
Sepanjang perjalanan ke bandara Springfield Lexa terus termangu diam. Sesekali bersuaran hanya menjawab pertanyaan Viena atau Dion. Selanjutnya dia terus termenung menatap jalan. Sementara Leon menyadari keanehan Lexa setelah melihat pesan pada ponselnya. Namun, Leon terhanyut dengan candaan dan pembicaraannya dengan Dion, sehingga ia tidak terlalu mempermasalahkan keanehan Lexa.
Ketika sampai di bandara, Lexa ijin ke toilet terlebih dahulu sebelum memasuki tempat menunggu pesawat. Di sana dia menghubungi nomor Jerry karna sudah sangat penasaran namun Jerry tidak mengangkatnya. Mungkin sudah tidur, pikir Lexa.
πLEXA
Tuan Jerry, aku sudah kembali dari Springfield. Bagaimana anda bisa tahu mengenai ayahku? Bisakah kita bertemu?
Akhirnya Lexa mengirimi Jerry pesan karna dia benar benar penasaran. Mereka mengambil jam penerbangan akhir pukul 23.30.
Lexa lalu kembali dan mereka menuju ke dalam bandara, tempat menunggu pesawat yang akan lepas landas. Leon masih merasakan keanehan Lexa.
"Lexa, are you okey?" Tanya Leon merangkul Lexa.
"Okey!" Jawab Lexa singkat. Seketika jantungnya berdegup. Dia belum bisa mengatakan pada Leon. Lexa hanya takut Leon merasa tersaingi. Nanti saja ketika sudah ada kabar pasti dapat bertemu ayahnya, dia akan menemui ayahnya bersama Leon.
"Mengapa kau seperti orang ketakutan begitu?" Tanya Leon lagi dan Lexa hanya menggeleng dan tersenyum. Tak berapa lama mereka menaiki pesawat.
Lexa dan Leon duduk di belakang kursi Viena dan Dion. Di pesawat Lexa pura pura tertidur agar Leon tidak menanyainya. Sementara Leon mendengarkan musik sampai dia tertidur. Lexa menarik napas panjang. Mimpi yang kemarin begitu nyata sampai terjadi seperti ini. Apakah benar Jerry memiliki informasi mengenai ayahnya? Lexa tidak bisa tidur sampai akhirnya mereka tiba di Legacy tepat pukul 5 pagi.
Leon sudah menghubungi Ben untuk menjemput mereka semua di bandara. Dion dan Viena sudah di antar terlebih dahulu. Leon lalu menawarkan Lexa untuk menginap di apartemennya namun Lexa menolak. Leon mengernyitkan dahinya.
"Sangat tidak biasa. Ada apa denganmu Lexa?" Tanya Leon.
"Bukan begitu, aku harus mencuci bajuku karna besok aku harus masuk kerja Leon!" Jawab Lexa berusaha tenang.
"Baiklah, aku terima itu sebagai alasan, kau jangan macam macam Lexa!" Ancam Leon memicingkan matanya.
"Macam macam apa kau Leon?! Kau jangan terlalu mengekang Lexa, dia bukan siapa siapamu, sudah cepat kau turun, biar aku yang antar Lexa!" Sela Ben sekedar mengingatkan. Leon langsung menatap tajam temannya.
"Kau saja yang turun! Jalan sana ke hotel atau ke apartemenku biar aku yang mengantar Lexa!" Saut Leon seenaknya.
"Apa apaan kau?! Ini mobilku!" Bantah Ben.
"Turun!" Leon sudah tampak kesal dengan tingkah Lexa yang membuatnya bingung, sementara Lexa tidak mau mengatakan apapun.
"Kau ini kenapa Leon? Biar aku naik taxi saja kalau kalian berebut mobil seperti ini!" Decak Lexa agak pening karna dia belum tidur.
"Ben, turun! Aku tidak akan mengatakan lagi!" Nada suara Leon semakin mencekam Ben. Ben terpaksa menurutinya. Dia sangat tahu sifat emosi sahabatnya itu.
