
Malam sudah sangat pekat. Leon membeli sebotol bir di tempat Ben dan membawanya ke rumah. Dia tidak mau kehilangan akal dan semakin memperbanyak masalah. Masalahnya sudah segunung sejak kedatangan Solane. Dia bingung bagaimana memperingati Solane secara Solane adalah anak orang penting. Leon tidak bisa semena mena. Meskipun pembayaran bulanannya besar dari Dion, namun dia masih harus menafkai keluarganya di Springfield. Hanya Dion yang dapat membantunya.
Dia memasuki apartemennya dan membuang jas nya sesukanya. Dia membaringkan dirinya di atas sofa dan sudah meminum satu gelas bir. Dia meraih ponselnya dan menghubungi Lexa. Hatinya bergetar hendak mengetahui keadaan Lexa sepeninggalnya kemarin sore. Sejak kemarin tidak ada komunikasi diantara mereka.
-LEON-
Kau sudah tidur?
-LEXA-
Kalau sudah, aku tidak akan membalas pesanmu, ada apa?
-LEON-
Aku merindukanmu, bagaimana harimu hari ini?
-LEXA-
Biasa biasa saja
-LEON-
Bisa kita bertemu besok?
-LEXA-
Kurasa tidak, aku sibuk!
-LEON-
Terserah kau mau atau tidak, aku akan tetap menunggumu di lobby kantormu jam makan siang.
-LEXA-
Tunggu saja sampai mantanmu membuat ulah lagi!
-LEON-
Lexa, kelinciku .. ??
-LEXA-
Ada apa lagi?!
-LEON-
Apakah kau merindukanku?
Jantung Lexa berdetak hebat. Dia sangat merindukan lelaki itu, tapi dia harus menahannya sampai dia tidak mendengar kabar lagi tentang Solane. Dia sangat lelah menghadapi kasarnya Solane yang dengan teganya mempermalukan sesama wanita. Hidupnya pun tidak bisa berakhir di sel jeruji hanya karna kebohongan Solane. Dia tidak mau terus merepotkan Viena ataupun Egnor yang seorang pengacara.
__ADS_1
Lexa tidak membalas pesan Leon yang terakhir. Dia bingung hendak menjawab apa. Jawaban tidak pasti akan menyakiti Leon. Jawaban iya akan membuat Leon besar kepala dan mau mendekatinya lagi.
Lexa menutup wajahnya dengan bantal dan memiringkannya sedikit. Dia terus melihat pesan Leon dan tertidur.
...
"Lexa, cepat temui Leon, dia sudah seperti pria yang tidak punya jati diri. Kau tidak kasihan dengannya?" Tegur Lucy yang melihat Leon duduk di lobby sambil memainkan ponselnya ketika Lucy membeli makan di kantin gedung.
Lexa membelalakan matanya. Dia benar benar melupakan pesan Leon yang akan tetap datang menemuinya. Dia segera mengambil dompat dan ponselnya dan menemui pujaan hatinya. Sebenarnya dia sangat merindukan pria bermata lancip itu. Kalau saja mereka sudah menjadi sepasang kekasih, Lexa mau langsung memeluknya dan mengecupi mata tajamnya yang tetap lembut menatapnya.
"Kau sudah makan? Aku lapar, ayo cepat ke kantin!" Namun kenyataannya, begitulah sambutan Lexa yang terkesan dingin dan ketus. Leon mendongakan kepalanya dan langsung menyusul Lexa yang sudah berjalan lebih dulu.
"Sapaan macam apa itu? Kau tidak tahu berapa lama aku menunggumu?" Celetuk Leon sudah berada di samping Lexa.
"Berterimakasihlah kau dengan Lucy, kalau dia tidak memberitahuku, kau bisa menunggu lebih lama dari ini! Karna aku tidak berniat ke bawah siang ini!" Decak Lexa tak perduli.
Leon tidak perduli dengan gaya Lexa yang agak dingin dengannya. Dia merangkul pundak Lexa asal dan terus berjalan. Berpura pura seperti teman biasa dan menghiraukan sikap Lexa yang selalu aneh padanya.
"Lepaskan! Kau akan memancing ular gila yang sewaktu waktu bisa menghampiri kita lalu membuat pertunjukan tidak waras yang seperti sudah sudah mantanmu lakukan! Ini kantorku dan aku sudah sangat lelah Leon!" Lexa memberhentikan langkahnya dan menatap Leon sangat tajam, lebih tajam dari mata lancip pria itu.
"Baiklah! Aku mengalah!" Leon melepaskannya. Solane memang seperti dimana mana menguntitnya. Mungkin dia harus menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Solane, namun nampaknya itu bukan kepribadiannya. Leon menarik napas panjang memikirkannya. Kadang terpikir mengapa dia tidak dilahirkan sebagai orang kaya! Kesalnya.
"Begini lebih benar!" Ketus Lexa. Lexa lalu kembali berjalan menuju kantin kantornya. Kantin tidak terlalu ramai. Lexa memilih meja pojok kesukaannya yang mana disampingnya ada booth yang menjual makanan khas Honolulu.
"Mau apa kau menemuiku?" Tanya Lexa yang sudah memesan makanan untuknya dan Leon.
"Lexa, aku merindukanmu .. " bisik Leon mengendipkan matanya. Lexa bergidik melihatnya. Hatinya bergetar dan wajahnya dengan sendiriny memerah.
