Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 30


__ADS_3

Solane tidak tinggal diam melihat Lexa yang melarikan diri dengan wajah yang sedikit ketakutan. Solane mengejar Lexa. Dan, lagi wanita licik ini melihat Lexa menggenggam ponselnya. Solane panik kalau kalau dia memberi tahu pada Leon.


"Lexa berhenti!" Panggil Solane. Lexa tidak menghentikan langkahnya. Dia malah berlari menuju lift.


Solane ikut berlari meskipun menimbulkan kericuhan dan menabrak beberapa orang yang melintas.


"Shit! Aku tidak bisa lewat lift! Mengapa aku selalu berkeja kejaran seperti ini!" Gumam Lexa melihat pintu lift tidak terbuka.


Dia lalu berbelok ke arah tangga darurat. Tangga umum terlalu ramai membuat dirinya sulit untuk melintas. Solane terus mengejarnya sambil meneriaki namanya.


"Lexa, aku mohon kau berhenti, kita bisa bicara baik baik!" Kata Solane lagi berbohong. Dia hanya membutuhkan ponsel itu untuk segera dihancurkan.


Lexa menerobos pintu tangga darurat menuju lantai bawah. Solane mengikutinya. Lexa menuruni anak tangga sambil menekan tombol panggilan. Dia hendak menghubungi Leon.


Ruang emergency penanganan ayah Solane ada di lantai 3 dan Lexa harus menuju lantai dasar. Sementara tangga darurat tidak berjalur satu jalur langsung ke dasar. Mereka harus melintasi satu lantai dan menuju ke tangga darurat lagi.


Solane hampir sempat mendapatkan Lexa ketika Lexa sedikit lengah. Namun, Lexa lebih kuat menghempaskan tangan Solane sehingga Solane terpelanting ke belakang dan Lexa memasuki lantai 2. Lexa berlari tidak perduli banyak suster yang menegurnya dan ada satpam yang mengejarnya.


Ketika Solane bangkit, Solane mengarang akar mendapat bantuan.


"Tuan! Dia mencuri ponselku, cepat bantu aku menangkapnya!" Perintah Solane dan sang satpam langsung mempercayainya karna Lexa berlari seperti orang yang sedang merampok sesuatu.


Solane dan satpam mengejar Lexa sampai Lexa menuju tangga darurat. Dia mencoba menghubungi Leon dan terangkat.


"Leon cepat kau ke kembali ke rumah sakit, aku ada di tangga darurat dan menuju lantai dasar, ada hal penting cepat! Hosh hosh!" Belum sempat Lexa mematikan panggilan, ia dikejutkan oleh teriakan Solane.


"Lexa berhenti!" Panggil Solane dan suaranya terdengar oleh Leon di sebrang sana.


"Lexa kau baik baik saja?!" Leon panik. Dia lalu meninggalkan pesanannya di kasir setelah memberikan selembar uang besar pada kasir. Dia berlari menuju tangga darurat.


Karna Lexa menghubungi Leon, langkahnya agak lunglai dan kakinya terkilir. Ketika dia mencoba untuk bangun, satpam dan Solane berhasil menyusul Lexa.


"Berhenti nona! Serahkan ponsel nona ini atau aku akan membawanya ke pihak berwajib!" Perintah sang satpam ketika Lexa hendak melangkahkan kakinya lagi.


"Apa apan kau! Ini ponselku! Wanita itu berbohong!" Kata Lexa dengan tatapan tajamnya.


"Tapi nona ini yang mengatakan kalau itu ponselnya!" Koreksi satpam.


"Awas! Sini ponselnya! Apa yang kau rekam!" Solane menyingkirkan tubuh sang satpam ke samping dan menggantikan posisinya. Solane hendak meraih ponsel Lexa. Namun Lexa tidak menyerahkannya. Dia mengangkat ponselnya ke atas.


"Berikan ponsel itu padaku Lexa!" Solane menarik baju Lexa agar Lexa memberikan ponsel tersebut.


"Tidak akan, lepaskan Solane!" Lexa berusaha menjauhi ponselnya dan berusaha melepaskan cengkraman Solane.


