
Kesulitan terbesar dalam menjalani kehidupan sehari hari biasanya karena terlepas dari sebuah pegangan yang selalu menyertai kita. Ketika sang penolong sejati selalu di sisi dan muncul masalah baru, di sanalah Carolyn akan mencoba menyelesaikannya sendiri. Atau, mungkin juga dia tetap merajuk pada Xelino? Temukan jawabannya. Kapan hati mereka seling berlabuh? Apalah banyak halangan untuk mereka?
...
Carolyn menatap geram pada Grizel dan Lila yang tetap berdiri di sana. Grizel dan Lila tentu sangat takut kalau Carolyn tetap menuduhnya sehingg dia bisa seenaknya mengatakan pada bibinya apa yang mereka perbuat sebelumnya.
"Carolyn, percayalah bukan kami yang melakukannya," kata Grizel mencoba menjelaskan lagi dan lagi.
"Bohong!" Bentak Carolyn sangat kesal.
"Benar Carolyn. Kami kesini hendak memanggilmu tetapi kau tak ada. Kami malah melihat maket yang kau buat hancur begini," tambah Lila membantu Grizel menjelaskan.
"Aku tidak percaya pada kalian!" decak Carolyn menatap tajam keduanya.
"Kalau begitu, kau lihat saja rekaman CCTV nya. Kami benar benar tidak melakukannya dan bahkan kami ingin membantumu!" saut Lila lagi membela diri.
"Hem, kalian berdua benar benar pembawa sial. Awas, biar ku lihat!" Decak Carolyn meminggirkan Grizel dengan kasar. Carolyn memperhatikan maketnya. Terdapat kerusakan pada dinding belakang rumah juga di samping. Dia membutuhkan perekat dan mungkin lem yang kuat.
"Grizel, ayo kita bantu dia dan minta dia untuk menghapus video kita menghancurkan ipadnya," bisik Lila mencari jalan keluar atas apa yang sebelumnya ia lakukan pada Carolyn. Grizel mengangguk.
"Carolyn, biar kami membantumu ya? Kau butuh apa? Kami akan membawakannya," tutur Grizel melembut.
"Aku butuh lem karton yang kuat, kalian ada atau tidak? Kalau kalian tidak mempunyainya sekarang juga, aku akan tetap menuduh kalian dan mengtakan pada bibiku!!" ancam Carolyn masih sangat kesal dan menyalahkan Grizel dan Lila.
"Ada Carol, ada, tunggu sebentar ya? Lila, kau bantu Carolyn lainnya," kata Grizel.
Grizel segera keluar ruangan Carolyn dan menuju ke ruangannya. Ternyata Grizel kehabisan lem tersebut. Sementara Carolyn masih menyusun maketnya itu. Grizel menyuruh Lila untuk mencari di ruangannya tapi Lila tetap tidak mempunyainya. Carolyn sudah sangat geram akhirnya Carolyn menggunakan perekat berbahan kain yang berwarna putih. Perekat itu benar benar membuat sisi sisi maketnya jadi cacat dan tidak semenarik sebelumnya. Carolyn terpaksa menggunakannya karna Deborah sudah memanggilnya untuk presentasi.
"Carolyn? Kami akan membantumu bicara pada Nyonya Deborah, tapi kami mohon jangan menuduh kami. Kami mau melakukan apapun untukmu," pinta Grizel meyakinkan Carolyn.
"Yasudah, bawa maketku dan jangan macam macam lagi! Aku bisa membuat kalian sangat sangat sengsara ketika kelur dari perusahaan bibiku ini!" ancam Carolyn lagi.
"Tenang saja Carolyn!" Balas Grizel dan dengan hati hati membawa maket Carolyn.
Mereka tiba di ruang pertemuan dengan Ansel dan Erina yang sudah di sana. Awalnya Rietha dan Deborah menyambutnya dengan ramah tapi Deborah ada yang tidak beres dengan maket yang dibawah Grizel.
