
Pada akhirnya hati yang saling mencintai harus saling bersatu untuk menciptakan penantian yang membahagiakan. Happy Ending ...
...
Sekitar tiga bulan kemudian, Xelino semakin memajukan perusahaan Gilbert dan dia merasa bangga kalau bisa menjalankan semua program perusahaan agribisnis ini dengan lancar. Sementara Carolyn kini menggantikan tugas bibinya sebagai direktur perusahaan Venta Property karena Rietha masih harus duduk di kursi roda. Dia masih harus menjalani terapi untuk saraf dan ototnya. Rietha sudah meminta maaf yang ia sampaikan melalui sebuah tulisan. Carolyn tentu memaafkan bibinya dan akan berusaha mengurus perusahaan property itu dengan baik.
Xelino bangga dengan wanita itu meski sampai selama ini mereka belum memiliki status apa apa. Xelino tidak pernah menanyakan kesanggupan Carolyn lagi untuk menjadi kekasihnya. Xelino berpikir mungkin Carolyn menginginkan hal yang lebih. Xelino pun sabar menanti itu. Namun, Xelino tetap mengumbar pujian dan sikap manis pada Carolyn. Carolyn juga tidak harus mengartikan hubungan mereka atau menuntut banyak hal. Seperti ini Carolyn sudah sangat bahagia dengan Xelino yang selalu mengantar jemput nya dan menemani di akhir Minggu.
Suatu hari Xelino harus menetap di desa ketika dia mengunjungi Jane yang sedang sakit. Namun, sudah lebih dari 3 hari, Xelino tidak kembali. Hal ini tentu membuat Carolyn panik. Dia terus menghubungi Allegra menanyakan kabar Xelino karena sesekali dia sulit menghubungi Xelino .
"Dia sakit kak," kata Allegra.
"Sakit? Kau bercanda! Apa seorang rubah yang lincah seperti dia bisa sakit?!" Balas Carolyn panik.
"Tentu, dia hanya manusia biasa, lebih baik kau yang menjemputnya kembali ke kota," kata Allegra lagi.
"Tapi dia tidak menjawab panggilanku!" Keluh Carolyn yang dalam hatinya
"Kalau kau sebenarnya peduli padanya langsung pergi ke sana. Besok aku tidak ada urusan apapun, aku akan menemanimu," saut Allegra.
"Morgan tidak datang?" selidik Carolyn yang mana biasanya Allegra dan Morgan berpacaran di akhir Minggu.
"Hari Minggu. Aku juga ingin menemui Grandma. Kau tahu kan beliau juga sakit," kata allegra lagi.
"Ya, mungkin kakakmu itu terlalu memikirkan Grandma, hem dia membutuhkanku," gumam Carolyn.
"Oke, besok aku akan menjemputmu,"
"Dengan mobilmu?"
"Tentu, aku juga sangat kaya kak, kau jangan lupa!" saut Allegra menggoda.
"Cih, baiklah, aku menunggumu, aku akan mengatakan pada daddyku," Carolyn tersenyum tipis bergurau dengan calon adik iparnya.
"Yes calon mertua Kak Xelino," saut Allegra makin menggoda.
"Kapan kakakmu akan mengulangi pertanyaan itu lagi, ini sudah berbulan bulan!" dengus Carolyn.
"Kau tunggu saja, sampai jumpa!"
Panggilan dimatikan. Carolyn masih panik karena Xelino belum menjawab panggilannya. Tidak biasanya pria itu seperti ini. Apa penyakitnya agak parah? Carolyn kembali menghubungi pria itu sambil melangkahkan kakinya menuju basement parkir. Dia hendak ke kantor Daddy nya.
Keesokan harinya Allegra sudah menjemput Carolyn di mansion. Carolyn berdandan rapi dan elegan seperti biasanya. Menggunakan dress merah kesukaannya yang bergaya vintage.
"Kau meriah sekali," kata Allegra memang mengagumi gaya berpakaian Carolyn.
"Entah mengapa aku senang sekali hendak bertemu kakakmu, apa kau tahu kalau dia belum mengangkat panggilanku!" saut Carolyn sedikit cemas.
"Hem, sepertinya dia benar benar lunglai tak berdaya," Allegra berdecih.
"Berlebihan! Oleh sebab itu jangan berjauhan denganku lama lama!" dengus Carolyn menatap luar jalan.
