Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LEXA LEON PART 15


__ADS_3

Rico memperhatikan nyonya nya yang tampak lemah di depan nakas samping tempat tidur hotel itu. Kepalanya bersandar dan Bella tampak tak sadarkan diri. Rico segera menghampirinya. Sementara Solane masih di daun pintu melihat kepergian Lexa dan Leon. Tak lama dia menyadari Rico tidak ada lagi di dekatnya. Dia segera menoleh kembali ke dalam kamar. Rico sedang berjongkok memeriksa kondisi majikannya.


"Nyonya? Kau baik baik saja?" Tanya Rico menolehkan sedikit kepala nyonya nya. Dia dan juga tentu saja Solane terkejut melihat deraian darah pada pelipis kepala Bella. Mungkin karna hempasan Lexa terlalu kuat sementara dirinya dalam keadaan mabuk dan melemah, dahinya terantuk nakas tersebut.


"Rico! Cepat bawa ke rumah sakit!" Kata Solane sangat panik panik. Rico mengangguk dan menggendong nyonya nya dulu untuk dibaringkan ke tempat tidur.


Namun, ketika Rico merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya menghubungi ambulans, seorang pegawai seperti pesuruh pesuruh hotel memasuki ruang kamar itu dan memanggil Rico panik.


"Tuan Jerico Naraya, Tuan, gawat!" Kata sang pesuruh benar benar panik. Keringatnya sudah membasahi seluruh wajahnya.


"Kenapa? Kenapa kau seperti orang ketakutan begitu?" Saut Rico sedikit bingung.


"Itu Tuan, itu di kamar 1230. Rekan kerja Nyonya Bella bersama beberapa temannya terkapar. Satu pria sudah seperti overdosis dan beberapa yang lainnya tak sadarkan diri. Seluruh ruang kamar penuh dengan hawa asap tembakau dan alkohol Tuan. Sebaiknya segera periksa dan laporkan polisi, Tuan, sebelum diketahui polisi terlebih dahulu!" Kata sang pesuruh yang disusul oleh manager kamar yang juga ingin melapor pada Rico.


Solane mendelikan alisnya. Dia seperti berpikir dan merasa ada hubungannya dengan suaminya, Jimmy. Tanpa menunggu Rico merespon anak buahnya, Solane segera berlari menuju kamar dengan nomor 1230 tersebut.


Rico juga panik namun dia tidak bisa juga meninggalkan majikannya. Tidak! Dia harus bisa mengurusi semuanya.


"Manager Lou! Tolong kau panggilkan ambulans untuk nyonya Bella. Dia terjatuh dan kepalanya terbentur nakas. Sekarang ya? Biar aku memeriksa kamar 1230 dan mengurusnya." Kata Rico kemudian memberi perintah pada manager kamar bawahannya.


"Oh iya benar Tuan! Kita harus cepat supaya nama hotel kita tidak tercemar Tuan!" Tambah Manager Luo mengingatkan.


"Ya ya kau benar, aku segera mengurusnya!"


Rico segera menyusul Solane yang menuju ke ruangan 1230. Solane sudah sampai dan dia tak bergeming. Dia terpaku di sana memandang semuanya dengan menutup mulutnya tak percaya. Pesuruh tersebut benar. Hawa tembakau dan minuman alkohol begitu menyengat. Bukan hanya itu, aroma seperti serbuk serbuk obat obatan juga melintas di indera penciuman Rico. Rico segera berdiri di belakang Solane dan melihatnya.


Pantas saja Solane sangat sangat terkejut dan akhirnya dia tersungkur. Di sana Jimmy kepalanya yang sudah bersandar di sisi atas sofa dengan mulutnya yang berbusa. Dia hanya mengenakan kemeja yang kancingnya telah terbuka dan Jimmy sedang merangkul seorang wanita yang ternyata ada Sherly. Manager Jimmy ketika dia bekerja di perusahaan penerbangan tahun lalu. Bukan hanya itu, ada beberapa teman Jimmy sekitar 3 sampai 4 orang juga tak sadarkan diri.


