
*Seorang public figure berkata : "bercita cita tinggi, bekerja keras, tetap fokus dan mengelilingi diri anda dengan orang orang yang baik."
Hal ini menyatakan bahwa kita membutuhkan seseorang yang baik dan berbakat untuk menggapai apa yang menjadi keinginan kita dengan terus bekerja keras dan tetap fokus. Bagaimana kelanjutan Carolyn dalam pembenahan dirinya? Bisakah Xelino atau orang orang baik lainnya membantuny*?
...
Prak!
Carolyn melemparkan lembaran sketsa yang sudah Deborah buat ke meja kerja Deborah setelah memastikan atasannya itu masuk dalam lift. Ruangan itu memang tampak transparan semua karna hanya kaca kaca bening yang membatasi semua ruangan.
"Sudah gila! Argh, mengapa aku bisa diam diperlakukan seperti ini dengannya?! Kurang ajar sekali wanita tua itu! Seenaknya memerintahku!!! Argh, biarkan saja, aku tidak mau mengerjakannya!!! Ini perusahaan bibiku, mau apa dia padaku?!!! Sial, sial sial!!!" Dengus Carolyn menggerutu.
Akhirnya Carolyn duduk di sofa ruangan itu dan masih memandangi sketsa yang kembali ia rapikan lalu ia taruh di atas meja di depannya. Carolyn memijat minat dagunya dan berniat tidak mau mengerjakannya. Dia masih belum puas melihat kemarahan wanita itu. Namun, tak berapa lama iPad nya berbunyi. Sebuah pesan dari Lionel.
πlionel@janson.com
Wah bagus sekali! Apa kau pekerja keras karena aku menyukai dan menggilai wanita pekerja keras seperti mami ku dan seorang wanita di rumah mami ku bekerja. Wanita itu sedang belajar membaca not karena dia sekolah di bagian musik tapi dia tidak bisa membaca not. Seorang pria mengajarinya sehingga dia berusaha untuk membaca not, sayangnya pria itu bukan diriku. Aku tidak bisa bernyanyi, bicara saja tidak benar, haha! Jadi apa keahlianmu? Semoga pekerjaanmh baru ini berjalan dengan lancar. Untuk pertemuan, aku harus mencari waktu terlebih dahulu. Good luck for today!
Dan email itu yang ternyata membuat Carolyn akhirnya mau mengerjakan tugas yang Deborah berikan. Ini sangat mudah untuknya.
Belum pukul 12 siang, Carolyn sudah menyelesaikannya. Bahkan dia sudah mencetak dalam bentuk print out atau dalam lembaran fisik.
"Kau akan mengakuiku terlebih dulu, Nyonya Deborah Kingsley!" Kata Carolyn bangga menyebutkan nama Deborah dan diikuti nama keluarga yang Deborah tulis di bawah design sketsanya. Seketika Carolyn membelalakan matanya lagi.
"Oh my God! Dia Deborah Kingsley! Arsitek terpintar di 3 negara pusat! Nederland, Japanis dan Legacy. Oh Tuhan, mengapa aku selupa ini?! Mengapa dia berada di sini? Karyanya sudah digunakan siapapun! Prime, Dimitri, Atkinson, bahkan semua renovasi pemerintahan pusat di banyak negara, dan jangan lupakan dia yang mengurus gedung pengacara tertinggi di Honolulu , oh Noo!!! Aku benar benar beruntung bekerja dengannya walaupun benar rumornya, bahasa dan tata bicaranya tajam sekali seperti pisau! Oke oke Carolyn tarik napas tenang. Kau harus sabar menghadapinya agar menjadi sama sepertinya. Sabar Carolyn sabar!! Lebih baik kau memperbaiki lipstickmu! Ya ya itu akan menenangkan ku!" Gumam Carolyn panjang lebar dan dia mengambil lipsticknya.
"Baru kali ini aku menemukan lulusan arsitektur terus berdandan sepertimu! Apakah pekerjaanmu sudah selesai?!" Gertak Deborah.
Sret!!
Karena sambutan Deborah membuat Carolyn terkejut sehingga lipsticknya jadi melenceng ke arah yang berbeda.
"Oh No! Nyonya! Mengapa kau tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?! Lihat aku terkejut dan lipstick ku melenceng!" Decak Carolyn akhirnya meneriaki Deborah. Deborah tetap tampak santai.
"Ini ruanganku, mengapa aku harus mengetuk?! Lagipula untuk apa kau memerahkan bibirmu yang sudah memerah? Kau ini anak muda yang membuang buang waktu! Sudah, cepat serahkan pekerjaanmu! Kita harus segera menemui Rietha dan tim lainnya. Hapus saja semua lipstickmu! Aku tidak suka lipstick merah!" Decak Deborah lebih tajam dari bentakan Carolyn. Deborah tersenyum kecut.
