Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 25


__ADS_3

Lexa dan Leon menyusuri lorong rumah sakit mengikuti Solane dengan pelan. Sebenarnya Solane sudah mengetahui kalau Lexa dan Leon pasti mengikutinya. Wanita fashionista itu memasuki ruang icu. Dengan begini, Solane tidak harus drama di depan Leon sehingga Leon akan menganggapnya berbohong.


Lexa dan Leon cukup terperanjat melihat Solane memasuki ruang ICU. Mereka berdua masih mengintip mendekati ruang berkaca transparan itu. Sampai akhirnya mereka memberanikan diri untuk melihat langsung keadaannya. Solane sedang membelakangi mereka di dalam ruang berkaca itu.


"Tuan Reynald?" Ucap Leon tertegun. Ternyata ayah Solane sedang manantang maut. Dia tampak menyedihkan dengan beberapa selang menyelimuti wajahnya dan tangan tangannya.


"Siapa dia Leon? Ayah Solane? Aku pernah melihatnya di majalah," bisik Lexa menatap Leon yang masih terpaku menyaksikan orang yang sebenarnya baik dengannya.


"Leon, kau baik baik saja?" Lexa sedikit menyadarkan Leon dengan menggoyangkan tangannya.


"Ya, Lexa, dia ayahnya Solane," kata Leon tak memalingkan pandangannya pada pria paruh baya itu.


"Calon mertuamu?" Bisik Lexa sedikit tersenyum namun masam.


"Kau? Tarik kembali kata mu, Lexa! Mengapa kau berpikir seperti itu?!" Leon akhirnya menolehkan tatapannya ke Lexa dan meraih tangan Lexa. Dia memegang erat pergelangan tangan Lexa yang tak terbalut perban sampai sedikit merintih.


"Lepaskan Leon, kau menyakitiku!" Kata Lexa mencoba melepaskan pegangan Leon.


"Kau tak senang jika kita mengikuti Solane kan? Sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadapku?" Selidik Leon menatap tajam Lexa.


"Sederhana, hanya teman, lepaskan!" Lexa akhirnya menghempaskan tangan Leon sekuat tenagangnya. Lexa lalu hendak meninggalkan ruangan itu, namun terhenti karna Solane keluar dari ruangan.


"Kalau kalian kesini untuk bertengkar, kalian sangat mengganggu ayahku, sebaiknya kalian pergi, lagipula untuk apa kalian mengikutiku?!" Hardik Solane menatap nanar Lexa.


"Dia yang mengajakku, silahkan kau berurusan dengannya, dan aku tidak mau berkelahi Solane, aku ikut sedih dengan kondisi ayahmu, permisi," saut Lexa hendak meninggalkan tempat. Dia melewati Leon dan Solane.


"Tunggu Lexa, aku minta maaf atas yang sudah terjadi, sekarang aku benar benar menyesal. Ayahku masih koma di dalam. Dia mengalami serangan jantung di malam ketika Leon datang ke rumahku untuk menyelesaikan masalahnya padaku dan padamu. Aku minta maaf, aku hanya meminta kalian tidak berkelahi karnaku. Karna aku sudah pasrah. Kalau Leon sudah mencintaimu hargailah dia," kata Solane lalu kembali ke ruang ICU.


Leon sedikit tersentak dengan pernyataan Solane. Tuan Reynald mengalami serangan jantung. Mungkin karna waktu itu dia terlalu keras terhadap pria tua itu.


~Sebaiknya aku menemuinya jika aku sudah mendinginkan hati Lexa~ pikir Leon.


Lexa masih mematung di depan pintu ruang ICU. Perkataan Solane benar benar tidak bisa dipercaya begitu saja. Pasti ada sesuatu yang direncanakannya jika dia harus melembut pada Lexa. Itulah yang Lexa pikirkan. Bukan perkataan cinta yang Solane katakan.


"Lexa, ayo kita pulang," ajak Leon yang seperti melupakan perkelahian kecil mereka.


"Aku bisa jalan sendiri," Lexa menolak rangkulan Leon. Membuat Leon makin tak karuan. Dia semakin bingung dengan perasaan Lexa terhadapnya.


Mereka memberhentikan sebuah taxi dan Leon lebih dulu mengarah ke kantor Lexa. Dia taxi mereka hanya berdiam diri. Leon masih memikirkan ayah Solane. Dia merasa bersalah karna pria tua itu sangat baik padanya. Kalau bukan anak perempuannya yang arogan itu, mengatakan hal yang tidak sebenarnya, dia tidak akan membentak bentak Reynald. Namun, pikirannya juga berkecamuk akan Lexa yang tiba tiba jadi cemburu. Lexa pun memikirkan ulah apalagi yang akan Solane buat. Dia pun juga memikirkan sorot wajah Leon yang sangat mengkhawatirkan ayah Solane. Dan lagi, untuk apa Leon menemui Solane di rumah ayahnya.