"Tuan Rico, bagaimana ini? Kita harus segera melapor pada yang berwajib Tuan. Karyawan Ken sedang mencari Tuan Dion Prime, karna pria yang overdosis itu adalah anak buah Tuan Dion dan dia sudah tidak bernyawa Tuan!" Tutur seorang manager bernama Charles yang sudah memeriksa kondisi orang orang tersebut.


Rico menatap Manager Charles melotot. Dan saat itu juga pecahlah tangis Solane. Dia benar tak menyangkan akan menyaksikan seperti ini.


"Segera hubungi tim medis dan kepala polisi Ansel, Charles! Laporkan semua kejadian ini atas namaku Jerico Naraya, SEKARANG!!!"


"I, I, Iya, baik Tu, Tuan Rico!" Kata Charles terbata dan sedikit terkejut karna Rico mengeluarkan suara khas memerintahnya yang disegani oleh penghuni hotel. Rico sudah seperti direktur bagi semua pegawai hotel karna merupakan tangan kanan Bella.


Rico ikut berjongkok dan merangkul Solane.


"JIMMMYYYYYY!!!!!! KAU BENAR BENAR PRIA TERKUTUK! KAU BENAR BENAR MEMPERMALUKANKU! BAGUS SEKALI KAU MATI DAN MENINGGALKAN KAMI! KAU BENAR BENAR PRIA BEDEBAH! AKU BERSUMPAH KAU TIDAK AKAN MASUK SURGA! TIDAK AKAN!!!!! Huuuuuuuuuahhuhuuuu!!!! Kasihan sekali Jacklyn memiliki ayah sepertimu!!!! Dan bagaimana aku mengatakan pada ibumu!! AARGH JIMMY MENGAPA AKU BISA MENGENALMUUU!!!!" Kata Solane kemudian dengan berteriak, terisak dan menutup wajahnya.


Dia menyesali semua ini. Dia menangis parau dan malah memberikan umpatan pada suaminya. Dia kecewa terhadap suaminya dan juga cukup kehilangan karna kepergiannya yang tragis seperti ini. Solane juga menyayangkan mertuanya. Apa yang akan terjadi jika ibu mertuannya mengetahuinya?!


Rico benar benar tidak senang melihat kondisi ini. Hatinya terasa perih karna menyaksikan wanita yang mungkin sudah ia cintai menangis sesak seperti ini. Apalagi melihat Solane yang seperti sangat terpuruk dan seperti wanita yang tidak berguna. Wanita paling bersedih di dunia. Rico tidak tega. Dia pun memeluk Solane.


"Sudah Solane, sudah, aku di sini, tenanglah!" Kata Rico terus menenangkan Solane. Namun nyatanya Solane semakin menangis.


Tak berapa lama Charlers datang kembali bersama Karyawan Ken dan Dion. Dion yang paling sangat terkejut. Dia tidak menyangka kalau Jimmy masih tidak bisa berubah dan malah berulah seperti ini. Dion agak terkejut juga melihat Solane, istri Jimmy sudah di sini dan bersama Rico. Belum saja dia terheran dengan kedatangan Lexa.


"Solane? Kau juga kemari? Rico?" Selidik Dion.


Rico lalu berdiri melihat Dion dan sapaannya. Dia juga memapah Solane untuk berdiri. Rico membungkukan tubuhnya.


"Iya Tuan Prime. Aku dan Solane kemari mengantar Lexa hendak menemui Leon. Kami tidak menyangka kalau ternyata Jimmy seperti ini." Kata Rico yang kini memeluk Solane karna wanita itu masih menangis tersedu.

