Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LEXA LEON PART 50


__ADS_3

Semua usaha jika dilakukan bersama maka akan berbuah manis dan menjadi suka cita. Leon sudah merubah jalan pikirnya untuk kembali memiliki momongan. Dan dia sedang berusaha menambahkan rasa sayang dan cinta istrinya untuknya. Apa yang akan ia lakukan?


...


Mata lancip itu mengabsen dengan sangat jelas dan memburu setiap inci tubuh wanita yang sudah ada di depannya. sementara wanita itu juga memperhatikan pria nya dengan sedikit takut tapi juga cemas. Dia mengikuti arah suaminya menariknya dalam ruangan kerjanya.


"Ada apa denganmu Leon?" Tanya Lexa mendelikan mata dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Aku lupa jika minuman itu jangan di minum pagi hari Lexa. Ini sangat berbahaya!" Jawab Leon mendekati Lexa perlahan.


"Berbahaya Bagaimana?" Selidik Lexa.


"Sekarang aku ingin memakan mu Lexa!" Pekik Leon memburu. Tatapannya terus menajam dengan seringaian yang sudah tak sabar. Tubuhnya semakin panas dan kepalanya semakin berat. Ingin secepatnya dia menuntaskan pelepasan ini.


Leon membuka jas nya dan melemparnya asal. Dia mengendorkan dasinya dan melepasnya. Perlahan dia membuka kancing kancing kemeja lengan panjang itu dari atas. Sementara Lexa di sana agak bingung bagaimana mengatasinya. Masalahnya ini di kantor dan dia belum pernah seperti ini.


"Leon, kau jangan gila! Ini di ruang kantor, ini kantor mu ruang kerjamu! Bagaimana kalau ada CCTV mengetahuinya?" Lexa mencoba menahan Leon.


"Ah untung kau mengingatkan ku Lexa, itu mudah!" Leon sedikit mengelus dahinya dengna kasar. Dia menghentikan membuka kemeja nya dan menuju ke bawah meja kerjanya. Dia mencabut kabel CCTV yang mengarah pada ruang kantor nya.


"Leon, tapi ini sangat gila, apa tidak bisa kita pulang ke apartemen dulu?" Lexa berusaha menyadarkan Leon.


"Tidak bisa, aku sudah tidak tahan Lexa!!" Leon kini menghampiri Lexa yang masih berjaga jaga.


"Tidak, aku tidak mau! Aku akan keluar dari sini!" Lexa agak berlari dan menuju ke pintu namun Leon lebih lincah. Dia menahan lengan Lexa. Dia menariknya dan Lexa masuk ke dalam pelukannya. Tepat sekali telapak tangan Lexa mengenai dada bidang suaminya.


"Menurutlah sayang, ini hanya sebentar! Bukankah kau mau mengandung? Siang ini aku akan mengabulkannya, kau diam lah!" Kata Leon sudah merengkuh bokong Lexa mendekati kejantanannya.


"Leon kau?" Lexa membuka manatnya.


"Sudah diam!" Dan Leon melepaskan tas kecil Lexa. Dia melemparnya asal dan meraih bongkahan kenyal milik Lexa. Lexa mendesah dan mendekap kepala Leon.


"Leon, aku takut!" Lexa berdesis.


"Kita sudah suami istri lalu apa? Kau tenang saja!" Kata Leon membuka kancing kemeja Lexa.


"Kau jangan berlebihan Leon!" Lexa berusaha menghentikan aksi suaminya.


"Aku sudah tidak tahan!" Balas Leon dan membalikan tubuh Lexa. Dia menyibakan rok megar yang saat itu Lexa gunakan. Dia dengan cepat menarik celan dalam Lexa.


"Sintal sekali pahamu Lexa dan kau tidak menggunakan lapisan hem, apa kau sengaja ya?" Decak seringaian Leon malah membuat Lexa merinding. Dia terus mendesah pelan sekali karna takut Renzy mendengar. Leon sedang menelusuri tungkai kakinya dan mengelus lembut ke tempat yang sebentar lagi akan Leon gerayangi. Dan benar saja. Ketika tangannya sudah puas dia pun membuka resleting celananya. Menuruni semua bahan yang menghalanginya dan mengarahkan benda yang sudah mengeras dan tumpul itu ke arah Lexa. Dengan cepat benda sedikit kenyal namun gagah itu menulusup ke lubang kecil elastis itu.


