
"Aaarrrggghhhh!! Leon!! Huhuu .." terdengar suara Lexa berteriak dan menangis parau. Dia melihat bercak itu lagi menghiasi celana dalamnya.
Leon menggeliatkan tubuhnya dan tidak mendapatkan istrinya di pelukannya. Dia samar samar mendengar suara tangisan di dalam kamar mandi. Dia mencoba membuka matanya dan menoleh ke arah kamar mandi. Dia berusaha beranjak dengan mata masih setengah terbuka.
"Leon, bercak itu muncul lagi .. ada apa ini Leon?" Kata Lexa sudah duduk di atas closet dan menutup wajahnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Leon bersandar pada daun pintu kamar mandi.
"Flek itu muncul lagi, huhuuu ..." jawab Lexa mulai kembali menangis.
Leon menghela napas karna masih sangat mengantuk, dia tidak merespon apapun. Leon mendekati istrinya dan memeluknya. Ketika dia memeluk, dia merasa tubuh Lexa agak berisi dan ketika matanya terbuka jelas, Lexa jadi tampak seksi dan menawan. Seketika, dia meneguk salivanya namun sepertinya dia harus menahan hasratnya. Entah mengapa jadi sangat ingin mengingat ini sudah pagi tapi Leon tak menyadarinya.
"Sudah lah Lexa, siang ini kita periksakan ya?. Sekarang kau berbaring saja bersamaku. Ini masih malam, aku masih mengantuk." Begitulah kata suaminya.
"Ini sudah pukul 6 pagi Leon! Kita harus bekerja, tapi bagaimana dengan bayi kita?" Lexa menjadi sangat panik.
"Kau terlalu panik tidak baik juga Lexa, ayolah ke tempat tidur dulu ya?" Kata Leon berusaha membuat Lexa berdiri dan memapahnya ke tempat tidur. Benar saja, ketika Leon merangkul pinggang Lexa, mengapa jadi menggemaskan.
Lexa menurut dengan wajah muramnya. Leon lalu mengambilkan air putih untuknya.
"Sayang, tenanglah ya? Hari ini kau tidak usah bekerja ya? Biar aku yang menghubungi Nyonya Viena atau menyuruh Tuan Dion yang mengatakannya. Oke?" Kata Leon mengecup kening Lexa.
Lexa mengangguk. Dia juga merasa agak pening. Leon lalu meraih ponselnya. Dia berbaring di samping Lexa dan mencari sebuah informasi mengenai kehamilan dan bercak bercak merah yang hampir membuatnya gila. Ini memang merupakan pengalaman bagi mereka berdua. Leon perlu menenangkan dirinya selagi menunggu bertemu tuannya serta ke dokter kandungan. Jadwal pertemuan mereka siang nanti setelah makan siang. Leon juga perlu mengalihkan pikiran mesumnya. Bukan sekarang dia harus melakukannya.
"Lexa, sebaiknya benar kau harus beristirahat dulu ya? Tidak usah bekerja. Serahkan pada Abby. Sepertinya kau ini terlalu lelah dan terlalu banyak berpikir. Tapi sebenarnya bercak itu wajah asal tidak terlalu banyak. Begitu yang situs pencarian ini katakan. Nanti siang kita akan meminta penanganan yang terbaik oke?" Kata Leon mengelus elus perut Lexa dengan satu tangannya lagi memegang ponselnya.
"Heeemm, iya Leon. Tapi dengan tanganmu seperti ini, perutku menjadi nyaman sayang. Apa kau sudah tidak perlu juga ke kantor. Tunggui aku sebentar di sini Leon." Pinta Lexa menampilkan wajah manjanya.
Haiz, lagi lagi Leon merasa tergoda namun dia mencoba mentralkan pikirannya.
"Tapi aku harus mengurusi pekerjaan Jimmy sayang. Pasti Renzy dan Tuan Dion sangat kerepotan. Sebentar saja. Ketika aku harus mengantarmu ke rumah sakit, pulangnya aku akan tetap bersamamu!" Kata Leon akhirnya mengelus lembut pakal kepala Lexa.
