Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE PART 42 LELE & ANGEL JERRY


__ADS_3

Kesempurnaan memang milik Tuhan, namun apa salahnya jika kita berusaha membuat kesempurnaan itu nyata di depan mata. Ketika mencoba menjadi baik pasti akan ada tantangan untuk bisa terlihat buruk. Ketika ingin biasa biasa saja pasti akan ada yang meremehkan sehingga kita malah ingin menjadi baik. Dan ketika memutuskan untuk melakukan sebuah hal buruk, yang terjadi malah orang menganggap baik. Ya, begitulah di dunia ini ada masa masanya. Berbuat baik dan menjadi baik kadang dianggap buruk oleh sesama.


Ingin rasanya menjadi orang yang memiliki segalanya. Harta melimpah, suami tampan atau istri cantik, mempunyai anak yang lucu lucu namun semua hanya keinginan yang mungkin memang untuk kita tapi juga bisa milik orang. Harapan memiliki anak yang sehat dan luar biasa itu adalah wajar, namun bagaimana jika anak itu memang kurang beruntung menjadi sempurna.


Seperti Angel. Wanita itu terus mengeluarkan air matanya di depan ruang dokter itu. Dia tidak tahu ingin percaya atau tidak. Ingin menanggapi atau mencoba mendalami dan mengoreksi diri. Dia mengelus perutnya lagi dan lagi. Dengan tundukan kepal akhirnya ia menangisi semua ini.


"Maafkan mommy sayang! Maafkan mommy! Mommy yang tak bisa menjagamu dengan baik. Mommy hanya mementingkan diri mommy sendiri! Maafkan mommy! Ketika kau lahir nanti, mommy yang akan memberikan mata mommy, mommy berjanji sayang .. huhuu .." Tutur Angel dalam tangisnya. Dia menangis pelan dalam sesak dadanya sehingga menimbulkan napas yang tersenggal dan membuat pilu.


Jerry telah keluar dari ruang dokter. Dia melihat istrinya duduk lemah dan pasrah di kursi tunggu. Jerry menghela napas dan tersenyum tipis. Dia lalu menghampiri Angel duduk di sebelahnya sambil merangkulnya. Jerry juga jadi memeluknya dan mendekapnya erat. Dia memejamkan matanya merasakan aura tubuh istrinya yang begitu ia ingin peluk setiap hari. Dia tidak peduli orang orang berlalu lalang.


Sementara Angel yang merasakan kehangatan dari suaminya makin menangis dan menyandarkan matanya pada lengan lengan kekar suaminya.


"Kita pulang, my Lil Angel?" Gumam Jerry pelan.


Angel masih menangis.


"Kita bicarakan di rumah. Kita tenangkan semuanya dan mencoba mendalami apa maksud dari semua ini. Oke? You're my big strong woman! Strong Angel, malaikat ku yang kuat! I love you!" Pekik Jerry lagi. Dia menarik dirinya dan membuat Angel menghadapnya.


"Angel? Kau mendengarku? Ini bukanlah akhir. Semua ada penyelesaiannya. Tatap mataku sayang! Angel! I call you!" Kata Jerry lagi menegaskan. Dia tidak boleh membuat istrinya lemah.


Akhirnya Angel mendongakan kepalanya perlahan lahan. Dia menatap suaminya masih dengan lelehan air matanya.


"Aku ingin anak ini Tuan Jerry! Jangan pisahkan aku dengannya!" Ujar Angel pelan dan sedikit serak.


"Iya! Aku juga! Sekarang kita pulang dulu, oke?!" Jawab Jerry menegaskan.


Akhirnya dalam kesedihan Jerry dan air mata Angel, pasangan suami istri itu kembali ke apartemen mereka. Sejatinya Jerry pun merasakan apa yang dirasakan Angel. Sebagaimana mereka berdua menantikan kedatangan buah hati di tengah tengah mereka. Dengan penuh harapan yang membuncah menginginkan bayinya terus tumbuh baik, sehat dan khususnya sempurna. Namun hal yang sederhana saja yang umum dari kata baik mereka tidak mendapatkannya.


