Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 57


__ADS_3

Lexa akhirnya keluar dari toko pernak pernik itu dengan wajah muram. Dia sudah membayangkan wajah Angel yang tak jauh jauh dari Leon. Gadis itu pasti sangat cantik, pikir Lexa, apalagi dengan crown bunga yang terpasang di kepalnya. Angel pasti seperti malaikat seperti namanya.


Sementara Leon merasakan aura kesedihan Lexa. Dia tetap merangkul Lexa sambil berjalan menuju restoran.


"Lexa, nanti kita cari lagi! Kalau perlu kita pindah pusat perbelanjaan ini. Kita juga bisa pergi ke Big Plaza lagi. Masih banyak yang menjualnya. Sudah, jangan cemberut, kau makin cantik jika cemberut dan aku tidak akan mentotelir lagi jika aku benar benar merasakan dirimu. Bagaimana? Kau pasti akan memilih tersenyum kan daripada kujajaki semua tubuhmu? Ya kan?" Kata Leon berceloteh sehingga membuat Lexa terdiam.


Lexa menghentikan langkahnya dan menatap tajam Leon.


"Aku mau makan 2 tenderloin steak dengan kentang goreng, minumnya 2 coke float, aku juga mau dessert 2 choco lava cake!" Saut Lexa malah menyebutkan makanan makanan yang dapat menaikan berat badan, namun memang akan membuat orang yang memakannya senang. Setelah mengatakannya, Lexa menghempaskan rangkulan Leon dan berjalan lebih dulu menuju salah satu restoran steak terenak di pusat perbelanjaan itu.


"Haiz, beginilah kalau dia sedang berubah menjadi kelinci rabies. Aku khawatir sebentar lagi dia akan menjadi monster kelinci jika semua yang dia inginkan tidak kupenuhi. Mengapa gadis kecil bernama Sherry itu bisa mincul sih? Aku jadi berpikir akan membuat anak laki laki saja, haiizzz haizz .. " Leon ikut merajuk sendiri. Dia menarik napasnya dan menyusul Lexa.


Sesampainya di restoran benar saja. Lexa memesan apa yang ia inginkan dengan sangat semangat sampai Leon pun terheran. Sedangkan Leon hanya memesan 1 tenderloin steak with mashed potatao kesukaannya. Minumnya hanya 1 lemon tea dan no dessert.


"Kau yakin hanya memesan itu Leon? Bukankah kau sangat lapar? Kau tenang saja, aku yang traktir karna aku baru saja diberikan kartu hitam platinum dengan calon kekasihku, heng calon kekasih? Aneh!!" Decak Lexa masih melihat lihat buku menu.


"Iya itu saja!" Jawab Leon memutar bola matanya malas. Sejak tadi kondisi perasaan Lexa tak menentu. Mudah sekali berubah sesuka keinginannya.


"Baiklah, pelayan itu saja!" Akhirnya Lexa menyudahi melihat lihat buku menu dan mengembalikannya pada pelayan.


"Lexa? Kau ini sebenarnya kenapa hah? Jadi kau mempermasalahkan status iya?" Akhirnya Leon mulai berbicara yang ia bingungkan sejak tadi.


"Kalau iya?" Lexa menantang.


"Mengapa tak kau katakan sejak dulu? Sekarang begini saja, kau mau menjadi kekasihku atau tidak? Jawab sekarang!!" Tanya Leon arogan.


"Permintaan macam apa itu?" Dengus Lexa.


"Hah, kau protes juga kan? Makanya sabarlah dulu, aku akan mempersiapkan semuanya!" Protes Leon dengan respon Lexa.


"Baiklah baiklah! Jangan salahkan aku mood ku berubah ubah, salahkan Sherry cerewet itu! Aku curiga dia bukan anak ibunya, karna ibunya baik sekali dan sopan!" Lexa berdecih karna kesal tidak mendapatkan hadiah untuk adiknya Leon.


"Lexa bicaramu!" Leon memperingati.


"Ups, maaf! Ah jadi Leon aku sangat menginginkan flower crown itu!!!!" Lexa kini malah merajuk dan berkata jujur apa yang ia rasakan.


"Sudahlah tidak usah! Lexa, apa kita sebaiknya tidak pergi ke Springfield saja? Aku akan mengatakannya pada Tuan Dion. Dia pasti mengerti." Kata Leon mulai melemahkan nada bicaranya namun hatinya meringis.


"Apa maksudmu!"


