Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 45


__ADS_3

"Mom, bagaimana kabarmu? Pertanyaan bodoh macam apa ini? Pasti kau sangat berbahagia kan di sana? Aku senang mom karna kau tidak harus menghadapi kerasnya dunia lagi dan kau tenang saja mom, sekarang aku adalah seorang wanita yang akan mengikuti jejakmu. Menjadi seorang wanita yang kuat dan tahan banting. Dan, sepertinya gadis kecilmu ini sekarang sudah memiliki pria yang sangat dicintai mom. Aku malu mengatakannya. Tapi mom aku mencintainya mom. Dia begitu baik padaku. Dia selalu memberikan apa yang kubutuhkan meskipun yaa pemikirannya suka kekanak kanakan. Tapi, aku menginginkan dia berada di sampingku selamanya mom. Sebenarnya aku datang bersamanya, namun ada seora pria tua terjatuh dan dia menyelamatkannya. Lihat lah mom, dia tidak mengenal pria itu tapi dengan sigap Leon menolongnya mom. Ya, namanya Leon mom. Danteleon Janson. nama yang sangat cool kan mam? Tapi dia tidak terlalu cool sih haha ..jadi mom jika Tuhan berkehendak akan kami, tolong kau juga restui kami ya mom? Doakan kami. Em, masalah pria tua itu entahlah mom dia siapa tapi aku seperti merasa dekat dengannya mom. Ada sebuah getaran tersirat dimana aku skarang juga pun harus menemuinya dan melihatnya ke bawah. Baiklah mom kapan kapan aku akan menebar bunga lagi untukmu dan bersama leon. Calon menantumu, hihi." Begitulah kata kata Lexa ketika menyebarkan bunga bunga itu dari atas tebing ke laut.


Lexa menghapus air matanya sesaat dan menghabiskan satu keranjang bunga tersebut. Dia lalu mengucapkan selamat tinggal pada ibunya dan menuju ke bawah.


Dia menghubungi Leon. Leon bilang dia ada di klinik p3k di samping kantor pemasaran pantai pesiar. Lexa segera kesana. Pria tua itu sudah dipasang sebuah infus dan alat bantu pernapasan.


"Apa yang terjadi Leon? Dia baik baik saja?"


"Sepertinya tidak Lexa. Dia harus segera di bawa ke rumah sakit. Tekanan darahnya semuanya rendah kata perawat itu." Jawab Leon ikut panik.


"Kau sudah menghubungi keluarganya?" tanya Lexa.


"Sudah, dia memiliki anak angkat. Sepertinya aku tahu siapa anak angkatnya." jawab Leon.


"Siapa?"


"Tuan Jerry Atkinson, dia juga pemilik hotel sepertinya tuan Dion. Hotel atkinson, kau tidak tahu?" selidik Leon karna Hotel Atkinson hampir sejajar dengan Hotel Prime di Legacy.


"Emmm, sepertinya aku pernah kesana bersama Nyonya Viena. Dia kolega Tuan Dion?" Lexa mencoba mengingat.


"Sepertinya. Aku sering melihatnya beberapa kali."


"Lalu, di mana dia?" tanya Lexa.


"Katanya bertemu di rumah sakit saja. Kau sudah menebar bungannya?" Leon memastikan.


"Ya sudah."


"Sudah menyampaikan salam calon menantunya?" Leon menaik turunkan alisnya menunggu jawaban yang baik.


"Yaaa sudaahh, kau masih ingat saja." Lexa cukup tersipu.


"Tentulah! Agar mendapat restu! Jadi, kita mau menemani pria tua ini? Ah maksudku Tuan Alexis, Lexa."


"Siapa nama tuan ini?" Tanya Lexa memastikan dan sepertinya namanya tidak asing di indera pendengarannya. Sepertinya suster Regina atau ibunya sendiri pernah mengatakannya tapi dia tidak ingat dan kenangannya menjadi samar samar.


"Tuan Alexis Atkinson." Leon kembali memberi tahu.


