
Pada akhirnya semua akan kembali pada yang Mahakuasa. tidak peduli baik buruknya seseorang. Bagaimana Carolyn dan Xelino menanggapi kepergian Larry Janson?
...
Tanpa bicara lagi karena kepanikan sudah melanda, Xelino lupa meminta ijin pada Carolyn, Gilbert dan Jennifer. Dia segera menuju ke mobilnya lalu melanjutkannya ke desa Serena. Ada sedikit penyesalan karena dia belum sempat ke sana beberapa Minggu ini. Dia hanya melakukan video call pada kakek dan nenek yang merawatnya sejak kecil. Dan kini kakeknya telah tiada. Xelino memikirkan kakeknya terus menerus sampai lupa menghubungi Carolyn.
Sementara Carolyn terus menghubungi Xelino karena menghilang secara tiba tiba. Jennifer juga menanyakannya pada Carolyn. Namun, Xelino tidak mengangkat panggilan. Dia terlalu mencemaskan kakeknya. Dia harus melihat untuk terakhir kalinya.
Ketika sampai di perbatasan karena lampu merah, barulah Xelino melihat ponselnya lagi. Lexa dan Leon memberi pesan kalau mereka sudah terbang ke Springfield juga bersama Viena dan Dion. Mereka juga harus menghormati mendiang Tuan Besar Larry Janson. Biar bagaimana pun Larry merupakan sahabat dari Jeremy Prime, ayah Dion. Larry Janson juga sangat dipercaya oleh kakek dari Dion.
Xelino hanya membalas pesan ayahnya dengan kata hati hati. Kesedihannya sudah sampai ke ubun ubun. Mengapa dirinya tidak datang hanya sekedar menengok sebentar? Dia terlalu sibuk mengurusi pekerjaan dan keluarga Carolyn.
Bersaman dengan itu Carolyn kembali menghubunginya lagi.
"Xelino! Kau di mana? Kau membuat ku panik, kau di mana?" tanya Carolyn melalui sambungan telepon itu.
"Mengapa kau sampai panik seperti ini?" Xelino malah bertanya kembali.
"Kau sedang bersama ku tapi tiba tiba kau menghilang, kau kenapa?" tanya Carolyn agak merasa aneh dengan nada suara Xelino yang agak sedih. rasanya Carolyn hendak memeluknya.
"Aku ada urusan mendadak di desa," kata Xelino dengan nada cukup dingin.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada kakek atau nenekmu?" selidik Carolyn ikut cemas.
"My grandpa died!"
"Oh God! Kau serius?"
"Untuk apa aku berbohong, yasudah aku harus kembali mengendarai mobil,"
"Xelino tunggu," kata Carolyn menahan Xelino yang hendak mematikan panggilan.
"Apa?"
"Aku turut berduka cita, hati hati," ucap Carolyn dengan lembut.
"Ya,"
Panggilan dimatikan. Carolyn merasakan rasa duka yang dialami Xelino. Sepertinya dia tidak mau menganggu terlebih dulu. Carolyn mencoba mengerti Xelino. Dia merasa Xelino pasti sedih oleh sebab itu tidak sempat meminta ijin padanya. Carolyn pun memberitahu pada ayahnya.
Sayang sekali, Gilbert tidak bisa menyusul ke Serena karena kondisi Casey yang masih belum sadarkan diri. Sementara Carolyn juga harus memantau perusahaan bibinya.
Xelino memarkirkan mobilnya dan langsung memasuki rumah kakek dan neneknya itu.
"Grandpa!" Panggil Xelino. Semua mata tertuju pada Xelino kecuali Jane yang hanya menatap mendiang suaminya.
"Mengapa ini terjadi bi?" Tanya Xelino melewati Angel yang masih menangis di pelukan Jerry. Sementara Allegra duduk berdampingan dengan Jessie. Mereka berdua juga sudah sangat bersedih.
"Dia memang sudah sakit, dia hendak memanggil Grandma Mu di kebun belakang. Grandma sedang mengambil beberapa lobak di kebun belakang karena baru saja panen. Aku membantunya. Sepertinya dia terpeleset dan langsung tak sadarkan diri Xelino. Ketika aku ingin membawanya ke kota, tabib yang memeriksa sebelumnya mengatakan dad sudah tidak bernyawa, huuuaa ...." Kata Angel menjelaskan dan akhirnya kembalienangis jengkar di dalam pelukan suaminya.
"Tenang sayang, ini sudah takdir dan saatnya Daddy pergi. Jangan seperti ini," saut Jerry merasakan apa yang dirasakan istrinya. dia tahu rasanya kehilangan orang tua.
"Aku menyesal Jerry, ini semua salahku! Aku tidak bisa menjaganya dengan baik," kata Angel lagi merasa bersalah.
"Angel, diamlah, Daddy mu sedang tidur," sela Jane kemudian. Xelino menatap neneknya. Dia langsung menghampiri dan memeluk orang tua itu.
"Grandma, kau benar, grandpa sedang tertidur untuk selamanya," tambah Xelino melengkapi kata kata neneknya.