Akhirnya Carolyn menghapus semua lipsticknya dan segera menyerahkan pekerjaannya. Deborah mengangguk angguk dan menandatanganinya.
"Denahmu bagus, tapi bandingkan dengan denah yang kubuat! Nanti saja di mansionmu! Sekarang kau makan siang dan langsung ke ruangan Rietha!" Kata Deborah memperlihatkan hasil denah yang ternyata Deborah sudah membuatnya. Sangat sangat tersusun rapi tapi Carolyn tetap kesal padanya.
"Apa?! Kau tidak menggunakan denahku?!" Decak Carolyn tidak menyangka.
"For what, if I already made it?!"
(untuk apa jika aku sudah membuatnya?)
"Argh, Nyonya! Mengapa kau melakukan ini?"
"Melihat kemampuanmu! Ternyata jauh dari bayanganku! Sudah sana kau makan siang! Aku tidak mau berdebat! Aku atasanmu, suka sukaku mau melakukan apa denganmu, pergi sana!"
"Kau?!!" Carolyn ingin sekali mengumpat tetapi Deborah tetap sangat tenang dan dingin sampai membuat Carolyn akhirnya terdiam.
"Mau apa? Cepat pergi, kita bertemu di ruangan bibimu! "
Carolyn tidak bisa berkata kata lagi. Dia sudah sangat kesal. Dia pun pergi dari ruangan Deborah sambil menghentak hentakan kakinya sementara Deborah tersenyum manis.
__ADS_1
...
Carolyn keluar kantor tepat pukul 3 sore dengan wajah yang benar benar letih, kesal, marah, semua bercampur.
"Selamat sore Nona!" Sapa Xelino yang sudah bertandang menunggu Carolyn.
"Awas! Jangan menggodaku karena aku benar benar tidak selera!" Saut Carolyn meminggirkan tubuh Xelino. Xelino mengikuti arah tangan Carolyn. Carolyn sendiri yang membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam. Xelino menaikan alisnya sedikit heran. Xelino mengerti, pasti ada seseorang yang bisa melawan Carolyn dengan telak. Xelino terkekeh dan masuk ke dalam mobilnya juga.
"Kau kenapa Nona?" Tanya Xelino sudah melajukan mobilnya.
"Diam! Kau tidak perlu tahu!"
"Hem, masalah pekerjaanmu?" Tanya Xelino lagi. Carolyn meliriknya tajam tak suka.
"Diam Xelino! Kau ini!"
"Ini baru hari pertama, bersemangat lah! Kalau setiap hari kau bisa melaluinya, apa yang kau inginkan pasti tercapai?" Kata Xelino mencoba memberi motivasi.
"Apa termasuk rumahmu?" Saut Carolyn masih berusaha.
"Kalau itu kau harus menaklukan hatiku! Hahahaa!" Xelino malah balik menggoda.
"Sudah kau diam saja diam diam diam! Aku benci semuanya benci benci benci!!!" Carolyn merajuk dengan sangat geram.
"Baiklah! Jadi, apakah kita ke rumahmu dulu or swimming pool??" Tanya Xelino.
"Swimming pool! Semua perlengkapan ku sudah di sana!"
"Berangkat!!"
"Di sana kau hanya boleh mengikutiku sampai kolom renang! Jangan sampai ke ruang ganti!" Kata Carolyn memperingati.
"Xelino! Mengapa kau ini selaaaallluuuu menjawab setiap yang kau katakan?!" Decak Carolyn.
"Karena kau mengatakan hal yang sudah tahu harus ku kerjakan! Kau ini bodoh atau sengaja ingin membodohiku hah? Lebih baik kau yang diam!" Gertak Xelino memberanikan diri.
Carolyn terperangah Xelino membentaknya. Xelino sungguh berani dengannya. Carolyn akhirnya terdiam menatap keluar jalan. Ada sedikit guratan pada bibir Xelino. Dia kembali berhasil membungkam Carolyn.
Mereka pun sampai di kolam renang khusus kaum kelas atas. Socialite Sport Centre. Dari nama tempatnya saja sudah menunjukan sebuah kasta yang hanya orang berada yang bisa berolah raga di sini. Carolyn sedikit memperhatikan Xelino yang tampak biasa saja ketika memasuki tempat olah raga ini. Sebenarnya Xelino sudah pernah beberapa kali melakukan gym di sini bersama Jerry dan Allegra. Pernah juga bersama Dior dan Dion juga ayahnya sewaktu mengajak Dior berlibur ketika jaman kuliah.
"Xelino! Kau pernah kesini ya?" Tanya Carolyn hanya menerka.
"Sering!" Jawab Xelino sekenanya.
"Sering?? Kau yakin? Kau tidak salah tempat kan?" Carolyn melirik meledek.
Seketika Xelino tersadar. Dia terlalu santai dia akui.
