Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 50


__ADS_3

Leon menatap sendu Lexa. Lexa tersenyum sungguh manis. Leon akhirnya ikut tersenyum. Dia mengelus kepala Lexa lalu menarik diri Lexa masuk ke dalam pelukannya.


"Aku benar benar merindukanmu, Lexa! Kau tidak nakal kan?" Kata Leon memejamkan matanya merasakan tubuh wanita pujaan hatinya dipelukannya. Lexa juga merasakan aroma tubuh Leon yang sangat menenangkan hatinya. Dia juga memeluk Leon. Rasa nya mereka seperti sepasang kekasih namun belum berani mengatakannya.


"Kau yang nakal! Aku tahu kau pasti bertemu wanita cantik di Oriental kan?" Decak Lexa masih dalam pelukan asisten cintanya.


"Wanita cantik apa, yang ada aku melihat pisang pisang berkeliaran berkulut jas lengkap yang membuatku frustasi!! Kau tahu wanita yang menjadi pikiranku segar siapa?" Kata Leon.


Lexa langsung menarik diri dari Leon karna sedikit kesal. Ternyata Leon benar mencari wanita lain selain dirinya. Ya, dia tahu mereka belum berhubungan pasti, tapi Leon berjanji tidak mau dekat wanita lain selain dirinya.


"Siapa?! Kau memang musang genit!" Decak Lexa menunggu Leon mengatakannya. Leon meraih ponselnya yang ada di meja dan mencari cari sesuatu di sana.


Leon lalu menunjukan foto Lexa mengenakan gaun hitam yang ia ambil ketika beberapa kali mereka pernah makan malam formal bersama.


"Ini dia! Kau cemburu? Pantas lah, karna dia sangat cantik!" Leon terkekeh dan Lexa tersenyum kecut. Leon seperti sedang balas dendam padanya mengerjainya. Tapi, Lexa malah tersenyum lalu dia merengkuh pergelangan lengan Leon dan menyandarkan kepalanya di sana.


"Terimakasih Leon, kau masih mengingatku! Aku juga merindukanmu!" Kata Lexa membuat Leon lagi lagi terenyuh.


"Ya, aku ini memang pria tampan yang mudah dirindukan Lexa." Leon tersenyum sumringah dan mengelus tangan Lexa.


"Jadi, apa yang kau bawa untukku Lexa?" Tanya Leon meraih bungkusan paper bag yang tadi sempat ia lempar asal.


"Kau buka saja lalu dicoba." Kata Lexa yang tak sabar melihat penampilan Leon. Dia sudah membayangkan pasti Leon sangat tampan.


"Kemeja maroon, jas hitam, celana bahan, dasi kupu kupu," Leon mengeluarkan isi pada paper bag tersebut ke atas meja.


"Kenapa dasi kupu kupu, Lexa?" Tiba tiba Leon terpaku pada sebuah dasi kupu kupu senada dengan jas hitam nya. Satu alisnya terangkat menatap aneh pada Lexa.


"Ya kenapa? Itu memang pasangannya. Lucu Leon!" Jawab Lexa mengambil dasi itu lalu mencocokannya di leher Leon.


"Argh, aku tidak mau! Aku mau pakai dasi biasa Lexa. Lucu sekali aku memakai dasi kecil ini!!" Leon menghempaskan pelan tangan Lexa.


"Tidak boleh! Harus beda dengan yang lain. Kau tahu tidak semua pegawai Nyonya Viena dan Tuan Dion mengenakan kemeja warna putih, hanyamu yang mengenakan maroon bersama gaun ku tentu saja. Jadi kau harus tampil beda dengan dasi lucu ini Leon!" Lexa tetap tidak mau kalah.


"Pokoknya tidak ya tidak! Aku punya dasi biasa yang lebih keren! Sudah, kau tunggu di sini aku akan mencoba baju ini!" Kata Leon tetap pada pendiriannya. Dia lalu beranjak ke kamarnya untuk mencoba pakaian yang Lexa bawa.


Ketika sudah mengenakan semuanya terkejut lah Lexa karna pria nya sangat tampan dan gagah. Perpaduan maroon dan hitam yang sungguh membuat Leon sangat maskulin.


"Pakaian ini pas sekali untukku Lexa. Nyonya Viena tahu ukuranku ya? Atau Tuan Dion yang ternyata secara diam diam memperhatikan tubuhku. Iiihhh, kok aku jadi ngeri?" Kata Leon keluar dari kamar memasang satu kancing jad nya dan sedikit bergidik mengingat bos nya tahu semua ukurannya.


"Bos mu apa?! Aku yang tahu ukuran pakaianmu Leon! Kau sangat sangat tidak berterimakasih padaku ya?! Musang busuk!" Decak Lexa yang agak kesal karna Leon tidak peka terhadapnya. Hal ini sontak membuat Leon sangat terkejut. Dia lalu duduk di samping Lexa.


"Kau serius Lexa? Kau yang menceritakan ukuranku pada si penjahit? Waahh, ternyata kau juga diam diam menelanjangiku dengan mataku, iya kan? Mengaku saja! Hem, kelinci mesum!"