"Ada apa dengan maketmu, Carolyn? Maket yang Grizel bawa adalah yang kau buat kan? Mengapa cacat begitu?" Selidik Deborah memburu. Grizel dan Lila sudah meneguk salivanya takut Deborah akan memarahi Carolyn habis habisan.
"Terserah kau mau percaya atau tidak Bibi, Nyonya Deborah! Sewaktu aku membawanya kemari, maket ini baik baik saja. Aku meletakannya di meja kerjaku dan aku membuat minuman. Tetapi kita aku kembali maket ini sudah hancur dan aku memergoki mereka ada di dekat maket ku," tutur Carolyn dengan apa yang ia lihat. Seburat senyum licik tampak pada mulut Erina sementara Ansel memasang wajah tak tega.
"Oh Tuhan, Carolyn kau benar benar tidak percaya pada kami? Nyonya Rietha, Nyonya Deborah, bukan kami yang melakukannya. Silahkan lihat rekaman CCTV kalau bukan kami yang melakukannya!" bela Lila.
"Kalian berdua ini benar benar sangat merepotkan! Carolyn aku tidak bisa menyalahkan mereka berdua juga, tetap kau yang harus bertanggung jawab. Nanti kau harus membuatnya ulang. Sekarang kau presentasikan apa yang kau bisa!!" kata Deborah mengakhiri perdebatan.
"Apa? Membuat ulang? Ini sangat membuang buang waktu nyonya!" bantah Carolyn.
"Sudah dua kali kali kau melakukan kesalahan! Apalagi sekarang ada Tuan Ansel," ujar Rietha pelan dan sedikit kecewa pada keponakannya.
"Bibi, seharusnya kau membantuku bukan malah memojokanku!" decak Carolyn sebal.
"Kau presentasi saja dulu!" kata Rietha kemudian.
"Ah, menyebalkan!"
Carolyn akhirnya mempresentasikan dengan segala yang ia bisa. Meski begitu dia merasa sudah gagal karena pikirannya jadi buyar tidak bisa membayangkan rumah yang sesungguhnya. Maket yang sudah cacat itu sangat mempengaruhi seleranya untuk melakukan sesuatu. Karena dari maket itu dia bisa membayangkan kondisinya. Namun, tetap saja di akhir presentasi, Ansel malah memberikan tepuk tangan padanya. Ansel sampai berdiri karena takjub dengan presentasi Carolyn.
"Kau hebat sekali Carolyn!" Kata Ansel memuji sambil tersenyum manis. Seketika hati Carolyn bergetar kembali mengingat Aciel.
"Pembawaan dirimu dalam presentasi barusan sangat menggugah hatiku. Aku sangat tidak sabar untuk membangun rumah itu. Aku ingin semuanya cepat selesai!" Kata Ansel lagi. Carolyn menundukan kepalanya. Mengapa bayang bayang Aciel malah melingkupi Ansel padahal wajahnya tidak terlalu mirip. Dan, Carolyn akui kalau Ansel cukup manis.
Rietha tersenyum mendengar tanggapan Ansel atas presentasi Carolyn yang menurutnya tidak begitu menarik. Namun, sekarang poin penting ada pada komentar dan kepuasan Ansel.
Mereka semua kembali ke ruangan mereka. Carolyn masih menyesalkan maketnya sementara Deborah menginginkan Maket itu kembali benar dan bagus. Carolyn memegang kepalanya frustasi. Saat saat seperti ini Carolyn malah ingin bertemu dengan Xelino. Carolyn hendak menghubunginya.
Baru saja satu panggilan tersambung, seseorang mengetuk pintu ruangannya. Ansel berada di daun pintu. Carolyn mematikan panggilan untuk Xelino itu.
"Tuan Ansel?" ujar Carolyn sedikit gugup
"Ansel. Panggil aku Ansel saja, Carolyn," kata Ansel mendekati Carolyn. Carolyn tentu mempersilahkan Ansel duduk di sofa panjang yang tadi ia duduki. Mereka berdua terpaksa duduk di sofa panjang itu.
"Kau bersedih?" Tanya Ansel menoleh pada Carolyn. Carolyn menggeleng. Ansel terkekeh.
