Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 19


__ADS_3

Lexa memasuki flatnya dengan wajah murung. Dia menyalakan semua lampu dan mengganti baju bersiap untuk tidur. Dia merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya dan menatap langit langit kamarnya.


"Mengapa rasanya sakit sekali melihat kedekatan mereka. Dengan pakaian Solane yang terbuka dan Leon yang mendekapnya dengan sangat erat. Mengapa pelukannya menjadi sangat hangat dan dingin ketika dia tidak ada? Apakah aku sudah mencintainya? Tapi, aku merasa Leon seperti bintang di langit yang sulit kugapai. Sepertinya aku memang tidak boleh memberinya kesempatan untuk dekat denganku atau aku akan selalu seperti ini. Mengalami kekalutan yang hanya aku yang merasakan. Sepertinya aku tidak boleh mencintai pria yang begitu sempurna. Namun, pria seperti dirinya tidak banyak dan aku tidak tahu akan menemukannya dimana lagi. Ah, Leon mengapa aku sulit menggapaimu. Aku belum menyodorkan diriku sudah sakit seperti ini. Bagaimana aku bersedia menjadi orang terpenting dalam hidupnya?" Lexa terus berceloteh sendiri.


Dia hendak tidur namun sulit. Dia menutup wajahnya dengan selimut lalu membukanya lagi. Berbalik ke kanan lalu ke kiri dan akhirnya dia duduk. Dia mencoba berdoa pada yang kuasa dalam hati.


"Tuhan, kau yang tahu isi hati ku dan isi hatinya,"


Sampai suara bel flatnya berbunyi. Dia tersentak mendongakan kepalanya melihat pintu kamarnya mendengar suara bel tersebut. Yang sudah sudah hanya Leon yang berani datang selarut ini. Lexa keluar dari kamarnya perlahan. Hati nya masih gundah dan kalut. Dia tidak mau menjadi terlalu lemah dan selalu merasakan seperti ini jika dia menerima Leon masuk.


Dia memutuskan mengintip siapa yang datang lewat jendela yang sudah ditutup dengan tirai krem. Lexa mengintip dan benar Leon datang. Lexa diam dan membiarkan Leon di luar. Leon terlihat mondar mandir bingung seperti mau memberikan penjelasan.


Pria bermata lancip itu kembali menekan bel namun Lexa menghiraukannya. Lexa pun menyandarkan dirinya di balik pintu dan meneteskan air mata. Sebenarnya dia tidak mau melakukan ini pada Leon, tapi dia takut Leon akan kembali menyakiti hatinya. Meski dia belum tahu penjelasannya, tapi hatinya seperti teriris. Lexa terduduk di balik pintunya.


Ponselnya berbunyi Leon menghubunginya, namun Lexa tidak mengangkatnya. Leon benar benar dibuat gundah oleh Lexa. Leon mencoba berpikir positif mungkin Lexa sudah tidur pulas.


"Lexa ... Kau sudah tidur ya?" Akhirnya Leon mencoba berkata. Dia sudah sedikit frustasi. Semua yang dilihat Lexa tidak seperti yang Lexa bayangkan. Dia hanya membantu Solane menuju kamar dan hendak pergi bersama Lexa. Semua rencanannya kembali gagal karna Solane. Tapi, dia berpikir hal ini tidak sengaja dan lagi Solane tidak menahan Leon ketika dia hendak pergi.


Lexa mendengar Leon berkata kata namun tetap dihiraukan. Lex menundukan wajahnya di atas tangannya yang terlipat di atas dengkulnya.


"Lexa ... Baiklah, kalau kau sudah tidur, tidur yang nyenyak, aku aku hanya merindukanmu, sampai jumpa ... " Kata Leon lagi mengetuk pintu flat Lexa sekali dan menyandarkan kepalanya di pintu.


Lexa kembali meneteskan air mata. Dia sangat yakin kalau dirinya sudah mencintai Leon. Dia merasa sedih mendengar Leon hendak pergi dari flatnya. Entah kapan lagi dia akan bertemu Leon. Dan lagi, tidak ada kata maaf dari Leon. Karna Leon merasa tidak bersalah, semuanya hanya kesalahpahaman.