__ADS_1


"Aku juga sangat terkejut. Dia memang tadi tidak mengikuti makan malam. Dia ijin hendak menemui teman temannya yang sudah menunggu di kamarnya. Aku benar benar lalai membiarkan hal ini terjadi di hotel nyonyamu. Di mana sekarang Nyonyamu?" Kata Dion dan bertanya mengenai Bella. Pasalnya dia juga menghilang ketika sudah memastikan semua tamunya makan malam.


"Dia sedang dilarikan ke rumah sakit karna suatu insiden bersama Leon dan Lexa Tuan." Jawab Rico.


"Oh Tuhan! Mengapa jadi kacau seperti ini? Leon dan Lexa memang sedang bertengkar di kamar ku! Baiklah baiklah Rico, lebih baik kau bawa Solane pergi dari sini. Dia pasti shock dengan keadaan suaminya. Atau bawa dia langsung ke rumah sakit untuk data Jimmy. Biar semua orang ini aku yang urus untuk segera dilarikan di rumah sakit." Kata Dion lagi memegang dahinya. Dia agak frustasi.


"Ba, baik Tuan! Aku akan menenangkan Solane dulu."


Rico pun memapah Solane meninggalkan ruangan tersebut, sementara Dion di sana bersama para bawahan kepercayaan Rico. Dion juga menghubungi Ben untuk terbang ke Honolulu saat ini juga untuk mengurus pemindahan jenasah Jimmy ke Legacy.


...


Sementara Lexa masih terdiam di sana hendak keluar kamar hotel. Leon mengetahui isi hati istrinya. Istrinya merindukannya. Istrinya hanya salah paham dan sepertinya karna pengaruh kehamilannya yang pasti memicu emosinya. Leon tidak boleh gegabah, apalagi kembali ikut emosi. Ini malah hanya menambah besarnya api dalam hubungan rumah tangga mereka. Leon lalu menghampiri Lexa. Dia menarik tangan Lexa dan membalikan raga istrinya itu.


"Aku tidak akan mengkhianatimu Lexa! Ini semua salah paham. Aku akan menjelaskan semuanya. Tapi, biarkan aku memelukmu dan kau juga memelukku. Kau merindukanku kan? Pasti anak kita yang menguatkanmu sehingga kau tiba di sini untuk bisa berjumpa dengan papinya." Kata Leon kemudian masih memegang tangan Lexa. Lexa menatap Leon ketika Leon mengatakan kata papi. Lexa merasa Leon benar benar sudah siap menjadi seorang ayah.


"Papi?" Lexa memastikan dan bersiap ingin kembali menangis haru.


"Ya, bukannya kau mau anak kita memanggilmu mami? Jadi aku papi kan?" Jawab Leon menaikan satu alisnya.


"Leeeeooonnnn ...." Lexa sudah tidak tahan lagi. Dia memang begitu merindukan suaminya dan memang sebenarnya ini bukan salah Leon. Leon pasti menjelaskan hal yang masuk akal padanya.


Lexa akhirnya menyerahkan dirinya dalam pelukan Leon. Mereka berpelukan dan kini Lexa pun memeluk suaminya. Dia merasakan kehangatan tubuh Leon yangs seketika menjalar ke tubuhnya yang membuatnya lebih baikan. Lexa juga tidak merasa kembung dan mual lagi.


"Lexa, aku merindukanmu. Aku ingin sekali selalu mendengar suaramu. Dan sekarang kau lebih lebih membuatku bahagia." Tutur Leon mendekap erat tubuh Lexa sambil memejamkan matanya. Lexa malah menangis harus. Leon lalu menarik dirinya dan menghapus air mata Lexa.


"Sudah, jangan menangis lagi. Aku ingin berterimakasih padamu! Kau menyelamatkanku! Nyonya Bella memang sudah tidak waras! Aku juga salah karna terlalu baik padanya. Aku hanya kasihan Lexa, tidak lebih. Mana mungkin aku meninggalkanmu demi wanita sepertinya." Kata Leon lagi meyakinkan Lexa.


