
Hari ini Lexa masih memperhatikan kotak kue ini. Lagi lagi datang sebelum jam makan siang. Dia masih ada di ruang kerjanya. Lexa tidak mengikuti rapat pagi hari karna terlambat datang. Leon harus bangun lebih awal dan berangkat ke kantor lebih dulu. Katanya Dion mengadakan rapat dadakan mengenai kasus lahan akuisisi itu. Leon harus segera hadir karna dia yang mengurusnya. Terpaksa, Lexa harus menaiki taxi dan terjebak traffic jam. Untung saja hari ini Viena tidak masuk karna agak tidak enak badan katanya. Rapat dipimpin oleh Abby dan Lexa sedang tidak selera. Seluruh tubuh Lexa pegal dan sakit akibat pertempuran semalam dengan suaminya. Mereka bermain sampai tiga kali dan entah berapa kali dirinya dan suaminya mencapai pelepasan yang berulang.
Namun di sini Lexa tak bergeming menatap kotak kue ini. Dia tidak mengetahui petunjuk sedikit pun mengenai si pengirim kue ini . Tadi ketika di taxi, dia menghubungi Claudia ibu angkatnya. Lexa ingin bertanya mengenai Gabriel juga mengucapkan selamat atas kelahiran bayi ayah dan ibu angkat nya itu. Kata Claudia anak mereka kembar dan laki laki semua. Lexa mengatakan tidak bisa kesana dulu karna pekerjaan iklan menumpuk. Tapi juga karna Lexa dan Leon masih takut untuk berhadapan dengan Bella kalau sewaktu waktu bertemu. Viena pun akan datang nanti setelah Dior berusia satu tahun. Mereka memakluminya.
Dan Lexa akhirnya bertanya mengenai Gabriel. Namun kata Claudia sepertinya bukan Gabriel.
"Sepertinya kau salah mencurigai Gabriel, Lexa. Gabriel terus disini dan dia langsung kembali tadi malam setelah selesai mengurus urusan Leon. Lagipula sepertinya dia sedang dekat dengan Lina. Em, bagaimana aku menjelaskannya ya? Adiknya temanku, ya adiknya temanku haha repot sekali! Jadi tidak mungkin dia sampai niat hati mengirimimu satu slice kue setiap hari." Begitulah Kata Claudia pada Lexa.
Lexa sangat setuju dengan perkataan ibu angkatnya. Kini dia kembali salah kegundahan. Siapa pengirim kue ini. Akhirnya dia meraih kartu ucapannya.
Hari kedelapan isi pesan si pengirim kue:
Kalau hari ini hari terakhirku mengirim kue ini, semoga aku bisa menjadi kenangan mu yang terindah seperti kue ini yang selalu membawa kenangan. Salam kasih dan sayang . Tuhan Memberkati . Someone love you ♥️
"Cih! Sakit jiwa pasti pria ini sakit jiwa! Apa dia tidak tahu kalau diriku sudah menikah? Sepertinya dia belum tahu siapa Danteleon Janson. Ahh sebaiknya kartu ucapan ini tidak diketahui Leon, aku takut dia akan mengirim bom nuklir pada toko kue ini. Damn it!!" Decak Lexa melipat kartu ucapan tersebut lalu ditaruhnya di dalam nakas sementara ia memakan kue nya dengan sangat cepat sampai tersedak.
Entah pria seperti apa yang menyukainya secara diam diam seperti ini. Tidak masuk akal dan agak mencurigakan. Pria itu mengetahui kue kesukaan Lexa dan semua ucapan yang dikirimkan betapa sangat mendebarkan jiwanya.
...
Leon sudah bersiap menunggu Lexa di basement parkir perusahaan iklan itu. Leon hendak memberitahu hadiah apa yang ia dapatkan dari bos nya. Leon yakin kalau Lexa akan sangat menyukainya. Sebelum Lexa datang, seseorang menghubungi Leon. Ya, Reginald yang menghubunginya. Leon ada menyuruh temannya itu melakukan sesuatu untuk hari esok.
"Bagaimana? Apa sudah kau pesan?" Tanya Leon pada Reginald di sebrang sana.
"Sudah Leon! Aku sudah mem booking daerah sekitar dermaga restoran seafood itu. Aku juga sudah memesan pianis handal untuk mengiringi makan malam kalian." Jawab Reginald melaporkan apa yang sudah ia kerjakan.
