Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 28


__ADS_3

"Lexa, kau di kantor mu?" Tanya Leon satu jam setelah jam masuk kantor pada sambungan telepon.


"Ya, ada apa?" Lexa mengangkat dengan sedikit tegang dan khawatir, pasalnya bos nya belum sampai ke kantor. Viena tidak pernah terlambat, hari ini pasti ada suatu pengecualian.


"Sepertinya bos mu ke tempat kerja Tuan Revo, kau diamlah awasi kantormu dan bersikap tenang lah jika ada pengacara dari pihak perusahaan Tuan Revo. Aku akan mengantar Tuan Dion menemui Tuan Revo," jelas Leon dengan nada serius.


"Tapi Leon? Aku khawatir dengan Nyonya Viena, aku aku,"


"Diamlah, serahkan semuanya padaku dan Tuan Dion. Setelah semuanya beres aku akan menjemputmu sore nanti untuk menemui ayah Solane, oke?" Potong Leon menenangkan Lexa.


"Baiklah, hati hati!" Kata Lexa menutup telepon. Lexa sedikit cemas dengan keadaan tuannya. Semalam tak sadarkan diri karna melihat iklan yang tidak sesuai namun mengatas namakan semua perusahaan iklannya.


Dan lagi, dia juga mencemaskan hatinya, ternyata Leon masih juga memikirkan ayah Solane. Lexa tertunduk pada meja telepon kantor. Leon tidak bisa menghubungi ponsel Lexa jadi dia menghubungi pesawat telepon kantor.


"Lexa, bagaimana keadaan bos?" Tanya Lucy menepuk bahu Lexa.


"Sepertinya dia akan membuat perhitungan," jawab Lexa mendongakan wajahnya.


"Kau jangan mencemaskannya,"


"Tidak, ada Tuan Egnor, pasti Tuan Egnor akan menyelidikinya," jawab Lexa yang kini duduk di kursi kerja Lucy.


"Lantas?"


"Lucy, aku bertanya padamu, ada apa denganku, aku sudah dekat dengan Leon, namun aku selalu kesal jika dia terus membicarakan mantannya atau ayah mantannya. Tapi, aku bukan siapa siapanya, aku hanya ingin berbuat netral seperti temannya. Tapi setiap dia berkata mantannya atau wanita lain, aku, aku seperti diduakan. Tapi aku hanya ingin berteman seperti denganmu dengan Abby, hanya itu?" Lexa menjelaskan dengan sedikit terbata dan seperti tidak mau disalahkan akan hatinya.


Lucy menatap Lexa sangat dalam. Tatapannya seperti mengintimidasi.


"Jawab saja, jangan menatapku seperti itu!" Lexa memalingkan wajah Lucy yang menatapnya dengan penuh makna dan sebentar lagi pasti sahabatnya itu akan menggodanya.


"Kau tahu jawabannya, sudah sana ke ruanganmu! Aku tidak bisa menjelaskan banyak karna kau akan membantahnya jika aku mengatakan kau mencintainya, sudah sana!" Lucy menarik tubuh Lexa untuk segera kembali ke ruangannya.


"Lucy percayalah, aku masih belum mau memiliki kekasih,"


"Bicara saja pada pulpen ini, dia akan mengerti isi hatimu yang palsu!" Lucy memberikan pulpen di samping tangan Lexa karna benar dugaannya kalau Lexa tidak akan percaya pada apa yang dikatakannya.


"Kau jahat Lucy! Hem!" Lexa akhirnya menyerah dan menuju ruangannya.


"Pulpen, jika aku mencintaimu aku akan terus melindungimu dan mengatakan yang sebenarnya, oh pulpen! Ble!" Lucy masih menggoda Lexa yang menatapnya masam dan menjulurkan lidahnya.


...


Dan sore itu tiba, Leon menjemput Lexa dengan wajah yang agak kusut dan tampak lelah. Leon agak terlambat sepuluh menit dari jam yang ia tentukan. Lexa sudah menunggu di bawah tangga sambil memainkan ponselnya.


Leon dengan sedikit merapikan rambutnya berlari kecil menghampiri Lexa. Lexa telah menyadari kehadiran Leon.

__ADS_1


"Ada apa dengan mu, Leon?" Tanya Lexa yang terasa aneh Leon datang dengan membenarkan rambut dan mengusap kasar wajahnya.


"Argh! Aku habis menyaksikan drama yang benar benar menguras hati, khususnya hati bos mu Lexa!" Kata Leon setelah sampai di depan Lexa.


"Kenapa dia Leon?"