Apa yang ingin mereka salahkan dari semua ini? Ketika mereka terus melantunkan doa nyatanya memang takdir mereka mendapatkan hasil yang jauh dari perkiraan mereka. Apalagi Angel. Angel mencoba tidak berpikiran negatif padahal dia merasa dari semua mimpinya yang terkesan tidak memiliki penglihatan mempunyai arti tersendiri. Angel mencoba menghalau semua pemikiran yang akan merusak proses kehamilannya. Namun nyatanya Angel dan Jerry harus mencoba menerima ini semua.


Rasanya seperti mereka menaiki gunung dengan riang hati namun gunung tersebut harus meletuskan lavanya sehingga membakar seluruh tubuhnya dan habis sudah. Begitulah yang Jerry dan Angel rasakan. Ketika kehamilan itu terasa sangat menyenangkan karna rasa cinta yang ada semakin meningkat. Mereka dapat saling melengkapi dan Tuhan juga masih memberikan kesempatan atas kekuatan janin Angel tetapi ketika harus mengetahui kelainan pada bayinya, perasaan pilu sedih dan menyesal menari nari di atas kepala mereka.


Jerry menggiring Angel memasuki kamar apartemennya . Di dalam perjalanan tadi mereka berdua terdiam mencoba mengoreksi diri. Kesalahan apa yang mereka berdua perbuat sehingga anak mereka yang mendapatkan penderitaan ini. Andai saja semua ini dapat ditukar dengan apa yang Jerry miliki, Jerry rela dan ikhlas.


Angel langsung memasuki kamar mereka dan tidur di sana. Dia memiringkan tubuhnya sambil memegang perutnya. Jerry kembali menghela napas. Dia menuju dapur dan membuatkan susu hangat terlebih dahulu. Ketika dia kembali membawakan susu hangat tersebut, dia mendapatkan Angel tertidur. Jerry menghampirinya hendak melihat wajah istrinya yang telah memerah. Kedua matanya bengkak dan masih tersisa tetes tetes air mata di sekitar bulu bulu matanya. Jerry lalu mengelus pipi istrinya dan mengecupnya juga menghapus sisa sisa tetesan air mata itu. Jerry lalu ikut berbaring di samping Angel dan memeluknya dari belakang.


"Sayangku, apapun yang terjadi, apapun keputusanmu, aku akan menurutimu, aku percaya ini hanya sebagian kecil ujian yang Tuhan berikan pada kita. Aku akan selalu bersamamu. Anak ini adalah anak kita. Kita berdua yang harus menanggung semua kesedihan dan juga kebahagiaannya. Aku akan melakukan yang terbaik untuk mu untuk anak kita untuk keluarga kita. Angel, aku mencintaimu sangat dan mendalam!" Bisik Jerry di belakang kepala istrinya sambil mengecupi nya. Tangannya melingkar pada perut Angel.


Angel mendengar gumam an suaminya. Dia belum sepenuhnya tertidur. Dia hanya sedang menyembunyikan diri agar tidak terlihat bersedih terus menerus. Namun perkataan suaminya menguatkannya. Dia menitikan air matanya dan bersandar senyaman mungkin pada dada suaminya. Angel harus kuat, Angel yang bertanggung jawab atas semua ini. Dia harus menjadi seperti ibunya bahkan lebih.


Beberapa jam kemudian, Angel terbangun. Jerry juga ternyata ikut tertidur sambil memeluknya. Angel memindahkan tangan Jerry perlahan agar tidak terbangun dan dia bisa beranjak. Kini Angel yang memandang suaminya. Dia merasakan wajah lelah dan juga sedih tergurat pada paras tampan suaminya itu. Angel mengelusnya pipinya perlahan.


"Aku akan kuat! Aku akan kuat demi dirimu dan anak kita juga keluarga kita! Kau tenang saja! Aku Angel wanita yang kau nikahi untuk menjadi lebih kuat dan bisa membuat mu bahagia!" Gumam Angel. Dia tersenyum tipis dan berdiri.


