Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
JERRY & ANGEL PART 2


__ADS_3

"Jerry, kau benar benar mengerjai orang tua! Aku akan laporkan kepada ayah angkatmu! Dia adalah besan ku!" Decak Jane sedikit kesal sambil menyiapkan minuman hangat.


"Maaf bibi." Saut Jerry menyesal.


"Mom!


"Maksudku mom!" Jerry menggaruk garuk kepalanya. Sementara Angel masih duduk di sampingnya menunduk dan wajahnya memerah. Sesekali Jerry menoleh padanya dan tersenyum namun Jerry pun belum bisa bicara pada Angel karna Jane dan Larry terus menanyainya.


"Jadi kau kesini dengan Tuan Alexis, Jerry?" Tanya Larry.


"Benar paman. Besok dia akan melakukan pemeriksaan. Kebetulan dokter spesialisnya praktek disini." Jawab Jerry menjelaskan tujuan lain dirinya ke kota berpulau ini.


"Oh iya. Kalau bisa nanti aku juga ingin ikut ke kota menemuinya." Saut Larry lagi.


"Tentu paman. Dia pasti sangat senang karna bertemu dengan orang tua Leon."


"Baiklah sudah malam. Kau bisa beristirahat di kamar Leon. Di sana terdapat kamar mandi untuk membersihkan diri. Angel antar sana!" Perintah Larry kemudian karna waktu sudah menunjukan pukul sembilan lebih beberapa menit.


Angel masih menunduk. Dia benar benar salah tingkah dan tidak berani menatap Jerry. Entahlah, ini kali pertamanya merasakan jatuh cinta sampai seperti ini. Pasalny, pria yang ia sukai ini benar benar seperti berkorban untuknya. Sampai datang ke rumahnya yang seperti di ujung dunia. Tidak ada pria yg ia temui sampai seperti ini.


"Angel! Kau mendengar dad mu tidak?" Jane menyadarkan dan Jerry pun menyenggol lengan Angel.


"Hah, apa mom?" Angel akhirnya mendongakan kepalanya melihat ibunya.


"Kau? Kenapa kau melamun? Kau tidak membuat masalah kan?" Selidik Jane..


"Tidak, seharian aku di rumah kaca ku tidak ada yang membantu, semua temanku mengambil bunga di perkebunan, sekarang aku lelah, aku akan kamar." Angel benar benar tidak mendengar perintah ayahnya. Dia hendak beranjak namun Jerry akhirnya menahan tangannya. Membuat hati Angel lebih kacau lagi.


"Antar aku ke kamar kakakmu dulu Angel. Begitulah perintah dad mu." Gumam Jerry dan lagi lagi tersenyum. Angel melihat senyuman Jerry lagi.


~Oh Lord! Mengapa Tuhan begitu hebat menciptakan senyuman semenawan ini di wajah seorang pria yang bahkan tak ada cacat sedikitpun? Sungguh mahakarya yang menakjubkan!~ kata kata Angel dalam hati namun tak lama ia menggelengkan kepalanya. Dia pun menoleh ke arah ayahnya yang mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Jerry.


"Ba, ba, baiklah, ayo aku antar Tuan Jerry." Kata Angel terbata.


Jerry pun mendorong koper nya menuju ke kamar Leon. Dia menatap punggung Angel yang tampak mungil, ingin sekali ia memeluknya namun mereka masih menjadi teman.


"Ini Tuan kamarnya kak Leon. Kamar mandinya masih berfungsi dengan baik. Ada showernya pengatur air dingin air hangat tapi tidak ada bath tub. Lampu tidurnya juga bisa digunakan. Bagaimana sudah jelas? Eh, kenapa aku jadi seperti pelayan hotel." Angel menggaruk garuk kepalanya.


"Hahaha! Kau gugup Angel! Kau tidak menanyakan kabarku?" Kata Jerry kemudian. Angel memicingkan matanya


"Kau di depanku, kau baik baik saja, jadi mengapa aku harus bertanya lagi?" Angel sangat tidak suka kata kata yang selalu diulang.


"Pintar!" Jerry mencubit hidung Angel.


"Aku merindukanmu, oleh sebab itu aku kesini, bagaimana? Kau suka tidak?" Kata Jerry kemudian.


"Suka! Eh maksudku iya iya aku juga merindukanmu, baiklah Tuan Jerry beristirahatlah, aku ke kamar dulu ya, aku juga sangat lelah, hem memiliki usaha itu bukan suatu yang mudah, kau tahu kan? Yasudah ya sampai besok!!!" Angel salah tingkah.