"Percaya diri! Jadi kau hanya ingin menemui pujaan hatimu dan tidak mau menemui Grandma ku?" tuntut Allegra.
"Lihat ini!" Carolyn menunjukan sekantung kue beras premium dengan caramel dan wijen kesukaan Jane.
"Waaahhhh kakak! Kau dapat dari mana? Aku mau !!!" Allegra hendak memegangnya tapi Carolyn menariknya kembali.
"One and only di Greenville aku menggunakan ekspedisi tercepat, di panggang fresh dan langsung dikirim untukku. Ini istimewa untuk nenekku!" Seketika Carolyn menungguk dan memperhatikan kantung kue beras itu dengan wajah berbinar.
"Ada apa kak?"
"Hem, aku sudah tidak mempunyai nenek dan dulu nenek ku itu sangat menyayangiku, ketika aku melihat Grandma Jane, aku merasa aku memiliki keluarga yang lengkap. Dan itu semua pemberian dari Xelino. Hem, aku tidak bisa berpaling dari pria manapun walaupun dia belum memastikan lagi hatinya padaku," jawab Carolyn tersenyum tipis.
Allegra tersenyum.
"Ayo kita berangkat, kau akan tahu nanti," saut Allegra yang tidak sabar mengantar tuan putri saudara sepupunya itu.
Allegra pun melajukan mobilnya menuju Desa Serena. Dia terus bersenandung menantikan tanggapan Carolyn melihat apa yang hendak Xelino berikan padanya. Dan, sampailah mereka di depan pekarangan rumah Jane yang kini mungkin sudah merupakan rumah Angel dan Jerry.
Entah mengapa jantung Carolyn jadi berdegup tak karuan. Dia masih terdiam di samping mobil. Allegra sedikit bingung dan berhenti hendak memasuki rumah.
"Kenapa kak?" selidik Allegra lagi.
"Kenapa hatiku agak bergetar, Allegra?"
"Santai saja, ayo!" Kata Allegra menarik tangan Carolyn untuk masuk.
Ketika masuk, Allegra langsung mengajak Carolyn menemui Jane yang penyakitnya makin memprihatinkan. Mereka ke kamar wanita tua itu. Jane memang di sana berbaring sambil memegang buku doa kepercayaan mereka. Angel sedang di dapur memasak untuk makan siang.
__ADS_1
Carolyn memberi salam pada Jane dan Jane hanya tersenyum. Carolyn juga memberikan kue beras yang ia bawa tapi sepertinya Jane tidak bisa memakannya terlebih dulu.
"Tidak apa apa Grandma, kalau nanti kondisimu sudah membaik aku bisa menghaluskannya dan menyuapimu," kata Carolyn mengelus pundak Jane.
Jane tersenyum tipis lalu meraih tangan Carolyn.
"Xelino sudah menunggumu, dia ada di samping rumah kaca Angel. Dia hendak menunjukan sesuatu untukmu," kata Jane kemudian dengan nada serak.
"Oh iya Grandma, aku pasti menemuinya," saut Carolyn.
"Sekarang Carolyn," kata Jane lagi.
"Iya kak, aku akan menemanimu bersama kak Jessie,"
"Grandma?
"Ada mommy,"
Carolyn mengangguk tapi juga memberikan kecupan pipi pada Jane terlebih dulu.
"Tuhan memberkatimu, semoga kau bahagia dengannya, kalau dia melukai hatimu, tarik saja telinganya maka dia akan mengingatku dan tidak akan menyakitimu lagi," bisik Jane ketika Carolyn memeluknya.
Carolyn tahu apa yang dimaksud Jane tapi entah mengapa Carolyn merasa agak sedih dengan kata kata wanita tua ini.
"Tenang saja Grandma, aku tahu apa yang harus diperbuat jika Grandchild mu macam macam padaku," balas Carolyn tersenyum lebar.
Jane tersenyum lalu kembali memeluk Carolyn. Carolyn, Allegra juga Jessie kini menuju ke taman bunga milik keluarga Janson. Sesampainya di sana, Carolyn yang menggandeng lengan Jessie masih diajak Allegra ke arah perbukitan yang dipenuhi pepohonan yang rindang dan beberapa pohon Cemara.