"Oohhh. Yasudah ayo kita dampingi dulu sampai anak angkatnya tiba. Biar bagaimanapun kita yang menemukannya kan?" Lexa memberi saran. Namun sebenarnya dia seperti tersihir untuk mengetahui kondisi pria tua itu.


Alexis dibawa dengan ambulan yang sudah dipesan oleh anak angkatnya sementara Lexa dan Leon dengan mobil Leon sendiri.


"Lexa, ini hari senin. Kau tidak apa keluar bebas seperti ini?" tanya Leon ketika sudah melajukan mobilnya.


"Nyonya Viena sudah menghubungiku kemarin kalau hari ini kantor diliburkan saja. Ternyata dia sedang bermesraan dengan tuan mu. Dia baik kan? Berbagi kebahagiaannya dengan kita."


"Hahaha, kau bisa saja. Ya benar Nyonya mu memang seorang wanita yang sangat baik. Dia cocok dengan tuanku."


"Iya tapi tuanmu harus tau batasan, jangan menyakitinya lagi!!"


"Pasti, aku akan mengawasinya."


Begitulah percakapan Lexa dan Leon di mobil menuju ke rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, anak angkat Alexis sudah tiba berada di depan emergency room. Pria muda seumuran Leon itu berdiri dengan mengantungi tangannya di saku celananya. Dia terlihat gusar. Jerry salah satu pria yang dapat dikatakan tampan. Pakaiannya rapi dan berwibawa seperti direktur kebanyakan. Rambutnya juga tertata rapi namun tetap maskulin. Tubuhnya cukup tinggi sepantaran Leon dan juga cukup atletis.


Ketika dia menyadari kehadiran Lexa dan Leon, dia menoleh. Dia memicingkan matanya dan seperti mengenal Leon. Sementara Lexa cukup terpesona dengan piawai Jerry namun hanya dengan ucapan dalam hati "em, handsome" hanya itu dan tidak ada perasaan lain di hati Lexa. Berbeda ketika dia pertama kali bertemu dengan Leon di lift.


"Selamat siang Tuan Atkinson, kau masih mengingatku?" sapa Leon yang pernah beberapa kali melihat Jerry.


"Tentu, kau Tuan Janson bukan? Asisten utama Tuan Dionisius Prime? Apa kabar?" jawab Jerry ramah.


Mereka berdua berjabat tangan.


"Leon saja Tuan. Biar bagaimanapun kau sama seperti Tuan Dion." Leon mengoreksi dan merendahkan dirinya.


"Tidak usah terlalu kaku, eng lalu siapa wanita cantik ini?" tanya Jerry melirik Lexa dengan tatapan yang seperti tertarik.


Sebenarnya ketika Jerry menoleh dan melihat Lexa yang begitu tenang namun wajahnya dingin, pria muda itu sudah memperhatikan. Dia juga agak terkagum dengan Lexa yang saat itu mengenakan kaos lengan panjang dan rok megar dibawah lutut.


"Ah, kenalkan Tuan, ini Lexa, asisten Nyonya Viena Jovanca. Apa kau pernah mendengar nama Jovancy Advertising?" Leon mengenalkan Lexa sebagai asisten Viena karna juga ingin meningkatkan derajat Lexa.


"Ah iya. Suatu kehormatanku mengenal anda Nona Lexa?" Jerry mengulurkan tangannya dan mereka berjabat tangan. Namun, Jerry merasa terhipnotis dengan kehangatan tangan Lexa. Dia tersenyum sangat manis terhadap Lexa yang hanya biasa saja. Biasa saja bertemu orang orang hebat dengan wajah seperti ini. Dia seperti berjabat tangan dengan Egnor saja.


Sementara mata Leon mulai mendelik karna mereka bersalaman cukup lama. Namun ketika perasaan itu muncul, Jerry dan Lexa melepaskan jabatan tangan mereka.


"Aku mengetahui perusahaan iklan tersebut. Waktu itu aku juga pernah menyuruhnya membantuku mempromosikan event hotelku. Ya ya jadi kalian berteman? Sesama asisten sangat kompak." Kata Jerry tersenyum.


