Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LEXA LEON PART 9


__ADS_3

Leon mendekati perlahan wanita itu. Rasanya dia ingin pergi dan kembali ke apartemennya, namun kondisi wanita itu agak kacau. Leon sedikit prihatin. Wanita itu mencengkram erat rambutnya sambil satu tangannya lagi terus memegang gelas wine. Dia meneguk wine tersebut tanpa memikirkan apapun.


"Nyonya Bella? Mengapa kau ada di sini? Kau yang menggunakan nama Tuan Dion?" Tanya Leon di samping Bella. Dia tidak berani menyentuhnya.


Bella lalu melirik Leon. Dia meletakan gelas wine nya dan langsung menarik Leon untuk memeluknya.


"Nyonya Bella, jangan seperti ini!" Kata Leon berusaha mendorong Bella namun Bella tetap ingin dipeluk. Dia menangis sampai Leon pun tak tega dan membiarkan wanita itu menempel dengan tubuhnya.


"Dimana Rico Nyonya? Mengapa kau tidak menyuruh Rico menjemputmu?" Tanya Leon tanpa memegang Bella.


"Leon, temani aku, aku kesepian, aku merindukan suamiku Leon!!" Kata Bella tersedu.


Leon tidak enak hati dan agak tersentuk karna tangis Bella yang begitu sedih. Leon pun merasakan bagaimana sesaknya merindukan orang yang kita cintai. Nyatanya Leon masih bisa bertemu dengan Lexa waktu itu, sedangkan Bella tidak bisa lagi melihat suaminya yang sudah meninggal.


"Oke nyonya! Tapi jangan begini aku mohon! Tidak sepantasnya kau memelukku seperti ini. Aku sudah memiliki istri dan sekarang ia mengetahui aku bekerja." Pinta Leon agar juga mengerti dirinya.


Bella lalu menarik dirinya dan kembali duduk di kursi bar itu.


"Maafkan aku Leon, maafkan aku menggunakan nama tuan mu untuk menemuiku. Aku tahu kau tidak akan mau menemuiku kalau aku katakan yang sesungguhnya." Kata Bella mensenyap wine nya.


"Karna kita tidak sepantasnya seperti ini nyonya. Mengertilah, aku sudah memiliki seorang istri dan aku begitu mencintainya." Ujar Leon mencoba memberi pengertian pada Bella.


"Kalau kau tidak punya istri, apakah kau mau bersamaku?" Tanya Bella tersenyum masih menikmati wine nya.


"Nyonya tolong, jangan seperti ini! Kau tidak bisa memaksakan hati seseoang. Kau ini sebenarnya kenapa? Kenapa kau tidak minta ditemani Rico?" Bantah Leon tidak mau membicarakan soal perasaan.


"Sejak tadi sore aku tidak bisa menghubunginya. Entah dia kemana." Saut Bella meneguk lagi wine nya.


"Jadi, apa yang ingin kau lakukan Nyonya? Sudahlah, ayo ku antar pulang!" Ajak Leon.


"Tidak! Terlalu sesak jika aku sendirian di tempatku! Aku jadi membayangkan hal hal indah bersama suamiku. Aku merindukannya Leon!" Kata Bella kemudian dan air matanya mulai menetes.


"Kau harus merelakannya Nyonya. Kau ingat dengan anakmu, dengan pekerjaanmu. Semua bisa membuatmu melupakan dan meng-ikhlaskan suamimu. Atau kau mencari teman pria yang bisa menerima kondisimu." Leon terus berusaha memberi pengertian pada Bella agar tidak frustasi dan merepotkannya.


"Sepertinya tidak Leon. Semuanya hanya menginginkan hartaku. Tidak ada yang tulus mencintaiku dan anak ku. Sudah beberapa kali aku berhubungan dengan pria namun lagi lagi mereka menginginkan warisan suamiku yang ditinggalkan untukku. Tidak ada yang paling baik selain suamiku Leon. Suamiku begitu baik. Dia seorang dermawan. Dia sangat kaya. Namun, adiknya sangat iri padanya. Adiknya menyukaiku dan dia hendak memperkosa ku Leon!" Bella mulai menceritakan kecelakaan yang menimpanya dan suaminya.


Leon memandangnya seksama. Leon hanya ingin mengetahui latar belakang Bella sehingga dia juga bisa mempunyai cara untuk menjauh. Semoga Leon dapat memberikan pengertian padanya sehingga Bella tidak mendekatinya lagi.


