
LIKE LIKE DULU YUKS 😍😍
...
Kelihatannya berjalan dengan kaki dan langkah yang kecil tapi siapa tahu kalau suatu saat akan menjadi jalan yang kuat. Carolyn dan Xelino sama sama menjajaki dunia kerja yang sebenarnya dari awal. Dengan perlahan dan kendala kendala kecil. Rietha tidak pernah membuat Carolyn seperti pegawai kesayangan karena dia adalah keponakannya. Begitu juga dengan Xelino. Ayah ibunya tidak diperkenankan untuk membantunya. Lalu, bagaimana Xelino membantu Carolyn menjalani ini semua? Apakah mereka malah akan menjadi pasangan solid dan bukan hanya sekedar majikan dan asisten?
...
Xelino akan menjalani hari yang berat ketika ibu kandung dan nenek angkatnya datang k Springfield. Namun, dia tidak bisa menolak. Ibunya kemari terakhir dia wisuda dan belum datang berkunjung lagi. Sementara nenek angkatnya, Claudia Jovanca apalagi sudah lama sekali dia tidak bertemu. Terakhir bertemu ketika Xelino kenaikan high scho berlibur ke Honolulu bersama ayahnya dan Dior.
Kini dia harus memikirkan bagaimana agar Carolyn tidak mengetahui kedua sosok terpenting dalam hidupnya itu. Mengingat wajah sang nenek angkatnya selalu terpampang di media bersama suaminya. Sementara ibunya? Sudahlah, Xelino benar benar harus memikirkan sebuah rencana itu dengan sangat matang.
Xelino berkali kali menarik napas panjang mengingat satu Minggu ini akan berjalan dengan cepat. Dia menutup satu matanya dan menggelengkan kepalanya bingung. Carolyn masih menikmati kue nya. Dia cukup puas melihat keadaan Xelino yang sedang linglung ini.
"Xelino, kau kenapa?" Selidik Carolyn.
"Mamiku akan datang ke Springfield," jawab Xelino murung.
"Lalu?"
"Entahlah, mungking aku akan cuti sebentar, nona. Kau jaga dirimu baik baik ya?" Gumam Xelino berpura pura sangat sedih.
"Argh, kau drama Skali! Memang mamimu kenapa? Bergaya sekali kau memanggil mami!" Decak Carolyn meledek.
"Begitulah, mami ku sangat repot sekali, bukan hanya itu, dia akan mengajak Granny ku," sungut Xelino menundukan kepalanya.
"Granny mu dari desa?"
"Bukan dari Honolulu,"
"Wuah, kau punya Granny dari Honolulu, dia ibu dari mamimu?" Carolyn memastikan.
"Begitulah," kata Xelino lagi menghela napasnya.
"Jadi nona, sepertinya aku akan menemani mereka. Kau bisa sendiri dulu kan?" tutur Xelino lagi melemah.
"Gajimu kupotong!" ancam Carolyn yang ragu ragu bagaimana jika dirinya sendiri nanti.
"Terserah," saut Xelino tidak peduli. Carolyn jadi penasaran.
"Apa mamimu galak Xelino?" selidik Carolyn mencari cari wajah Xelino.
"Tidak, tapi dia ingin aku menemaninya," keluh Xelino lagi. Sebenarnya dia bisa bekerja tapi dia tidak tahu cara menjauhkan ibunya dengan Carolyn agar penyamaran jangan terbongkar dulu.
"Iya iya baiklah. Sudah kau jangan bersedih, aku mengijinkanmu, sekarang ayo kita beli perlengkapan tugas ku," kata Carolyn mencoba mengerti.
"Ah iya kau benar, sebelum aku cuti aku akan menyelesaikan tugasku. Kau tunggu di sini biar kubelikan. Apa saja yang kau butuhkan?" Kata Xelino sudah beranjak dari duduknya yang tiba tiba begitu antusias. Carolyn lagi lagi terkejut dengan sifat berubah ubah Xelino.
"Xelino??" panggil Carolyn sesaat. Xelino menatap Carolyn dengan menaikan alisnya.
"Aku ikut," pinta Carolyn memelas.
"Kakimu sedang sakit, kalau kau tidak beristirahat nanti kau sulit berjalan," kata Xelino mencoba memberi pengertian.