"Leon!!!" Tutur Lexa namun dengan cepat tangan Leon mengarah pada mulutnya. Lexa menggigitnya namun tak meruntuhkan gairah Leon. Leon sudah tahu bagaimana Lexa menanggapi dirinya jika sedang terbawa hasrat seperti ini


Tubuh Leon bekerja dengan baik menggerayangi kenikmatan Lexa sampai sekiranya Lexa sudah bisa menguasai diri kalau dirinya sedang menyatu dengan suaminya. Leon memegang panggul Lexa dan memaju mundurkan dirinya dengan sedikit penekanan dan cukup cepat. Kini Lexa memegang meja kerja Leon karna Leon semakin tak terkendali. Sesekali Leon menjambak rambut ekor kuda Lexa dan mengecup lehernya atau bahkan meraih bibir Lexa. Lexa pun sudah terbawa suasana. Dia juga menikmati perlakuan Leon malah ikut menoleh agar Leon mencium bibirnya lagi.


Leon menempelkan tubuhnya agak dekat agar dapat berciuman dengan Lexa. Mereka berciuman dengan hasrat sampai decak saliva terdengar membuat mereka semakin menikmati permainan cinta ini.


Leon semakin mempercepat gerakannya karna sepertinya pelepasannya akan sampai. Namun masih dengan napas tersenggal dan tetes keringat Leon yang membasahi pakaian Lexa terdengar dari luar suara ketukan pintu.


"Sedang apa kau di dalam Leon?!!" Suara Dion cukup kencang di luar sana. Lexa sudah terkejut dan takut. Dia menegakan tubuhnya namun Leon menahannya. Leon terus menyatukan dirinya dan kembali menutup mulut Lexa.


"LEON!" Dion kembali memanggil.


"Sebentar Tuan!" Leon masih sempat sempatnya menyauti atasannya.


"Kau keterlaluan! Sedang apa kau bersama Lexa di dalam?!!" Dion terus menggedor pintu ruangan Leon. karna Dion tidak bisa masuk ke ruangannya jika tidak melewati ruangan Leon.


"Leon lepas!" pinta Lexa panik.


"Sebentar lagi Lexa!" Leon terus menggerakkan tubuhnya samakin cepat lagi dan lagi. Lexa berusaha menahan semua desahan ini. Dia terus menggigit bibir bawahnya . Leon semakin menjadi jadi dan


"ARGH !!" akhirnya Leon melepaskannya dengan berteriak. Dion mendengarnya dan kembali memanggilnya.


"LEON!!"


"Iya Tuan sudah selesai!" Leon menjawab panggilan tuannya sembari menyembur semua kepuasannya ada tubuh Lexa. Lexa ikut mengejang dan memegang tangan Leon dengan sangat kencang.


"Cepat gunakan celana dalammu dan kancingi kemejamu Lexa dan duduk di depan meja ini!" perintah Leon memberi arahan.


"Aku malu sekali Leon!" sungut Lexa.


"Aku yang urus kau diam saja!"


Leon pun menaiki semua celananya dan membenarkan kancing kemejanya. Lexa sudah merapikan dirinya dan sudah duduk di depan meja nya dan menundukan kepalanya menaruhnya di atas meja. Tuan Dion pasti akan membicarakannya pada nyonya nya. Runtuh sudah semua harga dirinya.


Leon membuka pintu nya. Di sana Dion sudah menolak pingganya, menunduk dan memegang dahinya. Kini Dion menoleh perlahan kearah Leon. Tatapan nya tajam melebih mata lancip Leon.


"Tuan, aku hanya berolahraga sebentar! Bagaimana perjalanan mu ke Summer? Mengapa cepat sekali?!" Kata Leon sambil menggaruk garuk belakang kepalanya.


"Mengapa kau melakukannya di sini?!" tanya Dion masih dengan tatapan tajamnya.


"Mendadak Tuan, kau juga mengerti kan bagaimana rasanya?!" Leon terkekeh.


