
"Tuan Dion! Aku sepertinya harus mengganti ponselku. Baterai nya selalu habis! Semalam aku lupa mengisinya. Pasti Lexa sudah menghubungiku. Dia masih tidak enak badan. Hem.." dengus Leon menyalakan ponselnya tapi tidak bisa karna semalam Leon lupa menyalakannya. Mereka sedang menunggu koper mereka.
"Gantilah, mengapa kau harus melapor padaku?!" Decak Dion menunggui kopernya yang belum tampak. Sementara Leon dan Jimmy sudah mendapatkannya.
"Pesankan aku ponsel sepertimu yang tahan lama, hah, kalau tidak seperti punya Jimmy. Kulihat dia terus memainkan ponselnya." Kata Leon lagi menoleh ke arah Jimmy yang sibuk terus bermain ponselnya.
"Kau tanyakan padanya, dimana dia membelinya. Aku juga heran mengapa dia terus memainkan ponselnya!" Saut Dion dan akhirnya meraih kopernya.
"Ya! Jimmy! Kau ini sedang apa hah? Sudah berapa lama kau tidak bercinta dengan Solane sehingga ketika tidak bersamanya saja kau menghubunginya!" Kata Leon sedikit berteriak.
"Menghubungi apa? Aku sedang berhubungan dengan teman lamaku dan kebetulan dia menetap di sini. Baiklah, dimana kita akan menginap Tuan Dion?" Saut Jimmy dan berdiri dari duduknya bertanya pada tuannya.
"Di hotelku Jimmy!"
Belum Dion menjawab, Bella datang menimpali.
"Oh begitu, baiklah Nyonya, Tuan Dion, aku harus menemui temanku dulu sementara survey nya besok kan? Aku ijin dulu Tuan. Nanti malam aku akan ke kamar anda. Anda beritahukan saja nomor kamarnya. Permisi!" Kata Jimmy membungkukan tubuhnya dan pergi lebih dulu meninggalkan bandara Honolulu itu.
"Aneh! Mengapa aku beranggapan dia sedang berselingkuh Tuan?!" Kata Leon menghampiri tuannya.
"Sepertinya!" Tambah Dion.
"Hahaha, kalian sensitif sekali. Mari kita ke hotelku. Biarkan Jimmy mungkin dia hendak merasakan suasana baru. Maklum, ayah muda!" Sela Bella ikut bergabung dalam pembicaraan mereka. Dion malah mendelikan alisnya menatap Bella.
"Aku tidak! Aku bahkan ingin mengajak Viena kesini! tapi karna aku memikirkan Dior yang masih sangat kecil. Maaf Nyonya, kau jangan menyama nyamakan diriku! Oiya maaf juga Nyonya sepertinya kami menginap di resort ku saja. Besok baru kami akan ke hotel anda." Decak Dion yang agak sensitif dengan semua omongan Bella yang seperti ingin mengakrabkan diri namun tidak mengena dengan kehidupan Dion yang tertutup hanya yang ia sukai saja.
"Jangan begitu Tuan Dion. Memang ada apa dengan hotelku? Aku sudah menyiapkan tiga kamar untuk kalian yang sudah direservasi dan dibersihkan. Aku juga sudah menyiapkan santapan khas Honolulu sehingga kalian tidak usah repot repot ke restoran. Lagi pula Tuan Dion yang terhormat, kau sudah sering mengunjungi resort mu, apa salahnya pada kesempatan kali ini, kalian berkunjung ke hotelku dan menginap. Biarkan aku seorang dari Honolulu menyambut kalian sebagai tamu kami." Kata Bella tersenyum dan wajahnya sedikit kecewa.
Seketika Dion jadi serba salah. Di satu sisi memang benar apa yang dikatakan Bella, namun di satu sisi dia sudah berjanji pada Leon untuk melindunginya. Dia lalu menoleh ke arah Leon yang mendengar ucapan Bella. Hem, karna satu minggu ini Bella mencerminkan sikap baiknya pada Leon, Leon jadi tidak enak juga jika menolak. Selama Bella tidak macam maca dengannya, hal ini bisa ditoleransi. Leon akhirnya mengangguk menuetujui pernyataan Bella. Dion masih mendelikan alisnya meyakinkan Leon dan Leon mengangguk sambil menepuk bahu tuannya.
Dion menghela napas.
