Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LEXA LEON PART 43


__ADS_3

Masa pahit itu rasanya masih menggerayangi pikiran wanita yang sudah merasakan perihnya kehilangan lelehan lahar merah dari tubuhnya itu. Seperti bunga yang kelopaknya jatuh berguguran. Adakah yang mengetahui bagaimana hatinya tercabik cabik dan adakah yang memperhatikan kelopak berguguran itu sehingga mau menyatukannya kembali. Sepertinya tidak. Jika kelopak itu jatuh ke tanah tidak ada lagi penghargaan bagi sang putik bunga yang mempertahankan raga nya dan berharap suatu saat nanti akan kembali mekar.


Senyum dingin yang dipancarkan tampaknya juga tercampur dengan kesedihan mendalam karna menyesal. Haruskan dia kembali menunggu saat itu jika hanya berdiam diri tanpa berusaha? Menunggu bagian tubuhnya kembali menciptakan seperti sang bunga yang percaya kalau suatu saat nanti ia akan kembali bermekarang bahkan menjadi taman bunga.


Lalu bagaimana dengan Lexa dan Leon? Mengapa rasanya hanya Lexa yang terus berusaha dan merasa curiga dengan suaminya yang rasanya menghindar dalam membicarakan keturunan. Katanya sudah terbiasa bersama berdua untuk apa memikirkan yang akan datang. Lexa menaikan alisnya tak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya.


"Jadi, bagaimana Leon? Ternyata kau tidak mau memiliki bayi terlebih dahulu?" tanya Lexa setelah mereka menghabiskan makan malam dan bercengkrama bersama di ruang tamu.


"Bukan Lexa, apa kau tidak menyadari, kehamilan ini malah membuat kita semua frustasi dan membuat kita bersedih. Kau tidak dengar bagaimana kondisi janin nya Angel? Anaknya buta Lexa!" Leon yang tadinya bersandar pada sofa harus menegakan tubuhnya.


Pak!


Lexa menampar kecil pipi Leon.


"Kau keterlaluan Leon! Pikirkan otakmu itu bermasalah! Itu adikmu dan dia memiliki bayi! Dia mempertahankan anaknya dan dia akan memiliki anak, sedangkan kita? Jangan bicara padaku kalau otakmu itu masih kehilangan partikelnya! Musang bodoh tengik busuk! I hate you!" Decak Lexa tak peduli dengan Leon memegang pipinya. Dia menuju ke kamar nya.


"Kenapa tidak ada yang menyadarinya hah? Kalian hanya terhanyut pada kesedihan jika hanya terus memikirkan kehamilan!" Bantah Leon dengan penekanan.


Brak!


Lexa membanting pintu kamar dan menguncinya.


"Tidur di sofa!!" Balas Lexa masa bodoh .


"Hem, mengapa wanita wanita ini menginginkan kehamilan padahal hal itu akan membuatnya repot!" Dengus Leon juga tidak peduli. Dia melipat tangannya di depan dadanya dan malah menonton televisi di ruang tamu.


Keesokan paginya, Lexa sudah menyiapkan sarapan untuk Leon dan dia pergi ke kantornya lebih dulu tidak bersama suaminya. Leon hampir saja telat jika Rico tidak menghubunginya. Rico hendak ke Legacy hendak membicarakan pembatalan kerja sama saham dengan Prime Group. Leon melihat jam dinding dan sudah pukul 8 pagi. Dia segera beranjak dan menuju ke kamarnya. Dia mengetuk pintu kamar, takut Lexa masih tidur di dana. Dia menekan tuas pintu dan ternyata tidak ada batang hidung Lexa.


"Lexa?!" Dia mencarinya ke toilet pun tidak ada. Akhirnya dia menuju ke dapur. Sarapan pagi kesukaan Leon sudah tersaji dan ada pesan di atasnya.


-Leon, jika kau masih tidak ingin memiliki keturunan dari kita, sebaiknya kita menjauh saja! Aku tidak menemukan dirimu yang dulu! Kau terlalu kekanak kanakan! Dan kau tidak lagi penuh kasih sayang yang Kusuka! Jangan menghubungi aku dan sepertinya kita tidak akan bertatap muka lagi sebelum kau menyadari kekeliruanmu!-


Hati Leon sedikit meringis membaca pesan Lexa. Dia bukan tidak mencintai Lexa lagi, dia masih hanya belum siap dengan semua ini. Dia takut Lexa kembali bersedih. Namun, dengan begini Leon malah makin bersedih. Dia menyadari kalau dirinya salah, tapi bagaimana dengan hati kecilnya?


Leon terduduk lemas dan memakan sarapannya sendiri dengan tidak selera. Setelah itu dia bersiap dan bergegas menuju ke kantornya.