"Asisten bodoh! Cepat suruh Lexa bersiap!"


"Sudah Tuan!"


"Sekali lagi ini terjadi, aku akan menggantikanmu!" Ancam Dion memasuki ruangan Leon dan menuju ke ruangannya. Dion tidak lagi melihat Lexa karna dia mengerti Lexa juga sudah sangat malu dengan ulah suaminya. Sementara Renzy terus mengetik pekerjaannya.


"Kau kusuruh menahannya! Kalau Tuan Dion menggantikanku, kau kupecat!" Ancam Leon kembali memasuki ruangannya.


Renzy hanya menjulurkan lidahnya.


"Kalau kau sudah diganti, bagaimana bisa kau memecatku! Haha, musang bodoh!" Celetuk Renzy berhasil mengerjai temannya. Dion datang dan dia tidak mengatakan apa apa.


Leon kembali menghampiri istrinya yang masih menunduk.


"Lexa, sudah kau jangan begini!" Leon menenangkan istrinya dan mengelus punggung Lexa.


"Kau jahat sekali benar benar jahat! Kau menodai ku!" keluh Lexa hendak menangis.


"Menodai apa? Kita sudah menikah, kau ini, katanya kau mau bayi?! Aku menyemburkannya banyak kan?" bisik Leon dan Lexa memukul pelan pipi Leon.


"Kau sudah menodai harga diriku, musang bodoh!" umpat Lexa pelan.


"Tenang saja, nanti aku akan menjelaskan padanya!" Leon tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Sudah diam kau! Bicara lagi di apartemen, aku harus mengurus urusanku. Celanaku jadi tidak enak!" sungut Lexa berdiri dan keluar dari ruangan Leon.


Leon terkekeh dan kembali merapikan pakaiannya lalu menemui atasanya. Sepertinya Dion sedang ada masalah.


"Permisi Tuan! Maafkan aku atas kejadian tadi. Aku sedang program hamil dengan mengkonsumsi obat herbal ibuku dan apa kau tahu kalau efek samping dari obat itu..."


"Aku tidak mau tahu! Sekarang kau harus bergerak cepat! Lokasi gedung hotel kita di perbatasan Summer ada yang mengakuisisi sementara aku tidak pernah menyetujuinya. Segera kau hubungi Kak Egnor, minta dia mengurusnya atau menyuruh anak buahnya, sekarang Leon! Jangan sampai ku tembak mati yang melakukannya!" kata Dion sedikit frustasi. benar dugaan Leon, tuannya menghadapi sebuah masalah.


"Siapa Tuan?" selidik Leon.


"Perusahaan lahan properti Summer, cepat cepat!" perintah Dion agar masalah ini dapat selesai.


"Kalau berhasil apa yang ku dapat Tuan?" tanya Leon mengusap dagunya karna perkara ini pasti akan melibatkan pengadilan dan ini cukup rumit.


"Rumah dekat cluster yang sedang kubangun!" jawab Dion sambil menekan nekan ponselnya.


"Yes! Akhirnya aku memiliki rumah! Ini sangat mudaaahhhh, Tuan Egnor pasti sekejap mata akan mengatasinya! Permisi Tuan!" Pekik Leon dan keluar dari ruangan Dion. Dia segera menuju telepon kantornya untuk menghubungi Egnor.


Sementara Lexa merasa risih dengan cairan di bawah sana. Dia dengan cepat menyelesaikan tugasnya dan kembali ke apartemennya. Dia tidak ke kantor lagi dan sudah meminta ijin pada nyonya nya. Sementara semua urusan keuangan sudah melalui rekening. Pihak Hotel Prime telah mengirim semua biaya ke rekening Jovancy Advertising yang dipegang langsung oleh Lexa. Lexa sudah mengatakan pada Leon kalau dirinya langsung pulang dan tidak lagi ke kantor.


"Kenapa pulang sayang? Apa punya mu sakit?" tanya Leon memastikan pada sambungan telepon.


"Risih Leon! Kau menyemburkannya dengan sangat banyak. Sekarang aku sedang berendam!" jawab Lexa.


"Haiz, mengapa tidak bersamaku?"