"Kelinci mesum apa! Makanya jangan dekat dekat denganku! Sudahlah aku haus, bukannya memberiku minum ke apartemenmu, malah mengataiku kelinci mesum! Siapa suruh ganti baju tidak menutup kamar!" Lexa beranjak dari duduknya menuju dapur dan berceloteh tak karauan setelah memukul pelan pipi Leon.


Leon tersenyum melihat tingkah Lexa yang dalah tingkah. Dia lalu mengikuti Lexa yang sedang membuat dua minuman hangat di dapur. Leon lalu memeluknya dari belakang.


"Thank you my Lexa! Kau benar benar memperhatikanku sampai ke semua ukuran bentuk tubuhku. Kau bahkan tak memberitahuku. Terimakasih ya?" Tutur Leon mendekap erat Lexa dan menenggerkan kepalanya di bahu Lexa. Lexa tidak bisa menolak perlakuan Leon yang begitu hangat.


Lexa merasakan ketulusan Leon mengucapkan terimakasih padanya. Dia tersenyum mengelus tangan Leon yang melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


"Sama sama Leon! Semoga kau menyukai apa yang kubuat untukmu." Kata Lexa lembut.


"Aku selalu menyukainya. Ini sangat nyaman ditubuhku dan aku juga sungguh nyaman memelukmu seperti ini Lexa. Aku benar benar merindukanmu sayang!" Kata Leon yang lagi lagi terhanyut dengan tubuh Lexa yang ia peluk. Aroma tubuh Lexa yang tidak terlalu menyengat membuatnya malah ingin mengecupi setiap inci tubuh Lexa.


Leon malah mulai menurunkan sweater Lexa yang menutupi pundak Lexa. Dia mengecupi pundak Lexa pelan pelan sampai pada leher Lexa. Namun ketika Leon melihat pipi dan wajah Lexa yang sedang memejamkan matanya menerima perlakuannya malah mengingat kejadian kemarin. Dimana Lexa begitu marah dengannya. Akhirnya Leon menyudahi aksinya. Memang belum sekarang dia melakukannya. Mengingat kesensitifan Lexa yang berbeda dengan wanita wanita lain.


Leon melepaskan pelukannya, membuat Lexa menoleh ke arahnya dan berbalik.


"Ada apa Leon?"


"Hah? Tidak, aku ke depan dulu, kau lanjutkan membuat minumannya. Aku tunggu di ruang tamu." Jawab Leon sedikit kikuk dan meninggalkan Lexa.


"Leon pasti tidak ingin aku marah seperti kemarin? Padahal aku benar benar menikmatinya. Ah, kau memang wanita bodoh Lexa!" Gumam Lexa pelan sedikit menyesal dengan kekasarannya yang mungkin membuat Leon trauma. Lexa melanjutkan membuat coklat hangat untuknya dan Leon.


Selesai Lexa membuatnya, Lexa mengantarnya ke ruang tamu dan menemukan Leon sedang menutup wajahnya dan sesekali mengusapnya.


"Kau kenapa Leon?" Tanya Lexa meletakan dua cangkir coklat hangat di atas meja.


"Kepalaku sedikit pening." Jawab Leon menyandarkan kepalanya ke belakang sofa.


"Kenapa bisa?" Lexa mencoba memegang dahi Leon. Ternyata Leon sedikit hangat.


"Kepalamu hangat Leon. Kau sakit?" Kata Lexa menatap Leon yang sedikit pucat. Leon malah meraih tangan Lexa dan meletakannya di dadanya.


"Lexa, aku memikirkanmu. Aku ingin minta maaf karna waktu itu aku seperti melecehkanmu. Dan, aku kesal karna kau hendak menaiki mobil seseorang untuk menghindariku. Perasaanku benar benar tak karuan memikirkanmu Lexa." Tutur Leon membuat Lexa luluh dan menjadi ikut merasa bersalah.


Dia lalu mengelus dada Leon lembut.


"Kau memang bukan siapa siapaku tapi percayalah Lexa, aku hanya menginginkan dirimu. Sabar lah dulu sebentar, aku akan membuatmu segala galanya dalam hidupku!" Leon makin memegang tangan Lexa dengan sangat erat.


"Aku percaya. Aku akan menunggu Leon. Eng, masalah mobil waktu itu, itu Tuan Jerry Leon. Dia tidak sengaja lewat dan mengajakku makan malam. Dia tidak tahu kalau aku sedang bersamamu. Aku kesal terhadapmu jadi aku mau ikut dengannya ketika kau mengejarku. Tapi kalau tadi kau tidak mengejar, jujur saja aku menolaknya, hehe!!" Lexa terkekeh dan berusaha menjelaskan karna dia tidak akan membiarkan Leon berpikir dirinya seperti wanita yang tidak tidak.


"Oh Tuan Jerry? Lalu yang bersamamu di tempat souvenir? Kalian terlihat sangat akrab." Selidik Leon.