"Ya, kapan kapan saja kalau dirimu sudah siap menemui semua keluargaku." Saut Leon dan menundukan kepalanya.


Dia akhirnya mengatakan kata kata ini. Dia merasa Lexa sangat terbeban dan ragu. Jadi, untuk apa memaksanya? Ya mungkin kedua majikannya yang memaksanya tapi Leon berpikir, Lexa menuruti karna perintah majikannya yang ingin membantunya. Dan, sepertinya dia memang harus menjadikan Lexa kekasih atau tunangannya dulu di sini supaya wanita itu yakin dan mau menemui keluarganya.


"Ada apa Leon? Mengapa kau mengatakan ini?" Seketika hati Lexa menjadi melembut.


Dia merasa Leon sangat sedih dengan keputusannya namun Leon juga tidak ingin menyakiti dirinya.


"Aku tidak mau kau merasa terbeban Lexa. Kau jadi sangat serius memikirkan semua cara agar keluargaku menyukaimu, padahal kau belum mengenalnya. Aku tidak mau kau sedih dan menjadi frustasi Lexa. Aku sudah putuskan, nanti setelah dari jalan jalan ini, aku akan membatalkannya pada Tuan Dion. Kau tenang saja ya?" Leon melirik Lexa dengan tatapan sendu.


Sudah cukup dia menyakiti dan memaksa Lexa terus menerus. Hatinya sakit jika melihat Lexa menekuk wajahnya atau emosinya menjadi tak menentu.


Lexa lalu memperhatikan lebih dalam lagi wajah Leon. Leon sungguh sungguh menyimpan kesedihan dan kekecewaan. Lexa jadi merasa tidak enak. Sudah seminggu ini sejak dirinya menyetujui ikut dengan majikannya besok ke Springfield, dia menjadi benar benar gundah. Dia tidak ingin namun juga ingin berlibur atau bertemu dengan ibunya Leon. Namun, mengapa dirinya jadi tidak tegas seperti ini. Dan, sekarang Leon malah memutuskan untuk tidak jadi pergi.


"Leonnn..." Panggil Lexa yang kini ia berpindah posisinya jadi di samping Leon. Dia mengalungkan tangannya ke lengan Leon.


"Leon, aku mau pergi kok. Buktinya aku sangat membeli semua hadiah untuk keluargamu. Kau jangan berpikir negatif. Memangnya salah jika aku gundah gulana seperti ini karna gugup akan bertemu dengam calon mertuaku hah? Kau yang bilang setelah itu akan menjadikanku istrimu, ya kan?" Lexa mencari cari wajah Leon yang masih menunduk. Leon lalu menatap Lexa. Wajah Lexa merona dengan pipinya yang semakin gembul karna akhir akhir ini Leon sering mengajaknya makan daging seperti ini.


"Kita jadi pergi ya? Kalau kau tak jadi, aku akan menjadi nyamuk. Kau sudah merasakan menjadi nyamuk Tuan Dion dan Pevi waktu itu kan? Jadi kau tahu kan kalau aku tidak pergi bersamamu ke rumahmu? Ayolah, jangan seperti ini lagi! Mengapa kau suka sekali membuat drama sih?" Kata Lexa lagi menggoyang goyangkan lengan Leon.


Belum saja Leon menjawab, ponsel Leon bergetar. Lexa ikut merasakannya karna Leon menaruh ponselnya di samping saku celana dekat Lexa duduk. Leon lalu merogoh saku celananya untuk mengangkat panggilan ponselnya. Ibunya yang menghubungi.


Percakapan Telepon Jane (ibu Leon) - Leon :


Leon : hay mom!


Jane : Leon? Apa kabar nak?


Leon : baik mom


Jane : ada apa dengan suaramu?


Leon : tidak mom, aku sedang menunggu makan siang


Jane : kau makan di restoran? Dengan siapa? Alexa?


Leon : (jantung Leon berdegup mendengar ibunya menyebut nama wanita yang ia cintai)


Leon : mengapa kau tahu?


Jane : aku tahu kau sudah mempunyai wanita yang hendak kau nikahi kan? Mengapa kau tidak ceritakan padaku? Angel saja tahu, mengapa kau tidak memberitahuku Danteleon ku???


Leon : kejutam mom! Kau tahu darimana? Aku tidak pernah bercerita dengan Angel.


Jane : Nyonya Rika yang memberitahuku waktu itu. Kau sedang dekat dengan asistennya menantunya. Benar begitu kan Leon?


