
"Leon, aku mau pulang ke flatku!" Tiba tiba Lexa meminta pulang setelah selesai mencuci piring alas makan malam mereka. Sejak Leon mengajaknya ke Springfield, Lexa makan dalam diam tak bergeming. Leon sesekali bergurau padanya, Lexa hanya tersenyum tipis. Leon sebenarnya merasa tapi dia kesampingkan agar tidak terjadi keributan terus.
"Eehhh? Ada apa? Besok saja!" Jawab Leon menikmati acara televisi.
"Tidak, aku mau pulang sekarang!" Lexa memaksa.
"Lalu untuk apa kau mengenakan piyama ini?!" Saut Leon kini menegakan duduknya.
"Aku sedang tidak selera!" Lexa menyatukan kedua tangannya ke belakang.
"Kenapa?"
"Pokoknya aku mau pulang sekarang Leon antar aku!" Perintah Lexa merajuk.
"Kau katakan dulu kenapa, lalu akan kuantar!" Leon kini sudah berdiri dan merasakan sesuatu mengganjal yang hendak Lexa utarakan.
"Aku - aku ..." Lexa berusaha mengatakan tapi sangat sulit. Dia pun tidak pernah menyembunyikan apapun dari Leon. Semua ingin dia katakan karna merasa Leon yang selalu mengerti dan membuat dirinya tenang.
"Apa?!" Selidik Leon menghampiri Lexa.
"Leon, aku tidak mau ikut denganmu ke Springfield," Akhirnya Lexa mengatakan apa yang menjadi ketakutan dalam pikirannya.
"Em, bagaimana ya? Aku terus berpikir sejak tadi. Aku - aku..." Tambah Lexa.
"Aku tahu!" Kini Leon sudah di hadapannya dan meraih kedua tangan Lexa.
"Kau mengerti Leon?" Lexa mendongakan sedikit kepalanya menatap asisten cintanya itu.
"Aku tahu apa yang kau rasakan! Jangan takut Lexa! Ada aku, aku yang mengajakmu. Dan, aku yakin semua keluargaku menyukaimu!" Kata Leon sesaat memang sangat membawa kehangatan di hati Lexa, namun ..
"Bukan hanya itu Leon!" Bantah Lexa pelan.
"Ada apa lagi? Kau tidak mempercayaiku? Aku tulus hendak menikahimu Lexa, kau tidak mau menjadi istriku?" Leon meraih dagu Lexa.
"Leon cukup! Aku dan kau saaaannggaatt jauh! Keluargamu lengkap, ayahmu ada, ibumu ada dan kau memiliki dua adik, sedangkan aku? Aku hanya sendiri. Sebatang kara Leon! Bagaimana kalau mereka menanyai ayahmu kerja apa Lexa, ibumu ada dimana Lexa? Kau punya adik? Kau punya kakak? TIDAK! Sudahlah, kepalaku semakin pusing! Kalau kau tau mau mengantarku, aku akan pulang naik taxi!" Lexa agak meledak. Dia menghempaskan tangan leon yang memegang dagunya. Dia lalu menuju kamar Leon.
Leon menarik napas. Entah bagaimana lagi dia menahan pujaan hatinya mengerti apa maksudnya. Dia hendak mengajak Lexa hanya ingin berkenalan. Dia juga ingin Lexa mengetahui kalau kehidupan keluarganya tidak mewah, tidak sebagus bayangannya. Kedua orang tuanya adalah petani, ya bisa dikatakan seperti itu. Karna Tuan Jeremy memberikan sebidang tanah untuk ditanami dan Dion juga membelikan sebuah kebun sayur dan buah buahan. Kedua orang tua Leon mengurusnya dengan sebaik mungkin.
Leon ingin menunjukan pada Lexa kalau keluarganya berbanding terbalik dengan pikirannya. Leon ingin Lexa menerimanya apa adanya. Dia tidak ingin lagi Lexa memiliki pemikiran seperti Solane. Namun, nyatanya Lexa malah menganggap dirinya sebatang kara dan tak pantas padanya.
