
Setelah berganti baju rumahan, Leon menuju dapur dan melihat Lexa sudah menyeduh mie instant mereka.
"Lexa, ganti dulu bajumu, ini. Mungkin agak kebesaran tapi kalau kau menggunakan pakainmu, kau akan demam, cepat ganti!" Leon menyerahkan kaos fit bodynya berwarna putih untuk Lexa.
"Tidak usah Leon, aku pakai ini saja. Kau akan mengantarku pulang kan?" Lexa menolak sambil memberikan mie instant milik Leon.
"Kalau kau tidak ganti, aku tidak mau mengantarmu!" Jawab Leon mengancam.
Lexa kembali cemberut dan terpaksa mengganti pakaiannya dengan baju Leon. Benar kata Leon, kaosnya agak kebesaran tapi Lexa sangat nyaman karna aroma kaos tersebut membuatnya lebih dekat dengan Leon.
Setelah Lexa kembali, Leon agak terkesima melihat penampilan Lexa yang cukup seksi. Ternyata Lexa juga melepas celana jeansnya, karna kaos Leon agak panjang sehingga menutupi setengah pahanya. Namun, nampaknya hal ini malah seperti hendak membangunkan musang yang sedang tidur.
"Ada apa? Ada yang salah?" Tanya Lexa memperhatikan penampilannya.
Leon tersadar dan menggelengkan kepalanya. Di balik kaos putih itu juga agak terlihat samar samar penutup buah dada Lexa yang berwarna hitam.
"Tidak apa! Aku hanya berpesan, kau hanya boleh berpenampilan seperti ini di depanku. Kalau ada teman pria kantormu ke rumahmu, kau harus menggunakan celana atau kaos yang tertutup. Mengerti tidak?!" Jawab Leon malah mengotoriter Lexa.
"Hem, memang kau siapaku?!" Dengus Lexa dan menuju meja makan untuk segera memakan mie instantnya.
"Hey, kau jangan lupa ya, tadi kau sendiri yang mengatakannya, kalau suatu saat nanti aku adalah orang yang akan menafkaimu, ya kan, jadi jangan coba coba lagi melanggar perintahku!" Leon menunjuk nunjuk Lexa dengan sumpitnya.
"Ya ya ya, kalau kau tidak marah seperti tadi, kau seperti wanita, tidak ada tampan tampannya." Lexa meledek dan mulai memakan mie instant yang berkuah merah tebal itu.
"Kau kasihan sekali, baru menyadari ketampananku. Berterimakasihlah aku menyukaimu Lexa, kalau tidak, kau tidak akan mendapat lelaki tampan sepertiku, hahahaa!" Leon terus berceloteh dengan mie yang penuh di mulutnya.
Lexa lalu menyeringai hendak mengerjai Leon.
"Leon, buka mulutmu, cicipi mie instantku!" Perintah Lexa. Leon yang tidak menyadari mie instant Lexa yang begitu pedas membuka mulutnya sesuai perintah Lexa.
Dan ketika mie serta kuah itu masuk ke dalam mulutnya..
"Uhuk, uhuk, uhuk! Lexa, apa yang kau masukan ke mulutku?! Ini, ini pedas sekali! Hah, ya ampun! Dasar kelinci gila!" Leon terbatuk karna tersedak kuah panas dan pedas itu.
Dia lalu menuju kulkas mini nya dan menegak sebotol air putih dingin.
"Lexa, kau suka sekali makan pedas ya? Hati hati dengan lambungmu!" Kata Leon setelah mengusap tetes air di bibirnya.
Lexa malah cekikikan melihat wajah Leon yang benar benar terkejut karna pedas mie instantnya.
"Kau puas sekali Lexa! Jangan harap kalau besok perutmu sakit, aku akan membawamu ke rumah dakit, jangan harap!" Ancam Leon dan kembali memakan mie instantnya.
"Perut ini tidak akan sakit hanya karna pedas seperti ini, aku sudah kebal, kau tenang saja!" Kata Lexa terkekeh
...
Setelah mereka menghabiskan mie instant mereka, Lexa merasa begah dan mengistirahatkan perutnya dulu dengan bersandar di sofa besar Leon di ruang tengah. Leon pun ikut serta di dalamnya. Leon lalu menyalakan televisi dan tayangan musik yang biasa ia dengarkan sebelum tidur malam.
"Kau suka menonton Lexa?" Tanya Leon merangkulkan tangannya ke pundak Lexa.
"Tanganmu!" Kata Lexa menurunkan tangan Leon.
"Lexa, kita sudah pernah berciuman, mengapa aku tidak boleh merangkulmu?!" Tanya Leon mendelikan matanya.
"Tidak, tidak! Aku harus lebih berhati hati denganmu atau kau akan melakukan hal hal yang tidak boleh dulu terjadi." Jawab Lexa sekenanya. Dia memang agak sedikit takut terbuai oleh pesona Leon. Sementara, Leon belum menginginkannya menjadi kekasihnya.