Sang satpam berusaha melerai. Mereka tepat di pinggir perbatasan antara anak tangga dan anak tangga. Ketika Lexa berusaha menuruni satu anak tangga lagi, Solane yang telah mendorong satpam lagi terjatuh kembali menghalangi Lexa.


"Lexa! Kau tidak berhak merekam percakapan ku! Lagi pula itu warisan ayahku tidak pantas untuk pacarmu!" Decak Solane semakin menggila.


"Cih! Kau tidak pantas menyebutnya ayahmu! Dia terlalu baik untukmu!" Lexa meludahi Solane.


Solane semakin geram. Dia mencakar wajah Lexa dengan membabi buta.


"Lexaa!!! Kau brengsek! Sini ponselnya!"


Satpam kembali bangun dan merasa kalau Solane yang salah. Sang satpam kembali menarik tubuh Solane dimana Solane telah hilang kendali karna menyerang Lexa yang bertahan.

__ADS_1


Solane meronta, sekali lagi menghempaskan tubuh sang satpam, namun Solane tidak sadar kalau sudah berada di pinggir anak tangga yang menurun. Karna sepatu hak tinggi yang ia kenakan tidak seimbang, badannya lemah dan terjatuh kebawah. Bersamaan dengan itu Leon membuka pintu tangga darurat dan melihat Solane terjatuh di bawah kakinya. Solane tak sadarkan diri. Lexa dan sang satpam sangat terkejut. Lexa terduduk di anak tangga sangat shock dan sang satpam membantu Leon mengangkat Solane.


Leon melihat wajah Lexa yang ketakutan dan sangat lelah. Dia menyuruh satpam membaringkan Solane ke kasur berjalan untuk dibawa ke emergency room lantai satu. Terdapat benturan kepala di kepala Solane yang memperlihatkan darah segar mengalir.


"Lexa, kau baik baik saja?" Leon menghampiri Lexa yang napasnya masih tersenggal. Tubuh wanita itu bergetar sambil memeluk ponselnya.


Leon langsung memeluknya.


"Tenanglah, aku disini, semua akan baik baik saja," Leon mengusap usap bahu Lexa. Lexa masih setengah sadar dan menyadari dia harus memberi tahu pada Leon sebelum terjadi hambatan lagi. Setidaknya dia bisa menyelamatkan warisan Tuan Reynald yang hendak ia manfaatkan bukan hanya di buat senang senang oleh anaknya.


Lexa melihat ponselnya dan menekan tombol recording lalu membuka riwayat rekaman terakhir.


"Dengarkan ini Leon, kau harus membuat keputusan paling tepat!" Lexa menyerahkan ponselnya dan memperdengarkan rekaman pembicaraan Solane di telpon dengan temannya atau kekasihnya yang sekarang.


Leon mendengarnya cukup geram. Ternyata Solane belum berubah sama sekali. Dia memanfaatkan semuanya karna dia sudah tahu kalau warisannya tidak jatuh ke tangannya. Dan Leon mengambil kesimpulan kalau dirinya mau menikah dengan Solane, tak berapa lama Solane akan menyelingkuhinya lagi. Semua demi harta warisan ayahnya.


"Wanita ular! Aku akan menghubungi pengacara untuk perubahan pengalihan warusan! Anak yatim piatu itu lebih pantas ketimbang dirinya!" Decak Leon dan mulai beranjak.


Dia hendak membantu Lexa bangun namun kenyataannya, kaki Lexa telah membengkak karna terkilir tadi. Lexa masih terdiam melihat Leon.


"Ada apa Lexa? Kau terluka?"


"Kakiku sakit Leon, aku tidak sanggup berdiri." Kata Lexa dan menitikan air mata menahan memar kemerahan kakinya yang semakin memanas.


"Benarkah? Ayo kita periksakan ke bawah!" Leon dengan sigap membelakanginya dan menggendong Lexa. Lexa merasa kehangatan menyelimutinya dan rasa sakit kakinya terasa hilang seketia.


Benih benih cinta semakin tumbuh menjadi sebuah pohon yang hendak berbuah suatu saat nanti. Lexa menyandarkan kepalanya ke bahu Leon dan menghirup aroma tubuh pria itu dengan sangat lembut.