Leon akhirnya melihat Lexa yang mungkin sudah bersiap. Baiklah kalau Lexa hendak pulang, dia akan mengantarnya. Dia tidak mau terus bertengkar dengan Lexa. Dia harus bersabar memantapkan hati Lexa kalau dirinya tidak ada maksud membanding bandingkan susunan keluarga lengkap atau tidak. Leon mengerti kalau Lexa takut dianggap kurang pantas karna dirinya sendiri.
Leon panik karna Lexa tidak berkemas. Lexa menangis di sisi tempat tidurnya dan memegang kepalanya.
"Lexa, kau baik baik saja?" Leon menghampiri dan memegang pundak Lexa.
"Kepalaku sakit sekali, Leon!" Lexa meringis dan menyandarkan kepalanya ke dada Leon.
"Ah, sudah kubilang kau jangan terlalu banyak berpikir! Sudah besok saja pulangnya, ayo berbaring, aku akan memberikanmu obat pereda nyeri. Sepertinya aku punya. Berbaringlah!" Leon membimbing Lexa tidur di tempat tidurnya. Sebelum ia mengambil obatnya, Leon mengusap dahi Lexa terlebih dahulu. Dia lalu menghapus air mata Lexa.
"Tenanglah! Ada aku! Sebentar ya?" Leon mengecup kening Lexa dan menuju kotak p3k nya di ruang makan. Lexa bergidik merasakan ketenangan yang luar biasa. Sakit kepalanya agak berkurang. Dia benar benar tak percaya kalau Leon memiliki sisi lembut ketika dirinya sakit. Leon tidak marah karna tadi ia sempat membentaknya dan menolak keinginan asisten Dion Prime itu.
"Ini Lexa, diminum dulu lalu cepatlah tidur!" Leon kembali dengan obat anti nyeri dan segelas air hangat. Lexa lalu bangkit duduk dan meminum obat yang Leon bawakan.
"Terimakasih Leon!" Ucap Lexa setelah meminum habis air.
"Tidurlah, besok pagi pagi benar aku akan mengantarmu ke flatmu!" Kata Leon kembali merebahkan Lexa ke tempat tidur dan memasangkan selimut. Ketika Leon beranjak dari duduknya, Lexa menahan Leon.
"Tidurlah bersamaku, peluk aku dari belakang Leon, bisakah?" Tanya Lexa tersipu dan menutup wajahnya dengan selimut.
Leon tersenyum mendengarnya. Leon lalu membuka bajunya karna sudah terbiasa tidur tanpa pakaian atas dan menuju sisi belakang Lexa. Dia memeluk Lexa dari belakang. Merengkuh pinggang kecil Lexa dan membenamkan wajahnya ke belakang leher Lexa. Tak lama Lexa tertidur karna dekapab hangat dari Leon. Dengan televisi masih menyala di ruang tamu sana mengalun lagu kesukaan Leon: Love Song by Big Bang mengiringi pasangan asisten yang tak tentu arah itu.
...
Lusa kemudian tepatnya hari senin, Leon diharuskan masuk oleh Dion padahal mereka sudah memutuskan cuti selama satu minggu. Sebenarnya cuti tersebut diperuntukan oleh pegawai biasa, sedangkan Leon tetap harus bersiaga jika bos nya membutuhkan. Berbeda dengan Lexa yang pure disuruh istirahat oleh Viena. Namun, kemana Lexa akan pergi jika kalau tidak dengan Leon atau mungkin Abby dan Lucy. Tapi, sepertinya dia tidak bisa pergi dengan kedua sahabatnya itu. Lucy pasti sibuk dengan tunangannya dan Abby, dia diajak kakaknya Ben berlibur ke Summer, kota sebelah Legacy.
