Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LELE PART 18 - Special Rico & Solane


__ADS_3

Rico membuka matanya dan meraba raba di samping ia tertidur. Dia hendak menarik tangan Solane dan masuk ke dalam pelukannya lagi. Dia yakin sekali kalau sekarang dirinya telah berpacaran dengan Solane. Dia akan memperhatikan dan lebih memanjakan Solane. Sepertinya Solane benar benar merindukan kasih sayang dari seorang pria.


Rico tidak menemukan keberadaan Solabe dalam rabaannya. Dia lalu membuka matanya dan menoleh ke samping untuk melihat Solane. Namun, Solane tidak ada. Dia cukup terkejut dan segera beranjak dari tidurnya.


"Solane?!" Teriak Rico berharap Solane masih ada disekitar sini atau keluar dari kamar mandi.


"Tidak ada! Kemana dia! Solane?" Kata Rico lagi dan berdiri mencari celana panjangnya dan mengenakannya. Dia menuju ke kemar mandi dan benar Solane tidak ada. Dia lalu meraih ponselnya. Tidak ada pesan dari Solane. Semua pesan dan panggilan dari rumah sakit. Tapi ada beberapa panggilannya yang terangkat. Pasti Solane yang mengangkatnya pikirnya.


Rico lalu menghubungi Lexa dan Leon, mungkin Solane bersama mereka.


"Rico, kami masih berada di Resort Prime. ada apa lagi dengan Solane? Mengapa kalian senang sekali main kucing dan tikus hah? Tidak bisakah kau menjaganya dengan benar?" Decak Leon di sebrang sana.


"Aku bahkan sudah memakan habisnya, tapi dia malah pergi meninggalkanku seperti ini, sial! Ini kota orang Leon bukan Legacy!" Balas Rico semakin panik karna Solane tidak bersama Lexa dan Leon.


"Oh my God Rico! Bahkan kita belum mengetahui mengapa Jimmy meninggal kau sudah mengawininya?" Leon beribu ribu terkejut mendengar pengakuan Rico.


"Dia yang merayuku tapi dia juga yang meninggalkanku! Sekarang aku harus mencari kemana Leon?"


"Apa mungkin dia ke rumah sakit?! Bisa jadi kan dia meminta maaf pada mendiang suaminya karna sudah mendapatkan penggantinya yang lebih baik." Kata Leon yang menyetujui hubungan temannya dengan mantannya itu karna Lexa telah menceritakannya.


"Ah kau benar juga! Baiklah aku akan kesana!" Saut Rico hendak mematikan panggilan.


"Lalu bagaimana keadaan nyonya mu?" Tanya Leon karna Lexa mencemaskannya.


"Iya ini sekalian ku tanya lagi. Sudah ya!"


Rico mematikan panggilannya ke Leon. Dia segera membersihkan dirinya dan menuju ke rumah sakit.


Dia benar benar bingung mengapa Solane meninggalkannya seperti ini. Mereka berdua menikmatinya dan Rico yakin, Solane juga pasti menyadari kalau dia memang menyerahkan dirinya padanya. Mereka saja tidur bersama dengan pulas. Rico jadi menerka nerka apa Solane menjadi membencinya karna langsung seenaknya.


"Argh, dia yang merayuku! Aku sudah menghalau dan menghentikannya, tapi dia terus menggodaku, mengatakan kata kata yang membujukku! Harusnya aku yang minta pertanggung jawabannya karna telah mengambil pertamaku! Dengan tangan sih, tapi dia yang membuatku merasakan seorang wanita! Solane! Awas saja kau menolakku!" Dengus Rico melajukan mobil yang dibawa dari hotelnya sejak kemarin. Dia menuju ke rumah sakit berharap benar ada Solane di sana. Kalau tidak ada kemungkinan besar Solane pasti pulang ke Legacy.


Rico menyusuri lorong rumah sakit dengan berlari kecil. Larinya pun terhenti ketika melihat di sana Solane lagi lagi menundukan kepalanya bersedih di depan kamar jenasah. Rico tak kuasa. Dia menghela napasnya dan kembali berlari kecil lalu memeluk Solane dari samping. Solane tersentak dan menoleh ke arah Rico yang telah mengecupi pangkal kepalanya.


"Kau ini kenapa hah?!" Decak Solane malah mendorong pelan tubuh Rico agar menjauh. Rico jadi bingung.


"Solane? Kau kenapa? Kau .."