Angel benar benar tak kuasa. Jerry terus memandangnya serius dengan seringaian senyum yang membuat dia mati terpesona. Lelaki dewasa itu mampu menghipnotisnya hanya dengan senyumnya saja. Kulitnya yang putih, perawakannya yang tinggi membuat Angel tak kuasa menatapnya lama lama. Pikirannya langsung berkecamuk. Mungkin ini yang dinamakan cinta. Angel pun pergi meninggalkan Jerry dengan tingkahnya yang tak karuan dan menutup pintu kamar itu.


Sementara Jerry menaikan satu senyumnya. Dia juga sudah terpikat dengan Angel yang polos dan malu malu seperti itu. Dia berharap dia bisa membuat Angel senang selama tiga hari di desa ini.


...


Pagi menjelang. Jerry masih sangat mengantuk, namun dia sudah mendengar keributan di halaman rumah Leon. Dia sangat lelah seharian perjalanan tanpa supir dan ada hal yang ia lakukan semalam sendirian di luar rumah. Jerry membalikan tubuhnya dan menutupnya dengan bantal. Dia ingin kembali tertidur namun suara ketukan pintu kamarnya mengharuskan dirinya untuk membukanya.


"Kak Jerry!!! Cepat buka pintunya, kak Angel menangis." Kata Juan mengetuk pintu dengan sangat kecang. Jerry pun membukanya. Jerry dengan sweater putih dan celana piyamanya masih menguap bersandar di daun pintu.


"Kak Jerry, kak Angel menangis di halaman setelah melihat kumpulan rangkaian bunga." Juan kembali memberitahunya sehingga mata Jerry agak melotot namun masih mengusap wajahnya.


"Menangis? Memang ada apa dengan rangkaian bunganya?" Tanya Jerry dan dia mulai ke luar halaman.


"Hah Jerry! Lihat apa yang kau perbuat, kau membuat anakku sepertinya cemburu. Dia menangis hanya karna aku bilang rangkaian bunga ini untuk wanita kecilmu. Aku mengatakan seperti apa yang kau katakan!" Kata Jane ketika melihat Jerry keluar. Jerry menepuk dahinya. Dia belum menjelaskan pada Jane siapa maksud wanita kecilnya itu. Sementara Angel juga belum bercerita tentang kedekatannya selama ini dengan Jerry. Angel takut kalau Jerry tidak membalas cintanya jadi dia menyimpannya rapat rapat.


"Angel! Sudah kau jangan menangis, memangnya kenapa kalau Tuan Jerry memiliki kekasih disini? Sebaiknya kau mengantarnya ke rumah kekasihnya, mungkin kau tahu." Suruh Jane kemudian.


"Tidak mau! Suruh saja dia mencarinya dan jangan letakan semua rangkaian bunga plastik ini di sini membuat mataku perih!!!" Kata Angel dan dia menyenggol Jerry lalu naik ke atas ke kamarnya.

__ADS_1


Jerry menghela napas. Angel salah paham.


"Bibi, sebenarnya wanita kecil yang ku maksud adalah Angel, putrimu." Ucap Jerry lirih dan menunduk. Jane berkali kali lipat terkejut. Dia sampai menjatuhkan sapu lidi yang ia pegang.


"Kau jangan bercanda Jerry! Kau menyukai anakku?" Jane memastikan.


Jerry mengangguk namun masih menunduk.


"Oh Lord!! Mengapa kau tidak mengatakannya?" Jane lalu menghampiri Jerry.


"Tadi kata mom, semua rangkaian bunga ini untuk kekasihmu kak. Mom juga bilang kau begitu mencintai kekasihmu pada kak angel sampai sanpai kau sudah menjuluki kekasihmu wanita kecil." Tambah Juan mendengar kata kata ibunya tadi sehingga Angel bersedih lalu menangis tak karuan. Dia tak kuasa karna lagi lagi gagal dalam menyukai seorang pria.


Jerry semakin bersedih. dia masih menunduk dan wajahnya muram. Jane lalu berpikir memegang megang dagunya.


"Aaahhh Jerry?" Jane mengingat sesuatu.


Jerry mendongak.


"Dimana kau taruh figura bunga mawar yang kemarin juga kau beli?" Tanya Jane.


"Ada di kamar mom."


"Nah, berikan sana. Kau ke lantai atas, temui Angel di kamar dan berikan figura itu. Em, dan jelaskan maksudmu yang sebenarnya. Nanti aku juga akan membantumu jika dia masih marah seperti ini." Saran Jane menepuk nepuk bahu Jerry.


"Mom yang membuat mom harus bertanggung jawab!" Celetuk Juan polos.


"Diam kau Juan! Sudah sana Jerry!!! Dan lalu antarkan dia ke perkebunan bunganya. Kau juga mau berjalan jalan kan?" Suruh Jane lagi.


