Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LEXA LEON PART 37


__ADS_3

"ada apa dengan Angel mam?!" Tanya Leon sedikit berteriak dan panik ketika ibunya menghubunginya. Jane sudah menangis menunggu dokter yang belum keluar dari ruang penanganan. Angel mengeluarkan darah namun sepertiny bisa di atasi.


"Leon, doakan adikmu! Aku sangat panik. Dia pingsan setelah sampai ke rumah sakit. Dia berdarah Leon!" Pekik Jane di sebrang sana.


Jantung Leon berdegup hebat. Dia kembali mengingat ke bulan yang lalu ketika dia melihat Lexa mengeluarkan darah yang banyak sekali.


"Kau tenang mom. Angel pasti baik baik saja. Di mana Tuan Jerry?" Selidik Leon sambil mengucek ngucek matanya. Jam sudah menunjukan pukul 6 pagi.


"Dia di dalam bersama Angel. Dia tidak mau jauh dari adikmu. Dan aku di sini di luar Leon sendirian!!" Jane masih menangis.


"Tenanglah mom jangan histeris begini! Kau juga harus berdoa. Di mana dad dan Juan?" Leon mencoba mengalihkan namun ibunya memang sungguh panik.


"Mereka di desa, Juan sudah sekolah dan dia sudah mengerti bersama dad mu! Yasudah beritahu Lexa dan ingat doakan Leon!!!" Jane mengingatkan.


"Iya kau tenang saja mom! Suruh Tuan Jerry mengabariku kalau sudah keluar mom!"


"Iya Leon .." balas Jane masih sesenggukan.


"Sudah jangan menangis, membuatku kepikiran saja!" Decak Leon sudah membuka matanya dengan sempurna.


"Aku takut .."


"Tidak akan terjadi apa apa, Angel wanita kuat, tenanglah!"


"Iyaa .." dan Jane mematikan panggilan.


Leon mengusap wajahnya kasar. Dia lalu menoleh ke belakang dan mendapati Lexa sudah duduk melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Lexa? Kau terbangun?" Tanya Leon cukup terkejut.


Lexa mengangguk.


"Kau mendengarnya?" Selidik Leon yang padahal dia tidak boleh mengingatkan pada Lexa.


Lexa mengangguk lagi dan tak lama dia memeluk Leon. Leon juga mendekapnya.


"Angel pasti baik baik saja. Dia lebih kuat dari baja. Dia dan anak nya pasti dalam lindungan Tuhan. Kau jangan bersedih!" Tutur Lexa mengusap punggung Leon.


Deg! Entah mengapa ini seperti pukulan keras bagi Leon. Lexa menyemangati Leon. Padahal seharusnya Leon tidak mengingatkan tentang hal hal seperti ini dulu. Namun mau bagaimana lagi, kalau kandungan Lexa masih ada, mungkin usia nya akan berdekatan dengan adiknya. Leon menarik napas dan hanya mengangguk angguk mengelus punggung Lexa.


...


Springfield,


"Kumohon dokter, aku hanya memiliki dia seorang! Aku sudah tidak punya siapa siapa lagi jadi ku mohon biarkan aku ikut masuk bersamanya. Aku hanya ingin di sampingnya melihat wajahnya dan memegang tangannya. Aku akan membayar berapapun yang kau inginkan bahkan melebihi gajimu satu bulan aku akan membayar demi bisa bersamanya. Aku mohon!" Pinta Jerry yang sudah panik dengan Angel yang sudah tak sadarkan diri. Darah sudah menembus sampai pakaian yang istrinya kenakan. Jerry hanya ingin menemani istrinya ketika penanganan.


"Biarkan dia ikut menemani anakku dokter, aku juga memohon!" Tambah Jane membantu menantunya agar bisa menemani Angel.


"Baiklah Tuan Jerry, tapi kau hanya boleh di atas kepalanya. Jangan menganggu tindakan yang akan kami lakukan!" Pesan sang dokter umum mengijinkan Jerry untuk bersama Angel di dalam ruang gawat darurat.


Jerry mengangguk dan segera memasuki ruang unit gawat darurat khusus.


Di sana Jerry benar benar di atas kepala Angel. Ternyata darah yang di keluarkan Angel masih bisa ditangani. Dokter sudah menyuntikan obat anti kontraksi dan membersihkan darah yang sempat keluar. Mereka lalu meriksa semua kondisi Angel dan dia membutuhkan sedikit darah juga vitamin untuk daya tahan tubuhnya. Setelah semuanya selesai Angel masih harus dalam perawatan ICU. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pemeriksaan sang dokter.