Leon : iya mom!


Jane : aku yakin dia sangat cantik


Leon : ya mom, cantik segala galanya.


Seketika Lexa mendengar ucapan Leon yang melihatnya menjadi sangat terenyuh merasa Leon sangat romantis. Dia merasa kata kata cantik itu untuknya.


Jane : benarkah? Bisakah aku bicara padanya?


Leon : sebentar.


Leon lalu menaruh ponselnya di dadanya agar tak terdengar oleh ibunya kalau ia berbicara pada Lexa untuk bertanya maukah dirinya berbicara pada ibunya.


"Lexa, kalau kau tidak mau aku menghargai. Ibumu ingin bicara denganmu, kau mau?" Tanya Leon dengan wajah berserah dan siap kalau Lexa tidak ingin.


"Kau serius?" Seketika jantung Lexa berdegup. Dia seperti ingin berbicara pada ibunya.

__ADS_1


"Kau mau tidak? Kalau tidak biar aku mencari alasan." Leon memastikan.


"Aku mau!" Lexa langsung merampas ponsel yang Leon tutupi di dadanya.


Lexa : selamat siang Nyonya Janson. Saya Lexa (agak gugup namun tetap menormalkan suaranya)


Jane : kau Alexa?


Lexa : Lexa, Nyonya.


Jane : oh, nama panggilan yang manis. Jangan memanggil ku formal seperti itu!


Lexa : maaf aunty, oh maksudku Bibi


Jane : ya lebih baik. Jadi Lexa, kau sedang dekat dengan anak pertamaku yang nakal itu?


Lexa : begitulah Nyonya. Maaf maksudku bibi.


Jane : apa dia pernah membuatmu menangis


Lexa : sering bibi! Tidak maaf, maksudku tidak sering bibi


Jane : hum, dia itu memang sangat nakal! Kau tenang saja, aku akan membantumu untuk menghajarnya ketika pulang nanti


Lexa : ah iya bibi. Terimakasih banyak.


Jane : ya sudah, aku senang mendengar suaramu. Besok kita sambung lagi ketika kau sampai di sini bertemu denganku ya?


Lexa : baiklah bibi, aku tidak sabar


Jane : aku lebih lebih tidak sabar. Sekarang berikan ponselnya pada pacarmu yang nakal itu lagi Lexa sayang


Lexa : sebentar bibi


"Ini Leon! Ternyata kau dan ibumu bagai langit dan bumi. Dia begitu lembut dan kau? Sudahlah, ini ibumu mau berbicara denganmu lagi!" Lexa menyerahkan ponsel Leon sambil berceloteh membuat Jane di sebrang sana mendengarnya dan tersenyum senang. Akhirnya anak pertamanya menemukan wanita yang tepat baginya. Lexa begitu sopan baginya.


Leon meraih ponselnya dan Lexa kembali ke kursinya semula.


Leon : ya mom?


Jane : suaranya begitu merdu Leon. Dia sangat sopan padaku, berbeda dengan Solane, bahkan berbeda dengan wanita wanita disini yang selalu menanyakanmu.


Leon : begitulah mom


Jane : baiklah, jadi jam berapa kau tiba besok?


Leon : kami tidak jadi kesana mom!


"Leon! Kuhabisi kau, kalau sekali lagi mengatakan tidak jadi! Bicara yang benar!" Bisik Lexa seketika sambil mengepalkan tangannya mengarah ke pria yang dicintainya itu. Leon melirik Lexa dan akhirnya menyetujuinya lagi.


"Iyaaa!!!"


Jane : apa kau bilang? Kau tidak jadi pulang?


Leon : jadi mom!


Leon : iya mom sorry. Besok aku tiba sepertinya malam karna mendarat sekitar sore. Kau kan tahu berapa lama penerbangan Legacy ke Springfield? Tidak seperti ke Honolulu atau Oriental.


Jane : ya nak, aku sudah tidak sabar. Apa makanan kesukaan Lexa biar aku siapkan ketika kalian tiba


Leon : salmond steak saja mom


Jane : oh, kebetulan sekali ayahmu mendapatkan salmon segar tadi pagi. baiklah jaga dirimu dan hati hati nak. Kami sangat menantikan kalian!


Leon : kau bahkan tidak menanyai makananku tapi malah makanan kesukaan Lexa!


Jane : kau ini kekanak kanakan sekali. Sudahlah, sampai ketemu besok. Sampaikan salamku pada wanitamu ya?