"Tidak mau, kau lama dan sudahlah, aku sedang membersihkan diriku, kapan kau pulang?" tanya Lexa memastikan.


"Pukul lima sore lah, ada apa?"


"Tidak apa. Nanti aku akan sisakan!" Lexa hendak membicarakan si pengirim kue.


"Sisakan apa?"


"Kue keju Japanis kopi. Kau tidak usah pura pura. Kau yang memberikannya padaku kan?" Lexa langsung menuduh.


"Tidak! Memang kenapa? Ada yang memberikanmu kue?" jawab Leon dengan nada terdengar tegar.


"Iya satu slice Japanis Chesse cake Coffee. Kesukaanku dan ada kartu ucapannya. Katanya menyuruhku membuat kehidupanku menjadi manis dan membuat orang selalu merindukanku. Itu pasti kau kan?" kata Lexa lagi dengan sangat yakin.


"Tidak! Lexa kau jangan macam macam ya? Aku tidak mau kita salah paham lagi! Kita baru saja berbaikan!" decak Lexa dengan nada cemburunya.


"Jadi itu bukan dirimu?" tanya Lexa memastikan.


"Bukan! Kau buang saja kue itu!" perintah Leon.


"Tidak mau! Itu kue kesukaanku lagi pula aku tidak tahu siapa orangnya!"


"Pokoknya kau jangan macam macam!"


"Iya iya! Yasudah, aku minta tolong belikan daging sapi slice di supermarket samping apartemen kita. Aku ingin membuat wagyu panggang. Pasti enak!" Lexa mengalihkan pembicaraan karna dia pusing mendengarkan celotehan suaminya jika sedang cemburu buta.


"Aahhh, aku jadi lapar dan ingin cepat pulang! Baiklah sampai jumpa sayang dan terimakasih!" Tutur Leon yang sepertinya telah teralihkan.


"For what?" Lexa mengernyitkan dahinya.


. Lexa tersenyum memandangi ponselnya. Di sana, di layar ponselnya ada foto dirinya bersama Leon sebelum mereka menikah. Sewaktu pernikahan Viena dan Dion. Lexa seperti kembali ke masa itu yang penuh tantangan dan keromantisan.


...


Keesokan harinya, seperti biasa Leon mengantar Lexa. Leon mengecup kening Lexa sebagai tanda perpisahan mereka hari ini agar selalu mengingat satu sama lain dan menjadi penyemangat segala kegiatan pekerjaan mereka. Lexa juga mengecup pipi Leon. Lexa paling senang dengan pipi Leon yang agak tirus dan agak mengkilat itu. Leon selalu mengenakan krim wajah pria suruhan Lexa.


"Em Lexa, kau yakin tidak akan menyukai si pemberi kue itu?" tanya Leon agak cemas.


"Tidak! Aku hanya menyukai kuenya, lagipula itu hanya kemarin. Mana mungkin dia akan mengirimnya lagi!" jawab Lexa menaik kan alisnya.


"Siapa tahu?"


"Sudah kau jangan banyak berpikir, kita masih merencanakan punya bayi tidak boleh terlalu stres." Lexa mengingatkan.


"Ah kau benar juga! Apa sore ini kau bisa menemani ku ke tempat gym?" ajak Leon.


"Apakah ada fasilitas sauna nya? Sepertinya aku juga ingin merilekskan tubuhku." tanya Lexa.


"Aku memilih tempat fitness yang lengkap Lexa."


"Baiklah, jemput aku jam 5 sore, jangan terlambat!"


"Oke kelinci kecilku."


"Sampai jumpa!" Lexa menuruni mobil dan menundukan tubuhnya melambaikan tangannya pada Leon yang juga melakukannya. Leon bersiap menjalankan mobilnya.


Lexa pun menaiki gedung perusahaan iklan berlantai empat itu. Sebenarnya dua lantai pertama dimiliki oleh sebuah kantor pengacara dan dua di atas barulah dimiliki oleh Viena. Viena belum ingin berpindah gedung karna sudah merupakan tempat yang strategis. Selain dilintasi oleh kendaraan dan akses ke kota mau pun ke kota sebelah, Summer juga dekat.