"Kau tenang saja, aku sudah bicara pada Nyonya Deborah untuk tidak mempermasalahkan maketmu. Aku sudah bisa membayangkan apa yang hendak kau tampilkan untuk pembangunan rumahku itu," kata Ansel dengan penuh kelembutan.
"Oh iya, terimakasih Tuan Ansel," ucap Carolyn menautkan tangannya dan menundukan kepalanya.
"Tuan lagi? Ansel saja Carolyn," balas Ansel memberanikan diri memegang punggung Carolyn.
"Ah iya maksudku Ansel," Carolyn menghela tangan Ansel. Ansel menerimanya dan tersenyum.
"Em Carolyn, jadi kapan pembangunannya? Aku sudah tidak sabar," kata Ansel lagi kemudian.
"Aku akan menanyakan pada Nyonya Deborah terlebih dahulu," jawab Carolyn terbata dan benar benar gugup.
"Oke, kau bisa memberitahuku. Ini kartu namaku. Aku ingin terlibat di dalamnya. Aku sangat menantikan rumah itu," gumam Ansel.
"Kenapa?" Tanya Carolyn yang tiba tiba mengeluarkan pertanyaan itu karena dia benar benar merasa bertemu kembali dengan Aciel. Ansel menatap Carolyn.
"Karena aku mau melihat segala proses pembuatan rumah yang akan kujadikan rumah masa depanku, bersama wanita yang kucintai tentu saja," jawab Ansel terus melebarkan senyumnya.
__ADS_1
Deg!
Mengapa tujuan Ansel sama dengan tujuannya memiliki rumah seperti itu?
"Kau akan menikah?" tanya Carolyn lagi.
"Tidak, aku belum menemukan wanita yang tepat, apa kau ingin menjadi wanita itu?" Tanya Ansel bergurau.
Wajah Carolyn memerah. Kondisi ini sama seperti ketika Aciel meminta Carolyn untuk menjadi kekasihnya. Ansel tersenyum. Dia hendak meraih tangan Carolyn tapi bersamaan dengan itu, ponsel Carolyn berbunyi. Telepon dari Xelino. Carolyn sangat lega karena bisa mengalihkan suasana yang sebenarnya hendak ia kubur dalam dalam.
"Maaf, aku harus mengangkat panggilan," kata Carolyn sedikit lega karena bisa sedikit menjauh dari Ansel.
Ansel tersenyum mengangguk tetapi mengumpat dalam hati siapa orang yang sangat mengganggunya.
Carolyn meraih ponselnya di meja kerja, dia melihat nama Xelino di layar ponsel itu. Tanpa sadar Carolyn malah tersenyum melihat nama itu. Dia segera mengangkatnya.
"Xelino?" panggil Carolyn.
"Ada apa menghubungiku, nona? Hatchi!" tanya Xelino sembari bersin.
"Kau kenapa? Kau flu?" selidik Carolyn sedikit cemas.
"Sepertinya. Hidungku juga tersumbat, ah tidak enak sekali! Kepalaku juga pening. Sudahlah tidak apa apa. Kau kenapa?" tanya Xelino lagi di seberang sana.
"Maket ku rusak!" Kata Carolyn dengan sangat pelan.
"Apa? Kenapa bisa rusak? Kau ceroboh sekali! Susah payah aku memotong partikel pertikel kecilnya dan kau merusaknya!" decak Xelino jadi ikutan kesal.
"Aku tidak tahu kalau dinding belakang maketnya tersayat Xelino," kata Carolyn menjelaskan.
"Tersayat? Siapa yang melakukannya?" tanya Xelino.
"Aku tidak tahu!"
"Argh, kau ini menyusahkan ku! Lalu kau ingin aku membantumu membenarkan maket itu?"
"Tidak sih tapi akan lebih baik kau membantuku," kata Carolyn menggaruk pelipisnya.
"Hatchi, hatchi!" terdengar Xelino kembali bersin.
"Kau sakit sekali ya?" tanya Carolyn makin panik. seketika hatinya berdegup takut terjadi apa apa pada Xelino.