"Bagus!"
"Bagaimana dengan mu? Masa aku saja yang mengerjakannya!" Selidik Reginald memastikan Leon.
"Sudah beres! Nanti aku akan mengirimkan komisimu Re." Saut Leon.
"Kau ini apa Leon! Aku senang bisa membantumu!" Pekik Reginald yang sudah mulai akrab dengan Leon. Reginald dulu sangat pemalu dan sulit bergaul. Karna Leon, dia menjadi sering menyapa orang dan mau berbaur.
"Sedikit sir!" Kata Leon tersenyum.
"Terserahmu!"
"Lalu, semua orang yang kusuruh hadir bersedia kan?" Tanya Leon lagi mengenai rencananya.
"Adikmu juga?"
"Dia terkecuali !" Leon kelebihan menyebutkan Angel dan Jerry.
"Rico sudah datang tadi pagi lagi sedang di apartemen Nona Solane." Reginald memberitahu.
"Baiklah, besok jam 7 malam oke? Sudah ya Lexa sudah datang. Terimakasih Reginald!" Ucap Leon.
"Ur welcome!" Reginald mematikan panggilan. Leon tersenyum dan menggenggam erat ponselnya sambil menunggu Lexa berjalan ke arah mobilnya. Rencana besok pasti berhasil. Dan sepertinya Lexa melupakan sesuatu tentang hari esok. Leon tak masalah karna memang sesuai rencananya. Dia mau istrinya terkesan padanya sehingg membuat cinta mereka semakin erat dan tidak terlalu memikirkan momongan. Leon ingin mereka berdua tetap rileks dan tidak terlalu stres. Sepertinya hal ini malah akan memungkinkan mereka memiliki momongan.
"Leon, maaf aku terlambat, aku harus mengurus laporan rapat pagi tadi. Karna kau pergi lebih dulu, jadi aku naik taxi dan terkena traffic jam!!" Kata Lexa menaiki mobilnya.
"Iya maafkan aku sayang, aku harus tiba pukul sembilan." Leon ikut meminta maaf karna tadi pagi tidak bisa pergi bersama.
"Baiklah, kita mau kemana?" tanya Lexa kemudian.
"Ke tempat hadiah yang Tuan Dion berikan padaku." jawab Leon.
"Ayo berangkat!"
"Hari ini kau tampak lelah, tapi itu malah membuatmu semakin cantik Lexa!" Gumam Leon sebelum melajukan mobilnya.
"Leon! Hari ini libur dulu, badanku pegal semua!" celetuk Lexa menepuk nepuk bahunya.
"Hahaha! Baiklah, tapi sepertinya besok kita pasti melakukannya!" gumam Leon lagi.
"Benar besok harus! Memang kau tahu besok hari apa?" tanya Lexa kemudian.
"Hari Sabtu!" jawab Leon santai.
"Sial!" sungut Lexa
"Apa?!"
"Tidak apa, ayo jalan!" Jawab Lexa. Dia menekuk wajahnya. Dia ingat besok hari apa tetapi dia merasa suaminya tidak mengingatnya. Lexa menghela napasnya dan mencoba memakluminya. Sementara Leon hanya tersenyum lalu melajukan mobilnya.
Leon melajukan mobilnya ke daerah pinggiran Legacy di mana merupakan kawasan Cluster cluster minimalis yang cukup mewah dan elegan. Harga yang bandrol untuk satu rumahnya bisa ber milyar milyar. Sebenarnya Dion hanya memberikan lahan tanah dulu setelah dia selesai membangun cluster miliknya, baru dia akan membuat cluster milik Leon.
Mobil nya sudah terparkir di depan sebuah lahan yang tidak terlalu luas tapi juga tidak terlalu kecil. Lexa menuruni mobil begitu juga dengan Leon. Langit sore masih terang walau sudah pukul setengah enam sore. Sesaat Lexa meperhatikan pakaian Leon yang agak formil. Di mobil tadi karna Leon duduk jadi tidak terlihat jelas dan kini Leon Terlihat memang sangat tampan dan maskulin.