"Leon aku, --"


"Lexa aku, --"


Mereka berkata bersamaan.

__ADS_1


"Kau dulu, -- " kata Leon


"Tidak kau dulu, -- " Lexa membalas dengan sama.


"Baiklah aku dulu," kata Lexa lagi karna Leon mengeluarkan jurus mata lancipnya.


"Dengarkan Leon, menurutku, kau harus mendatangi ayah Solane lagi. Aku curiga ada rencana yang akan Solane buat," ucap Lexa terhenti karna Leon memancarkan wajah tidak enak.


"Lexa, mengapa kau masih memikirkan hal buruk pada Solane?" Tanya Leon kemudian, membuat Lexa mengernyitkan dahinya.


"Ayahnya sedang koma dan sepertinya karna ulahku. Aku yang datang kesana memaki maki nya membentak bentak nya untuk membelamu. Kau tahu, mereka hendak menuntutmu, tapi aku membelamu. Aku memarahi pria tua yang tidak tahu apa apa itu jadi dia terkena serangan jantung, dan sekarang kau malah memikirkan hal hal buruk pada Solane!" Tiba tiba Leon seperti meledak karna dia hanya memikirkan perasaan Reynald bukan Lexa.


Lexa ikut memanas. Lexa sedikit kecewa dan patah hati. Leon membela Solane, wanita yang selalu menyakitinya. Lexa juga tidak memikirkan perjuangan Leon. Mungkin inilah yang namanya cemburu yang tidak disadari oleh Lexa.


"Excuse me Leon?" Lexa mencoba mengingatkan Leon.


"Sudahlah Lexa, terserah pikiranmu saja. Jawaban mu akan tetap sama kalau aku tidak ada hubungan dengan Solane lagi. Aku hanya memikirkan kondisi ayahnya saja. Tidak lebih." Leon memalingkan wajahnya ke arah jendela. Dia sempat berpikir mengapa Lexa tidak khawatir akan kondisi si Reynald tua itu. Dia masih memikirkan hal yang buruk dan pasti Lexa mencurigai hubungannya.


Lexa dan Leon kembali terdiam dan sampailah mereka di kantor Lexa. Setelah mereka turun, Leon membiarkan Lexa meninggalkannya. Lexa tidak sanggup berkata kata lagi. Leon sudah berpikir yang tidak tidak. Sebaiknya Lexa memang harus menjauhi Leon. Lexa tidak pamit menuju ke atas. Sedangkan Leon mematung dan akhirnya dia memutuskan menunggu Lexa untuk pulang bersama. Pada kenyataannya, Leon masih juga memikirkan kondisi Lexa.


"Lexa, kau membuatku bingung!" Ucapnya memandang Lexa memasuki lift dan menuju ke atas.


Sementara Lexa dengan wajahnya yang masam dan sedih memasuki kantornya yang kunjung sepi. Viena sudan tiba di ruangannya. Lexa kembali menemuinya.


"Selamat sore, Nyonya, darimana saja kau?" Tanya Lexa pelan di daun pintu.


~ah sial, aku lupa memberi tahu Abby dan lainnya untuk tidak memberitahu keadaan tangabku,~


"Tidak apa Nyonya, sudah diperban," jawab Lexa melihat perbannya. Dia jadi mengingat Leon. Leon sangat mencemaskannya. Tidak seharusnya dia mementingkan dirinya sendiri tadi.


"Dengar Lexa, kau jangan mencemaskanku, aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau tenang saja, aku bisa memilih mana yang terbaik untuk hatiku. Dan iya, sebaiknya kau pulang istirahat, besok urus iklan Tuan Revo yang terdapat kesalahan, oke?" Kata Viena kemudian menyelesaikan berkas yang harus ia tanda tangani. Dia lalu mengambil tas nya dan beranjak pulang.


Lexa menundukan badannya melihat kepergian bos nya. Viena memang tidak pernah merepotkan dirinya. Sekalipun pada kesalahan yang terdalam, bos nya mencoba menyelesaikannya sendiri.


Lexa pun kembali ke ruangannya untuk bersiap pulang. Tak lama ada pesan masuk dari Viena.


-NYONYA VIENA-


Cepat turun, Leon masih menunggumu, dia tertidur seperti kelelahan!


Satu pesan Viena membuat hati Lexa porak poranda merona. Dia lalu bergegas dengan cepat memberesi barang barangnya dan ke bawah.


Dia berjalan pelan ketika sudah di anak tangga akhir. Dia tidak sabar menunggu lift jadi dia memutuskan untuk menuruni tangga. Dia sedikit menoleh. Melihat Leon yang kepalanya bersandar di sisi sofa. Lexa menghampirinya. Lagi lagi dia memperhatikan wajah Leon. Leon benar benar tampak lelah. Lexa memutuskan menunggui Leon sebentar. Dia duduk di samping Leon dan memangku dagunya dengan tangannya.


