Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 5. Frontal


__ADS_3

Karena tinta setitik, rusak susu sebelangga. Karna kesalah kecil, seluruh persoalan menjadi kacau berantakan. Gilbert menyesali apa yang ia berikan pada anak keduanya. Apalagi sekarang istrinya yang masih memanjakan anaknya itu. Rasanya Gilbert tidak mau berkelanjutan dan apakah Xelino dapat membantu kerinduan Gilbert? Gilbert sudah mulai menghentikan hal hal yang ia anggap tidak harus ia lakukan untuk anaknya. Lalu, bagaimana Xelino akhirnya menghadapi seorang Carolyn?


...


"Kau? Dia! Kenapa dia di sini, dad?!" Tanya Carolyn sangat terkejut melihat Xelino ada di hadapannya. Xelino masih menatap Carolyn dengan jarak yang cukup dekat dan di depan Gilbert.


"Carolyn, jaga perilakumu, aku sudah tahu apa yang kau perbuat!" Gertak Gilbert. Carolyn langsung menoleh ke arah ayahnya.


"Melakukan apa? Dia yang tidak mau menyerahkan lahan yang sudah kubeli!" Sanggah Carolyn menunjuk nunjuk Xelino. Sesaat Carolyn melihat penampilan Xelino yang berbeda dari sebelumnya.


Kemarin Xelino hanya mengenakan sweater lengan panjang dan celana jeans yang agak koyak pada bagian lutut, sementara sekarang Xelino dengan kemeja putih yang fit body serta celana bahan yang cukup manly. Namun, Carolyn tetap memandangnya dengan penuh kebencian.


"Carolyn, kau sungguh keterlaluan! Kau harus meminta maaf pada kakek dan nenek Xelino!" Bentak Gilbert sangat geram.


"Apa? Meminta maaf? Lahan itu sudah kubeli Daddy!" Carolyn masih saja keras.


"Apa yang kau perintahkan pada Lucas?"


"Lucas? Hah? Tidak! Aku memang sudah membelinya!" Ujar Carolyn terbata.


"Sudahlah Tuan, percuma kau berbicara pada seorang gadis yang bahkan juga membantah ayahnya!" Gumam Xelino melirik tajam Carolyn.


"Diam kau! Kau lihat saja, tanpa bantuan Daddy ku, aku bisa mendapatkan lahan mu! Aku akan menemui Tuan Janson dan anaknya!" Decak Carolyn tetap pada pendiriannya.


"Cih, kau mau menjual dirimu padanya?" Xelino berdecih dan menatap Carolyn lagi.


Pak!


Carolyn menampar Xelino karena perkataan Xelino yang terlalu terang terangan. Xelino sedikit memalingkan wajahnya dan memegang sisi bibirnya mengeluarkan seringaiannya.


"Kau seorang berpendidikan tapi kau punya cara serendah itu untuk mendapatkan sesuatu yang bukan milikmu! Kuperingatkan padamu, meskipun ayahmu memecatku karena aku tidak memberikan rumahku, aku tidak peduli. Aku bisa bekerja dimanapun bahkan tinggal berladang bersama kakek dan nenekku! Ingat keluargamu jauh lebih berharga ketimbang hanya segepok uang atau hanya menuruti keegoisanmu!" Decak Xelino dengan nada suara pelan tetap masih bisa terdengar oleh Carolyn dan Gilbert.


Gilbert sedikit menganga. Selain dirinya masih ada yang berani dengan Carolyn. Gilbert saja tidak bisa se-frontal ini pada anak keduanya itu.


"Tuan, apa masih ada yang dibicarakan lagi? Aku ingin kembali bekerja. Em, maafkan aku Tuan. Apapun yang anakmu lakukan, entah anak Tuan Janson atau Tuan Leon Janson sekalipun mendatangiku memintaku untuk menjual rumahku, aku tidak akan memberikannya. Apapun alasannya. Hanya lahan itu yang dimiliki kakek dan nenekku. Begitu juga diriku," kata Xelino lagi pada Gilbert.