Leon : oke mom


Jane : Tuhan memberkati


Leon : you too


Leon mematikan panggilan. Dan bersamaan dengan itu, makanan mereka tiba.


"Leon, mengapa aku menjadi kenyang?" Gumam Lexa membuat Leon menaikan alisanya kesal.


"Makan Lexa!!!! Kau ini benar benar membuatku kesaaall!!! Ayo cepat makan dan selesaikan pemburuan hadiahmu!" Decak Leon.


"Kita tetap pergi kan?" Selidik Lexa.


"Tak ada keraguan?" Leon memastikan.


Lex menarik napas dan mengatakan:


"Tidak!"


"Baiklah, sekarang makanlah!" Leon tersenyum, meraih pisau garpu dan memberikannya pada Lexa.


"Satu saja, sisanya bungkus!" Lexa si kelinci Leon itu masih berceloteh membuat si musang makin terkesal.


"Seharusnya mom menghubungiku setelah kau makan saja! Menyebalkan kelinci licik!" Umpat Leon pelan.


"Apa katamu?" Lexa melotot.


"Kelinci cantik!" Leon tersenyum mengatakannya. Mereka lalu memulai makan siang mereka dengan gurauan ringan dan sesekali saling menggoda.


...


Sementara itu di kediaman keluarga Atkinson. Jerry baru saja pulang dari pekerjaannya di Hotel Atkinson sekitar pukul 7 malam. Dia memberikan tas kerjanya pada asisten rumah tangga pribadinya untuk menaruhnya ke ruang kerjanya.


"Where is Dad, Jim?" Tanya Jerry sambil merenggangkan dasinya.

__ADS_1


"Di atas di ruang perpustakaan seperti biasa Tuan." Jawab Jim.


"Baiklah, aku akan menemuinya. Tolong kau siapkan dua teh hangat with lemon ya antar ke perpustakaan!" Perintah Jerry sebelum menaiki tangga.


"Segera Tuan!" Jim membungkukan tubuhnya dan menuju ke ruang kerja Jerry terlebih dulu sebelum membuat pesanan tuannya.


Jerry menaiki tangga dengan cukup bersemangat karna dia mendengar dari Jim siang tadi kalau Alexis sudah berbicara. Bahkan Alexis menanyai dirinya pada Jim.


"Dad?" Panggil Jerry menghampiri Alexis yang sedang menatap jendela dan memegang sebuah buku kecil.


Alexis menoleh dan tersenyum pada anak angkatnya itu.


"Jerry? Kau sudah kembali?"


"Ya Dad! Aku senang sekali kau sudah bicara. Bagaimana keadaanmu saat ini?" Jerry menghampiri Alexis dan berjongkok di depan ayah angkatnya itu.


"Baik! Aku menjadi lebih baik. Sepertinya aku merasakan kalau aku semakin dekat dengan orang yang sudah lama kucari, nak." Kata Alexis tersenyum menatap Jerry.


"Benarkah? Kau sudah mengetahui keberadaan anak perempuanmu?" Jerry ikut sumringah.


"Sepertinya. Namun, aku harus bertanya padamu sebelumnya."


"Ada apa Dad?


"Siapa yang memberikan darah padaku ketika aku tak sadarkan diri di tebing ketika aku menebar bunga untuk istriku, Jerry?" Tanya Alexis dengan tenang.


"Oh, dia seorang asisten temanku yang kemarin aku datang ke pernikahannya Dad." Jawab Jerry belum selesai.


"Dia sudah menikah?" Tanya Jerry yang ia maksud adalah Lexa.


"Oh, maksudku majikannya. Yang memberikan darahmu asisten temanku." Koreksi Jerry.


"Siapa namanya?"


"Alexa Luxurio"


"Katakan sekali lagi!


"Alexa Luxurio!"


"Bagaimana dengan teman wanita yang kau bantu ketika kita berjalan jalan di Big Plaza? Lex - Lex --" Alexis mencoba mencocokan.


"Lexa?"


"Iya dia!"


"Ya dia Alexa Luxurio wanita yang sama. Kau sepertinya menyukainya ya dad?" Tanya Jerry menerka.


"Karna dia anakku, Jerry! Tidak salah lagi!" Jawab Alexis dan kembali tersenyum yakin. Jerry membelalakan matanya menatap ayah angkatnya.


"Apa? Are you seriously, Dad?" Jerry kembali memastikan dan berdiri.