...


Leon sudah menghubungi pengacara Tuan Reynald untuk segera datang ke rumah sakit, ada yang harus dibicarakan di depan Solane. Sang pengacara menyetujuinya dan segera mendatangi rumah sakit. Lexa dan Leon sedang menunggui Solane. Lexa terpaksa harus mengenakan kursi roda karna mata kakinya bengkak sampai pertengahan betis. Kaki Lexa juga diperban agar mengurangi nyerinya. Leon sangat marah dengan Solane atas kejadian ini. Entah alasan apa yang Lexa harus beritahukan pada nyonya besok.


Waktu sudah menunjukan pukul satu pagi. Mungkin besok Lexa tidak akan datang bekerja. Dia harus menyembukan kakinya terlebih dahulu.


Kreak!


Seseorang membuka pintu kamar. Lexa sudah tertidur dan Solane masih belum sadarkan diri. Mungkin karna terlalu lelah menangis dan mengejar Lexa kondisinya melemah.


"Solane! Kau kenapa Solane?" Pria itu menyeruak masuk ke kamar perawatan dan langsung menghampiri Solane.


Leon beranjak dari duduknya karna terkejut atas perlakuan pria tersebut. Pria tersebut tidak menyadari keberadaan Leon dan Lexa.


"Siapa kau?!" Tanya Leon. Pria itu menoleh dan Leon mulai mengingat sosok pria tersebut.


"Le-Leon?" Panggil pria itu terbata.


"Kau?! Hem! Aku sudah menduganya, kau masih berhubungan dengan Solane! Ada apa dengan kau ini, mengapa gayamu tidak seperti orang kebesaran, hah?!" Decak Leon yang mengenali pria itu.


Ya, Pria itu Jimmy, selingkuhan Solane dan sekarang mereka masih berhubungan.


"Aku bersumpah padamu Leon, aku mencintainya, aku tidak mau kehilangan dia, aku tulus mencintainya!" Jimmy seperti orang yang pasrah dan sedikit ketakutan.


Leon memperhatikan Jimmy dengan gaya yang sangat sederhana. Berbeda dengan keadaannya beberapa tahun yang lalu. Jimmy hanya mengenakan kemeja lengan panjang dan celana jeans serta sepatu kets. Tidak ada keperawakan Jimmy yang berwibawa seperti dulu dengan kemeja dan vest serta celana bahan berkelas dipadankan sepatu fantovel. Jimmy merupakan anak Tuan Choi yaitu pemilik perusahaan out sourcing terkaya di Springfield. Namun, entah mengapa keadaannya menjadi seperti ini.


"Aku tidak perduli! Bicara di luar!" Jawab Leon menuju ke luar ruangan.

__ADS_1


"Ada apa denganmu?" Tanya Leon yang telah duduk di kursi tunggu depan ruang perawatan Solane.


"Leon, aku tidak bermaksud memanfaatkan Solane. Aku bersumpah! Aku sudah mengatakannya agar tidak menganggumu lagi. Aku rela bagaimanapun asal aku bersamanya. Namun, pada kenyataannya dia sangat terobsesi dengan kehidupan glamour nya. Perusahaan ayahku bangkrut karna kasus penipuan pekerja dan korupsi. Ayahku sudah meninggal Leon, aku hanya tinggal bersama ibuku yang sakit sakitan. Dia berada di Springfield. Solane meneruskan sekolah modelnya di sini. Maaf, kami saling mencintai namun Solane tetap ingin memiliki warisan ayahnya yang diberikan padamu. Leon, percayalah, jangan sakiti Solane atau tidak mengasihaninya. Dia sudah menjadi anak sebatang kara. Tolong bantulah kami." Jimmy menceritakan semuanya dengan menundukan kepalanya.


"Aku sudah memaafkanmu Jimmy, kalau kalian saling mencintai segeralah menikah. Aku akan membagi harta warisan Tuan Reynald. Aku harus memberi pelajaran pada pacarmu. Dia keterlaluan memanfaatkan keadaan. Dan juga kau mau saja mengikuti permainannya!" Kata Leon masih terpancara kekecewaan.