"CAROLYN! Kau benar benar keterlaluan! Aku tidak akan berbicara soal anak dari Tuan Janson! Lahan di desa Serena hampir setengahnya milikku dan sisanya tidak ada satupun atau diriku yang memilikinya. Kau harus meminta maaf pada kakek dan nenek Xelino, juga pada Xelino, CEPATT!!" Kata Gilbert sudah kesal sampai ke ubun ubun. Carolyn bisa memiliki cara sampai sepicik ini. Dia mau mendekati seorang pria untuk sebuah lahan yang bisa ia berikan pada anaknya.


"DADDY! Aku tidak mau, aku ingin lahan itu, aku ingin membuat villa di sana! Mengapa kau tidak pernah menuruti ku lagi?! Lagipula dia siapa! Dia kesini untuk apa? Untuk memohon padamu iya?" bentak Carolyn tidak percaya dengan apa yang ayahnya suruh padanya.


"Dia bekerja, dia manager produksi dan pabrik," kata ayahnya.


"Apa? Manager? Pria brandal dan menyebalkan ini menjadi manager? Kau salah besar Daddy!" umpat Carolyn memandang rendah Xelino.


"Sudah diam kau! Xelino, kau kembali bekerja, aku yang akan mengurus anakku. Tenang saja, aku tidak akan mengusik kehidupan kakek dan nenekmu!" kata Gilbert kemudian.


"Terimakasih Tuan, aku harap kau memegang janjimu," ucap Xelino membungkuk lalu menatap sinis ke arah Carolyn. Carolyn memalingkan wajahnya. Xelino pun keluar dari ruangan.


Gilbert sudah duduk kembali di singgasana nya. Dia menautkan tangannya dan menundukan kepalanya.


"Daddy! Kalau kau tidak bisa membantuku, aku akan pergi ke Nederland! Kakak memberikanku lahan untuk bisa kujadikan Villa!" ancam Carolyn menggebrak meja kerja ayahnya.


Gilbert mendongakan kepalanya.


"Kau harus bekerja pada Rietha. Tidak ada pilihan! Kalau kau mau memiliki perusahaan atau aset sendiri, kau harus bekerja! Gunakan semua keahlianmu!" kata Gilbert dengan wajah marahnya.


"Aku sudah ahli dad! Untuk apa aku bekerja?!" Carolyn melipat kedua tangannya di depan dada.


"Hanya itu pilihanmu dan tidak ada lagi. Kau mau atau tidak?!" kata ayahnya lagi.


"Kau benar benar keterlaluan! Aku akan mengurus kepergian ku ke Nederland!" Decak Carolyn tidak mempedulikan ayahnya. Dia berbalik dan meraih ponselnya.


"Lucas, pesankan tiket pesawat ke Nederland besok siang!" Kata Carolyn lalu pergi meninggalkan ruangan ayahnya.

__ADS_1


Gilbert menghela napas panjang. Mengapa dia benar benar ceroboh mendidik anaknya sampai agak liar seperti ini? Sampai sampai ingin mendekati seorang pria yang merupakan anak dari koleganya. Sebenarnya hal yang baik juga Gilbert bisa berbesan dengan Leon, pikirnya. Namun, apa tidak terlalu memaksa. Mungkin saja Leon juga sudah memiliki pasangan tepat untuk anaknya. Gilbert sangat malu jika memasangkan Carolyn yang benar benar tidak tahu aturan lagi dengan seorang Leon yang sangat teliti dan beretika baik.


Gilbert mengelus dahinya dan memang harus melakukan ini. Dia harus keras pada anaknya. Dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Kunci kamar Carolyn ketika dia pulang nanti! Pernah keamaanan di depan pintu kamarnya dan pintu gerbang utama. Jangan sampai besok siang dia keluar! Aku menghukumnya!" Perintah Gilbert pada bodyguard rumah dan kepala rumah tangganya.


Gilbert lalu menghubungi istrinya dan menceritakan semuanya.


"Aku yang menyuruhnya mendekati anak Tuan Leon, sayang!" kata Jennifer di seberang sana.


"Kau ini sudah gila?! Dia mau mendekati anak Tuan Leon hanya untuk lahan. Bagaimana kalau keluarga mereka mengetahuinya, sayang?" kata Gilbert frustasi.


