
Leon ijin sebentar untuk keluar ruangan pada Jeremy. Dia mengatakan hendak ke kamar kecil.
"Haiz! Akhirnya aku bisa keluar dari sana. Benar benar rapat yang membosankan. Aku bahkan tidak tahu apa yang mereka katakan. Sepertinya sudah pernah dikatakan oleh Tuan Dion. Ah bagaimana ini sekarang? Lexa sedang sendiri di taman kota itu. Bagaimana kalau tiba tiba secara tidak kebetulan si Gabe tengik itu datang dan mereka berdua berdansa?! Aarrghhh!!! Tidak tidak boleh! Kalau benar Gabriel datang dan berdansa dengan Lexa, tidak peduli aku akan membuat rusuh pesta dansa itu! Lagipula ada apa hari ini hari jumat mengapa mengadakan acara itu pada hari kerja seperti ini! Sialan!" Leon terus mengumpat sambil menggaruk garuk kepalanya kasar. Sesekali dia merenggut rambutnya.
Leon sesekali mengintip ke arah ruangan dan masih dalam keadaan tegang. Mengapa mereka semua tampak menikmati? Bos bos besar ini membuat kepalanya penat. Belum lagi Dion yang akhir akhir ini manja selalu minta diantar dan dijemput karna kekasihnya itu. Sementara dia di depan menyetir melihat bos nya terkadang berpelukan dengan Pevi. Cih, menyebalkan! Pikir Leon dalam hati.
Ketika dia hendak berbalik dan menuju kamar kecil, bosnya Dion sudah ada di belakangnya.
"Oh God! Bos? Kapan kau kembali? Mengagetkan!" Kata Leon masih mengelus dadanya.
"Tentu aku harus mengikuti rapat ini Leon, sepetinya papaku menungguku." Jawab Dion.
"Bagus sekali Tuan! Kau bisa kan mengantar Tuan besar? Aku ada urusan penting Tuan, dan kali ini kau harus menyelamatkanku dari rapat membosankan di dalam itu, ini menyangkut masa depan cintaku Tuan, aku pergi ya Tuan, sekali ini saja kau menjadi asisten ayahmu oke? Ya Tuan? Terimakasih, daaahhh..." Leon berkata tergesa gesa sambil menepuk nepuk pundak tuannya seperti temannya.
Dia lalu menjauh dari bosnya yang mana bosnya benar benar tidak mengerti jalan pikiran asistennya. Bisa bisanya Leon memperlakukannya seperti ini. Tapi, Dion merasa sudah biasa dengan sikap Leon yang kadang masih kekanak kanakan. Namun tetap apa daya, Dion menyukai Leon menjadi asistennya karna meski begitu Leon paling setia dan mengerti dirinya. Leon tetap akan bertanggung jawab akan pekerjaannya dan menghormati statusnya. Hal ini yang membuat Dion selalu menerima sikap Leon yang kadang seperti anak kecil.
...
Suasana hingar bingar pesta dansa semakin menyenangkan karna sang pemusik memberikan sentuhan sentuhan musik yang berbeda. Terkadang mengalun lembut sehingg pasangan akan mendapat feel ketika berdansa. Terkadang mengalun dengan sentuhan beat agar semuanya bersemangat dengan acara ini.
Pikiran Leon kali ini benar benar terjadi. Gabriel dan adiknya Mitha kebetulan sedang mencari makan malam dipinggiran kota dekat taman pusat kota itu. Mereka tinggal di sebuah apartemen kecil disekitaran tempat itu karna dekat dengan rumah sakit yang merawat ibunya.
"Kak, sepertinya di sana ada pesta dansa jalanan seperti di desa Honolulu, mau kah kita melihat?" Tanya Mitha menyarankan.
Gabriel sedikit menoleh dan sepertinya mengasikan. Dia butuh sedikit penghiburan pada pikirannya. Biasanya dia selalu ke bar bersama teman temannya, tapi sekarang mana bisa lagi dia melakukannya. Punya uang untuk makan sehari 2x dan untuk pengobatan ibunya saja dia sudah bersyukur.
"Ayo Mitha, kita butuh sedikit hiburan." Gabria menyetujui dan mendekati hingar bingar pesta dansa itu yang semakin menggembirakan.
