
Pada akhirnya, kekuasaan terbesar ada pada orang yang telah menciptakan kita, kedua orang tua kita. So, hormati dan hargailah orang tuamu jika ingin mendapatkan apa yang dicita citakan karna doa terbaik datangnya dari mereka. Apakah Xelino bisa merubah jalan pikiran Carolyn kali ini? Apakah Carolyn sudah agak jera? Kisah yang sesungguhnya akan segera dimulai.
...
"Seharusnya kau senang pacarmu mau bertanggung jawab," decak seorang penumpang pesawat yang menatap Carolyn dengan tak enak.
Xelino mengangguk angguk merasa menang.
"Tidak tidak, aku tidak hamil, aku juga bukan pacarnya," sela Carolyn masih berusaha menyanggah.
"Sudah sudah jangan perbolehkan dia naik pesawat, lagipula hamil muda jangan melakukan penerbangan dulu!" Tambah seorang lagi yang merasa masalah ini sangat mudah karna pacarnya mau bertanggung jawab.
"Benar nona, sebaiknya anda kembali ke rumah bersama kekasihmu," kata sang petugas.
"Aku tidak hamil," kata Carolyn masih berusaha menyangkal yang sepertinya tidak ada gunanya. Xelino berdecih, menyunggingkan senyumnya dan malah menggendong Carolyn.
"Kau berisik sekali!" Bisik Xelino. Jelas Carolyn tersentak tapi tidak bisa melakukan apa apa karena Xelino menggendongnya dengan sangat protektif.
"Apa yang kau lakukan?!!!" Kata Carolyn memukul punggung Xelino karena Xelino menggendongnya ke atas sisi bahu kirinya.
"Sudah cepat kau bawa dia pulang!" Kata seorang wanita paruh baya yang menyayangkan penolakan si wanita.
Xelino mengangguk dan tidak mempedulikan Carolyn yang masih meronta dalam gendongannya. Xelino akhirnya berhasil membawa Carolyn keluar dari bandara dan memasukannya ke dalam mobil.
Xelino menekan kunci remot mobilnya lalu membuka pintu belakang. Dia meletakan Carolyn di kursi belakang. Ketika Xelino sudah meletakan Carolyn yang terus merajuk, dasinya tersangkut dengan asksesoris yang ada di baju Carolyn sehingga Xelino mendindik Carolyn di kursi penumpang itu. Mereka saling berpandangan.
Sesaat Xelino pun memperhatikan wajah Carolyn yang tampak sangat geram. Matanya melebar dan sisi pipi sampai dahinya memerah. Lumayan, pikir Xelino. Sementara Carolyn hanya memperhatikan mata Xelino yang agak memburu, juga rambutnya yang menegak membuat dirinya memang cukup bersih juga menawan.
"Argh!!!! Mau apa lagi kau? Sebaiknya kau melepaskanku! Aku tidak mau pulang, awas kau!" Gertak Carolyn memukul tangan Xelino. Xelino hanya menyeringai.
"Lepaskan sangkutan dasiku pada bajumu, tanganku menahan diriku agar tidak menciummu!" Kata Xelino tersenyum.
"Crazy! You're so crazy argh!" Dengus Carolyn akhirnya mengalah. Dia melepaskan sangkutan dari Xelino pada aksesoris bajunya perlahan lahan.
Xelino kembali memperhatikan wajah dingin dan penuh kekesalan itu. Benar kata orang, wanita akan seribu kali lebih cantik jika sedang penuh emosi. Karena, wajahnya akan terdiam dan memancarkan kekuatan melebihi seorang pria. Xelino jadi mengingat ibunya, bibinya, sepupunya Allegra dan khususnya Zhavia.
"Sudah!"
"Terimakasih nona muda," ucap Xelino tersenyum. Xelino lalu beranjak dari sana menuju ke kursi pengemudi.
Ternyata Carolyn belum menyerah. Akhirnya dia memutuskan hendak merayu Xelino. Dia bangkit dari duduknya dan melangkah ke kursi penumpang di depan. Sebelumnya dia melihat jam tangannya masih ada waktu 10 menit untuk pesewat terbang.