"Lalu apa lagi yang terjadi Nyonya?" Leon mulai penasaran.


"Adiknya hendak memperkosaku ketika aku mendatangi hotel. Suamiku sedang rapat. Aku menolaknya dan memukulnya sampai terjatuh. aku tidak bisa menghubungi suamiku. Aku melarikan diri menuju ke balkon atas. Aku tidak bisa berpikir lagi. Aku melihat ada tangga dan aku menaikinya. Dia terus mengejarku. Aku sudah tidak tahu harus bagaimana sampai dia benar benar akan memperkosaku, suami ku datang. Mereka berkelahi yang akhirnya suamiku terjatuh dari balkon atas itu!!" Bella melanjutkan dan menangis lagi. Dia menutup wajahnya mengingat kejadian yang sangat tragis itu.


Leon menjadi tambah kasihan.


"Sabar Nyonya, aku ikut berduka. Sekarang suamimu sudah tenang di surga. Kau harus merelakannya." Kata Leon yang akhirnya mendekatinya dan menepuk bahu Bella. Bella masih menangis. Dia sungguh merindukan suaminya yang mana dia merasa kalau Leon memiliki ketulusan sama seperti suaminya. Buktinya sekarang Leon tidak marah pada Bella kalau Bella menipunya. Leon malah mau mengantarnya pulang.


Tak lama Bella kembali menegak habis wine nya. Kepalanya sudah sangat berat. Dia sempoyongan dan hampir terjatuh. Leon menahannya.


"Kau sudah sangat mabuk nyonya. Mari aku antar pulang." Kata Leon merangkul pinggangnya.


"Leon, semoga kau selalu mau menemaniku. Aku sangat nyaman bersamamu Leon." Kata Bella memegang dada Leon. Dia mendongakan wajahnya ke Leon yang juga menatapnya. Lelehan air mata membuat Leon ikut bersedih. Bella malah mendekatkan wajahnya pada Leon hendak mencium bibir Leon. Leon lalu memalingkan wajahnya. Pria macam apa dia pikirnya. Dia hanya kasihan tidak lebih. Lexa juga sedang menunggunya di rumah.


"Nyonya! Jangan seperti ini! Ayo kuantar ke tempatmu!" Kata Leon sedikit membentak lalu memapah Bella masuk ke dalam mobilnya.


Di dalam mobil Bella tertidur. Leon tidak bisa membiarkan ini. Dia lalu menghubungi Rico berkali kali. Akhirnya Rico mengangkat.


"Di mana tempat tinggal nyonyamu?" Tanya Leon masih diparkiran club.


"Kenapa Leon? Apa yang di lakukan nyonya bella?" Rico agak cemas dan malah bertanya kembali.


Leon : "Kau kemana? Dia mabuk kau tidak ada menemaninya! Kau ini asisten macam apa?!"


Rico : "Maaf Leon! Ponselku tertinggal di mobil, aku lupa membawanya ke apartemen ku. Ini baru saja aku mengambilnya karna akan bersiap ke hotel. Nyonya Bella tinggal di hotel nya."


Leon : "Cepat kau ke hotelnya! Dia bersamaku, menyusahkan sekali! Kita bertemu di depan hotel kalian!"


Rico : "Ah iya oke Leon. Mohon maaf sebelumnya."


Waktu menunjukan pukul tiga pagi subuh. Leon sudah sangat lelah. Apa yang harus ia katakan pada Lexa nanti? Dia pasti menganggap Leon yang tidak tidak jika dia harus jujur. Dia hanya berharap semoga dia tidak bercerita pada nyonya nya. Leon pun menuju ke Belleza Hotel. Di sana sudah ada Rico yang menunggu di depan gerbang.


"Rico, bawa nyonya mu ini. Semua tubuhnya sudah bau alkohol!!" Kata Leon membuka kaca mobilnya.


Rico segera ke kursi penumpang satunya.


"Kau tahu Rico? Dia mengatas namakan Tuan Dion untuk bertemu denganku, bagaimana jika Lexa tahu?" Decak Leon ketika Rico membuka pintu mobil.


"Maafkan aku Leon. Dia sepertinya memang menyukaimu!" Ujar Rico mengatakan hal yang sebenarnya dan mulai menarik tubuh nyonya nya.


"Kau jaga nyonya mu baik baik. Aku tidak mau berhubungan dengannya! Kita hanya bekerja sama dalam bisnis, tidak bisa lebih!" Kata Leon tak senang.