Ketika mereka mendekat, Mitha melihat seseorang menjual seperti kembang gula berbentuk kapas yang menggumpal di tangkai tangkai. Mata Mitha tiba tiba berbinar binar melihatnya. Sudah lama sekali dia tidak menikmati permen kapas besar itu. Tapi dia berpikir lebih baik dia membeli makanan untuk sehari hari. Wajahnya mendadak muram jika mengingatnya.
"Mitha? Kau ingin sesuatu?" Tanya Gabriel yang memperhatikan raut wajah Mitha yang tidak biasa.
"Tidak kak, ayo kita melihat mereka yang berdansa?" Mitha mencoba meyakinkan Gabriel. Namun, Gabriel merasa adik perempuannya itu terus memperhatikan permen kembang kapas di depan mereka.
"Mitha, kau mau membeli kembang kapas itu?" Tanya Gabriel menahan tangan adiknya. Mitha mengangguk pelan dan tersenyum kecut.
"Baiklah, kita bisa memilikinya, kau tenang saja." Gabriel tersenyum seperti menuruti adik perempuannya ketika masih kecil.
Gabriel dan Mitha menunggu tukang permen kembang kapas itu dibuat. Mitha terus memperhatikan orang yang membuatnya, sementara mata Gabriel berkelana melihat suasana pesta dansa itu. Seketika matanya terpaku pada sosok wanita mengenakan blazer dan menggendong tas ransel di belakangnya.
Wanita itu tampak tersenyum melihat pasangan yang berdansa. Gabriel tersenyum tersipu.
~Ternyata Lexa memang sangat cantik. Dari dulu sebenarnya aku menyadarinya di balik kacamatanya. Namun, mengapa sekarang jantungku baru berdebar? Ahh Gabe, ada apa denganmu? Dia sudah memiliki Leon dan tidak mungkin dia memiliki rasa padamu, pecundang!~ pekik Gabriel dal hati.
Dia lalu berpikir hendak mendekatinya karna dia tidak melihat lihat keberadaan Leon disekitar Lexa.
"Mitha beli satu lagi kembang kapas itu, aku mau menemui temanku." Perintah Gabriel yabg disetujui oleh Mitha.
"Mitha kau tunggu dulu di sini aku hendak menghampiri temanku, tunggu ya?" Kata Gabriel lagi setelah Mitha menyerahkan 1 kembang kapas pada kakaknya.
Gabriel lalu menghampiri Lexa yang sedang bertepuk tepuk tangan mengikuti beat lagu yang berpacu.
"Ini untukmu Lexa." Gabriel menyodorkan kembang kapas di samping Lexa berdiri. Lexa agak terkesiap. Dis terkejut siapa yang mengenalnya di tengah tengah pesta seriuh ini.
__ADS_1
"Gabe? Sedang apa kau di sini? Ini untukku?" Tanya Lexa serabutan. Gabriel tersenyum dan mengangguk.
"Aku tak sengaja lewat di sini dan melihat pesta dansa ini. Adikku Mitha ingin melihatnya. Dan kau? Mengapa kau sendiri? Dimana Leon? Biasanya kau bagai amplop dan perangko. Jangan sampai dia salah paham lagi!" Jawab Gabriel dan dia kembali bertanya.
Lexa meraih kembang kapas itu dan membuka penutup pelastiknya. Dia jadi mengingat sesuatu, dulu sewaktu dia kecil, ibunya sering mengajaknya ke taman hiburan dan membelikannya kembang kapas besar berwarna merah muda. Dia tersenyum mengingatnya dan mulai mencubit permen kapas itu sedikit demi sedikit dan menikmatinya.
"Leon sibuk, dia kan asisten presiden direktur Hotel Prime, dia sedang rapat." Jawab Lexa sekenanya karna sangat senang mendapatkan kembang kapas yang sudah lama tidak ia makan.
"Benarkah? Seorang Leon yang kasar dan tidak jelas itu, tidak tau sopan santun itu asisten presdir hotel Prime? Kau bercanda Lexa!" Gabriel terbatuk setelahnya.