"Maksudku, aku sering melihat kolam renang seperti ini di tv!" Gumam Xelino menggaruk garuk belakang kepalanya.
"Oh! Mana mungkin kau sering kesini," kata Carolyn mencibir.
"Kau benar! Lebih baik aku mandi di air terjun dekat rumahku di desa, lebih sehat dan menantang!" Tutur Xelino sedikit mendekatkan wajahnya pada Carolyn dengan seringaian yang membuat Carolyn kembali kesal padanya.
Carolyn pun langsung mengganti pakaiannya dengan sebuah bikini sport yang tidak terlalu terbuka namun tetap memperlihatkan lengan juga pahanya. Xelino sedikit meneguk salivanya melihat bentuk tubuh Carolyn yang tidak perlu diragukan lagi. Cukup berisi dan sintal. Carolyn juga cukup tinggi menurutnya.
__ADS_1
Untung saja Carolyn tidak melihat arah mata Xelino yang masih memandangnya. Sementara menunggu Carolyn berenang, Xelino sudah berbaring di sebuah sun lounger (seperti kursi malas atau kursi pantai untuk berbaring atau berjemur). Sesekali dia memperhatikan Carolyn berenang, sesekali dia memeriksa ponselnya dan memain mainkannya.
Carolyn terus berenang di sana sampai beberapa putaran. Dia melihat Xelino tampak bermalas malasan. Munculah ide yang hendak mengerjainya. Namun, baru saja ia ingin mengerjainya, Carolyn seperti melihat sosok yang pernah ia kenal bahkan pernah mengusik hati dan perasaanya.
"Kak Aciel? Kak Aciel? Ya, ya itu pasti Kak Aciel! Kak Aciel!" Pekik Carolyn menaiki kolam renang dengan cepat. Dia melihat seseorang bernama Aciel dan ingin mendatanginya. Xelino tersentak dan ikut mengejar Carolyn yang sudah berlari mengejar pria itu. Jarak pria itu memang sudah cukup jauh. Xelino berlari dan mengakui lari Carolyn cukup cepat.
"Ada apa dengannya? Malah tidak berpakaian begitu! Carolyn! Tunggu!" Pekik Xelino juga tapi Carolyn terus berlari sambil memanggil nama Aciel dan akhirnya dia berhenti ketika sampai di pintu masuk karena akhirnya pria itu berhenti lalu berbalik.
"Sorry, kau memanggilku? Tapi namaku Ansel bukan Aciel!" Kata pria itu.
Carolyn tersentak. Benar, pria ini bukan Aciel yang ia maksud. Hanya seseorang yang perawakan sampai gaya rambutnya mirip Aciel. Carolyn masih tertegun tak percaya. Mengapa masa lalunya kembali menghantui pikirnya.
"Kau bukan Kak Aciel! Maaf," kata Carolyn menundukan kepalanya.
"Ya nona, namaku Ansel, salam kenal," kata Ansel mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan Carolyn tapi Xelino memukul tangannya.
"Tidak perlu kalau kau bukan yang dimaksud nonaku! Pergilah!" Decak Xelino menatap tajam Ansel.
"Oh, oke! Senang bertemu denganmu nona cantik," tutur Ansel tersenyum. Carolyn sedikit melirik dan jantungnya berdegup. Sekilas senyum Ansel mirip seperti Aciel yang ia maksud. Ansel lalu kembali keluar gedung olah raga itu.
Xelino dengan sigap membuka jasnnya dan menaruhnya di punggung Carolyn untuk menutupi tubuhnya. Ketika Xelino mengenakan jasnya, dia malah melihat Carolyn meneteskan air matanya. Xelino terkejut sangat terkejut, ternyata seorang Carolyn bisa menangis.
Xelino lalu berjalan ke hadapan Carolyn ingin memastikan lebih jelas. Carolyn benar meneteskan air mata dan malah menangis sambil menutup wajahnya. Dia tidak ingin Xelino melihat tetapi Xelino jadi tidak tega. Xelino yakin ada masa lalu Carolyn yang sangat menyayat hatinya. Xelino menarik napas dan sambil mengeratkan lagi jas yang ia kenakan pada Carolyn, dia memberanikan diri untuk memeluknya. Carolyn diam saja dan malah menangis lebih kencang lagi.
"Sudah, jangan menangis, nona," kata Xelino sambil mengelusi punggung Carolyn.
...
...
...
...
...
namanya gek cw xel π
.
next part 10
apakah Aciel dan Ansel kembar?
apa tujuan Ansel?
Xelino? Lionel? apakah mereka berdua bisa membantu Carolyn dalam waktu yang berbeda?
wakakakakk ayo kita keder bersama ππ
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku ππ
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss ππ
__ADS_1
.
Thx for read and i love you so much much more and again β€β€