"Leon! Jadi kalau ada wanita yang lebih dariku dan seumuranku, kau mau?" Decak Lexa memastikan dengan sedikit kecemburuan. Di pun sudah menarik dirinya menatap tajam suaminya.


"Kau gombal terus Leon!! Aku sudah menjadi istrimu tapi kau selalu membuatku tak berdaya!! Huhuhuuu..." Dengus Lexa memukul pelan dada Leon.


"Hanya denganmu Lexa!! Jadi, apa kau sudah makan? Ayo kita makan di luar. Kita berjalan jalan menikmati kota Honolulu. Waktu itu kita pernah kesini tapi masih saling tidak mengetahui perasaan masing masing. Bahkan kau bilang, kau menyukai sesama jenis." Saut Leon mengingat beberapa tahun silam ketika mereka sedang pendekatan.


Lexa terkekeh. Leon senang, akhirnya istrinya tertawa dan menerima dirinya.


"Kau begitu mengingatnya Leon?" Tanya Lexa memastikan sambil mengucek matanya.


"Tentu! Semua tentangmu ada dibenakku Lexa, tidak akan sirnah sampai hanya Tuhan yang boleh merenggut ingatanku akanmu."


"Sudah Leon, nanti bisa bisa sekarang juga aku melahirkan." Pinta Lexa sudah sangat tersipu dengan kata kata manis suaminya yang semakin menjadi jadi.


"Mana boleh! Dia belum seharusnya keluar. Kita harus merawatnya sebaik mungkin. Agar tumbuh sehat dan tampan seperti papinya." Pekik Leon.


"Memang laki laki?" Selidik Lexa tersenyum kecil.


"Sepertinya, karna kau sangat pemberani dan menyeramkan Lexa!" Umpat Leon sedikit terkekeh.


"Leon!"


"Haha! Yasudah ayo kita pergi. Ajak Solane, Rico dan Jimmy juga. Mau?"


Lexa mengangguk dan kembali memeluk suaminya. Namun Leon seperti mendengar ribut ribut.

__ADS_1


"Kenapa di luar berisik sekali sih?" Sungut Leon bertanya tanya.


"Iya! Jangan jangan wanita simpananmu mengamuk Leon!" Balas Lexa asal.


"Lexa!"


"Ups maaf! Karna terlalu dekat dengan Solane dan Angel kenapa mulutku jadi ikut ikutan asal begini!" Lexa menutup mulutnya.


"Kau mengataiku!" Dengus Leon menatap tajam istrinya.


"Hehe, maaf Leon!"


"Sudah ayo coba keluar dulu!" Ajak Leon dan menggiring Lexa ke luar kamar hotel.


Ketika mereka keluar, Solane berlarian menangis memeluk Lexa. Sedangkan Rico dengan wajah bingung dan juga ikut berduka berada di belakang Solane. Membuat Leon seribu kali lipat terheran bersama istrinya juga.


...


...


...


...


...


Leon, ga usah Lexa yang mau melahirkan, diriku juga bisa hamidun lagi kalo dikau berpuisi indah begitu bauhahahaa 😍😍


Btw Solane, sabar yaa 😭😭


Aku paling nyesek kalo denger denger orang meninggal deh baik atau buruknya mereka 😭😭


.


Next part 16


Huhu, drama baru dimulai ..


Special Rico & Solane ya karna Leon & Lexa adem ayem dlu bentarann 😁😁


Tapi aku gabung aja part nya berlanjut ya karna tetep dalam alur ikut Lexa & Leon kok 😁😁


.


Uuuuwwaaaa aku kasih spoilerr!!!! 🙊🙊


.


Jangan lupa LIKE dan KOMEN nyaa ya


Kasih RATE dan VOTE juga di depan profil novel kan baruu nii mohon bantuannya hehe 😊😊


.

__ADS_1


Thanks for read and i love you 💕


__ADS_2