Dia tidak menyangka kalau lelaki yang sangat cemburuan dengan Lexa ada seorang yang hebat walaupun hanya asisten. Tapi, dia adalah asisten orang besar di Legacy. Siapa yang tidak tahu Hotel Prime. Hotel bintang lima terbesar di Legacy dan sudah membangun juga di mana mana.
"Ya itulah Leon ku, hihi, Leon ku, kau jijik tidak aku mengatakan Leon ku?" Lexa malah meminta saran pada Gabriel.
"Jijik! Kau sudah menjadi kekasihnya?"
"Belum."
"Lalu mengapa kau seperti tergila gila padanya? Lebih baik kau bersamaku, aku bisa langsung menyatakan aku menyukaimu, bagaimana Lexa?" Gabriel menatap Lexa tampak serius.
Lexa agak aneh dan seperti mengingat dulu Gabriel pernah melecehkannya. Lexa langsung agak menjauh.
"Hey! Kau jangan macam macam ya?! Kau tidak takut Leon tiba tiba datang? Kau bisa mendapatakan perempuan yang lebih dariku, tapi aku tidak mau!" Ancam Lexa sambil mengadahkan 1 tangannya agar Gabriel tidak mendekat padanya.
"Lexa! Kau jangan salah paham, aku sudah tidak seperti dulu lagi, aku hanya tidak mau cintamu di gantung di tali jemuran terus. Aku tahu kau mencintai Leon kan? Terpancar dari matamu!" Decak Gabriel.
"Sejak kapan kau menjadi dewa cinta?" Tanya Lexa memicingkan matanya.
Akhirnya Lexa kembali berdiri di samping Gabriel.
"Kakak! Kau ini bukan mengajakku malah terus berbicara dengan pacarmu! Sejak kapan kau mempunyai pacar!?" Tiba tiba Mitha datang menyusul kakaknya karna dia sudah menunggu terlalu lama.
"Pacar apa? Ini teman kuliah ku Lexa. Dia yang akan menolong kita mengambil kembali rumah hak kita, Mitha." Gabriel memperkenalkan Mitha dan Lexa yang sudah menoleh bertanya tanya siapa wanita kecil ini.
Mitha dan Lexa berjabat tangan lalu mengumbar senyum.
"Kak, dia cantik, mengapa kau tidak memacarinya saja?" Bisik Mitha ketika kembali berdiri di samping Gabriel.
"Dia tidak mau denganku!" Gabriel kembali berbisik.
"Hem, makanya wajahmu jangan terlalu buruk!" Umpat Mitha yang di dengar oleh Lexa. Lexa terkekeh mendengar ucapan Mitha.
"Diamlah!" Gabriel merangkul leher adiknya untuk membungkam mulutnya. Tak lama Mitha berusaha melepaskan bungkaman kakaknya.
"Em, kakak, kalian tidak berdansa? Dengar musik salsa, bukankah itu cukup mudah, sana kalian menari, kalian sudah lama tidak bertemu kan?" Mitha memberi saran. Gabriel melirik Lexa apa dirinya hendak berdansa karna sejak tadi Lexa hanya menikmatinya saja.
"Aku tidak bisa berdansa, kau saja dengan kakakmu ini, tidak diharuskan pasangan kekasih kok." Lexa menolak tapi diabaikan oleg Gabriel. Gabriel malah meraih pergelangan tangan Lexa dan menariknya ke lantai dansa. Lexa hanya mengikuti tarikan tangan Gabriel karna sebenarnya dia juga ingin menari tapi tidak memiliki pasangan.
"Wow Lexa, kau mendapat pasangan tampan dari mana? Dia siapamu?" Abby yang sejak tadi sudah di tengah tengah yang terus menari dengan Ben menyapa Lexa dan Gabriel.
"Dia temanku!" Lexa memperkenalkannya dengan singkat dan dia hendak mulai menari bersama Gabriel.
"Menarilah Lexa, semoga Leon tidak mengetahui kau bersama pria lain." Gurau Ben tersenyum.
__ADS_1
"Memang Lexa siapa temanmu? Hah Ben, sebaiknya kau katakan pada temanmu agar dia secepatnya menyatakan perasaanya pada temanku, atau dia akan didahului oleh pria tinggi itu!" Abby menyela.