"Diam! Aku tidak mau membahasnya, itu hanya ketidaktahuan kita berdua. Tidak usah dianggap serius!" Decak Solane membuat Rico seperti tersengat lebah.


"Hah? Ketidak tahuan? Oh God!" Saut Rico terheran sekaligus tak percaya Solane mengatakan ini. Dia memegang dahinya dan sedikit berputar putar frustasi.


"Ikut denganku!" Kata Rico lagi menarik tangan Solane hendak keluar dari rumah sakit agar tidak menganggu sekitar.


"Aku tidak mau Rico! Lepaskan!" Solane berusaha melepaskan cengkraman tangan Rico pada pergelangan tangannya. Rico tidak menghiraukan dan terus menarik tangan Solane.


Solane dengan semua kekuatannya menahan dirinya untuk tidak melangkah. Rico tersentak. Solane lalu menarik tangan Rico dan menamparnya.


Pak!


"Kau ini apa hah? Rico, plis! Kita tidak ada hubungan. Aku tidak akan hamil jadi kau tenang saja! Sudah, aku harus bersama Jimmy sampai dikebumikan di Legacy! Kalau kau menyesal, anggap saja kita tidak pernah mengenal!" Decak Solane dan berbalik ke kamar jenasah itu.


Rico terpaku di sana. Solane benar benar melupakan semua rayuan yang ia berikan padanya. Solane bahkan seperti tidak merasakan kebahagiaan mereka kemarin malam. Betapa berartinya Solane baginya sekarang. Betapa kejadian semalam sangat berkesan baginya namun Solane bahkan menolaknya. Dia masih memegang pipinya dan melihat kepergian Solane yang menjauhinya.


Rico kembali menghela napas dan kembali mendekati Solane. Mungkin dia harus lebih mengerti. Dalam keadaan sadar seperti ini, Rico jadi mengetahui hati yang sebenarnya dari seorang Solane. Dia harus bersabar.


"Solane aku minta maaf! Maafkan aku terlalu percaya diri. Kenyataannya kau tidak menyukaiku ya? Baiklah tidak apa apa. Tapi dengarkan ku baik baik! Aku sudah menyukaimu bahkan mencintaimu! Jangan salahkan aku jika aku terus mendekatiku! Meski kau menolak, menamparku berkali kali, kupastikan, kau akan menyukai dan mencintaiku juga bahkan lebih. Aku tidak akan menganggumu. Aku juga mau mengurus nyonyaku. Kalau kau masih menganggapku temanmu. Oke aku tidak akan memaksamu untuk menjadi kekasihku, teman! Just friend! Kalau kau masih menganggapnya. Pulang lah nanti ke hotel kita kemarin malam. Aku di sana. Atau kalau kau tidak mau, pergilah ke resort Prime. Di sana ada Lexa dan Leon. Jangan pergi kemanapun yang akan membuatku panik. Aku tidak mau terjadi apa apa denganmu! Maafkan aku kalau semalam aku tidak mengharga duka citamu. Maafkan aku! Permisi.." kata Rico dengan semua kesabaran dan kerendahan hatinya di samping Solane. Dia lalu pergi meninggalkan Solane menuju ke ruangan ICU nyonyanya.


Solane menoleh menatap kepergian Rico yang tampak menjabak rambutnya frustasi. Tanpa sadar, air mata Solane terjatuh. Sejatinya, dia hanya tak pantas buat pria sebaik Rico. Rico pantas mendapatkan yang lebih darinya. Solane pun tidak mau kalau pada akhirnya Rico hanya kasihan padanya dengan semua masalah yang sedang menimpanya. Setelah itu dia pun takut Rico akan meninggalkannya. Jadi sebaiknya dia seperti ini dan tidak berharap. Sepertinya dia harus sendiri saja merawat anak dan ibu mertuannya. Semoga ibunya dapat mengerti apa yang akan ia katakan mengenai anaknya.


Solane sudah mengetahui mengapa Jimmy bisa overdosis. Ya memang benar, Jimmy mengkonsumi barang barang terlarang itu dengan jumlah banyak. Selain itu tubuhnya seperti terkejut menerima semuanya itu karna sudah jarang ia tidak mengkonsumsinya. Sementara Sherly, wanita yang bersamanya masih terbujur kaku belum sadarkan diri. Beberapa keluarganya sudah ada yang menemuinya.