"Lexa, kau mau tahu sesuatu?" Leon menyandarkan dagunya di atas meja sambil terus menatap Lexa. Lexa tak kuasa mengatakan dalam hatinya kalau Leon sangat menggemaskan dengan posisinya saat ini. Tapi, Lexa menahannya dengan sekuat hatinya agar tidak terlalu dekat dengan Leon.
LEON : "Lexa, ini tentang bos mu,"
LEXA : (menoleh ke Leon) "Ada apa dengan dia?"
LEON : "Ini tentang iklan perusahaan minuman Tuan Revo yang kalian buat,"
LEXA : "Ada apa Leon? Kau membuatku merinding, ada apa?"
(Cemas dan segera mengintrogasi Leon, karna Leon merupakan asisten kepercayaan Hotel Prime, tak ayal kalau mereka mungkin juga mempunyai pesaing yang harus diselidiki.)
LEON : "Sepertinya, aku menangkap tanda tanda sabotase di dalamnya. Mau kah kau bekerja sama denganku? Semua ini menyangkut pekerjaanmu, sayang," (menyentuh tangan Lexa)
LEXA : (tanpa sadar menggenggam tangan Leon) "Sudah lama aku selalu memberitahu mu apapun tentang bosmu, jadi bagaimana? Aku harus apa?"
Leon memanfaatkan dan memegang kedua tangan Lexa, rasanya Leon menjadi sedikit tenang karna masalah yang sedang dihadapinya.
"Kau cukup memberitahuku siapa saja orang orang yang terlibat di dalamnya, bisa kan?" Gumam Leon tersenyum.
__ADS_1
"Bisa! Tapi Leon, iklan itu sudah selesai dan hendak tayang, bagaimana ini?" Lexa kelabakan dan tidak memperdulikan tangannya yang telah direnggut Leon.
"Benarkah? Sebaiknya kau cepat berikan informasi itu karna Tuan Dion yang akan mengusutnya, kau tenang saja," bisik Leon lalu mengedipkan matanya.
Lexa terperanjat. Dia tersadar kalau mereka berdua sedang berpegangan tangan.
"Modus!" Lexa akhirnya menghempaskan tangan Leon membuat Leon terkekeh.
...
Lexa dan Leon memasuki kantor iklan Viena. Kebetulan hari ini Viena sedang pergi bersama Revo, jadi Leon bisa leluasa menanyai tentang iklan mereka tanpa dicurigai.
Semua mata karyawan wanita menatap kagum pada Leon. Lexa hampir mati kesal karna melihat wajah Leon yang sangat bangga dan terus menyeringai.
"Kembali bekerja, tidak ada pertunjukan, dia hanya seorang asisten sepertiku," ucap Lexa sambil terus menuju ruangannya.
"Haha, asisten sedang cemburu dengan asisten, cintamu berhasil Leon!" Celetuk Lucy terkekeh. Leon mengedipkan matanya pada Lucy.
"Ini adalah hal pertama dan terakhir kalinya kau datang ke kantor ini! Kau sangat pembuat onar!" Ketus Lexa memasuki ruanganya. Leon hanya terkekeh sambil menyugar rambutnya dengan tangannya.
"Ya, pacarmu ini memang tampan, Lexa," Leon menyeringai dan duduk di sebrang Lexa.
Lexa segera membuka komputernya. Dia memeriksa data akhir iklan yang ia buat bersama teamnya. Dia lalu memberitahukan semua informasi yang ia dapat. Lexa juga memeriksa iklan yang telah ia serahkan pada media televisi. Revo memang menyuruh pihak Viena untuk menyelesaikan semua iklan sampai masuk pada media televisi. Namun sepertinya ada yang membuat Lexa mengedutkan matanya curiga.
"Leon, ada apa ini? Mengapa semua iklan yang sudah kudaftarkan ke media televisi menyatakan default?!" Tanya Lexa memancarkan wajah kecewa.
Leon lalu menghampiri Lexa. Leon berada di belakang Lexa. Leon memicingkan matanya. Semua iklan yang sudah di daftarkan Lexa terdapat warna merah yang artinya default.
"Apa kau sudah mendaftarkan dan membayar biayanya?" Leon bertanya dan menundukan badannya agak menempel pada Lexa.
Lexa menoleh ke Leon untuk menjawab pertanyaannya, namun tertahan karna wajah Leon yang benar benar menawan baginya.
"Lexa? Sudah?" Leon menyadarkan. Leon sebenarnya tahu kalau wanitanya itu merindukannya.
"I - iya sudah, Leon, pasti ada yang meng cancelnya kan?" Jawab Lexa terbata dan tersipu malu.
Leon menyeringai. Tanpa ijin dan persetujuan Lexa, Leon lalu memeluknya dari belakang dengan sangat erat.
"Kurasa pihak Tuan Revo dan Tuan Marcel yang meng-cancel nya dan kau jangan meng cancel pelukanku, aku sangat merindukanmu, Lexa .. " Leon mencuri ciuman pada leher Lexa. Membuat Lexa tak sanggup berkata dan bergerak.
...
Dapet juga kan 1 chapter
Solane lagi nge pur dulu hihi
So sweet so sweetan dlu si LeLe ya guys 😘
__ADS_1
Next part 24 cuuuss ...