"Oh iya, baiklah mom aku mengerti."


Jerry lalu dengan seribu langkahnya menuju ke kamarnya. Dia mencuci wajahnya dan menggosok gigi sebelum merayu Angel dengan figura bunga kaca nya. Jerry mencoba mengingat kata kata yang bibi pengrajin itu katakan.


Jerry mengetuk pintu kamar Angel. Pintu tidak sepenuhnya tertutup. Di sana Angel sedang mendengarkan lagu pada earphone nya. Dia duduk di meja kerjanya membelakangi pintu masuk. Jerry tahu dia sedang mendengarkan lagu, jadi Jerry menepuk bahu Angel. Angel agak terkejut sehingga menghempaskan tanganya ke atas sehingga mengenai figura bunga kaca yang Jerry pegang. Untung saja Jerry langsung menahannya lebih erat lagi.


"Tuan Jerry? Kau? Mengapa masuk ke kamarku? Kenapa tidak mengetuk?" Angel berdiri dan menunjuk nunjuk Jerry. Jerry lalu duduk di sisi tempat tidur Angel.


"Apa yang kau pegang Tuan Jerry? Hem, kau mau memberikannya ke kekasihmu? Untuk apa kau memperlihatkannya padaku?" Angel memalingkan wajahnya.


"Bagus tidak Angel?" Tanya Jerry berbasa basi terlebih dahulu.


"Tidak!" Jawab Angel cemburu.


"Benarkah? Tadinya aku mau memberikannya padamu. Kalau kau tidak suka baiklah, silahkan kau jatuhkan saja figura ini." Jerry mengira akan mendapat jawaban yang memuaskan walau mungkin hanya kata 'lumayan'.


"Kenapa? Kenapa harus aku yang menjatuhkan?" Tanya Angel mengernyitkan dahinya.


"Figura bunga ini berbentuk bunga mawar Angel. Bunga mawar melambangkan cinta. Lihatlah banyak warna di setiap kelopaknya. Setiap warna mengandung arti sama dengan cinta, banyak warna dan rasa," kata Jerry dan Angel menerka nerka.


Dia sepertinya pernah mengatakan hal ini. Tapi, dia lupa mengatakannya pada siapa? Apa dengan Jerry? Tapi dia sama sekali belum bicara banyak mengenai bunga.


"Bunga ini terbuat dari kaca kristal, dia tidak akan layu melainkan akan terus abadi, namun dia bisa hancur ketika dijatuhkan. Sama sepertiku, aku mau memberikan ini padamu Angel. Tapi, kalau kau tidak suka untuk apa dipertahankan. Lebih baik kau jatuhkan saja. Hem, bunga bunga plastik di depan itu juga untukmu. Aku sengaja tidak memberitahu ibumu karna hendak membuat kejutan, siapa sangka dia malah mengatakan aku memiliki kekasih. Padahal aku hanya bilang ingin menemui wanitaku. Kau kan wanita. Yasudah Angel, aku tidak akan memaksa. Mungkin malam ini aku akan kembali ke kota jika kau tidak menginginkanku datang kesini. Kutaruh di tempat tidurmu figura ini. Aku tidak bisa menjatuhkannya karna hatiku pun sudah hancur," lanjut Jerry masih dengan pembicaraannya. Dia lalu berdiri.


"Maafkan aku Angel, jika kau tidak senang aku datang. Aku pikir kau akan senang karna aku telah menepati janjiku." Jerry sedikit melirik Angel lalu berjalan keluar pintu. Dia sudah membelakangi Angel. Angel merasa tak tega. Sebenarnya dia senang. Dia hanya salah paham dan tidak seharusnya dia acuh seperti ini pada Jerry yang sudah jauh jauh kemari.


"Tunggu!" Kata Angel menghentikan langkah Jerry. Jerry pun tersenyum. Jerry tahu Angel pasti menahannya. Jerry kembali membuat muram wajahnya dan setengah menoleh.


"Aku, aku hanya tidak ingin kau dekat dengan wanita lain di desa ini selain diriku. Kan, aku yang pertama kali kau kenal. Hanya itu Tuan Jerry!" Angel menggaruk garuk sisi lehernya.


"Eemmm, aku suka dengan figura itu, sepertinya itu inspirasiku. Aku pernah berkata kata sama seperti yang tadi kau katakan kepada seorang pengrajin kaca di tengah jalan pinggir padang rumput itu. Mungkin saja kebetulan." Angel mencoba membuat Jerry kembali berbalik dengan kata katanya. Jerry lalu berbalik.


"Jadi kau suka tidak?" Jerry memastikan.


"Ya suka, terimakasih Tuan!" Angel tersenyum tipis.


