Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 56


__ADS_3

Lexa terus menekuk wajahnya masam. Dia muram sejak dua hari sebelum keberangkatan ke Springfield, padahal Leon selalu ada di sampingnya. Seperti hari ini mereka hendak membeli oleh oleh untuk orang tua Leon dan adik adiknya.


"Lexa.." panggil Leon pelan merangkul Lexa yang sejak masuk ke pusat perbelanjaan menundukan kepalanya. Lexa mendongakan kepalanya dan menaikan alisnya.


"Apa?"


"Kau ini kenapa? Kalau kau tidak mau berbelanja mengapa mengajakku kesini? Lebih baik kita ke cafe berburu hotdog kesukaanmu, mau?" Ajak Leon berkmaksud mengurangi kesedihan Lexa.


"Tidak tidak, aku mau memberikan hadiah untuk ayah dan ibumu Leon! Mengapa kau malah mengajakku makan?" Dengus Lexa.


"Kau yang aneh! Kau menunduk saja. Aku jadi bingung!" Leon balik mendengus dan matanya melihat sekitar.


"Maaf Leon. Lupakanlah! Jadi, apa yang ayah dan ibumu sukai? Aku akan membelikannya, dan jangan lupa untuk kedua adikmu, Angel dan siapa satu lagi Leon aku lupa." Lexa terkekeh.


Lexa mencoba dengan sangat keras mengesampingkan perasaam gundah dan takutnya selama satu minggu ini. Dia tidak boleh datang ke rumah Leon dengan tangan kosong. Bukan suatu sogokan, namun lebih seperti hadiah salam perkenalan menurutnya.


"Juan?" Jawab Leon.


"Ya, itu, apa matanya juga lancip sepertimu Leon?" Lexa mengira ngira menatap mata lancip Leon.


"Dia baru saja empat tahun, tapi sepertinya matanya memang mirip denganku." Saut Leon mengira ngira.


"Pasti dia lebih menggemaskan dari pada mu ya kan?" Lexa mencoba bergurau. Dia pun tidak boleh membuat Leon ikut gundah bersamanya.


"Mungkin, tapi kau akan tetap menyukaiku kan?" Selidik Leon bukan karna cemburu melainkan menggoda Lexa.


"Entah! Haha!" Lexa tertawa lepas.


"Kau ini!" Leon mengusap rambut Lexa kasar.


"Jadi, apa yang disukai ibu dan ayahmu Leon?" Tanya Lexa lagi.


Leon : "Ibuku sangat senang menggunakan topi ketika ke kebun dan ayahku selalu mengenakan sweater casual karna terkadang cuaca pagi hari desaku sangat dingin."


Lexa : "Benarkah? Sama seperti di desaku di Honolulu. Mungkin kapan kapan kau juga harus menemui suster Reginaku di desaku Leon?"


Leon : "Dengan senang hati!! Dan aku akan memperlihatkan pada suster mu cincin kita! Bagaimana?" (Menaik turunkan alisnya menggoda Lexa)


"Kita lihat saja nanti! Hihi! Sudah ayo kita ke butik itu, disana terdapat sweater yang bahannya sangat lembut. Aku pernah membelinya untuk hadiah Tuan Egnor." Ajak Lexa berjalan lebih dulu.


Leon menarik napas dan tersenyum. Dia tahu apa yang menjadi ketakutan Lexa. Sepertinya dia harus lebih memahami wanitanya itu. Tidak boleh seperti ini. Namun, lebih dulu Leon melihat semangat Lexa yang hendak membelikan hadiah untuk keluarganya. Leon akhirnya mengikuti Lexa menuju butik yang dihampirinya.


"Lihat Leon, coklat atau hitam?" Tanya Lexa yang sudah menemukan sweater kusus untuk mereka yang lanjut usia.


"Abu abu." Jawab Leon.


"Hang, memang kau musang tengik busuk! Aku bertanya coklat atau hitam, kau malah bilang abu abu!" Lexa tampak kesal karna Leon seperti membuat sebuah gurauan yang tidak lucu baginya.


"Ya, karna ayahku menyukai warna abu abu Lexa!" Leon menambahkan maksud dari jawabannya.


"Ups, paman, maafkan aku!" Gumam Lexa dengan maksud berbicara pada ayahnya Leon di Springfield sana.


Leon tersenyum melihat respon Lexa yang sepertinya sangat menghormati orang tua.


"Baiklah abu abu ya?" Lexa mengembalikan sweater coklat dan hitam yang ia ambil lalu ia ganti dengan sweater berwarna abu abu muda di belakangnya.


"Terus Leon, topi bagaimana yang ibumu sukai?" Kini Lexa memikirkan hadiah untuk calon mertua wanitanya.