Angel melihat susu hangat di atas nakas yang mungkin sudah dingin dan benar. Angel sedikit mengingat dia sulit mengkonsumi apa yang disiapkan Jerry tanpa mau mencobanya. Dia menghela napas. Dia harus bisa. Angel pun meminumnya. Agak membuatnya mual namun dia berusaha mencari cara agar tidak mengeluarkannya. Dia segera ke dapur dan meminum air putih.


"Hemp! Not bad!" Angel berusaha mengatur napasnya. Dia lalu mencoba membuat makanan kesukaannya dan untuk makan malam suaminya.


Aroma masakan telah memenuhi ruangan apartemen dan Jerry pun terbangun. Dia meraba raba tempat tidur dan tidak menemukan istrinya. Jerry sedikit beranjak karna mengendusi aroma yang begitu menggeliatkan. Karna kamar tidak tertutup Jerry dapat menciumnya. Dia pun keluar kamar dan menemukan istrinya, Angel menyiapkan makanan kesukaannya. Salmon steak with blackpaper sauce.


"Sayang, kau bisa memasak?" Tanya Jerry cukup sumringah dan duduk di kursi makna mereka.


"Ini untukmu. Makanlah!" Angel menyodorkan makanan kesukaan suaminya itu.


"Kau mana? " Selidik Jerry mengenai bagian istrinya.


"Aku ini!" Angel juga membawa porsinya yang agak kecil.


"Kau bisa memakannya sayang?" Jerry memastikan. Sebelumnya Angel bahkan tidak mau menciumnya.


"Aku akan berusaha memenuhi nutrisi terbaik untuk anak kita sayang." Gumam Angel tersenyum tipis.


"Aku yakin kau akan bisa. Mari kita makan. Aku yang memimpin doa." Saut Jerry meraih tangan Angel dan memegangnya sebelum memulai berdoa.


Angel mengangguk. Dia menundukan kepalanya dan menautkan tangannya sama dengan Jerry, mereka berdoa terlebih dahulu.


"Tuhan terimakasih atas anugrahMu, kiranya Engkau memberkati makanan ini agar menjadi kekuatan dan kesehatan bagi kami dan juga anak kami yang masih dalam kandungan. Kiranya Engkau jamah dan berkati selalu. Terimakasih Tuhan Yang Maha Baik. Amin. Berdoa selesai. Selamat makan." Kata Jerry tersenyum pada Angel terlebih dahulu lalu menyantap makanannya.


Sementara Angel, dia sudah menghirup aroma salmon ini ketika di potong dan menguar aromanya. Seketika membuat perutnya kembali bergejolak. Dia meneguk saliva nya. Dia meminum air putih terlebih dahulu lalu mulai memotong sangat kecil dan memakannya. Angel mencoba merasakan dan benar muncul gejolak lagi dalam perutnya. Namun, ketika dia mual dan hendak muntah, ia segera meminum lagi air putihnya . Lalu ia kembali makan. Terus seperti itu dan rasanya ia sedang menahan air matanya untuk tidak terjatuh. Dia sampai mendongakan kepalanya agar dapat kuat perlahan lahan.


Jerry terus melirik sesekali dan memperhatikan bagaimana usaha istrinya yang luar biasa membuatnya bangga sekaligus bersedih. Jerry mendiamkan terlebih dahulu namun lama kelamaan dia menjadi tidak tega. Hingga sampai porsi Angel masih setengah sementara punya nya hampir habis.


"Sayang, sudah! Hentikan memakannya, segitu saja sudah membuatmu kenyang, jangan dilanjutkan!" Kata Jerry menahan tangan Angel yang hendak memotong steaknya lagi.


"Aku tidak apa apa sayang, biarkan aku menghabisinya." Jawab Angel tersenyum kecut. Dia sedang menahan gejolak perutnya yang tidak dapat diajak kompromi.