Tak berapa lama, Lexa, Leon, Dion, dan juga sudah ada Abby, Ben dan Viena mendatangi rumah sakit itu dengan tujuan menengok Bella. Mereka melewati kamar jenasah dan bertemu dengan Solane. Lexa langsung menghampirinya dan memeluk sahabatnya itu. Mereka yang datang juga mengucapkan bela sungkawa pada Solane. Ben mengatakan sore ini jenasah Jimmy akan diterbangkan ke Legacy agar segera dapat di kebumikan atau di kremasi. Solane mengangguk sambil terus menghapus air matanya yang terus terjatuh. Sebenarnya, dia memikirkan Rico. Entah mengapa dia menjadi merasa bersalah tapi juga tidak ingin membuat harapan bagi dirinya sendiri. Semua kegagalan cinta ini membuatnya jadi tidak selera untuk memulai lagi walau tidak dapat dipungkiri kalau sebenarnya Solane pun sudah menyukai Rico. Bahkan sebelum semua perkara ini. Dia pun juga menikmati tubuh dan pelukan hangat Rico semalam. Namun, mengapa sekarang dia sangat enggan berdekatan dengan Rico.


"Solane, kau terus melamun, sebaiknya kau ikut kami saja menengok Nyonya Bella ya?" Kata Abby yang menyadari keanehan Solane.


"Jangan bersedih lagi Solane. Jimmy sudah tenang di surga. Tugasmu sekarang berdoa, minta kekuatan pada Tuhan agar kau bisa menjadi yang terbaik bagi Jacklyn. Anakmu masih membutuhkan dirimu." Tambah Viena ikut merasakan duka cita Solane.


"Ya, terimakasih Abby, Nyonya Viena." Ucap Solane menyandarkan kepalanya pada bahu Lexa.


Mereka pun semua menuju ke ruang ICU.


"Solane, kau benar melakukannya dengan Rico semalam?" Bisik Lexa masih merangkul Solane menyusuri lorong rumah sakit.


Solane mengangguk.


"Jadi, apa kau bersedih sebenarnya memikirkan dia?" Tanya Lexa lagi meyakinkan.

__ADS_1


Solane mengangguk lagi.


"Kemana di sekarang?"


"Menunggui nyonya nya setelah aku mengusirnya untuk menemaniku tadi." Jawab Solane melemah.


"Kenapa Solane? Aku yakin kau menyukainya kan? Dia juga menyukaimu Solane!" Saut Lexa agak terkejut dengan kelakuan temannya ini.


"Aku tidak mau berharap banyak Lexa! Aku baru saja kehilangan Jimmy dengan cara seperti ini dan termyata Jimmy masih selingkuh dengan Sherly. Aku memang menyukai Rico bahkan aku mencintainya Lexa, tapi sebenarnya aku tidak pantas bersanding dengannya. Aku yang sekarang hanya janda beranak satu dan tinggal bersama mertua. Reputasinya akan jatuh ketika semua orang tahu kalau dia menikahi wanita sepertiku!" Kata Solane pelan sampai hanya Lexa yang mendengar.


"Ya, aku mengerti dengan semua alasanmu, namun jika dia mengejarmu dan mempertahankan cinta kalian, kau harus menghargai dan membuka diri untuknya. Aku yakin Rico tidak akan seperti yang kau katakan. Dia menyukai wanita dewasa dan bertanggung jawab sepertimu Solane." Lexa mencoba meyakinkan.


"Iya Lexa, aku akan berusaha menghargainya namun entahlah untuk berhubungan aku masih takut. Aku takut Rico hanya kasihan padaku. Aku sama sekali tidak apa masalah semalam karna aku yang merayunya walau .." solane tidak melanjutkan dan mengingat kejadian indah semalam.


"Walau apa?" Selidik Lexa.


"Malam yang sangat indah bagiku Lexa. Dia melakukannya dengan penuh cinta. Hem, aku merasa sangat bersalah padanya. Semalam yang pertama kalinya untuknya tapi aku begini padanya." Solane merutuki dirinya.


"Pelan pelan Solane. Kau pasti bisa menerimanya menjadi bagian dalam hidupmu dan Jacklyn." Kata Lexa terus memastikan perasaan temannya.


Solane hanya mengangguk dan mereka semua tiba di ruang ICU. Tampak Rico duduk di depan ruangan itu dengan mengusap wajahnya kasar. Solane berada di paling belakang bersama Lexa. Dia menatap Rico dan hatinya sedikit bergetir. Tidak! Dia harus memantapkan pendirinya. Tidak boleh terlalu percaya diri dan memberi harapan pada Rico.