"Selamat pagi Tuan Jerry, aku dokter kandungan juga spesialis mata Presley Baron." Sang dokter yang sedang bertugas memperkenalkan diri pada Jerry yang sudah mau menunggui Jerry dari ruang kaca. Angel masih tak sadarkan diri dengan seluruh kekurangan yang sudah menghantuinya.


"Selamat pagi Dokter. Jadi bagaimana keadaan istriku?" Selidik Jerry menaikan alisnya.


"Ya, kondisi nya memang sangat lemah. Namun kami mengusahakan yang terbaik dan tidak mengambil jalan mudah. Bisa saja saya meloloskan janinnya tapi selama masih bisa ditangani, saya pasti melakukannya. Untung saja saya ada praktek pagi ini. Em begini Tuan .." jawab dokter Presley namun agak tersendat.


"Ada apa dok? Katakan saja. Aku dan istriku harus mengetahuinya dari sekarang agar semuanya bisa ditanggulangi dari sekarang!" Tanya Jerry lagi meyakinkan dokter Presley agar mengatakan yang sebenarnya.


"Iya Tuan Jerry. Sepertinya ada kelainan dari janin yang Nyonya Angel kandung. Namun, saya baru berspekulasi saja karna bentuk janin masih belum sempurna. Saya masih harus menjalani beberapa pemeriksaan. Untuk sementara Nyonya Angel harus di rawat selama tiga hari dan pemberian obat anti virus, penguat dan vitamin. Tapi Tuan saya harap Tuan dan keluarga memperhatikan gizi dan nutrisi yang harus dikonsumsi Nyonya Angel. Sepertinya dia kekurangan nutrisi itu." Tambah sang dokter akhir memberitahukan keganjalan pemeriksaannya.


Jerry menundukan kepalanya.


"Dia tidak bisa menerima makanan masuk Dok. Setiap makan dia selalu muntah bahkan meminum air. Terkadang dia hanya ingin cemilan tapi itu pun hanya sedikit. Kalau dipaksa Angel akan lemas dan tidur sepanjang hari Dok." Jerry menceritakan kondisi Angel sehari hari sejak kehamilannya.


"Baiklah, untuk sekarang memang harus ada pemeriksaan yang sangat signifikan. Semoga kita bisa usahakan yang terbaik. Tetap kuat dan percaya diri Tuan. Dan jangan lupa berdoa." Dokter Presley memberikan Jerry semangat.


"Terimakasih dok. Lakukan yang terbaik bagi anak dan istri saya dok." Tutur Jerry tersenyum tipis.


"Pasti Tuan Atkinson. Saya mengenal ayah kandung dan ayah angkat anda. Saya akan melakukan yang terbaik. Ketika sadar nanti dan semua kondisi nya membaik, Nyonya Angel sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Saya permisi Tuan. Selamat pagi." Dokter Presley pun pergi. Jerry masih menatap istrinya di sekat kaca bening itu. Tak lama Jane menghampirinya. Dia mengelus punggung menantunya.


"Ayah nya dan Juan akan datang kemari, nak!" Jane memberikan kabar. Jerry dan Angel membutuhkan banyak dukungan.


Jerry sudah melipat satu tangan di depan dadanya dan satunya lagi memegang dagu. Tak lama dia meneteskan air matanya. Dia melihat istrinya terbujur lemah di sana. Siapa yang tidak mengenal Angel. Seorang wanita yang lincah, ceria, selalu berbicara meskipun omongannya sederas air terjun. Kini tidak ada kekuatan dan berbaring bersama selang infus kantong asupan makanan Katong darah. Jerry kini benar benar merasakan apa yang dirasakan Leon. Selain itu dokter mencurigai ada sesuatu pada janin yang dikandung istrinya. Entah mengapa Jerry merasa kalau itu memang akan terjadi. Akan ada sesuatu yang dialami anaknya. Bagaimana perasaan Angel jika mengetahuinya? Awal kehamilan Angel memang sudah mendapat masalah karna sulit untuk makan. Selain itu banyak pikiran dan tekanan karna mengurus ayah mertuanya. Jerry benar benar gundah.


Jane mengerti perasaan menantunya. Dia seperti melihat Leon bersedih kemarin. Dia merangkul tubuh tinggi itu dan mengelus elus lengannya.