"Oke baiklah. Kami akan menginap di hotel mu tapi Nyonya Bella, tolong jaga sikap anda. Kau mengerti maksudku kan?" Dion memperingati.
"Oh my God Tuan Dion! Percaya padaku, niatku tulus. Kalau tidak untuk apa aku susah susah menyiapkan semua ini untuk hanya survei seperti ini. Oiya, aku juga sudah mensosialisasikan pada perusahaan yang hendak kau survei juga untuk besok makan siang bersama sebagai bentuk keakraban." Balas Bella memasang wajah agak memelas dan memohon.
"Ya Nyonya, itu ide yang bagus!" Saut Dion dengan wajah datar.
"Oke, mari kita ke hotelku. Limosin ku sudah menjemput di depan bandara." Kata Bella mempersilahkan sambil menarik koper kecilnya.
Dion dan Leon menghela napas sebelum menyerah mengikuti Bella menginap di hotelnya.
...
Sudah pukul tiga sore. Lexa dibangunkan oleh ketukan pintu yang memekakan indera pendengarannya.
"Leon?" Pekik Lexa mendongakan kepalanya dalam posisi tengkurapnya.
"Dia pasti mengkhawatirkan ku sehingga dia membatalkan penerbangannya ke Honolulu, tapi mengapa sesore ini?" Lexa berdecih sambil beranjak dari tidurnya menuju pintu masuk.
Dia lalu membukannya dan melihat di sana yang datang seperti sepasang kekasih yang baru saja berpacaran.
"Cih, kalian? Mengapa kalian datang bersama? Mengapa ku perhatikan akhir akhir ini kalian selalu bersama? Kenapa hah? Hah, aku tahu, karna Jimmy mungkin saja mendukanmu kan Solane? Bagaimana kalau Jimmy tidak berselingkuh, kau akan dikatakan apa Solane? Kau selalu berselingkuh tiada henti atau jika Jimmy benar benar berselingkuh ya itulah yang dinamakan karma. Seperti kata Angel!" Lexa berceloteh seakan tidak sadar dengan apa yang ia katakan. Sepertinya emosinya meluap luap ketika mendapati bukan Leon yang kembali.
Dia seperti hilang ingatan dan melihat Solane seperti masih musuhnya yang hendak merebut Leon. Karna keadaan Solane yang juga sedang emosi, dia pun menampar Lexa namun tidak begitu kencang. Rico terkejut. Tak berapa lama Lexa tak sadarkan diri. Rico segera menahannya untuk tidak jatuh.
"Solane, kau kenapa?! Kau gila ya?" Decak Rico dengan matanya melotot.
"Dia sudah bicara tidak jelas Rico! Apa mau kita bawa ke rumah sakit?" Jawab Solane santai.
"Jangan! Dia takut darah jarum rumah sakit. Sebaiknya kita sadarkan dia saja." Saut Rico dan menggendong Lexa memasuki apartemennya lalu dibaringkan di sofa ruang tamu.
"Hem, apartemen Leon sangat kecil, pantas saja uang lebihnya ia belikan mobil bagus." Gumam Solane yang baru pertama kali ke apartemen ini.
"Solane kau berisik sekali, cepat sadarkan Lexa!" Decak Rico mengingatkan Solane.
"Oke, mudah! Sebentar ya?" Jawab Solane mencari kamar utama Lexa dan Leon.
__ADS_1
"Kau mau kemana?"
"Ke kamar mereka lah!"
"Mau apa?" Rico menjadi sangat bingung. Dia duduk di bawah kaki Lexa.
Solane tidak menjawab. Tak berapa lama dia kembali dengan membawa kemeja biru muda Leon yang berada di lantai. Solane hendak mengambil yang baru namun nampaknya tidak usah.
"Rico! Kau lihat ini! Ini pasti nyonya mu yang sengaja menjatuhkan dirinya sehingga Leon menahannya atau memeluknya. Lalu nyonyamu menempelkan bibirnya di baju Leon. Heng, permainan lama!" Decak Solane keluar kamar menunjukan bekas lipstick yang belum hilang.
"Kau tahu sekali!" Gumam Rico dengan wajah meledek.
"It is trick! Sial, nyonya mu sungguh luar biasa, kita harus menggagalkan rencana busuknya Rico!" Solane menjadi kesal.