"Sudah tau bertanya! Yasudah, diam kau di situ. Aku akan ke sana. Apa yang butuhkan?"
"Kalau kau marah marah terus tidak usah kemari, kau ini, aku majikanmu jadi kau yang memarahiku!"
"Karna kau ceroboh sekali. Kau kan tahu bagaimana sulitnya membuat maket itu. Kakinya sudah sembuh saja sudah bagus," dengus Xelino.
"Tunggu di sana," akhirnya itu yang dikatakan Xelino.
Panggilan dimatikna. Carolyn tersenyum walaupun Xelino memarahinya tetapi dia senang kalau Xelino tetap menuruti apa yang ia inginkan.
"Kau tenang saja Ansel, aku akan mengganti maket itu," kata Carolyn membalikan tubuhnya menatap Ansel yang sudah beranjak dari sofa.
"Aku percaya pasti kau akan melakukanya dengan baik. Kalau begitu aku permisi dulu. Kabarkan aku untuk rapat selanjutnya ya? Aku mau kau yang menghubungiku, Carolyn," saut Ansel menyerahkan kartu namanya.
Carolyn hanya mengangguk dan membungkukan tubuhnya memberi saalm. Ansel tersenyum dan pergi dari sana.
Carolyn memegang dadanya yang terus berdetak tak menentu. Tak lama ia dikagetkan dengan panggilan Deborah. Deborah menyuruhnya menganalisis anggaran yang kemarin sehingga dapat memulai pembangunan. Sesaat lagi Carolyn melupakan Ansel yang hanya ia anggap seeprti Aciel. Sementara setelah tugasnya selesai, Grizel dan Lila memberitahunya kalau Xelino sudah ada di lobby bawah menunggunya.
"Carolyn, kau sudah tidak marah dengan kami kan?" kata Grizel yang hendak menjadi teman.
"Ah iya untung kau bertanya! Besok kalian berdua harus menggantikanku melihat lahan di pusat kota Springfield. Besok siang dan berikan foto padaku! Siang hari sangat panas aku tidak mau kesana!" kata Carolyn memerintah.
"Tapi bagaimana pembangunannya?" selidik Grizel karena semua sangat berhubungan.
"Kalau bersama Nyonya Deborah, aku yang pergi, kalian mengerti kan?"
"Baiklah," balas Grizel menundukan kepala.
"Terimakasih two little duck, aku pulang dulu, bye!" saut Carolyn merasa puas.
"Hem, jadi kita akan menjadi budaknya," tutur Lila setelah Carolyn pergi.
"Begitulah kalau tidak mau dipecat, duckling!" balas Grizel juga meninggalkan ruangan Carolyn.
...
Carolyn sudah keluar dari lift dan mencari cari keberadaan Xelino. Tidak ada batang hidungnya. Dia sampai mencari ke kantin gedung dan ruang tunggu tamu. Semua tempat tidak ada. Akhirnya dia bertanya pada petugas keamanan karena Carolyn juga tidak melihat mobil Xelino di depan gedung. Biasanya Xelino menunggu di sana.
"Em, itu asisten nona? Saya pikir itu kekasihmu karena kalian sangat serasi," ujar sang petugas keamanan.
"Dia asistenku. Jangan sekali sekali tuan mengatakan dia kekasihku di depannya, kepalanya bisa membesar melebihi gedung ini! Jadi, apa tuan melihatnya? Tadi kata Grizel dan Lila dia menunggu di sini?" Tanya Carolyn lagi.
"Begitulah, tapi sepertinya dia sedang tidak enak badan jadi dia kembali ke basement. Mungkin dia ada di mobil nona," kata si petugas sangat ramah.
"Ah iya kau benar, baiklah tuan terimakasih, permisi," ucap Carolyn.
"Sama sama Nona," balas si petugas dengan senyum hangat.