"Hem, biasanya topi fedora, kau tahu? Topi koboi wanita. Sepertinya di sini tidak ada contohnya." Leon mencoba mengingat bentuk topi yang ibunya kenakan jika ke kebun beberapa tahun silam.


"Leon, bagaimana dengan topi rajut ini?" Tiba tiba Lexa sudah menghampiri stand item terbaru butik itu. Dia menunjukan sebuah topi berbahan rajut.


"Permisi Nyonya, ini produk terbaru kami. Buatan Honolulu yang sangat limited. Topi ini berbahan rajut import sangat lembut dan hanya dibuat 10 buah di kawasan Honolulu, Legacy, Oriental, Springfield dan kota kota besar lainnya Nyonya." Tak lama seorang pegawai wanita butik tersebut menghampiri Lexa dan menjelaskan tentang item terbaru mereka.


"Begitu ya? Berapa harganya?" Lexa to the point mengenai harganya, mengingat topi ini limited.

__ADS_1


"750ribu nyonya." Jawab pegawai tersebut tersenyum.


"750?" Lexa agak tercengang. Namun memang bahan rajut ini sangat nyaman. Bukan hanya itu, warna yang disuguhkan sangat membuat hati senang melihatnya apalagi mengenakannya. Semuanya berwarna pastel. Merah muda, coklat susu dan putih tulang. Ya, sekali sekali dia harus berkorban demi pria yang ia cintai.


Leon hanya diam saja memperhatikan apa yang menjadi keputusan Lexa. Dia percaya semuanya akan diberikan dengan ketulusan Lexa. Dan, benar saja. Lexa menyuruh pegawai butik tersebut mengemasnya dengan sebuah kotak dan memberikan pita di atasnya.


"Aku mau!" Kata Lexa lalu menarik pundak pegawai tersebut untuk bisa membisikan sesuatu.


"Tapi ini untuk seseorang yang spesial bagiku, Nona. Hem, calon mertuaku. Jadi kau harus mengemasnya dengan sebuah kotak cantik yang diberikan pita merah muda seperti warna topi ini. Aku akan membayarnya lebih. Bisa kan?" Bisik Lexa namun nampaknya Leon mendengarnya. Leon tersenyum senang dan berjalan mengitari butik agar Lexa lebih leluasa dengan semua strateginya menyenangkan hati keluarganya.


Sang pegawai menyanggupinya dan hendak meninggalkan Lexa, menyiapkan apa yang Lexa inginkan, tapi seketika Lexa menahannya.


"Nona maaf, aku belum menikah dengan pria bermata lancip itu, jadi kau jangan memanggilku nyonya. Memangnya aku sangat cocok dengannya ya?" Tanya Lexa meminta pendapat orang yang tidak pernah melihat dirinya dengan Leon bersama.


"Maaf nona, saya benar benar telah mengira anda sudah menjadi seorang istri dari asisten Tuan Dion Prime itu. Kalian sangat serasi. Saya benar benar terkejut dan takut menyinggung ketika anda mengatakan akan memberikan topi ini pada calon mertua anda. Sekali lagi saya minta maaf nona!" Pegawai itu membungkukan tubuhnya sedikit menyesal.


"Hah? Kau tahu dia asisten Tuan Dion Prime? Asisten pemilik Hotel Prime?" Lexa memastikan seberapa terkenalnya calon kekasih dan suaminya itu.


"Iya nona. Beberapa kali dia sering kesini membeli sweater dan sesekali bersama Tuan Dion. Wajahnya juga selalu bersama Tuan Dion di siaran tv bisnis. Kau beruntung sekali menjadi wanitanya. Kau juga sangat cantik. Selamat nona atas pernikahan anda kemudian. Saya permisi dulu nona menyiapkan pesanan anda." Pegawai tersebut membungkukan badannya. Semua perkataan pegawai itu terdengar sangat jujur di telinga Lexa.


Lexa jadi berpikir, haruskah ia ragu dengan Leon yang akan membela keluarganya jika keluarganya tidak menyukainya. Sementara Leon selalu setia dengan orang orang yang baik dengannya. Selama ini Lexa sudah berusaha menjadi paling dekat dan memberikan yang terbaik bagi Leon, meskipun terkadang dia sering kasar dengan Leon. Sepertinya benar kata nyonya nya kalau Leon adalah pria yang baik untuknya. Tak semestinya dia ragu untuk pergi ke keluarganya. Toh, dia juga mencintai pria bermata lancip itu.


Lexa lalu mencari Leon di sekitar butik tersebut. Leon sedang terpaku memandang sebuah sweater rajut wanita. Dia memegang dagunya membayangkan seorang yang sangat pantas mengenakan sweater itu.


"Pasti kau mau membelikannya untukku kan?" Tanya Lexa percaya diri. Dia sudah berdiri di belakang Leon.


