
Malamnya, Leon memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Sore itu mungkin karena mereka terlarut suasana dimana mereka berdua, Leon dan Lexa saling mengkhawatirkan satu sama lain. Sejatinya, Leon tidak mau mengambil mahkota kesucian Lexa sebelum mereka melangsungkan sebuah acara sakral. Leon tidak mau harus mengalami kegagalan cinta lagi, dan ini kali pertama bagi Lexa. Jadi, dia tidak mau mengecewakan perempuan istimewanya.
"Kau tidak mau menginap? Ini sudah sangat larut, kau tidak takut dijalan ada apa apa?" Tanya Lexa menghantar Leon sampai daun pintu.
"Kau tidak takut kalau kalau kita melakukan sesuatu yang besok pagi kau akan pegal pegal hah?" Balas Leon menyeringai menatap Lexa dengan tatapan nakal.
"Pegal pegal apa? Kau saja tidak kuat menggendongku karna satu tikus sialan itu!" Decak Lexa masih kesal dengan tikus hitam perusak suasana itu.
"Kau meloncat tiba tiba, bagaimana aku bisa menggendongmu dengan benar? Jadi apa kau mau mencoba aku menggendongmu lagi ke kasur mu? Kulihat kasurmu sepertinya empuk," Leon menaik turunkan alisnya menggoda Lexa. Sontak wajah Lexa memerah bak tomat.
"Tidak usah! Kasur ku keras seperti papan, yasudah kau pulang sana, hati hati," jawab Lexa sedikit cemberut. Leon tersenyum nakal dan masih memandangi kekasih hatinya yang belum sah itu.
"Besok tidak usah menjemputku, Abby akan menjemputku, kami hendak ke stasiun tv mengurus iklan Tuan Revo," imbuh Lexa lagi.
"Baiklah, kau hati hati, kalau butuh aku, segera hubungi aku, oke?" Leon mengelus puncak kepala Lexa. Lexa mengangguk pelan. Dalam hatinya getaran cinta semakin terasa, semakin hangat dan bahagia.
...
Leon telah bersiap mengantar Dion menuju kantor agency milik Marcel, saudara sepupu Revo. Dia membantu tuannya hendak menyelidiki kejanggalan iklan yang di produksi oleh perusahaan iklan Lexa atau lebih tepatnya perusahaan iklan mantan tuannya.
"Hem, beginilah jadinya, kalau masih membayangkan cinta lama, pembawaanya jadi emosi, sensi, sok sok tegas. Lebih baik sepertiku, bebas, dan dengan tenang bersama Lexa, ya walau Solane masih mengganggu, bagaimana keadaan ayahnya ya?" Gumam Leon menunggu tuannya datang sambil duduk di atas kap mobil type sedan sporty milik tuannya.
"Sepertinya ayah Solane emosi, sensi dan sok tegas, jadi dia sampai masuk rumah sakit, karna ulah mu!" Dion yang sudah mendengar semua gumaman asisten kepercayaannya tentangnya telah bertandang di belakang Leon. Tepatnya di samping kaca spion mobil.
"Ah Tuan, maaf tuan, aku tidak tahu kau sudah datang," Leon terkesiap dan menggaruk garuk kepalanya.
"Jadi kalau aku belum datang kau akan terus menyalahkan diriku karna hanya mau membantu Viena, begitu?" Tandas Dion menajamkan tatapannya pada Leon.
"Maaf tuan, maksudku itu Solane Tuan," Leon masih berusaha berdalih.
"Ya memang, kalau manusia masih membayangkan cinta lama memang seperti Solane, ya kan? Cepat antar aku!" Decak Dion memasuki mobilnya di kursi penumpang, sementara Leon salah tingkah dan tidak berani berucap lagi. Dia lalu memasuki kursi pengemudi dan mengantar tuannya ke tujuannya.
Mereka telah sampai di kantor agency Marcel. Dion hendak membuat perhitungan pada Marcel yang telah berbuat licik pada Viena. Dengan memanfaatkan Revo yang mana Viena tidak tahu apa hubungan Revo dengan Marcel. (Bisa dibaca di mantan terindah hehe)
Dion menyuruh Leon yang menanyakan pada sekertarisnya sementara dirinya duduk menunggu di sofa tunggu. Ternyata, Marcel sedang tidak di tempat, namun ketika Leon bertanya, Leon agak mendengar beberapa karyawan disana membicarakan mengenai peluncuran iklan Revo yang akan ditayangkan malam ini atau besok.
Dion tampak kesal karna tidak bisa menemui Marcel. Dion memutuskan untuk kembali menemui Viena dan mengingatkannya kembali. Mereka menyusuri lantai kantor agency yang terdapat tiga lantai itu. Ketika mereka melewati ruangan pelatihan talent, mereka mendengar suara riuh sedang membicarakan sesuatu mengenai iklan. Dion terhenti seketika dan memberi kode pada Leon untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Disana terdapat kursi panjang di depan ruangan itu. Dion menunggu disana dengan memangku kakinya dengan kaki satunya dan melipat tangannya di depan dadanya.