"Ya, aku memang termakan omongannya karna Tuan Reynald tidak pernah menyetujuiku Leon! Aku sempat takut ketika perusahaan bangkrut, Solane akan meninggalkanku tapi nyatanya dia setia tetap mencintaiku. Dia ke Legacy untuk mendapatkan warisan ayahnya. Aku menyetujuinya karna aku membenci ayahnya! Dia sangat sombong padaku! Dia memaki maki ku karna kebangkrutan ayahku! Aku benar benar menyesal kalau sekarang Tuan Reynald harus pergi." Jimmy kembali membuat pernyataan.


"Kalau Solane tidak tertangkap Lexa, kau senang kan? Sudahlah Jim, aku sungguh mengetahui kebusukan kalian berdua. Begini saja, aku akan membagi harta warisan Tuan Reynald. Karna maksud tujuan Tuan Reynald memberikan warisannya padaku untuk merubah prilaku Solane. Tapi, aku sudah tidak mencintainya lagi." Kata Leon.


"Wanita yang duduk di sofa itu sangat beruntung mendapatkanmu,"


"Cih, jangan mengalihkan. Mungkin besok pagi pengacara Tuan Reynald akan datang. Aku sudah membuat keputusan. Masuklah jika kau mau menunggumi Solane." Leon beranjak dan tidak mau berpanjang lebar. Meskipun dia sudah memaafkan Jimmy, namun hatinya masih sangat kecewa dengan prilaku pria yang dulu menjadi teman masa kecilnya.


Jimmy masuk menyusul Leon dan duduk di samping Solane yang masih belum sadar.


Selang beberapa jam, Solane mencoba membuka matanya. Kepalanya masih pening dan kakinya sulit digerakan. Dia berusaha membuka matanya dan akhirnya terbuka. Dia memicingkan matanya merasakan lampu ruangan yang menyoroti matanya.


"Le - Lex - Lexa ke - ma - ri kau!" Solane masih merasakan mengejar Lexa. Dia mengigau. Sesaat Jimmy tersadar dan bangun dari tidurnya.


"Solane? Kau sudah sadar?" Tanya Jimmy yang melihat Solane mengigau dan matanya terbuka.


Solane menoleh ke arah Jimmy.


"Ji - Jim - Jimmmy! Mengapa kau disini? Aku sudah berhasil, kita akan kaya dengan warisan ayahku!" Kata Solane masih terbata.


Leon yang sedang merangkul Lexa dalam tidur mendengar kesadaran Solane. Dia lalu mencoba membangunkan Lexa.


"Sudahlah Solane, keadaanmu lebih penting. Jangan bicarakan itu lagi!" Sela Jimmy menggenggam erat tangan Solane.


"Tidak bisa! Aaahh!! Kaki ku! Jimmy kakiku, kakiku tidak bisa kugerakan, ada apa ini?!" Solane hendak bangun namun dia sulit untuk menggerakan pelan salah satu kakinya. Bahkan dia tidak merasakan pahanya ketika hendak ia angkat.


"Ada apa Solane?"


"Kakiku Jimmy, kenapa kakiku tidak bisa kugerakan!" Solane semakin panik membuat Leon beranjak dari duduknya memeriksa keadaan Solane.


"Ada apa?" Tanya Leon.


"Kakiku! Kenapa kakiku?!!" Solane semakin histeris.


"Tenanglah dulu Solane. Aku akan memanggul dokter." Kata Jimmy bertindak.


"Tunggulah disini, aku akan memanggilnya." Leon menghalangi Jimmy agar dirinya saja yang menemani kekasihnya.


"Ini semua karnamu Lexa! Kakiku! Bagaimana ini?! Aku tidak bisa bekerja!" Solane merajuk dengan menangis pilu. Sementara Lexa hanya memandang lirih akibat dari perbuatan wanita sang mantan kekasih Leon.


...


Next part 31


Wohohooo kena kan kau Solane!!!


Staytune guys


Apresiasi ke penulis dong like, komen yang banyak biar cepet up nya 😬😂😍

__ADS_1


Thankyou laf you all 💕💕


__ADS_2