Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 6


__ADS_3

Leon mengotak atik isi komputer minimalis yang ada di meja kerjanya. Dia membuka situs website dunia bisnis dimana terdapat semua perusahaan resmi yang terdaftar di kota Legacy. Leon mengetik Jovancy di kolom pencarian.


Semua tersaji mulai latar belakang perusahaan sampai daftar para pekerja. Dia meng klik tulisan CEO JOVANCY dan terpampanglah biodata singkat dari Viena. Hanya ada nama, tanggal lahir, agama, status. Dan foto Viena hanya sebuah foto wanita terlihat dari samping, yang sepertinya diambil secara tidak sengaja.


"That's it?! Tapi kata Tuan, Nyonya Viena sangat periang, kenapa hanya segini datannya?"


Leon tidak puas. Leon meng-scroll ke bawah dan mendapatkan kata assistant. Dia lalu tersenyum sumringah. Dia lalu meng-klik kata assistant. Dan yang terlihat hanyalah?


"Aarrggghhhh, dasar kelinci kecil yang tidak bersosialisasi. Bos dan asisten sama saja! Sudahlah.." Leon kesal bukan main. Dia berharap dia menemukan data pribadi Lexa karna dia sangat penasaran.


Yang di dapatkan di kolom itu hanya nama lengkap Lexa saja -ALEXA LUXURIO- selanjutnya kolom foto hanya avatar perempuan berwarna hitam putih lalu keterangan selanjutnya bertuliskan UNKNOWN.


"Leon, kau kenapa? Aku mau pulang!!" Ijin Renzy namun merasa ada yang tidak beres dengan Leon yang sedari tadi sejak Lexa pergi seperti orang kekurangan makan.


"Renzy, kau tahu perempuan itu?! Dia menolakku!!" Kata Leon menjambak jambak rambutnya yang sudah berantakan.


Hahahahha, Renzy tertawa. Akhirnya ada perempuan yang menolak Leon mentah mentah.


"Bagaimana rasanya ditolak, Leon sayang?" Renzy menggodanya. Renzy sudah seperti kakak bagi Leon, begitu juga Renzy. Renzy sudah bersuami dan usianya terpaut tujuh tahun dengan Leon. Mereka cukup akrab karna pekerjaan mereka yang sama, menjadi kaki tangan Tuan Dion mengurusi Hotel.


Jadi, Renzy sungguh tahu bagaimana sifat playboy dari Leon. Leon sering menggonta ganti pacar sejak hubungannya dengan Solane berakhir. Ketika dia dimanjakan dan ditemani perempuan itu, besoknya Leon lalu tidak ada kabar dan memutuskan hubungan. Apalagi dengan perempuan yang hanya memanfaatkan penghasilannya. Setelah Leon memberikan yang perempuan itu mau, besoknya dia meninggalkannya. Dan kini, ada seorang wanita yang tidak berminat padanya. Padahal setiap wanita yang dia dekati pasti langsung terjebak dalam permainannya.


"Renzy, aku tidak bisa mengetahui informasi apapun tentangnya. Dia benar benar galak, tapi dia sungguh imut dan menggemaskan, aku harus mendapatkannya!!" Kata Leon frustasi.


"Kau tahu aplikasi di social media? Gunakan itu, kau ini terkadang gagal gaul!!"


Leon menegakan dirinya. Dia seperti mendengar suara dewa memberi pencerahan padanya.


"Renzy!! Kau sangat pintar, apa kau juga menikah dengan Paul karna social media? Haha!!" Puji Leon tetap membuat Renzy kesal sambil mengetik social media miliknya di komputernya.


"Aku tidak serendah dirimu!! Aku pulang!! Dikasih tahu malah buat kesel!!" Decak Renzy meninggalkan teman satu seperjuangannya itu.


"Ayolah Renzy, ini hanyalah ungkapan kegembiraan,," teriak Leon tertawa.