"Baiklah baiklah! Beginilah pengaruh mu di hidupnya Lexa, jangan kau selingkuhi dia ya, maka dia akan berubah menjadi monster!!!" Decak Ben hendak menuruni mobilnya sendiri.
"Bennn!!!"
"Iyaaaaa!!!" Saut Ben dan terpaksa Ben keluar dari mobil.
Sementara Leon melajukan mobil merah Ben itu menyusuri jalan ke rumah Lexa dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Leon, kau mau mati ya? Ini capet sekali!!!" Lexa memperingatkan.
"Cepat katakan yang sebenarnya kau kenapa hah?" Tanya Leon dengan wajah geram.
"Tidak apa apa Leon, kau ini apa?" Jawab Lexa tetap tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau sampai aku tahu bukan dari mulutmu, kau tahu kan apa yang terjadi dengan kita?" Ancam Leon berdecih.
"Iya tahu! Karna sejatinya kau tidak akan membuat status di antara kita!!! Lama lama besok aku yang menyatakan cinta padamu, pengecut!" Umpat Lexa sudah kesal ke ubun ubun karna tingkah Leon yang selalu kekanak kanakan seperti ini. Dia seperti tidak memiliki ruang gerak namun dia juga yang tidak membuat status di antara mereka.
"LEXAA!!" Leon akhirnya meneriaki namanya. Lexa teramat terkejut. Belum pernah Leon membentaknya seperti ini. Lexa akhirnya diam dan menundukan kepalanya. Dia menitikan air matanya. Mengapa Leon se posesif ini padanya, sementara mereka belum mempunyai status apa apa. Sudah sering kali Lexa memberi petunjuk dan kode kalau dirinya ingin selalu bersama Leon, namun Leon tetap mennyuruhnya bersabar. Atau mungkin Leon tidak yakin dengan ketulusannya? Mungkin Leon takut kalau dirinya akan menyakiti pria bermata lancip itu.
Lexa lalu menghapus air matanya. Leon melihatnya. Leon memelankan melajukan mobilnya dan sesaat menyentuh punggung tangan Lexa namun Lexa menepisnya. Entah mengapa perasaan Lexa sangat sakit. Perih sekali. Perihnya sama seperti ia mengetahui kalau ibunya telah tiada. Lexa merasa akan kembali berjauhan dengan Leon dalam jangka waktu yang lama. Lexa lelah seperti ini. Lexa ingin merasakan memiliki seorang kekasih yabg seutuhnya bukan malah seperti orang terdekat saja. Ketika Leon mungkin meninggalkannya, Lexa toh tidak bisa menuntut banyak padanya. Lexa akhirnya melihat ke jalanan sambil menghapus air matanya yang terus terjatuh.
Dan merekapun tiba di depan flat Lexa. Lexa langsung membuka pintu mobil dan hendak beranjak tapi Leon menahan lengannya.
__ADS_1
"Lexa, aku tidak sengaja membantakmu, dengarkan aku --"
Belum selesai Leon berkata kata, Lexa sudah menghempaskan tangannya.
"Percuma berbicara serius denganmu!" Lexa berdecih dan meninggalkan mobil setelah dia mengambil kopernya.
Lexa berjalan dengan cepat ke flatnya sambil masih menghapus air matanya. Dia memasuki flatnya dan mengunci pintunya. Dia masih melihat ke luar melalui jendela dan Leon masih di sana.
Leon menghembuskan napasnya. Dia memukul mukul setiran mobil.
"Leon, kau benar benar musang bodoh! Sudahlah, percuma juga aku memohon mohon padanya. Besok saja aku akan menjemputnya bekerja!" Decak Leon dan kembali ke apartemennya. Ben sudah mengatakan ada di apartemennya.
Lexa berbalik tidak lagi melihat setelah Leon sudah melajukan mobilnya pulang. Baru saja kembali, namun mereka sudah kembali bertengkar. Lexa jadi semakin malas. Mereka seperti anjing dan kucing yang hanya sebentar akur, merasa kehilangan ketika salah satu merasa tidak baik.