"Aku akan menggandeng lenganmu dan berjalan pelan. Aku tidak mau sendiri di sini," keluh Carolyn.
"Heemm, baiklah, ayo?" Kata Xelino mengalah dan akhirnya mereka memasuki toko buku bagian perlengkapan prakarya bersama.
Selama mencari maket yang Carolyn butuhkan, Carolyn agak kurang fokus karena aroma tubuh Xelino yang memabukan dirinya. Carolyn lebih tenang dan rasanya ingin selalu dekat dengan Xelino. Carolyn jadi beranggapan kalau Xelino bukan orang rendahan atau tidak punya. Carolyn jadi mencurigai dan penasaran dengan latar belakang Xelino. Bukan hanya aroma tubuhnya yang berkelas tetapi gaya berpakaian yang sangat rapi. Carolyn tahu kalau Xelino bekerja di perusahaan tetapi gayanya begitu elegan. Berbeda dengan James yang seenaknya.
"Xelino, apa nama parfum mu?" tanya Carolyn tiba tiba.
"Aku tidak memakai parfum," jawab Xelino berbohong. Dia tidak boleh asal bicara lagi.
"Tapi kenapa seperti aroma Hugo boss terbaru?" selidik Carolyn memicingkan matanya.
'Sial, kenapa dia tahu?' dengus Xelino dalam hati.
"Kau ini pengamat parfum atau bangunan sih?"
"Dua duanya. Aku menyukai parfum. Ulang tahunku nanti kau harus membelikanku parfum,"
"Matrealistis!" umpat Xelino sesaat.
"Apa kau bilang?! Kau ini, tidak bisa lembut sedikit, sudah tidak jadi, nanti kau belikan aku parfum di pinggir pinggir toko," dengus Carolyn membalas.
"Begitulah,"
Buk!
Carolyn meninju dada Xelino.
"Aduh! Kau benar benar nona, multitasking!" kata Xelino lagi menggoda Carolyn yang tampak sebal
"Hem!" Carolyn memalingkan wajahnya.
Akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka cari. Mereka sudah mendapatkan beberapa karton tebal, karton berwarna, papan tipis, sterofoam, perekat dan lainnya. Kini Xelino menggandeng Carolyn juga semua perlengkapan itu.
Xelino melajukan mobilnya menuju rumah Carolyn. Sesampai di sana Xelino juga harus memapah Carolyn masuk ke dalam untuk menjelaskan yang terjadi. Sebuah pujian dari Jennifer menggiring Xelino pulang ke apartemennya.
"Bukan hanya pintar dan baik, kau juga sangat bertanggung jawab Xelino. Besok kau masih harus bekerja tapi kau menemani Carolyn sampai malam begini," begitulah tutur ibu Carolyn dan Xelino pulang dengan hati riang.
Keesokannya Xelino sudah kembali datang ke rumah Carolyn. Karena hari Sabtu Xelino tidak bekerja dan dia hendak membantu Carolyn membuat maket tersebut. Mereka tidak janjian tapi mengingat kaki Carolyn yang masih bengkak, Xelino berpikir pasti Carolyn sulit menyesuaikan tugasnya dengan sakit kakinya.
__ADS_1
Carolyn cukup terheran melihat Xelino sudah ada di depan pintu kamarnya.
"Xelino? Mau apa kau kemari? Mengapa langsung di depan kamarku?" tanya Carolyn terheran.
"Mommy mu yang mengatakan agar aku segera ke atas saja," gumam Xelino.
"Hem, hari ini tidak mengenakan jas?"
"Kenapa? Kau suka kalau aku mengenakan jas? Tampan ya?" kata Xelino memajukan wajahnya.
"Tidak sama sekali! Jadi, mau apa kau kemari?"
"Aku mau membantumu mengerjakan tugas kantormu, tapi kalau kakimu sudah sembuh, aku pulang saja," kata Xelino berbalik dan hendak pergi.
"Eh iya baiklah, masuklah! Kakiku masih bengkak tapi sudah diperban oleh mommyku!" Kata Carolyn akhirnya yang berpikir bisa memanfaatkan Xelino. Xelino tersenyum. Dengan begini dia bisa lebih dekat dengan Carolyn. Entah mengapa satu hari tidak melihat Carolyn, ada sesuatu yang belum ia kerjakan.
