Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 18. Fever


__ADS_3

Hati yang hanya menyukai biasanya karena kekaguman dan kebaikan sesaat, sedangkan hati yang merasa sampai menyatakan kenyamanan biasanya cinta yang belum disadari. Lalu, bagaimana hati yang mengenang masa lalu? Merasa gugup hanya karena kenangan indah walau bukan dengan orang yang sama. Ketika berada di jam berbeda akan kembali melupakan karena terlalu menyakitkan jika terus dikenang. Sebenarnya, bagaimana perasaan Xelino terhadap Carolyn? Apa hanya sekedar majikan yang perlu dilindungi? Sementara bagaimana perasaan Carolyn pada Xelino? Mana mungkin hanya karena tidak ingin Xelino terjadi apa apa.


...


Carolyn melajukan mobil itu menuju ke sebuah apartemen di dekat dengan Atkinson de Angel. Carolyn memicingkan matanya mengapa Xelino bisa tinggal di apartemen ini. Apartemen dengan kawasan yang sangat bersih dan cukup elegan walau tidak terlalu mewah. Namun, Carolyn merasa Xelino pria yang sangat bersih pantas saja aroma tubuhnya berkelas juga kerapihan pakaian pakaiannya.


Carolyn masih melihat lihat gedung apartemen yang hanya terdiri dari delapan lantai. Carolyn membawa mobil itu ke basement apartemen.


"Kau benar tinggal di sini, Xelino?" Selidik Carolyn.


"Hem ..." Jawab Xelino yang masih memejamkan matanya dan bersandar pada kursi penumpang.


"Siapa yang membelikanmu apartemen bagus ini? Bukannya kau pertama kali bekerja dengan daddyku dan denganku?" Tanya Carolyn lagi sangat penasaran.


"Pacarku, Zhavia," gumam Xelino asal. Xelino masih berusaha menyadarkan dirinya agar tidak berkata yang macam macam.


"Haiz, kau jangan bermimpi mempunyai pacar, kau sebut namanya lagi!" Dengus Carolyn sedikit sebal.


"Terserahmu percaya atau tidak. Kau sudah menemukan parkiran belum? Taruh di mana saja, tidak masalah!" Saut Xelino menunjuk nunjuk ke luar jalan.


"Iya, aku mencari dekat lift ke atas!" Kata Carolyn mengerutkan bibirnya sebal mendengar kata kata Xelino yang sepertinya meyakinkan.


Akhirnya Carolyn memarkirkan mobilnya dekat lift ke atas. Carolyn mematikan mesin mobilnya dan membuka pintu mobilnya hendak memapah Xelino tapi ternyata Xelino sudah membuka pintu mobilnya lebih dulu. Ketika Carolyn sampai di pintu mobil Xelino, Xelino baru saja berdiri, Carolyn terkejut dan kakinya kembali sakit. Dia hilang kendali dan malah menabrak Xelino. Bibir mereka bertemu karena Xelino menundukan kepalanya dan Carolyn mendongakan kepalanya karena terkejut Xelino sudah berdiri.


Merek berdua saling melihat. Xelino sudah memegang lengan Carolyn sementara tangan Carolyn memegang dada Xelino. Carolyn membelalakan matanya tapi Xelino malah menyeringai.


"Kau mau kemana?" Tanya Xelino tersenyum dan wajah Carolyn sudah merah merona. Mereka pun menarik diri masih berpandangan.


"Aku, aku, aku mau membantumu berjalan," jawab Carolyn terbata. Dia menundukan kepalanya menutupi wajah merahnya.


"Kakimu saja masih sakit, mau membantuku," balas Xelino masih tersenyum.


"Yasudah, kita saling berdampingan saja," gumam Carolyn salah tingkah.


"Sepertinya kau suka sekali berjalan di sampingku, nona," ujar Xelino melebarkan senyumnya.


"Tidak! Ini hanya karena kau sedang sakit saja! Masa aku mu bersanding dengan asisten!" saut Carolyn masih merendahkan pria yang mungkin sudah menerobos hatinya.


Xelino hanya tersenyum dan mereka terus berjalan berdampingan menaiki apartemen Xelino. Sesampainya di depan kamar apartemen, Carolyn masih melihat lihat sekitar kawasan apartemen Xelino yang benar benar tampak seperti kawasan go green yang banyak tanaman pot.


Xelino mengambil kunci kartu pada saku jasnya dan membuka kamar apartemennya. Sejenak dia mengingat ada beberapa foto frame dirinya dengan ayah dan ibunya. Ada juga dengan Dior, Zhavia dan Zefanya. Tak lupa dengan Viena dan Dion. Xelino harus seribu langkah cepat menyembunyikan foto foto itu apalagi foto bersama ayahnya.