"Lihat ini!" Alexis menunjukan buku kecilnya yang di sana terdapat foto sebuah gadis kecil berambut bergelombang, berpipi tembem dengan senyum yang sangat manis. Sesaat senyum ini mengingatkan Jerry dengan senyum seseorang yang membuat hatinya hanyut. Ya, tidak lain adalah senyum Lexa.


Dan di bawah foto yang tertempel di kertas itu terdapat sebuah nama Alexa Luxurio.


"Oh God! Dad, aku lupa kalau nama awalmu adalah Alexis Luxurio, aku mengatakan padanya kalau kau bernama Alexis Atkinson seperti nama keluargaku. Lalu, bagaimana ini dad? Kau mau aku memberitahunya? Atau langsung mencarinya. Aku tahu di mana kantornya! Kau tidak menolak kan dad? Hanya ini yang akan menjadi kesembuhanmu, aku juga yakin kalau Lexa pasti sangat senang. Setauku dia tinggal sendiri dan merupakan anak perantauan dari Honolulu, dad!" Jerry langsung hendak bertindak karna yang dinantikan ayah angkatnya menemukan titik terang. Dan Jerry sangat merasakan ketika dia harus kehilangan kedua orangtuanya karna kecelakaan mobil.


"Ya nak, cari dia untukku dan aku akan mengatakan hal yang sepatutnya aku katakan untuk kebahagiaanmu dan anakku." Alexis mendukung, karna dia juga sangat ingin anaknya mengetahui kalau ayahnya masih ada.


"Apa itu dad?" Tanya Jerry dengan apa yang hendak ayah angkatnya katakan untuk dirinya dan anak kandungnya.


"Nanti kau juga akan tahu. Sekarang aku ingin beristirahat menyiapkan diri untuk bertemu anak perempuan ku dan menjelaskan semuanya." Alexis tampak antusias.


"Ya dad! Aku akan mengurusnya!" Kata Jerry penuh keyakinan. Akhirnya dia akan melihat Alexis lebih berbahagia.


Keesokannya sekitar pukul 9 pagi, Jerry mendatangi kantor periklanan Viena namun satpam mengatakan kalau kantor libur selama dua mingguan. Mungkin akan buka minggu depan. Kata sang satpam. Jerry bertanya mengenai rumah Lexa pada sang satpam tapi sang satpam tidak mengetahuinya. Dia akhirnya berinisiatif menemui Leon. Dia langsung mendatangi hotel Prime. Dia menemui resepsionis.


"Aku hendak bertemu dengan asisten Tuan Dion Prime, kalau tidak salah nama lengkapnya Danteleon Janson, bisakah nyonya?"


"Mohon maaf Tuan, tapi Leon sedang pergi bersama Tuan Dion ke Springfield." Jawab sang resepsionis, Elsa.


"Benarkah? Kira kira kapan ia kembali?" Selidik Jerry.


Elsa : "Tidak tahu Tuan, semua tergantung Tuan Dion."


Jerry : "Em, apa kau tahu dia pergi bersama siapa saja?"


Elsa : "Bersama istri Tuan Dion, nyonya Viena dan asistennya."


Jerry : "Lexa?"


"Ya Lexa, kekasih Leon. Ya, mungkin mereka seperti double date,hehe." Elsa terkekeh karna agak gugup menghadapi Jerry yang cukup tampan.


Namun kata kata Elsa seperti tamparan keras bagi Jerry. Sepertinya sudah terlambat dirinya melakukan pendekatan pada Lexa karna Lexa sudah dekat lebih awal dengan Leon ketimbang dirinya.


...


Yah gimana dong Tuan Jer? Makanya gaul sama bawahan juga dong jangan sama bos bos mulu hihi 😝😝


.


Oke next part 58


Yuk, uda jalan ke Springfield tuh jeng Lexa n bung leon 😍😍


Itu si Alexis mau bilang apa ya ke Lexa dan Jerry? Tebak tebak berhadiah aja dulu, nanti aku bahasnya sekitar beberapa episod lagi hihi 😁😁


.


Baeklah jangan lupa LIKE dan KOMEN


Bagi bagi lah poin klean sama si neng lexa n leon ini biar mana tau masuk 20 besar ga usah muluk muluk ranking atu hehe .. kasih ya RATE dan VOTE nya di depan profil novel 😊😊

__ADS_1


.


Oke tararengkyuuww and i love youuu 💕


__ADS_2