"Xelino, Xelino, namamu Xelino kan? Aku mengingat namamu kan, karena kau sangat tampan! Tolong aku sekali ini saj, biarkan aku pergi! Aku tidak akan mengusikmu lagi kan, aku mohon, Xelino!!" Pinta Carolyn menarik narik tangan Xelino untuk tidak menjalankan mobilnya dulu. Xelino hanya tersenyum dan sibuk menyalakan mobilnya.
"Xelino aku mohon, aku mohon, aku tidak mau disini! I DON'T WANT!!!" Pinta Carolyn lagi dan akhirnya kembali membentak.
"Cih, I DON'T CARE! Kau harus pulang, kedua orang tuamu menanti!" Xelino berdecih.
"Oh God! Tolonglah Xelino, aku akan memberikanmu apa saja," tutur Carolyn terus memohon.
"Begitu juga yang dikatakan Daddy mu jika aku membawa mu pulang," balas Xelino tersenyum.
"Xelino! Argh! Tidak, kau tidak boleh membawaku pulang, XELINO AKU TIDAK MAU!!!" teriak Carolyn benar benar mengeluarkan tenaganya. Dia menarik tangan Xelino agar tidak melanjukan mobil nya. Kini Xelino berhadapan dengannya. Napas Carolyn sudah tersenggal dan dia masih memegang pergelangan tangan Xelino. Carolyn tampak lelah dan dia benar benar tidak mau pulang. Sesaat wajahnya menunduk dan hendak menangis.
Entah apa yang membuat Xelino mendekatinya dan tangan yang tidak dipegang Carolyn malah memegang wajah Carolyn. Dia mendongakan wajah Carolyn lalu Xelino benar benar malah mencium bibir Carolyn. Karna Carolyn sudah tampak lelah dia diam saja tapi matanya terbuka merasakan bibir Xelino yang sangat dingin dan menyejukkan hatinya.
"Kau harus pulang, mom and dad mu sangat mencemaskanmu, ada rencana indah di balik semuanya. Tenanglah ..." Bisik Xelino tersenyum lalu kembali pada kemudinya.
Carolyn masih tertegun dengan perlakuan Xelino. Dia jadi mengingat seseorang yang dulu juga sangat lembut padanya seperti ini.
Akhirnya Carolyn mengalah. Dia terduduk lemas sambil memegang bibirnya. Sesekali Xelino menoleh dan tersenyum kecil.
Sampailah Xelino dan Carolyn di mansion kediaman keluarga Delinsky. Cole dan Laila yang sudah melihat kedatangan nona muda nya segera memegang kedua tangan Carolyn.
"Aku bisa jalan sendiri!" Kata Carolyn menyuruh kedua pelayannya melepaskannya. Xelino baru turun dari mobil dan memberikan kunci mobil pada pelayan. Ketika Xelino hendak masuk, ponselnya berbunyi. Telepon dari ayahnya. Xelino meminta ijin pada Cole dan Laila untuk mengangkatnya dulu. Cole menungguin Xelino sedangkan Laila ikut menyusul Carolyn.
Carolyn masuk lebih awal dan menemukan ayah dan ibunya duduk di sofa ruang tamu utama. Dia melihat ibunya duduk di sofa panjang dengan kakinya di atas yang sudah terbalut perbang. Ayahnya menatapnya dengan sangat geram. Carolyn mendekati ayah dan ibunya. Dia terkejut melihat ibunya. Dia hendak menghampiri ibunya tapi ayahnya lebih dulu membentaknya.
"Kau puas hah?! Puas membuat semua kekacauan ini?!"
Carolyn berhenti melangkah menatap ayahnya.
"Kau keterlaluan Carolyn, keterlaluan!" bentak ayahnya lagi.
"Kalau saja Daddy menurutiku, ini semua tidak begini!" saut Carolyn masih seenaknya.
"Masih saja kau memikirkan egomu, anak kurang ajar! Kau benar benar harus kuberi pelajaran! Aku tidak akan segan segan lagi Carolyn!" Gilbert menunjuk Carolyn.
"Dad, kau ini kenapa sebenarnya hah? Mengapa kau jadi sekejam ini padaku?! Aku hanya ingin perusahaan ku sendiri!" bantah Carolyn meluapkan kekesalannya.
"Membentuk sebuah perusahaan tidak hanya sekedar membangunnya, Carol! Masa aku tidak mengerti! decak Gilbert dengan mengerutkan keningnya.
