
Di dunia ini hanya ada dua kemungkinan. Begini atau begitu, mentakdirkan diri kita sendiri atau berdua, mau sekarang atau besok, hendak memulai atau mengakhiri. Namun, pada dasarnya kita tidak punya kekuatan itu. Kita cukup mengangguk dan menjalani. Kembali lagi, kita manusia dan ini kehidupan. Semua orang akan ada di atas atau di bawah. Akan mengalami keterpurukan atau kemegahan atau terlalu letih untuk bernapas. Carolyn tidak bisa lagi berkelit. Dia harus bekerja untuk mendapat apa yang ia inginkan. Lalu, bagaimana dirinya menerima Xelino? Apakah Xelino akan terlibat banyak masalah?
...
Carolyn cepat cepat membalas email dari Lionel. Dia tidak tahu siapa dibalik email tersebut. Apakah Leon atau Xelino sendiri?
๐carolyn.aneeta@delinsgroup.com
Halo Tuan Muda Janson, salam kenal. Aku Carolyn Aneeta Delinsky, panggil saja Carolyn atau jika ingin lebih akrab panggil aku Carol or Olyn, bagaimana menurutmu? Apa kabarmu tuan?
Begitulah balasan Carolyn. Carolyn sedikit tersenyum manja dan membayangkan paras Lionel yang pasti sangat tampan. Tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Namun, sejenak Carolyn berpikir apakah mirip dengan Xelino karena mata pria itu juga sangat lancip dan tajam. Tak lama Carolyn menggelengkan kepalanya. Mengapa dia jadi memikirkan Xelino. Tidak benar ini. Carolyn lalu membuka situs perusahaan properti Bibi Rietha. Venta Property Delins Group. Ya dia harus bekerja di sana tidak ada pilihan lain. Ayahnya sungguh menyebalkan. Namun, dia harus menyelesaikannya dengan cepat. Sedikit rayuan juga perlu untuk bibi kesayangannya itu. Dia berharap bibinya tidak dipengaruhi juga oleh ayah nya.
Sambil melihat lihat situs perusahaan bibinya, dia juga menunggu balasan email-nya lagi dari Lionel yang tak kunjung kunjung datang. Dia kembali mengecek chat email atau inbox email itu lagi tetapi nihil. Lionel belum membalasnya. Akhirnya setelah Carolyn puas melihat situs perusahaan properti Rietha, dia memutuskan untuk tidur. Mungkin Lionel sibuk bekerja, pikirnya. Carolyn membayangkan Lionel seorang CEO atau sedang memantau pergerakan saham seperti pekerjaan ayahnya. Carolyn tersenyum dan berharap besok pagi, Lionel membalasnya
๐lionel@janson.com
Hay Carolyn maaf baru membalas pesanmu. Aku baru tiba di apartemenku. Aku baru saja menghadapi klienku yang sangat keras kepala. Jadi, apa yang kau inginkan padaku? Kau tidak menjawab pertanyaanku, nona!
Paginya Carolyn baru membaca pesan tersebut. Dia cukup senang tetapi dia merasa Lionel orang yang begitu tegas. Buktinya dia kembali menanyakan keperluan apa yang Carolyn inginkan sehingga mencarinya. Carolyn berpikir tidak mungkin jika dirinya langsung mengatakan apa yang ia inginkan. Ini terlalu terang terangan. Sebaiknya Carolyn mendekatkan diri terlebih dahulu. Sekedar basa basi dan menjadi seorang teman.
๐carolyn.aneeta@delinsgroup.com
Klien keras kepala? Apakah dia pria atau wanita? Ada apa dengannya? Mungkin aku bisa membantumu menyelesaikannya. Em, ngomong ngomong aku hanya ingin menjalin pertemanan denganmu, mengingat sepertinya kedua Daddy kita dekat. Bukan begitu Tuan?
Carolyn kembali tersenyum membalasnya dan meninggalkan ipadnya di atas tempat tidur. Dia harus bersiap untuk pergi ke perusahaan Rietha.