"Iya, sudah cepat kau sadarkan temanmu ini! Kau tidak khawatir apa? Pegang Solane, tubuhnya hangat." Saut Rico mengingatkan tujuan awalnya untuk menyadarkan Lexa terlebih dahulu.
"Oh God Rico kau panik sekali! Dia ini sedang hamil aku yakin!" Decak Solane dan berjongkok di samping wajah Lexa. Solane lalu mengarahkan kemeja Leon pada bagian ketiaknya dan di dekatkan pada indera penciuman Lexa.
"Wanita gila! Mengapa pada bagian itu?!" Rico agak terkekeh geli.
"Diam saja kau! Ini wangi, kau mau menciumnya?" Decak Solane.
"Ya ya, kau mantan nya kan? Hem!" Rico memalingkan wajahnya sedikit cemburu. Dia pikir Solane mungkin ada rasa sedikit padanya.
"Kau jangan cemburu, sebenarnya aku lebih menyukaimu dari pada Leon, hihi!" Solane cekikikan menyukai wajah sebal Rico.
"Bohong! Kau jangan membuat ku berharap Solane, lebih baik kau pikirkan suamimu!" Rico berdecih.
"Aku sudah membencinya! Dia akan menyesal dengan apa yang ia lakukan padaku! Roh ayahku akan mencabut nyawanya. Kau tunggu saja!"
"Uuuuu..." Pekik Rico dan dia tersenyum.
~Solane memang lebih manis ketimbang Lexa. Haiz, mengapa aku jadi memikirkan wanita gila ini? Aku masih harus meyakinkan bahwa aku hanya iba terhadap anaknya bukan dirinya, cih!~ Rico berdecih dalam hati.
Tak berapa lama Lexa menggeleng gelengkan kepalany.
Rico menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah aneh sesungguhnya dari wanita wanita yang dekat dengannya beberapa minggu ini.
"Le - Leonn..." Tutur Lexa pelan sedikit melenguh.
"Lexa? Kau sudah sadar?" Solane meyakinkan.
Lexa melihat ke arah Rico. Matanya masih berbayang dan dia menganggap Rico adalah Leon.
"Leon, kau sudah pulang?" Kata Lexa mengulurkan tangannya untuk meraih wajah Rico yang ia pikir Leon. Rico menyeringai memanfaatkan kesempatan dan mendekatkan wajahnya pada tangan Lexa.
"Kau memang lekaki buaya darat! Jauhkan wajahmu!" Decak Solane menampar pipi Rico. Rico memegang pipinya dan kembali menatap Solane terkejut.
"Lexa, dia Rico, aku Solane! Kau sudah sadar? Kau kenapa?" Kata Solane kemudan meraih tangan Lexa yang diulurkan tadi.
"Solane?" Lexa agak tersadar.
"Iya aku Solane!"
"Sooolllaaannneee ....." Tiba tiba pecahlah tangis Lexa. Entah mengapa dia menjadi ingin menangis sekencang kencangnya karna juga merindukan Leon.
Leon (murung ketika perjalanan menuju ke Belleza Hotel. Wajah nya terus menunduk membuat Dion bertanya tanya dalam hati namun ia menahannya karna tidak mau saling bercakap juga dengan Bella yang pasti menimpali.)
"Lexa, mengapa kau menangis?" Tanya Solane membantu Lexa untuk duduk sementara Rico sudah pindah ke sofa single dan menatap Lexa kasihan.
"Aku, aku merindukan Leon, Solane. Huhu, itu, itu di kemejanya ada lisptick merah.. apa dia akan menduakan ku Solane? Aku tidak mau kehilangan dia Solane. Huhuhu, aku tidak mau berbagi tubuhku ini dengan pria lain. Aku hanya ingin Leon, mengandung anaknya, melahirkan anaknya, merawat anaknya dan juga dirinya serta melayaninya sampai maut memisahkan kita. Aku hanya ingin dia Solane!!" Kata Lexa sambil menangis dan mengucek matanya.
"Sekalipun aku lebih tampan, Lexa!" Gumam Rico bermaksud memecah kesedihan. Rico sambil tersenyum meledek.
"Hhhhhaaaaa, hhuuuuuuu... Solane aku mau Leoonn!" Lexa malah menangis semakin jadi.
"Rico! Kau kenapa masih sangat percaya diri! Kau jelek tau!" Decak Solane kesal.