"Ada apa Tuan? Mengapa kau memanggilku ke hotel tidak ke apartemenmu? Kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu dari istrimu kan?!" Tanya Leon menyeruak masuk ke ruangan bos nya yang sudah menunggu di dalam.
"Pesankan 4 tiket ke Springfield minggu depan! Pesawat biasa saja tapi tetap yang eksklusif ya. Yang tidak banyak penumpang. Ya kira kira hanya 20 penumpang saja." Perintah Dion duduk di meja kerjanya sambil memainkan ponselnya.
"S-VIP First Class Tuan?" Leon membenarkan maksud dari tuannya.
"Ya itu! Pesankan sekarang dengan kursi yang berdekatan ya?" Tambah Dion dengan pesanannya.
"Em kau ingin ke Springfield untuk apa Tuan? Bulan madu?" Tiba tiba Leon mengingat ajakannya untuk Lexa.
"Hehem, lalu untuk apa? Viena ingin kesana, dia belum pernah ke kampung halaman mu itu." Jelas Dion membuat Leon sedikit terkejut. Pasalnya Viena salah satu orang hebat yang tercatat di Legacy, mana mungkin wanita itu belum pernah kesana.
"Are you seriously?? Tidak mungkin seorang Nyonya Viena belum pernah ke kota pedesaan itu!!" Gumam Leon duduk di sofa ruangan Dion.
"Ya, kau boleh bertanya padanya." Saut Dion tetap memainkan ponselnya.
"Baiklah aku percaya, tapi Tuan kenapa 4 tiket? Apakah Tuan besar dan Nyonya besar Prime ikut?"
__ADS_1
"Tidak!"
"Lantas? Dengan siapa? Jangan bilang Nyonya Pevi dan Tuan Anthony juga ingin ikut?! Kalau benar kau melakukan kesalahan besar Tuanku!" Leon berdecih membuat tuannya meliriknya tajam.
"Apa otakku sudah tidak waras mengajak bekas kekasihku bulan madu walau dia dengan pacarnya sekarang?! Kau ini sudah makan apa belum? Kurasa otakmu yang salah Leon! Kau belum menyetubuhi Lexa ya?!" Decak Dion menatap jail Leon.
"Jeehh, bos mesum! Ups!" Umpat Leon terlalu lugas sehingga menutup mulutnya.
"Apa kau bilang?!" Dion tak terima.
"Kau mengajariku yang tidak tidak! Aku akan mengadukanmu pada Nyonya Viena, biar pikiranmu diajarkan dengan benar." Leon berusaha membela diri dengan menyebut nama istrinya agar bos nya itu tidak marah mendengar nama istrinya. Leon terkekeh sesaat.
"Entahlah, sejak menikah dia menjadi tambah cantik dan sintal, aku tidak tahan untuk terus memakainya Leon! Argh, memikirkannya saja aku jadi ingin cepat pulang! Sudah, kau pesankan ya?" Dion membanting pelan ponselnya dan mengusap wajahnya kasar. Dia selalu ingin menyetubuhi istrinya itu. Sejak kemarin sampai tadi pagi pun, dia masih menginginkannya. Mungkin karna Viena terus berkeliaran di depannya yang biasanya dia harus berpisah dengan istrinya itu.
"Hahaha! Kau sebenarnya tergila gila dengan tubuhnya atau cintanya!" Leon mencairkan kefrustasian bosnya tentang tubuh istrinya.
"Keduanya! Halah, kau saja juga sudah menelanjangi Lexa dengan mata busuk mu itu kan?! Mengaku saja! Untuk apa kau menjemputku waktu pernikahanku dengannya kalau dia tidak bersamamu malam itu ya kan?!" Decak Dion menerka.
"Kenapa kau tahu Tuan? Jangan bilang kau menaruh cctv di apartemenku ya?!" Selidik Leon merebahkan dirinya ke sofa.