๐lionel@janson.com
Namaku Lionel, bukan tuan. Jadi jangan memanggilku tuan lagi. Oke kita berteman. Klienku tentu wanita. Hampir semua klienku wanita karna aku tidak suka pria. Ya, jadi klienku ingin memiliki saham tapi tidak mau memenuhi syarat syaratnya. Bagaimana bisa? Meskipun sekarang banyak produk instant, tetapi jika ingin memiliki sesuatu di kehidupan ini, tidak ada yang instant! Semoga kau bukan orang yang seperti itu!
Deg!
Entah mengapa tiba tiba, Carolyn merasa Lionel sedang menyindirnya? Namun, tanpa sadar Carolyn tetap melebarkan bibirnya tersenyum. Dia merasa Lionel sangat berwawasan luas.
๐carolyn.aneeta@delinsgrouo.com
Haha, kau lucu sekali Lionel. Terimakasih sudah mau berteman denganku. Sebaiknya kita bertemu agar bisa lebih dekat lagi. Tentu aku tidak seperti orang yang kau katakan. Oke sebaiknya kau menentukan dimana kita bertemu. Ngomong ngomong aku sedang menuju ke tempat kerjaku, so kau tahu kan aku seorang pekerja :)
Balas Carolyn dan di seberang sana pemilik email lionel@janson.com menyeringai lebar. Dia semakin asik memainkan peran ini. Pria itu lalu kembali mengunci ponselnya dan memasukan ke dalam saku jasnya. Dia membiarkan Carolyn terlebih dahulu. Dia harus bergegas menjalani tugasnya yang lain.
...
Sementara di kejauhan sana, di Nederland, Casey terkejut ketika melihat Lucas datang.
"Lucas?! Mengapa kau datang sendiri? Di mana Carolyn?" Tanya Casey kesal melihat Lucas hanya datang sendiri.
"Pegawai Daddy mu yang baru berhasil menggagalkan Carolyn untuk ikut! Aku tidak bisa berbuat apapun! Daddy mu sangat marah pada Carolyn!" Decak Lucas memberitahu. Ternyata selama ini Lucas hanya berpura pura baik untuk memancing Carolyn ke tangan Casey.
"Argh! Daddy benar benar tidak mau berpisah darinya, sedangkan denganku, dia tega membuangku di sini!" Casey merutuki dirinya.
"Tapi Daddy mu sudah memberikan perusahaan ini, masa kau masih kurang saja! Aku tidak bisa lagi menurutimu, sekarang aku bekerja denganmu!!" dengus Lucas yang juga bingung dengan posisinya. bagaimana kalau Gilbert mengetahui kelicikannya?!
"Arghh!! Lalu dimana Ansel sekarang?" tanya Casey kesal.
"Sepertinya sudah sampai di Springfield," jawab Lucas sudah duduk di sofa.
"Suruh dia bertindak, dan jangan gagal lagi!" perintah Casey kemudian.
__ADS_1
"Iya, dia akan melakukan pertemuan kerja sama dengan daddymu lusa," tutur Lucas mengetahui jadwal terakhir Gilbert dari salah satu pegawai.
"Baiklah, aku hanya terus sabar kan?" gumam Casey benar benar sebal.
"Benar Nona! Jadi, di mana tempat tinggalku?"
"Kondominium Mc. Five,"
"Oke nona, biarkan aku kesana terlebih dulu,"
"Hemm ..."
Cases menyeringai kembali duduk di singgasananya. Dia meraih frame foto dirinya dengan Carolyn ketika dirinya lulus wisuda. Setelah lulus, Gilbert langsung mengutus Casey ke Nederland untuk mengurus cabang Delins Group di sana. Ternyata ketika Casey semangat hendak pergi kesana, dia mendengar Jennifer bercerita pada Rietha kalau sepertinya Gilbert hanya mewariskan Delins Group di Nederland pada Casey. Sedangkan sisanya akan diwariskan pada Carolyn. Hal ini yang membuta Casey jadi membenci ayah dan ibu angkatnya. Padahal semua baru hanya rencana. Siapa sangka ternyata Casey bisa menunjukan kebanggaan pada Gilbert dan berbanding terbalik pada Carolyn. Namun, Casey belum menyadari hal itu.
...