"Kemarin .waktu di flatmu, aku malah hampir saja memperlihatkan pisangku hah? Masa di apartemenku tidak boleh?" Kata Leon masih terus menggoda Lexa.
__ADS_1
"Pisang pisang! Sudah diam! Nikmati lagu lagu ini, lihat boyband itu, dia sepertimu!" Akhirnya Lexa mengalihkan pembicaraan.
"Ya memang, banyak yang bilang T.O.P Bigbang itu kembaranku, hihi!" Leon terkekeh menutup mulutnya.
"Mimpi! Aku akan jelas mau dengannya ketimbang denganmu!" Dengus Lexa melipat tangannya menikmati lagu Last Dance dari Bigbang.
Namun tak berapa lama, karna kejadian adiknya Gabriel dan dirinya yang lelah serta menahan lapar, Lexa tertidur di tangan Leon yang tidak pria itu sadari. Leon malah sedang mengecek ngecek ponselnya yang tertinggal dan benar ada sekitar sepuluh panggilan tak terjawab dari Lexa dan sebuah pesan singkat.
-LEXA-
Leon, aku akan pergi ke Restoran Plaza untuk menyelesaikan masalah Gabriel. Kau jemput aku di sana ya pukul 7 malam. Aku tunggu Leon musangku 😁❤
Leon tersenyum membacanya.
"Jadi, kau benar minta ijin dengan -- ku ya Lex a?" Tanya Leon dengan nada hendak meledek namun tiba tiba merendah karna melihat Lexa sudah tertidur bersandar di sikut tangannya.
"Lexa? Kau tidur? Tidak jadi pulang? Lexaaa??" Leon sedikit mengelus pipi Lexa.
"Emmm, aku sangat mengantuk Leon, lima belas menit ya biarkan aku menghilangkan kantukku.." kata Lexa setengah sadar.
Leon menarik napas. Dia lalu tersenyum melihat Lexa yang sangat cantik jika sedang memejamkan matanya.
"Tidurlah sampai kau puas." Kata Leon lagi mengelus wajah Lexa.
...
Mentari pagi menyeruak memasuki sela sela jendela dan ventilasi kamar apartemen Leon. Suara bunyi alarm ponsel Lexa terdengar riuh menandakan pukul 05.30 pagi. Leon merasa agak bising dan masih mengantuk.
"Lexa, ponselmu, matikan!!" Perintah Leon mendorong pelan pundak Lexa yang raganya tertidur di atas dada Leon.
"Eennggg, iya iya, mana tas ku?" Tanya Lexa lagi menurukan satu tangannya ke bawah tempat tidur.
Lexa lalu mengambil tasnya dan merogoh ponselnya di tas dan mematikannya hanya dengan satu slide saja. Dia lalu kembali menelusup ke dalam selimut dan membenamkan wajahnya di dada Leon.
Leon pun kembali memeluk Lexa dengan sangat lembut dan tersenyum. Seketika Lexa mengenduskan indera penciumannya. Sepertinya dia menyadari kalau dia tidak pernah tidur bersama pria, meskipun itu Leon.
Lexa lalu mebelakan matanya dan melihat dada bidang Leon tanpa pakaian sedikitpun. Dia pun lalu melihat dirinya menggunakan kaos putih yang bukan miliknya. Dia lalu melihat lagi ke dalam selimut dan menemukan Leon yang hanya mengenakan celana traning. Dia pun tidak mengenakan celana hanya pakaian dalamnya dan kaos tersebut. Tampaknya, Lexa melupakan sesuatu semalam. Dan, yang membuat dirinya semakin terkesiap adalah salah satu kaki Leon yang berada di antara ke dua kakinya. Lalu lepaslah teriakannya.
"Aaaarrrggghhhh!! LEON, APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU!!" Teriak Lexa mengalahkan alarm ponselnya.
Leon pun langsung terlonjak dan terduduk.
"Ada apa Lexa? Siapa yang menganggumu hah?"
"Kau! Kau yang menggangguku?! Kenapa aku tidur bersamamu? Kenapa aku mengenakan bajumu dan tidak memakai celana?! Lalu kenapa kau tidak pakai baju hah? Apa yang kau lakukan Leon?! Kau pakai pengaman tidak?! Jawaaabbb!!" Lexa memukul mukul Leon dengan bantal dan mengertilah Leon.
Karna sangkin terlelapnya Lexa tidur, dia melupakan semuanya. Leon lalu berpikir hendak mengerjainya.
"Lexa tunggu dulu! Ini di luar kuasaku! Kau terus merayuku, aku mana kuat?! Lexa, hentikan atau aku akan menerkammu lagi!" Kata Leon menyeringai di tengah pukulan bantal Lexa.
"Kau jahat Leon! Kau harus bertanggung jawab kalau aku hamil! Kau harus langsung menikahiku! Kau jahat! Aku benci padamu! Huh!" Lexa menghentikan pukulannya dan menuruni tempat tidur.
