Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 43


__ADS_3

Lexa menarik diri dari ciuman Leon. Dia menatap Leon penuh pertanyaan. Sementara Leon menunggu apa yang hendak Lexa katakan.


"Leon, mengapa kau seperti ini denganku?" Tanya Lexa lirih.


"Entahlah, aku hanya ingin menciummu." Jawab Leon menempelkan dahinya ke dahi Lexa.


"Kita tidak bisa seperti ini terus. Aku akan beranggapan macam macam denganmu." Kata Lexa tegas dan hendak memberitahu perasaannya.


"Sabarlah dulu Lexa. Bisakah kita seperti ini dulu? Aku ingin meyakinkan diriku agar aku tidak menyakiti wanita lagi dan yang terpenting aku tidak menyakitimu. Lagipula, apakah kau juga menyukaiku?" Saut Leon masih dalam posisi melekatkan dahi mereka masing masing.


"Aku tidak tahu aku menyukaimu atau tidak, karna sikapmu selalu berubah terhadapku. Tapi Leon, aku ingin selalu bersamamu. Beri aku waktu juga untuk menyakinkan diriku. Aku belum pernah memiliki kekasih." Jawab Lexa pelan namun Leon masih mendengarnya.


"Tetaplah seperti ini dulu Lexa. Aku janji, aku tidak akan kemana mana, selalu di hatimu dan ada jika kau butuhkan." Kata Leon lagi dan dia kembali mengecup bibir Lexa dengan lebih lembut. Lexa juga membalas lumatan bibir Leon dengan kasih sayangnya yang sebenarnya sudah terpendam dalam namun dia belum menyadarinya.


Tak berapa lama mereka bergulat dalam kecupan mereka, ponsel Leon berbunyi. Dia lalu melepaskan kecupannya dan merogoh sakunya mengambil ponselnya. Adiknya yang menghubunginya.


Percakapan telepon Leon - Angel.


Leon : ada apa? Kau tidak membuat ulah lagi kan?


Angel : mengapa kau berkata begitu? Seharusnya kau menanyakan kabarku kan?


Leon : cih, kalau yang kutahu kabarmu hanya membuat mom and dad pusing, untuk apa aku menanyakan kabarmu?


Angel : ah, sejak kenal dengan wanita kampungan itu kau menjadi seperti ini padaku


Leon : kampungan apa? Lalu kau apa? Kau masih di desa sementara dia di sini bersamaku, bekerja sama sepertiku dan di Legacy. Jaga mulutmu atau aku tidak akan membiayai hidupmu lagi


Angel : kau jahat kak! Karna wanita itu yang sangat jauh dari Kak Solane kau merelakan adikmu?


Leon : sudahlah aku tidak mau berdebat! Kau belum mengenalnya


Angel : tidak usah! Aku tidak mau mengenalnya!


Leon : argh, jadi kenapa?


Angel : dad sakit


Leon : pasti ulahmu kan?


Angel : mana ada? Aku yang mengantarnya ke rumah sakit.


Leon : aku tidak bisa kembali tapi nanti ku kirimkan uang ya


Angel : karna wanita murahan itu?!


Leon : ANGEL!!


Seketika Lexa mengelus punggung Leon.


"Dia kurang ajar Lexa!!" Bisik Leon sesaat pada Angel. Lexa hanya mengangguk sambil terus mengelus punggung Leon agar meredakan emosinya.


Angel : kurang ajar apa? Kenyataan kan? Buktinya kau tidak mau melihat dad sebentar karna tidak mau meninggalkan wanita jalang itu kan?!


Leon : kau?! Sekali lagi kau menyebut kata itu aku benar, bahkan aku tidak akan menganggapmu sebagai --


Cup! Belum selesai Leon menyelesaikan kata katanya, Lexa mengecup pipi Leon. Leon lansung menatap Lexa.


"Sa-bar.." bisik Lexa pelaan sekali. Leon benar benar dibuat seperti jatuh dengan sangat pelan ketika harus terhempas dari ketinggian. Lexa dapat mengatur kadar emosinya.


Angel : kau tidak mau menganggapku sebagai adikmu lagi ya kan? Kak Leon, kau jangan naif, semua wanita yang mendekatimu hanya uang, hanya Kak Solane yang malah memberikan kita uang!