Mereka semua menghampiri Rico. Mereka semua saling berjabat tangan dan ikut sedih. Hasil untuk Bella sudah keluar. Kepala Bella terkena gegar otak. Sepertinya dia akan kehilangan ingatan yang membuatnya terlalu sedih atau terlalu senang. Ada sedikit cedera otak juga di bagian pelipisnya namun tidak terlalu fatal. Dan, penyakit lain yang di derita Bella yaitu Liver karna mengkonsumsi alkohol dengan berskala banyak. Jadi, Bella harus benar benar di rawat intensif di rumah sakit. Rico sudah menyetujuinya dan memang harus dirinya yang mengurus hotel hotel ini untuk sementara waktu.


"Em, Rico, masalah aku mendorongnya, aku benar benar minta maaf. Aku emosi dan kau tahu sendiri bagaimana aku tidak mau kehilangan Leon. Tapi, kalau kau merasa ini tidak adil bagi nyonyamu dan kau mau menuntutku sebagai tindak kekerasan, aku akan menerimanya. Aku menyesal!" Kata Lexa yang sangat merasa bersalah. Dia menunduk dan Leon sudah merangkulnya.


"Kau ini apa Lexa?! Mengapa kau berbicara seperti itu? Kau mau di penjara hah?" Decak Leon pelan.


Rico terkekeh. Dia bahkan tidak memikirkan semua ketakutan Lexa.


"Lexa! Tenang saja! Aku tidak akan melakukannya dan aku sama sekali tidak berencana. Malah aku mau berterimakasih. Dengan begini dia akan beristirahat dan dengan kejadian ini, aku jadi mengetahui penyakitnya yang membutuhkan tenaga medis lebih intensif. Aku harus mengurusnya. Dia sudah seperti ibuku." Kata Rico menenangkan Lexa. Sesekali pandangannya melihat Solane yang terus menunduk.


"Kau memang bertanggung jawab Rico!" Dion memuji dan entah mengapa Solane menjadi lebih lebih bersalah atas kata kata Dion untuk Rico.


"Hem, wanita yang akan bersanding denganmu nanti pasti wanita yang paling berbahagia Rico!" Kata Viena lagi membuat Solane makin berdebar. Entahlah dia harus apa dengan dirinya dan Rico. Sejatinya ya dia masih membutuhkan sosok seperti Rico.


...


Siangnya, jenasah Jimmy sudah diterbangkan ke Legacy. Ben juga Abby dan Solane harus kembali sore harinya. Leon Lexa dan Viena Dion masih satu hari lagi di sana. Sedangkan Rico masih belum tahu akan pulang kapan. Dia masih menunggui nyonyanya. Sebelum kembali ke Legacy, Solane menemui Rico untuk meminta maaf atas tamparannya pagi tadi. Dia membawa segelah coklat hangat untuk pria yang sudah mengisi ruang hatinya.


"Rico?" Panggil Solane pada Rico yang menunggu di depan ruang ICU sambil menyandarkan dirinya. Dia lalu membuka matanya dan agak terkejut kalau Solane menghampirinya.


"Aku mau kembali ke Legacy. Jenasah Jimmy sudah di terbangkan ke sana. Aku harus segera meng kremasi nya. Besok kira kira jam 10 pagi aku akan melakukannya. Kau baik baik ya? Titip salam cepat sembuhku jika nyonya mu sudah sadar. Permisi." Kata Solane. Rico masih memandangnya sayu. Dia benar benar ingin memeluk wanita itu dan menemaninya. Namun, sepertinya dia harus bersabar dan mengerti posisi Solane sekarang.


Solane tersenyum tipis dan berbalik karna tidak ada respon dari Rico. Dia pun hendak melangkah namun ..


"Hati hati Solane! Jaga dirimu! Pesanku, kau berhak bahagia setelah ini. Titip salamku juga untuk ibu mertuamu agar dapat bersabar. Dan, titip kecup sayang ku untuk Jacklyn. Katakan, aku merindukannya." Rico berkata kata seperti ucapan selamat tinggal yang sebenarnya sangat menyakitkan baginya.


Begitu juga Solane di sana. Dia meneteskan air matanya. Dia menguceknya dan tanpa berkata apa apa lagi dia kembali berjalan meninggalkan Rico. Dia tidak tahu akan menemukan pria yang sangat baik seperti Rico lagi atau tidak. Atau bisakah dia bersama Rico suatu saat nanti ketika semua kekecewaan dan ketakutan akan kegagalan dalam dirinya sirnah.