Leon melajukan mobilnya tidak terburu buru namun dia memikirkan istrinya . Tidak bisanya Lexa seperti ini padanya. Apakah Lexa begitu marah padanya? Dan dia memang merasa keterlaluan kalau dia menyalahkan Angel memiliki anak yang sedikit kelainan. Karna Leon sedikit frustasi, dia tidak serius mengemudikan mobilnya sampai hendak menabrak seorang pria yang mungkin seumurannya. Pria itu agak kesal dan Leon juga merasa bersalah. Pria tersebut memukul bagian depan mobil Leon membuat dirinya mengharuskan keluar dari mobilnya.


"Bagaimana kau mengemudi hah?!" bentak pria itu dengan sangat geram.


"Maafkan aku Tuan, aku tidak sengaja!" Leon berusaha memohon dengan nada melemah karna dirinya yang salah. pasalnya lampu lalu lintas menyatakan warna merah namun Leon terus melajukan mobilnya.


"Kau tidak tahu kan kalau aku harus segera ke rumah sakit karna istriku sedang melahirkan! Dia terus memanggil namaku sedangkan aku harus menyelesaikan pekerjaanku untuk makan dan minum kami! Kami sudah menunggu anak kami selama bertahun tahun tapi kau malah mengemudi tidak dengan benar. Bagaimana jika kau menabrakku dan istri ku, anak ku, mereka harus bersama siapa kalau bukan aku?! Kau ini! Kau hanya seorang lajang yang kaya yang tidak memikirkan apapun kan?! Menyupir yang benar atau kau jalan kaki saja!" Pria itu membentak bentak Leon sambil menceritakan permasalahan hidupnya. Dia lalu pergi setelah membuat Leon seribu bahasa.

__ADS_1


Sepertinya pria itu ada lah petugas keamanan sebuah perusahaan karna seragam yang ia kenakan. Leon menepuk dahinya. Bagaimana bisa dia sampai teledor seperti ini?! Hem, Lexa benar benar mempengaruhinya.


Leon pun kembali mengemudikan mobilnya kali ini lebih waspada. Namun entah mengapa perkataan pria itu malah menari nari di pikirannya. Pria itu sekuat tenaga ingin bersama istrinya yang sedang melahirnya. Pria itu bahkan menginginkan anak yang sudah mereka nantikan. Padahal kondisi perekonomian nya mungkin tidak baik. Leon kembali mengingat adiknya. Angel dan Jerry sangat kaya dan memiliki segalanya namun anaknya tidak sempurna namun mereka tetap akan menjaganya dan bahkan adiknya ingin melahirkannya. Begitulah hati seorang ibu yang juga mungkin dirasakan istrinya.


"Argh!" Leon memukul kemudinya ketika sudah sampai di basment parkir hotel. Dia mencakar rambutnya kasar dan menggeleng gelengkan kepalanya.


"Ada apa dengan pikiranku ini?! Mengapa aku jadi tidak menginginkan seorang anak? Padahal ketika aku mendengar Lexa hamil, aku begitu senang dan merasa aku sangat berhasil, tapi mengapa sekarang? Ah tidak benar ini!" Decak Leon sebal terhadap dirinya sendiri.


Seperti banyak petunjuk untuk merubah jalan pikirannya saat ini. Ketika dia turun dari mobil, dia melihat seorang pria yang menggandeng tangan seorang anak kecil sekitar berusia 4 tahun dan di tangan satunya dia menggendong seorang anak perempuan yang mungkin belum bisa berjalan. Leon menerka pasti pria itu adalah ayah dari kedua anak tersebut. Ayahnya tampak terus tersenyum dengan kedua anaknya. Anak perempuannya terus memegang pipi ayahnya dan anak laki lakinya seperti sedang berceloteh menceritakan sesuatu pada ayahnya. Tak lama datang seorang wanita yang pasti adalah ibu mereka. Leon tersenyum melihat pemandangan ini. Keluarga itu begitu ceria dan penuh dengan kehangatan.


Leon jadi terbesit membayangkan dirinya juga menggandeng seorang anak kecil dan satu tangannya lagi menggandeng Lexa yang sedang hamil lagi. Ah, imajinasi yang cukup berlebihan namun membuat dirinya tersenyum kecil dan terus melamunkannya. Sampai seorang pria menabraknya. Mereka berdua bertatapan. Pria tersebut menggendong seorang bayi dengan tas di pundaknya.


"Leon!"


"Tuan Dion! Ada apa ini?" Leon terheran karna tuannya membawa Dior ke kantor.


"Viena harus ke Summer, dia berhasil mendapatkan lahan untuk usahanya lagi. Dia mau mengajar Dior dan aku melarangnya. Jadi aku saja yang membawanya kesini. Nanti biar Renzy yang menjaganya. Dengan begini, Viena tenang mengurus pekerjaannya dan Dior tidak lelah!" Jawab Dion tersenyum.