"Benar ya?" Saut Lexa.
"Iya, sekarang kau beristirahat saja ya. Biar kuambilkan handuk hangat untuk mengompres perutmu agar lebih nyaman." Pekik Leon terus membuat nyaman istrinya.
Lexa mengangguk. Leon lalu mengurusi sebentar kenyamanan istrinya karna dalam situs pencarian juga mengatakan, suami sangat berperan penting mendukung apa yang dibutuhkan istri yang sedang hamil. Ini juga merupakan stimulus mendekatkan batin antara ayah dan anak yang ada di dalam kandungan istrinya. Leon harus sigap dan memperhatikan Lexa. Leon lalu membersihkan dirinya setelah memastikan Lexa tertidur. Leon pun beranjak ke kantornya, namun dia memang agak sedikit mengantuk karna semua tekanan yang Lexa derita berkat kehamilan pertamannya juga menguras tenaganya.
Leon melewati meja Renzy dengan sedikit mengucek matanya.
"Kenapa kau?" Tanya Renzy membuka kacamatanya.
"Lexa hamil dan semalam banyak sekali keluhannya. Memang seberlebihan itu kah?" Selidik Leon memicingkan matanya.
"Begitulah awal kehamilan, kau mengeluh hah?" Decak Renzy mengintrogasi.
"Mana ada? Leon sang asisten kebesaran terpandang di Legacy yang siap siaga untuk tuannya masa mengeluh untuk menjadi ayah yang siaga? Kau bicara yang benar senior? Mungkin Paul yang mengeluh kan?" Leon malah kembali menggoda sahabatnya itu.
"Cih!"
Renzy hanya berdecih. Ya begitulah, Renzy tidak pernah bisa membalas ketengilan Leon.
"Tuan Dion sudah datang belum?" Tanya Leon kemudian.
"Sudah bersama Nyonya Vien dan Dior." Jawab Renzy menyalakan komputernya karna dia juga baru saja tiba bersamaan dengan Dion setengah jam yang lalu.
Tanpa banyak kata kata lagi, Leon menyeruak masuk mendatangi tuannya. Kebetulan sekali ada Nyonya Viena pikirnya.
"Tuan Dion!" Panggil Leon menyeruak masuk tanpa permisi dan mengetuk pintu.
Dion dan Viena sontak terkejut. Khususnya Viena yang langsung menarik diri dari bibir Dion dan beranjak berdiri dari pangkuan suaminya.
"Memang tidak bisa mengetuk hah?" Decak Dion membentak sebal.
Leon dengan wajahnya yang memerah langsung membungkuk bungkukan tubuhnya.
"Mohon maaf Tuan, Mohon maaf Nyonya!!!" Tutur Leon salah tingkah.
"Kau ini! Semalam istrimu, sekarang dirimu, apa aku sudah tidak punya waktu privasi lagi? Kau memang asisten ku tapi aku tidak mau ber privasi bersamamu! Aku masih dan sangat sangat suka lorong bukannya sebilah pedang! Tidak waras!" Dion benar benar mati kesal dengan semua gangguan ini.
"Mohon maaf Tuan, mohon maaf Nyonya!!" Lagi lagi hanya itu yang bisa dikatakan Leon.
"Begitu saja kau bisanya!" Decak Dion lagi dan Viena sudah cekikikan di sampingnya.
"Dion, sudah ah!!" Sela Viena yang merasa suaminya berlebihan tapi sedikit menghibur.
__ADS_1
"Argh! Ini bahkan belum jam bekerja Viena!" Dion terus bercicit di sana.
"Sudahlah, aku pun akan telat jika menuruti hasratmu terus!" Decak Viena dan dia segera menuju ke kereta bayi Dior yang sedang tertidur di sana. Pantas saja Viena dan Dion bebas melakukan apapun karna Dior tertidur.
"Baiklah Leon, baik baikilah bos mu ini ya? Dia seperti sedang puber kedua, haha! Untungnya bersamaku, kalau tidak, akan benar ada sebilah pedang mematahkan pedangnya! Haha, aku ikutan tidak waras dengan pasangan bos dan asisten ini. Aku pergi ke kantor ku dulu. Bye sayang!" Kata Viena dengan senyumnya dan melambai tangan pada suaminya.