"Leon, mengapa kita bisa sedekat ini? Mengapa sampai aku tidak suka kau dekat dengan wanita lain? Mengapa kau selalu menghantui pikiranku? Apa kau mencintaiku? Aahh, kau membuatku bingung!!" Gumam Lexa pelan sambil menusuk nusuk pelan tangan Leon. Sampai dirinya juga ikut tertidur bersandar pada lengan Leon.

__ADS_1


Sekitar 15-20 menit kemudian Leon terbangun karna merasa ada beban yang memberatkan lengannya. Dia menoleh, ternyata Lexa sudah tertidur di sampingnya. Hatinya seketika bergetar.


~Lexa, sejak kapan dia disini? Dan dia tertidur, ah pasti dia tidak mau membangunkanku,~ pekik Leon dalam hati. Dia mendongakan wajah Lexa perlahan dan terpampanglah wajah Lexa yang sangat menggemaskan. Dandanan tipisnya membuat dirinya semakin cantik dan merona.


"Kau bagaikan peri, Lexa," Leon memegang dagu Lex dan beralih mengelus pipinya lembut.


Lexa sedikit terkesiap dan akhirnya dia terbangun. Dia melihat mata Leon yang lancip dan tajam. Alisnya yang tebal menyempurnakan tatapan matanya. Tak berapa lama Lexa tersadar dan membenahi duduknya.


"Leon, kau sudah bangun? Ayo kita pulang!" Kata Lexa lalu merapikan bajunya dan beranjak.


Leon menahan pergelangan tangannya.


"Lexa, tanganmu sudah membaik?" Tanya Leon masih duduk di sofa.


"Masih agak perih, ayo kita pulang," Lexa sudah tidak kuat dengan tatapan Leon. Bisa bisa dia meraih wajahnya dan mengecup ngecup pipinya.


"Aku boleh mengantarmu?" Tanya Leon dan sudah ikut berdiri di belakang Lexa.


"Terserahmu!" Jawab Lexa dan mulai berjalan.


Leon menggandeng tangan Lexa dan Lexa membiarkannya. Lexa sudah melupakan tentang pikiran buruknya terhadap Solane. Saat ini dia memang hanya mau menikmati kebersamaannya dengan Leon.


Mereka telah sampai di flat Lexa. Sebelum masuk ke flat. Leon menahan Lexa terlebih dahulu untuk mengatakan sesuatu.


"Lexa, aku minta maaf,"


Glek! Lexa terkejut mendengar Leon mengatakan itu. Hatinya langsung melembut, ternyata Leon memikirkan perasaannya. Lexa menoleh ke Leon. Dia sudah tidak tahan menikmati wajah Leon yang menawan dengan matanya yang lancip. Bibirnya yang tipis dan merah membuat pikiran Lexa porak poranda. Dia meraih wajah Leon dan menciumnya. Leon benar benar terkejut, Lexa melakukannya.


Leon membalas ciuman Lexa dan mengiring Lexa memasuki flatnya. Dia menutup pintu flat dengan kakinya tanpa melepaskan ciumannya pada Lexa. Lex sudah mengalungkan tangannya pada leher Leon. Leon tidak melewatkan kesempatan ini. Meskipun mereka belum ada status, namun jika hal ini terjadi, akan memudahkan Leon bisa mendapatkan Lexa. Dia akan senang hati bertanggung jawab akan Lexa.


Dia melumat bibir Lexa dengan sangat lembut dan sesekali menyeruput lidah Lexa, membuat Lexa membelalakan matanya terkejut atas perlakuan Leon yang membuatnya hendak terbang. Lexa merasa sedikit berkedut di bagian bawahnya, di antara kedua pahannya, karna Leon mulai menggerayagi pinggang lalu menuju ke bokongnya. Sampai ketika Lexa menurunkan tangannya hendak membuka jas Leon, Lexa sedikit melirik sesuatu di sudut ruangan ke arah dapur berwarna hitam sedang menikmati sebuah biskuit.


Dia bergidik dan melepaskan ciuman Leon lalu meloncatkan tubuhnya ke dekapan Leon. Leon terkejut dan akhirnya dirinya menggendong Lexa.


"Tikus Leon!!!!! Disana Leon, aku takut Leonnnn!!!!!" Lexa berteriak mengalungkan tangannya ke leher Leon membuat Leon sedikit sulit bernapas.


"Di-ma-na Lex-a, kau membuatku sulit bernapas, Lexa!" Kata Leon terbata bata.


"Disana Leon!!!" Lexa sedikit menunjuk sudut ruangan sambil menggoyang goyangkan kakinya. Membuat keseimbangan Leon goyan dan mereka terjatuh di sofa besar Lexa.


...


Jiaaahh, gagall maning Leon!! Sabar yaaa 😁


Next part 26

__ADS_1


Masih setia kan?


Part selanjutnya lebih menegangkan 😆


__ADS_2