"Bukannya kau punya sweater seperti ini? Sweater yang kau gunakan ketika kemarin mau menginap di apartemenku??" Saut Leon menaik turunkan alisnya nakal.


"Mesum! Iya aku punya banyak sweater seperti ini. Tapi aku tidak punya warna broken white ini Leon. Ternyata cantik juga. Sudahlah, aku akan membelinya satu kalau kau tidak mau membelikannya!" Dengus Lexa. Dia lalu meraih sweater broken white itu dan menuju ke kasir. Leon malah tersenyum dan mengikuti Lexa ke kasir.


"Kau yakin kau yang membayar semuanya? Tidak mau menggunakan kartu ini?!" Tanya Leon mengibas ngibaskan kartu hitam andalannya ketika berbelanja.


"Sini! Kusimpan saja! Kau ini selalu memancingku! Jangan membenciku kalau kuhabiskan semua yang di dalamnya!" Sebenarnya Lexa kesal karna Leon selalu seenaknya mengganggu belanjanya ketika membayar. Seperti Lexa tidak punya uang saja. Dia akhirnya merampas kartu hitam itu.


"Coba saja! Paling juga kau yang mengembalikannya padaku karna lelah berbelanja, hihi!!" Leon terkekeh dan meninggalkan Lexa yang membayar dengan uangnya. Sementara kartu hitam itu di simpan di dompet asisten Viena itu.


"Ada apa Lexa? Tidak bisakah kita makan dulu? Aku sangat lapar! Jangan sampai aku memakanmu Lexa!" Kata Leon melihat Lexa tiba tiba terdiam ketika mereka hendak menuju restoran yang diinginkan Leon.


"Bukankah adikmu, Angel sangat menyukai bunga Leon?" Lexa menepuk nepuk dagunya dengan telunjuknya.


"Kapan aku pernah menceritakannya?" Leon mencoba mengingatnya.


"Waktu itu, kau bilang Angel suka merangkai bunga!" Saut Lexa.


"Aku lupa! Dia adikku yang sangat mengesalkan, selalu membuat repot keluarga!" Decak Leon karna jarang memikirkan adik gadinya itu.


Adik gadisnya itu yang sangat mendukung dirinya dengan Solane. Bahkan Angel juga yang tetap memaksa Leon memaafkan Solane. Suatu pemikiran yang tidak masuk akal pikir Leon.


"Jangan seperti itu, dia adalah satu satunya saudara ipar perempuanku. Ayo kita beli crown itu dulu. Adikmu pasti sangat cantik!" Lexa menarik tangan Leon memasuki toko pernak pernik anak perempuan itu.


Lexa segera menuju tempat pemajangan crown tersebut. Namun, ketika dirinya hendak mengambilnya, seorang gadis kecil meneriakinya.


"Stop! Itu punya ku! Mamiku akan mengambilkannya. Kalau kau lebih dulu mengambilnya. Aku akan menendang kakimu tante!" Begitulah kata kata anak tersebut dengan suaranya yang cukup menggelegar.


"Tante?" Seketika Lexa menjadi hilang kendali karna dirinya bahkan belum menginjak 24 tahun. Dibilang nyonya saja dirinya sudah naik pitam. Lexa mengurungkan meraih crown tersebut dan menatap cukup tajam gadis itu.


"Iya tante! Lantas aku harus memanggil apa? Kakak? Kau bahkan seumuruan dengan mamiku!" Tutur gadis kecil itu lagi.


Lexa lalu berjongkok dan mengelus puncak kepala gadis kecil itu yang tingginya sama seperti Lexa berjongkok.


"Kau pandai berbicara ya? Berapa usiamu dan siapa namamu?" Tanya Lexa pelan.


"Sherry! Usiaku kata mami 6 tahun! Kau tidak usah membaik baikan ku, aku akan tetap menginginkan crown itu!" Jawab gadis kecil itu dengan nada yang tak sepantasnya. Lexa lalu mendelikan alisnya.


"Argh, sudah cukup kesabaranku!" Lexa agak kesal karna gadis kecil ini sangat tidak sopan. Leon tidak ikut campur, dia hanya berdiri di pinggir rak memperhatikan apa yang akan Lexa lakukan. Dia sudah berniat hari ini tidak akan membuat Lexa kesal. Jadi, Leon membebaskannya selama dalam pantaunnya. Lagipula, itu hanyalah seorang gadis kecil pikir Leon.

__ADS_1


"Lihat, Sherry, aku yang mengambilnya lebih dulu. Jadi ini milikku, oke? Kau bisa memiliki crown lainnya. Yang lainnya juga sangat indah. Sudah ya, aku mau membayarnya!" Kata Lexa tersenyum penuh kemenangan.


"Mmmmaaaaammmmmiiiii!!!!!" Seketika Sherry menjadi marah dan berteriak kencang sekali, sampai semua pengunjung melihat ke arah dirinya dan Lexa.