Xelino memasuki kamar Carolyn yang sangat besar itu. Dia lalu duduk di sebuah karpet merah bercorak abstrak putih dan bersandar di sisi tempat tidur Carolyn.
"Kamarmu besar sekali, nona. Seperti apartemenku! Rumahmu saja besar!" Xelino terperangah.
"Begitulah!" Saut Carolyn masih berjalan terpincang pincang. Carolyn hendak menuju ke meja kerjanya untuk mengambil semua perlengkapan maket yang kemarin mereka beli. Namun, karena terburu buru dia hendak terjatuh. Xelino langsung beranjak dan menahan Carolyn.
"Kau sengaja kan?!" Decak Xelino malah menuduh Carolyn.
"Kaki ku sakit!"
Xelino tersenyum dan menegakan lagi tubuh Carolyn.
"Pelan pelan, tidak usah gugup. Kau pernah melihat orang tampan kan? Bahkan setiap hari kita bertemu, Ting!" Saut Xelino membuat wajah Carolyn makin memerah.
Carolyn akhirnya berjalan sambil meraba apapun yang di sekitarnya.
"Nona, kau bisa menyuruhku mengambil semua ini!" Kata Xelino tiba tiba sudah ada di samping Carolyn yang berdiri di depan meja kerjanya. Carolyn masih belum bisa mengatur dirinya. Dia hanya mengangguk dan mengikuti Xelino yang memapahnya sampai ke karpet.
Mereka mulai mengerjakan maket itu. Xelino hanya bertugas memotong aplikasi aplikasi yang dibutuhkan Carolyn. Dia juga yang menyediakan perekat untuk Carolyn gunakan. Selanjutnya Carolyn yang menyusunnya perlahan dan begitu fokus. Carolyn mengerjakannya dengan sangat serius. Xelino pastinya mencuri curi pandangan memperhatikan Carolyn. Dia merasa Carolyn sebenarnya wanita pekerja keras. Dia akan mengerjakan apa yang menjadi kebiasaannya dengan sangat serius dan tidak main main. Semua perilaku buruknya karena kedua orang tuanya yang terlalu memanjakannya sehingga Carolyn juga merasa hal yang lain bisa ia dapatkan dengan mudah.
Xelino memperhatikan Carolyn sampai Carolyn terdiam melihat lagi sketsa dari Ansel. Sketsanya benar benar mirip sketsa yang ia buat beberapa tahun silam yang ia tunjukan pada Aciel. Seketika Carolyn kembali menjadi sedih. Matanya berkaca kaca dan wajahnya sangat muram.
"Nona, mengapa berhenti?" Tanya Xelino yang bingung ketika Carolyn hendak membuat benda benda di luar bangunan maket inti itu.
Carolyn masih melihat sketsa itu dan mengabaikan pertanyaan Xelino.
"Nona!" Panggil Xelino lagi. Carolyn masih terhanyut. Xelino lalu mengambil sebuah cotton Bud dan ia gesekan pada telinga Carolyn karena panggilannya tidak membuat majikannya itu merespon.
Carolyn pun tersadar dengan menggelengkan kepalanya.
"Xelino! Apa apaan kau ini?" keluh Carolyn memegang telinganya.
"Kau yang apa apaan! Mengapa kau jadi terdiam melihat sketsa itu? Ada apa ? Kau terkesan dengan bangunan si Ansel itu? Atau lebih baik kau tolak saja kerjasama itu, nona! Daripada kau tidak nyaman," decak Xelino memberi saran.
"Bibi Rietha sangat percaya pada Nyonya Deborah, jadi kita kita bisa menolak. Lagipula kalau aku menolak, berarti aku sudah kalah sebelum berperang, Xelino. Kau yang menyuruhku bersemangat tapi kau juga yang menyuruhku menolaknya," kata Carolyn mengingatkan.
"Apa maksudmu?"
"Entahlah, coba saja nanti kita perhatikan. Jadi apa ada kenangan yang berhubungan dengan sketsa itu, nona? Ceritakan padaku! Kau sudah menganggapku teman kan?" pinta Xelino penasaran.
"Hem, aku hanya bermimpi ingin mempunyai rumah seperti ini di pinggir ladang dan kebun bunga, Xelino. Aku juga ingin tinggal di sana bersama pria yang kucintai. Lalu kami akan memiliki anak. Bukankah itu impian setiap wanita?" kata Carolyn dengan senyum yang hangat dan hati yang merindu.