"Mau kemana kita Allegra? Aku bahkan belum mendatangi rumah kaca bibi Angel. Sepertinya musim ini bunga tulip ungu milik mommy mu bisa segera di panen? Beberapa waktu lalu dia mengatakannya padaku, aku bisa membelinya," selidik Carolyn bingung.
"Tenang saja Carolyn, Xelino sudah memetiknya," saut Jessie.
"Xelino?" Carolyn memastikan.
Jessie mengangguk tersenyum.
"Hem, kalian dua bersaudara Atkinson tidak berencana membunuhku kan?" saut Carolyn bergurau tapi juga agak gugup.
"Kau sudah gila ya?! Kau anggap kami apa?!" decak Allegra tidak terima.
"Jangan marah, aku hanya menerka," Carolyn terkekeh. Pada dasarnya dia akui Allegra lebih seram dari dirinya yang sekarang. Bahkan Jessie hanya diam dan tersenyum.
Mereka berdua terus membawa Carolyn ke perbukitan itu dan sampailah di sebuah turunan tapi tidak terlalu menurun. Di sana terdapat sebuah rumah dengan bahan bangunan kayu yang cukup klasik. Rumah tersebut mempunyai pagar terbuat dari bebatuan dan di bagian depannya dihiasi bunga bunga dan tanaman hias. Entah mengapa Carolyn cukup terkesima. Belum lagi tumbuh bunga bunga yang tersusun rapi di sekitar rumah tersebut. Carolyn berpikir ini seperti rumah impian yang ia inginkan yang begitu menghangatkan hatinya. Belum lagi ada cerobong asap di balik atap tersebut.
Seketika Carolyn menghentikan langkahnya. Allegra tersenyum merasakan kontak batin yang timbul antara Carolyn dan kakak sepupunya. Xelino belum menampakan dirinya. Allegra dan Jessie terus menggandeng Carolyn . Carolyn masih tidak berharap apapun tapi ketika mereka berjalan lagi di dekat rumah itu, ada sebuah taman kecil yang ditanami bunga tulip kesukaan Carolyn. Carolyn pun menghentikan langkahnya. Dia tersenyum lebar lalu merasa kalau semua ini pasti sudah direncanakan. Carolyn ingat kalau dia pernah kemari beberapa bulan lalu tidak ada rumah seperti rumah idamannya. Tidak ada juga taman bunga tulip ini.
Carolyn pun melihat ke sekitar dan saat itu juga, Xelino keluar dari rumah itu. Jantung Carolyn makin berdegup tak karuan. Xelino sangat tampan dan dia begitu merindukan pria itu. Xelino sudah tersenyum ke arahnya.
"Allegra, kak Jessie, ada apa ini? Seingatku di sini tidak ada rumah dan mengapa Xelino keluar dari sana?" kata Carolyn gugup.
"Kau akan tahu, biar kak Xelino yang mengatakannya, ayo!" Saut Allegra menarik tangan Carolyn di mana Jessie juga mengikuti mereka.
"Selamat siang tuan putriku," sapa Xelino ketika Carolyn sudah berdiri di hadapannya.
"Cih, tuan putri, ada apa ini? Mengapa ada rumah di sini, Xelino?" tanya Carolyn sangat penasaran.
"Selamat datang di rumah kita, hemm jika kau menerimaku nanti," kata Xelino kemudian.
"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti!" saut Carolyn melihat lihat sekitar rumah itu.
"Sebelumnya kau cantik sekali Carolyn," ucap Xelino meraih kedua pergelangan tangan Carolyn. Carolyn makin tak karuan. Xelino memegang sebuah lipatan kertas.
"Lihat ini," kata Xelino lagi menyerahkan lipatan itu. Carolyn membukanya dan benar benar tersentuh di sana sketsa rumah impian Carolyn yang ia lihat kini menjadi kenyataan. Walau warna kayunya berbeda tapi Carolyn tetap menyukainya. Carolyn menutup mulutnya.
"Jadi, semua ini kau yang membuat nya Xelino?" Selidik Carolyn masih tak percaya.
Xelino mengangguk lalu kembali mendekati Carolyn. Dia memegang wajah Carolyn.