Lexa ikut terkejut dan agak cemas. Begitu juga Leon yang reflek menutup telingannya. Tak lama, ibu dari gadis kecil itu datang.


"Sherry? Apa yang kau lakukan?" Tanya sang ibu menghampiri sang anak.


"Tante itu jahat! Aku menginginkan crown itu tapi dia mengambilnya lebih dulu! Aku mau crown itu pokoknya aku maaaauuu!!!!" Decak Sherry menekuk wajahnya marah.


"Sherry, kau tidak boleh seperti ini. Masih banyak crown lainnya. Apakah Sherry melihatnya lebih dulu?" Tanya sang ibu mencoba menyadarkan kesalahan anaknya.


"Tidak! Tapi aku menyukainya ketika tante itu hendak mengambilnya!" Jawab Sherry dengan semua keegoisannya.


"Siapa dulu yang mengambilnya?" Selidik ibunya lagi.


"Tante itu!" Sherry menunjuk Lexa dengan wajah cemberut.


"Jadi, itu milik siapa lebih dulu?" Akhirnya sang ibu membuat anaknya menjawab apa yang seharusnya terjadi.


"Dia! Tapi aku mau mami aku mau!!!! Pokoknya aku mau atau aku akan menangis seharian disini!!!!!! Uuwaaaa!!!!!" Dan Sherry pun menangis.


Ibunya cemas dan hendak menggendongnya namun Sherry lebih kuat dan menghempaskan tangan ibunya. Sherry terus menangis sesenggukan dan hampir memilukan. Ibunya benar benar bingung.


Lexa pun ikut bingung. Dia menggaruk garuk pelipisnya dan akhirnya kasihan dengan gadis kecil itu. Dia lalu menatap Leon. Leon hanya mengangguk dan tersenyum lalu seperti mengatakan "berikan saja."


Lexa menghela napasnya. Mungkin bukan jodohnya memberikan crown manis ini untuk adik iparnya. Mungkin dia bisa mencari yang lain. Dia harus mengalah karna usia mereka berpaut sangat jauh.


"Eemm, Sherry?" Panggil Lexa pelan.


"Apa?!!! Tante jahat sekali!!! Aku ingin crown itu karna besok aku mau menjadi putri di acara pesta ulang tahun papiku. Aku mau menjadi putri yang cantik dengan crown itu, tapi tante tidak mau mengalah denganku, uwaaa!!!" Kata Sherry masih dalam tangisnya.


Seketika juga, Lexa jadi memikirkan ayahnya. Dia bahkan sudah lupa wajah ayahnya. Sementara anak ini hendak membuat ayahnya senang dengan penampilannya.


"Ini untukmu saja. Aku bisa mencari yang lain. Ini?" Lexa lalu menyodorkan crown tersebut pada Sherry.


"Tidak usah nona! Kau juga pasti memerlukannya. Aku bisa mencarikan crown lain untuk Sherry. Aku minta maaf karna papinya selalu memanjakannya jadi dia seperti ini. Maafkan aku .." sang ibu menolak dan membungkuk bungkukan tubuhnya tak enak dengan Lexa.


"Tidak nyonya, tidak apa apa. Sherry ini ambil. Maafkan aku ya? Yasudah, aku permisi Nyonya, salamkan selamat ulang tahun untuk suami anda. Sherry, pasti kau menjadi paling cantik. Daah.." balas Lexa menyerahkan crown tersebut pada Sherry dan gadis kecil itu mengambilnya. Lexa pun menghampiri Leon.


"Tante!" Panggil Sherry sebelum Lexa menjauh. Lexa menoleh dengan wajahnya yang agak sedih namun ia menahannya.


"Terimakasih tante cantik!" Kata Sherry kemudian. Lexa menjadi hanyut karna ucapan polos anak itu. Dia lalu tersenyum dan melambaikan tangannya pada Sherry lalu berbalik menghampiri Leon.


"Wanita yang baik! Ayo kita makan! Setelah itu aku akan menemanimu mencari hadiah lainnya sampai kau puas!" Puji Leon dengan sangat bangga. Dia memang tidak salah memilih pasangan hidupnya nanti.


...


Hehe, sabar neng lexa, namanya gek bocil, nih kenalan sama alona nii, kalo kuat jago 😝😝


.


Next part 57


Sory ya masih berburu hadiah karna banyak kejadian lucu dan baper di dalamnya 😝😝


Jadinya misi membuat camer bahagia 😁😁


.


Jangan lupa LIKE dan KOMEN yang banyak 😍😍


Kasih RATE dan VOTE di depam profil novel


Kasih TIP juga boleh 😊😊

__ADS_1


.


Selamat membaca dan sayang kalian semuaaa lele loversss 💕💕


__ADS_2