"Leon, kali ini terserahmu saja. Aku sudah tidak peduli. Mungkin kau bukan jodohku." Decak Lexa dan mulai membersihkan dirinya.
Lexa lalu berbaring di tempat tidurnya. Dia memikirkan Leon. Apa sebenarnya dirinya yang salah karna memasang wajah yang membuatnya khawatir?
"Argh Lexa! Mungkin saja dia tidak memikirkanmu!" Decak Lexa dan ia hendak memejamkan matanya namun ponselnya berbunyi.
Dia langsung menuju ke meja kerjanya hendak meraih ponselnya. Pasti Leon pikirnya. Ternyata bukan Leon. Nomor yang tidak di kenal. Dia langsung mengangkatnya.
"Halo selamat pagi." Sapa Lexa. Dia takut client yang hendak membuat iklan. Biasanya Lexa juga dihubungi sebelum ke Viena.
"Lexa? Ini Jerry." Saut seorang pria.
Deg! Jantung Lexa berdegup. Dia baru ingat kalau karna memikirkan ayahnya dia jadi memasang wajah sedih pada Leon.
"Lexa? Kau masih di sana?" Tanya Jerry lagi di sebrang sana.
Lexa : "Ah iya Tuan Jerry maaf. Aku baru saja pulang dari Springfield. Jadi bagaimana Tuan? Bagaimana kau tahu ayahku?"
Jerry : "Kita bisa bertemu?"
Jerry : "Bisakah kau langsung saja ke mansion ku?
Lexa : "Mansion mu?
Jerry : "Ya, kau langsung saja ke mansionku jika kau ingin bertemu dengan ayahmu, kau pasti sangat terkejut siapa yang selama ini menjadi ayahmu Lexa dan bukan ayahku."
Seketika perasaan Lexa campur aduk. Dia langsung memikirkan Alexis.
Lexa : "Apa maksudmu Tuan Jerry? Apa yang kau maksud Tuan Alexis?"
Jerry : "Datanglah ke Mansion ku di Jalan Kintamani nomor rumah 113. Aku akan berbagi lokasi. Kami menunggu segera Lexa.
Lexa : "Ya Tuan, aku akan segera kesana!"
Lexa mematikan panggilan. Jantungnya benar benar tak karuan. Mungkin maksud Jerry benar dalam hatinya kalau Alexis adalah ayahnya. Dia bingung dia harus apa. Dia ingin sekali pergi bersama Leon, tapi Leon pasti akan mengejeknya jika secepat ini dia lagi yang menghubungi. Akhirnya Lexa menahannya. Lexa akan menunggu dia terlebih dahulu yang menghampirinya.
Lexa akhirnya mengganti baju menuju mansion yang di maksudkan Jerry. Lexa tiba di sebuah mansion yang tidak terlalu besar namun tampak mewah dan minimalis. Lexa memasuki pintu gerbang dan mengatakan kalau sudah buat janji dengan Jerry pada sang satpam. Lexa lalu dipersilahkan masuk dan menemui Jim. Jim segera mengantar ke perpustakaan tempat Alexis selalu bertandang.
Jerry kebetulan akan ke perpustakaan dan belum mengetahui kedatangan Lexa.
"Lexa?" Panggil Jerry berjalan ke arah pintu perpustakaan. Lagi lagi seketika hati Lexa sedikit gugup karna bertemu dengan Jerry yang menganggapnya seperti teman bukan bawahan.
"Kau datang sendiri? Tidak bersama Leon?" Tanya Jerry semakin mendekati Lexa.
"Tidak Tuan! Leon sibuk." Jawab Lexa membungkukan tubuhnya.
"Ah iya benar. Bagaimana perjalananmu di Springfield? Sesuatu yang menakjubkan ketimbang Honolulu?" Tanya Jerry tersenyum sangat manis.
