersemangat.
Leon akhirnya masuk dengan pakaian sterilnya dan duduk di samping Lexa. Dia meraih tangan Lexa dan mengecup ngecupinya. Tidak lupa terus memanggil nama Lexa berulang dan menyuruh istrinya itu bangun. Dia memang percaya kalau Lexa tidak akan meninggalkan nya. Sampai gerakan gerakan itu terasa pada tangan Leon. Lexa tersadar.
...
Angel membuka kamar rawat itu dan sudah tidak ada siapa siapa. Dia masih berharap bisa menemui mertuanya. Dia sudah memegang hasil test pack nya dan hendak memperlihatkan pada mertuanya.
"Dad sedang dimandikan dan segera dipindahkan ke rumah duka, Angel, ayo kita menunggunya di sana?" Ajak Jerry merangkul istrinya. Jerry pun sudah teramat sedih. Ketika Jane menghubunginya, jantungnya berdegup kencang. Dan air matanya tanpa sadar mengalir. Ya, sebenarnya sudah waktunya dan Jerry tidak berhak menahannya. Ayah angkatnya itu memang sudah seharunya beristirahat. Dengan semua lika liku kehidupannya, Alexis sudah seharusnya tidur dengan tenang dan melanjutkan aktivitasnya di alam yang berbeda. Jerry mengiklaskan semuanya.
Namun, dia mengerti kedekatan istrinya dengan ayahnya itu. Wajar Angel menangis kencang ketika Jerry memberitahunya. Juan sampai ikut memeluk kakaknya karna merasa kakanya sangat sedih. Mereka sebenarnya baru saja ingin pulang dan sudah melakukan testpack itu. Angel ingin memperlihatkan hasil testpack nya.
Angel lalu berbalik dan memeluk suaminya. Dia terus menangis mengiringi kepergian ayah mertuanya yang begitu baik padanya. Selalu membelanya. Selalu menganggap dirinya anak kandungnya seperti Lexa.
"Sekarang kita tunggu saja di rumah duka ya? Atau mau menjenguk Lexa dulu? Dia sempat koma dan kondisinya kritis drastis ketika mengetahui dad sudah tiada, Angel." Tambah Jerry lagi mengelus punggung istrinya.
"Iya .. kita ke kak Lexa dulu. Dia yang paling sedih dengan semua ini sayang .." saut Angel masih sesenggukan.
"Kau benar sekali Angel. Biarpun kita yang menjaganya, Lexa lah darah dagingnya yang paling dekat. Padahal baru pagi ini dia tiba, tapi dad langsung pergi. Kurasa dad juga sudah lelah, Angel." Tutur Jerry ingin menangis namun ia menahannya. Dia tidak boleh ikut menangis karna akan membuat Angel semakin bersedih.
"Iya sayang, kita harus menghiburnya. Kak Leon juga pasti sangat merana melihat Lexa seperti ini." Angel masih dalam tangisnya.
"Iya sayang. Kau tenanglah, kasihan anak kita. Dad sudah pergi dengan bahagia. Dia sudah tidak akan sakit lagi. Kau mengerti maksudku kan?" Kata Jerry lagi juga memperhatikan kondisi darah dagingnya.
Angel mengangguk karna selama ini dirinya yang menjaganya. Jerry pun menggiring Angel menuju ke rumah duka menunggu jenasah ayah mereka. Jerry sudah menyuruh Jim yang mengurus perusahaan hotelnya di Legacy untuk datang kemari. Jim pun juga sangat sedih ternyata sudah selesai juga dia menjadi asisten pria tua itu. Jim yang mengurus semua peti dan juga pemakaman Alexis yang akan di makam kan di bukit suci Springfield Hills. Di sana merupakan tempat pemakaman yang indah dan sejuk.
Lexa sudah duduk di kursi roda di depan peti jenasah ayahnya. Dia terdiam di sana meratapi kepergian ayahnya. Angel masih menangis di pinggir rumah duka itu. Dia menyesali seharusnya dia tidak pergi meninggalkan mertuanya. Seharusnya dia pergi membeli testpack saja lalu memberitahukan hasil nya sebelum mertuanya itu pergi untuk selama lamanya.
"Sayang, minumlah sedikit, tubuhmu masih demam." Kata Leon menghampiri Lexa. Dia berjongkok di depan istrinya dan mengulurkan air putih itu tapi Lexa tak bergeming. Leon menghela napas. Dia sedikit beranjak dan berbisik di telinga istrinya itu.
"Bukan kau yang haus tapi anakmu. Minumlah jika kau mencintai anakmu! Dad yang menyuruhmu untuk menjagaku dan anak kita!" Begitulah bisikan Leon. Leon harus tegas dengan istrinya agar tidak terjadi apapun dengan anaknya.
Lexa lalu menoleh ke pada Leon yang dia baru tersadar. Wajah suaminya tampak lelah dan sedikit sedih. Ini semua pasti karnanya. Lexa lalu meraih air putih itu dan menegaknya sampai habis. Tak berapa lama dia merasa perutnya agak sakit namun dia menahannya. Dia sedikit memajukan kursi rodanya ketika Leon pergi menaruh gelas itu sebentar. Lexa berada di dekat sekali peti ayahnya. Dia masih memandangi wajah ayahnya yang begitu tenang. Dan, rasa sakit pada perutnya muncul lagi. Dia lalu memegangnya perlahan. Lexa lalu menenggerkan kepalanya di sisi peti ayahnya.