"Kalau aku menjadi dirimu, aku akan terus mengejarnya. Aku akan menemaninya dan ada di sampingnya bagaimana pun keadaannya!" Kata Leon tiba tiba yang ternyata masih ada di sana membantu Ben. Dia tak sengaja melihat adegan drama sedih itu dan sedikit mendengarnya.


Rico menoleh melihat Leon.


"Kau cinta pertamanya sir!" Kata Rico yang merasa Leon begitu beruntung. Andai saja dirinya yang lebih dulu bertemu dengan Solane.


Leon menggeleng . Dia mendekati Rico dengan mengantungkan tangannya di saku celananya.


"Jimmy adalah cinta pertamanya. Namun, itu semua mungkin juga karna harta. Solane tidak pernah mencintaiku, dia hanya ingin aku bersanding dengannya karna harta. Ayahnya menyukaiku. Sedangkan bersama Jimmy karna hasutan untuk menjadikan dirinya semakin kaya raya. Atau sepertinya cinta pertama Solane yang tulus dan apa adanya adalah bersamamu Tuan Jerico Naraya!" Kata Leon yang sekarang menepuk pelan bahu Rico.


Jantung Rico lagi lagi berdebar dan sekujur tubuhnya meringis. Dia memang merasakan ketulusan Solane beedekatan dengannya. Sama seperti pertama kali Rico jatuh cinta dengan Regina, kekasih pertamanya yang telah meninggal karna kecelakaan. Rico sempat tidak mau berpacaran lagi. Namun, ketika bersama Solane, dia memiliki sesuatu yang berbeda dan dia berani untuk kembali memulai. Apalagi dengan wanita hebat seperti Solane, pikirnya.


"Tapi Leon, dia?"


"Kau harus mendampinginya ketika kremasi Jimmy besok Rico. Nyonya Bella serahkan padaku dan Lexa." Kata Leon mendukung pencarian cinta temannya itu.


"Baiklah. Aku akan kesana mendampinginya dan mendapatkannya?" Rico menaikan alisnya yakin!


"Ya, dapatkan dia sir!" Leon menepuk bahu Rico.


"Terimakasih Leon. Tapi Leon, jika kau ingin menunggui Nyonya Bella sebaiknya dari jauh saja. Aku takut doa sadar dan melihatmu dan Lexa dia semakin menjadi jadi. Karna jika dia ingin kembali normal, dia tidak boleh dulu bertemu dengan orang orang yang membuatnya bersedih atau senang. Biarkan dia dalam keadaan pulih." Kata Rico memperingati apa yabg di pesankan dokter.


"Oh iya Rico kau tenang saja. Aku hanya melihat dan mengetahui perkembangannya. Di sana juga ada para perawat kan?"


"Iya Leon! Baiklah, aku akan mengemas barangku dulu dan mencari tiket."


"Ya, pergilah! Kau pasti mendapatkannya! Aku yakin! Em, tolong panggilkan Lexa di kantin suruh dia kesini ya Rico?"

__ADS_1


"Oh, baiklah Leon, terimakasih!"


Rico pun bergegas. Dia memantapkan dirinya akann mendapatkan Solane untuk menadi segala galanya dalam hidupnya. Tak padui kalau nanti Solane terus menolaknya. Dia harus bersama Solane.


...


Kira kira pukul 9 pagi Rico tiba di Legacy. Dia mendapatkan penerbangan pagi subuh tadi pukul 5. Dia segera bergegas ke tempat kremasi Jimmy yang sudah di infokan Ben. Dia sempat terkena kemacetan di jalan ibu kota Legacy tapi untungnya dia tepat waktu tiba di sana. Solane dan Ibu mertuanya juga Renzy yang menggendong Jacklyn tampak di sana. Mereka semua mengenakan pakaian hitam. Solane mengenakan kacamata hitamnya.


Rico tidak bisa di sampingnya karna sudah agak penuh orang yang mengenal Jimmy dan kerabat kerabat Solane. Dia hanya memperhatikan dari kejuahan wajah sayu dan berserah Solane. Rasanya dia benar benar ingin merangkulnya dan mendekapnya. Pria itu terlalu merindukan wanitanya.


Setelah semua upacara kremasi selesai dan Jimmy pun telah di kremasi. Rico terus memperhatikan Solane dan mencari waktu untuk bisa berbicara dengannya. Rico sempat saja mendatangi Solane ketika melihat Solane seperti terlibat perdebatan dengan ibu mertuanya.