"Angel akan baik baik saja bersama anaknya. Aku yakin!" Jane berusaha menguatkan menantunya, padahal dirinya juga sangat lemah melihat anaknya yang jarang sekali sakit namun sekarang terbujur lemah di sana.


Jerry malah makin menangis namun tetap dalam keadaan tenang.


"Dia akan sadar, nak tenanglah!" Jane mengelus lengan Jerry makin kuat agar menantunya tenang.

__ADS_1


Tak lama Jerry harus menghentikan tangisnya. Sekarang dia sudah bertekad akan terus berada di samping Angel memberikan semangat dan memperhatikan nutrisi untuk tubuhnya. Semua ini harus ada yang dikorbankan. Dia tidak usah ke Legacy dan akan terus menetap di Springfield mengawasi istri dan anak nya.


...


"Leon! Aku turun ya?" Lexa menyadarkan suaminya yang tampak diam sejak mendapat panggilan dari ibunya.


"Ah, iya sayang! Nanti makan siang bersama?" Leon berusaha mengalihkan pikarannya sepanjang perjalanan ini.


"Aku tidak bisa! Ada rapat bersama Nyonya Viena, Solane dan tim kreatif untuk iklan kalian." Lexa terpaksa menolak.


"Oh baiklah, nanti saja aku menjemputmu kita makan di luar." Leon berusaha melebarkan senyumnya namun Lexa tetap mengetahui kegundahan hati suaminya.


"Leon? Kau sedang tidak baik. Mau ku antarkan ke hotelmu?" Lexa mencoba mengerti perasaan suaminya.


"Tidak! Aku hanya memikirkan Angel! Tuan Jerry belum mengabariku." decak Leon kesal.


"Dia pasti mengabarimu. Angel wanita kuat dia pasti baik baik saja." saut Lexa memegang bahu Leon.


"Dia tidak pernah sakit Lexa." Leon mulai mengingat adik perempuan satu satunya itu.


"Maksudmu?"


"Ya, dia tidak pernah sakit dalam jangka waktu satu hari. Setelah meminum obat atau sesuatu yang dibuatkan ibuku dia langsung segar bugar dan bercuit seperti burung gereja yang selalu bernyanyi tiada henti. Sekarang dia terbaring lemah tak sadarkan diri. Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya?! Damn it!" Leon malah memukul serutan mobil.


"Kau jangan begini lagi! Angel sedang berjuang. Dia tidak apa apa."


"Kenapa kehamilan ini sungguh membuat orang menderita Lexa?!" Leon berteriak di depan wajah Lexa membuat Lexa mengernyitkan dahinya.


Pak!


Lexa menampar Leon karna perkataan Leon seperti tidak mensyukuri sesuatu.


"Ini hanya masalah waktu! Kau yang mengingatkan ku! Semua ada nasib nya masing masing. Kau jangan menjadi gila lagi dan mabuk mabukan! Aku akan marah Leon! Sekarang awas! Biar aku yang mengemudi dan mengantarmu ke kantor! Ayo cepat!!" Lexa menarik narik jas Leon untuk bertukar posisi. Leon yang merasa tersadar atas tamparan istrinya mengikuti kemauannya.


Kini Leon yang berada di kursi pengemudi menopang dahinya. Lexa mengantarnya ke hotel Prime.


"Turun! Aku yang bawa mobilnya, nanti sore kau ku jemput! Ingat Leon sekali kau berulah, kau tidur di luar! Hubungi Tuan Jerry kalau sampai jam makan siang dia tidak menghubungimu, kau mengerti?!" Ancam dan pesan Lexa sambil mencengkram kerah kemeja suaminya. Leon mengangguk lirih. Dia lalu turun dan menaiki hotel menjulang tinggi itu menuju kantornya.


"Musang tengik! Menyuruhku untuk tidak bersedih tapi malah dia yang berkata tak karuan! Hem, semoga Angel dalam keadaan baik." Gumam Lexa sebelum menjalankan mobilnya kembali ke kantor iklan nya.


...


Sesampainya di kantor, Lexa yang sudah telat langsung membuatkan minuman untuk Viena. Ketika dia baru saja memasuki daun pintu, dia melihat Abby dengan dress yang agak megar melewatinya. Lexa agak tercengang karna tidak biasanya Abby menggunakan dress.