__ADS_1
Carolyn langsung menuju ke basement. Sesaat Carolyn merasa mengucapkan terimakasih sangat menyenangkan pasalnya dia mendapat sebuah senyuman yang tulus dari petugas keamanan itu. Dan seketika itu juga, dia mengingat dirinya pernah membentak kakek dan nenek Xelino. Carolyn menarik napas dan dia berniat untuk meminta maaf nanti. Carolyn tersenyum tipis memikirkan Xelino yang biasanya begitu energik menyambutnya. Carolyn melihat mobilnya dan berlarian kecil menuju kesana.
Ketika sampai di mobilnya, mobilnya menyala. Carolyn melihat ke dalam mobil dan benar, di sana ada Xelino sedang menyandarkan tubuhnya di kursi pengemudi dan memejamkan matanya. Carolyn mengetuk kaca mobil karena mengira pintu mobil terkunci. Xelino tidak mendengarnya. Carolyn mencoba membuka pintunya dan ternyata tidak terkunci. Carolyn memasuki kursi penumpang di depan.
"Xelino? Kau tertidur?" Selidik Carolyn.
Xelino terdiam. Kepalanya agak pusing. Dia memang tertidur.
"Xelino! Kalau kau tidur bagaimana kalau ada perampok?! Xelino?!" Carolyn menghentakan tubuh Xelino dan akhirnya dia merasa kalau tubuh Xelino agak menghangat.
"Xelino, kau demam?" Kata Carolyn lagi dan akhirnya Xelino tersadar.
"Nona? Kau sudah datang?" Tanya Xelino hendak menegakan tubuhnya.
"Sejak tadi! Kau kenapa?"
"Entahlah, kepalaku pening dan ... Hatchi hatchi!" Xelino menutup mulutnya untuk bersin.
"Haiz, kau sakit begini masih saja menjemputku!" Decak Carolyn.
"Kau memang sengaja dan ingin membuatmu menderita kan? Kalau kau tidak menghubungi, aku bisa kembali ke apartemen!" Decak Xelino mencurigai Carolyn.
"Sudah tidak usah marah marah! Aku sudah datang, kita bisa pulang!" Saut Carolyn.
"Baiklah, ayo kita pulang!" Kata Xelino lagi hendak memegang kemudi.
"Tunggu!!!!"
"Ada apa?"
"Kau baru saja bersin, tanganmu mengandung virus yang akan menempel di kemudi!" Decak Carolyn lagi.
"So?" Xelino melirik Carolyn.
"Sebentar!" Saut Carolyn merogoh tas tenteng ya untuk mengambil sebuah hand sanitizer. Dia mengeluarkan gel di dalamnya dan meraih tangan Xelino. Dia mengoleskan serta mengusapkan gel tersebut di telapak tangan Xelino dengan sangat lembut.
Seketika Xelino menyadari kelembutan di balik arogansi Carolyn. Xelino diam saja dan tersenyum tipis. Tangan Carolyn pada telapaknya begitu halus. Xelino begitu menikmatinya. Seketika juga, jantungnya berdegup. Dia malah gugup dan wajahnya semakin memerah.
"Nona, apa kau akan terus mengusap tanganku ?" Selidik Xelino yang sebenarnya senang.
'Oh my! Mengapa aku senang sekali memegang tangan besar ini? Rasanya aku ingin dipeluk oleh tangan yang penuh kehangatan ini,' gumam Carolyn dalam hati dan melepaskan tangan Xelino.
"Sudah bisa aku mengemudi?" tanya Xelino lagi.
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Biar aku saja! Aku akan mengantarmu ke apartemenmu! Awas aku saja!" perintah Carolyn memaksa.
"Tidak nona!"
"Jangan membantah, aku masih ingin hidup. Keadaanmu sangat lemah Xelino!"
Xelino mengalah. Akhirnya mereka bertukar tempat duduk. Carolyn yang mengantar Xelino sampai ke apartemennya.
...
...
...
...
...
dah nurut ja xel tapi ati ati di apartemen 😂😂
.
next part 18
bagaimana Carolyn di apartemen Xelino?
apakah ada yang mencurigakan?
.
rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:
---- LOVE & HURT ----
karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
__ADS_1
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