"Ya begitulah, kami sangat kompak!" Saut Leon merangkul pundak Lexa agar terlihat lebih akrab, tidak mau kalah dengan salaman Jerry tadi. Lexa menekuk wajahnya mendapatkan perlakuan Leon.


"Kekanak kanakan!" Bisik Lexa di dada Leon.


"Biar saja! Biar dia tahu, kau ini milikku!" Bisik Leon lagi.


"Istrinya?" Lexa memeriksa.


"Ya istrinya. Jadi begini Lexa, Leon. Mengingat kalian mengetahui hubunganku dengan Tuan Alexis. Aku menemukan beliau waktu itu di pemukiman daerah tempat aku membangun salah satu hotel ku. Semua orang tampaknya protes tapi hanya Tuan Alexis yang diam saja dan agak dingin. Aku jadi tersentuh. Singkat cerita aku membawanya dan karna aku tinggal seorang diri jadi aku mengangkatnya menjadi ayahku. Ternyata Tuan Alexis mempunyai kepintaran yang luar biasa. Dia membantuku dan menganggapku sebagai anaknya. Tapi dia memiliki masa lalu yang begitu menyedihkan." Cerita Jerry terhenti sesaat.


"Kita duduk di sana saja jika kau masih ingin menceritakannya, Tuan." Ajak Leon untuk duduk di pinggir ruang emergency room karna pihak rumah sakit masih memeriksa lebih lanjut Alexis yang belum sadarkan diri.


"Lanjutkan Tuan Jerry." Pinta Lexa karna entah mengapa Lexa seperti ingin tahu. Saat ia melihat wajah pria paruh baya itu, dia seperti memiliki sebuah hubungan, namun ia tidak mau berasumsi terlalu jauh.


"Iya, jadi dia sebenarnya pergi ke Legacy ini mencari nafkah untuk anak dan istrinya, namun dia ternyata ditipu dan dia tidak memiliki kenalan di Legacy ini. Dia tidak bisa kembali ke kampung halamannya. Em, kampung halamannya sepertinya di Desa kecil Honolulu." tambah Jerry dengan ceritanya.


Deg! Perasaan Lexa berkecamuk! Apa itu ayahnya? Tidak! Dia tidak boleh banyak berharap. Dan, dia juga sudah merelakan apa yang dilakukan ayahnya.


"Desa kecil Honolulu?" Lexa lagi lagi memastikan. Leon merasa ada yang tidak beres dengan Lexa yang sangat sangat ingin tahu. Dia memegang punggung Lexa.


"Lexa, ada apa?" Tanya Leon lembut.


"Ah, tidak apa Leon, aku hanya ingin tahu." Jawab Lexa singkat.


"Iya Nona Lexa. Tapi aku lupa nama desanya. Lalu beberapa tahun ini dia mencari anak dan istrinya. Ternyata istrinya sudah lama meninggal dan anaknya pergi bekerja entah kemana. Aku juga lupa, haha. Maaf." Jerry menggaruk garuk kepala belakangnya.


"Lalu, mengapa dia sampai tak sadarkan diri di tebing?" Leon bertanya ke inti permasalahan pertemuannya.


"Ya, dia mengidap penyakit thalasemia , dimana dia menderita anemia akut yang harus mendapatkan transfusi darah jika dia terlalu lelah atau emosinya sedang tidak stabil. Sebenarnya aku sudah memberikan seorang asisten untuknya tapi dia tidak menyuruhnya karna latar belakangnya yang begitu mandiri. Jadi, aku mengucapkan terimakasih karna beliau ditolong oleh orang orang baik seperti kalian." Jawab Jerry agak muram.

__ADS_1


"Ya sama sama Tuan Atkinson. Kami tidak akan membiarkan seseorang terguling seperti tadi." Kata Leon.


Tak lama kemudian, sang perawat keluar dari ruangan. Jerry, Leon dan Lexa langsung berdiri dan menghampiri.


