Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 56. Save You (2)


__ADS_3

Demi yang paling hangat di dalam hati, ingin selalu memberikan apa yang dimiliki. perlindungan terutama. apapun yang terjadi, dia harus dalam keadaan baik. semua ia kerahkan untuk mendapatkan hatinya menyantu di dalam jiwa dan raganya untuk menemukan kata 'satu'. apakah Xelino akan tepat waktu menyelamatkan Carolyn? apa yang terjadi pada akhirnya dengan hubungan mereka?


...


Carolyn ingin ke arah pintu tapi sangat jauh dan pasti Ansel akan mendapatkan dirinya.


"Jangan, aku mohon! Aku bisa memberikan apapun untukmu! Kau tinggal hubungi saja Daddy ku, tapi jangan sentuh aku, JANGAN!" Pekik Carolyn menghadang dengan tangannya.


"Oh, tentu, aku tentu akan meminta apa yang kuinginkan setelah aku menikmati tubuhmu Carolyn. Aku sudah memperhatikanmu sejak dulu. Kau pasti sudah menyadarinya kan? Sepertinya kau lebih sintal dari kakakmu, jadi aku harus mencoba setiap inci dari tubuh rupawan mu ini, Carolyn!" Kata Ansel menyeringai mendekati Carolyn sambil membuka kemejanya dari atas perlahan lahan.


"Ansel jangan aku mohon!!!" Teriak Carolyn sudah menangis


"Sudah terlambat Carolyn!" Balas Ansel sudah menahan Carolyn dan hendak meraih dagu Carolyn.


'Oh Tuhan, lindungi aku! Xelino, selamatkan aku, kalau saja kau tahu aku mencintaimu, kau pasti akan datang menyelamatkanku kan? Seandainya kau datang, aku pasti akan memaafkanmu Xelino! Aku hanya menginginkanmu! Selamatkan aku, Xelino! Xelino! Rubah tengik! Selamatkan aku,' gumam Carolyn dalam hati menundukan kepalanya karena Ansel hendak memaksanya.


Namun, ketika Carolyn meronta di depan sebuah pintu yang sepertinya pintu kamar mandi, Carolyn tak sengaja menekan tuas kamar mandi dan terbukalah ruangan itu.


Carolyn masuk ke dalamnya dan Ansel juga hendak jatuh tapi dia bisa menahan tubuh nya. Sejatinya Ansel juga terkejut.


Dengan cepat Carolyn reflek menendang ************ Ansel.


"ARGH! CAROLYN, KURANG AJAR KAU, AARGHH!!" Teriak Ansel merintih memegang kejantanannya tapi masih di luar kamar mandi.


Carolyn merasa ini kesempatan melindungi diri. Dia juga melihat di atap kamar mandi itu ada lubang berbentuk kotak yang di tutupi. Carolyn yakin itu pasti lorong yang akan membuat dia keluar.


Carolyn lalu beranjak dan menutup pintu kamar mandi itu. Dia menguncinya dari dalam. Lebih baik dia mati mendekam di kamar mandi dari pada Ansel yang menodainya. Jika lubang akses itu tidak bisa membantunya. Dia lebih baik mati bersama kamar mandi ini.


Ansel terkejut ketika dia hendak masuk ke kamar mandi untuk menarik Carolyn, pintu kamar mandi itu telah ditutup Carolyn dan dikunci dari dalam.


"CAROLYN, BUKA PINTUNYA! KAU LICIK SEKALI YA! MEMANGNYA AKU TIDAK BISA MEMBUKA PINTU INI? LEBIH BAIK KAU BUKA ATAU AKU AKAN MEMBUKANYA SECARA PAKSA!" ancam Ansel dengan berteriak sambil menggedor pintu kamar mandi itu.


"Buka saja, aku tidak takut!" Balas Carolyn menantang.


Dia mulai ingin mengetahui lubang kotak itu. Dia menaiki closet dan meraih atap yang belum terjangkau. Dia harus menaiki closet atas nya agar mengetahuinya. Dia akhirnya bisa meraba atap tapi ternyata lubang kotak itu tertutup sangat kencang. Dia tidak mempunyai apa apa di kamar mandi itu. Carolyn menarik napas dan hanya bisa berdoa.