"Katanya kau mau bermain dengan cucumu pap? Tapi mengapa sekarang kau pergi? Lalu, bagaimana kau bermain dengannya?" Tutur Lexa. Dia kembali meneteskan air matanya.
"Di kehidupan selanjutnya dan hari itu kita akan bersama sama semuanya. Kau jangan terus bersedih sayang. Kau lupa dengan pesan dokter ya?" Kata Leon yang menjawab sambil merangkul pundak Lexa. Lexa akhirnya menegakan tubuhnya dan menghapus tetesan air matanya.
Dia akhirnya memeluk Leon untuk kembali menenangkan dirinya. Dia juga masih ingin memikirkan anak yang dikandungannya ini.
Para tamu yang sudah mengetahui kepergian Alexis masih berdatangan sampai tengah malam. Upacara pemakaman akan di laksanakan besok pukul 10 pagi. Semua masih menunggui di sana. Lexa pun tidak mau tidur di hotel ketika malam. Dia ingin menemani ayahnya sampai pemakaman besok. Sebenarnya perutnya agak nyeri tapi dia tidak memberitahukan Leon. Namun, Leon tetap memaksanya untuk makan juga meminum obat obatan yang ia konsumsi.
"Lexa, ayolah kita tidur di hotel. Besok pagi kita kemari lagi. Tubuhmu masih hangat." Ajak Leon mengelus punggung tangan Lexa.
"Tidak Leon, aku di sini saja ada mom and dad, Jerry dan Angel. Angel saja hamil, dia bisa disini, aku juga bisa." Bantah Lexa tetap ingin menemani ayahnya.
"Tapi sayang ...."
"Leon, apa kau tidak mengerti bagaimana perasaanku? Aku baru saja kehilangan ayahku, mengapa aku tidak boleh menemaninya sementara besok dia sudah harus dimakamkan dan aku tidak akan bisa melihatnya lagi. Mengapa? Aku dan bayiku kuat, kau tenang saja. Aku mohon .." ucap Lexa dan Leon menyerah. Dia tidak bisa berbuat apa apa selain mengijinkannya.
__ADS_1
Mereka pun di sana menunggui Alexis sampai pagi menjelang. Betapa Lexa dan Leon juga merasa haru karna Tuan dan Nyonya mereka, Vien dan Dion, juga ada Solane, Rico yang membawa Jacklyn, juga Renzy dan Paul suaminya serta Abby dan Ben datang ikut berbela sungkawa.
Viena memeluk Lexa yang kembali menangis. Viena juga ikut menangis mengingat kepergian ibunya beberapa tahun silam. Apalagi Solane terbawa suasana juga sudah kehilangan ayahnya.
Ketika waktunya tiba acara pemakaman dimulai. Mereka semua sudah berangkat ke Bukit Suci Springfield Hills, tempat pemakaman itu. Ketika Leon merangkul Lexa, Lexa malah memeluk suaminya itu di kursi belakang mobil. Leon merasakah hawa tubuh Lexa semakin panas dan sepertinya istrinya kedinginan.
"Lexa, kau baik baik saja? Kau sudah meminum obat obatmu tadi bersama Angel?" Tanya Leon memastikan kondisi istrinya.
Lexa hanya mengangguk.
"Sebentar lagi ya? Kau harus tetap di kursi roda selama upacara pemakaman. Setelah itu kau harus bed rest dulu baru kita pulang ke Legacy. Kau mengerti?" Kata Leon membuat kesepakatab pada Lexa.
Lexa kembali mengangguk . Dia terus mengeratkan dirinya pada Leon.
Sesampainya di bukit itu, Lexa merasa semakin pusing namun dia ingin mengantar kepergian ayahnya. Mereka semua sudah berkumpul di suatu tempat. Pandangan Lexa agak kabur namun dia tidak mengatakan pada Leon. Leon mendorong kursi roda Lexa sampai pada tempat yang sudah di tentukan. Mereka siap memulai acara pemakamannya. Lexa terus menatap peti ayahnya selama nyanyian nyanyian rohani itu mengantar kepergian Alexis.
Ketika semuanya telah selesai. Lexa menundukan kepalanya. Dia memegang perutnya. Dia merasa perih tapi juga merasa muncul kekuatan dalam dirinya. Dia masih mencoba berpikir. Dia tidak mau memikirkan tapi mengapa ini sangat menyesakan. Dia masih sangat sedih seperti akan ada terjadi sesuatu.
"Lexa! Jangan memikirkan apapun! Tegakanlah kepalamu! Ayo! Semangat!" Dia membuka matanya. Di sana ada Viena di depannya namun nampaknya di melihat ibunya.
Lexa lalu tersenyum. Dia memeluk Viena namun dia kembali tak sadarkan diri di pundak atasannya itu.
...
...
...
...
...
Hemm, dirimu kenapa Lexa?
Ayahmu sudah tiada dengan ketenangan. Bersemangatlah ..
.
Next part 29
Apa yang akan terjadi pada Lexa?
Ada apa dengan perut dan bayi nya?
Stay tune gaes ..
.
Pada akhirnya vii meminta dukungan dari kalian melalui LIKE dan KOMEN nya, lalu bisa juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel yaa vii tunggu semua dukungan kalian 😍😍
.
__ADS_1
Thanks for read and i love youuuuu 💕💕