"Aku mengerti, aku pemimpinnya!"
"Tidak ada pemimpin manja dan sombong sepertimu!"
__ADS_1
"Daddy!!"
"Sudah diam dan duduk kau di sini!" Perintah Gilbert sudah sangat mencekam. Jennifer memegang lengan Gilbert agar tetap tenang.
Carolyn pun duduk di sofa single di depan ayahnya.
"Laila, siapkan ice greentea untuk nonamu ini agar pikirannya terbuka dan dia bisa tahu apa kesalahannya!" perintah Gilbert pada Laila. Laila segera ke dapur.
Carolyn mendengus dan menyandarkan tubuhnya di sofa itu dengan gaya santainya.
"Carolyn! Aku tidak mau tahu! Mulai besok atau lusa, kau harus bekerja di perusahaan Bibi Rietha!" kata Gilbert memaksa.
"Tidak!"
"CAROLYN!!!!" teriak Gilbert.
Carolyn sungguh terkejut dengan teriakan ayahnya yang tidak biasanya. Dia melihat wajah ayahnya yang sangat geram dan marah padanya. Sebelumnya dia pernah melihat ketika ayahnya memarahi Casey. Waktu itu Casey tidak mau mendengarkan ayahnya ketika diperingati jangan bermain di sekitar meja yang saat itu terdapat teh dan kopi panas. Mereka sedang berkumpul keluarga. Casey terus bermain dan akhirnya menyenggol meja dan kopi itu menumpahi tangan Casey. Jennifer segera bergegas tapi Gilbert sangat marah karna Casey tidak mendengarkan ayahnya.
Carolyn menatap ibunya dan ibunya mengangguk angguk supaya ayahnya tak lagi marah.
"Iya," jawab Carolyn akhirnya.
Bersamaan dengan itu Xelino sudah masuk. Dia membungkukan tubuhnya memberi hormat pada Gilbert dan Jennifer yang melihatnya.
"Dan, Lucas sudah kupindahkan!" Kata Gilbert lagi dan membelalakah mata Carolyn.
"Dipindahkan? Maksudmu? Dia tidak lagi menjadi manager ku?" selidik Carolyn cemas.
"Tidak!"
"Dad, sekarang kau yang keterlaluan!" decak Carolyn tidak terima.
"Karna Lucas juga sudah seperti kakakmu! Dia memanjakanmu! Dia sudah kuasingkan menjadi asisten kakakmu! Dia saja yang ke Nederland!" kata sang ayah.
"Lalu siapa yang menjadi manager ku, dad! Aku tidak mau yang sembarangan dan kerjanya lama! Dan satu lagi aku tidak mau perempuan! Dia akan mencoba menjadi sepertiku aku tidak mau! Namun, jangan pria yang centil dan genit!" tutur Carolyn memberikan daftar kualifikasi.
"Di belakangmu!" kata Gilbert..
Xelino cukup tersentak dengan pernyataan Gilbert. Namun, Xelino ingin juga mengikuti permainan keluarga ini. Gilbert pasti punya alasan di balik semuanya.
Carolyn menoleh ke belakang dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia lalu kembali menoleh pada ayahnya.
"Dad? Apa maksudmu?" tanya Carolyn menuntut.
Xelino belum tahu mengeluarkan ekspresinya.
'Wuaaahh!!! Sebidang tanah di Serena kudapatkan secepat ini?! Luar biasa! Hanya karna berbohong mengatakan anaknya adalah pacarku dan aku menghamilinya, haha, pencapaian menakjubkan!' pekik Xelino dalam hati mendengar perintah Gilbert.
Namun kenyataannya Xelino pura pura terkejut dan menundukan kepalanya.
"Xelino, ada apa?" tanya Jennifer.
"Aku hanya takut Nona Carolyn tidak menyetujuinya Tuan, Nyonya, aku benar benar meyakinkan dirinya untuk pulang tapi dia terus memarahiku!" keluh Xelino.
"Kau?! diam kau! Kau yang memelukku, menciumku, menasehati ku, masih bilang aku yang memarahimu, keterlaluan!!!!!" Bisik Carolyn mencibir memandang Xelino lalu beranjak dari duduknya dan hendak menghampiri Xelino.