Ketika Lexa baru saja sampai di daun pintu kantornya, semua mata memandang Lexa. Ada yang tersenyum, ada yang terkekeh dan ada juga yang seperti membicarakannya. Terlihat di sana juga Viena berdiri di daun pintu ruangannya sedang melihat Lucy yang ternyata sudah bekerja lagi. Anaknya sudah berusia tiga bulan.


Lexa senang sekali akhirnya bisa kembali melihat Lucy dan melupakan tatapan mencurigakan dari teman temannya yang lain. Lexa menghampiri Lucy yang sedang memotong satu round cake strawberry short cake dengan selai jelly strawberry yang sangat merah dan dengan taburan kacang di sisi bawah kue. Sangat lezat dan menggiurkan. Satu lagi di samping kue yang sedang di potong Lucy ada kotak kue yang sama seperti kemarin. Lexa mengernyitkan dahinya lagi. Viena menyadari kehadiran asistennya dan memandangnya.


"Apa ini ulah suamimu Lexa? Mengapa dia baik sekali? Tapi hem romantis. Aku memang mendengar dia sedang mendapatkan pekerjaan besar dari Dion." kata Viena pada Lexa.


"Apa iya dari Leon, nYonya?" Tanya Lexa mendekati dan meraih kotak kue yang belum di buka itu. Yang bentuknya sama seperti kemarin.


"Tidak disebutkan tapi sebenarnya semua kue ini untukmu." jawab Viena kembali terus memperhatikan kue kue itu.


"Lexa, apa Leon sedang terserang badai cinta darimu sehingga dia mengirimi kue mahal dan enak ini?" tiba tiba Abby menghampiri mereka semua.


"Katanya bukan Leon." jawab Lexa polos.


"Aku yakin ini Leon! Aku bacakan ya kartu ucapan di kue yang besar ini: dear Lexa. Berbagilah kue ini bersama teman temanmu karna mereka bagian dari suka duka perjalanan hidupmu. Penuh cinta. Someone. Leon berlebihan sekali, someone!" decak Abby sambil menggoda Lexa. dia juga membacakan isi pesannya.


"Mana ada dia seperti itu! Bukan! Itu pasti bukan dia! Kemarin orang ini juga mengirimkan kue yang ini." kata Lexa.


"Coba baca kartu ucapan yang itu?" Abby sangat penasaran yang tak lama Mike datang.


"Lexa, dia benar mengirimkannya lagi?" Mike memastikan.


"Ya benar Mike! Bacaannya: kue yang satu ini untukmu karna kue ini seperti dirimu, selalu membuat orang tersenyum dan terus merindukanmu. Jadikanlah hari hari mu terasa manis dengan memakan kue pemberianku ini. Xoxo. Someone." jawab Lexa membaca kartu ucapan itu.

__ADS_1


"Haiz, romantis sekali Lexa, kau yakin bukan Leon?" Abby memastikan.


"Yakin! Dia sudah mengatakannya padaku." kata Lexa lagi sangat bingung dengan hal ini.


"Sudah kubilang Lexa, tidak ada pencuri yang mengaku!" celetuk Mike dan pergi ke meja kerjanya.


"Kalau mengaku penjara penuh, hahahaha!" Tambah Abby dan dia mengambil potongan strawberry short cake yang sudah Lucy selesaikan. Abby juga meninggalkan mereka.


"Cih, kau harus meyakinkan Leon, Lexa sayang. Lucy, antarkan punyaku ke dalam ya? Dior menangis." perintah Viena dan memasuki ruangannya.


"Baik Nyonya." Kata Lucy dan dia melirik Lexa yang masih terheran.


"Jadi benar bukan Leon?" Lucy ikut memastikan.


"Bukan Lucy! Dia saja sampai kesal padaku karna mendapatkan kue ini dan Sangkin cemburunya aku hanya diberikan satu sendok dan sisanya dia yang makan!" jawab Lexa mengingat respon Leon semalam ketika mereka menonton televisi.


"Haha, Leon mu tidak berubah. Yasudah sekarang kau makan di sini saja!" kata Lucy menyarankan.


"Iya lah, padahal kue ini enak sekali!"


"Baiklah, makan sana di ruanganmu dan lanjutkan pekerjaanmu, pekerjaanku biar aku yang tangani!"