"Ada apa dengan pakaianmu? Bukankah aku tidak menyiapkannya ya?" selidik Lexa memperhatikan Leon dari bawah sampai tatanan rambutnya masih berdiri sangat tegas.
"Maka dari itu, kau harus menyiapkannya, jadi tadi aku asal ambil Saja. Ini yang kulihat rapi dan bagus jadi kugunakan. Tadi aku juga harus menemani Tuan Dion ke acara makan siang di kedutaan Besar Honolulu, Lexa. Jadi ya aku harus rapi bukan?" jawab Leon membuka kedua tangannya memperlihatkan penampilannya yang benar benar masih rapi dan terjaga.
__ADS_1
"Kau memang asisten yang berkelas." kata Lexa mengebas ngebaskan kerah jas Leon.
"Tentu! Suami siapa duluu?" Gumam Leon sangat percaya diri sambil menaikan rambutnya yang sudah tegak.
"Ya, aku bahagia memilikimu Leon!" Lexa memeluk Leon sesaat.
"Jangan memancingku! Kita belum pernah melakukannya di mobil di depan lahan yang akan didirikan rumah kita kan?" Kata Leon memegang tangan Lexa. Saat itu juga Lexa melebarkan matanya.
"Apa kau bilang? Rumah kita?" Lexa memastikan.
"Hehem! Berbalik lah! Di depan sana merupakan lahan yang akan di bangun rumah kita." kata Leon lagi. Lexa lalu berbalik memperhatikan lahan kosong ini yang memang tidak terlalu luas tapi juga tidak kecil.
"Kau serius Leon?" Lexa menautkan tangannya di depan dadanya.
"Serius! Tuan Dion menghadiahkan ku lahan juga pembangunan cluster setelah rumah nya selesai." jawab Leon sambil merangkul Lexa.
"Ya Tuhan! Seperti rumah rumah bagus itu Leon?" Lexa begitu senang sampai bingung sendiri. Dia berkata kata dengan sangat polos sambil menunjuk nunjuk rumah rumah mewah itu.
"Benar sayang!!" kata Leon pelan di samping telinga Lexa.
"Tuan mu itu memang sangat sangat baiiikk !!" ujar Lexa mengakui. Dion dan Viena memang berjasa bagi hubungan mereka.
"Karna kepintaran suamimu!" bisik Leon mengetuk ngetuk pelipisnya.
"Apa yang kau lakukan?" Lexa memicingkan matanya hendak mengetahui akal bulus suaminya yang terkadang tepat dilakukan.
"Hanya sedikit mengancam haha! Sebenarnya aku tidak yakin kalau mereka memalsukan surat surat sampai tanda tangan Tuan Dion, tetapi kubilang saja kalau diriku sudah memiliki bukti nya dan sudah disetujui oleh ayah angkatmu, Tuan Egnor! Tuan Egnor juga sempat memarahiku karna juga merupakan penipuan tapi kan tidak sampai jadi, sebelum kuberikan buktinya mereka sudah jujur !! Hahahaa!" Leon menggaruk rambut belakangnya.
"Pasti kau bersilat lidah tak karuan kan?" Lexa menunjuk Leon.
"Bukan Leon kalau tidak melakukan itu kan?" bisik Leon lagi.
"Kau benar benar musang licik berotak panjang dan tak terkendali! kuakui!" Lexa mengangguk angguk.
"Kalau aku tidak begini, kau juga tidak menyukaiku kan? Kau tidak akan selalu merindukanku kan?" bisikan Leon benar benar terdengar mesra membuat Lexa menoleh ke arahnya.
"Aku memang selalu merindukanmu sayang." saut Lexa memegang wajah Leon..
"Ya, kita harus berusaha menjadi seseorang yang selalu dirindukan. Seperti mu." gumam Leon.
Seketika Lexa mengingat sesuatu.
"Apa? Kau bilang aku apa?" Lexa meyakinkan.
"Kata katamu seperti pesan si pengirim kue." gumam Lexa kembali menerka nerka siapa si pengirim kue itu.
"Apa kau bilang?! Kau mengingat pesan pesan nya? Kau keterlaluan Lexa!" Leon mengerutkan dahinya.
"Karna sangat mirip! Jangan jangan memang kau yang melakukannya kan?!" Lexa memandang menuduh Leon.