Xelino mengangguk angguk. Xelino menyimpulkan mungkin pria yang dikatakan James adalah pria yang hendak menjanjikan rumah ini.
"Kau pasti bisa mewujudkannya Nona. Sekarang kau hanya perlu mencari pria yang kau cintai dan kau katakan padanya apa yang menjadi impianmu," tutur Xelino dengan manis tapi membuat Carolyn terheran dengan Xelino.
Tuk!
Carolyn malah memukul kepala Xelino dengan karton putih yang masih tergulung.
"Aduh! Nona, mengapa kau suka memukul sih? Aku kan memberi saran," dengus Xelino memegang kepalanya.
"Kau bicara enak sekali! Memangnya mudah mencari pria yang baik dan benar untuk bersanding denganku?" decak Carolyn.
"Aku contohnya," saut Xelino asal.
"Ah kau tidak baik, kau selalu kasar padaku dan memarahiku seenaknya, aku tidak suka!" Carolyn memalingkan wajahnya.
"Lalu kau ingin seperti siapa? Ansel? Lionel? Coba saja kau dapatkan! Siapa yang tahu mereka akan memanfaatkanmu!" kata Xelino menakut nakuti.
"Bukannya kau juga hendak meminta lahan dari ayahku kan? Kau ini memang rubah licik! Sudah lanjutkan menggunting bagian bagian kecil ladang, bunga bunga agar cepat selesai dan kau bisa pulang! Aku malas melihatmu lama lama," decak Carolyn lagi.
"Iya iya, tadi aku juga sudah mengerjakannya tapi tiba tiba kau melamun!"
Xelino pun kembali mengerjakannya dan Carolyn yang menyusunnya. Sekitar dua jam mereka berkutat terkadang kembali mengumpat dan memakan cemilan yang dibawakan Laila. Sampai akhirnya selesailah maket rumah tersebut. Begitu berwarna dan Xelino jadi sangat merindukan kakek dan neneknya.
"Mengapa rumah ini jadi mirip seperti rumahku?" gumam Xelino memutar mutar maket itu.
"Oleh sebab itu berikan rumah itu padaku, Xelino!" saut Carolyn terkekeh.
"Hem, ujung ujungnya meminta rumahku! Tidak akan! Lebih baik kau mencari lahan lain," balas Xelino meletakan perlahan maket tersebut.
"Hem, aku memang harus mencari pria yang akan mengabulkan impianku ini. Mungkin Lionel. Ya, dia akan kuperhitungkan!" gumam Carolyn hendak membuat Xelino kesal karna dia menyebut nama pria lain. Carolyn senang jika melihat Xelino kesal.
"Terserahmu, kau ini repot sekali, ada pria tampan di depanmu, kau malah mau pria yang tidak jelas seperti Lionel. Memangnya kau sudah pernah bertemu? Hem, sudahlah aku mau pulang, besok jangan mencariku, aku mau ke desa!" decak Xelino berdiri.
"Siapa juga yang mencarimu, pulang sana!"
"Aku pulang!" ijin Xelino hendak berjalan ke arah pintu.
"Xelino!" panggil Carolyn kemudian.
__ADS_1
Xelino menoleh masih dengan wajah sedikit sebal.
"Terimakasih sudah membantuku, hari Senin aku akan mentraktirmu steak terenak di Springfield," kata Carolyn tersenyum.
"Oke!" Xelino akhirnya kembali tersenyum karena merasa Carolyn jauh lebih cantik ketika menebarkan senyum tulus terimakasih untuk nya.
...
Hari Senin menjelang, hiruk pikuk terasa sangat ramai dan wajah wajah bersemangat menghiasi kota di Springfield. Namun, tidak dengan Xelino. Dia agak lelah dan kurang tidur karena harus ke Springfield dan mendapatkan bus terakhir pada malam hari. Wajahnya agak masam ketika menjemput Carolyn. Dia masih memapah jalan Carolyn yang sudah mulai membaik. Carolyn cukup terheran dengan keadaan Xelino tapi ketika Xelino menjelaskan, Carolyn sedikit paham.
Sesampainya di kantor Xelino masih berpesan untuk menghubunginya kalau terjadi sesuatu dan dia akan menjemputnya seperti biasa.