"Tetap Honolulu yang terbaik Tuan." Lexa menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Tenanglah Lexa. Sebentar lagi kau akan bertemu dengan ayahmu. Ternyata batin seorang anak sangat kuat. Pantas saja kau tetap mau menungguinya waktu itu dan darah kalian sama." Jerry memegang bahu Lexa.
"Jadi, Tuan Alexis benar ayahku?" Tanya Lexa terbata. Dia tidak berani menatap Jerry karna paras pria itu terlalu rapuh untuk melihat kecemasan dan kesedihannya.
"Biar dia saja yang menjelaskan, aku tidak memiliki hak. Mari masuk bersamaku." Jerry mempersilahkan Lexa dengan membuka pintu perpustakaan.
Tampak Alexis sedang duduk di kursi rodanya menghadap ke jendela di samping rak rak buku dan memegang foto masa kecil Lexa.
"Dad?" Panggil Jerry. Jerry langsung menoleh.
Seketika mata Lexa berkaca kaca melihat wajah Alexis. Dia sudah ingat sekarang. Dia benar benar ingat wajah terakhir ayahnya yang ia lihat ketika sekolah dasar dulu. Jantung Lexa sudah berdegup sangat kencang. Hatinya berdesir. Ayahnya ada di hadapannya.
Sementara Alexis sudah tak sabar dan dia hendak berdiri namun tidak bisa. Dia melupakannya kalau dirinya masih lemah. Dia hendak terjatuh dan dengan reflek Jerry dan Lexa membantunya kembali duduk. Foto yang Alexis pegang terjatuh. Lexa meraihnya. Lexa sangat mengenali foto itu karna merupakan gambar dirinya sewaktu dirinya berusia 7 tahun. Dia juga memiliki foto masa kecilnya.
"Papi?" Panggil Lexa sudah meneteskan air matanya dan memegang fotonya.
"Alexa, kau Alexa kan? Akhirnya, aku menemukanmu Alexa peri kecilku. Kemari nak!!" Kata Alexis juga sudah meneteskan air matanya. Lexa lalu memeluknya. Ayah dan anak itu saling berpelukan.
"Kau kemana saja papi? Mami sudah meninggal. Mami sudah tidak ada di tengah tengah kita. Alexa sendiri selama ini papi.." tutur Lexa sudah menangis tersedu. Dia tidak berpikir atau mengharapkan terlalu banyak akan bertemu ayahnya. Dia baru saja berencana mencari ayahnya bersama Leon, namun Jerry yang sudah memberitahukannya. Ternyata selama ini dirinya dan ayahnya satu kota namun memang tidak mengharapkan satu sama lain.
"Maafkan aku nak, aku akan menjelaskannya." Alexis mengelus punggung anaknya.
"Baiklah dad, berbicaralah pada Lexa, aku akan menunggu di luar, aku agak terhanyut dengan kalian." Jerry terkekeh.
Alexis dan Lexa sudah melepas pelukan mereka dan Lexa berjongkok di depan Alexis.
"Tidak apa nak, kau di sini saja, karna kau juga akan menjadi bagian dari keluargaku. Karna aku mau kau menjadi menantuku." Saut Alexis tersenyum sambil memegang tangan anaknya.
Sontak Lexa juga Jerry sangat terkejut dengan ucapan Alexis. Lexa mendongakan kepalanya dan membelalakan matanya menatap bingung mata ayahnya.
...
...
...
...
Jiah pak alexis, baru gek ketemu uda langsung to the poin banget ke lexa ππ
Semoga lexa ga marah marah ya pak, berdoa aja tunggu next episode hehe ππ
.
Oke kita rehat dulu yee tutup tahun nii π€π€
.
Jangan lupa tetap LIKE DAN KOMEN
KASIH RATE DAN VOTE JUGA DI DEPAN profile novel yaa ππ
.
Nantikan pemenang giveaway time besok yaa ππ
Thanks for read and i love youu ππ
.
Team Leon angkat tangannya π
Dimana mana Singa akan jauh di atas segala jenis hewan, apapun alasannya π
__ADS_1