Leon akhirnya pulang dan besok dia akan mencoba mendatangi Lexa lagi. Lexa menangisi kepergian Leon sampai tertidur di balik pintu flatnya.


...


Lexa bersiap menuju pasar tradisional di dekat flatnya karna sudah banyak beberapa bahan masakannya habis. Ketika Lexa keluar dari komplek flatnya, dia telah melihat sosok mobil Leon hendak ke flatnya. Dengan cepatnya, Lexa langsung bersembunyi dekat pagar tembok yang membatasi flat dan jalanan.


Leon turun dari mobilnya dan menuju flat Lexa. Hari ini hari minggu jadi ada beberapa pemilik flat bersih bersih di pekarangan flat mereka.


Leon menekan bel pintu flat Lexa. Tidak ada jawaban.

__ADS_1


"Bagaimana bisa dia masih tertidur jam segini?? Lexa buka pintunya, Lexa bangun!!" Leon akhirnya menggedor pintu flat Lexa karna takut terjadi apa apa.


"Lexa!!" Panggil Leon lagi memekakan telinga seorang ibu tua yang tinggal beberapa flat dari flat Lexa.


"Kau berisik sekali! Nona Luxurio sudah pergi ke pasar!" Kata wanita paruh baya itu sedikit ketus.


"Ke pasar?" Leon memastikan cukup terkejut. Biasanya Lexa memintanya mengantarnya ke departemen store. Leon yakin Lexa pasti sangat marah padanya.


"Ya ke pasar! Kau kemana saja? Kalau kau pacarnya harusnya kau mengantarnya!" Ujar wanita itu lagi.


"Sudah lama atau baru saja, nyonya?"


"Baru saja! Coba kau kejar dia!" Wanita tua itu menunjuk nunjuk jalan yang berlawanan dengan arah Leon datang.


Leon segera berlari menuju mobilnya untuk mengejar Lexa. Mungkin belum jauh dan dia akan membawa Lexa berjalan jalan.


Leon melajukan mobilnya dan melihat sosok wanita dengan rok rample mini dan kaos sabrina tee berwarna putih. Rambutnya dibiarkan tergerai dan wanita itu berjalan cukup cepat. Leon tahu itu adalah Lexa.


"Ah sial! Kelinci nakal!" Leon menyusulnya lagi. Akhirnya setelah dekat dengan Lexa. Leon memutuskan memberhentikan mobilnya dan mengejar Lexa. Leon berlari mengejar Lexa. Dia meraih lengan Lexa yang telah sampai di halte bus.


"Lexa! Kau menghindariku?!" Tanya Leon sedikit kesal. Bersamaan dengan itu bus yang ditunggu Lexa datang. Lexa tak bicara, dengan sekuat tenaga dia menghempaskan tangan Leon dan memasuki bus yang pintunya sudah terbuka.


"Lexa!!!" Leon memanggil Lexa namun Lexa lebih cepat melebihi angin karna kekecewaannya pada Leon. Lexa sudah menaiku bus dan Leon tidak bisa bersamanya karna dia meninggalkan mobilnya. Dia belum begitu mengetahui daerah ini jadi dia memutuskan untuk menunggu Lexa di flatnya.


Sekitar dua jam akhirnya Lexa pulang. Lagi lagi Lexa mengendap endap masuk pekarangan flatnya karna dia melihat mobil Leon yang masih bertandang disana.


"Dasar musang liar! Dia belum menyerah! Lihat saja, aku akan membuatmu menunggu semakin lama!!" Gumam Lexa kasar. Lexa mengendap endap masuk komplek flatnya dan menuju pintu kecil seperti lorong belakang yang terdapat di belakang flat. Dia memasuki lorong dan dia terkejut bukan main.