"Oke Leon, aku akan terus memberinya pengertian." Kata Rico dan menggendong nyonya nya.


Leon menarik napas dengan semua kejadian ini. Semoga dia bisa lebih menjauh dari Bella. Dia harus kembali ke apartemen nya sebelum Lexa bangun.


Benar saja. Sesampainya di apartemen kira kira pukul empat pagi, Lexa belum terbangun dan Leon agak lelah. Dia kembali tertidur dengan masih mengenakan pakaian perginya. Dia menarik Lexa yang tidur meringkup ke sisi ranjang. Dia memeluk Lexa dan kembali tertidur.


"Kau sudah pulang? Bagaimana Tuan Dion?" Lexa melenguh merasakan gerakan Leon yang pulang.


"Eeemmm..." Hanya itu suara Leon dan dia kembali tertidur. Lexa pun ikut tertidur.


Kira kira pukul lima tiga puluh pagi, alarm Lexa berbunyi. Dia mendongakan kepalany dan menatap Leon yang begitu nyenyak. Dia jadi tidak tega membangunkannya. Lexa tersenyum lalu mengecup bibir Leon. Lexa pun bangun. Dia bersiap membuat sarapan dan membersihkan dirinya. Kira kira pukul setengah delapan pagi dia menyelesaikan semuanya dan hendak membangunkan suaminya.


Sebenarnya dia ingin pergi bersama Leon, namun Abby sudah menjemputnya karna Viena sudah mulai masuk dan hendak mengadakan rapat bersama. Rapat dimulai pukul 10 pagi agar selesai sampai makan siang. Viena pun sudah menyiapkan makan siang untuk para pekerjanya.


"Sayang, bangunlah, kau juga harus ke kantor kan?" Lexa dengan balutan pakaian kerjanya membangunkan suaminya.


"Engg, sebentarr lagi Lexa, aku sangat mengantukk!!!" Saut Leon masih memejamkan matanya dan meringkup meraih guling tidurnya.


"Baiklah, ini sudah setengah delapan pagi. Kau masih punya waktu satu jam. Aku sudah menyiapkan sarapan. Chicken steak kesukaanmu. Aku pergi duluan ya? Abby kebetulan melewati apartemen kita. Oke?" Kata Lexa lagi mengecup kening Leon dan berlalu.


"Ya ya hati hati. Kabari aku jika mau makan siang bersama!" Ucap Leon masih memejamkan matanya.


"Aku makan siang di kantor Leon, karna Nyonya Viena sudah masuk, oke? Sudah ya? Jangan lupa jemput aku saja nanti sore!!" Jawab Lexa segera menghambur pergi ke kantornya.


"Eemmmm.." balas Leon. Sesaat Leon mencerna kata kata Lexa.


~Nyonya Viena sudah masuk.~ guman Leon dipikiran Leon. Dia membelalakan matanya. Tak berapa lama Leon langsung terduduk dari tidurnya. Dia belum mengatakan apa apa pada Lexa masalah tadi pagi subuh. Bagaimana jika dia bertanya pada istri tuannya.

__ADS_1


"Lexaaa!!!" Panggil Leon beranjak dari tempat tidurnya namun terlambat, Lexa sudah pergi.


"Tidak bisa, aku harus mengatakan padanya!" Kata Leon lalu meraih ponselnya di meja rias Lexa.


"Sial sial!"


Leon kesal karna ponselnya kehabisan baterai. Dia pun mengisinya terlebih dahulu. Dia hanya berharap Lexa tidak bertanya apa apa pada Viena. Leon lalu membersihkan dirinya terlebih dulu. Dia kembali melihat ponselnya setelah membersihkan dirinya. Dia menyalakannya yang sudah sedikit terisi. Dia menghubungi Lexa namun Lexa tidak mengangkatnya. Leon masih menghubungi ternyata ponsel Lexa tertinggal di meja ruang tamu. Lexa terburu buru ketika Abby mengatakan sudah di bawah apartemen.


"Baiklah, kau tenang Leon. Kau hanya perlu menjemputnya ke kantornya dan mengatakan yang sebenarnya. Jangan sampai ada kesalahpahaman!!" Gumam Leon. Dan dia berjalan ke dapur. Dia malah mengemas sarapan yang sudah Lexa buatkan agar ia makan di kantornya saja.


