
Hanya ingin membuat sebuah perbedaan menjadi sangat berarti. Xelino pun mengetahui ketika sebuah harga diri sangat lah berarti di sanalah sebuah perjuangan akan terasa manis. begitu juga yang Carolyn rasakan ...
...
Xelino pun hendak kembali ke atas. Namun sebuah musang liar melintasi Carolyn dan menabrak kakinya sehingga Carolyn tidak bisa kemana mana selain ke bawah ladang. Untung saja Xelino sudah di bawah tempat Carolyn hendak terjatuh jadi Xelino yang menangkap Carolyn. Dia memeluk pinggang Carolyn dan Carolyn melingkarkan tangannya di leher Xelino. Mereka berpandangan dengan berhias lampu yang tidak begitu teran dan bulan di atas langit malam sana.
"Nona, kau cantik sekali," ucap Xelino menatap seksama wajah Carolyn. Carolyn tentu tersipu malu tapi tetap memandang Xelino. dia merasa pria ini juga sangat tampan. mengapa dia tidak menyadarinya kala pertama kali bertemu, malah dihiasi dengan perseteruan.
"Xelino ... Apa kau tidak menyukaiku?" kata Carolyn bertanya dan berharap Xelino mengatakan yang sebenarnya.
Xelino menggeleng dan sebenarnya hatinya kalut ketika majikannya menanyakan itu. Bisa saja dia menjawab iya tapi mungkin saja Carolyn hanya bertanya tentang dirinya.
"Mengapa kau menggeleng?" tanya Carolyn lagi bersedih.
"Maaf nona, aku tidak bisa menduakan Zhavia. Dia kekasihku yang sedang menunggu di Legacy," jawab Xelino yang masih meragukan semuanya. Xelino masih membutuhkan sebuah bukti dan pengorbanan lagi.
Seketika hati Carolyn memanas. Dia pun meronta hendak melepaskan diri dari Xelino tapi alas mereka berdiri cukup licin sehingga Xelino tidak membiarkan Carolyn menjauh. Dia makin mendekap Carolyn, menundukan kepalanya sedikit dan meraih bibir Carolyn.
"Untuk apa kau menciumku terus menerus jika kau tidak menyukaiku?" dengus Carolyn sebal berusaha menjauh tapi Xelino malah makin mendekapnya.
"Jadi kau ingin aku menyukaimu?" tanya Xelino terus berkelit. Namun, entah mengapa Carolyn hendak merendah karena hatinya semakin menentu ketika dekat dengan pria ini.
Carolyn mengangguk.
"Baiklah, anggap saja seperti itu. Bulan malam ini sangat indah, nona, apa kau tidak mau memanfaatkan waktu mencium pria tampan sepertiku?" Tutur Xelino menyeringai. Carolyn masih sebal dengan penuturan Xelino.
"Tidak mau!" Carolyn meronta dan hendak naik ke atas tapi Xelino kembali menariknya. Meraih wajahnya dan mengarahkan bibir Carolyn pada bibirnya.
Xelino memaksa Carolyn untuk saling mengecup dan Carolyn seraya menerima juga karena aroma tubuh Xelino yang membuatnya ingin selalu bersama.
'Persetan dengan kekasihnya, entah mengapa aku merasa Xelino tidak mempunyai kekasih. Dia hanya ingin membuatku cemburu! Awas saja kau rubah tengik!' gumam Carolyn dalam hati masih menikmati kecupan Xelino yang semakin lama tidak ingin terlepas sedikitpun.
...
Mereka tiba di villa milik Delins Group. Carolyn sudah menghubungi ayahnya dan Xelino juga sudah berbicara pada Gilbert. Gilbert tentu tidak keberatan agar Carolyn tetap dalam keadaan sehat.
James sudah melilit kaki Grizel dengan kain perban dan sudah dibalur gel cedera. Untung James selalu menyiapkan kotak P3K di mobilnya karena mobil tersebut biasa digunakan Gilbert untuk ke luar kota bersamanya.
__ADS_1
"Sudah Grizel, aku sudah melilit kakimu dengan perban dan semoga besok kau sudah bisa berjalan," kata James tersenyum mengelus sesaat lilitan perban kaki Grizel.
"Terimakasih James oppa. Em, apa aku akan tidur di sini?" selidik Grizel menerka.
"Ya, kau beristirahatlah dan hubungi ayah atau ibumu agar mereka tidak cemas. Besok pagi pagi kita akan kembali ke kota," ujar James sekaligus memberikan pesan pada Grizel.
"Aku tinggal dengan bibiku, oppa. Ayah ibuku ada di Desa Namjose. Apa kau tahu desa itu?" saut Grizel.
"Oh God! Mungkin kita berjodoh Grizel. Aku juga dari sana," pekik James sedikit takjub dan senang dia bisa sedekat ini dengan Grizel.
"Apa? Kau orang desa juga?" tanya Grizel tidak menyangka dengan gaya modern James.
"Ya, tapi ibuku sudah meninggal karena sakit waktu wabah penyakit beberapa tahun yang lalu. Kau tahu kan?" kata James memberitahu sekilas tentang keluarganya.