"Kurang kerjaan! Ayo cepat pulang, kau membuat ku tidak selera!!" Leon agak mendorong Lexa sedikit sehingga dia bisa menuju ke mobil. Sedikit seringaian menghiasi bibir Leon.
"ish! Aku hanya menebak, cemburuan sekali!! Humph! Ini semua karna si pengirim kue, sial sial!!" Dengus Lexa juga memasuki mobil.
...
Lexa agak terheran dengan suaminya satu hari ini. Ini weekend hari Sabtu, namun sepertinya dia sedang ingin menyibukkan diri. Seperti uring uringan. Tiba tiba bangun pagi memasak mie ramen setelah itu memasukan semua cucian kotor ke mesin cuci dan mencucinya. Leon lalu menyalakan lagu kesukaannya album Big Bang terbaru entah apa judulnya Lexa melupakannya. Leon berkaraoke di sana dengan suaranya yang lumayan seperti salah satu si raper grup boy band itu.
"Leon!!! Kau sedang kenapa hah?"
"Sedang apa?" Leon agak tidak mendengar.
"Mengapa kau repot sekali sampai menyalakan lagi kencang sekali!!" teriak Lexa sambil menutup telinganya.
Leon pun mematikan lagunya.
"Ada apa Lexa?" tanya Leon masih dalam duduknya.
"Kau benar benar lupa ini hari apa?" tanya Lexa agak pelan.
"Sabtu! Oh my God! Aku melupakan sesuatu Lexa!" Leon berdiri menghadap Lexa dan memegang lengannya.
"Ya, akhirnya kau ingat!" Lexa menarik napas lega.
"Aku harus ke apartemen Tuan Dion, dia hendak memberikan ku sertifikat surat tanah. Untung kau bilang Lexa!" Ujar Leon kemudian dan melewati Lexa. Lexa menganga dan terpaku. Leon menghamburkan diri ke dalam kamar untuk mengganti pakaian.
"Mungkin aku pulang akan malam, nanti kita makan malam di luar saja ya? Kau tidak usah masak. Aku akan memberi mu pesan di mana kita bertemu, oke?" kata Leon lagi yang sudah mengenakan jas casual serta kaos di dalamnya .
"Tapi Leon, kau benar tidak mengingat hari ini hah?" Lexa mencoba memegang tangan Leon.
"Mengingat apa? Nanti kita bicara lagi ya aku sudah telat. Cup!" Leon mengecup pipi Lexa dan pergi meninggalkan Lexa sendiri di apartemen nya siang itu.
Lexa menarik napas. Dia menyadari kalau kesibukan Leon pasti akan melupakan hari penting ini. Hari ini merupakan hari satu tahun mereka menikah. Hari anniversary mereka. Lexa pikir Leon akan ingat. Lexa harus lebih mengerti. Dia juga harus mengerti Leon karna akan mendapatkan rumah baru. Hal ini juga sudah merupakan hadiah anniversary. Lexa lalu merapikan ruang tamu dan membersihkan seluruh sudut apartemen sambil sesekali mengendus hidungnya. Dia seperti hendak menangis karna Leon tampak tidak mengingat hari ini. Namun dia berusaha tenang dan menerima. Mungkin ketika tidur malam nanti Lexa akan memberitahu suaminya.
__ADS_1
Waktu terus berjalan. Kini sudah pukul 6 sore. Lexa sudah mengunci pintu apartemennya. Dia hendak menuju ke lokasi yang dikatakan Leon. Hem, Lexa agak malas karna lokasinya di restoran seafood sewaktu mereka pernah memakan lobster yang besar. Di pinggir pantai plaza di dermaga. Lokasi nya sangat jauh dan Lexa pasti bosan menunggu di Taxi yang akan membawanya ke sana walau perjalanan sekitar 1 jam. Leon mengatakan bertemu pukul 7. Lexa sempat kesal mengapa Leon tidak menjemputnya tetapi Leon beralasan karna sudah di sana, dia harus menemani Tuan Dion yang bertemu dengan koleganya di sana.
"Menyusahkan! Sudah tidak ingat ini hari apa, dia malah terus mengurus pekerjaan! Aku tidak mau bermain dengannya nanti malam!" Keluh Lexa menuruni apartemennya.
Ketika Lexa hendak menunggu taxi, muncul sebuah mobil sedan berwarna silver berhenti di depannya.