"Sudah harus seperti itu Lucy!"


Lexa pun kembali ke ruangannya. Dia menaruh kotak kue itu dan memperhatikannya. Dia mengingat sikap Leon padanya. Ketika di telepon, Leon terdengar marah. Ketika di rumah, Leon benar benar cemburu. Jadi sangat tidak mungkin kalau itu Leon. Lexa berpikir pria pria yang sempat mendekatinya. Jerry dan Rico rasanya tidak akan mungkin. Mereka sudah menemukan pasangannya. Apa itu Gabriel pikirnya? Ah di saja sudah menjadi kaki tangan ayah angkatnya di Honolulu. Mana mungkin sejauh itu mengirimi kue. Apalagi ini kue yang rentan hancur. Oh bisa saja menyuruh toko kue di sini. Hem, sepertinya Lexa harus menyelidikinya.


Lexa sejenak melupakan semua pertanyaan itu. Dia sudah membuka kotak kue itu dan sesekali menyendok nya untuk ia makan pelan pelan. Dia melanjutkan pekerjaannya. Dia harus membuat laporan brain storming dan laporan pesaing perusahaan yang sedang menjadi klien nya.


Jam makan siang pun tiba. Lexa segera eraih tas nya dan meminjam mobil pada Viena. Ternyata Viena juga ingin keluar ke swalayan dekat toko kue yang ingin Lexa tanyakan. Akhirnya Lexa pergi bersama Viena dan juga Dior. Viena bertolak ke swalayan bersama Dior dan Lexa sendiri ke toko kue tersebut. Namun, sepertinya si pengirim kue telah merencanakan semuanya tidak diketahui sehingga dia sudah mengatakan pada pegawai toko untuk berkata tidak tahu apa apa.


"Kami tidak tahu Nyonya karna yang membeli kue kami bukan hanya Nyonya atau seseorang yang Nyonya tanyakan." kata sang pegawai dengan sangat sopan.


"Ah, kau benar juga. Yasudahlah, terimakasih ya?" Kata Lexa dan keluar dari toko kue itu. Seorang pria dengan kaca mata hitam duduk di pojok toko memperhatikan Lexa. Dia hanya tersenyum dan menyesap kopi nya.


Dan benar saja, bukan saja hari kemarin di hari pertama dan hari ini hari kedua orang itu memberikan kue untuk Lexa. Keesokannya, keesokannya lagi hari keempat, hari ke tiga sampai hari ke delapan, orang itu terus mengirimi Lexa kue tersebut. Lexa mengatakannya pada Leon tapi malah ada beberapa hari Lexa berbohong kalau tidak ada pengiriman kue. Kue itu tetap datang walau hanya beberapa kali yang Lexa beritahukan. Dan tidak lupa isi pesan di atas kotak kue tersebut.


Isi pesan di hari ke tiga sampai hari ke delapan


Hari ketiga isi pesan si pengirim kue:


Ingat, kau jangan takut berisi jika memakan kue ini Karna mereka yang menyukai makanan kecil adalah orang orang terbaik. Siapa yang tidak menyukai kue? Karna rasa kue ini yang terbaik. Kau terbaik dalam hatiku! - with love - someone ♥️


Hari keempat isi pesan si pengirim kue:


Cintailah sesamamu setulus dirimu menikmati kue ini. Tidak ada wajah yang murung ketika menyantap kue ini, yang ada hanyalah wajah yang tulus. Setulus hatiku padamu. - pelukan hangat - someone ♥️


Hari kelima pesan si pengirim kue:


Semoga aku bisa seperti kue ini bagi hidupmu yang akan selalu kau sukai bahkan kau cintai. Jangan lupa untuk menebarkan cinta di setiap langkah kaki kecilmu. - LOVE - someone ♥️


Hari keenam isi pesan si pengirim kue:


Seseorang akan lebih tenang jika menikmati makan kenyang dan di tutup dengan makanan pemanis seperti kue yang sudah 6 hari kuberikan padamu. Semoga kue ini selalu menenangkan dirimu. Salam sayang . Someone ♥️


Sebentar! Ketika hari keenam, Lexa dan Abby sempat mengancam sang kurir tetapi sang kurir malah bertingkah acuh.