"Hahaha, iya nyonya! Aku akan membantumu mencarikan pendang terbaik jika dia macam macam!" Leon ikut terkekeh.
"Kau Leon!" Dion menyela.
"Mohon maaf lagi Nyonya, Oiya nyonya, Lexa ijin tidak masuk karna sejak semalam dan tadi pagi, dia mengeluarkan bercak darah. Dia agak panik, saya juga, jadi saya menyuruhnya beristirahat saja." Kata Leon lagi sebelum Viena keluar dari ruangan suaminya.
"Oh iya Leon, santai saja. Aku juga sudah menyuruhnya beristirahat. Waktu aku hamil Dior, aku juga mempunyai riwayat pendarahan, tapi setelah itu aku tidak pernah mengalami flek. Jadi harus tetap berjaga jaga. Aku juga sudah mendaftarkan nanti siang ke dokter spesialis langganan ku ya Leon? Jam 1 siang, jangan telat!" Kata Viena dan berjalan meninggalkan ruangan.
"Minta antar Ben, sayang! Nanti kau pulang, aku yang jemput!" Saut Dion mengingatkan.
"Iya, kau tenang saja!"
Setelah Viena meninggalkan ruangan, Dion sudah menatap tajam Leon.
"Kenapa kau sudah datang hah? Apa Renzy tidak memberitahumu?" Selidik Dion tak senang.
"Lagipula kau, memang tidak ada waktu di apartemenmu?" Leon malah bertanya kembali.
"Oh, jadi kau sudah bisa mengaturku dimana aku mau melakukannya?!" Bantah Dion.
"Tidak Tuan!" Leon menunduk.
"Sudahlah, adakan jam 10 mengenai kejelasan saham yang sudah kita survei!" Perintah Dion melupakan insiden kepergok itu.
"Sekarang Tuan?"
"Besok! Sekarang Leon! Kau ini kenapa jadi seperti orang linglung hah?!" Decak Dion tak sabar. Kejadian Jimmy meninggal dan Bella masuk rumah sakit membuat semuanya agak runyam. Beberapa perusahaan menanyakan insiden tersebut dan jadi meragukan kinerja Prime Group mengenai saham.
"Ba, baik Tuan, aku akan mengumumkan pada pihak pengelola saham dan bagian pemasaran." Jawab Leon dan menuju ke Renzy untuk meminta tolong padanya. Setelah itu, Leon kembali lagi pada Tuannya.
"Kau ini kenapa hah? Memang tidak ada pekerjaan lain?" Selidik Dion terheran dengan sikap Leon.
"Ini juga masalah pekerjaan Tuan. Ada beberapa hal yang harus kutanyakan padamu." Leon memberitahukan maksudnya.
"Em, pertama, apakah kita masih menjalin kerjasama dengan Belleza Hotel, Tuan?" Tanya Leon yang sudah duduk di sebrang tuan nya.
"Ada apa memang? Kita sudah menandatangani kontrak." Jawab Dion tenang.
"Em, Tuan, kalau masih berhubungan dengan Nyonya Bella, aku tidak mau lagi! Aku tidak mau Lexa salah paham lagi. Dia sedang hamil Tuan, aku tidak mau terjadi apa apa dengannya dan anakku. Kedatangan dia ke Honolulu saja sudah membuatku panik dan hasilnya Lexa mengalami flek terus terusan Tuan." Kata Leon lagi dengan nada melemah dan mengingat perjuangan cinta istrinya.
"Kita sepertinya akan berhubungan dengan Rico, Leon. Kau tenang saja. Nyonya Bella sedang menjalani perawatan intensif di Honolulu. Dia juga akan menjalani terapi untuk gegar otaknya. Sementara Rico yang akan bolak balik Honolulu Legacy, Leon. Begitu kabar terakhir yang kuterima dari Manager Charles, asisten Rico." Kata Dion mencoba menenangkan asistennya. Dion mulai mengerti mengapa Leon agak aneh. Sepertinya memang pengaruh dari kehamilan istrinya.