Leon : sudah angel! Aku tidak mau berdebat! tuan Dion akan menikah jadi aku harus mengurusnya. Dad hanya lelah, setelah ku pulang, aku akan mengirim uang. Berikan dia pelayanan yang terbaik dan besok pagi aku akan menghubunginya.


Angel : ya ya ya

__ADS_1


Leon : jaga dad dan jangan buat ulah. Sampaikan salamku pada mom!


Angel : kau tenang saja, selama ini juga aku yang menjaga, sementara kau asik berpacaran dengan wanita tak jelas!


Tut! Angel memutuskan panggilan. Leon kesal bukan main dan hendak membanting ponselnya ke air laut.


"Leon, sabar .. kalau kau begini, mau malah merugikan dirimu!" Lexa menahan tangan Leon yang hendak membanting ponselnya.


"Ponselmu mahal, lebih baik untukku, dari pada kau banting seperti ini." Kata Lexa lagi. Sementara Leon memandang Lexa yang malam ini benar benar sangat cantik. Apalagi karna sinar rembulan berpantul ke wajahnya menambah indah setiap lekuk wajahnya. Leon melihat mata Lexa yang penuh dengan ketulusan. Wanita di depannya ini mampun mengendalikan emosinya. Leon seperti merasa bersalah. Mengapa adiknya sungguh tidak menyukai Lexa?


Leon lalu langsung memeluk Lexa lagi dengan erat. Lexa juga memeluknya dan tersenyum di pundak Leon yang menunduk.


"Sudahlah Leon! Kau ini kenapa?" Tanya Lexa mengelus punggung Leon. Tak lama Leon menarik dirinya.


"Lexa, apapun yang terjadi dengan keluargaku, kau harus tetap ada untukku, janji ya?" Tanya Leon kemudian.


"Kau ini kenapa? Memang ayah ibumu kenapa? Mereka baik baik saja kan?" Lexa yang tidak tahu apa yang menyebabkan Leon marah dengan adiknya, malah menanyakan kondisi ayah dan ibu Leon.


"Ayahku sakit."


"Parah?"


"Tidak sih, tapi pokoknya kau tidak boleh meninggalkanku, harus tetap menerimaku, kau mengerti?" Leon memastikan sambil menghentaka kedua tangan Lexa.


"Kau ini kenapa sih? Tidak jelas!" Decak Lexa terheran.


"Janji Lexa..." Leon memasksa.


"Ya, ya janji aku tidak akan meninggalkanmu! Kau ini kekanak kanakan sekali!"


"Terimakasih kelinci kecilku.." Leon kembali memeluk Lexa dan tersenyum penuh kemenangan. Lexa juga ikut tersenyum walau di hatinya muncul kembali tanda tanya besar.


Sementara Leon tidak ingin menceritakan tentang Angel yang sangat tidak menyukai Lexa, karna Leon tahu, pasti Lexa akan kembali tidak percaya diri dan menjauihinya.


Leon lalu mengantar Lexa. Lexa menyuruhnya masuk terlebih dahulu dan lagi lagi Leon meneguk ludahnya karna Lexa benar benar seperti umpan. Sementara Lexa hanya ingin memberikan Leon segelas air dulu atau beristirahat sejenak karna perjalanan dari pantai ke flatnya sangat panjang.


"Oh iya, yasudah kau hati hati ya .."


"Tenang saja. Selamat malam.." Leon menutup kaca mobilnya. Dia benar benar tidak mau terpancing sampai sampai tidak mau mengantar Lexa sampai depan pintu flatnya karna pasti musang bawahnya akan terus meronta seperti sekarang yang sudah mulai menegang hanya karna Lexa mengajaknya mampir.


"Diam kau musang gila! Dia belum menjadi mangsamu, tanganku saja nanti saat pulang! Tunggu kau!" Decak Leon ketika melajukan mobilnya.


Lexa terheran dengan kelakuan Leon. Tak biasanya dia menolak untuk masuk, malah biasanya Leon yang memaksakan diri untuk mampir ke flat Lexa. Lexa menarik napas dan memasuki flatnya.


...