"Kau mau kemana sayang?" goda seorang pria dari dalam mobil tersebut.
"Rico?" panggil Lexa.
"Lexa? Kau mau kemana?" tanya seorang wanita lagi di dalam yang adalah Solane.
"Solane? Kalian?" Lexa seperti melihat secercah harapan untuk pergi ke pantai itu.
"Lalu kami siapa?" decak Rico melirik tak enak.
"Kalian rapi sekali mau kemana?" tanya Lexa .
"Ada acara anniversary kolega Rico di restoran seafood dermaga pantai plaza." jawab Solane.
"Ah, kalian serius?"
"Kenapa Lexa?" tanya Rico.
"Aku juga ingin kesana. Leon menyuruhku ke sana! Dia sudah di sana karna juga menemui kolega Tuan Dion. Jangan jangan orang yang sama." gumam Lexa.
"Bisa jadi. Yasudah, naiklah, pergi bersama kami." kata Rico yang langsung diterima oleh Lexa.
"Yes!" Gumam Lexa menaiki mobil Rico dan Solane. Sementara Rico dan Solane saling melirik.
Lexa seperti mendapatkan lotre karna dia tidak harus menaiki taxi dan mungkin hanya bisa mendengarkan lagu. Sementara sekarang, mereka bertiga sambil bersenda gurau. Saling mengumpat namun semua hanya candaan.
Sekitar empat puluh lima menit Rico membawa mobil ke tempat itu. Lexa disuruh turun terlebih dahulu sementara Rico dan Solane mencari tempat parkir.
"Kau langsung saja ke restoran Lexa, sepertinya tempat kita berbeda." kata Rico ketika Lexa sudah turun dari mobil.
"Ah baiklah, terimakasih atas tumpangannya." ucap Lexa.
"Santai saja, bye .." Rico dan Solane melambaikan tangan begitu juga Lexa. Lexa lalu menatap dari kejauhan restoran di pinggir dermaga itu. Dia memperhatikan sejenak dadi kejauahan agak sepi. Dia memicingkan matanya sekali lagi melihat banyak lampu lampu seperti lampion percis di dermaga itu dan hanya 2 kursi dan 1 meja makan.
"Mungkin mereka mengubah konsepnya." Pekik Lexa tidak berpikir macam macam. Dia mulai mendekati jembatan yang menuju ke dermaga tersebut. Malam ini Lexa mengenakan dress merah berbahan brukat yang simple namun tetap elegan dengan balutan sepatu hitam hak tinggi pada kakinya.
Tidak lupa dia membawa Coat hitam panjangnya dan tas kecil merah ber-merek channel bertali rantai kecil.
Dia ingin merasa senang dan meriah dengan semua warna merah ini. Walau nanti Leon benar tak ingat namun keadaan hatinya sangat mencintai suaminya itu.
Dan Lexa telah melintasi jembatan itu dan sampailah ke restoran tersebut. Dia menghampiri restorannya dengan melewati dua bangku dan satu meja yang terdapat lilin di atasnya. Namun ketika dia hendak melewati ada sesuatu yang membuatnya sedikit bergidik dan hatinya bergetar. Di atas meja itu juga terdapat sebuah kue . Ya sebuah round cake dan ketika Lexa mendekatinya lebih dekat dia menutup mulutnya. Sebuah round cake Japanis Chesse Cake Coffee yang cukup besar.
"Oh God! Mengapa ada kue ini? Jangan jangan si pemberi kue mengikutiku?! Bagaimana kalau Leon melihatnya?" Gumam Lexa dan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari cari keberadaan Leon. Sungguh, dia sangat takut kalau terjadi pertengkaran di hari Anniversary nya.
...
...
...
...
...
Hayooo Lexaa!!! Aku ga ikut ikutan nyebur ke laut aja byurr 😅😅😅😅💦💦💦
.
next part 52 real wkwkwk
kalau kalian masih ga tau siapa si pengirim kue itu aku bener bener mo nyebut aja ke laut lah atau suntik mati cv19 aja wkwkwkw 😂😂
kapan Lexa akan hamil lagi? kalo baca si mantan ya tau lah ya wkwkwk
.
rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul LOVE & HURT karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤
__ADS_1