"Ya, semua sudah terbongkar, Tuan Revo dan Tuan Marcel memang sudah merencanakan semuanya untuk melakukan sabotase pada iklanmu. Dan Tuan Egnor sudah menyelidiki kasus ini, jadi kau tenang saja, nama perusahaan iklan kalian aman!" Jelas Leon.


"Dan, kemana Nyonya Viena?"


"Ah iya, tadi aku sudah mengantarnya pulang ke apartemennya, dia kasihan sekali Lexa. Setelah keluar dari kantor Tuan Revo, aku hendak mengantarnya dan Tuan Dion pergi makan siang di pinggir pantai, tapi kekasih Tuan Dion masuk rumah sakit. Jadi, kami semua ke rumah sakit menemui Nyonya Pevi dan Nyonya mu melihatnya. Kami tidak jadi ke pantai dan wajah Nyonya mu jadi berubah, hem, aku tidak bisa menghiburnya ketika perjalanan ke apartemennya," Leon menjelaskan dengan wajahnya yang cukup lesu. Dia merasakan apa yang di rasakan tuannya Lexa.


Lexa menarik napas. Sungguh berat perjalanan hidup majikannya. Namun, biar bagaimanapun, Lexa yakin, tuannya itu akan menghadapinya dengan hati lapang.


"Sebaiknya, kau peringati bos mu, jangan mendekati bos ku lagi, cih mengapa semua pria suka menyakiti perempuan!" Decak Lexa menyunggingkan bibirnya.


"Aku janji, aku tidak akan menyakitimu," kata Leon gombal.


"Benarkah? Sekarang saja kau sudah membuat hatiku sakit!" Kata Lexa pelan dan berjalan kekuar kantor.


"Lexa, apa maksudmu?" Tanya Leon menyusul Lexa.


"Tidak apa apa, kau datang dengan wajah lelah seperti itu itu aku tidak senang, kau jelek," kata Lexa mengalihkan. Padahal dia sedang memikirkan perasaannya nanti ketika Leon menghampiri ayah mantannya bersama mantannya di dalam kamar rumah sakit.



...


Mereka telah tiba di rumah sakit tempat ayah Solane di rawat. Lexa dan Leon bertanya pada meja informasi kamar rawat Tuan Reynald Tsui. Mereka menyusuri lorong rumah sakit menuju lantai 3. Lexa cukup terkesiap karna Leon menggandeng tangannya.


"Lepaskan Leon ini tempat umum!" Lexa menghempaskan tangannya. Dia tidak mau jadi terlalu berbunga bunga jika nanti dia akan melihat kesedihan yang sudah menantinya.


Mengapa dia bisa senaif ini? Pikirnya sepanjang perjalanan menuju kamar rawat ayah Solane.


Leon menerima penolakan Lexa. Dia mengerti apa yang saat ini dirasakan Lexa. Mungkin ada rasa kecemburuan, mungkin juga ada rasa kesedihan. Namun, lagi lagi Leon tidak mau terlalu percaya diri. Mereka masih ber status single. Tidak ada yang harus dikekang.


Lexa dan Leon telah tiba di kamar yang diberitahu. Namun, ketika Leon mengetuknya tidak ada jawaban. Leon membuka sedikit pintu kamar nya, ternyata memang kosong tidak ada orang satupun. Hanya tempat tidur rumah sakit yang agak berantakan. Lexa dan Leon yakin mungkin sedang ada pengecekan dan Tuan Reynald belum keluar dari rumah sakit.


"Permisi, cari siapa?" Tanya sang suster melihat kedatangan Lexa dan Leon. Sang suster yang menjaga kamar rawat spesial VIP Tuan Reynald mengingat Tuang Reynald adalah orang penting.


"Saya mencari Tuan Reynald, sus," jawab Leon.


"Maaf Tuan Reynald kembali dipindahkan ke emergency room karna jantungnya drop dan membutuhkan alat bantu pemicu jantung. Silahkan Tuan dan Nyonya bisa kesana untuk melihatnya," jelas sang suster membuat Lexa mengernyitkan alisnya.


"Kau bilang aku apa? Nyonya?" Tanya Lexa karna dirinya merasa masih muda dan belum menikah.

__ADS_1


"Maaf nona saya tidak tahu, saya kira anda dan Tuan ini sudah menikah, kalian sangat serasi," suster tersebut menunduk meminta maaf.


"Hahaha, ya kami sudah menikah, emm mungkin tahun depan, kami memang serasi, begitulah memang, ya kan Lexa?" Leon berbunga bunga. Akhirnya ada yang mengatakan kalau mereka berdua serasi.


