Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 16


__ADS_3

Lele 16


Hari itu terasa sebentar bagi Lexa dan yang lainnya karna mereka terus berkutat dengan proyek iklan di enam bulan kedepan. Selain mengurusi iklan Hotel Prime, mereka juga akan membuat iklan perusahaan minuman ternama di Legacy.


Lexa merenggangkan tubuhnya. Dia melirik jam dinding sudah menunjukan pukul lima sore. Dia terlalu asik dengan laporan laporan dan jadwal Nyonyanya.


"Lexa, apakah Leon akan menjemputmu?" Viena sudah bertandang pada daun pintu hendak kembali ke apartemennya.


"Untuk apa dia menjemputku? Dia bukan siapa siapa ku, madam, mengapa kau juga ikut menggodaku?" Lexa yang mendengar suara tuannya gelegatan dan segera merapikan diri.


"Kupikir kau sudah menjadi kekasihnya di Honolulu kemarin. Aku sempat melihatmu memeluknya dan masuk ke kamar," lanjut Viena lagi memainkan kukunya dan berbicara dengan sangat tenang.


Wajah Lexa seketika memerah sampai ke ujung dahi. Malam itu sepulangnya dari makan makan di pusat kuliner, Lexa memang agak pusing karna terlalu banyak minum bir. Dan, Abby mengatakan kalau dirinya berkata kata hal hal yang aneh namun memuji Leon. Leon mengambil kesempatan untuk mengantar Lexa ke kamar hotelnya dan parahnya Lexa tidak menolak.


"Demi apapun yang ada di dunia ini madam, kami tidak berbuat macam, aku bersumpah, yaa dia memang pria baik, dia hanya mengantarmu setelahnya dia keluar, aku bersumpah padamu, madam, tidak ada hal lain!" Lexa berceloteh dengan terbata dan malu.


"Kalian sudah dewasa, lakukanlah menurut kalian baik, aku mau pulang, kau mau bersamaku sampai halte?" Viena mulai berjalan menuju lift.


"Yes madam, aku ikut," jawab Lexa sedikit lesu. Lexa menarik napas panjang. Dia benar benar tidak menyangka kalau Viena melihatnya. Dia kira Viena sedang beristirahat bersama Dion dan tidak akan tahu apa yang anak buahnya lakukan.


Belum sampai Lexa masuk ke mobil Viena, Lexa melihat sebuah mobil sport hitam yang tak asing baginya masuk ke dalam lobby parkir.


"Tamat riwayatku! Kenapa dia harus menjemputku!" Gumam Lexa pelan berhenti di depan mobil Viena.


"Hah, kau mau kemana? Cepat masuk mobilku!" Leon yang sudah melihat sosok Lexa memberhentikan mobilnya dan membuka kaca jendelnya.


Viena membunyikan klarkson nya pelan karna Lexa tidak kunjung naik ke mobilnya.


"Lexa, ada apa?"


Leon akhirnya menyadari kalau Lexa hendak bersama atasannya. Dia lalu turun dari mobilnya yang belum ia parkirkan. Dia lalu mendatangi Viena seperti pacar yang hendak membawa anaknya pergi.


Leon berhenti di depan mobil Viena yang mana Viena telah mendongakan kepalanya keluar.


"Selamat sore, Nyonya, bisakah aku saja yang mengantar Lexa pulang?" Leon menundukan badannya dan meminta ijin.


"Ya bawa saja dia, dia memang sudah mengharapkanmu, sejak tadi!"


"Madam, kau ini bicara apa, tidak! Aku mau bersamamu," Lexa memotong perkataan Viena yang membuat kupingnya merona.


"Kau membuang waktuku Lexa, Leon singkirkan dia, aku buru buru!" Viena hendak menjalankan mobilnya.


"Siap nyonya, masalah singkir menyingkirkan kelinci, aku ahlinya! Ayo sudah masuk ke mobilku!!" Leon memberi hormat kepada Viena dan menarik tangan Lexa untuk masuk ke mobilnya.


Lexa mengepalkan tangannya, dia tahu kalau nyonya nya yang satu itu sengaja. Viena membunyikan klarkson sebelum berlalu lebih jauh ketika melewati Lexa yang hendak naik ke mobil Leon.


"Argh, untung dia nyonya, kalau tidak sudah kupecat dia!" Dengus Lexa memasuki mobil Leon.


"Baik, sudah kurekam, besok ku adukan pada nyonyamu, kalau seandainya dia bawahanmu, kau memang kelinci liar yang garang!! Auuww!!" Leon memperagakan seperti harimau sama seperti sewaktu Lexa menggodanya waktu di pantai.

__ADS_1


"Adukan saja, dia tidak seperti bos bos biasanya," tiba tiba Lexa melembut ketika Leon sudah menjalankan mobilnya.


"Lalu dia bos seperti apa? Seperti bos ku?" Leon menanggapi.