Tampak Carolyn masih melihat lihat ketika pintu sudah dibuka. Cepat cepat Xelino masuk ke dalam dan menyembunyikan gram frame foto tersebut ke dalam laci di bawah tempat memajang foto tersebut.


"Kau sedang apa Xelino?" Tanya Carolyn yang sudah memasuki kamar apartemen Xelino.


"Aku mencari obat, kepalaku sakit sekali!" Jawab Xelino berdalih.


"Biar aku saja yang mengambilnya, apa kau tidak memiliki kotak obat?" Kata Carolyn lagi sudah berada di belakang Xelino sambil melihat lihat.


"Tidak, aku tidak punya, sudahlah sepertinya sudah habis, aku akan membersihkan diriku," saut Xelino hendak ke kamarnya.


"Jangan!" hardik Carolyn.


"Ada apa?" tanya Xelino menghentikan langkahnya dan setengha menoleh.


"Kau sedang demam, kau ganti baju saja, biar aku memasakan sesuatu untukmu," kata Carolyn menundukan kepalanya dan memikirkan sesuatu.


'Carolyn? Memang kau bisa masak apa? Percaya diri sekali kau!' seketika Carolyn merutuki dirinya dalam hati.

__ADS_1


Xelino akhirnya berbalik dan tersenyum tipis. Dia lalu mendekati Carolyn.


"Aku membutuhkan rendaman air hangat, apa kau ingin bergabung denganku, harimau kecil?" ajak Xelino bergurau sambil memegang puncak kepala Carolyn.


"Rubah mesum, kusetrum kau dari air sehingga kau mati kalah kau seenaknya denganku!" Decak Carolyn menghempaskan tangan Xelino dan sudah membuat silang pada tangannya di depan dadanya.


"Maka diamlah, duduk di sofa itu dan hubungi resto Atkinson de Angel untuk memesan makanan. Setelah aku berendam dan makan, aku akan mengantarmu pulang," balas Xelino lagi dan menuju ke kamar tidurnya. Kamar mandi utama memang bergabung dengan kamar tidurnya. Sementara ada satu kamar mandi lagi di samping dapur.


Carolyn masih tertegun di sana. Apa yang harus ia lakukan. Dia tidak boleh memesan makanan begitu saja. Dengan begitu, Xelino akan benar benar menyatakan dirinya anak manja yang tidak bisa apa apa. Padahal memang dia tidak bisa apa apa.


"Argh! Apa yang harus kulakukan?!" Dengus Carolyn meletakan tasnya dan berpikir. Dia lalu menuju ke dapur yang bersebelahan dengan ruang tamu. Carolyn akui apartemen ini cukup mininalis untuk ukuran seorang pria seperti Xelino. Carolyn membuka kulkas dan melihat di sana ada beberapa telur, sosis, dan ayam yang seperti sudah di marinasi dengan garam dan lada hitam dalam sebuah wadah. Carolyn meraih wadah berisi ayam itu dan membukanya. Aromanya begitu harum walau belum dipanggang atau digoreng. Kebetulan Carolyn juga menyukai Bumbu lada hitam.


"Sepertinya ini akan sangat lezat jika digoreng, eh tapi bagaimana caranya?" Pikir Carolyn lagi dan meraih ipadnya. Xelino belum keluar dari kamarnya. Cepat cepat dia mencari di situs pencarian mengenai cara menggoreng ayam.


"Oh God! Menggoreng ayam saja aku mencari pada situs pencarian ini, bodoh sekali kau Carolyn! Sepertinya aku akan mendatangkan chef terkenal untuk mengajariku. Hem, bagaimana kalau Tuan Muda Wilson Jovanca dari Honolulu itu, dia tampan sekali, aku jadi gemas membayangkan dia membuat pasrty yang lembut dan manis. Eh, tapi Xelino tidak kalah tampan dengan matanya yang sangat menyentuh jiwa ku. Eh, kenapa aku jadi terkagum dengan si rubah gila itu, tidak tidak! Carolyn, mungkin kau masih mencintai Aciel tapi tidak ada salahnya membuka diri untuk Lionel. Ya ya, Lionel tujuanmu sekarang untuk mendapatkan lahan impianmu, Carolyn! Aahh, kau centil sekali Carolyn!" tutur Carolyn berceloteh sendiri karena gugup hanya karena ingin menggoreng ayam.


Akhirnya dia sudah paham dan mulai mempraktekannya.


"Nyalakan kompor ke kanan atau tombol on," ujar Carolyn memutar tombol kompor gas perlahan dan menyalalah apinya.