"Tuduhan macam apa itu?! Aku sudah tahu semua kenakalanmu Leon, jangan bilang aku bos mu kalau aku tidak bisa diatasmu!"
"Hem, harus dicurigai!"
"Sudahlah Leon, kau sangat membuatku banyak bicara. Aku mau kerumah ibuku, kau pesankan jangan lupa!" Dion mulai berdiri dan mengenakan kembali jasnya.
"Iya Tuan Dion terhormat tapi aku tidak bisa memesan kalau dua orang lagi aku tidak tahu siapa yang ikut?!!! Aku harus mengetahui tanda pengenalnya." Leon mulai menegakan duduknya hendak menuju ruangannya. Semua info mengenai yang dibutuhkan tuannya ada di meja kerjanya.
"Kau tidak tahu tanda pengenalmu dan tanda pengenal Lexa?"
Seketika Leon terbelalak. Dia tidak salah dengar. Tuanya menanyakan tanda pengenalnya dan tanda pengenal Lexa. Dia juga memang ingin membicarakan hal ini pada Tuannya tapi masih agak ragu karna Lexa belum memantapkan dirinya.
"Kau bilang apa Tuan? Tanda pengenalku dan Lexa? Jadi, aku dan Lexa akan ikut dengan kalian bulan madu?" Leon memastikan dan berdiri.
"Ya, kau bisa kerumah ayah ibumu, mengapa kau mengikuti kami?" Dion sudah hendak meninggalkan ruang kerjanya.
"Oh God! Thankyou somuch bos!! Aku juga ingin kesana namun Lexa belum mau, tapi kalau kalian yang menyuruh dia pasti mau kan?" Leon tampak bersemangat.
"Harus!!! Dia kan sangat menuruti nyonya barumu itu! Kau tenang saja!" Dion sudah berjalan keluar ruangannya.
"Baiklah Tuan aku akan menghubungi maskapai penerbangan untuk memesan penerbangan terbaik. Akhirnya Dewa Cinta berpihak padaku!!!" Saut Leon sangat exited. Dia tidak harus memaksa Lexa untuk pergi ke kampung halamannya karna majikan mereka langsung yang memerintahkan.
Dion tersenyum mendengar respon Leon. Dia senang bisa membuat orang kepercayaannya bahagia bersama orang yang ia cintai.
...
Percakapan telepon Viena - Lexa
Lexa : halo ini siapa?
Viena : Viena
Lexa : nyonya? Maaf aku belum menyimpan nomor barumu. Apakah ini nomor apartemenmu dan Tuan Dion, nyonya?
Viena : ya
Lexa : ada apa dengan nada suaramu? Mengapa kau begitu lemas nyonya?
Viena : ini semua karna ulah majikan pacarmu! Tubuhku sampai tak berdaya seperti ini!
Lexa : hahaha! Tuan Dion hanya mencurahkan kelegaannya telah mendapatkanmu nyonya. Kau juga mau kan, hihi!
Viena : kau sudah pintar sekali ya? Jangan bilang Leon sudah menjajaki tubuhmu!
Lexa : oh tentu belum nyonya! Aku akan mencincangnya jika dia melakukannya padaku!
Viena : ya, kuharap kau bisa menahan semua rayuannya.
Lexa : ya memang majikan dan asisten sama saja, kadang aku lepas kendali tidak bisa menahannya nyonya tapi ada saja yang menghalangi kami. Mungkin kami harus menikah dulu nyonya, hihi!
Viena : ya mungkin. Kau berhati hatilah. Tidak ada yang tahu jika semua rangsangan itu sudah merasuk dirimu
Lexa : kau ini nyonya! Ada apa menghubungiku madam?
Viena : oh iya, aku sampai lupa, hampir saja aku mau mengakhiri panggilan karna sepertinya perutku lapar!
Lexa : apa kau ingin kubelikan sesuatu dan mengantarnya?