"Wah, Nona Isa sungguh berani ya? Dia benar benar memainkan perannya sebagai model iklan itu dengan sangat menjiwai!"
"Iya, dia sangat berani, pasti bayarannya sangat mahal!"
"Tentu, Tuan Marcel menjanjikan mobil, rumah dan perjalanan ke luar kota, aku jadi iri,"
"Kau iri? Aku tidak mau, hanya karna harta dia rela mempertontonkan aset pribadinya ke semya khalayak, hem bagaimana perasaan Tuan Revo ya kekasihnya?"
Leon mendengar celotehan beberapa model amatir itu melalui pintu ruangan itu. Ketika Leon masih mendengarkannya, pintu terbuka dari dalam mengenai wajah Leon. Seorang wanita membukanya tanpa mengetahui keberadaan Leon.
"Leon? Sedang apa kau disini?" Tanya seorang wanita yang pernah menjadi bagian hidupnya dulu, tidak lain Solane.
__ADS_1
Leon yang masih belum menyadari keberadaan Solane, merintih memegang hidungnya yang terkena handle pintu.
Dion yang melihatnya merasa sedikit kasihan dan hendak membantunya namun dia melihat Solane yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup Leon hanya berdiri melihat mereka berdua.
"Leon, kau tidak apa apa?" Tanya Solane mencari cari wajah Leon yang membungkuk memegangi indra penciumannya.
Leon melambai pada Solane menandakan kalau dia tidak apa apa. Sementara Dion masih memandangi mereka berdua.
"Solane, kau sedang apa disini?" Leon telah menegakan badannya walau masih memegangi hidungnya.
"Aku? Bekerja disini," jawab Solane dengan wajah sumringah karna bertemu Leon tanpa Lexa.
"Leon, aku akan menunggu di basement, jangan terlalu lama dan mencari masalah pada wanitamu!" Pekik Dion dan berlalu meninggalkan Solane dan Leon.
"Tuan, aku tidak -- "
"Leon, mengapa kau hendak menghindariku?" Solane menahan pergelangan tangan Leon.
"Mengapa kau disini? Mengapa kau bekerja?" Tanya Leon kemudian. Leon tampak sinis dan memperhatikan Solane dari ujung kepala sampai kaki.
"Aku hanya kerja praktek, menjadi mentor para model pemula untuk mendapatkan sertifikat dunia modeling internasional. Kau kan tahu, aku sangat menginginkannya," jawab Solane sendu. Dia menunduk dan tersirat kondisi ayahnya.
"Ah iya, itu memang obsesimu, jadi kau jangan lagi mengangguku dan Lexa. Kamis sudah sering salah paham karnamu," imbuh Leon menatap Solane tajam yang dihiraukan oleh Solane.
"Iya, aku mengerti, tapi Leon," Solane mendongakan kepalanya.
"Ada apa? Bagaimana kondisi ayahmu?"
Akhirnya Leon menyetujuinya. Leon akan mencari waktu untuk menemui ayah Solane dalam waktu dekat. Solane tersenyum mendengar ucapan Leon dan dia berlalu.
Leon segera menghampiri tuannya yang telah menunggu di basement.
"Apa yang kau dengar?" Tanya Dion hendak mengetahui informasi apa yang Leon dapatkan dengan menguping tadi.
Leon memberitahu apa yang ia dengarkan tadi. Dia menjelaskan bahwa ada unsur unsur aset pribadi sang model yang digunakan iklan tersebut. Leon mencurigai kalau pihak Marcel maupun Revo mengubah seluruh video iklan tersebut. Sehingga nantinya akan mempermalukan iklan itu sendiri dan yang pastinya perusahaan iklan milik mantan tuannya itu.
Dion teramat kesal dan memutuskan untuk menemui Viena. Leon menyetujui ide Dion karna dia juga hendak menemui Lexa. Mungkin, Lexa sudah pulang karna hari memasuki jam makan siang.
Mereka sampai ke perusahaan iklan Viena, namun Viena sedang tidak ada di tempat.
"Maaf Tuan, Nyonya Viena dan Lexa sedang tidak di tempat. Nyonya mengatakan ada urusan dan dia tidak mengatakan kemana dirinya pergi. Sedangkan Lexa masih mengurusi iklan Tuan Revo si stasiun TV, Tuan," tutur Lucy memberikan informasi pada Dion dengan sangat sopan.
Dion langsung berbalik dengan hawa yang penuh emosi dan sedikit gemas. Apakah Viena menghindarinya? Pikir Dion dalam hati.
"Tenang Tuan, masih ada waktu, sekarang aku akan mengantarmu ke hotel dan aku serahkan semuanya padaku, semoga iklan itu tayang besok atau bisa di blokade oleh Lexa," Leon menepuk bahu tuannya. Dion menoleh ke arah Leon. Dia mengangguk pelan dan berjalan menuju mobilnya.