"Oohh, jadi dia yang sekarang bertanggung jawab akan kedua hotel ini Tuan?" Selidik Leon mulai menegakan lagi kepalanya. Dia sudah mulai agak lega.
"Lalu siapa lagi? Pewaris tunggal Hotel Bella itu belum cukup umur, bahkan baru usia 5 tahun. Jadi, kau tidak usah khawatir. Rico juga mengatakan akan membuat Nyonya nya mengurusi hotel di Honolulu saja agar tidak mengenang tentang mu." Jawab Dion.
"Benar Tuan. Wah, aku harus berterimakasih pada Rico." Decak Leon tersenyum.
"Ya, kau berterimakasihlah, minggu besok dia akan kemari untuk melihat hasil iklan yang dibuat oleh istrimu. Em, jadi bagaimana Lexa, Leon? Apa agak menyusahkan? Semalam dia menghubungi Viena." Tanya Dion kemudian mengingat semalam Lexa yang menjadi penggangu kegiatan malamnya bersama Viena.
"Begitulah Tuan. Dia sudah mulai meminta sesuatu dan sangat menginginkannya. Yang aku sebal, setelah aku membelinya dia hanya memakannya setengah buah. Kau tidak tahu jam berapa aku mencarinya? Setengah sepuluh malam!" Gumam Leon sebal.
"Hahahahaa! Lexa sudah mulai mengidam. Itu biasa Leon. Viena juga begitu. Dia hanya memakannya sedikit setelah itu dia menyuruhku yang menghabiskannya. Sewaktu kita pergi ke Springfield." Ingat Dion.
"Oh iya Tuan aku ingat! Tapi Tuan, apa kau juga pernah merasa emosimu meluap luap karna kehamilan istrimu? Semalam, hampir saja aku menghajar dokter pria yang memeriksanya. Dia terus tersenyum pada Lexa. Membuatku sangat panas!!" Decak Leon mengingat pemeriksaan semalam.
"Hahahaa! Pernah! Aku sangat cemburu pada Revo, masa kau lupa?" Ingat Dion kembali.
"Ya ya! Jadi, ini semua suatu kewajaran kah?" Tanya Leon sangat sangat penasaran.
"Wajar! Kau tenang saja! Begini Leon, anak yang ada di perut Lexa adalah hasil hubungan cinta kalian, jadi sebagian darahmu ada di dalam tubuh Lexa dan janinnya. Kau dan Lexa adalah orang yang begitu dekat dengannya. Maka dari itu, kalian seperti memiliki kontak batin. Jadi, wajar saja kalau kau juga merasakan apa yang menjadi kepanikan istrimu. Sudah mengerti?" Tutur Dion dengan semua logika yang ia miliki. Dia pun tidak belajar, dia hanya menilainya secara logika ketika dirinya juga merasakan Dior sewaktu masih di kandungan Viena.
"Oohh iya iya, aku paham sekarang Tuan! Jadi sudah benar kan diriku menuruti semua kemauannya tapi juga kesal karna dia tidak menghabiskannya?" Leon kembali menyelidiki atas emosinya yang tak karuan.
"Benar tapi bersabarlah, semua akan indah pada waktunya. Yasudah, sana persiapkan rapat kita. Ini sudah jam berapa?" Perintah Dion lagi.
"Iya Tuan, kau tenang saja! Satu lagi ada yang mau kutanyakan?"
"Apa?
__ADS_1
"Apakah aku bisa, em, em, bermain Tuan? Hahahaa tubuhnya semakin menakjubkan, hahahaha!" Tanya Leon sedikit malu dan menggaruk garuk rambutnya.
"Tanya doktermu sana! Aku tidak bisa memastikan!" Decak Dion bingung membicarakan **** dengan pria. Dia agak canggung.
"Kau selalu bermain Tuan!"
"Itu urusanku! Sudah sana!"
"Hem, jawaban yang ambigu! Bos mesum!" Decak Leon dan meninggalkan ruangan bosnya.