Hari minggu Leon disibukan oleh Dion yang menyuruhnya menjemput dirinya di rumah sakit. Majikannya frustasi karna melihat wanita yang kini sudah menjadi bekas kekasihnya bermesaraan dengan lelaki lain. Majikannya akhirnya menyadari bahwa dirinya sudah tidak ada apa apanya bagi wanita itu.


"Sudah kubilang Tuan, Nyonya Viena yang terbaik!" Pesan Leon melirik tuannya lewat kaca depan mobil sementara Dion berada di kursi belakang.


"Sudah kau menyupir saja dengan benar dan katakan padaku kalau sudah sampai ke club Ben." Kata Dion yang saat itu tidak mau dinasehati.


"Bagaimana bisa siang hari bolong seperti ini ke club?! Untung bos, huh!" Leon merutuki bosnya.


"Kau bilang apa?!" Dion yang benar benar sedang meluap emosinya menanggapi apa yang Leon katakan.


"Kau hebat bos karna bisa membuat club yang hanya buka sore atau malam menjadi siang. Bos ku ini memang luar binasa.." jawab Leon dengan menggodanya.


"Kau bilang apa lagi? BI-NA-SA? kau salah ucapa apa bagaimana?" Dion mengoreksi sambil memincingkan matanya.


"Ya, BINASA.. haha.. lihat lah kau Tuan, kau begitu terpuruk hanya karna wanita yang tidak memikirkan perasaanmu. Sementara ada wanita yang menunggu dengan hati terbuka, menyodorkan rasa cintanya yang mendalam dan tulus iklas hanya untukmu! Oh come on Tuan.. lihatlah Nyonya Viena. Cantik, seksi, pintar, terpandang, sederhana, pemilik perusahaan iklan tapi dia dengan rela menyerahkan dirinya yang sempurna itu padamu! Sementara kau malah mau bersama wanita yang merendahkan perasaanmu. Kurasa otakmu perlu diperlebar Tuan seperti Lexa!!" Leon berusaha menyadarkan tuannya karna dengan begini Tuannya bisa berpikir dan terlepas dari belenggu yang tidak jelas.


Dion terdiam. Dion tidak marah pada Leon. Leon mengatakan dengan benar dengan keyakinan dan dengan perhatiannya sebagai asisten segala galanya Dion. Dion mengusap dahinya kasar dan Leon kembali memperhatikannya lagi.


"Tuan Dion, aku tidak bermaksud mencak mencak terhadapmu. Sejatinya aku hanyalah asistenmu, tapi aku juga ingin yang terbaik untuk pemimpinku, panutanku. Sejak dulu aku tidak mau ikut campur masalah percintaanmu selama kau bisa mengatasinya. Tapi sekarang sepertinya kau begitu nelangsa Tuan. Ibarat seperti ini Tuan, ada sebuah gelas wine yang melengkung indah berisi anggur terbaik, tapi kau malah memilih segelas air putih di gelas yang biasa saja Tuan. Ayolah Tuan, bangkit! Nyonya Viena sudah di depan mata! Kau yang pernah mencarinya tidak pernah bertemu sekarang dia sudah hadir, jangan sampai ada percarian untuk kedua kalinya!!" Kata Leon lagi dengan penuh ke charmingannya. Dion melirik asistennya lagi.

__ADS_1


"Kau ini! Sejak mengenal asistennya Viena itu, pikiranmu jalan lurus bagai tidak ada batu!" Decak Dion pelan.


"Nah, itu karna Nyonya Viena. Aku yakin, Nyonya Viena yang mengajarinya. Lexa seorang wanita berpendirian kuat namun hatinya lembut juga baik hati. Sama seperti majikannya, memang terlihat dingin, aku sampai takut kalau Nyonya Viena melirikku, aku yakin karna kau Tuan Dion. Tapi hatinya lembut, hangat, penuh perhatian. Sudahlah Tuan kau saja tahu bagaimana mantan terindah mu itu kan? Aku hanya berpesan Tuan, jangan sampai kau menyesal. Sudah itu saja. Nah, sudah sampai. Aku akan menghubungi Ben." Kata Leon lagi yang sudah memarkirkan mobilnya di depan club milik Ben.


Setelah Leon menghubungi Ben, dia masuk bersama Dion. Dion langsung memesan minuman entah berapa botol sementara Leon malah asik mengirim pesan dengan Lexa. Dia tidak memperhatikan bos nya sampai sampai bos nya sudah bersandar di sofa dan ngomong yang tidak tidak.