"Aku tidak takut dengan ancaman kalian karna bulan ini gaji ku naik 3 kali lipat karna tugas misterius ini! Kau mau mengancam ku tapi kalau aku tidak tahu siapa yang menyuruhku, kalian mau apa? Sudahlah, nikmati saja kue mahal dan limited ini! Untung saja aku tidak memakannya atau kuberikan pada anakku!" Kata sang kurir membuat Lexa dan Abby hanya melongok. sang kurir pun pergi tidak mempedulikan Lexa dan Abby.


Dan keesokannya masih berlanjut .


Hari ketujuh isi pesan si pengirim kue:


Kue ini ku kirimkan padaku sebagai pengganti kata kata diriku mengagumimu. Pemanis hidupku. Selamat menikmati! Love ♥️


Begitulah sampai hari ketujuh dan Lexa sangat merasa ini perbuatan suaminya walaupun tidak ada gelagat suaminya mengakui semua ini. Tetapi jika sudah membahas cinta dan hidup, entah mengapa Lexa sangat yakin ini perbuatan Leon. Tepat sekali hari ini Lexa mendapatkan masa suburnya. Lexa sudah sangat mencatat dan menjadwalkannya. Lexa harus mempertanyakan kue kue ini karna dia tidak akan marah jika benar Leon yang melakukannya. Dan Lexa mengingat kalau Minggu lalu, Leon membelikannya gaun tidur yang belum ia kenakan.


Gaun tidur berwarna kuning muda dengan tali satu dan belahan dada yang menggoda juga dengan bahan yang sangat tipis juga pendek serta dihiasi bulu bulu berrwarna putih di bawahnya. Leon juga memberikan bando kuning bertelinga kelinci. Katanya satu set dengan gaun tersebut. Lexa sudah mengenakannya. Dia sudah berdiri di depan kaca dan melihat rupa dirinya sangat lucu. Lexa pun ikut tersenyum geli. Pasti Leon sangat terkejut dan langsung menyerangnya. Waktu sudah pukul 7 malam. Leon memang mengatakan akan pulang sedikit terlambat dan dia menyuruh Lexa untuk pulang lebih awal. Kesempatan besar untuk memberikan kejutan.


Lexa menunggu di sofa sambil membaca majalah cinta. Dia membaca mengenai ramalan rasi bintang dirinya dan Leon. Entah mengapa sejak ada kue kue misterius itu, Lexa menyangka itu Leon dan jadi semakin mencintai Leon padahal Leon selalu kesal sendiri jika Lexa mengatakan kue kue itu .


Selang lima belas menit, seseorang menekan bel kamar apartemennya namun tak lama ia membukannya. Leon yang membukannya dan Lexa langsung berjalan ke arah pintu namun yang diperbuat Leon ternyata.


"Lexa, aku mengajak Renzy, Manuel, Reginald, Ben, Abby dan juga Sherry ke sini .." kata Leon membuka pintu dan Renzy serta Abby dan Sherry yang masuk lebih dulu agak menganga melihat pakaian Lexa yang sangat meriah dan sangat sangat seksi. Juga bando kelinci di atas kepalanya.


"Karna aku memenangkan tender dari tuan Dion, sayang, tapi kenapa pakaianmu begini?!" tambah Leon lagi makin memelankan suaranya dan mengoreksi apa yang Lexa kenakan.


"Aunty Lexa, aku juga ingin bando kelinci sepertimu!" Celetuk Sherry dan matanya sudah di tutup oleh Renzy.


Reginald, Manuel dan Ben juga hendak masuk namun ..


"Kalian bertiga tidak boleh masuk duluu!!!! Kalian juga, Renzy, Abby, Sherry ayo kelur dulu!!!" Perintah Leon dengan cepat dan Lexa sudah berlari ke tempat tidurnya. Dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut karna sangat malu.


...


...


...


...


...


Leon lagi ngapa ga bilang ngajak orang Dateng wkwkwk .. entah lah sapa yang salah haha 😅😅


.


next part 51


cuma mo tanya sapa yang ngirim tuh kue? niat n rajin amat 😁😁


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.

__ADS_1


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2