"Ya, dia sudah tenang, Xeli, jadi kuharap kalian tidak usah menyesalinya. Dan persiapkan diri kalian kalau aku juga akan menjemputnya," balas Jane merasakan pelukan cucunya. rasanya seperti pelukan suaminya. sementara semua orang yang mendengar malah menangis. Jane seperti sudah tahu kalau waktunya hidup juga sebentar lagi.
"Ya Grandma, tapi jangan sekarang, kau harus mengantarkan grandpa ke tempat peristirahatan yang terakhir dulu," saut Xelino sama tenangnya dengan Jane.
__ADS_1
"Xelino, tempat peristirahatan grandpamu akan berada di surga, aku yakin, dia pria yang sangat baik," kata Jane mengelus lengan Xelino.
"Ya, aku yakin, dia juga sedang mempersiapkan nya untukmu, jadi kau tenang saja, dia adalah suamimu di dunia dan akhirat," tambah Xelino terus menanggapi neneknya.
"Kau pintar cucuku!"
Mereka yang mendengar percakapan nenek dan cucu itu malah semakin sedih dan menangis. Kedekatan Xelino dengan kakek dan neneknya memang tidak diragukan lagi. Bahkan lebih dekat ketimbang bersama Jessie dan Allegra.
Xelino tak beranjak kemana mana. Dia duduk di samping Jane sambil terus merangkulnya. Inilah kedua orang tua yang menjadi saksi perkembangan dan langkah kehidupan Xelino. Oleh sebab itu, Xelino selalu membela kakek dan neneknya ini. Karena hanya mereka yang ia punya. Ibunya sudah menjadi anak yatim piatu sementara hanya ayahnya yang masih mempunyai orang tua walau sekarang hanya tinggal seorang Jane.
Mereka masih belum memakamkan Larry. Rencananya Larry akan dimakamkan di taman pemakaman desa Serena. Jane tidak mau memakamkannya di kota atau di taman pemakaman mewah Legacy. Larry juga sudah berpesan padanya agar tetap berada di desa Serena ini.
Sekitar pukul 9 malam, barulah Leon, Lexa, Dion, Viena tiba. Tak lama Juan beserta istri dan kedua anaknya juga tiba. Lexa dan Leon tak dapat membendung air matanya, begitu juga dengan Viena. Larry memang pria yang sangat baik semasa hidupnya. Dia orang yang ramah, ceria dan juga bijaksana. Larry tidak pernah berdebat dengan Leon, Angel, Juan bahkan Xelino sekalipun. Dia selalu mendukung anak anak dan cucunya. Larry juga sangat baik pada kedua menantunya. Jerry, Lexa dan Seira (istri Juan) begitu menghormati beliau sampai sudah menganggap seperti ayah kandung.
Karena rasa lelah juga kesedihan yang bercampur menjadi satu, Angel berhasil menanami Jane ke kamar dan akhirnya orang tua itu tertidur.
Xelino masih tidak mau bicara. Dia terlalu terkejut dengan semua ini. Namun, dia menyadari kalau usia kakeknya memang sudah tua. Dia juga sering mendengar dari Angel kalau Larry suka tidak enak badan. Xelino duduk di kursi belakang rumah melihat bintang malam yang menemani kepergian kekeknya itu. Tak lama ponselnya bergetar. Dia cukup tidak percaya kalau ponselnya mendapat signal sehingga bisa masuk sebuah panggilan. Xelino tentu merogohnya. Dari layar tertulis -My Carol- . Xelino tersenyum tipis. Dia yakin kalau wanita nya ini pasti mencemaskannya.
"Xelino," kata seorang pria di seberang sana.
Bukan suara wanita tetapi seorang pria paruh baya lebih tepatnya.
"Ya, ini siapa? Bukankah ini nomor Carolyn?" selidik Xelino .
"Xelino, ini aku Gilbert. Aku baru mengetahuinya dari Carolyn. Aku turut berduka,"
"Oh iya tuan, terimakasih, maafkan aku karena langsung pergi dan tidak memberi kabar," kata Xelino merasa bersalah tidak ijin dengan tuannya itu.
"Aku mengerti, santai saja. Maaf aku tidak bisa datang. Kau tahu kan kondisi Casey masih belum sadarkan diri. Aku harus menungguinya. Aku akan memberikan uang kompensasi untuk membantumu," ujar Gilbert ikut menghormati kesedihan Xelino.
"Tidak apa apa tuan dan tidak perlu repot repot tuan. Bonus yang kau beri bulan kemarin masih cukup untuk pemakaman kakekku," saut Xelino.
"Jangan begitu, ini memang bentuk pelayanan sosial dari perusahaan. Kau hanya tinggal bersama kakek dan nenekmu di desa. Aku sangat menghormati kalian semua," kata Gilbert lagi.
"Baiklah, sekali lagi aku turut berduka,"
"Iya tuan, terimakasih," ucap Xelino.
"Dan ini Carolyn juga mencemaskanmu, sejak tadi kami menghubungimu sangat sulit," kata Gilbert lagi.