"Xelino, fighting! Sebisa mungkin aku tidak akan menganggumu," ujar Carolyn memberi semangat.
"Tidak masalah nona, masuklah aku harus ke kantor," balas Xelino berusaha tersenyum.
Carolyn mengangguk tersenyum. Xelino pun melajukan mobilnya. Carolyn membawa Maket rumah itu dengan sangat hati dan melihat ke kanan dan ke kiri. Dia tidak boleh sampai terjatuh lagi sehingga apa yang dia buat hancur berantakan.
Baru saja Carolyn hendak masuk ke gedung Venta Property, seorang pria menyapanya. Dia Ansel.
"Carolyn, ada apa dengan kakimu? Mengapa agak pincang?" Tanya Ansel sekaligus menyapa. Carolyn sontak langsung gugup. Dia ingin menjauh namun pesona Ansel yang mengingatkan pada Aciel membuatnya terhenti sesaat.
"Carolyn?" Panggil Ansel lagi.
"Tidak apa apa Tuan, aku baik baik saja," balas Carolyn sedikit membungkukan tubuhnya memberi salam.
"Baiklah, biar asistenku yang membawa maketnya dan aku membantumu berjalan," kata Ansel menawarkan.
"Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri,"
"Tidak apa apa Carolyn, sini maketnya, daripada terjatuh, lebih baik Asistenku Erina yang membawanya," kata Ansel lagi sedikit memaksa dan langsung meraih maket Carolyn.
Carolyn menyerah tetapi Carolyn tetap tidak ingin dipapah oleh Ansel.
"Aku bisa jalan sendiri, tidak apa apa," kata Carolyn lagi. Ansel pun menyerah, setidaknya dia sudah menunjukan etika baiknya pada Carolyn dan dia merasa Carolyn gugup karenanya.
Namun, betapa liciknya lagi Ansel dan Erina. Erina menggoreskan perlahan beberapa bagian belakang maket dengan pisau kecil dan tajam sehingga lama kelamaan maket tersebut akan roboh.
Benar saja, ketika Maket di taruh di meja Carolyn, maket itu lama kelamaan rapuh. Carolyn belum menyadarinya karena setelah sampai ke ruangannya, dia harus membuat minuman. Grizel dan Lila yang menemukan maket tersebut sudah roboh karena hendak memanggil Carolyn.
Grizel dan Lila tentu terkejut dan hendak menyusunnya lagi tetapi sulit.
"GRIZEL, LILA, APA YANG KAU LAKUKAN PADA MAKET KU?!" Teriak Carolyn tiba tiba. Grizel dan Lila sangat terkejut. Mereka tidak tahu apa apa malah mereka hendak membuatnya lagi.
"Carolyn, kami ingin memanggilmu tapi kau tak ada. Kami saja baru tahu kalau maketmu rusak begini," kata Grizel dan Lila mencoba membela diri.
"TIDAK! SEBELUM AKU PERGI, MAKET KU BAIK BAIK SAJA, KALIAN SEMUA BENAR BENAR MEMBUATKU MARAH!" Teriak Carolyn lagi sangat geram.
...
...
...
...
...
Sabar olyn, bukan mereka kok 😔😔
.
Next part 17
Apakah Carolyn akan mengetahui yang sebenarnya apa tidak sama sekali?
Apakah Xelino akan kembali membantu Carolyn padahal dia sedang sakit?
Dan apakah benih benih cinta mulai tumbuh antara mereka berdua?
.
Hay semuaaa ... aku cuma mau kasih tau kalau Mantan Terindah ini terdiri dari 3 seri ya :
Seri Pertama : MANTAN TERINDAH (Dion - Viena dan anak anaknya)
.
Seri Kedua : ASSISTANT LOVE ASSISTANT (Leon - Lexa dan anaknya, Leon dan Lexa ini merupakan asisten setianya Viena & Dion)
.
Seri Ketiga : SATU-SATUNYA YANG KUINGINKAN (Egnor - Claudia dan anak anaknya, Egnor merupakan seorang pengacara, kakak kandung dari Viena)
.
mampir yuk di dua seri lainnya lihat di karya vii, dijamin ceritanya masih berhubungan dan juga menegangkan sekaligus gereget 😁
minta LIKE dan KOMEN nya 😍
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
__ADS_1
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