Ketika dia hendak mengunci apartemennya dan ke kantor Lexa dulu, Ben menghubunginya.


"Apa?" Jawab Leon pada sambungan telepon.


"Galak sekali kau!" Dengus Ben di seberang sana.


Leon : "Aku sedang di ujung tanduk!"


Ben : "Rapat pukul sepuluh pagi dengan Tuan Jeremy dan Tuan Dion. Tuan Dion mengadakan jamuan makan siang ucapan syukur karna kesehatan Nyonya Viena paska melahirkan."


Leon : "Aahhh iya iya, aku mau ke kantor Lexa dulu."


Ben : "Leon, Tuan Jeremy menyuruhmu dan aku memesan kue keju yang biasa ia pesan. Katanya kau yang tahu. Aku sudah di bawah apartemenmu, cepat kau turun!"


Leon : "Hey! Tadi istrimu menjemput istriku, sekarang kau yang menjemputku! Memang kau tidak pergi bersama?"


Ben : "Tidak, Abby mengendarai mobilnya sendiri, ya memang kita berempat yang disuru mengurus makanan untuk makan siang nanti. Ada beberapa kolega yang diundang Leon!"


Leon : "Siaaaalll!!! Baiklah aku ke bawah!"


Leon menutup pintu apartemennya dan menguncinya.


Ben : "Kau ini kenapa hah?"


Leon : "Aku terjebak di sebuah kawah api berdarah yang terdapat ular beludak di dalamnya! Kau mau bertukar posisi denganku?"


Ben : "Tidak! Cepat kau ke bawah, memang rumor itu benar kau dekat dengan Nyonya Bella?"


Leon : "Sialan kau Ben! Diam kau di bawah!"


Ben : "Cepatlahh!!!"


Leon segera ke bawah dan pergi bersama Ben. Leon menunjukan toko kue langganan Tuan Jeremy.


"Ben, bisakah aku meminjam ponselmu untuk menghubungi Abby? Aku harus bicara pada Lexa!" Pinta Leon yang berada di kursi penumpang depan.


"Pakai saja!"


Leon segera meraih ponsel Ben yang berada di tempat antara mereka berdua. Namun benar benar naas. Abby tidak mengangkat panggilannya. Abby dan Lexa sangat sibuk mengurus makanan yang diperintahkan Viena. Sebenarnya Lexa sudah tahu, tapi dia lupa mengatakannya pada Leon.


Akhirnya Leon menyerah. Entah apa yang akan terjadi malam nanti. Leon akan menjelaskan semuanya. Dia berharap Lexa mengerti dengan keadaan pagi subuh tadi.


...


Benar sudah perkiraan Leon. Selagi makan siang dan seperti biasa Lexa mendekati Dior dan menggendongnya, dia bertanya basa basi pada Viena.


"Nyonya, bagaimana keadaan Tuan Dion? Kenapa semalam dia mabuk? Kau tidak bersamanya?" Tanya Lexa tampak tenang sambil bercanda dengan Dior.


"Mabuk?" Selidik Viena.


"Hehem. Tuan Dion menghubungi Leon agar menjemput suamimu." Gumam Lexa.


"Mabuk apa Lexa? Dion sepulang kerja bersamaku. Kami memang pergi ke rumah mertua ku. Tapi setelah itu kami di apartemen kami. Tadi pagi saja dia yang mengantarku. Kau ini apa? Kau bermimpi ya?" Saut Viena menjelaskan apa yang ia lakukan bersama Dion kemarin setelah Dion pulang kerja.


"Hah? Tapi benar Leon mendapat kabar dari suamimu untuk menjemputnya Nyonya." Kata Lexa lagi meyakinkan kalau pendengarannya tidak salah. Hatinya seketika mulai gelisah.


"Mungkin kau salah dengar Lexa." Ujar Viena.


"Tapi dia pergi nyonya!! Aahh, kenapa dia aneh sekali? Membuatku pusing saja!" Decak Lexa benar benar merasa tidak salah.


"Nanti kau tanyakan saja. Mungkin ada salah paham. Jangan terlalu memikirkan!"


"Hem, aku agak curiga. Nyonya, kata Solane, ada seorang janda yang sedang mendekatinya. Apa janda itu yang menghubunginya? Tapi Leon mengatakan Tuan Dion, nyonyaa!!!" Dengus Lexa merajuk.