Xelino sudah menunggu Carolyn di depan rumah. Dia sudah memberi salam pada Gilbert dan berjanji akan tiba pukul 10 atau 11 di kantor setelah mengantar Carolyn ke kantor Rietha. Tak lama Gilbert berangkat dengan supir dan mobil lain, Carolyn muncul dengan dress merah fit body dan blazernya. Xelino tersenyum lebar ketika Carolyn mendekatinya.
"Tidak usah senyum senyum, senyummu sungguh membuat hariku gila nanti!" decak Carolyn tak senang.
"Gila karna menyukaiku?" Xelino menggoda.
"Argh! Kau benar benar menyebalkan!" Decak Carolyn lagi lalu memasuki mobil dengan wajahnya yang menekuk.
Xelino terkekeh dan langsung menuju kursi pengemudi. Dia siap mengantarkan Carolyn. Kira kira 30 menit Xelino mengantar Carolyn.
"Pukul 3 sore aku pulang, jangan terlambat! Aku harus berenang pukul 5 sore!" Carolyn memperingati
"Siap Nona!" Saut Xelino lagi lagi tersenyum lebar. Xelino senang melihat wajah Carolyn yang sangat sinis karena di sana terpancar kekalahan dari seorang Carolyn dan harus mengikuti dirinya.
"Apa kekasihmu mengantarmu?" Tanya Rietha tiba tiba. Carolyn pun tersadar ketika sudah ada di depan lift hendak ke ruangan Rietha.
"Ah, bibi? Kau baru tiba?"
"Hehem!" Rietha mengangguk tersenyum.
"Kau diantar siapa? Mengapa kau senyum senyum? Pasti orang itu yang membuatmu akhirnya bekerja bersamaku kan?" tanya Rietha menggoda keponakannya.
"Tidak! Dia hanya pembantuku!"
"Oohh pembantu?? Kata katamu masih saja menusuk, bagaimana jika dia mendengarnya?" selidik Rietha masih tersenyum.
"Biar saja, dia memang pembantu, bahasa kerennya manager assistant, pekerjaannya tetap membantuku kan?" ujar Carolyn seturut gaya bicaranya yang angkuh.
"Ya it's oke, berarti kau juga pembantu karena kau akan menjadi asisten temanku!" Rietha terkekeh menanggapi penuturan keponakannya yang benar benar sombong. Ternyata, sudah banyak yang Rietha lewatkan ketika Carolyn sudah beranjak dewasa.
Carolyn membelalakan matanya. Benar juga kata bibinya.
"Haha, jangan dipikirkan, jika beberapa bulan kau bisa bekerja sama dengan baik, aku akan mengangkatmu menjadi kepala arsitek di sini atau bisa saja aku langsung memberikan perusahaan ini untukmu. Bagaimana?" Rietha merangkul Carolyn.
"Kau jangan bercanda, bi!"
"I'm serious!"
"Thankyou, bi!" ucap Carolyn tersenyum.
Rietha tersenyum dan mereka menuju ke lantai atas bersama. Rietha lalu menunjukan ruangan Carolyn terlebih dahulu di mana tepat berada di samping ruangan temannya itu. Karena Carolyn cukup terkesima dengna ruangan elegan yang disiapkan Rietha untuknya, dia lupa menanyakan karakter dari teman bibinya itu. Carolyn sudah takjub dengan design interior yang cukup elegan baginya. Dengan permainan warna yang sangat sesuai. Merah, hitam dan putih. Warna yang menjadi kesukaan Carolyn. Belum lagi dengan view kaca jendela yang besar memperlihatkan pusat kota Springfield dengan taman kota yang sejuk.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, ketika Carolyn masih menatap taman kota Springfield, seseorang sudah berdiri di daun pintu ruangannya.
"Ehem! Kau orang yang akan menjadi asistenku? Mengapa belum ada minuman di meja ku?" Katanya menatap sinis Carolyn. Seseorang itu adalah wanita berusia sekitar 35 tahun dengan gaya berpakaian simple dan memainkan warna yang match. Wanita itu mengenakan jumpsuit panjang cream dengan ikat pita navy pada pinggangnya lalu menggubakan heels. Cukup fashionable menurut Carolyn namun masih sederhana ketimbang dirinya.
"Iya Nyonya, aku Carolyn Aneeta Del ..."