"Bukan begitu maksudku sayang. Kita semua juga tidak tahu bagaimana rupa dan sifat anak Tuan Leon. Siapa tahu anak Tuan Leon yang bisa merubah anak kita. Siapa tahu anak Tuan Leon mengujinya. Atau dari sini kita bisa membuat Carolyn belajar bahwa semua butuh proses dan perjuangan. Kau mengerti maksudku tidak?" Jennifer menjelaskan.


"Mengerti, tapi bagaimana jika anak Tuan Leon malah menyukai Carolyn dan dengan seenaknya menuruti apa kemauan Carolyn lalu malah bertengkar dengan semua orang! Akan membuat malu, Jennif!" sungut Gilbert sudah hampir tidak waras.


"Kau tenang saja, aku sudah mencari tahu. Anak Tuan Leon begitu misterius. Dia tidak tinggal bersama Tuan Leon dan Nyonya Lexa. Dia tinggal bersama Kakek, Nenek, Bibi dan Pamannya. Rumornya dia anak yang begitu mandiri. Sampai sekarang tidak mau terekspos dan terus menetap bersama sanak keluarga Tuan Leon," tambah Jennifer lagi memberitahukan informasinya.


"Begitu ya? Yasudah, coba kau hubungi Nyonya Lexa, apakah mereka bisa membantu kita," balas Gilbert putus asa. dia tidak tahu lagi siapa yang bisa membantunya merubah jalan pikiran Carolyn.


"Nanti akan kuusahakan! Lalu, apa yang anakmu lakukan lagi??" tanya Jennifer.


"Dia mau pergi ke Nederland! Sekarang sampai besok kau jangan kemana mana! Jagai dia! Aku tidak setuju jika dia tinggal bersama Casey. Casey akan terus memanjakannya! Ini sangat tidak benar! Aku sudah menyuruh Cole menjaga rumah dengan baik! Jangan sampai dia melarikan dan pergi lagi dari rumah, kau mengerti Jennifer?!" kata sang suami.


"Oke sayang! Bye!"


Panggilan dimatikan. Gilbert kembali sangat bingung! Tak berapa lama ponselnya kembali berbunyi. Leon yang menghubunginya. Gilbert sedikit gugup. Biasanya untuk masalah saham, dia berbicara pada Rick. Dengan Leon jika ada pertemuan langsung saja dan sesekali mengirim pesan email. Malahan Gilbert dan Jennifer lebih sering berkomunikasi dengan Lexa.


"Se, se, selamat siang Tuan Janson?" sapa Gilbert sedikit terbata.


"Ya, selamat siang Tuan Delinsky, apa kabar?" tanya Leon di seberang sana.


"Luar biasa, Tuan Janson, bagaimana denganmu?"


Deg!


Tamat sudah riwayatnya, pikir Gilbert. Mengapa Leon mengetahui anaknya? Apalagi lagi yang diperbuat anaknya?


"I, i, iya, Tuan! Dia, dia anakku. Ada apa Tuan?" Gilbert benar benar tak habis pikir, anaknya begitu berani melakukan ini.


"Pagi ini dia mengirim sebuah email padaku dan menanyakan soal anakku. Ada yang bisa kami bantu? Nama keluarganya Delinsky, jadi aku mengingat dirimu," kata Leon.


"Ah iya Tuan, dia memang anakku. Entahlah apa yang ia inginkan, oh mungkin dia hendak berkenalan dan melakukan kerja sama? Anakku baru saja memulai karirnya sebagai arsitek dan mungkin ingin berbagi rancangan rancangannya yang bisa membuat anda atau anak anda tertarik," Gilbert berdalih dan semoga alasannya dapat mempertemukan anak Leon dengannya atau langsung pada Carolyn.


"Oh, begitu ya? Hebat sekali anakmu! Baiklah, untuk sekarang aku tidak memerlukannya, tapi coba akan kutanyakan dulu pada anakku. Mungkin dia butuh rancangan untuk apartemennya di Springfield?" balas Leon menanggapi.


"Apa? Anakmu ada di Springfield?" Gilbert cukup tidak menyangka.