"Kau jangan berprasangka buruk dulu, sebaiknya nanti kau tanyakan. Oke? Sebentar aku harus memberi kabar pada Dion." Kata Viena dan menuju ke ruangannya sementara Lexa masih menggendong Dior di ruang pertemuan mereka.


Lexa tampak muram dan bertanya tanya. Mengapa Leon berbohong padanya? Nyatanya dia tidak menemui tuannya. Lalu siapa yang ia temui? Semua pertanyaan itu bergejolak dalam hatinya sampai Rico menghampirinya. Viena mengundang beberapa koleganya termasuk Belleza Hotel yang memberikan proyek dengan anggaran dan bonus terbesar. Lexa juga sudah melihat Rico, namun belum ada kesempatan untuk saling menyapa karna Lexa harus terus mendampingi Viena.


"Ini anak nyonya Viena, Lexa?" Tanya Rico menyapa dan megelus punggung Dior. Lexa masih terdiam memikirkan suaminya. Rico menyadari karna Lexa tidak menjawab pertanyaannya.


"Lexa!!" Panggil Rico agak meninggi.


"Ya ya? Kenapa? Kau? Sejak kapan kau mendekatiku?" Decak Lexa karna hatinya ya g sedang tak menentu.


"Sejak beberapa jam yang lalu! Cih, kau ini kenapa? Melamun tak jelas setelah berbicara dengan bos mu!" Rico kembali berdecih.


"Tidak apa apa Rico, aku hanya memikirkan Leon." Gumam Lexa masam.


Seketika Rico meneguk ludahnya. Lexa pasti mencurigai masalah pagi tadi.


"Ada apa dengan Leon?" Rico berpura pura tidak tahu dan memang tidak ingin memberitahu. Biar Leon saja yang mengatasinya bersama istrinya.


"Em, entahlah, agak berbeda. Sejak dia lama sekali menjemputku waktu itu, lalu sering melihat ponsel dengan mengernyitkan dahinya tak suka, namun tiba tiba memanjakanku. Dan tadi subuh dia membohongiku. Hem, aku harus mengintrogasinya. Ada yang tidak beres!" Kata Lexa yang kini menunduk bersedih.


"Kau jangan berburuk sangka dulu Lexa. Ya, sebaiknya kau bertanya padanya baik baik. Suami istri harus saling terbuka."


"Ya kau benar. Eh, kenapa kau sendiri? Mana bos mu? Bukannya Nyonya Viena mengundang Nyonya Bella?"


"Itulah, Nyonya Bella menghadiri acara makan siang suaminya bos mu. Kan dia juga mengadakan. Jadi kami bagi dua!"


"Ah iya kau benar!"


"Solane tidak datang Lexa?" Tanya Rico yang merasa ada yang kurang dengan acara makan siang ini.


"Hem, kenapa kau menanyainya? Nanti kalian bertengkar!" Celetuk Lexa.


"Tidak! Dia kan model iklanmu, aku malah takut kalau dia datang!" Rico terkekeh.

__ADS_1


"Tadi Abby sudah menghubunginya, katanya dia tidak bisa. Tadi malam, Jacklyn demam dan dia harus membawanya sekarang ke rumah sakit." Kata Lexa memberitahu.


"Kau serius Lexa?" Seketika mengapa Rico menjadi panik, namun dia menetralkan dirinya.


"Ya, Jimmy sangat sibuk jadi dia sendiri yang membawa anaknya. Hem kasihan sekali."


"Ya, meskipun dia menyebalkan tapi dia ibu yang hebat! Aku jadi mengingat ibuku!"


"Memang ibumu?" Selidik Lexa.


"Dia sudah meninggal. Hem, sekarang aku hanya tinggal bersama dua orang adikku. Nyonya Bella yang seperti ibuku." Jawab Rico tersenyum masam.


"Ah kau benar. Baiklah Rico sepertinya aku harus mengantar Dior pada ibunya, sepertinya dia haus." Kata Lexa kemudia hendak menuju ke ruangan Viena.


"Baiklah, ingat Lexa, kau harus baik baik saja dengan Leon!" Rico kembali memperingati karna ada hubungannya dengannya.


"Tenang saja."


Lexa lalu menuju ke ruangan Viena. Dia akan mencoba berpikir positif meskipun sulit. Hatinya sangat takut kalau kalau Leon akan mengkhianatinya. Dia memang harus berjaga jaga. Ketika Leon menjemputnya, dia akan langsung bertanya.


...