__ADS_1


Leon dengan semangat mengetik nama lengkap Lexa di social medianya. Dan? Lagi lagi Leon kesal karna hanya ada dua foto Lexa tampak samping dan tampak belakang. Dia yakin ini Lexa karna di social media nya tertulis, Viena Jovanca mengikuti aLexa luxurio.


"Lexa, kau benar benar hebat! Apa maksudmu menutupi semua identitasmu!!" Leon benar benar frustasi.


Akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan cara ilegal ini. Dia lalu menghubungi bos nya.


"Bos, berikan aku kode ip untuk mengetahui nomor ponsel seseorang di kota Legacy. Ku mohon bos," kata Leon to the point.


"Apa tidak bisa kau menggunakan cara gantle dengan datang ke kantornya menunggunya pulang lalu mengantarnya kemanapun dia mau?" Jawab Dion mengerti apa yang diinginkan Leon.


Sejak Lexa pergi, Leon jadi tidak serius dalam bekerja. Dia uring uringan dan sesekali menggoda bos nya atau Renzy.


"Begitu ya bos?" Leon berpikir. Suatu ide yang bagus. Namun, sekarang dia masih merindukan Lexa. Dia mau menggodanya lagi. Seperti ada desiran hangat dalam tubuhnya ketika mendengar suara Lexa.


Dion : "Iya memang begitu, kau tahu jam pulangnya kan?"


Leon : "Iya tapi aku sudah merindukannya bos"


Panggilan berakhir. Leon mengusap usap dagunya. Ada apa dengan dirinya. Mengapa dia sepenasaran ini dengan Lexa?


Mengingat mata coklat Lexa yang berbinar. Matanya begitu murni dan harum tubuhnya sangat menggoda. Wajahnya yang putih kemerahan dan rambut dark brown nya yang menjuntai sungguh membuat Leon tertarik. Leon memejamkan matanya dan terus membayangkan Lexa.


...........


Sesampainya Lexa di flat nya, dia lalu membersihkan diri dan memasak untuk makan malam. Lexa tinggal sendiri di sebuah flat yang sederhana karna dia harus menghemat penghasilannya yang sebenarnya cukup tinggi. Namun, dia tetap harus mengirim untuk suster Regina, biar bagaimanapun suster Regina yang sudah merawatnya sepeninggal ibunya. Sedangkan ayah Lexa, dia tidak tahu dimana ayahnya. Dia hanya mengingat sewaktu dirinya masih lima tahun, ayahnya pergi dan tak kembali. Suster Regina juga sudah tidak melihat ayahnya ketika dirinya bertemu dengan Rose, ibu Lexa. Regina dan Rose, mereka sahabat sejak kecil. Tak menutup kemungkinan kalau Lexa juga menganggap Regina seperti ibunya.


Setelah Lexa memasak dan makan malam, dia kembali berkutat dengan laptopnya. Walaupun dia adalah seorang remaja yang bertumbuh dewasa, dia tidak pernah berpikir untuk keluar dan bersenang senang kalau bukan Viena atau teman sekantornya yang mengajak. Dia lebih memilih menghabiskan waktu luangnya dengan mengecek pekerjaan kantor atau menyelesaikan pekerjaan kantor yang bisa dibawa ke flat nya. Jika Viena tidak membutuhkannya, dia lebih sering browsing kegiatan bisnis karna hal ini merupakan nilai utama untuk membantu kinerja bos nya.


Seketika dia berhenti pada sebuah foto dari Hotel Prime pada kolom berita bisnis. Difoto tersebut terdapat Tuan Dion pastinya dengan beberapa orang seperti koleganya sedang berjalan. Dan mata Lexa tertuju pada seorang pria yang berada di sisi kanan Dion. Dia tak lain adalah Leon dengan setelan suit jas hitamnya dan kacamata hitam yang bertengger di kantong jas nya. Rambutnya berdiri ke atas seperti tuannya dan tatapan mata lancipnya tajam seperti kali pertama dia menatap Lexa.