__ADS_1


"Angel.." panggil Jerry lirih.


Angel melihat suaminya dengan mata yang berkaca kaca membendung air matanya.


"Kalau kau makan semua dan menjadi benar benar tak tertahankan, kau malah akan mengeluarkan semuanya. Lebih baik stop dan tenangkan dirimu. Kau dan bayi kita akan frustasi jika kau seperti ini." Kata Jerry sangat sangat bijaksana. Angel berpikir, benar apa yang dikatakan suaminya. Sebelum ia memuntahkan semuanya, lebih baik dia berhenti. Sebanyak ini juga sudah cukup untuk hari ini dan sangat baik jika tidak mengeluarkannya.


"Kau benar sayang. Maafkan aku terlalu terobsesi padahal baru saja hari pertama aku akan merubah tekadku! Aku akan menjaga nutrisi anak kita sayang. Tiada yang mustahil bagi Tuhan, mungkin saja akan ada keajaiban untuk anak kita. Bukan begitu sayang?


Jerry mengangguk dan tersenyum puas. Dia sangat senang dengan perkembangan emosi Angel yang semakin hari semakin dewasa bahkan mengimbanginya. Dia tidak salah memilih wanita ini untuk menjadi teman hidupnya, teman masa tua nya.


"Baiklah, aku akan memberesi semuanya." Kata Angel lagi mengambil piring kosong suaminya untuk di timpuk dengan piring nya dan di bersihkan di washtafel.


"Biarkan aku membantumu sayang." Ujar Jerry menghampiri Angel yang sudah berada di depan wastafel pencucian piring.


"Kau diamlah, biar aku yang mencuci." Kata Jerry mengambil alih piring yang Angel pegang. Angel lalu memperhatikan saja suaminya. Dia tersenyum. Suaminya sungguh tampan baginya. Meskipun mereka terpaut 7 tahun namun tak melunturkan pesona Jerry pada Angel.


"Kau tampan sekali Tuan Jerry!" Tutur Angel sambil membelai lembut pipi suaminya.


Jerry sedikit menoleh dan terkekeh.


"Kau sayang!" Gumam Jerry.


"I love you! Cup!" Kata Angel lagi dan mengecup pipi suaminya.


"Hem, berarti kau harus memberinya lebih lagi jika aku membantumu ya?" Saut Jerry yang sudah menyelesaikan piring piringnya dan merangkul pinggang Angel.


"Tentu sayang! Em, kalau anak kita laki laki dia akan tampan dan bijaksana sepertimu Tuan Jerry." Gumam Angel menyandarkan kepalanya di pipi Jerry.


"Jika dia perempuan, dia akan pintar merangkai bunga sepertimu. Dia pasti sangat cantik dengan mata lancip seperti ibunya dan pamannya, haha!" Balas Jerry.


"Haha! Aku jadi merindukan mereka!"


"Beritahukan pada Lexa dan Leon, mereka akan senang."


Seketika Angel tertunduk. Dia agak sedih dan sedikit khawatir. Jerry mengernyitkan dahinya merasa aura berbeda istrinya.


"Ada apa sayang? Kau tidak ingin memberi kabar pada mereka?" Jerry mencari cari wajah istri nya.


"Hemm, kalau apa yang dikatakan dokter Presley benar, apakah keluarga kita akan menerima kondisi anak kita sayang?" Angel sedikit melirik Jerry dengan sedikit khawatir. Dahinya sudah mengkerut dan hatinya kembali pilu.


"Maafkan aku! Aku terlalu lemah mendengar semua ini Tuan Jerry!" Tutur Angel menunduk.


"Emm sayang, apa kau ingin ke dokter lain? Mungkin observasi dokter Presley tidak sesuai dan tidak terlalu detil. Mungkin kita bisa mencari option dengan dokter lain?" Akhirnya Jerry memberanikan diri untuk menenangkan hati istrinya juga. Angel berpikir namun sepertinya akan sama saja. Dia tahu siapa dokter Presley karna sebelumnya dia sudah sedikit menyelidiki.