"Oke berhasil! Kau memang jenius Carolyn! Lanjut, kecilkan api ke kiri jika terlalu besar,"


Carolyn mulai memutar tombol ke kiri untuk mengecilkan.


"Oke semakin hebat saja kau, istri idaman." Carolyn terus memuji dirinya dengan sangat bangga padahal hanya menyalakan kompor dan tentu saja dia tidak tahu akan menjadi istri idaman siapa. Terkadang Carolyn seperti wanita kebanyakan yang menyukai pria pria tampan berparas tegas namun sangat manis ketika tersenyum.


"Taruh teflon atau penggorengan di atas kompor yang sudah menyala dan tuang minyak goreng atau mentega," kata Carolyn lagi sangat perlahan. Sejenak dia berpikir mengapa dia niat sekali melakukan ini semua. Carolyn menggeleng dan harus melakukannya dengan tulus. Xelino sudah sangat baik padanya.


Carolyn sudah menaruh sebuah teflon kecil dan menaruh minyak goreng yang bertuliskan ekstra virgin olive oil.


"Minyak ini sangat berkelas, aku tahu merek minyak ini. Apa jangan jangan Xelino seorang intel yang menyamar? Tadi saja aku melihat merek jasnya Giorgio Armani, hem aku harus selalu mengintainya! Xelino rubah licik keparatt!!" Decak Carolyn mencengkram botol minyak itu dan memicingkan matanya.


Carolyn kembali meletakan botol minyak itu dan kembali membaca petunjuk pada ipadnya.


"Awwwww!!!!! Aaaaww!!" Teriak Carolyn memegang tangannya yang terkena letupan minyak tersebut. Selain itu ternyata tombol kompor tidak dikecilkan sekali sehingga masih cukup besar.


"Awww, sakit sekali!!! Ooh mommy, Daddy, tanganku panas, sakit!" Keluh Carolyn sudah meneteskan air matanya. Dia benar benar shock juga kesakitan.


Xelino tentu mendengarnya. Dia panik dan takut terjadi apa apa pada Caroly. Dia hanya mengenakan handuk yang ia lilitkan pada pinggangnya.


"Ada apa nona?" Tanya Xelino keluar dari kamar. Dia tidak menemukan Carolyn di ruang tamu. Xelino lalu menuju ke dapur dan melihat Carolyn memegang tangannya sudah menangis.


"Kau kenapa?" Tanya Xelino memegang tangan Carolyn.


"Kena minyak, Xelino, panas sekali!!" Carolyn merintih masih melihati tangannya tanpa memperhatikan Xelino yang bertelanjang dada.


Xelino melihat memang terdapat bercak merah di sekitar lengan putih Carolyn. Xelino juga melihat kompor menyala dengan teflon di atasnya menggoreng sesuatu.


"Astaga Nona, sudah kubilang pesan saja mkanana mengapa kau menggoreng ayam? Lagi pula ayam ini untuk dipanggang, jelas saja kau tercipart minyak. Apa ini semua sakit?" Selidik Xelino memegang beberapa bercak merah di sana. Carolyn mengangguk pelan dan saat itulah dia menyadari kalau Xelino di depannya hanya mengenakan handuk. Carolyn berusaha terdiam dan tidak mau membayangkan perut Xelino yang sepertinya rata dan berbentuk. Belum lagi dadanya yang pasti bidang dengan sedikit membusung. Sampai akhirnya Carolyn harus melihat tubuh atas pria itu.


Xelino menegakan tubuhnya dan mematikan kompor, dia mengajak Carolyn untuk duduk di sofa saja. Tentu saja kini Carolyn sangat jelas melihat tubuh Xelino yang sempurna. Lengan yang besar dan berotot, dada yang bidang, perut yang rata, dan tak lupa pinggang yang sesuai dengan paha dan kaki. Carolyn tertegun melihat semua itu sampai ia sulit merintih perih tangannya.


"Nona, hati hati kau ngiler! Biar ku ambil gel!" Kata Xelino menyadari dirinya bertelanjang dada dan Carolyn terkagum kagum. Dia pun menuju ke kamarnya lagi dan mengenakan pakaiannya juga mengambil gel luka bakar.


Jantung Carolyn sungguh berdebar tak karuan. Dia harus menormalkan dirinya dengan menepuk nepuk kecil pipinya. Tak lama Xelino datang sudah berpakaian celana training panjang dan sweater putih yang menutupi lehernya. Rambutnya dibiarkan menutupi dahinya. Carolyn menyadari kalau ternyata Xelino benar benar tampan.