"Yes! Akhirnya kau setuju untuk kunikahi, besok kita ke Springfield, oke?" Leon bersuka dan kembali merebahkan tubuhnya.
Namun, ketika dia hendak menarik selimutnya, dia mendengar rintihan Lexa.
"Aaww, perutku, eeesss, aw!" Lexa meringis memegang perutnya pada daun pintu kamar Leon. Dia sampai tersungkur ke lantai memegang perutnya.
__ADS_1
Leon langsung terlonjak menuju Lexa. Pasalnya dia belum pernah melihat Lexa sesakit itu.
"Lexa, kenapa? Lehermu keringat dingin. Ada apa dengan perutmu?!" Tanya Leon memegang belakang leher dan tangan lexa yang memegang perut.
"Perutku Leon, perih sekali!" Kata Lexa lagi dan wajahnya memucatnya.
"Tenanglah, rebahan dulu di tempat tidur, aku akan mengambilkan air." Kata Leon dan dia langsung menggendong Lexa kembali ke tempat tidur.
"Argh! Leon, sakit sekali!!" Lexa terus merintih kesakitan. Leon semakin panik. Dia benar benar bingung apa yang terjadi pada Lexa, namun seketika dia mengingat sesuatu.
"Hah! Sudah kubilang Lexa, kau jangan sering makan pedas, beginilah akibatnya!" Decak Leon dan menuju dapur. Ketika dia sudah membawa air putih, Lexa tiba tiba menghilang. Dia menuju ke kamar kecil.
"Arghh Leonnn!!" Teriak Lexa kemudian.
"Ada apa? Kau ini selalu membuatku panik, ada apa?!" Tanya Leon dibalik pintu.
Lexa mengeluarkan kepalanya melihat Leon dengan tatapan memelas.
"Ada apa?!" Leon sudah hampir mati jantungan karna teriakan Lexa pagi ini.
"Leon, i need emm something like emm white bread?"
"White bread? Apa itu?! Kau mau roti tawar?!"
"No!! Emm, pem-ba-lut.." jawab Lexa terbata dan menunduk malu.
Leon langsung menepuk dahinya. Bencana apa lagi yang harus ia hadapi untuk selalu bersama pujaan hatinya.
"Tapi ini masih pagi, Lexa, kau tidak membawa cadangan di tas mu?!" Kata Leon lagi yang bingung akan mencari kemana. Lexa menggeleng.
"Argh yasudah aku cari! Biar kupaksa aunty itu membuka kantinnya!" Leon mendengus sedikit kesal. Dia lalu mengambil bajunya dan segera menuruni apartemennya.
Sementara Lexa sedikit cekikikan. Begitulah tingkah Leon yang begitu menggemaskan. Membuatnya semakin mencintainya namun dia masih bingung untuk mengungkapkannya.
Sejak saat itu, Lexa dan Leon semakin dekat. Bantuan Gabriel pun sudah dihentikan oleh Lexa karna Egnor sudah mengurusnya. Lexa tidak pernah menanggapi Gabriel karna perjanjiannya pada Leon. Ketika Gabriel menemui Lexa di kantor, Lexa selalu berdalih tidak di tempat. Dia hanya ingin bersama Leon dan tidak mau adalagi perkelahian.
...
Hampir sepekan ini Lexa yang menangani tugas iklan yang masuk. Viena hanya menandatangani berkas berkas yang membutuhkan persetujuannya saja. Selanjutnya tuannya itu sedang disibukan dengan mengantar ibu dari mantan kekasihnya berobat. Lexa berpikir, dia benar benar memiliki majikan yang berhati baja. Bagaimana tidak, mantannya sudah memiliki kekasih, tapi ibu dari mantannya ingin bersamanya.
Lexa berdecak kagum meskipun kasihan. Selain itu Leon jadi lebih sering mengantar jemput Lexa. Dia jadi lebih menjaga Lexa karna ternyata sakit perut waktu itu bukan hanya karna datang bulan melainkan Lexa menderita luka lambung yang mana sering mengkonsumsi makanan pedas. Leon jadi lebih sering menasehatinya mengingat Lexa adalah wanita sebatang kara. Kalau bukan Leon siapa lagi. Sementara Leon tahu, majikan Lexa sedang mengurusi masalah hatinya.
Dan, sampai kabar itu terdengar di telinga mereka. Dion Prime, majikan atau tuan dari Leon akan menikah dengan Viena Jovanca, majikan atau tuan dari Lexa. Seperti geluduk yang menaungi hati mereka karna akan ada sedikit perang dingin ketika mereka berdua juga harus datang di acara pertunangan majikan mereka yang sangat sangat mendadak.
...
Nah lhooo
Kalian berdua nikah juga ga? Hehe
Next yuk part 39
💕💕
Tembus komen 15 langsung up hihihi
Jangan lupa like, rate, vote dan kasih tip juga boleh
__ADS_1
Thankyou lafyou all 😍😍