Sementara Ansel memanggil temannya untuk membuka pintu kamar mandi dengan kunci cadangan atau apapun asal pintu cepat terbuka.


"CAROLYNNN, kau tunggu ya, kita akan menikmati malam ini sampai esok pagi!" Teriak Ansel.


Seluruh tubuh Carolyn bergidik. Dia tidak tahu lagi apa yang dia lakukan jika Ansel berhasil membuka pintu kamar mandir ini.


"Daddy, Mommy, Xelino, siapapun tolong temukan aku di sini, tolong!!!!" Rengek Carolyn benar benar terdesak. Apa jadinya hari ini dirinya di tangan Ansel.


Sekitar beberapa menit kemudian, Carolyn merasa Ansel akan berhasil membuka pintu kamar mandi ini. Carolyn Meringkup di depan closet dan menundukan kepalanya. Dia harus berkeras diri ketika pintu ini akhirnya terbuka oleh Ansel. Ansel sudah menyuruh anak buahnya keluar lagi dari kamar. Dia harus menikmati tubuh Carolyn setelah itu memotret Carolyn dengan keadaan yang mengenaskan dan mengirimkannya pada Gilbert. Dia akan meminta uang tebusan.


"Hahahaha, Carolyn, welcome to my world! Kalau aku, Casey sudah menjadi orang yang hina di matamu dan semua orang, maka kau juga harus menjadi orang terhina di mata semua orang, kemari kau!" Decak Ansel langsung menarik pergelangan tangan Carolyn keluar dari kamar mandi.


"CAROLYYYNNNN!!!!" terdengar suara dari luar memanggil namanya.


"Xelino!" kata Carolyn mendongakan kepalanya. Sementara Ansel panik. Bagaimana bisa Xelino mengetahui dirinya padahal ponsel Carolyn saja terjatuh di bar.


"Tidak, aku harus menyembunyikan diri bersama Carolyn!" Kata Ansel mengambil seribu langkah dan masih menarik tangan Carolyn hendak keluar.


"XELIINOOO, AKU DI SINI!!!!" Teriak Carolyn dan Ansel langsung berbalik lalu menutup mulut Carolyn dan kembali berjalan.


BUAKKK!


Saat itu juga, baru saja Ansel semakin mendekat, seseorang menendang pintu tersebut sampai terbuka. Ansel sudah mundur bersama Carolyn.

__ADS_1


"Lepaskan tangan kontormu dari Carolyn!" Kata pria yang menendang pintu kamar tersebut.


"Tidak akan, berikan dulu padaku 1 milyar dan biarkan aku kembali ke Nederland, maka aku akan melepaskannya!" Kata Ansel mengancam.


"ARGH!" teriak Ansel kemudian karena tak lama Carolyn menggigit tangan Ansel dengan sangat kencang. Ansel merintih dan Carolyn terbebas dari rengkuhan Ansel.


Dia segera berlari ke pria yang menyelamatkannya.


"Xelino," katanya memeluk pria itu yang ternyata memang Xelino menurut dugaan Carolyn.


"Carolyn, kau baik baik saja?" Selidik Crolyn juga memeluk Xelino.


"Dia, dia, dia mau memperkosaku, Xelino, aku takut!" Kata Carolyn cemas, gugup, terbata dan ketakutan.


Xelino langsung menoleh dan menatap tajam Ansel yang masih merintih. Xelino langsung meminggirkan Carolyn dan menghampiri Ansel.


Buak!


Xelino menarik tangan Ansel dan memberi pukulan yang sangat keras pada wajahnya satu kali. Ansel hendak terjatuh tapi Xelino masih menahan tangannya.


Buak!


Satu kali lagi Xelino memberikan pukulan dan kali ini Ansel terjatuh.


"Pria bejat! Tidak bisa menghargai wanita, kubunuh kau!" Pekik Xelino kembali menghampirinya dan memukul Ansel bertubi tubi. Ansel tidak bisa menahan karena ketika menahan, Xelino malah menghempaskan tangannya dengan cepat dan kembali memukulnya.