"Waktu itu aku sudah merantau ke kota, oppa. hem, aku turut berduka cita oppa. Ajuma pasti sudah sangat bahagia," balas Grizel tersenyum tipis.
"It's oke, aku juga sudah tenang karena ibuku tidak sakit sakitan lagi. Wah, kau gadis mandiri juga ya. Semoga kau bisa sukses di kota ini! Baiklah, beristirahatlah," kata James lagi segera beranjak dari tempat duduk samping tempat tidur Grizel.
"Oppa," panggil Grizel ketika James hendak menjauh.
James kembali berbalik.
"Mereka masih mengoperasi kan video yang harus kami siapkan besok. Yasudah, tidurlah, aku akan menunggumu sampai Nona Carolyn kembali," kata James memutuskan menemani Grizel tidur dengan mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur menghadap ke Grizel.
"Kau baik sekali oppa!"
James pun menunggui Grizel sampai tertidur . Tanpa sadar James juga sampai mengelusi lengan Grizel agar cepat tertidur.
"Hem, benar kata Xelino, dia seperti beruang putih kecil, pipinya cukup tembam!" Gumam James ketika memastikan Grizel sudah terlelap sambil menyandarkan kepalanya di sisi kepala Grizel. James malah tertidur di sana dengan memegang lengan Grizel.
Sementara di luar Xelino memperhatikan Carolyn yang sangat ahli mengemas video tersebut agar lebih terang dan mengunggahnya di forum bisnis agriculture. Carolyn tampak seperti Allegra yang fasih dengan aplikaso teknologi ini.
"Kau pintar sekali nona!" puji Xelino duduk di samping Carolyn dengan cukup dekat.
"Hem, orang orang itu jahat sekali! Jadi mereka yang menyebar hama di lahan Daddy ku tapi malah menuduhmu dan James?" decak Carolyn sudah tahu beberapa kegagalan ayahnya dengan usahanya.
"Begitulah nona!"
__ADS_1
"Langsung laporkan saja ke pihak yang berwajib Xelino! Aku yakin mereka akan seperti ini jika tidak ditindak lanjuti!" kata Carolyn lagi ikut kesal dengan segala kecurangan ini.
"Ya, semua ada pada keputusan daddymu!" Saut Xelino memejamkan matanya bersandar pada belakang sofa. Xelino agak mengantuk dan cukup lelah.
"Kau juga harus membela hak mu! Jangan seperti ini, jangan mengkasiani mereka terus! Kau yang mengajarkan ku agar dapat melindungi diri dan kau jangan lupa kau juga pernah menentangku waktu kau mempertahankan lahan kakek dan nenekmu! Jadi kau juga harus melawan mereka, Xelino!" Celoteh Carolyn yang sebenarnya ingin memberikan semangat pada Xelino, tapi ketika dia menoleh, Xelino sudah tertidur.
"Hem, dasar rubah pemalas! Oh no! Rubahku ini sangat rajin, aku semakin menyukainya! Lihat saja kau rubah, aku juga akan membuatmu menyukaiku dan mungkin akan melupakan kekasih bayanganmu, hihi!" Gumam Carolyn terkekeh dan ikut tertidur di samping Xelino dengan menyandarkan kepalanya di depan dada Xelino.
Keesokan harinya, pagi hari di kediaman Delinsky. Rietha dengan wajah geram mendatangi rumah kakaknya itu untuk membicarakan mengenai rencananya.
"Kak Gilbert! Kau harus bisa membatasi Xelino dekat dengan Carolyn! Jangan sampai mereka berdua saling menyukai! Kau tidak malu jika calon menantu atau bahkan menantumu seorang asisten yang datang dari keluarga Desa?!" dengus Rietha di depan kakaknya yang sedang menikmati teh hangat.
"Apa maksudmu, Rietha? Kalau begitu kau juga menghinaku! Aku dari Desa Namjose, kau lupa?!" sela Jennifer yang tidak setuju dengan perkataan adik iparnya.
"Kau kan anak kepala desa, tentu berbeda, Xelino anak siapa? Kau harus tahu batas juga Jen!" decak Rietha memberi peringatan.
"Tidak! Terserah Carolyn akan nyaman bersama siapapun! Aku tidak mau membatasinya lagi! Memang apa urusannya denganmu?" kembali Jennifer tidak menerima dengan perkataan Rietha.
"Jangan sampai nanti Carolyn hamil sebelum menikah kalau berani beraninya mereka menginap bersama!" sindiri Riethe mencibir.
"Xelino bukan pria seperti itu, aku percaya padanya, bukan begitu Gilbert?" tutur Jennifer menyerahkan semuanya pada suaminya yang pasti sangat mendukung Xelino.
"Bisakah kalian diam! Ada apa denganmu Rietha? Mengapa kau marah seperti ini?" tanya Gilbert akhirnya membuka suara.
"Langsung saja aku bicara ini padamu kak! Aku ingin kita menjodohkan Carolyn dengan Ansel. Bagaimana?" ujar Rietha terlihat tenang sementara kakak kandung dan kakak iparnya sudah membelalakan matanya.
"Ansel?!"
Gilbert dan Jennifer sama sama memekik mendengar nama itu.
...
jeng jeng Olyn mua ga ya
next part 34
__ADS_1
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa
thanks for read and i love you 💕