"Kurasa sebentar lagi kau tertular padaku, nona karena wajahmu kini sangat merah, ada apa denganku? Karena ketampananku?" Kata Xelino menghampiri Carolyn duduk di sampingnya. Carolyn menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Tanganku sakit," ucap Carolyn menundukan kepalanya. Entahlah dia jadi terdiam seperti ini. Sejujurnya dia takut bisa menyukai pria lagi. Mungkin dengan Xelino, tidak dengan Lionel yang hanya tersenyum ketika mendapat pesannya. Sementara dengan Ansel? Karena mengingat Aciel saja, Carolyn menjadi gugup. Sedangkan bersama Xelino, khususnya sudah dua hari ini mengapa lebih ke semua rasa. Rindu, sedih, senang, tertawa, kesal, gembira, suka, duka, gugup, marah. Semua Carolyn rasakan sama seperti ketika pertama kali dia menyukai Aciel.

__ADS_1


Xelino meraih tangan Carolyn dan mulai mengoleskan gel itu pada bercak merahnya. Carolyn lagi lagi memperhatikan Xelino. Begitu hangat dan lembut. Ingin sekali Carolyn meraih rambutnya itu dan mengacak acaknya lalu mengatakan terimakasih sayang. Carolyn tersenyum. Semua hanya halusinasi. Kalau dia memang menyukai Xelino, bagaimana dengan Xelino. Mana mungkin Xelino menyukai wanita sepertinya. Wanita yang selalu memarahinya. Untuk sementara Carolyn tidak peduli dengan hal itu. Cukup dia saja yang merasakan. Tetap jadi diri sendiri dan bertindak seperti majikan.


"Aw, Sakit Xelino! Kau kasar sekali!" pekik Carolyn mengalihkan degup jantungnya yang mulai kembali tidak jelas.


"Untuk apa kau memasak? Kau tidak mendengarkanku!" decak Xelino merasa sangat bersalah karena meninggalkan Carolyn dengan notabane si anak mommy.


"Aku takut kau meledekku karena tidak bisa masak," sungut Carolyn menampilkan wajah bersedih.


"Aku sudah tahu, nona besar dan manja sepertimu tidak akan bisa memasak. Maka dari itu aku menyuruhmu memesan makanan. Nah, sudah selesai. Kau bawa gel ini pulang ke rumah untuk digunakan lagi nanti malam sebelum tidur," kata Xelino dan menuju ke telepon apartemennya. Dia memesan makanan untuknya dan Carolyn.


"Maafkan aku Xelino, aku jadi membuatmu lelah," ucap Carolyn melemah. Karena hatinya yang sudah seperti mencintai seseorang, dia jadi bingung mau bagaimana lagi. Dan, karena Carolyn sudah lapar.


"Tidak apa apa, ini sudah pekerjaanku. Sekarang biarkan aku tidur sebentar selagi menunggu makanan datang. Em, kalau kau mau membersihkan diri atau mencuci muka, sana di kamarku tapi aku tidak memiliki baju wanita. Atau mau kupinjamkan pada Allegra? Dia suka menyimpan pakaian di motel ibunya itu, mau?" tanya Xelino menawarkan mendekatkan wajahnya ke depan Carolyn.


"Tidak tidak, jangan merepotkan. Aku hanya akan mencuci muka," balas Carolyn tersenyum tipis.


"Baiklah, bangunkan aku kalau makanannya sudah tiba," pinta Xelino dan mulai mengambil posisi nyaman di sofa putih panjangnya.


Carolyn mengangguk tersenyum. Pertama Tama dia menunggu Xelino tertidur dan masuk ke dalam kamarnya. Carolyn mengendusi aroma therapy seperti aroma baby yang begitu lembut. Carolyn tersenyum merasakan ketenangan ini. Dinding kamar Xelino berwarna abu abu tua dengan list putih di tengahnya. Warna seorang pria klasik juga manly. Bed cover dan sepreinya juga berwarna abu abu bercampur putih dan hitam. Tak lama Carolyn memicingkan matanya melihat sebuah frame foto kecil di atas nakas samping tempat tidur. Carolyn menghampirinya dan melihat di sana Xelino berfoto sambil merangkul seorang wanita.


"Hem, apa ini benar pacarnya? Mereka sangat serasi," gumam Carolyn lirih dan melihat bagian bawahnya bertuliskan with Zhavia ❤️


Seketika di dalam hatinya ada rasa sesak yang tidak bisa tersampaikan.


...


...


...


...


...


yealah Lyn timbang Poto doang, tanya aja sana ya paling Xelino bilang pacar 😂😂😂


.


next part 19


hayo hayo, apakah Carolyn semakin melunak pada Xelino atau hanya ia pendam saja?


apa reaksi Carolyn selanjutnya melihat foto itu?


bagaimana Xelino akan lebih menjaga Carolyn?


.


rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:


---- LOVE & HURT ----


karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2