Carolyn menyaksikan Xelino yang penuh amarah menjadi malah pusing dan hendak terjatuh tapi Grizel yang berhasil mengikuti Xelino langsung menahan Carolyn.


"Xelino, aku mau pulang," kata Carolyn lagi. Tubuhnya mulai melemah karena dia juga belum makan dan mengalami semua ini.


"Xeli oppa hentikan! Carolyn pingsan! James oppa, cepat hentikan Xeli oppa, cepatt!!" Pekik Grizel yang juga takut melihat Xelino yang seperti orang kerasukan.


"Xelino, Xelino, sudah sudah, biar polisi Yang mengurusnya," kata James menarik lengan Xelino yang sudah tak jelas.


"Tidak bisa! Dia sudah berpikiran kotor pada wanitaku! Aku tidak bisa membiarkannya!" Saut Xelino menghempaskan tangan James sampai James pun terlempar.


"James oppa!" Pekik Grizel panik dan selanjutnya meminta tolong.


Tak lama Leon yang mendatangi Xelino. Ternyata ketika Leon menghubungi temannya Felix, dia juga berangkat kota karena Lexa mengkhawatirkan Xelino. Lexa memberitahu kalau Xelino pernah mengatakan akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Carolyn. Leon mau tidak mau harus menuruti istrinya juga mendampingi anak satu satunya.


"Xelino!" Bentak Leon menarik lengan Xelino yang masih memukuli Ansel yang tampaknya sudah tak sadarkan diri dengan darah berlinang di hidung juga sisi sisi pipinya.


"Apa apaan kau! Kau mau masuk penjara?! Iya? Carolyn baik baik saja! Seharusnya kau menyelamatkan Carolyn dengan tuntas bukan hanya menuruti emosimu! Cepat bawa Carolyn ke rumah sakit, biar papi yang mengurus di sini!" Bentak Leon lagi memarahi Xelino yang bukan seperti dirinya. Xelino menundukan kepalanya dengan napas tersenggal.


Dia lalu menoleh ke arah Carolyn yang juga tak sadarkan diri di pelukan Grizel. Dia langsung menghampiri wanitanya itu dan menggendongnya. Dia menempelkan dahinya di atas dahi Carolyn.


"I'm sorry!" Bisik Xelino lalu membawanya keluar dari rumah besar itu. James dan Grizel dengan segera mengikuti Xelino.


Ternyata bukan hanya Ansel di sana, tetapi ada juga bandar obat obatan terlarang dan minum minuman keras yang dilanggar masuk oleh negara. Leon memerintahkan Kepala Polisi Felix dan seluruh anak buahnya menangkap Ansel dengan semua antek anteknya.


"Tangkap semua atas namaku Felix!" Kata Leon.


"Siap Tuan Janson!"


Kepala polisi Felix segera mengamankan mereka semua. Tidak ada yang sempat melarikan diri karena Felix memang sudah mengincar salah satu bandar obat obat terlarang itu.


Leon pun menghubungi istrinya. Dia tidak mampu membuat khawatir apalagi karena masih sedih mengenai ayahnya yang baru saja meninggal.


...

__ADS_1


Xelino masih memegangi tangan Carolyn pagi itu. Dia tidak mau ke mana mana sampai Carolyn tersadar. Dia harus mengatakan semuanya. Dia harus mengungkapkan perasaannya. Tidak boleh lagi ada kata terlambat. Dia tidak tidur pagi pagi buta itu. Carolyn dilarikan ke rumah sakit sekitar pukul 3 pagi. Grizel dan James juga menunggui Carolyn di ruang perawatan VVIP itu. Gilbert dan Jennifer juga ada di sana dan sedang sarapan pagi di resto rumah sakit.


Kata dokter, Carolyn hanya kekurangan cairan dan shock dengan kejadian ini. Semua kondisi nya normal. Dia hanya membutuhkan satu botol infus cairan dan vitamin maka pasti akan kembali bangun. Carolyn memang lelah dan membutuhkan istirahat.