"Ya, dia bekerja, aduh!"


Lexa memukul Leon mengingatkan jangan berkata terlalu jauh tentang Xelino. Untung saja mereka sedang di mobil bersama hendak ke kantor periklanan Viena.


"Ada apa Tuan?" Tanya Gilbert sedikit bingung .


"Tidak apa, kelinci peliharaanku menggigit tanganku!" balas Leon terkekeh.


Lexa sudah melotot.


"Haha, apa kau sedang bersantai?"


"Begitulah. Baiklah Tuan Gilbert, aku akan menyampaikan pesanmu pada anakku. Aku berharap dia mau menghubungimu atau langsung membalas pesan anakmu," kata Leon lagi harus mengakhiri pembicaraan. Jangan sampai dia membongkar kedok anaknya.


"Ah iya Tuan, aku sangat berterimakasih. Mungkin saja anak kita bisa menjadi teman," sambung Gilbert bersahabat.

__ADS_1


"Ya benar. Baiklah sampai jumpa!"


Panggilan dimatikan. Leon lalu menatap Lexa. mereka duduk di bangku belakang karena Leon sedang tidak sehat jadi mereka menggunakan supir.


"Lexa, aku sedang bicara dengan kolegaku kenapa kau memukulku?" tanya Leon sedikit geram.


"Kau ingin memberitahu identitas anakmu, hah? Kau mau dia mengulitimu?" dengus Lexa.


"Tidak sampai menguliti Lexa, masa anakku tega sekali," keluh Leon.


"Kalau memiliki papi bermulut perempuan sepertimu, dia tidak akan segan segan!" balas Lexa mengerutkan mulutnya.


"Jadi bagaimana? Kau tahu Tuan Gilbert kan? Kalau kita berbesan dengan dia alangkah sangat baik kan?" tanya Leon kemudian meminta pendapat istrinya.


"Ya, bagaimana dulu baik, bobot bibitnya?" kata Lexa memperhatikan luar jalan.


"Bibitnya sudah ketahuan, tinggal baik dan bobotnya saja, sudahlah biar kutanya pada anakmu itu!" ujar Leon.


"Katakan saja namanya Lionel! Jangan kau sebut nama Xelino, aku tidak menanggung jika dia marah padamu!" Lexa mengingatkan.


"Baiklah! Aku akan menanyakannya dulu. Xelino bekerja di perusahaan Tuan Gilbert, Lexa!"


"Bagus! Tapi jangan seenaknya menjodohkan, kau pikir ini jaman apa? Batu?! Siapa tahu, Xelino sudah memiliki tambatan hatinya," ujar Lexa.


"Ya, kau benar sayang. Ya sudahlah, aku hanya menawarkan pekerjaan anaknya Tuan Gilbert, selanjutnya terserah Xelino kan?"


"Ya, kau benar. Aku percaya kau akan adil pada anakmu, man!" Lexa melirik Leon tersenyum.


"Tenang saja!" Leon merangkul Lexa dan dia mulai mengetik pesan pada Xelino.


Sementara Gilbert sudah merutuki dirinya sendiri. Dia agak malu dengan Leon. Semuanya tidak sesuai dengan rencananya. Apa dia katakan saja apa maksud dari adiknya, Rietha yang menyuruh mempekerjakan anaknya? Dia harus berbincang pada adiknya itu dan dia juga harus mempertimbangkan seseorang untuk lebih mendidik dan mengajarkan Carolyn. Dia berpikir tentang Xelino yang sangat berani pada Carolyn tanpa memikirkan dirinya. Gilbert mengerti semua ini untuk kebaikan masa depannya. Tetapi dia juga ingin membuat Carolyn dekat dengan anak dari Leon yang padahal adalah Xelino sendiri.


...


...


...


...


...


nah gua ga tau dah ketemunya Gimana, ada ide? haha


.


next part 6


nanti skalian aku umumin pemenang jawaban kuis cuap cuap kemarin yaa 😍😍


dan apakah Carolyn berhasil pergi ke Nederland?


apakah tindakan ayahnya benar?


bagaimana lagi urusannya dengan Xelino?


.


Pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.

__ADS_1


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2