"Tidak bisa memanggilku Jerry saja?" Pinta Jerry.


"Tidak! Karna kau jauh lebih tua dariku!" Saut Angel membuat Jerry tidak bisa memohonnya lagi.

__ADS_1


"Terserahlah, yasudah aku akan ke bawah sarapan. Kata mom mu kau mau ke perkebunan bunga? Bisakah aku menemanimu?" Jerry menawarkan.


"Ya, memang harus. Kau harus menemaniku Tuan Jerry Atkinson." Balas Angel mengangguk angguk.


Jerry berdecih dan menuruni lantai atas. Sementara Angel sudah kembali tersenyum sumringah. Dia menutup pintu kamarnya lalu meraih figura kaca bunga itu. Dia merebahkan dirinya sambil menimang nimang figura bunga yang masih dalam kemasan mika kotak itu. Dia tersipu malu.


"Mungkin saja Jerry menyukaiku, akan kupastikan selama dia disini! Dan akan kutunjukan pada si Nigel busuk itu kalau aku bisa mendapatkan yang lebih darinya!" Gumam Angel mengingat rasa sakitnya pada Nigel.


...


Mereka berjalan menuju rumah kaca dan perkebunan bunga Angel, setelah itu Angel akan ke toko bunganya yang juga tak jauh dari sana. Angel mempekerjakan teman temannya yang putus sekolah. Sebanyak lima orang wanita dan satu pria seumurannya membantunya di kebun maupun di toko.


Sepanjang perjalanan, mata Angel kadang selalu memperhatikan Jerry yang saat ini mengenakan kemeja putih dan celana bahan krem. Jerry benar benar tampak rapi dan maskulin. Jerry kadang memergokinya. Angel salah tingkah sehingga Jerry hanya tersenyum. Dia juga sering melirik wanita kecilnya yang juga menggunakan dress bermotif bunga bunga kecil. Angel tampak manis baginya.


"Masih jauh Angel?" Jerry hanya memastikan sebagai bahan pembicaraan.


"Kenapa? Kau lelah ya? Kalau begitu kau kalah dengan kak Lexa. Kak Lexa dapat berjalan bolak balik dari rumah ke kebun bungaku." Jawab Angel dan membahas Lexa.


"Aku sudah tahu!" Saut Jerry dengan wajah sedikit menegang. Dia mengingat Lexa menceritakan dirinya yang hendak merebut hati Angel waktu itu tapi Angel malah meninggalkannya.


"Pengadu!" Umpat Angel pelan.


"Kalau kau mengerjaiku Angel, aku akan tidur di rumah kacamu sampai kau yang menjemputku!" Dengus Jerry sesaat karna dia tidak akan tahu bagaimana caranya kembali.


"Mana tega aku meninggalkan pria tampan sepertimu di rumah kacaku, nanti bunga bunga desa sini malah mengerubungimu! Aku tidak rela?" Celetuk Angel tanpa sadar.


"Apa Angel?" Jerry menoleh dengan cepat je arah Angel. Jerry sebenarnya mendengar namun dia terlalu senang sehingga ingin mendengarnya lagi.


Angel pun ikut menoleh. Dia seperti tak sadar dengan apa yang ia bicarakan.


"Hem? Apa?" Angel malah bertanya lagi. Mereka berdua bertatapan.


"Tadi kau mengatakan apa? Aku pria tampan?" Jerry mengingatkan.


"Hah? Benarkah, oh itu? Tidak ada pengulangan, kau resapi saja sendiri!" Angel menyadari dan wajahnya memerah. Dia lalu mengalihkan dengan berjalan cepat lebih dulu. Dia berjalan tak sadar sampai ke tengah jalan karna sangkin malunya dengan Jerry. Angel tidak menyadaru ada sebuah mobil yang hendak melintas.


Jerry yang merasakan dengan cepat mengejar Angel, dia menarik pinggang Angel untuk minggir namun Jerry malah memeluknya. Angel masuk dalam pelukan Jerry dan menegang dada pria itu.


"Huft, untung saja Angel! Kalau tidak kau akan tertabrak!" Kata Jerry panik dan dia melihat Angel yang sudah melihatnya. Mereka saling bertatapan dengan sangat dekat dan berpelukan.


...


...


...


...


Mau juga dong dipeluk Tuan Atkinson 😝😝


.


Next part 3


Apakah Jerry akan bertemu Nigel?


Ada kejadian apa lagi ya antara mereka berdua?


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, RATE, dan TIP juga boleh 😍😍


Semua dukungan kalian berarti bagi diriku 🙏🙏


.


Thanks for read I LOVE YOUU 😘😘

__ADS_1


__ADS_2