"Cantik sekali!" Gumam Lexa menggoda Abby.


"Ya ya aku paham! Bagaimana dengan gaun mu? Jangan terlalu press body tidak baik untuk penekanan perutmu!" Lexa mengingatkan masalah gaun pengantin yang akan digunakannya bulan depan nanti.


"Tenang saja Lexa! Hanya sebentar! Aku akan terlihat sangat cantik nanti! Em, bagaimana dengan dirimu? Apa sudah ada tanda tanda lagi Lexa? Kita bisa hamil bersama!" Gumam Abby yang sepertinya hendak membanding bandingkan.


"Entahlah, sepertinya belum dan tidak masalah bagiku." Balas Lexa tersenyum kecut.


"Sebaiknya cepat Lexa, usia kita semakin meningkat. Jika sudah terlampau tua maka kau akan tidak kuat, hihi!" Abby terkikik membuat Lexa mulai kesal.


"Apa maksudmu?!" Tanya Lexa mengernyitkan dahinya.


"Ya otot otot mu tidak akan kuat sehingga kau bisa kehilangan lagi, lalu sampai kapan kau akan memilikinya lagi?!" Jawab Abby benar benar hendak menyombongkan dirinya.


"Jadi, aku pun juga tidak bisa hamil lagi iya Abby?!" Tiba tiba Viena sudah berada di daun pintu karna dari dalam melihat pintu sudah terbuka namun Lexa tak kunjung masuk


"Nyonya Vien?!" Abby terkejut dengan kemunculan atasannya yang tiba tiba.


"Iya aku?! Kau ini kenapa jadi sombong sekali hah?! Hati hati kandunganmu menjadi tidak baik. Aku sudah berusia 28 tahun dan sebentar lagi akan berkepala tiga. Bagaimana jika aku mengandung lagi bahkan anak kembar dua, tiga, bagaimana? Kau sudah menyumpahi ku keguguran duluan, iya? Lebih baik kau urus pekerjaan dan kandunganmu. Tidak usah memikirkan Lexa! Lexa dan Leon memiliki urusannya sendiri. Mengerti tidak? Dan kuperingatkan padamu segera selesaikan konsep iklan Tuan Revo! Dia sudah kembali dan menanyakan proposal iklan nya!" Decak Viena panjang dan lebar.


Abby dan Lexa agak terkejut dengan Omelan Viena. Entahlah apa yang terjadi dengan atasan mereka itu. Tapi Abby memang sedang dalam masa pengenduran sejak dia hamil dan keluarga Ben menyetujuinya. Abby menjadi arogan dan seenaknya.


"I i i iya Nyonya!" Abby terdiam seribu bahasa dan menyetujui perkataan nyonya nya.


"Itu sudah satu bulan yang lalu tapi kau belum melaporkannya padaku!" Decak Viena lagi kembali berjalan ke dalam ruangannya.


"Rasakan kau!" Umpat Lexa lagi. Dia juga sangat kesal dengan perkataan Abby, padahal dia tidak mengganggunya. Pantas saja Solane juga sangat membencinya.


"Hem!" Abby malah memalingkan wajahnya.


Lexa pun menyusul tuannya dan meletakan secangkir green Tea hangat untuk Viena.


"Hari ini aku akan membahas konsep iklan Hotel Prime yang sedikit sudah dibahas Leon, nyonya. Kita juga akan bertemu dengan Solane nanti siang Nyonya." Lexa mengingatkan jadwal Viena.


"Hem!" Viena menyetujui dengan dingin.


"Kau kenapa nyonya? Ada sesuatu yang membuat mu cemas?" Selidik Lexa agak takut.


"Ya, aku memikirkan keluargaku." Jawab Viena frustasi.


"Ada apa nyonya? Apa Tuan besar Jovanca, Tuan Johanes baik baik saja?" Lexa malah mengingat pria tua itu yang memang sudah lanjut usia.

__ADS_1


"Ya, memang akhir akhir ini kondisinya menurun! Argh!!!! Pantas saja Dior rewel terus, dan Dion tidak enak badan karna kurang tidur." Dengus Viena.


"Mungkin karna usia Nyonya. Apa kau ingin ke Honolulu?" Lexa hanya memastikan.


"Entahlah. Sekarang kau keluarlah dulu Lexa! Kau kerjakan laporan tim kreatif rapat kemarin dan ingatkan aku kalau Solane sudah datang." Saut Viena masih sangat bingung dengan semua ini.