"Bagaimana kalau aku dulu yang menyatakan perasaannya padamu, Abby?" Ben menarik tangan Abby untuk kembali menari sambil menggoda sahabat Lexa itu.
Lexa terkekeh melihat tingkah laku sahabatnya itu.
"Lexa, ayo kita menari?" Ajak Gabriel mengulurkan telapak tangannya untuk Lexa raih. Lexa agak ragu. Dia masih sedikit trouma. Perlahan dia mengulurkan tangannya. Pelan pelan dan?
Ada seorang pria yang meraih tangan Lexa. Pria itu lalu menggenggam tangan Lexa sangat erat lalu menatap Gabriel sangat tajam dengan mata lancip khasnya.
...
Setengah jam yang lalu.
Leon memutar mutarkan mobilnya hendak mencari tempat parkir namun entah mengapa dia sulit menemukannya karna taman kota benar benar ramai. Sampai dia melihat Gabriel dan Mitha menyebrang jalan yang ia lewati.
"Mau kemana dia dengan wanita kecil itu? Apa itu adiknya? Sebaiknya aku mengikutinya, siapa tahu aku mendapatkan tempat parkir dan damn! Benar kataku kan pria itu datang ke tempat ini dan pasti akan kebetulan bertemu Lexa! Dasar Srigala berbulu kerbau!! Aku tidak sudi mengatakan dia seperti domba!" Umpat Leon dan mengikuti Gabriel yang menyebrang jalan.
Hari ini semua pemikiran Leon sangat tepat. Dia menemukan tempat parkir di pinggir pohon, namun dia kehilangan penglihatannya terhadap Gabriel dan Mitha.
"Bedebah! Dia hilang! Sudahlah sebaiknya aku mencari Lexa dan Ben." Kata Leon ketika sudah memastikan mobilnya terkunci.
Dia lalu berjalan jalan menyusuri taman kota yang berhiaskan lampu dan musik pengiring dansa. Dia agak sulit menemukan Lexa ditengah lampu remang remang. Dia tidak menyerah dan tidak mau menghubungi Lexa. Dia mau memberi kejutan.
"Ah dapat! Tapi itu Abby dan Ben, ya pasti mereka tidak jauh dari Lexa. Aku datang kelinci kecilku .." Leon menyeringai hendak menghampiri Abby dan Ben. Namun dirinya benar benar harus menyusuri rintangan terlebih dahulu.
"Leon? Kau Leon kan? Kau masih mengingatku? Shella? Sudah lama sekali kita tidak bertemu? Aku merindukanmu!" Seorang wanita berpakaian cukup terbuka mendekati Leon dan menyapanya secara terang terangan.
"Hah? Shella? Ah iya, sudah lama ya.." Leon terkekeh sedikit berbohong karna dia benar benar lupa dengan wanita yang mungkin pernah ia pacari dengan singkat dan tanpa feel tertentu.
"Kau mau menari denganku? Ayo! Kita sudah lama tidak bertemu Leon!" Ajak Shella dan langsung menarik tangan Leon ke lantai dansa.
Ketika Shella dan Leon hendak melewati perbatasan lapangan untuk dansa, Leon melihat sekelebat perawakan Lexa dan Gabriel yang bertubuh tinggi itu. Leon sesaat berhenti menahan Shella yang menarik tangannya. Pria itu memicingkan matanya dan memastika kalau itu Lexa dan Gabriel.
Leon lalu menghempaskan tangan Shella.
"Leon, apa yang kau lakukan? Ayo kita berdansa?" Tanya Shella dan tidak menyerah mengajak Leon.
"Lain kali saja karna aku harus berdansa dengan seseorang!" Tutur Leon dengan nada datar dan penuh emosi.
Wajah Leon menegang ber api api. Dia benar benar kesal karna Gabriel menarik pergelangan tangan Lexa. Dia benar benar tidak rela.
...
Next part 35
Makanya buruan Leon bilang "mau kah kau menjadi kekasihku, Lexa?" Lama amaatt 😝😁
.
Penuhi like komen rate tip juga boleh
Thankyou laf you all 💋😍💕
__ADS_1