Rapat telah selesai dilaksanakan. Leon yang dibantu Renzy dan satu pegawainya Reginald, akan kembali mengurusi bagian saham ini menggantikan Jimmy. Leon meminta pada tuannya kalau Reginald saja yang menjadi ketuanya karna dia juga harus mengurusi istrinya. Dion dan Renzy menerima keputusan Leon. Karna Leon sempat mengancam tuannya kalau dirinya tidak usah bekerja saja jika tidak bisa sambilan mengurisi istrinya.
"Renzy! Teman mu kekanak kanakan!" Umpat Dion.
"Dia hanya sedang mengidam Tuan dan emosinya berlebihan. Kau seperti tidak pernah saja." Saut Renzy terkekeh.
"Dia sampai mengancamku Renzy!" Dengus Dion yang memang dekat dengan Renzy, Ben dan Leon.
"Hihi! Sabar Tuan, itulah asistenmu yang langka!"
"Ya kau benar langka dan kekanak kanakan, percis seperti yang dikatakan Lexa!"
Begitulah decak Dion dan Renzy yang membicarakan Leon setelah kepulangannya. Mereka berdua merasa Lexa dan Leon sangat berlebihan, sehingga mereka yang perlu mengerti.
Leon harus mengantar istrinya ke dokter kandungan. Dia segera bergegas pulang ke apartemennya dan menuju ke rumah sakit dekat pinggiran kota Summer. Di sana terdapat spesialis kandungan terbaik yang disarankan Viena. Ketika Leon sedang mengemudi, Leon merasa kalau ponselnya terus berbunyi namun Leon tidak mengindahkannya karna dia melajukan mobilnya dengan kencang. Dia tidak sabar hendak melihat kandungan Lexa melalui USG seperti yang sudah ia baca pada situs pencarian. Akhirnya penantian panjang, dia bisa memiliki bayi. Dan tidak ada yang perlu di khwatirkan antara dirinya atau Lexa jika mengalami gangguan.
Sesampainya di basement parkir apartemen untuk menjemput istrinya ke atas, Leon terlebih dulu memeriksa ponselnya. Sepertinya panggilan sangat penting karna berkali kali. Ketika dia memeriksa ternyata panggilan itu datang lagi. Leon segera mengangkatnya.
"Ada apa? Aku sedang mengemudi, kau berisik sekali!" Decak Leon menjawab panggilan pada ponselnya.
"Oh my! Kalian ini pasangan yang sangat sulit kukabari beberapa akhir ini! Kalau aku tidak memberitahu, kalian marah! Serba salah sekali!" Suara seorang wanita menjawab Leon di sebrang sana.
"Sudah cepat kenapa? Kenapa kau tidak menghubungi Lexa?" Selidik Leon.
"Dua hari yang lalu kalian kemana? Aku tidak bisa menghubungi kalian! Pagi ini juga, istrimu tidak mengangkat panggilanku!" Sungut wanita itu.
"Dia sedang beristirahat, dia sudah hamil." Leon memberitahu.
"Serius? Oh Tuhan, selamat selamat !! Eh, tapi, dia jadi tidak bisa melakukan transfusi darah lagi?"
Seketika hati Leon dan juga si penelepon itu menciut mendengar masing masing pernyataan yang mereka utarakan.
...
...
...
...
...
Ya iyalah mbaa .. mba lexa lg hemolll mana bisa transfusi darah, itu aja nge flek mele 😩😩
Mohon doanya .. lhoo?? 😂😂
.
Next part 22
Dah tau lah ya siapa penelepon itu?
Ada apa lagi dengan ayahnya Lexa?
Lalu, bagaimana dengan kandungan Lexa?
Leonn!! Gambattee!!! 😍😍
.
Jangan lupa LIKE DAN KOMENNYA DONGG KAKAKK NYAA biar aku semangaatt kakakaa hehe 😍😍
KASIH RATE DAN VOTE JUGA DI DEPAN PROFILE NOVEL YAA 😘😘
.
__ADS_1
THnks for read and i love youu 💕💕