"Aku tidak tahu sifat bos mu, meskipun mereka pernah berhubungan, Nyonya Viena itu bos yang segalanya bagiku. Terkadang dia bisa menjadi atasan, bisa menjadi teman, bisa menjadi kakak, dan kurasa dia juga bisa menjadi ibuku. Dia sungguh perhatian dan pengertian seperti ibuku," kata Lexa kemudian dan menoleh ke arah Leon lalu tersenyum.


Leon melihat senyuman Lexa sesaat. Ternyata Lexa sangat manis ketika sedang berbicara lembut.


"Tapi, sayang sekali .. " Lexa melanjutkan dan tampak murung.


"Ada apa? Apa berhubungan dengan percintaannya?" Leon menimpali.


"Ya begitulah, karna bos mu. Dia mengalami depresi berkepanjangan. Setiap hari dia harus ke pusat rehabilitasi dan setiap malam Tuan Egnor menjemputnya. Tiap malam dia mendengar adiknya menangis. Ya itu semua karna bosmu!!" Seketika Lexa menjadi kesal mengingatnya dan menaikan nada suaranya yang membuat Leon terkejut.


"Kau ini cerita yang benar, mengagetkan saja!" Leon kesal karna benar benar terkejut.


"Maka dari itu aku tidak mau berhubungan dengan pria manapun, semuanya membingungkan! Sekarang seperti bos mu, aku tahu bos mu sudah mempunyai kekasih kan? Untuk apa dia mendekati bos ku? Hah? Kau pasti tahu kan?! Nah sekarang menular denganmu! Kau mempunyai segudang wanita tapi kau masih menggangguku! Semua pria sama saja!" Lexa meledak dan melipat tangannya ke dada. Leon yang medengar sampai mau menabrak mobil lain.


"Lexa, kau kan sedang membicarakan bosmu dan bosku, kenapa kau jadi memarahiku?!" Tanya Leon pelan.


"Ya karna kau dan bosmu sama saja! Playboy!"


"Sepertinya kau butuh segelas ice coffee, sejak masuk ke mobil, kau marah marah terus," Leon masih sabar menghadapi Lexa dengan semua umpatannya.


Akhirnya Leon memberhentikan mobilnya di sebuah cafe yang cukup berkelas di pusat kota Legacy. Mereka memang harus melewati pusat kota untuk menuju ke flat Lexa.


"Leon, apa sebaiknya kita membeli ice coffe di pinggir jalan?" Tanya Lexa keluar dari mobilnya.


~Apa memang aku terlalu kasar padanya ya?~ gumam Lexa dalam hati.


"Tuh kan Lexa, kau tuh selalu berpikir, apa kau tidak takut cepat tua hah?!" Leon yang sudah di samping Lexa menghentak hentakan jarinya ke pelipis Lexa. Lexa menatap Leon tajam.


"Kesalahan besar aku menganggapmu penuh perhatian, Leon!" Lexa menghempaskan jari Leon dan berjalan lebih dulu.


"Lexa, aku memang memperhatikanmu, sayang, kau jangan selalu marah.." Leon merayu rayu Lexa sampai masuk ke dalam cafe.


Mereka telah memasuki sebuah cafe elit di pusat kota. Dengan dekorasi berwarna coklat muda membawa ketenangan yang memasuki cafe tersebut. Lexa memang merasakan hawa sejuk merasuki pikiran dan hatinya dengan Leon disampingnya. Lexa terkadang curiga mengapa Leon begitu mengetahui apa yang dibutuhkan Lexa.


"Kau suka Lexa?" Leon merangkul pinggang Lexa. Membuat Lexa tersentak. Dia lalu menatao Leon sendu.


"Iya Leon, ini sangat menenangkan," kata Lexa lembut. Wajah mereka saling berhadapan. Bibir Lexa yang kecil namun merona. Tatapan matanya yang sendu ke arah Leon membuat Leon ingin menerkamnya kalau saja ini bukan tempat umum. Leon akhirnya menyampingkan pikiran mesumnya.


"Ayo kita masuk, kau mau minum apa?" Leon membawa tubuh Lexa ke meja di sebelah pojok ruangan yang terdapat gantungan bunga berwarna warni. Bunga tersebut palsu namun sepertinya sang pemilik memberikan aroma kayu mahoni sehingga mencerminkan mereka yang duduk disana seperti di daerah dataran tinggi. Sambil menikmati kopi kesukaan para pengunjung.


"Lexa, kau tunggu sini, aku akan memesan, kau mau ice coffee latte atau vanilla atau mocca?"


"Ice vanilla latte sepertinya enak, baiklah itu saja satu dan satu muffin bluberry, aku melihatnya di etalase itu sepertinya enak, bisakah Leon?" Lexa seperti anak kecil yang meminta permen kepada ibunya. Dia tampak menggemaskan.


"Tentu, sayang," Leon mencubit hidung Lexa. Dia sangat gemas dengan wanita yang di depannya. Lexa mengusap usap hidung nya dan lagi lagi wajahnya memerah.