"Carolyn, sampai saat ini cintaku padamu masih sama ketika pertama kali aku menyadari kalau aku jatuh cinta padamu. Bahkan kini perasaan cintaku berlebih padamu. Aku menunggu rumah dan taman bunga tulip kesukaanmu selesai setelah itu aku ingin menyatakan sekali lagi perasaan dan kesungguhan ku padamu. Aku ingin menjadi bahagiaku, Carolyn," Xelino mulai berkata kata dan bola mata Carolyn berbinar binar merasa terharu. Xelino sudah pernah mengatakan cinta padanya, tapi mengapa sekarang semakin dalam dan menyentuh dirinya. Hatinya bergetar luar biasa.
"Kalau boleh, aku juga ingin menjadi kesedihanmu karena di setiap hubungan tidak munafik, pasti emosi, keegoisan, suka, duka pasti terjadi. Jauh dari itu semua, aku ingin menjadi segala galanya darimu. Menjadi semua perasaan itu di dalam dirimu. Namun, aku juga ingin menjadi hari hari di sepanjang hidupmu. Maka dari itu Carolyn, karena aku juga ingin menjadi impianmu, aku membuat rumah ini. Rumah yang belum kau dapat dari orang yang kau cinta kan? Aku harap kau mencintaiku, jadi tercapailah rumah impian yang kau inginkan.." kata Xelino lagi.
Carolyn mengangguk dan meneteskan air matanya. Kata kata Xelino sungguh membuatnya terenyuh. Benar kata nya, tidak ada kemunafikan di dalam sebuah hubungan. Harus tertata jelas dan terbuka. Carolyn pun tak dapat menahan. Dia memeluk Xelino dengan sangat erat dan mengangguk anggukan kepalanya.
"Aku mencintaimu Xelino, dan sepertinya aku terlebih dulu yang mencintaimu, aku juga ingin menjadi semua perasaan itu. Aku, aku mau menyatu denganmu, aku mau menjadikan hatiku dan hatimu bersama, tidak terpisahkan, kau priaku sejak awal melihatmu aku sudah merasa akan terlibat sebuah peristiwa yang besar. Cinta. Cinta ini besar. Terimakasih Xelino, i love you!" Kata Carolyn juga mengeluarkan kata kata yang menggetarkan hati Xelino. Xelino juga sudah memeluknya dengan sangat erat sambil mengecupi puncak kepala wanita yang kini resmi menjadi kekasihnya.
__ADS_1
Allegra dan Jessie sudah saling memeluk. Walau Jessie tidak bisa melihat tapi suara mereka menunjukan rasa ketertarikan yang besar dan saling memiliki. Allegra tersenyum lebar. Dia senang akhirnya kakak sepupunya menemukan cinta yang tulus dan juga begitu mencintainya. Bahkan Allegra merasa perasaan Carolyn lebih besar dari perasaan Xelino .
Carolyn pun melihat lihat di dalam rumah itu. Xelino mengatakan rumah ini untuk rumah singgah nya mereka jika mereka berkumpul di sini.
Hem ada suka ada juga duka yang menyelimuti mereka. Dua bulan setelah mereka berdua menjadi sepasang kekasih, Jane meninggal dunia. Semua keluarga merelakan dan tidak merasa terlalu bersedih karena ini yang diinginkan wanita tua itu. Dia ingin secepatnya bersama sama dengan Larry di surga. Makam mereka berdua disatukan karena itu permintaan terakhir Jane pada Xelino. Xelino dan Carolyn membuat makam mereka dengan menanami bunga tulip. Hal ini yang diminta Jane pada Carolyn.
"Karena mommy ku sebenarnya memang menyukai bunga tulip, oleh sebab itu dia sangat menyukaimu, Carolyn," kata Angel setelah bunga tulip itu tumbuh mengitari makam dua orang tua istimewa di hati keluarga Janson itu.
...
Tiga tahun kemudian,
Carolyn dan Xelino memang tidak memutuskan menikah. Sama seperti Lexa dan Leon dulu, mereka ingin lebih mengenal lagi dan merasakan berpacaran berbeda rumah. Tidak ingin bersatu terlebih dulu lagipula mereka masih sangat muda. Namun, di usianya sekarang di mana Xelino menginjak 25 tahun dan Carolyn 24 tahun mereka memutuskan menikah.
Acara pemberkatan dan resepsi di adakan di desa Serena tepatnya di pekarangan Padang rumput di samping rumah Jane dan Larry atau rumah Angel dan Jerry. Dengan konsep garden party, Xelino dan Carolyn ingin Jane dan Larry bisa merasakan pernikahan ini.