Leon menepuk kecil bahu Lexa sementara Lexa masih sedikit kesal tetapi wajahnya tidak bisa dibohongi. Hatinya tetap tersipu.


"Sekali lagi maaf nona," kata sang suster lagi.


"Tidak apa sus, karna alasanmu sangat masuk akal, yasudah terimakasih atas informasinya, kami akan ke emergency room, permisi," Leon mengiring Lexa menuju ke emergency room.


"Huh! Apa wajahku sangat tua?! Dia panggil aku nyonya Leon!" Decak Lexa seperjalanan ke emergency room.


"Kau tidak dengar alasannya, karna kau serasi denganku makanya dia pikir kita sudah menikah, dan kurasa itu ide yang bagus Lexa. Kau mau menikah denganku?" Kata Leon bergurau.


"Dalam mimpimu! Lepaskan rangkulanmu!" Lexa lagi lagi menghempaskan rangkulan tangan Leon. Hem, sebenarnya hati Lexa bergidik. Dia benar benar tersipu atas pernyataan Leon. Ya, mungkin jika takdir mereka akan menikah.


Lexa mengguratkan sedikit senyum yang langsung disadari oleh Leon. Leon ikut tersenyum. Sebentar lagi dia akan mendapatkan cinta Lexa. Pikirnya.


Ketika telah sampai di emergency room, di sana ada Solane yang menatap kondisi ayahnya dengan sangat cemas. Dia sudah tidak punya apa apa lagi. Namun juga dia masih menyembunyikan sesuatu yang ia inginkan.


"Solane?" Panggil Leon lirih. Solane menoleh dengan wajah yang berurai air mata.


Dia langsung menghamburkan dirinya ke pelukan Leon. Leon tersentak, khususnya Lexa yang sangat tak menyangka adegan pelukan ini. Leon tidak memeluknya kembali karna wajah Lexa terpancar sangat kecewa. Namun, Lexa malah menyunggingkan senyumnya dan mengangguk kecil. Lagi lagi Leon benar benar terhanyut dengan kenaifan Lexa dan kebesaran hatinya. Leon semakin yakin kalau Lexa lah wanita yang tepat menjadi pasangan hidupnya.


"Tenang Solane, bagaimana Tuan Reynald?" Leon akhirnya menepuk nepuk kecil bahu Solane. Solane masih menangis sesenggukan.


"Dad sedang melawan maut, Leon, aku tidak yakin dia akan bertahan. Saat ini Dokter sedang mengusahakan kelangsungan hidupnya. Aku sudah tidak ada siapa siapa lagi, Leon," Solane masih terus menangis.


Sejujurnya hati Lexa sangat merana melihat Solane memeluk Leon, namun dia juga mengerti bagaimana perasaan Solane yang sangat sedih dengan kondisi ayahnya. Dia juga pernah merasakan di posisi Solane. Ketika ibunya sedang melawan maut dan dia hanya bersama Suster Regina. Begitu mencekamnya semua jiwa raganya dan dokter menyatakan kalau ibunya tidak bisa diselamatkan. Dia benar benar ketakutan pasalnya dia hanya tinggal bersama ibunya. Semuanya dia lewati dengan sendiri, untung saja Suster Regina mau merawatnya sehingga ia menjadi wanita kuat mencari sesuap nasi dengan keringatnya.


Tak berapa lama sang dokter keluar. Solane menarik dirinya dari Leon. Dia lalu menanyakan keadaan ayahnya.


"Anda Nona Solane? Tuan Reynald hendak bertemu denganmu dan seorang pria bernama Leon, beliau hendak mengatakan sesuatu, semoga setelah bertemu dengan anda, beliau menjadi membaik, jadi saya sarankan jangan membuatnya terlalu banyak berpikir," kata sang dokter memberi tahu. Membuat perasaan Lexa semakin jatuh terpuruk ketimbang merana melihat Solane memeluk Leon.


Akhirnya adegan yang menjadi pikirannya akan ia lihat. Solane melihat Leon. Leon mengangguk menandakan dia akan ke dalam. Solane tersenyum kecil dan langsung menyeruak masuk ke emergency room. Leon juga hendak masuk ke ruangan, sementara Lexa menundukan kepalanya. Namun, tak berapa lama wanita itu tersentak. Leon ternyata meraih tangannya dan menggandeng tangan putih kemerahan itu untuk ikut masuk ke dalam ruangan.


...


next part 29


mari kita selesaikan si Solane 😬


plis like komen tip juga boleh hihi 👍


thankyou all laf you ..

__ADS_1


__ADS_2