"Pevii... Kau ini wanita seperti apa sih? Kau menyelingkuhiku sementara Viena sedang mengemis cintaku. Kau benar benar wanita murahan Pevi. Kau tidak menghargai perasaannku yang kujaga untuk Viena. Harusnya kuputuskan saja kau sejak aku bertemu dengan Viena dan aku tidak harus susah susah begini. Aarrgghhh Viena jauh lebih baik. Tubuhnya juga lebih indah daripadamu!!!" Begitulah kurang lebih kata kata Dion.


Dan Leon?


💌-LEON-


Iya gaun kemarin, kau cocok sekali, tubuhmu kelihatan jauh lebih indah dari wanita lain.


Leon tidak menyadari kalau dirinya mengetik untuk Lexa seperti yang dikatakan tuannya. Tak berapa lama Lexa membalas dengan segala umpatan yang membuat Leon bingung.


💌-LEXA-


MUSANG MESUM! LIHAT SAJA AKU AKAN MEMOTONGMU DAN MEMANGGANGMU ATAU AKU LANGSUNG MEMAKANMU HIDUP HIDUP!! TERNYATA KAU SENGAJA KAN MEMBELIKAN GAUN ITU UNTUK MENELANJANGIKU DENGAN MATAMU YANG TIDAK WARAS ITU! JANGAN HUBUNGI AKU DULU!! MESUM!!


"Ya ampun, ada apa dengan kelinci ini? Belum makan wortel ya? Mengapa jadi seperti kelinci rabies??" Leon memeriksa pesan pesannya dan dia menyadari. Seharusnya dia hanya mengetik gaun itu cocok untuk Lexa, hanya itu. Mengapa jadi tubuh? Pikirnya dan tak lama dia mendengar bos nya lagi meracau.


"Viena, aku butuh cintamu saja, hanya kau yang mengertiku, aku juga butuh tubuhmu, bibirmu, buah dadamu..."


"Tuan Dion! Astagaaaa!!!! Sudah hentikan minumnya!!!" Pekik Leon. Dia akhirnya menyadari kalau Tuannya sudah sangat mabuk dan melantur kemana mana.


"Tuan, sebaiknya kita pulang ya? Kau sudah keterlaluan. Aku pikir kau hanya minum dan tertidur. Sudah ayo kita kembali ke apartemenmu! Aku sudah membayarnya pada Ben."


"Untuk apa kau bayar? Ben harus memberikannya padaku untuk perayaanku dengan istriku Viena. Aku mau ke rumah Viena. Aku mau kerumah Viena, Leon...." Dion menampar nampar pipi Leon.


"Kau ini gila ya?!! Kemarin kau memarahinya habis, sekarang kau datang dengan keadaan begini!!!!" Decak Leon yang sebenarnya tidak bernani menghadapi Viena nanti.


"Tidak! Aku tidak gila, tapi aku gila akan cinta Viena. Antarkan aku ke sana!!!!!" Perintah Dion yang kini berusaha untuk berdiri.


"Baiklah baiklah! sudah Lexa sedang marah, pasti Nyonya Viena juga akan memarahiku!!!! Argh! Besok anakku tidak boleh menjadi asisten, menyusahkan!!!! Ayo Tuan..."


"Kau tidak mau jadi asisten tapi tidak mau kupecat, aneh!!!!!!" Dion lagi lagi menampar Leon yang kini memapahnya.


...


...


Sabar y bang leon hihi yang penting gaji ngaliirrr 😎😎


.


Next part 44


Wedding drama 😘💃


.


Eh eh giveaway setelah episode 41 jangan dianggurin, diisi hahaha ...aku tunggu lho partisipasi kalian, katanya LeonLexaLovers hehe .. jangan cuma suruh aku up tapi ikut kuisnya hihi 🙏🙏🙏


.


Okedeh jangan lupa LIKE, KOMEN untuk smangat aku cepet UP 😁


Kasih VOTE juga bagi pengguna NovelToon


Berikan juga RATE di depan profil novel


Kasih TIP juga boleeehhh 😘


.

__ADS_1


Thanks for read and I LOVE YOUU ..💕


__ADS_2