"Tuan Jerry juga. Seperti jodoh saja!" Kata Lexa tidak sengaja berkata kata jodoh karna begitulah yang Tuan Jerry katakan waktu itu. Tapi, hal ini malah membuat Leon naik pitam.


"Jodoh apa?! Hanya kebetulan bertemu! Kau bisa bicara atau tidak?! Sudah, tidak usah membahas tom and jerry itu, sini coklat panas itu biar sekalian panas otak ini!!" Kata Leon sangat kesal dan menyuruh Lexa dengan agak kasar.


"Huh! Kau yang bertanya kau juga yang marah! Ini coklat panasmu, hati hati panas! Aku akan mengambil kompres!" Saut Lexa yang sudah semakin mengenal Leon yang hatinya menjadi panas jika ada laki laki yang walau hanya sekedar dekat dengannya.


Ketika Lexa kembali membawa kompresan, Leon sudah tertidur dengan masih mengenakan kemeja maroonnya. Lexa menghela napas. Dia mengompres dahi Leon terlebih dahulu sebelum dirinya membersihkan diri di apartemen Leon. Dia memang sudah berniat akan menginap di sini dan akan pergi bersama ke pemberkatan tuan dan nyonya nya.


Ketika sudah membersihkan dirinya ternyata Leon sudah berpindah ke kamar tidurnya. Lexa memeriksanya dan memegang dahi Leon lagi. Leon tambah hangat. Lexa terpaksa membangunkannya untuk meminum seperti paracetamol yang selalu Lexa bawa kemanapun di tasnya.


"Bangun Leon! Kemejamu saja belum kau buka! Buka ayo buka! Dan minum obat ini ayo!!!" Perintah Lexa menarik tubuh Leon yang sudah memeluk gulingnya.


"Aahh, besok juga sembuh Lexa!" Leon masih menolak.


"Kau berat sekali! Kau bangun sendiri atau aku pulang malam ini juga ke flat ku!" Ancam Lexa. Dia hanya duduk di sisi tempat tidur dan melipat tangannya di depan dadanya menunggu respon Leon atas ancamannya.


Leon sedikit melirik dan melihat Lexa mengenakan piyama dress dan Leon merasa Lexa sangat manis. Dia akhirnya duduk dan menengadahkan tangannya.

__ADS_1


"Mana obatnya? Kau benar benar berniat menginap di apartemenku ya? Tidak takut kuhabisi?" Kata Leon menaik turunkan alisnya. Lexa masih memasang wajah kesal. Dia beranjak mengambil obat di atas nakas samping tempat tidur Leon.


"Ini! Habisi habisi, minum obat saja harus diancam bagaimana bisa menghabisiku, yang ada kau akan pingsan menghadapi loncatan lihai kelinci ini!" Umpat Lexa dengan wajah memburu.


"Hah! Kali ini kau lolos, tapi kalau ada kesempatan seperti ini lagi, aku tidak peduli kau menamparku atau tidak, aku akan menghabisimu kelinci!!" Decak Leon meraih obat yang Lexa berikan dan meminumnya.


Leon kembali hendak langsung berbaring namun Lexa menahannya.


"Lepaskan kemejamu! Kemeja ini untuk dipakai besok Leon! Dan ganti celanamu! Cepat buka kemejamu, aku akan menggantungnya!" Perintah Lexa.


Leon segera melepas kemejanya lalu membuangnya asal. Dia lalu menarik Lexa masuk dalam pelukannya dan berbaring bersama.


"Leon!! Aku mau menggantung bajumu dulu!"


"Tidak usah! Sudah diam di sini, besok kita harus bangun pagi!" Leon memeluk Lexa sambil mengecup belakang leher Lexa yang terpampang jelas karna Lexa menguncir rambutnya ke atas.


"Tapi celanamu?"


"Kau mau aku melepasnya sekarang?" Goda Leon. Leon tidak melepasnya karna itu bukan celana yang harus ia gunakan besok. Dia belum mencobanya.


"Tidak tidak!!! Aarrghh, kau menyebalkan!" Lexa akhirnya menyerah dan ikut terlelap dalam pelukan Leon seperti yang ia harapkan.


Leon benar benar pria yang baik dimatanya. Dia tidak memaksa Lexa melakukan hal yang seharusnya sudah terjadi pada mereka.


...


...


aaahhh baean juga peluk pelukan lagiii


hadeehhh berasa bat dah ah hati pen dipeluk kamu juga leon 😝😝


.


next part 51


yuk kondangan ke pernikahan Nyonya Viena dan Tuan Dion dulu .. ada kejadian apa ya di sana?


.


eh eh mau tanya deh 😁😁


situ pernah punya ttm an ga?


terus kalo punya agak kesel ga kalo dia deket sama lawan jenisnya?


terus ngatasinnya gimana?


cuma pen tanya aja itupun kalo boleh tau kalo kaga ga ngapa hihihii 😁😁


.

__ADS_1


oke thanks for read and i love youuuu 💕💕


__ADS_2