"Tuan Atkinson, kami membutuhkan darah untuk Tuan besar Atkinson. Persediaan kantong darah Tuan besar Atkinson habis. Di dalam hanya tersisa satu kantong. Untuk sekarang Tuan Besar Atkinson akan di bawa ke ruang ICU. Tekanan darahnya semakin melemah!"


Belum saja Jerry bertanya, sang suster sudah memberi tahu dengan sedikit panik.


"Baiklah, aku akan menghubungi bank darah pusat. Golongan darah A- kan? Semoga di sana ada stok." Kata Jerry langsung merogoh ponselnya dan menghubungi Bank darah pusat.


"Leon, golongan darah ku A-, tapi aku takut melihat darah, Leon." Bisik Lexa didepan dada Leon. Leon melirik Lexa agak bingung.


"Kau diam saja dulu, Tuan Atkinson sedang berusaha mencarinya." Jawab Leon pelan.


Lexa mengangguk dan berdiam diri lalu menunggu lagi di samping emergency room. Selang beberapa menit, suster mendorong Alexis di tempat tidur berjalan keluar dari emergency room menuju ke ruang ICU. Lexa reflek menghampiri Alexis dan mengikutinya. Lexa melihat Alexis dan muncul perasaan yang aneh lagi. Seperti pernah melihat dan merasa dekat ketika kecil namun lagi lagi Lexa tidak mengingatnya.


Lexa dan Leon juga Jerry mengikuti Alexis dirawat di ruang ICU. Lexa memancarkan rasa iba dan empati yang begitu mendalam bila melihat pria paruh baya. Dia merasa menemukan satu orang tuanya yaitu ayah kandungnya.


"Sial! Bank darah sedang kehabisan darah yang dibutuhkan ayahku!" Decak Jerry kesal menekan nekan ponselnya.


Sementara Lexa memandang Leon yang merangkul pundaknya. Leon hanya menekan pelan pundak Leon agar tetap diam terlebih dahulu. Jerry masih berusaha menghubungi beberapa rumah sakit besar di Legacy.


"Berapa? -- hanya 1 kantong? -- ya sudah tidak apa apa! -- segera antar ke rumah sakit legacy pusat kota ya? -- Jerry Atkinson -- untuk Tuan Alexis Atkinson -- oke terimakasih!" Jerry menutup telpon. Dia mendapatkan satu kantong tapi sepertinya ia harus membutuhkan dua atau tiga kantong lagi untuk berjaga jaga.


"Bagaimana Tuan Atkinson?" Tanya Leon ikut panik.


"Ya, hanya mendapatkan 1 kantong. Aku memang bodoh, seharusnya aku sudah menyiapkan cadangan jauh jauh hari. Karna dia sudah jarang kambuh. Tapi memang akhir akhir ini dia merindukan anak dan istrinya. Sementara aku juga tidak tahu keberadaan anak nya." Jawab Jerry mengusap dahinya.


"Ambil darahku saja Tuan Atkinson. Kebetulan darahku A-." Tiba tiba Lexa berucap yang membuat Leon sedikit terkejut.


"Kau serius Lexa? Kau tidak apa apa melihat darah?" Tanggap Leon berbisik karna tidak enak dengan Jerry. Leon takut Lexa akan pingsan atau semacamnya.


"Entahlah, tapi temani aku Leon. Kalau ada kau, aku pasti bisa." Kata Lexa lagi mendongakan kepalanya menatap Leon, membuat hati Leon meluluh.


...


yaelah Lexa modus bae, bilang aja mo dipegangin tangannya sama babang leon 😝😝


.


oke next part 46


yakin namanya Alexis Atkinson apa Alexis Luxurio? 😍😍


jadi kangen bapak gua tetiba 😭😭


eng, Jerry jangan suka sama Lexa dong pliss 😂😂


.


tak lupa mengingatkan jangan lupa LIKE, KOMEN, RATE, TIP (ga wajib), dan VOTE (bagi pengguna noveltoon) yaa 😍😍


.

__ADS_1


thankyou all lafyouuu alwaysss ❤❤


__ADS_2