"Carolyn! Diam di sini!" Sergah ayahnya. Carolyn terdiam terpaku masih memandang Xelino.
"Tidak Xelino! Mulai sakarang kau berhak mengatur dan menjaga semua tentang Carolyn! Kau boleh memarahinya jika dia salah dan memberitahu kebenaran yang sesungguhnya! Mulai besok kau mengantarnya bekerja baru kau kembali ke kantor. Oiya, kau juga boleh tinggal di sini jika kau mau," tambah Gilbert lagi.
"Daddy!!!!!!"
"Diam kau! Hanya Xelino yang bisa menghentikanmu dan buktinya dia bisa menggagalkanmu pergi ke Nederland!" Kata Gilbert lagi yang sudah saatnya bertindak tegas.
"Xelino, kau bersedia kan? Laporkan saja apa yang Carolyn lakukan jika dia bertingkah yang aneh aneh!" Tanya Gilbert memastikan pada Xelino.
"Siap Tuan! Kalau kau sudah memberikan wewenang penuh untukku menjaga dan mengatur Nona Carolyn, aku sangat siap!" kata Xelino dan menatap Carolyn dengan seringaiannya. Satu alis matanya sudah naik menantang Carolyn.
Carolyn memandang sangat geram pada Xelino. Tatapannya nanar dan penuh kebencian sementara Xelino tetap kembali tersenyum lebar pada Carolyn.
"Carolyn! Kau dengar kan? Mulai besok Xelino yang akan mengurusimu! Kau tidak bisa membantah! Kau juga harus bekerja di perusahaan properti Bibi Rietha. Dengarkan aku baik baik, kalau kali ini kau membuat ulah lagi, aku tidak akan segan segan mengambil semua fasilitas mu atau aku akan mengirimmu tinggal bersama Paman dan Bibi Brey melakukan penelitian ladang subur di Greenville! Kau tahu tempat pegunungan tanpa akses apapun itu kan? Untuk sekarang aku masih berbaik hati dengan memberikanmu manager asisten yang aku yakin akan merubahmu di tengah apa yang sudah kau miliki. Belajarlah sopan santun dan arti berjuang pada Xelino! Kau paham kan?!" gertak sang ayah memberi peringatan.
"Arghhh, iya terserah padamu!" Decak Carolyn masih tidak terima dan dia menuju ke kamarnya dengan wajah kesal, geram, marah dan semua yang tidak baik mengerubungi dirinya.
"Hem, anak ini! Mengapa kita harus banyak mengeluarkan banyak tenaga, sayang?" Keluh Gilbert pada istrinya.
"Selamat sore Nyonya Jennifer Oniela. Lama kita tidak bertemu," sapa Xelino mendekati Gilbert dan Jennifer di ruang tamu utama itu.
"Halo Xelino, kerjamu selalu memuaskan!" Kata Jennifer tersenyum memuji.
"Xelino, kau menyetujui pekerjaan barumu dariku kan? Maaf aku belum mengkonfirmasi padamu," ujar Gilbert sedikit takut Xelino tidak menyetujuinya.
"Tidak apa Tuan, aku memang membutuhkan beberapa bidang tanah di Serena dan kurasa aku membutuhkan waktu yang lama jika mendapatkannya. Aku menyetujui pekerjaan anda Tuan. Dengan begitu aku semakin bisa menabung dan kembali mengurusi lahan kakekku yang digadaikan," kata Xelino memberitahukan isi hatinya.
"Memang siapa nama kakekmu? Mungkin aku mengenalnya," tanya Gilbert memastikan.
__ADS_1
"Larry Janson," lagi lagi Xelino terlalu terbuka.
"Siapa?"
"Maksudku Larry Juan, tuan, maaf maaf," ujar Xelino lagi terkekeh dan menggaruk garuk belakang kepalanya.
'kenapa kau terlalu banyak berpikir, Xelino !!!' keluh Xelino dalam hati.
"Aku pernah mendengar nama Larry. Nanti saja kalau aku sudah menyelesaikan proyek baru kita, biasanya aku akan kembali meninjau dan kau bisa memilih lahan yang kau inginkan, Xelino," ujar Gilbert.