"Solane! Kau benar benar wanita tidak berguna! Kau bisa membuat anakku seperti ini!" Decak ibu mertua Solane menunjuk nunjuknya.


"Hah? Aku? Jelas jelas kau melihat bagaimana aku merawat anak dan cucumu!" Solane berusaha membela diri.


Pak! Ibu mertuanya menampar Solane.


Renzy yang juga di situ jadi agak bingung. Dia pun akhirnya membawa Jacklyn menjauh..


"Aku tidak mau lagi tinggal bersamamu! Taruh saja aku di panti jompo! Aku takut kau akan berbuat kasar padaku, sehingga aku mati dengan mengenaskan seperti anakku ini!" Bentak mertuanya tidak mau kalah.


"Mom! Jimmy yang berselingkuh dan mengkonsumsi barang barang terlarang, mengapa kau menuduhku?" Kata Solane yang surah kembali kecewa dengan keegoisan ibu mertuanya. Padahal dia juga yang merawat mertuanya itu.


"Kalau kau menjaganya dengan baik dia tidak akan seperti ini! Sudahlah! Cepat urus penempatanku! Aku juga pusing mendengar tangis anakmu itu!" Decak si ibu mertua dan masih memandangi guci yang berisi abu anaknya.


"Cih, buah tak jauh dari pohonnya! Sama sama tidak jelas dan mementingkan ego!" Decak Solane kembali dan meninggalkan ibu mertuanya. Bagus pikirnya! Dia tidak harus repot repot mengurusi wanita tua itu! Solane mencari Renzy dan hendak pulang. Rasanya Solane pun tidak membutuhkan abu suaminya itu. Benar benar tidak berguna!


Rico lalu mengikuti Solane yang belum diketahuinya.


"Solane?" Panggil Rico sontak membuat Solane berhenti dan berbalik.


"Kau? Kenapa kau di sini?" Tanya Solane terkejut tapi juga sedikit senang.


"Ya, aku ke sini sengaja menemuimu." Jawab Rico tersenyum tipis.


"Cih, Rico Rico! Sudah Rico, sudah kubilang aku melepaskanmu, kita ini seperti maghnet yang terbalik. Tidak bisa bersama. Kau akan mendapatkan wanita yang lebih dari padaku. Yang masih polos, murni dan tersegel pastinya! Itu sangat spesial, ketimbang .."


"Tapi aku mau kau!"


Rico memotong pembicaraan Solane dan langsung menyatakan isi hatinya. Tidak bisa dipungkiri, jantung Solane berdetak dengan sangat cepat. 'ya, aku juga mau kau, Rico!' begitulah di dalam hatinya namun sangat sulit ia katakan.


"Hah? Aku? Haha! Kau sudah rapi dan tampan seperti ini Tuan Jerico Naraya! Jadi kau sudah terbangun kan? Aku juga sedang tidak mabuk atau setengah sadar. Kau mungkin sedang mengigau! Sudahlah! Jangan terus bergurau! Kita tidak akan pernah pantas dan cocok!" Balas Solane sedikit menghampiri Rico dan mengebas ngebaskan jas Rico memujinya lalu ia berbalik hendak pergi. Matanya sudah berkaca kaca namun dia mencoba tegar.


Solane hendak melangkah, namun Rico malah menarik tangannya untuk masuk ke dalam pelukannya. Rico memeluknya dengan sangat erat dan penuh kehangatan.


"Aku tidak mengingau Solane. Aku mencintaimu. Aku ingin dirimu. Aku ingin menjagamu, aku ingin melindungimu dan Jacklyn dan aku .. aku juga mau bercinta denganmu. Lagi dan lagi. Tolong, jangan pergi dariku lagi! Percayalah, kau yang terbaik bagiku!" Kata Rico dengan penuh keyakinan kalau dirinya mengingini wanita ini.


...


...


...


...


...


...


Fix nyes nyesan ngurusin hubungan klean Rico Solane kuu 😭😭😁😁


.


Next part 19


Akankah Solane menerima Rico?


Perkara apa lagi yang menimpa Lexa dan Leon?


Yaa sejatinya di dalam kehidupan ini pasti akan ada terus masalah, smangat gaes!! 😇😇


..


Jangan lupa LIKE dan KOMEN nyaa ya


Kasih RATE dan VOTE juga di depan profil novel mohon bantuannya hehe 😊😊

__ADS_1


.


Thanks for read and i love you 💕


__ADS_2