"Di sinilah kita saling bertatapan, maka di sinilah janji seiya sekata terus bersama sampai maut memisahkan kita juga harus terjadi," kata Xelino memegang lengan Carolyn dan menatap penuh cinta.
"Grandma Jane dan Grandpa Larry yang menjadi saksi cinta kita, Xelino," ujar Carolyn tersenyum hangat.
Xelino mengangguk dan mengecup kening Carolyn dengan sangat mesra. Semua sudah memperhatikan betapa Xelino begitu mencintai Carolyn. Mereka berdua menarik diri dan saling menatap lalu Xelino meraih leher Carolyn lalu kini mencium bibir wanita cantik bergaun putih ini. Ketulusan yang sejati ia dapatkan dari wanita yang tadinya begitu arogan dan bertindak semena mena. Begitu juga Carolyn. Carolyn merasa beruntung bisa bersanding dan menjadi istri dari Xelino yang tetap sederhana dan baik hati meskipun dengan latar belakang yang sangat luar biasa.
Kediaman Keluarga Janson
Desa serena
-----------------------
Xelino dan Carolyn masih tinggal di kota tetapi setiap satu bulan sekali dia ke desa menengok makam dan menetap di rumah singgah mereka selama beberapa hari. Kadang Carolyn membutuhkan refreshing untuk mendapatkan ide design untuk perusahaannya. Carolyn masih terus meneruskan perusahaan bibinya karena Rietha memang tidak sanggup lagi berpikir terlalu banyak. Rietha hanya memantaunya sesekali dan memang Rietha memberikan perusahaan itu pada Carolyn.
Carolyn dan Xelino dikarunia anak pertamanya satu tahun setelah mereka menikah. Bersamaan dengan itu Xelino kini sudah membangun perusahaan sendiri yang berada di perbatasan Springfield dan Greenville. Janson Agriculture Group.
Anak pertama mereka perempuan dan mereka memberi nama Celine Leyna Janson. Celine perpaduan nama Xeli dan Lyn dari Carolyn, jadi mereka menggunakan huruf C menjadi Celine. Sedangkan arti dari Leyna adalah malaikat kecil, sosok yang diberkahi yang di mana Carolyn sempat panik karena belum kunjung hamil selama satu tahun.
Ketika Celine berusia 3 tahun, Carolyn kembali mengandung dan melahirkan anak laki laki. Carolyn dan Xelino sengaja melakukan program bayi laki laki. Mereka menamainya Maximiliano Geraldine Janson. Nama itu hanya perpaduan dari keluarga Janson dan Delinsky. Semoga pembaca menyadari di mana letak semuanya.
Pada akhirnya, Xelino dan Carolyn hidup bahagia bersama kedua anak anaknya. Lalu bagaimana sifat kedua anak anaknya? Tidak jauh dari Carolyn yang cukup arogan serta memiliki cara bicara yang tegas dan Xelino yang percaya diri tapi tetap bisa introvert serta membatasi pertemanan.
...
Tamat ...
....
Pesan yang diambil Uda vii kasih terus di awal episode y tapi vii tetep mau mengingatkan:
**Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Sekalipun dia hina dan tidak harapan merubah sikap tapi ada kalanya dia akan terkikis apalagi dengan sebuah cinta yang tulus dan panjatan doa 😊
...
Piufht, akhirnya vii menyelesaikan 1 novel dari mantan terindah the series yang kedua ini ...
Sebenernya vii ada project untuk menceritakan kedua anak Xelino dan Carolyn tapi entahlah kapan itu, nanti diinfokan lagi, haha ...
So, vii mengucapkan banyak terimakasih sudah mengikuti perjalanan cinta Carolyn dan Xelino ...
Untuk memperingatinya, yuk berikan VOTE POIN dan KOMEN TERBAIK untuk keluarga Assistant Love Assistant dan Keluarga Janson akan memberikan hadiah pada kalian semua hihi ...
Hadiahnya untuk :
5 pemberi vote terbanyak di bagian periode
3 pemberi vote terbanyak di bagian semua
2 pemberi KOMEN TERBAIK pada part ini
Akan mendapatkan PULSA dari vii ya 😊
pastikan sudah mem follow akun vii
.
Pada akhirnya vii tetep ingatkan jangan lupa LIKE DAN KOMEN ..
Thanks for read and i love you all 💕😍
__ADS_1