"Kau tahu bagaimana desa ini tuan walau sudah dipasang penguat signal atau parabola," saut Xelino menjelaskan.
"Ya, aku mengerti,"
Gilbert pun mengembalikan ponsel itu pada anaknya. Carolyn meraihnya dengan hati sedikit berdesir. Rasanya dia begitu merindukan Xelino padahal baru saja Xelino pergi.
"Nona?" panggil Xelino sengaja menggoda Carolyn. dia merasa bersalah karna acuh siang tadi.
"Carolyn!" saut Carolyn sedikit sebal.
"Ah iya benar, maaf, bagaimana keadaan nona Casey?" tanya Xelino.
"Kau tidak usah memikirkannya, dia sudah jahat pada kita! Biarkan dia menerima ganjarannya. Seharusnya aku yang bertanya, bagaimana kondisi hatimu?" Carolyn bertanya kembali.
"Menyakitkan karena tak ada kau di sini," gumam Xelino tersenyum.
Deg!
Masih sempat sempatnya pria itu menggombalinya. Meski begitu Carolyn sangat senang mendengar nada suara Xelino yang tidak dingin lagi seperti tadi.
"Cih, jangan bergombal terus! Jadi, kau sudah baikan? Lalu, kapan grandpa mu akan dimakamkan?" tanya Carolyn lagi.
__ADS_1
"Sepertinya besok tapi belum diputuskan. Grandma ku belum mengatakan apapun juga mami papiku," jawab Xelino.
"Hem, maaf aku tidak bisa menemanimu, tapi Xelino ...".Carolyn terdiam sesaat. dia seperti menyimpan sebuah penyesalan.
"Ada apa nona?"
"Carolyn!"
"Ah maaf Carolyn ku!"
"Cih, cobalah serius dulu Xelino," kata Carolyn.
"Oke! Apa yang ingin kau katakan?" tanya Xelin lagi.
"Em, tolong sampaikan permohonan maaf ku pada grandpa dan Grandma mu karena waktu itu aku membentak dan berpikir mengusir mereka. Aku benar benar minta maaf. Aku menyesal tidak bisa meminta maaf langsung . Kalau nanti Casey sudah baikan dan bibi Rietha kembali bekerja, aku akan menemui makam beliau. Makam grandpa mu," kata Carolyn akhirnya mengungkapkan apa yang tertanam dalam hati.
Sesaat Xelino tersenyum hangat. Dia sudah membayangkan wajah sedih dan menyesal Carolyn yang malah menggemaskan. Dia jadi ingin kembali dan memeluk wanita itu bahkan hendak menciumnya. Carolyn sudah sangat bertolak belakang. Menurut nya malah jauh lebih baik dari Zhavia. Xelino semakin yakin siapa wanita yang ia cintai.
"Xelino? Kau terdiam?" selidik Xelino.
"Ah iya Carolyn, aku akan menyampaikannya, aku juga akan menemanimu nanti ketika waktu mu sudah ada bisa mengunjungi makam kakekku," kata Xelino akhirnya bersua.
"Terimakasih Xelino," ucap Carolyn kemudian.
"Untuk apa?"
"Terimakasih karena sudah mau menjadi temanku," ucap Carolyn sedikit merasa getir karena mereka masih sepasang sahabat bukan selebihnya.
"Seharusnya aku yang berterimakasih karena kau mau menyukai dan perhatian padaku," saut Xelino masih merendah.
"Apa?"
"Kau menyukaiku kan?"
"Percaya diri sekali! Aku suka menjadi temanmu!" saut Carolyn berdalih.
"Baiklah, aku menerima pengakuan mu,"
Seketika wajah Carolyn menjadi memerah dan salah tingkah. Dia semakin merindukan Xelino dan ini sangat nyata.
"Aahh terserahmu, aku hanya ingin meminta maaf pada your grandpa, kau baik baik di sana jangan lupa kembali! Kau masih menjadi asistenku! Sampai jumpa, bye!" Decak Carolyn mematikan panggilan. Jantungnya berdebar tak karuan. Xelino mampu memporak porandakan hatinya hanya karena kata kata sederhananya.
Sementara itu, Xelino tersenyum dengan respon Carolyn. Tanpa sadar kalau pembicaraannya di dengar oleh ayahnya.
"Xelino," panggil Leon menghampiri Xelino dan duduk di sampingnya.
"Papi? Kau menguping panggilan teleponku?" selidik Xelino memicingkan matanya.
"Mendengar bukan menguping," celetuk Leon lebih fasih membalas anaknya.
"Haha, kau pap! Grandpa sudah pergi, aku harus lebih menjaga Grandma, itu yang hendak kau bicarakan kan pap?" saut Xelino.
Leon menggeleng lalu menoleh ke arah anaknya itu.
...
jeng jeng Mo dikasi sesajen xel 😁
lanjut di bawah ya
tetap LIKE dan KOMEN part ini ya 😍
__ADS_1
thanks for read and i love you 💕