Tanpa sadar wajah Lexa memerah dan memanas. Dia mencoba memperbesar foto tersebut ke arah Leon. Lexa tersenyum namun tak berapa lama dia melepas tekanan mouse nya untuk mengembalikan foto ke bentuk semula.


"Ada apa denganmu Lexa!! Kau baru pertama bertemu, dan lagi dia menyebalkan, musang liar jelek dari hutan yang tidak berkemanusiaan, genit dan kuyakin dia sangat mesum!!!!!" Decak Lexa sambil terus menekan nekan tombol back pada situs tersebut.

__ADS_1


Dia tidak mau mengingat kekonyolan yang dia buat hari ini sampai Leon tak berhenti menggodanya.


.........


Sore itu masih menunjukan pukul tiga dan kurang satu jam lagi waktu bekerja usai. Namun, kantor terlihat agak sepi. Hanya ada Lexa dan beberapa karyawan yang masih menetap.


"Humm, Nyonya sudah pergi menemui mantannya. Lucy ijin ulang tahun calon mertuannya. Susan dan Abby sedang menemui klient. Dan aku? Masih harus mengurusi jadwal Nyonya Viena dan jadwal shooting iklan. Kapan aku punya waktu senggang, hemm," Lexa masih berkutat di depan komputer Lucy. Lucy memintanya membantu mengecek ulang jadwal Nyonya Viena, kali kali ada yang terlewat dan laporan yanh harus Lucy buat kedepaannya.


"Akhirnya fine!! Hah? Jam brapa ini? Jam lima? Tinggal aku sendiri di kantor?" Lexa terheran heran. Memang sedari tadi dia hanya meng iyakan atau berdehem singkat ketika beberapa karyawan ijin pulang lebih dulu.


Lexa melangkahkan kakinya ke bawah dengan terburu buru. Dia masih harus berbelanja kebutuhannya di departement store dekat sini dan dia harus cepat karna dia akan tertinggal bus ke arah flatnya pada pukul tujuh nanti. Namun, karna terlalu terburu buru, pada anak tangga terakhir kakinya lunglai dan hendak terjatuh. Dia sempat berpikir kenapa dia tidak sabar menanti pintu lift terbuka.


~ah sial!!~ gumam Lexa dalam hati.


~ah, harum ini sangat menenangkan dan hangat, apa begini rasanya jatuh dari tangga ya?~ pikir Lexa lagi yang merasa dirinya tidak terjatuh melainkan di peluk oleh seseorang dengan sejuta kelembutan yang pria itu miliki.


Lexa membuka matanya karna berpikir dirinya akan jatuh. Dia lalu terkesiao melihat siapa yang menolongnya.


"Leon! Apa yang kau lakukan disini?!" Lexa menegakan dirinya dan mengebaskan kembali pakaiannya.


"Kau ini turun tangga yang benar! Kalau jatuh kakinya terkilir, kau tidak bisa bekerja, dasar kelinci ceroboh!" Decak Leon yang cemas ketika melihat dari jauh hendak menghampiri kantor Lexa. Dia berlari untuk menangkap Lexa karna dia sudah melihat Lexa menuruni tangga dengan tergesa gesa dan tubuhnya agak lunglai.


"Aku - aku buru buru, tidak tahu!" Gerutu Lexa menunduk memastikan kalau kakinya tidak terkilir sama sekali karna Leon.


"Ya sudah, kau baik baik saja? Apa kakimu sakit?" Leon dengan sigap lalu menunduk melihat kaki Lexa. Lexa yang melihat prilaku lembut Leon padanya berdebar. Jantungnya dag dig dug hendak keluar.


"Leon.." panggil Lexa selembut kapas. Lexa benar benar tersentuh dengan prilaku Leon.


........


Duaaarrr!! Leon, jangan so sweet so sweet aku ga kuat ngetiknya 😅😂


Next part 7 ya 😍

__ADS_1


__ADS_2