Sementara di ruang rapat kantor hotel, Leon dengan wajah mengantuk dan tak selera. Dia hanya meminum air soda dan duduk di pojok ruangan.


Tiba tiba Bella menghampirinya.


"Leon?" Panggil Bella tersenyum. Leon mendongak dan sangat terkejut.


~Tidak Leon! Kau tidak boleh terlihat bercakap cakap padanya!~ kata Leon dalam hati. Dia lalu berdiri.


"Halo Nyonya Bella. Aku harap kau menikmati santap siangnya." Ujar Leon berbasa basi singkat.


"Ya, aku sangat menikmatinya." Gumam Bella memain mainkan gelas minumannya.


"Em, baiklah itu bagus. Sepertinya aku masih ada urusan. Saya permisi nyonya." Ujar Leon lagi lalu meninggalkan Bella. Bella mengernyitkan dahinya sebal. Namun, tak berapa lama dia menyeringai.


"Kau tidak bisa menghindar dariku Leon, aku akan mendapatkanmu!" Gumam Bella.


Leon lalu menuju ke ruangan dan sangat kebetulan, Dion sudah menunggunya di ruangannya bersama Jimmy. Ketika Leon masuk ke ruangan Dion, tampak Jimmy tersenyum senyum memainkan ponselnya.


"Sudah di rumah berhubungan, di kantor juga, kalian ini selalu mesra!" Kata Leon menggoda Jimmy. Leon mengira Jimmy saling mengirim chat atau pesan dengan Solane.


"Kau Leon! Ini temanku, bukan Solane!" Decak Jimmy agak terkejut dan salah tingkah.


"Oohh, tidak apa jika tidak mau jujur!" Goda Leon.


"Sudah Leon, jangan menggodanya. Kau ini darimana?" Sela Dion pada Leon.


"Aku di ruang rapat. Kau yang tiba tiba menghilang." Dengus Leon tak terima.


"Baiklah, jadi aku memanggilmu dan Jimmy akan memberi tahu tentang keberangkatan kita ke Honolulu." Kata Dion kemudian.


Deg! Perasaan Leon tidak enak. Dia ingat dia akan ke Honolulu untuk melakukan survei perusahaan perusahaan besar yang hendak bergabung dengan saham Prime Group. Salah satunya Belleza Hotel. Bella pasti ikut. Pikir Leon. Apa sebaiknya dia tidak usah ikut. Ini untuk meminimalisir kemungkinan untuk bersama.


"Eng, Tuan Dion, apakah boleh kalau aku tidak ikut?" Pinta Leon menunduk namun sedikit melirik.


"Tidak! Kau harus ikut! Kau harus memberitahu pada Jimmy, Leon!" Dion menolak.


"Tapi Tuan, masa kau tidak tahu yang menjadi ketakutanku?" Gumam Leon memberi kode.


"Tenang saja, ada aku. Kita menginap di Resort Prime saja." Saut Dion mencoba menenangkan asistennya.


"Benar?"


"Ya benar, kau tenang saja, ada aku dan Jimmy." Dion terus memastikan, karna hanya Leon yang sangat tahu kinerja asisten yang mengurusi saham karna Leon sudah melakukannya.


"Baiklah baiklah!" Leon mengalah dan menyetujuinya. Dia pun harus mencari kata kata yang bisa meyakinkan Lexa kalau dirinya tak akan berpaling.


Namun ternyata Bella mendengar percakapan mereka.


"Heng, Dion Prime! Kau sungguh ingin menghalangiku ya?! Aku tidak akan membiarkan kalian menginap di tempat lain selain di hotelku! Leon, kau harus menjadi milikku!!" Gumam Bella tersenyum licik.


...


...


...


...


...


Hoaaam, aku ngantukk kalo si nyonya bella ini menyeringai mulu, awas kering tu bibir 😁😁😴😴


.


Next part 10


Apa Leon dan Lexa akan bertengkar?


stau tune gaes hehe


Hem, apa yang kalian lakukan jika di posisi Leon?


Masa iya keluar dari kerjaan 😁😁


.


jika diijinkan jadi ranking di 20 besar, berikanlah poin kalian pada lele 😁😁


kasih vote ya di depan profil novel 😍😍


.


jangan lupa LIKE KOMEN yang banyaaak buat smangatin akuu .. kasih rate juga bintang kejora 5 hehe di depan profile novel jugaa 😘😘


.

__ADS_1


thanks for read and i love youu somuchhh 😍😍


see you 💕💕


__ADS_2