Xelino masih memandangi Carolyn sambil menggerak gerakan tangannya. Sementara identitas dirinya akan Leon yang urus. Leon sudah memberikan pesan pada Xelino pagi tadi. Leon masih di kota menunggu istrinya datang dan mereka akan mempertanggung jawabkan ulah anaknya.


Tak lama kemudian, akhirnya yang dinanti pun tersadar. Carolyn membuka matanya perlahan lagi. Sejujurnya dia takut akan kembali ke kamar semula. Carolyn pun tanpa sadar langsung bangun padahal tubuhnya masih lemah. Dia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu yang sangat menyeramkan baginya.


"Carolyn, kau sudah sadar?" kata Xelino memegang wajah Carolyn dengan tangan satunya.


"Xelino? Aku di mana? Aku bukan di rumah hina itu kan?" selidik Carolyn masih cemas dan takut.


"Tidak, tenanglah kau ada di rumah sakit. Ansel akan mendekam di penjara setelah sembuh dari luka babak belurnya," kata Xelino menjelaskan apa yang sudah terjadi.


"Kau menghajarnya?" Carolyn menatap sendu Xelino.


"Hampir membunuhnya!" Saut Xelino.


Seketika Carolyn kembali mengingat kesalahan Xelino. Dia harus memastikannya.


"Thanks!" Ucap Carolyn menarik tangannya dari pegangan tangan Xelino. Xelino merasa aura dingin terpancar di sekitar Carolyn .


"Carolyn? Kau baik baik saja?" Tanya Xelino kembali meraih tangan Carolyn. Carolyn ingin lagi menariknya tapi Xelino menahannya. Carolyn pun memancarkan wajah kesedihannya.


"Mengapa? Mengapa kau melakukan itu padaku? Mengapa kau membohongiku?!" Tanya Carolyn bersuara lembut, menaik dan lama lama dengan nada tinggi seperti membentak sampai Grizel dan James terbangun.


Xelino sudah merasa hal ini akan diutarakan pada wanita yang menjadi tambatan hatinya.


"Grizel, James, bisakah meninggalkan kami berdua?" pinta Xelino.


"Oke, santai saja! Ayo Grizel kita cari sarapan," ajak James dan mereka berdua meninggalkan Xelino dan Carolyn.


"Lepaskan tanganku Xelino, kau tidak pantas memegang tanganku! Kau hanyalah ASISTENKU!" Desis Carolyn menyindir Xelino setelah memastikan James dan Grizel keluar.


"Maaf," hanya itu yang diucapkan Xelino sambil menundukan kepalanya di atas punggung tangan Carolyn.


"Mengapa? Apa salahku? Apa salah Daddy ku sehingga kau menipu kami? Apa yang kau inginkan? Aku memang bukan wanita baik baik seperti Zhavia mu Xelino. Tapi mengapa kau melakukan ini padaku? Mengapa?" Kata Carolyn lagi sudah meneteskan air matanya dan kembali menarik tangannya.


"Aku ingin ketulusanmu Carolyn! Aku ingin kau menerimaku apa adanya, bukan karena latar belakangku! Aku ingin sebuah cinta yang murni bukan berlandaskan apapun!" Kata Xelino akhirnya mendongakan kepalanya dan menatap lekat lekat Carolyn.


"Ketulusan? Apa maksudmu?" selidik Carolyn mengernyitkan dahi nya.


"Aku Mencintaimu, Carolyn!" Ucap Xelino akhirnya pada Carolyn dengan memandang kedua bola mata Carolyn.


Seketika seluruh tubuh Carolyn meremang. Hatinya yang tadinya beku, entah mengapa menjadi mencair dan tumbuh bunga bunga di dalamnya. Rasanya dia ingin mendengar kata kata itu sekali lagi. Cintanya terbalaskan.


"A pa? A pa yang kau katakan, Xel?" tanya Carolyn memang ingin mendengarnya lagi.


Tak banyak berkata lagi, Xelino malah berdiri dan mendekatkan wajahnya pada wajah Carolyn lalu mencium bibirnya.


"AKU MENCINTAIMU!" bisik Xelino di depan bibir Carolyn dan kembali mencium wanita itu.


...


next part 57


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕

__ADS_1


__ADS_2