"Iya tuan, santai saja. Umm, tapi tuan, mohon maaf aku tidak bisa tinggal di sini, aku tidak mau terlalu mengekang Nona Carolyn karena itu juga tidak baik dalam proses perubahan dirinya. Kita juga ingin hal itu keluar dari dalam dirinya kan? Aku akan tetap tinggal di apartemenku tetapi akan menjemput dan memastikan Nona Carolyn sampai di rumah dengan selamat!" Kata Xelino menyarankan.
"Ahh, selain kau cekatan, pikiranmu sangat melangkah ke depan Xelino. Tidak salah aku merekomendasikan dirimu bekerja dengan suamiku kan?" balas Jennifer setuju dengan cara Xelino dalam merubah anaknya.
"Ohh, jadi anda yang merekomendasikan ku, terimakasih nyonya," ucap Xelino membungkukan tubuhnya lagi.
"Sama sama Xelino," balas Jennifer tersenyum.
"Aku suka dengan cara pandangmu. Baiklah, mulai besok aku akan mengatur gajimu dengan Lidya. Em, mobil yang kau gunakan bawa saja. Itu sudah merupakan kendaraanmu dalam mengantar jemput Carolyn. Aku tidak mengijinkan dirinya mengendarai mobil sport gila nya itu!" Kata Gilbert lagi.
"Siap Tuan, terimakasih atas kerjasamanya, aku permisi dulu. Besok aku pasti menjemput Carolyn, eh maksudku Nona Carolyn Aneeta Delinsky. Permisi Tuan, Nyonya," kata Xelino membungkukan tubuhnya dan keluar dari rumah itu.
Xelino menggoyang goyangkan kunci mobilnya berhasil selangkah di depan hanya karena Carolyn. Xelino terus tersenyum lalu masuk ke dalam mobil. Dia harus menceritakan pada ibunya.
...
Malam itu Carolyn masih sangat kesal setengah mati. Besok dia harus bekerja dengan Bibi Rietha. Bukan masalah Bibi Rietha, dia hanya takut seseorang mengenalinya di perusahaan itu. Dan mengapa Bibinya tidak langsung menyuruhnya menjadi arsitek. Carolyn cemas jika mendapatkan arsitek yang killer dan malah terus mengerjainya atau asisten yang genit yang nantinya akan memanfaatkannya.
Carolyn tidak habis pikir dengan semua ini. Belum lagi setiap hari dia harus bersama Xelino. Carolyn membaringkan dirinya di tempat tidur dan menutup wajahnya dengan bantal.
"Hidupku jadi berantakan sejak bertemu dengan si mata lancip dan rambut tegak itu! Argh sial! Matanya seperti rubah, rambutnya yang tegak juga seperti telinga rubah! Sadar, rubah jalanan busuk!! Tapi dia mirip siapa ya? Mengapa matanya mirip sekali dengan mata Tuan Leon ya? Hemm, tidak mungkin! MANA MUNGKIN dia anak Tuan Leon?! Anak Tuan Leon pasti sangat berkarisma. Dia pasti seorang direktur perhotelan atau memiliki sebuah perusahaan atau pemegang saham yang sangat ahli. Dia juga pasti cerdas dan berpendidikan. Bukan seperti si rubah jalanan ini, dia sangat brandal sekali, argh aku sangat membencinya! Lihat saja, aku akan membuatmu tidak betah dan segera mengundurkan diri sekalian pergi dari perusahaan Daddy!" Sungut Carolyn terus merajuk dan mendengus. Berceloteh kesal tiada tara. Dia pun kembali merebahkan dirinya setelah duduk kesal memikirkan Xelino.
Tiba tiba, suara notifikasi email pada Ipad-nya berbunyi.
Kling!
Sebuah pesan email masuk untuk Carolyn. Carolyn segera meraih ipad di meja kerjanya dan membuka email tersebut.
📝lionel@janson.com
Hay, aku Lionel Janson, salam kenal, kudengar dari papiku kau mencariku, ada apa?
Seketika terpancar guratan bibir melengkung indah dan lesung pipi di wajah Carolyn.
...
...
...
...
...
Nah lho, lu ngapain lagi xel 😝
Masa iya itu Lionel 😂
.
Next part 8
Apa sebenarnya tujuan Xelino?
Apa Xelino menyukai Carolyn
Bagaimana hari hari Carolyn dengan Xelino?
.
rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:
---- LOVE & HURT ----
karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤
__ADS_1