Leon memandang Dior yang masih tampak lucu dan pipinya memerah walau sudah menginjak umur satu tahun.


"Ta ta! Na na!" Tutur Dior dengan bahasa bayinya ke arah Leon.


"Dia berkata kata pada ku Tuan!" Leon tampak senang dan merasa takjub mendengar suara Dior yang baru saja ia dengar.


"Ya dia sudah bisa berkata tata itu sepertinya papa dan nana adalah mama." saut Dion merasa yakin dengan penuturan anak nya.


"Kau tidak akan tahu kebahagiaan apa yang di dapat ketika melihat dia tertawa atau menyaksikan dia menunjukan aksi aksi barunya." Balas Dion seraya berjalan menuju lift ke lantai atas.


Leon juga mengikuti tuannya sambil menggoda dan bercanda dengan Dior. Seketika lagi lagi Leon terbesit juga ingin memiliki anak seperti Dior. Ya, sepertinya dia sudah salah besar. Dia harus melakukan sesuatu dengan Lexa. Lexa juga pasti terus memikirkan dirinya.


Setelah Leon memberikan Dior pada Renzy, Leon menuju ke ruang kerjanya. Dia merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya hendak memberi pesan pada Lexa.


πŸ’ŒLEONπŸ’Œ


sayang, kau sedang di mana? Jaga dirimu jangan lupa makan. Sarapan mu pagi ini sangat lezat. Em, sebenarnya aku mau minta maaf, tapi biar kita bicara di apartemen nanti, aku mohon jangan menghindar dariku karna aku sudah terbiasa denganmu. Sekarang saja aku merindukanmu! β™₯️


Leon tersenyum mengirim pesan pada Lexa. Dia seperti baru pertama kali pacaran saja. Leon lalu kembali keluar melihat Dior yang kini sedang bermain dengan Sherry yang baru saja datang.


"Sherry?" Panggil Leon menutup ruangannya. Sherry menengok sementara ayahnya masih juga di sana.


"Baiklah Renzy, ini buku mewarnai Sherry, berikan jika dia sudah bosan. Aku harus bertemu dengan Tuan Rico siang ini, jadi aku harus mengurus berkas berkas. Aku titip Sherry. Kalau kau repot berikan semua mainan ini, oke?" pesan Manuel menyerahkan semua perlengkapan Sherry seperti biasanya pada Renzy.


"Ya, ya, hari ini aku membuka tempat penitipan anak!" Decak Renzy bergurau.

__ADS_1


Leon terkekeh tapi menghampiri mereka.


"Manuel, apa kau selalu seperti ini setiap hari?" tanya Leon penasaran dengan sikap siaga Manuel yang patut di acungi jempol.


"Jadi, aku harus bersama siapa? Karna Sherry aku seperti ini. Dia sumber penyemangat ku! Jadi Leon, kalau kau tidak ada urusan segera tanda tangani berkas yang untuk Tuan Rico. Nanti siang kita bertemu." jawab Manuel tanpa melepas pandangan ke perlengkapan Sherry yang masih ia periksa.


"Ya!" Jawab Leon tanpa mengalihkan pandangannya pada Dior yang sedang tengkurap di sofa besar itu bersama Sherry yang sedang menggodanya.


Manuel lalu ke ruangannya menemui Reginald. Sementara Leon tetap di depan meja Renzy melihat Dior dan Sherry. Seketika Renzy melihat kedua mata Leon yang berbinar binar.


"Sebaiknya, kau cepat membuatnya agar wajahmu tidak seperti ingin memiliki sekali seperti itu!!" Decak Renzy menyindir.


"Ya, nanti malam aku akan membuatnya!" saut Leon dengan sangat tenang.


"Heng, seperti hendak membuat nasi kare saja kau mengatakannya!" celetuk Renzy seperti biasa.


"Memang!" Balas Leon dan masuk ke dalam ruangannya. Leon kembali duduk dan sangat merasa bersalah pada istrinya. Dia melihat ponselnya dan belum ada balasan dari Lexa. Dia menghela napas. Dia harus melakukan sesuatu nanti. Jangan sampai harus berselisih paham lagi.


...


...


...


...


...


ayo Leon! Jan lebay! Jan jadi suami kaga ber- etika yg kaga Mao punya baby 😁😁


.


next part 44


special Rico Solane dulu ya? tadinya mau di sini tapi kepanjangan .. biar kek crazy up yang di potong potong πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


tapi ini lanjutan pertemuan Rico, Leon, Manuel dan Reginald kok 😁😁


.


jangan lupa lupa lupa LIKE dan KOMEN i need .. kalo ga keberatan juga kasih RATE bintang bintang di langit lima biji ✨✨✨✨✨ terus kasih VOTE Deh 😍😍


.

__ADS_1


okedeh maaci ya dah mo baca


i lop you pull πŸ’•πŸ’•


__ADS_2