"Cukup! Aku hanya tahu kau Carolyn dan tidak usah menyombongkan dirimu! Meskipun ayahmu salah satu pemilik perusahaan terbaik di Springfield tapi kali ini kau tetap menjadi asistenku, jadi tidak usah memberitahu hal hal yang sudah kutahu. Sekarang buatkan minumanku dan segera bantu aku mengoreksi design yang harus ku presentasikan nanti siang!" Kata wanita itu memotong perkenalan Carolyn dan kembali ke ruangannya.
Carolyn benar benar tidak menyangka dirinya diperlakukan seperti ini. Dia menarik napas panjang mencoba sabar. Mungkin ini baru di awal saja. Ketika mereka dekat, wanita itu pasti akan lebih baik padanya. Carolyn lalu keluar dari ruangannya dan menuju ke ruang bibinya untuk menanyakan pantry kantor. Rietha memberitahu dan tersenyum kecil ketika Carolyn keluar dari ruangannya. Rasanya dia harus memberitahu kakaknya.
Untung saja Carolyn menemukan seorang office girl yang baru tiba. Dia langsung menyuruh office girl itu membuatkan minuman untuk atasannya. Carolyn membawanya perlahan dan menuju ke samping ruangannya. Carolyn mendorong pelan pintu ruangan itu dan membawa cangkir itu dengan sangat hati hati. Dia sangat tidak terbiasa.
"Hem, jarimu lentik sekali, oleh sebab itu kau bahkan tidak bisa membawa cangkir kecil ini, kasihan sekali!" Decak wanita itu. Carolyn hanya menekuk wajahnya lalu memperhatikan wanita itu langsung meminum minumannya.
"Oke, namaku Deborah! Ingat dan jangan bertanya lagi! Aku tidak akan menyebutkan nama keluargaku, nanti kau akan tahu dan akan tercengang. Di saat kau tercengang jangan beritahu padaku! Aku tidak membutuhkan pengakuan mu!" kata Deborah.
'Siapa juga yang mau mengakuimu nenek sihir!' gumam Carolyn dalam hati.
"Ini konsep dan sketsa yang sudah kubuat. Silahkan kau yang membuat denahnya. Ini merupakan proyek hotel bibimu yang ke lima jadi kau jangan sampai salah mengoreksi! Aku sedang ada urusan bertemu dengan klien lain selain menjadi pekerja tetap Rietha. Sekitar pukul 12 aku akan kembali dan kau sudah harus menyelesaikannya. Kau sudah biasa menggambar ini kan? Ingat, jangan merubah konsepku! Kau hanya perlu menggambar denah, bukan merombak punyaku! Sudah paham?" tutur Deborah dengan cepat dan lugas. Untung saja Carolyn hanya disuruh membuat denah dan mengoreksi design yang menurutnya cukup mengagumkan. Rasa rasanya Carolyn pernah melihat sketsa dengan gaya seperti ini. Sisi sisi guratan pensilnya begitu halus dan sangat jelas.
"Tidak usah kagum seperti itu, cepat kerjakan dan selesaikan. Aku pergi dulu! Jangan mengotori ruanganku kalau kau mau bekerja di sini! Oh iya, aku ingin denah dengan guratan pensil dan guratan dari aplikasi design agar semua terlihat jelas!" Kata Deborah lagi membuyarkan semua ingatan Carolyn yang tadinya takjub kembali menjadi emosi dengan Deborah.
Deborah pun mengambil tas nya dan meninggalkan ruangannya.
...
...
...
...
...
wakakak skakmat kau Olynnnn ๐๐
.
next part 9
apa sebenarnya rencana Casey dan Lucas?
siapa Ansel dan siapa sebenarnya Deborah di dunia arsitektur??
sebelumnya Mon maap kalo ada kejanggalan di dunia baru ini mengenai agrobisnis juga arsitektur. bagi yang mengetahui dua ilmu ini dan ingin sharing sama vii sebagai pembekalan vii silahkannya? dan kalau ada yang salah segera kasih tau vii ๐๐
Xie Xie ๐๐
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku ๐๐
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss ๐๐
.
Thx for read and i love you so much much more and again โคโค
__ADS_1