Viena : tidak tidak! Jauh sekali flatmu ke apartemenku yang sekarang
Lexa : jadi, ada apa madamku sayang?
Viena : minggu depan bersiaplah, kau harus ikut denganku!
__ADS_1
Lexa : kemana nyonya? Betapa terkenalnya perusahaan iklan kita ya sampai sudah ada yang mau shooting pembuatan iklan, nyonya?
Viena : bukan!
Lexa : lantas?
Viena : ikut bulan maduku ke Springfield bersama Leon!
Seketika Lexa terdiam. Dia tidak menjawab ajakan nyonyanya. Dia tidak salah dengar. Bos nya yang mengajaknya ke kota tempat kampung halaman pria yang ia cintai. Sejak kemarin kepalanya sakit, Leon tidak lagi menanyakan untuk pergi ke Springfield. Leon seperti ingin menunggu kesiapannya. Namun, sekarang dia dilema. Majikannya yang mengajaknya. Dia tidak bisa menolak Viena karna terlalu baik wanita itu baginya.
Viena : Lexa? Kau masih di sana? Mengapa kau diam?
Lexa : iya nyonya, aku masih di sini. Eng, untuk apa aku ikut dengan kalian Nyonya? Bukannya aku malah menganggu kalian?
Viena : ya, kau ikut dengan Leon saja ke kampung halamannya. Aku juga akan kesana. Bukannya kau yang bilang Leon memiliki perkebunan yang sangat indah? Kau tidak ingin berlibur ke sana? Bersamaku?
Lexa : ah iya Nyonya, tapi madam..
Viena : aku mengerti! Kau tidak usah takut Lexa. Katakan saja aku ibumu
Lexa : tidak semudah itu nyonya
Viena : kau tidak usah khawatir Lexa. Aku yakin keluarga Leon akan menyukaimu, lagipula ada Leon. dia pasti menjagamu. Aku yang akan memerintahkannya untuk menjagamu dengan baik
Lexa : heemm, bisakah aku memikirkannya dulu?
Viena : tidak!
Lexa : nyonya ...
Viena : Lexa, aku menjadi sangat lapar mendengar kegundahanmu ini. Aku tidak akan memaksa. Aku sangat mengharapkan kau ikut. Kalau kau seperti ini, kau akan sangat menyesal. Aku tidak mengancam, tapi aku tahu sebenarnya kau ingin, kau hanya merasa minder saja. Hilangkan semua itu dan bangkit Lexa. Kau senang sekali selalu berada dalam masa lalumu! Aku tutup ya?
Lexa : nyonya ...
Viena : ada apa lagi? Aku lapar, aku mau membuat makanan Lexa!
Lexa : baiklah nyonya, aku ikut
Viena : kemana?
Lexa : kau harus janji akan melindungiku nanti nyonya?
Viena : memang musangmu tidak cukup?
Lexa : mungkin
Viena : Lexa, percayalah, Leon benar benar mencintaimu, aku berani bersumpah.
Lexa : iya nyonya aku percaya.
Viena : baiklah, sudah dulu ya, persiapkan barang barangmu
Lexa : terimakasih Nyonya sudah mau mengajakku
Viena : ur welcome, bye!
Panggilan terputus. Lexa tampak gundah. Semoga keputusan yang dia ambil benar dan tidak akan membuatnya menyesal memilih Leon sebagai kekasih pertama dan pendamping hidupnya nanti.
...
Yeay! Lexa its oke ada musang 😍😍
Next part 56
Goes to Springfield
Pasti banyak drama kan vii?
Gitu dech 😁😁
Stay tune gaess 😍😍
.
Jangan lupa ya LIKE DAN KOMEN untuk penyemangat vii biar cepet UP hehe
Kasih RATE dan VOTE juga ya di depan profil novel
Kasih TIP juga boleh aku menerima dengan senang hati 😊😊
.
Oke thanks for read and i Love you 💕💕
__ADS_1