"Kenapa? Terkejut? Kau tidak bisa menghindar lagi! Cepat buka pintu belakang ini!" Leon berdecih. Leon sudah memperhitungkan semuanya. Leon melihat lihat kondisi flat Lexa. Dia takut kalau kalau Lexa memiliki sebuah pintu belakang dan Lexa akan masuk darisana untuk menghindarinya lagi. Dan benar saja Lexa mengendap endap masuk melalui pintu belakang. Akhirnya Lexa menyerah dan mengijinkan Leon masuk.


"Sekali musang tetap musang, kau mempunyai berbagai macam cara masuk ke flat ini, dasar tidak tahu malu!" Decak Lexa memasuki flatnya yang disusul oleh Leon.


Leon hanya tersenyum dan langsung memeluk Lexa dari belakang. Dia menciumi bahu Lexa yang mulus terlihat. Sesaat Lexa menjadi lemah namun dia sudah membulatkan hatinya untuk tidak berharap lagi pada Leon.

__ADS_1


Lexa lalu menyikut perut Leon agar melepaskan pelukannya. Leon merintih memegang perutnya.


"Kau kelinci lincah yang sungguh kejam Lexa, ini sakit sekali!! Ahh .." Leon mengerang tersungjur ke lantai dapur. Sebenarnya ini hanyalah bualannya saja agar Lexa cemas karna perbuatannya.


"Rasakan! Kau selalu melakukan cara itu untuk meluluhkanku dan kau membohongiku lagi! Kau benar benar musang berkepala kucing!" Lexa menatap Leon tajam. Leon tidak menanggapi perkataan Lexa. Dia malah makin mengerang kesakitan agar Lexa menghampirinya khawatir.


"Lexa, ini benar sakit, ahhh, aku pun belum makan, ahhh, setelah bangun pagi aku langsung ke rumahmu tapi kau malah menghindariku, aku menunggumu dua jam di lorong belakang itu, ahhh, aku kelaparan dan kau malah memukulku, ini sakit Lexa, ahh!!" Leon terus merintih sampai Lexa menoleh dan tampak kasihan pada Leon.


"Lexa, sepertinya kepalaku pusing dan aku akan pingsan, ahh Lexa .." rintih Leon lagi dan kali ini telah membuat Lexa cemas.


~apa pukulanku terlalu kencang?~ gumamnya dalam hati.


"Leon, kau baik baik saja? Aku tidak memukulmu terlalu kencang," Lexa mulai mendekati Leon. Leon memicingkan matanya melihat Lexa mendekat. Dia semakin merintih agar terlihat nyata.


"Tapi ini benar benar sakit, Lexa .. " Leon mengerang lagi. Kini Lexa sudah berada di atas kepalanya memastikan kondisinya.


"Leon, bagian mana yang sakit?" Lexa menyentuh perut Leon. Leon tidak menjawab, dia malah menarik lengan Lexa dan membalikan tubuhnya dengan cepat dan cekatan. Sekarang Leon sudah menindihnya yang membuat Lexa berada di bawah Leon.


Leon mengunci kaki tangan Lexa kalau kalau Lexa kembali menyerangnya. Leon sudah biasa melakukan ini.


"Musang pembual! Aku semakin membencimu!" Decak Lexa menatap Leon tajam


"Semakin benar mencintaiku kan?" Leon menyeringai.


"Dengarkan aku, kemarin aku hanya membantu Solane mengantarnya ke kamar. Tidak ada hal yang lain lagi. Aku langsung kemari menjelaskan padamu. Lexa, aku sudah tidak mencintai Solane lagi dan tidak mau berlama lama dengannya. Aku hanya mau bersamamu," Leon menjelaskan dengan wajah yang pasti dan tulus. Dia lalu mengecup bibir Lexa.


Lexa hanya bisa diam dan tersipu. Lagi lagi dia tak berdaya dan mungkin inilah yang namanya cinta. Selalu memaafkan dan menerima. Dan mungkin akan kembali jatuh di lubang yang sama.


...


next part 20


haloo ..sebenarnya ceritanya gimana sih gengs? hehe .. bertele tele gak sih 😅

__ADS_1


__ADS_2