Anggel akhirnya menggeleng.


"Ada apa sayang? Bukankah kau kurang percaya?" Jerry meyakinkan.


"Tidak perlu sayang. Dokter Presley adalah dokter yang pintar dan sangat teliti. Dia tidak akan salah. Kalau dia tidak benar, dia tidak akan membantu kita sejak awal. Dia juga ingin yang terbaik bagi kita. Sepertinya aku harus meminta maaf padanya." Kata Angel kini menatap serius suaminya.


Jerry kembali mengembangkan senyumnya. Sepertinya ada sesuatu yang baik dari semua kekurangan ini. Anak mereka sendiri yang akhirnya menutupi sifat buruk ibunya yang terlalu pemarah. Karna kejadian ini, Angel semakin dewasa dan tidak mementingkan dirinya sendiri. Jerry merasakan semua ini menjadi baik adanya.


"Baiklah sayang, besok kita harus kembali kesana karna dokter Presley belum memeriksa kandunganmu, oke?" Kata Jerry lagi memeberi tahu.


Anggel mengangguk dan kembali memeluk suaminya.


"Tapi sayang, apapun yang terjadi, aku ingin melahirkan anak ini. Aku tidak mau mengeluarkannya kalau bukan dia yang hendak keluar. Aku ingin menjaga dan mempertahankannya sampai Tuhan mengijinkan dia tetap hidup atau ke surga. Jangan menyuruhku mengambil tindakan yang bodoh hanya karna sebuah prediksi yang belum tentu." Pinta Angel sederhana. Melahirkan anak mereka.


"Tenang saja sayang, aku akan mengikuti keputusanmu. Kau ibunya dan yang paling mengerti kondisi anak kita. semuanya akan baik baik saja. Aku akan selalu di sampingmu. Hanya kau dan anak kita yang ku punya dan menjadi hembus napasku setiap hari." Kata Jerry lagi ikut mendekap tubuh istrinya dan mengelus lengannya.


Seribu hari rasanya hanya sebentar jika kita saling memiliki dan mengerti satu sama lain. Apalagi jika kita mencintai orang orang di sekitarmu dengan tulus dan tangan terbuka maka selama apapun hari atau sebanyak apapun rintangan terasa hanya seperti terpaan angin semilir.


Angel masih meyakini dengan dia merubah pola hidupnya bersama anaknya, dia bisa mencapai kesempurnaan anaknya. Namun dia juga tetap akan menerima apapun yang terjadi dikemudian hari dengan anaknya. Angel dan Jerry terus saling melengkapi dan terus memanjatkan doa meminta keajaiban dari yang kuasa. Meski begitu, Jerry begitu antusias menyiapkan semuanya. Mulai dari sekarang, dia sudah mendaftarkan diri akan menerima donor kornea mata yang mungkin saja cocok dengan anaknya nanti. Apa kah berhasil?


...


Sementara di Legacy. Pasangan asisten ini malah menjadi sering mengumbar umpatan dan agak melakukan hubungan suami istri dengan gairah yang meletup letup. Namun hari ini mereka meliburkan kegiatan menyenangkan ini Karna Lexa telat datang bulan. Dia sudah membeli testpack dan akan memeriksanya.


"Aaaaarrgghhhh!!!" Teriak Lexa. Entah mengapa, Lexa jadi sering berteriak dengan Leon di apartemen mereka.


"Paling paling negatif lagi, sudah berapa kali aku menipunya, hihi!!" Gumam Leon pelan yang ternyata Lexa mendengarnya.


"Apa kau bilang Leon?!" Tanya Lexa dengan nada paling melengking. Leon membelalakan matanya mendengar bentakan Lexa. Dia segera beranjak.


"Kau menipuku apa?!" Tanya Lexa dengan wajah geramnya.

__ADS_1


"Bukan apa apa!" Leon berdalih.


"Jawab jujur !!" Lexa sudah menolak pinggangnya.