__ADS_1
"Maassaaa???"
"Diam kau!"
"Sudah sudah Lexa! Aku akan memberitahukan mu satu hal, tapi kau harus siap ya?" Kata Solane lagi akhirnya pada Lexa.
"Rico, cepat katakan!" Solane menyuruh Rico.
"Kau saja!"
"Cepat!" Solane tidak mau kalah.
"Okeh! Lexa, sebenarnya Nyonya Bella menyukai Leon." Ujar Rico sedikit cemas dengan respon Lexa.
Mata Lexa membelalak.
"Kau serius Rico! Atas dasar apa dia menyukai suamiku? Dia juga sudah tua dan Leon pria beristri. Mengapa dia tega?!" Celetuk Lexa dengan wajah mulai geram.
"Aku sudah memperingatinya Lexa. Maafkan aku, aku tidak berani mengatakannya padamu karna takut kau akan terus mencurigai Leon, padahal Leon tidak pernah menanggapi Nyonya Bella." Saut Rico agak menunduk. Dia tidak tega melihat Lexa yang sudah menangis seperti itu.
"Tidak pernah apa?! Beberapa kali mereka datang bersama ketika Leon menjemputku! Ternyata ini trik licik nyonyamu! Harusnya keanehan ku sejak pertama kali bertemu dengan nyonya mu, aku sudah tahu! Jahat jahat, mereka berdua jahat padaku! Jadi Solane, janda yang kau katakan itu benar?" Selidik Lexa sudah mulai meledakan dirinya.
Solane mengangguk angguk tersenyum masam.
"Hhhuuuuaaaaaa!!!!" Lexa malah kembali menangis. Kali ini dia menangis sambil menekuk lututnya dan menunduk, menyembunyikan wajahnya.
"Lexa, kau jangan menangis. Lebih baik ayo kita pastikan dan kau juga bisa bertemu dengan Leon!" Kata Rico membuat sebuah keputusan untuk membantu wanita yang sekarang menjadi temannya itu.
"Memang, apa yang mau nyonya gila itu lakukan? Nyonya sepertimu pasti akan menghalalkan segala cara untuk merebut Leon dariku, Rico! Mereka ke Honolulu bersama sama. Aku bisa apa? Huhuhuuu..." Lexa agak menyerah namun dia ingin mengetahui suaminya kalau benar benar tidak jahat padanya.
"Kami hanya mengetahui kalau dia menduplikasi kunci satu kamar hotel Lexa." Kata Solane masih mengelusi punggung Lexa. Lexa mendongakan wajahnya. Seketika, dia mengingat kejadian sewaktu ia menyelamatkan Dion dari jeratan Pevi.
"Aku tahu! Rico, kalau sampai Leon berhubungan dengan nyonya mu, aku juga akan membunuhmu! Ayo ke Honolulu! Janda busuk itu pasti akan satu kamar hotel dengan suamiku dan dia akan mengada ngada kalau Leon yang salah sehingga dia bisa menggodanya entah akan memberikan suamiku obat perangsang! Ayo cepat! Solane pesan tiket ke Honolulu sekarang! Kalau sampai benar tertangkap olehku, Leon, kumatikan kau sampai kau tidak bisa berenkarnasi bahkan menjadi musang sekalipun! ARRGGHHH MUSANGGGGG LIARR, SEHARUSNYA KAU KUPASUNG DAN KURAJAM SEKALI SEKALI!!!"
Lexa meledak. Dia sudah bangkit menuju ke kamarnya hendak bersiap sementara Solane dan Rico masih terpaku dengan kemarahan Lexa tidak terpikirkan oleh mereka. Lexa memang selalu memendam amarahnya dan tidak ia keluarkan.
...
...
...
...
...
...
...
rajam uda ciduk ciduk skalian sama lakik lu tuh solane aneh!! songong lagi minta ijinnya sama dion! 😱😱
.
next part 13
misi penyelematan leon yang seketika jadi plango 😁😁
lexa hamil kayaknya yaa 😝😝
jadi sensi n leonnya kontak batin haha
.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YANG BANYAAKK hehehe KASIH JUGA RATE DAN VOTE ..jangan lupa ambil poin kalian di pusat misi ahahahahy 😁😁
.
__ADS_1
thanks for read and i love youu ❤❤