"Bagaimana dengan Tuan Egnor dan Nyonya Claudia? Mereka baik baik saja kan? Karna kau mengatakan keluargamu." Lexa masih belum puas.


Viena hanya mengangguk namun ada guratan perasaan sedih yang mencekam dalam wajahnya. Dia pun memijat dahinya. Dia hendak ke Honolulu tapi sedang banyak proyek iklan besar juga pekerjaan Dion yang sedang tidak memungkinkan untuk keluar kota. Selain itu dia tidak bisa meninggalkan Dior.


Sebelum Lexa keluar, Viena mengangkat panggilan dari Claudia.


"Tenanglah kak! Tidak apa apa, aku yakin kak semua akan baik baik saja, kau tenang ya?! .. " Viena terus berkata kata dan menyuruh Lexa keluar. Sepertinya Viena tidak ingin Lexa berpikir yang macam macam. Saat ini Lexa hanya berdoa agar tidak terjadi apapun pada semua keluarganya. Angel. Maupun keluarga atasannya. Karna secara tidak langsung, keluarga Viena juga merupakan keluarganya.


...


Hem, Lexa harus lagi lagi menarik napas karna pasti ada sesuatu yang terjadi pada Solane. Tepat jam makan siang Solane sudah datang dan tentunya bersama Jacklyn. Jacklyn sudah sibuk bersama Susan dan Delon. Sedangkan ibunya sendiri saling memalingkan wajah pada Abby di ruang rapat itu.


"Ada apa denganmu? Mengapa wajahmu tertekuk seperti itu?" Tanya Lexa ikut duduk di samping Solane


"Rico mengirimiku ini!" Solane lalu mengeluarkan sebuah kotak tidak terlalu kecil tapi juga tidak terlalu besar berwarna hitam. Lexa terkejut dan Abby tentu saja melirik.


"Boleh aku membukanya?" Tanya Lexa terlebih dahulu dan Solane mengangguk. Lexa lalu membukanya. Di sana terdapat sebuah gelang emas dengan taburan kristal yang begitu indah.


"Wuahhh, cantik sekali Solane?! Hem, kau mau menyombongkan diri?" Lexa melirik menggoda Solane.


"Mana ada, memang aku dia!" Solane berdecih dan membisikkan sesuatu pada Lexa.


"Ya sudah terima saja, kenapa kau jadi bingung!" Decak Lexa.


"Dia hendak membawaku ke Honolulu!" Bisik Solane lagi.


"Memang harus seperti itu, tapi kenapa mendadak?" Lexa memicingkan matanya.


"Karna dia harus menjaga tambang emas ku. Tambang emas ku mulai menyerukan nama Leon, Lexa, ini sangat berbahaya!!" Kata Solane lagi tanpa sadar.


"Apa?!!!" Lexa berdiri terkejut sambil menggebrak meja. Pikirannya mulai kemana kemana. Dia menatap Viena yang kebetulan sudah datang dan berada di daun pintu. Tatapan dirinya dan Viena datar. Seperti mempunyai ikatan batin yang mengharuskan pasangan asisten dan bos itu tetap berdiri kokoh dan kuat.


Sementara Solane sudah menutup mulutnya. Dia tidak sadar mengatakan ini pada Lexa.


"Habislah aku dengan Rico!!" Solane merutuki dirinya.


...


...


...


...


...


lah mulut mulut sol!! 😂😂


.


next part 38


apa Solane dan Rico akan menikah dalam waktu dekat?


apa Angel dan bayinya akan membaik secepatnya?


dan, bagaimana Lexa menanggapi respon mengenai Nyonya Bella?? 😁😁


tetap fokus pada pemain di asisten dan abaikan yg lainnya .. akan ada bagiannya sendiri 😁😁


.


Jangan lupa bubuhkan jempol kalian pada logo LIKE dan kasih KOMEN kalian .. apapun sangat membantu mood vii dan smangat luar dalam haha .. kalau boleh kasih RATE nya bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟


Dan VOTE nya yaa di depan profil novel 😍😍


.


Happy reading, thanks for read and love you somuch all 💕💕


.


rekomendasi novel yang ga kalah menarik :


- Tetaplah Bersamaku (happyteen)


- Tak Dianggap


- Deja Vu : Jasmie & Chest

__ADS_1


- Love & Hurt


mampir yuks 😍😍


__ADS_2