"Tidak sayang! Maksudku aku sudah yakin kalau kau tidak positif dan itu tak masalah bagiku, kita bisa bermain lagi kan?" Leon sudah beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Lexa.


"Benar?" Lexa sedikit melemah.


"Benaar .. kemarilah .." Leon menarik tangan Lexa. Lexa menunduk sambil memegang testpack nya.


"Tenanglah Lexa. Aku yakin kau pasti akan hamil." Kata Leon menarik Lexa masuk kedalam pelukannya.


"Kenapa terus negatif Leon? Kita sudah mengikuti saran dokter dan aku menurutinya. Kenapa aku masih belum hamil?" Gumam Lexa menyandarkan kepalanya di depan dada Leon.


"Kita akan mencoba nya lagi, tapi sebelumnya kita harus menikmati masa masa berdua kita Lexa. Jika punya anak nanti, kita tidak bisa menikmatinya. Ambil sisi positif dari semuanya ya?" Leon mencoba menguatkan Lexa agar Lexa tidak curiga dan mau mengikuti sarannya.


Lexa mengangguk dan mencoba untuk kuat.


"Baiklah, kita harus melakukannya lagi malam ini!" Lexa bersih keras.


"Bukannya baru saja kita melakukan."


"Tidak! Harus lagi !!"


Leon menghela napas. Sampai kapan dia akan menipu istrinya. Selama ini terkadang Leon menipu Lexa kalau ia mengatakan sudah mencapai puncaknya tapi ternyata belum terjadi. Sejatinya Leon masih belum menginginkan seorang anak.


Sampai ketika ibunya akhirnya sudah mengirimkan obat herbal racikannya untuk mereka.


"Diminum dengan menggunakan setengah cangkir air setiap dua hari sekali ketika pagi atau sore hari." Lexa membaca petunjuk ketika beberapa Minggu kemudian ibunya mengirimkan obat herbal siap minum ini.


"Kau saja yang minum Lexa! Perasaan ku tidak enak!" Decak Leon merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah apartemen mereka.


"Kalian harus meminumnya berdua dan jika kau, Lexa sudah telat datang bulan, hentikan minum dan biarkan Leon yang meminumnya!" Lexa menatap Leon tersenyum. Dia kembali membaca anjuran ibu mertuanya.


"Aku tidak mau!" Leon tetap pada pendiriannya. Dia tahu dan yakin kalau ibunya adalah peracik obat herbal ter manjur di desanya. Mana tahu ketika mereka meminumnya tidak lama kemudian Lexa akan mengandung.


"Harus mau atau kita berpisah saja! Kau ini! Aku curiga kau tidak mau memiliki anak kan?!" Lexa benar benar menuduh karna dia sudah merasakan keengganan Leon.


"Mau Lexa, tapi tidak harus memaksakan diri begini!" Bantah Leon.


"Jangan menipuku terus! Aku sudah tahu semua taktik mu!" Dengus Lexa dan menuju ke dapur menyiapkan obat tersebut untuk diminum.


Leon menghela napas dan akhirnya menyetujui meminum obat herbal dari ibunya itu. Benar saja kecurigaan Leon, obat herbal tersebut membuat Leon mabuk kepayang sampai tidak dapat mengendalikan hasratnya. Apa yang sebenarnya terjadi?


...


...


...


...


...


Angel, you go girl!! Eh woman ya 😁😁


Lexa, you can do it!!


Pasti hamil tenang aja kan kan kan aku .. sudahlah ga usa dilanjutin dah pada tau wakakakak 😂😂


.


Next part 43


Makin seru gaes ulah pasangan asisten ini, seru gimana vii? Stay tune yaa??


Dan juga masih ada drama dari Rico dan Solane 😊😊


.


Pada akhirnya vii meminta dukungan dari kalian melalui LIKE dan KOMEN nya, lalu bisa juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel yaa vii tunggu semua dukungan kalian 😍😍


.


Thanks for read and i love youuuuu 💕💕

__ADS_1


__ADS_2