__ADS_1


Setelah Leon memesan, sepertinya Leon harus ke toilet. Sementara itu, ketika Leon dan Lexa memasuki cafe, ada seorang wanita yang kebetulan sedang menikmati segelas kopi yang telah melihat semua kelembutan Leon yang diberikan kepada Lexa.


Wanita itu menjadi geram karna beberapa hari ini tidak bisa menjalankan aksinya membuat kerenggangan antara Lexa dan Leon. Sangkin geramnya dia pun yang harus merusaknya sendiri. Dia sudah tampak kesal karna Leon benar benar tidak memperdulikannya lagi. Leon lebih memilih Lexa, sedangkan dia merasa kalau dirinya lebih baik dari Lexa. Dalam segi penampilan.


Brak! Solane menjatuhkan tas tangannya di atas meja Lexa. Lexa mendongakan wajahnya melihat pemilik dari tas tersebut dan Lexa sudah dongkol karna terkejut.


Solane menatapnya dengan tatapan angkuh dan benci.


"Mau apa kau?!" Tanya Lexa ketus.


"Jangan menatapku seperti itu wanita kumuh!" Dengan kekuatan yang Solane miliki, dia meraih dagu Lexa dan mencengkramnya. Solane memang tergolong wanita yang kasar dan harus mendapatkan apa yang ia inginkan meskipun harus berbuat kasar sekalipun.


"Lepaskan tangan kotormu!" Lexa berusaha melepaskan cengkraman Solane namun gagal. Solane terlalu kuat karna dia berada lebih tinggi di atas Lexa dan Lexa hanya duduk.


"Kuperingatkan sekali lagi kalau Leon adalah miliku! Dan tidak akan ada siapapun wanita yang memilikinya, kau ini tuli atau bodoh hah?" Ucap Solane sinis.


"Kubilang lepaskan, lepaskan! Sebenarnya kau yang tuli atau tidak waras?!" Akhirnya Lexa mengerahkan kekuatannya untuk menghempaskan tangan Solane dari dagunya.


"Dasar jalang kumuh! Kubunuh kau!! Beraninya kau melawan aku Solane! Kau hanya asisten rendahan yang merebut lelaki orang, kau tidak bisa kumaafkan!" Solane meraih leher Lexa dan mencekiknya. Lexa tidak menyangka dengan perbuatan Solane yang sungguh memancing perhatian orang sekitar.


Tidak ada yang membantu Lexa sekalipun para pelayan yang melihatnya. Mereka mengetahui latar belakanh Solane anak dari seorang Bupati yang juga menjabat petinggi di Legacy.


"Lepaskan Solane! Aku tidak berminat dengan bekasmu!! Lepaskan!"


"Huft huft! Hampir saja aku mati!" Decak Lexa. Dia berhasil menbuka cekikan Solane yang sudah kehabisan tenaga karna menyerangnya.


Pak! Pak! Pak! Lexa menarik kerah baju Solane yang terhempas ke kursi dan menamparnya berkali kali.


"Lexa, kau kenapa?" Leon datang terburu buru karna melihat keributan pada bagian tempat dia dan Lexa menunggu pesanan. Dan, bertepatan dengan Lexa menampar Solane berkali kali. Leon tidak melihat kronologi yang sesungguhnya.


"Kau siapa hah?! Semua orang sepertinya mengetahuimu sampai tidak ada yang membantuku ketika kau mencekikku! Dasar wanita murahan! Sekalipun kau pemilik kota ini atau seluruh dunia, aku tidak takut padamu!" Ancam Lexa dengan amarah meliputi seluruh tubuhnya.


Solane memanfaatkan kesempatan berlari memeluk Leon yang bertanya tanya dengan kekasaran Lexa.


"Leon, dia menamparku, mengataiku, aku hanya mau duduk bersama disini, dia dia malah tidak senang karna telah menganggu kalian!" Solane berusaha tampak kasihan agar Leon mempercayainya. Leon masih terdiam dan juga tidak menanggapi Solane yang tersedu.


"Aku tidak akan berbicara, semua yang disini tahu ulah murahan wanita berkepala ular ini! Tapi mereka hanya diam! Sial! Semua orang kaya aneh!!" Lexa mengumpat. Dia meraih tas nya dan hendak berlalu.


"Lexa, kau mau kemana?" Leon menahan tangan Lexa yang hendak pergi tanpanya.


"Jangan ikuti aku! Kau urus dulu ular itu baru kau bisa mendekatiku bahkan menjadikanku kekasihmu!" Lexa menghempaskan tangan Leon dan menatap tajam ke arah Solane. Membuat Solane semakin kesal dengan perkataan Lexa.


Leon membiarkan Lexa. Lexa benar. Mungkin Leon harus menyelesaikan seluruh keganjalannya dengan Solane. Mungkin Solane akan mengerti dan merelakannya bersama wanita lain yang lebih pantas darinya.


...


tembok pertahanan hendak dirubuhkan


next part 17

__ADS_1


thor ngebut ngapa


iyaa nii lagi nyari feelnya lho 😁


__ADS_2