Leon menurunkan Dion sementara dia langsung menuju stasiun tv yang sudah diberitahukan Lucy sebelumnya. Dia menghubungi Lexa dan Lexa mengatakan masih disana.
"Semoga waktunya masih sempat aku membantu Tuan Dion, sehingga Tuan Dion tidak harus menuangkan semua amarahnya padaku pada Renzy. Belum lagi kalau pacarnya Nyonya Pevi tahu hubungan Tuan Dion dan Nyonya Viena yang rumit ini. Ah, aku tidak sanggup membayangkannya!!" Pekik Leon ketika menuju di stasiun tv.
Leon tiba di stasiun tv dan menemukan Lexa dan juga Abby duduk di sebuah kantin yang terdapat di dalam stasiun tv itu. Lexa tampak murung, begitu juga dengan Abby yang tak bergairah bekerja.
__ADS_1
"Ada apa Lexa?" Leon langsung bertanya ketika menghampiri Lexa dan Abby.
"Aahh, Leon, kau semangat kami, mengapa kau semakin tampan? Apa Lexa sudah menerimamu? Kalau dia tidak mau, aku mau dengan senang hati," ujar Abby menggoda Leon.
Leon menoleh ke arah Abby dan mengedipkan matanya.
"Tenang saja, aku akan menghubungimu kalau sahabatmu ini memberikan ku lampu merah, kau mau menunggu kan?" Leon bergurau membuat Lexa makin menekuk wajahnya.
"Dengan senang hati asisten tampan," Abby menepuk lengan Leon yang bersandar di meja.
"Masih saja kau kecentilan seperti ini Abby, bagaimana dengan iklan itu? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Nyonya Viena," decak Lexa sedikit memucat.
"Ada apa Lexa? Kau sudah tahu iklan video itu?" Tanya Leon sudah menampilkan wajah serius pada Lexa.
"Dengar Leon, jadi iklan yang default kemarin sudah ditarik oleh pihak Tuan Revo, dan tadi malam mereka menggantinya tanpa konfirmasi dariku. Ketika aku hendak memeriksa iklan tersebut, pihak stasiun tv tidak memperkenankan aku maupun Abby tanpa persetujuan kantor agency Tuan Marcel. Apa hubungannya? Kurasa mereka semua masih pemula, dasar pecundang!" Umpat Lexa penuh amarah.
"Sudahlah Lexa, kita menunggu saja, semoga bukan iklan yang tidak tidak. Ayo kita kembali ke kantor? Asisten tampanmu sudah datang," saran Abby menghabiskan minuman yang ia pesan.
"Baiklah, ayo Leon," ajak Lexa sangat tidak bersemangat. Dia benar benar bertanggung jawab akan iklan ini.
Leon merasakan hawa kecemasan dalam diri Lexa. Dia lalu merangkul bahu Lexa agar lebih tenang. Dan, benar saja, hati Lexa agak melunak dan dingin kembali. Dia merasakan sesuatu yang merasuki tubuhnya agar tidak mengalami kekhawatiran yang berlebihan. Abby jalan di depan mereka jadi dia tidak menggoda Lexa sehingga Lexa agak nyaman merasakan rangkulan Leon.
Ketika di mobil, Abby duduk di kursi penumpang belakang dan dia sudah agak lelah, jadi dengan sekejap dia tertidur dalam perjalanan dari stasiun tv ke kantornya.
Lexa terus menatap jalanan sambil memikirkan nyonyanya. Dia terus berdoa agar Agency yang di gunakan Revo tidak merubah iklan itu menjadi iklan yang memalukan. Seketika Leon menyentuh punggung tangan Leon dan mengelusnya singkat. Lexa menoleh dan akhirnya dia menggenggam tangan pria yang telah merebut seluruh ruang hatinya. Dia tersenyum kecil.
"Aku baik baik saja, Leon, tenanglah," kata Lexa lirih. Dia memijit dahinya dengan tangan lainnya.
"Lexa, maukah kau ikut denganku?" Tanya Leon kemudian. Dia harus mengatakannya pada Lexa agar tidak terjadi kesalah pahaman lagi. Dia hendak membahas tentang dirinya hendak menemui ayah Solane.
"Kemana?"
"Ke rumah sakit, menemui ayah Solane, beliau hendak bertemu denganku," jawab Leon sedikit cemas kalau kalau Lexa menjadi kesal lagi.
Dan memang benar, mendadak wajah Lexa yang tadinya tersenyum tulus, hendak memberitahukan keadaan hati Lexa pada Leon, berubah menjadi tampak muram dan tidak berselera.
...
Bersambung,
Hai hai, maafnya up lama, mulai hari ini diusahakan setiap hari ya gaes biar selesai cerita si LeLe ini karna masih ada alur masalah dan hal yang menegangkan
Staytune guys 😊
Next part 26
Kira kira ayah Solane mau ngapain ya?
Like komen guys tip juga boleh 😁😁
Thankyou laf you all 😘😘
__ADS_1